Menang Sebelum Start

Sore gerimis, saya hendak mengisi pulsa di sebuah konter pulsa di pinggiran Yogyakarta. Motor saya berhentikan, dan mata saya langsung sibuk melihat daftar harga pulsa di dinding konter itu. Beberapa detik kemudian saya sebutkan pulsa yang ingin saya beli sambil memalingkan wajah ke si penjual. Rupanya si mas penjual pun sedang sibuk sendiri, memperhatikan televisi yang menyiarkan laporan langsung berita dari Kongres Partai Demokrat di Bandung.

Gelagapan si Mas penjual menjawab permintaan saya “eh, 11 ribu, Mas”. Continue reading

Kabar Mentari #2 – 29 April 2010

Untuk beberapa saat, diantara selingan saya tidak PERNAH menulis, saya akan memposting ulang tulisan-tulisan ringan nan menggigit dari seorang teman pengajar di Rumah Mentari, Bandung. Cerita yang dituliskan Arfah -nama pengajar itu, kadang membuat saya malu sendiri, karena tidak seberapa banyak sumbangsih saya pada komunitas yang dulu sempat saya geluti itu.

Sambil menunggu website Rumah Mentari jadi, semoga ini menjadi hiburan dan motivasi buat rekan-rekan saya di komunitas maya lain yang saya ramaikan. Bukankah blog juga adalah ruang untuk menyambung lingkaran-lingkaran komunitas yang tersebar itu? Continue reading

Kabar Mentari #1 – 24 April 2010

Untuk beberapa saat, diantara selingan saya tidak PERNAH menulis, saya akan memposting ulang tulisan-tulisan ringan nan menggigit dari seorang teman pengajar di Rumah Mentari, Bandung. Cerita yang dituliskan Arfah -nama pengajar itu, kadang membuat saya malu sendiri, karena tidak seberapa banyak sumbangsih saya pada komunitas yang dulu sempat saya geluti itu.

Sambil menunggu website Rumah Mentari jadi, semoga ini menjadi hiburan dan motivasi buat rekan-rekan saya di komunitas maya lain yang saya ramaikan. Bukankah blog juga adalah ruang untuk menyambung lingkaran-lingkaran komunitas yang tersebar itu? Continue reading

Jendela-Jendela

Ada yang bilang bahwa hidup dimulai dari langkah pertama manusia di muka bumi. Karena itulah ada budaya di negeri ini dimana seorang bayi akan dilehat untuk menjejakkan kakinya di tanah. Sebuah ritual yang saya temui baik itu di daerah asal Aceh sana, juga di pulau Jawa ini. Mungkin cuma sebuah ritual saja. Bentuk kebahagian karena sang bayi hadir meramaikan keluarga besar. Continue reading

Kelamin Sosial Media

Social media. Wah, saya capek juga bicara perihal satu ini. Kenapa? Apa karena  terlalu banyak membacanya? Atau karena terlalu sering menjadi pengamat saja? Ah, Sama saja. Ternyata saya tidak berkembang kalau cuma begitu-begitu saja. Toh, sampai sekarang saya tidak bisa mengalahkan adik saya dalam kualitas penggunaan Facebook, atau temen cantik saya dalam hal banyaknya berbalas Twitter. Continue reading

Dua Tahun

Cukup lama waktu 2 tahun itu. Silahkan anda menghitung dari seberapa lama anda mandi, seberapa lama anda butuh waktu untuk makan, ngopi, menonton satu episode sinetron, atau sekedar merokok sebatang. Dua tahun ternyata satuan waktu yang relatif lama dibanding aktifitas rutin anda. Akan terasa lebih lama lagi kalau sekarang anda sedang membaca pengumuman yang mengatakan remunerasi anda baru dinaikkan 2 tahun lagi. Atau, sekarang anda menapat jawaban dari pasangan “Dek, tunggu abang 2 tahun lagi ya. I’ll be back.” Terasa lama da mengenaskan.

Tapi dua tahun bisa dirasa sangat singkat pula. Anda boleh merasakannya sekarang juga. Coba bayangkan saja 2 tahun lalu anda sedang apa? Sedang memegang bertumpuk-tumpuk buku kuliah mungkin, atau sedang bernyanyi riang bersama teman di bawah malam, atau sedang menyaksikan Final Champion MU versus Chelsea?  Dua tahun lalu yang saya ingat ketika sedang menonton pertandingan final Piala Champion di salah satu televisi warnet di pojok komplek. Lucunya kemarin saya baru menyadari ketika MU dan Chelsea bertanding lagi -walau saya tidak sempat menonton live di TV, saya sempat singgah membeli rokok di warung  sebelah warnet itu lagi. Dan saat itulah saya merasakan 2 tahun itu ternyata singkat sekali. Hanya seukuran seberapa lama jarak saya berjalan kaki dari kontrakan menuju warnet itu.

Beberapa hari yang lalu seorang teman lama menghampiri saya via Messenger. Ngobrol, bercanda dan pastinya membahas hal tidak penting. Bicara seputar kabar si anu dan si una, pacar-pacar mereka, atau pacar-pacar kita. Dan kemudian dia melempar pertanyaan yang sama dengan tulisan ini.

“Perasaan baru dua tahun lalu gue ketemu lu di Jogja.” tulisan terkirim di messenger saya.

Pernyataan yang tidak penting buat saya. Karena toh, baru 2 bulan lalu saya bertemu dia di Bandung. Lalu apa pula maksudnya bicara dua tahun lalu bertemu di Jogja?

Halah, lu juga sempat ketemu gue setahun lalu di Jogja. Belum juga 2 bulan kita ketemu di Bandung. Kenapa musti mundur jauh bicara seolah melankolia banget, terakhir kali di Jogja bertemu 2 tahun lalu?” jawab saya.

Bukan apa-apa. Ini memang sebuah kebiasaan manusia. Kita lebih suka mengasosiasikan melankolia dengan jauhnya jarak dan lamanya waktu. Saya memilih kata melankolia untuk teman saya itu, karena kata “lebay” justru akan merendahkan dia sebagai lelaki dewasa.

“Hahaha. Lebay ya gw.” kata nya kembali.

Dan ternyata teman saya ini memilih merendahkan dirinya sendiri.

Persoalan lama tidaknya dua tahun memang bisa sangat merepotkan. Misal, pacar anda bicara, “Mana? Janjinya mau ngawinin aku. Itu janji kamu 2 tahun lalu!” Merepotkan. Bukan soal menjawabnya, yang saya yakin gampang keluar dari mulut anda, “Iya. Iya. Aku ini justru sedang berusaha supaya itu segera terwujud, sayang.” See? Gampangkan? Tetapi ini memang bukan persoalan jawabanya. Tapi ini soal seperti apa lamanya 2 tahun itu bagi anda atau pasangan anda.Dia melihat ke belakang sudah lama 2 tahun menunggu kapan akan dilamar. Sedangkan anda melihat 2 tahun itu “cepet juga ya”,  dan anda membutuhkan injury time lagi.

Itu jika kita bicara 2 tahun sebagai lama atau tidaknya dalam ukuran waktu.

Sekarang coba tanyakan ke sepasang kakek nenek, apa artinya 2 tahun bagi mereka. Saya yakin, jika anda bertanya “Kek, Nek, apa arti 2 tahun bagi kakek dan nenek?”. Menurut pertimbangan saya, kemungkinan respon yang anda dapat ada dua. Pertama, mereka akan tersenyum, memutarbalik memori mereka ke masa-masa 2 tahun lalu, 12 tahun lalu, bahkan bisa jauh ketika mereka berumur 20 tahun.

Kedua, mereka bisa mengernyitkan dahi, kaget. Seolah-olah anda sedang bertanya kapan mereka akan mati. Lebih parah lagi jika mereka berpikir, “Cucu sialan! Belum apa-apa sudah minta warisan?”

Makna 2 tahun bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Jika sudah bicara makna dan memaknai, saya juga bisa bilang, 2 menit pun bisa berbeda bagi tiap-tiap orang. Karena ukurannya bukan soal lama atau sebentar. Dua tahun atau 20 puluh tahun. Cukup rumit memang mengakui persoalan makna, karena urusannya menjadi sangat “sederhana” jika sudah ditambahi kata “makna”. Coba saja anda menjawab,

“Dua tahun ini anda sudah ngapain aja ?”

Sepersekian detik waktu dan energi otak anda harus mengingat dan berpikir sebuah pertanyaan sederhana ini.

Itulah kenapa sejarah manusia mencatat sejak era Da Vinci sudah mengkhayalkan adanya mesin waktu. Dan lagi-lagi ini aneh, ketika kita merasa 2 tahun itu cukup lama atau singkat untuk dilalui, kita malah berharap adanya mesin waktu yang justru menambah atau mengurangi tahun-tahun kita.

Saya jadi ingat kutipan terakhir dalam surat curhat Gie, “Berbahagialah mereka yang mati muda”. Pikiran saya pun terbayang, apa alasan Gie mengatakan bahagia jika mati muda? Jangan-jangan surat itu cuma anekdot dia saja, karena merasa 2 tahun terlalu lama untuk berjuang. Atau kebalikannya, 2 tahun terlalu singkat untuk berjuang, jadi ya mending mati saja. Sebuah pernyataan bernilai “nihil”, dan Nietzsche yang memperkenalkan kutipan ini pun tidak memilih mati muda.

Dua kemungkinan jawaban diatas bisa menjadi benar rupanya. Tapi syukurlah Gie tidak sempat membuktikan benar salahnya curhat tersebut. Begitu pun saya, tidak berpikir untuk memilih mati muda walau kutipan ini saya pakai berkali-kali. Misal saja Gie menulis, “Bersyukurlah saya jika mati 2 tahun lagi”, mungkin dia juga tidak akan jadi pahlawan seperti sekarang.

Ibu Guru Cantik

Pendidikan Indonesia Bangkrut

Entah sejak kapan saya percaya bahwa ilmu itu cuma ada 3. Berbeda dari om Wonggantenk dengan artikel beliau Politik Pendidikan: “Kemampuan bahasa” first, the rest are commentary, yang memilih 3 juga, -Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris, maka bagi saya Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris masuk di dalam Ilmu bahasa, dan cukup ditambahkan satu lagi yaitu Sejarah. Alasannya karena dengan Bahasa seorang manusia bisa belajar menyampaikan maksud dan mengerti sebuah maksud. Dengan Matematika seorang manusia bisa mempertanggungjawabkan maksud-maksud mereka. Dan dengan sejarah, seseorang bisa belajar menghargai maksud orang lain, pendahulu mereka juga sekaligus diri mereka sendiri dengan mewariskan maksud-maksud mereka pada generasi berikutnya.

Paragraph diatas adalah sebuah pengantar saja. Namun rekan-rekan disini tentu sudah mengerti maksud saya pastinya. Tiga ilmu besar diatas adalah arti kata lain dari nilai pendidikan bagi manusia. Itu berarti bagi adik-adik saya, bagi anak-anak kita, anak-anak Indonesia. Jadi sangatlah heran apabila pemerintah ini masih berkeras dengan pelaksanaan Ujian Nasional yang tidak memenuhi “prinsip 3″ diatas.

Bagaimana pendapat para pelaku pendidikan sendiri, para guru? Mungkin sebagian memilih manut, karena mengajar bagi mereka adalah satu-satunya cara mendapat tunjangan kesehatan, biaya untuk dapur, atau mempermudah urusan kredit rumah sangat sederhana mereka. Tapi saya percaya mereka lebih mengerti persoalan mendasarnya tentang UN ini ketimbang saya sendiri.

Dulu, saya sempat bercerita pertemuan saya dengan Ibu Guru Cantik ketika mewakili teman-teman saya mengurus perwalian adik asuh kami. Dan kebetulan, beberapa hari lalu, teman saya yang lain, kembali menjadi wali untuk urusan yang cukup pelik sebenarnya. Urusan biaya UN. Berikut saya copas tulisan dari rekan saya itu.

Catatan : Teman saya, dan saya berhak untuk merahasiakan nama dan dari sekolah mana si Ibu Guru Cantik ini. Sebelum teman saya menulis cerita ini di Facebooknya, dia sudah terlebih dahulu curhat soal ini. Bukan barang baru memang, tapi bagi dia, cukup membuat shock dan memaki-maki seharian.

—–

Balada Ujian Nasional Kitaa…

04 Maret 2010 jam 13:07

Pertengahan Februari lalu, saya dikejutkan oleh sebuah surat pemberitahuan dari SMA adik-adik asuh saya. Surat pemberitahuan tersebut mengumumkan jadwal Ujian Nasional, Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Praktek mereka mulai 22 Maret-14 April 2010. Pihak sekolah mecantumkan biaya keseluruhan ujian sebesar Rp 300.000/siswa. Wew!Mahal juga, pikir saya saat itu.

Seingat saya, dulu saya tidak pernah mengeluarkan biaya begitu besar untuk mengikuti Ujian Nasional. Lagipula, polemik Ujian Nasional kan sudah sampai tingkat kasasi. Kok masih terus dilangsungkan ya? Sekolah ketiga adik asuh saya tersebut juga termasuk salah satu sekolah swasta di Bandung yang mendapatkan subsidi Sekolah Gratis sejak tahun 2009 lalu. Lantas, kenapa masih dikenai biaya ujian segala?

Berbekal uang 900.000 dan pikiran macam-macam di kepala, saya mendatangi sekolah tersebut tanggal 1 maret lalu. Saya bertemu dengan Ibu wakil sekolah bidang kesiswaan. Beliau ini sebenarnya anak dari kepala sekolah, yang dipercaya untuk mengurus sekolah tersebut sejak awal tahun 2009. Sang kepala sekolah memiliki beberapa sekolah di kota dan kabupaten Bandung, ceritanya. Well, semacam bisnis keluarga mungkin. Karena anak dan kerabatnya diserahi peran penting pada beberapa sekolahnya. Setahu saya sekolah-sekolahnya tergolong kecil dan dibangun di daerah kecil, seperti Majalaya sampai Garut. Tapi dengan banyaknya subsidi pendidikan untuk sekolah-sekolah di masa kini mungkin ini jadi bisnis yang bagus =D

Nah, Ibu muda cantik yang ramah itu menerima saya dengan sangat baik. Saya bayar biaya ujian ketiga adik asuh saya tanpa banyak bicara. Tiba-tiba beliau nyeletuk bilang, “Seharusnya Ujian
Nasional tuh ga usah ada, itu kan cuma proyekan dinas saja.” Senyum saya kulum, mengangguk tanda setuju. Wah, si ibu idealis juga niy. Kelihatannya beliau masih berusia 30-an awal, karena
kalo murni idealis kan biasanya mahasiswa yang berusia 20-an.”Ujian Nasional itu cuma kedok.” Si ibu cantik lantas menjelaskan alasan kenapa biaya ujian bisa semahal 300 ribu rupiah.

Dalam UN, para pengawas ujian adalah guru-guru dari luar sekolah dan ada pengawas dari dinas. “Saya bulan lalu habis rapat koordinasi SMA negeri dan swasta se-Bandung Utara. Dalam Materi Rapat disebutkan bahwa sekolah harus memberi uang transpor dan makan bagi para pengawas UN.” Lalu, ia menunjukkan lembar Materi Rapat UN yang ia hadiri di Dinas Pendidikan Kota. Di lembaran itu tertulis kurang lebihnya seperti ini:

1. Uang transpor pengawas ruang diberikan oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 15.000 per orang per hari.
(“ada 3 orang pengawas dalam 1 ruang dan ada 5 hari ujian untuk 6 mata pelajaran yang diujikan,”terang si ibu)

2. Uang makan pengawas ruang diberikan oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 10.000 per orang per hari.

3. Pengawas soal diberikan uang transpor oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 100.000 per orang per hari.
(pengawas soal ini mungkin maksudnya pengawas/pembawa soal dari Dinas, ada 1-2 orang dan Rp 100.000 dalam rapat diganti oleh Pimpinan Rapat menjadi Rp 150.000 -pimpinan rapat adalah ketua rayon, kalo ga salah-)

4. Tiap sekolah yang menyelenggarakan Ujian Nasional wajib menyerahkan Iuran gotong royong yang dikenakan pada tiap siswa sebesar Rp 7.500.
(Si ibu cantik juga tak tahu apa gunanya iuran gotong royong ini)

“Mbak lihat sendiri kan, kalo kami hanya memungut uang ujian berdasarkan aturan itu saja. Sisanya untuk operasional UAS dan ujian praktek. Kalo di sekolah lain (uang ujian-red) bisa sampai 500 ribu bahkan 2 juta per siswanya,” terang ibu cantik.Apa?

“Lebih kasihan lagi kalo anaknya ga lulus, mbak. Tahun lalu saja tiap siswa dikenakan biaya 1,5 juta per mata pelajaran yang tidak lulus,” lanjutnya. Waduh, kalo ga lulus 6 pelajaran berarti habis duit 9 juta dong..aih, aih. Satu setengah juta itu aturan dari sekolahnya ato bagaimana, tanya saya. “Aturan dari atas, alasannya soalnya beda dan biaya operasional para pengawasnya kan beda lagi,”jawab si ibu dengan nada makin tinggi.

“Padahal kalo banyak siswa yang tidak lulus, kepala dinas prov-nya juga ditegur sama menteri. Lalu, kepala dinasnya akan meminta bagian pengumpul soal untuk membenarkan semua jawabannya anak-anak. Berarti sama aja kan? Apa artinya ujian nasional kalo begitu?” kata ibu makin berapi-api. Berarti uang 1,5 juta itu bonus ekstra untuk para pegawai dinas sekaligus biaya untuk menghapus jawaban anak-anak dan menggantinya sesuai kunci jawaban, pikir saya.

“Kami, guru-guru,merasa kasihan sama anak-anak. Masa capek-capek mereka sekolah tiga tahun, berhasil tidaknya cuma ditentukan oleh 5 hari ujian. Ga adil kan? Standarnya juga dinaikkan tahun ini, jadi 5,50 untuk 6 pelajaran. Terlalu berat untuk sekolah kecil seperti di sini.” Betul, jawab saya, dengan standar ujian yang sama maka tingkat kelulusan di daerah kota dan desa pasti berbeda. Kualitas pendidikan di negara ini belum terstandarisasi dengan baik sampai saat ini. Mulai dari Sabang sampai Merauke, kualitasnya pasti tak sama. Agh, gitu kok berani-beraninya bikin Sekolah Standar Internasional? imbuh saya dalam hati.

“Kalaupun memang tetap ada UN, mungkin ada baiknya bila anak-anak yang tidak lulus tetap mendapat ijazah. jadi mereka tetap bisa melamar kerja. itu menurut saya lho ya,” ujar si ibu lagi. Aturan sekarang, bagi siswa-siswa yang lulus akan mendapatkan ijazah dan surat tanda lulus. Jika tidak lulus, mereka tidak akan mendapatkan keduanya. Jadi harapan siswa untuk melanjutkan studi atau bekerja tidak terputus begitu saja.

Lalu, kenapa Ujian Nasional tetap diadakan juga Bu? BUkannya kasus UN sudah sampai tingkat kasasi? tanya saya. “Nah, itulah. Bambang Sudibyo, menteri pendidikan tahun lalu sudah keburu bikin Permen. Peraturan Menteri bahwa UN tetap akan dilaksanakan. Menteri Pendidikan yang sekarang ini, M.Nuh, tidak bisa mengubah Permen ini. Bisa sebenarnya, tapi jarang sekali ada Menteri yang mengubah

Permen. Jadilah, Permen manis buat kita semua,”jawab beliau diakhiri senyum simpul yang membuatnya makin cantik. Kalo menurut laki saya, Permen tersebut tidak diubah karena banyaknya protes dari pejabat Dinas Pendidikan. Beban biaya untuk membatalkan UN dianggap terlalu besar karena proses pengadaan UN sudah dimulai sejak tahun lalu! Terlalu besar yang akan hilang dari kantong mereka mungkin, pikir saya.

“Seluruh jajaran Dinas Kota maupun Prov pasti tahu soal ini. UN itu proyek besar. Orang-orang atas pasti dapat bagiannya,” asumsi si ibu cantik sambil tersenyum sinis. Mengingat proyek UN adalah “proyek bersama pejabat pendidikan” maka kepala-kepala sekolah mungkin tidak dapat berontak atau protes. Masalahnya, cap kelulusan anak-anak didik mereka yang pegang. Legalitas sekolah juga ada di tangan mereka. Kalau si ibu cantik ini bersuara sekeras ini pada pejabat di atasnya, bisa-bisa sekolahnya dibubarkan tanpa alasan jelas. Lantas, bagaimana tanggung jawabnya pada orang tua siswa?

Mungkin itulah sebabnya, si ibu cantik ini bertutur begitu semangatnya pada saya. Saya mengaku sebagai mahasiswa. Mungkin beliau ingin melepaskan uneg-unegnya pada saya dan sedikit berharap suara saya bisa berbunyi lebih keras darinya. Bagaimanapun, beliau tahu semua kecurangan dan kebusukan para mafia pendidikan itu tapi tak mampu berbuat banyak, selain bertahan dan pintar-pintar menahan diri. Karena beliau masih berada dalam sistem pendidikan itu sendiri.

Gambaran tentang UN ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Tapi saya masih kaget melihat betapa riilnya kecurangan-kecurangan tersebut terjadi. Lebih kaget lagi, para guru sudah banyak yang tahu soal ini, tapi tidak bisa berbuat banyak. Tapi setidaknya mereka tetap berusaha bertahan dan mendidik murid-muridnya. Lebih mulia jasanya daripada pejabat dinas ataupun anggota dewan terhormat yang masih saja ribut soal duit hilang Century.

—-

Bukan barang baru. Justru barang yang terus diulang-ulang untuk mengingatkan. Bukan juga sebuah klise untuk menolak UN, itu bukan juga jawaban yang diharapkan rasa kesal ini.

Tetapi persoalannya ada pada pengelolaan sistem pendidikan itu sendiri. Entah dari dulu (karena saya masih muda), entah sekarang. Jikalau nanti pun UN menghilang dari tanah republik ini, apakah sistem pendidikan yang rusak begini masih terus bertahan?

Saya cuma berpikir, apalah artinya Sekolah Berstandar Internasional kalau justru memiskinkan yang semakin miskin? Apalah artinya universitas ternama kalau justru mencetak koruptor baru setiap tahun kelulusannya? Apa pula artinya Institut terkemuka jika hanya melahirkan politisi yang pintar berkelit lidah dan egois dengan urusan politik dalam selangkangannya?

Apa pula artinya saya bicara panjang lebar soal ini, sementara kita sendiri sibuk berbasa-basi soal berhak tidaknya seseorang jadi presiden atau pe-dangdut? Sementara berurusan dengan seorang tamu pun, kita sendiri harus sibuk bebersih rumah yang terus menumpahkan darah.

Saya tahu tulisan ini kepanjangan, padahal cuma pengantar sebuah copas. Tapi paling tidak gara-gara cerita ini saya jadi menulis lagi setelah sekian lama. Jadi mengingatkan diri sendiri untuk belajar ber”Bahasa” dan sekaligus menulis “Sejarah” lagi. Kalau Matematika, saya melakukanya hampir setiap bulan dari billing pribadi saya yang angkanya terus naik.

Gambar diambil dari Cover majalah sebuah Unit Pers Mahasiswa. Di Edisi tersebut saya menulis laporan utamanya.

Air Bandung Yang Bermartabat

sungai cikapundungIni keluhan yang sangat sangat sangat mengganggu.

Kebetulan saya baru kembali dari Bandung. Menumpang 4 hari di rumah teman di sekitar daerah Kanayakan, Dago. Dan saya harus katakan kesal luar biasa.

Saya baru saja tiba dari Bandara Sukarho Hatta waktu itu, dan langsung bergerak menuju Bandung. Berharap sampai di Bandung bisa merasakan segarnya air Bandung menutupi penat nya badan karena udara kotor Jakarta. Tapi apa dinyana. Air di tempat saya tinggal tersebut mati.

Menunggulah saya dan teman-teman di rumah itu, berharap ini cuma giliran pemadaman saja. Seperti biasanya. Tapi, ternyata lebih parah. Sampai kemarin saya kembali ke Yogyakarta, air belum juga mengalir. Info terbaru malah sampai hari ini (berarti hari ke-5) belum juga mengalir. Keluhan serupa datang dari berbagai penjuru kawasan Dago, yang saya baca di twitter, juga dengar dari cerita teman-teman dan tetangga.

Ini bukan cerita aneh buat kota Bandung memang. Tapi sampai 5 hari tanpa informasi jelas atau lewat permintaan maaf dari pihak PDAM Bandung -media massa/atau dimanapun yang bisa dijangkau publik infonya, bagi saya ini berarti sebuah kekeliruan manajemen kota yang serius!

Masyarakat diminta untuk terus membayar. Tapi pelayanan pun semakin menyesakkan dengan bertambahnya hari-hari panas di Bandung. Setahu saya, PDAM bandung sendiri pernah merilis bahwa mereka menyadari semakin kekurangan debit air untuk kebutuhan publik. Tapi di sisi lain, pihak manajemen mengakui juga kalau mereka mengalami kerugian karena berbagai sebab secara berkala, dengan nilai rupiah hingga puluhan miliar pertahunnya (34 miliar terakhir saya baca dari Pikiran Rakyat).

Jika sudah begini Persoalan air kota Bandung bukan lagi urusan PDAM semata. Pemerintah kota, atau bahkan Pemda Jabar harus proaktif turun tangan. Institusi pendidikan teknologi terhebat di Indonesia yang berlokasi di kota yang sama pun mengakui bahwa muka air tanah kota Bandung semakin rendah. Ironisnya, kontribusi institut ini buat permasalahan tata kota mereka sendiri belum bisa diselesaikan secara nyata. Padahal mereka sendiri baru membanggakan diri karena kenaikan peringkat institusi pendidikan tersebut naik menjadi 80 besar di dunia. Terakhir yang saya lihat, sebuah mall disiapkan lagi didepan gedung rektoratnya. Sungguh ironis.

Sebabnya kekuarangan air ini bisa ditebak. Daya serap air tanah semakin rendah, aliran air semakin sedikit dengan kondisi iklim yang sulit ditebak juga karena pengaruh iklim. Sementara disana, bangunan-bangunan gedung yang menggila terus dibangun karena tuntutan sebagai “kota satelitnya orang jakarta”. Dan membludaknya kebutuhan air dari mobilisasi penduduk, plus kebutuhan air untuk gedung-gedung besar ini jelas menyedot air Bandung yang semakin sedikit. Jika sudah begini, akan dibawa kemana tata kota Bandung yang akunya Bermartabat itu?

Jangan-jangan memang martabat kota Bandung harus dipertanyakan kembali. Dulu sempat dipertanyakan karena sampah. Apakah sekarang harus bertaruh nama kembali lantaran permasalahan air?


Sumber :

Research singkat dari google persoalan air dan tata kota Bandung.

http://coretankelambu.wordpress.com/author/yudhaspiza/page/14/

Berteman (lagi) Dengan Bencana

Ketika dulu saya kuliah Geologi Dasar “101″, dosen saya yang kecil dan lucu itu selalu mengijinkan open book untuk ujian. Dan nilai kuliah harian, hanya dilihat dari absensi dan presentasi. Namanya mahasiswa, kadang malas mendera, absen pun bisa dititipkan. Presentasi? Serahkan saja pada yang rajin dan jago bicara. Hasilnya, 90% kelas bisa lulus dengan nilai A. Padahal, jumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini bisa mencapai 300 orang pertahunnya. Karena Geologi Dasar adalah mata kuliah wajib bagi 3-5 jurusan ilmu kebumian.

Itu dulu. Ketika saya dan teman-teman kuliah hanya melihat ilmu ini adalah hanya sekedar bagian dari prestasi mengejar kelulusan.

Tahun 2004, sebuah bencana paling besar di abad ilmu modern terjadi. Gempa yang disusul tsunami membawa korban jiwa dan kerusakan luar biasa hingga 3 benua. Jumlah korban jiwa mengalahkan jumlah korban bom atom Jepang yang mengakhiri perang dunia II. Dan kemudian semua orang seperti diajak berpikir, ada apa dengan bumi ini? Apakah bumi “mulai” marah dengan polah manusia?

Bumi tidak pernah marah. Sedari dulu memang demikianlah bumi kita beraktifitas. Coba saja perhatikan gambar berikut, bagaimana hanya dalam satu minggu bisa tercatat beberapa gempa dimuka bumi ini.

Warna Merah : Gempa sejam terakhir
Warna Biru : Gempa hari ini
Warna Kuning : Gempa minggu ini

Gempa Dunia Dalam Seminggu Terakhir

Justru kalau diingat-ingat, kita lah manusia yang berjalan di atasnya ini sering menyakiti “ibu bumi”.

Setelah tsunami besar itu, banyak ilmuwan dan profesor kelas dunia, turut bersuara. Suara mereka seperti mengajarkan ilmu baru buat umat manusia. Padahal, sudah sejak lama mereka terjun di keilmuwan dan penelitian mereka, mencoba memberi “warning” bahwa manusia selalu dekat dengan bencana. Tapi sekali lagi, dulu, suara mereka tidak didengar. Seperti saya dan teman-teman mahasiswa kelas Geologi Dasar itu, melihatnya hanya sebagai angin lalu. Padahal tanah Indonesia yang kita pijak ini, selalu, dan dari dulu adalah kawasan yang tidak lepas dari bencana gempa, longsor, gunung berapi atau pun tsunami.

Tsunami Aceh – Nias, gempa Yogyakarta, gempa Jawa Barat, dan terbaru, gempa di Sumatra Barat, juga bencana gempa lainnya kecil atau besar, membuktikan bahwa kita dekat dengan bencana. Paling tidak, kita sebagai warga negara indonesia harus sadar bahwa kita dekat dengan bencana yang tidak pernah bisa kita lawan. Tetapi perlu diingat. Tidak bisa melawan, bukan berarti harus takut. Seharusnya kita mulai merenungkan diri, bagaimana caranya bersahabat dengan bencana tersebut.

Skala goncangan gempa atau pun jumlah korban, hanyalah hitungan statistik. Hanya menjadi pembanding, seberapa parah satu bencana dengan lainnya. Seberapa banyak bantuan harus diturunkan ke lapangan. Di zaman yang sudah semakin maju teknologi seperti sekarang, sudah tidak sulit untuk mengkalkulasi kerusakan, korban atau pun jumlah kantung darah yang dibutuhkan oleh kawasan tertimpa bencana. Tapi tetap kita belum bisa memprediksi kapan bencana itu terjadi. Saya justru miris mendengar ulasan di media TV yang mempertanyakan “kapan bencana terjadi” atau lebih parah lagi membahas “bagaimana melawan bencana”.

Kalau kita jeli, semua mitos yang ada di nusantara mengajarkan kearifan lokal bahwa kita memang dekat dengan bencana. Dari cerita Naga dan Raksasa di ujung barat-selatan Aceh, dongeng danau Toba,  dongeng Tangkuban Perahu, dan entah berapa banyak lagi cerita-cerita mitos serupa, disana bisa kita berkaca bahwa ada cerita sebuah bencana di masa lalu tepat di kawasan tersebut. Percaya atau tidak, Gunung Tambora dan Danau Toba saja pernah diteliti sebagai sejarah ledakan terbesar dalam peradaban manusia.

Ingat cerita bagaimana pulau Simeulue yang paling dekat dengan titik tsunami 2004 lalu bisa menghindarkan banyaknya korban jiwa? Kalau tidak salah ingat hanya belasan saja yang menjadi korban, dan itu pun orang-orang yang sedang melaut dan orang-orang tua yang sudah tidak kuat berlari. Warga pulau itu masih memahami sebuah mitos nenek moyang tentang bumi yang berguncang sebagai tanda datangnya “makhluk jahat”, “air bah”, atau “bala” (bencana) dari arah laut. Mereka menyebut mitos ini sebagai “smong”. Smong menjadi bentuk kewaspadaan warga tersebut. Dan kearifan lokal itu menjadi media mitigasi yang sangat ampuh.

Mungkin cerita warga pulau Simeulue itu tidak bisa disamakan dengan bencana-bencana lainnya. Tetapi satu hikmah penting di sini harus mulai kita pahami. Bahwa, kita memang dekat dengan bencana. Ada baiknya kita belajar untuk bersahabat dengan bencana itu. Tidak perlu dilawan. Tetapi pahamilah bagaimana menyikapinya, belajar mempersiapkan diri ketika bencana datang, sekaligus menyiapkan segala supra dan infra-struktur di kawasan kita yang rawan bencana.

Sederhananya, coba kita lihat, bagaimana mengakomodasi bantuan secara efektif ketika bencana datang. Model-model mitigasi bencana harus dirancang di semua kawasan yang memang rawan bencana. Disini perlunya keterlibatan aktif pemerintah dan masyarakat untuk membuat blueprint, cetak biru mitigasi sebuah kawasan yang rawan bencana. Tidak hanya skala fisik saja -ini pun kita masih kurang, tapi juga mencerdaskan “kembali” masyarakat untuk berteman dengan bencana.

Kalau saya boleh berseloroh, “memahami rawan bencana itu harusnya seperti memahami pacar. Harus tahu, tanda-tandanya si dia mulai kesal, kenali perilakunya ketika marah, sampai mengatur strategi bagaimana berdamai setelah ribut-ribut terjadi”.


Artikel ini sebagai bentuk turut berduka cita untuk semua korban bencana di Indonesia

Melihat Aceh Bukan Dari Syariat

Photo dari Nuri

Mengangkat lagi, tulisan lama saya soal Aceh, dari artikel ini

Kemarin (17/2) saya membaca artikel opini kompas tentang isu pemekaran wilayah. Isu lama, tetapi hangat kembali setelah meninggalnya Ketua DPRD Sumatra Utara beberapa waktu lalu. Dari raungan untuk membebaskan keinginan memekarkan wilayah, kini muncul renungan apakah pemekaran wilayah menjadi sebuah hal yang sama pentingnya dibandingkan kesejahteraan warga masyarakat secara merata untuk semua wilayah? Dulu, kepentingan pemekaran wilayah dan penerapan sistem desentralisasi diusung dengan alasan
mewujudkan pembangunan yang merata di setiap pelosok negeri ini. Memang ada wilayah-wilayah pemekaran yang sukses membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Gorontalo misalnya, membuat nama Fadel Muhammad sering disebut-sebut oleh acara-acara pemilu TV. Propinsi Gorontalo memang sukses, tapi tidak bisa dikesampingkan predikat jumlah penduduk propinsi tersedikit (800 ribu jiwa), bandingkan dengan Bandung yang berupa Kotamadya (4.1 juta jiwa). Jika mau di logika maka pelayanan publik Propinsi Gorontalo pun menjadi lebih stream dan efisien.

Penting melihat kembali kebutuhan akan pemekaran wilayah yang sampai saat ini banyak yang mulus persetujuannya di DPR. Banyak alasan yang muncul menjadi jauh dari kebutuhan menyejahterakan warga. Dari soal ras, agama, sejarah, bahasa, atau perasaan ketertinggalan. Lalu isu-isu ini menjadi senjata untuk mengajukan pemekaran.

Sebenarnya jika mau jujur, pemekaran wilayah ini muncul karena sebuah alasan keekonomian. Acuan terpenting adalah soal aset yang dimiliki sebuah kawasan. Bukan hal klise jika bicara hal ini. Aset sebuah kawasan atau daerah adalah kekayaan Sumber Daya Alamnya. Titik tolak dari semua usaha untuk menciptakan kesejahteraan. Setiap kawasan memiliki potensi SDA berbeda, cara pengelolaan berbeda, termasuk budaya masyarakatnya dalam mengelola pun berbeda. Persoalan kesenjangan bisa jadi hanya menjadi sebuah alasan saja, padahal yang ingin dititikberatkan adalah kesempatan pengelolaan secara mandiri aset lokal kawasan. Nah, pertanyaannya menjadi sederhana jika berbicara pengelolaan SDA secara lokal ini. Sampai sejauh mana SDA yang ada bisa dimaksimalkan oleh para petinggi-petinggi/pengusaha setempat untuk kemakmuran rakyat, dan bukan sebagai lahan korupsi baru?

Ini adalah ketakutan saya dari dulu, ketika penerapannya hanya menjadi bumerang untuk menciptakan raja-raja kecil baru, dengan kepentingan-kepentingan pejabat baru yang lebih spesifik dan akhirnya mengesampingkan pelayanan terhadap warga. Ada sebuah jawaban aneh dari seorang teman saya menanggapi soal ini, “mending dikorupsi ama orang-orang sendiri daripada dikorupsi ama orang luar”. Bagi saya, itu bukan lah jawaban. Tetapi lebih terlihat sebagai bentuk primordial akut yang menyentil konflik horizontal baru.

Adalah hal yang menakutkan jika muncul konflik horizontal sosial dalam kawasan yang dimekarkan. Berawal dari soal perasaan ketertinggalan hingga akhirnya kebablasan menjadi primordial yang berlebihan, chauvisnisme. Efek terburuk yang mungkin hanya membutuhkan “penabuh gong”, separatisme secara paksa dengan cara radikal. Negeri ini sudah belajar dari sejarah dalam hal separatisme. Tidak ada teori yang memastikan bahwa separatisme lahir karena tekanan ketidakadilan secara vertikal. Separatisme berawal dari ketidakpuasan dalam kehidupan sosial. Tidak hanya dari atas ke bawah, tetapi juga bisa juga secara horizontal.

Permasalahan yang muncul di kawasan-kawasan yang ingin memisahkan/memekarkan diri, tentunya harus ditilik dari beberapa aspek yang berimbang. Bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga pertimbangan-pertimbangan konstelasi politik dan historis terbaru yang berkembang di kawasan tersebut. Setiap kawasan, memiliki karakteristik berbeda, terutama dalam hal affirmasi keberbedaan dan asal tuntutan pemisahan/pemekaran. Ini menjadi alasan absurd tak terkonsolidasi yang paling dominan dari sekian banyak pemekaran yang terjadi. Proposal yang sampai ke DPR bisa saja bicara soal kemakmuran dan kesenjangan, tetapi delik alasan kemakmuran dan kesenjangan tersebut jarang dilihat para pengambil keputusan dari sisi affirmasi keberbedaan dan legitimasi tujuan pemisahan.

Saya sendiri belum bisa mengutarakan secara gamblang dengan bahasa runut apa dan bagaimana cara melihat lebih detail sisi-sisi tersebut. Nanti akan saya coba tulis lagi dalam cerita berbeda. Mungkin dengan sedikit mengangkat historis-culture di Aceh, terutama yang terjadi di kawasan Aceh Tengah.

Dan (tambahan) mungkin setelah “mudik” singkat saya di Aceh minggu-minggu ke depan, saya mencoba membaca dengan mata dan hati ada apa sebenarnya disana sekarang. Dan akan kita lihat ada apa dengan Qanun Jinayat Aceh ini? Ada apa antara Partai Aceh dan Partai Demokrat? Kenapa banyak konstelasi politik lokal yang sungguh aneh bagi saya,terutama tentang banyaknya keuntungan yg diperoleh para “raja kecil” di Aceh pasca Helsinski. Vis avis, ini pun yang mendorong pergolakan disintegrasi (lanjutan?) di kawasan Serambi Mekah.

Tentang Sebuah Ironi, Indonesia Kreatif

Pernah dengar ramai-ramai soal Indonesia Kreatif?

Kalau saya pernah mendengarnya samar-samar tahun lalu. Ketika semakin banyak teman-teman yang bermain-main di Industri Kreatif secara freelance mulai terdengar gaungnya disana sini. Thanks to internet yang membuat saya bisa menjelajah ke teman-teman yang super kreatif disitu.

Minggu lalu, saya sempat menghadiri salah satu acara sosialisasi Indonesia Kreatif yang disponsori Departemen Perdagangan. Label “Sosialisasi Indonesia Kreatif” (IK -red) ini yang mengulik rasa ingin tahu saya. Maksudnya apa? Apakah artinya warga Indonesia dinilai belum kreatif oleh pemerintahnya sendiri?

Tepatnya, acara tersebut berlangsung seperti ramah tamah biasanya menjelang berbuka puasa. Ada Ibu Cokorda Istri Dewi (Indonesia Design Power) mewakili tim sosialisasi IK Departemen Perdagangan disana, ada mas Arif Budiman dari Petakumpet, juga ada bung Enda yang namanya melintang di dunia Blog dan internet. Intinya mereka semua memaparkan secara statistik perkembangan indutri kreatif (oleh ibu Dewi), ajakan dan motivasi oleh Mas Arif, dan kondisi real and fact seputar dunia internet dan digital oleh Bung Enda. Saya coba taruh salah satu presentasi dari Ibu Dewi disini buat dibaca.

Dalam acara juga berlangsung diskusi. Walau singkat karena dikejar waktu, tetapi beberapa point penting sempat saya tangkap.  Tentunya pertanyaan ini datang dari para hadirin yang memang mereka adalah pelaku-pelaku industri kreatif di Yogyakarta (dan saya yakin yang datang kemarin masih jauh dari jumlah di lapangan). Pertanyaan mendasar adalah, sejauh apa keterlibatan pemerintah dalam plan tersebut? Dan akan seperti apa bentuknya? Karena toh sampai saat ini, industri kreatif kita bisa berkembang pesat tanpa ada perhatian khusus dari pemerintah. Lihat saja statistik yang disajikan, industri kreatif Indonesia bisa menyumbang sebesar rata-rata 7.8 persen terhadap PDB negara. Atau sumbangan penghasilan per pekerja sebesar 19.5 juta, diatas pendapatan rata2 pekerja secara nasional. Dan trend-nya menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Jawaban yang disampaikan Ibu Dewi, bahwa dari sisi pemerintah berkeinginan untuk mengakselerasi perkembangan ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa konsistensi dari pelaku industri kreatif selama ini telah menyumbang banyak bagi paradigma baru industri nasional, dan ini perlu untuk disupport. Salah satunya mungkin dimulai dengan memudahkan jalur bagi para pelaku industri kreatif  untuk memenuhi kebutuhan pasar akan ide-ide kreatif mereka. Inilah yang mendasari Digital Plan tersebut. Rencananya akan ada beberapa portal/website yang menjadi tool untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk aggaran pengembangan sendiri, disiapkan dana sebesar 50 M di tahun 2010. Kecil besarnya dana ini sangat tergantung dari program pemerintah, yang sampai saat ini bentuknya masih menjadi tanda tanya.

Unik memang melihat gelagat pemerintah disini. Tetapi tidak salah juga. Andil pemerintah dengan sistem dan aturannya memang dibutuhkan untuk perkembangan industri kreatif Indonesia. Mungkin rekan-rekan yang bertarung sebagai pelaku industri kreatif, bisa merasakan sendiri di tahun-tahun belakang bagaimana susahnya bermain di arena ini. Katakanlah dari soal modal, bagaimana susahnya memperoleh modal dari bank atau investor untuk mengembangkan ide-ide kreatif anda. Atau bagaimana rancunya para insan kreatif kita menempatkan diri mereka dalam struktur sosial budaya juga hukum atas profesinya, bahkan untuk sebuah karya  mastepiece-nya, seringnya berada dalam perdebatan pro dan kontra. Ditambah lagi dengan segala infrastruktur hukum kita soal perlindungan hak kekayaan intelektual. Lihat saja perdebatan yang rancu seputar budaya lokal yang tercuri , yang sebenarnya itu adalah modal awal yang sudah siap pakai untuk mengembangkan industri kreatif kita.

Belum lagi jika melihat perilaku sosial masyarakat Indonesia. Sederhananya, bagaimana seorang Ibu bisa menghargai pilihan seorang anaknya menjadi seniman/pekerja seni, sama berharganya jika si anak memilih menjadi insinyur perminyakan. Bagaimana mendidika masyarakat untuk mengenal inovasi dan kreasi sebagai salah satu kunci keberhasilan industri rumah tangga mereka. Bagaimana memberikan pencerahan kepada para pemodal, investor dan bank, bahwa kreatifitas juga bisa dijadikan industri dan memiliki nilai jual. Lain lagi soal pendidikan masyarakat tentang kekayaan intelektual, sekaligus jaminan perlindungan terhadap kekayaan intelektual itu sendiri. Negeri ini masih prematur dalam mengeksplorasi sisi hukum, terutama pendidikan sosial masyarakat perihal ini. Dan pada akhirnya ini menjadi PR tambahan sendiri, sosialisasi menjadi wacana yang harus disertai pendidikan di masyarakat, disertai aksi yang nyata dari pemerintah dan para pelaku bidang ini.

Berkaca pada Inggris yang sudah mulai melihat industri kreatif sebagai modal penting dari industri mereka sejak tahun 1997, pemerintah mulai mendesain cetak biru Indonesia Kreatif ini mengikuti pola yang sama dengan negara monarki tersebut. Definisi industri kreatif  Indonesia juga mengadopsi dari Inggris, yaitu proses peningkatan nilai tambah hasil eksploitasi kekayaan intelektual berupa kreativitas, keahlian, dan bakat individu menjadi produk yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pelaksana dan orang yang terlibat. Kemudian ada 14 sektor utama yang digarap untuk tahap awal pengembangan. (1) arsitektur, (2) desain, (3) kerajinan, (4) layanan komputer dan peranti lunak, (5) mode, (6) musik, (7) pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan percetakan, (9) periklanan, (10) permainan interaktif, (11) riset dan pengembangan, (12) seni pertunjukan, (13) televisi dan radio, serta (14) video, film, dan fotografi. Dan besar harapannya, pada tahun 2025 Indonesia sudah bisa mennyusul negara-negara lainnya, bersaing untuk membangun “ekonomi kreatif”. Sebuah mimpi besar dari pemerintah yang bisa dibilang, patut diacungi jempol.

Baru saja saya mendengar presentasi tersebut minggu lalu, dan 3 hari kemudian saya dikejutkan dengan berita soal disahkannya RUU Perfilman Indonesia. Jelas-jelas disebutkan bahwa industri perfilman ada dalam plan tersebut. Bahwa 14 bidang utama tersebut akan didorong oleh pemerintah untuk terus berkembang.

Kita lihat faktanya dilapangan. Di tahun 2001 saja, cuma ada 2 film Indonesia yang tumbuh dengan cemerlang, dengan kaki-kaki para pelaku industri film sendiri. Bermodal dari niat untuk membangun kembali perfilman Indonesia. Dan kini, ketika dalam setahun kita sudah bisa memproduksi film sebanyak 100 judul, pemerintah mulai mencoba untuk turut terlibat didalamnya, dengan bahasa turut men-support dan menumbuhkan terus semangat perfilman Indonesia. Tetapi dari beberapa isi UU perfilman tersebut, justru malah menyisakan pertanyaan, bukankah malah terkesan pemerintah mengatur dan membatasi kreatifitas sineas kita? Sebaliknya, Jero Wacik, sebagai Menteri dari Departemen yang selama ini banyak menjaring masukan untuk merevisi UU perfilman lama (UU No. 8/1992), memberikan pernyataan perihal UU perfilman baru ini bahwa “(dengan UU Perfilman baru ini) kita akan menciptakan iklim yang baik untuk menumbuhkan perfilman Indonesia.” Ia juga menjamin, para sineas tidak akan dipersulit saat akan membuat film.

Mungkin ada sudut pandang berbeda dari para anggota dewan yang sudah hampir habis masa jabatannya tersebut soal UU ini. Atau mungkin justru tidak adanya undangan keterlibatan secara aktif para pelaku industri kreatif perfilman dalam penyusunan UU ini. Yang pasti, sekarang banyak insan perfilman yang menolak UU tersebut.

Benar-benar menjadi PR besar bagi kita semua, the long road dari sebuah ironi baru Indonesia Kreatif. Seperti kata Pearl Jam,

And the wind keeps rollin
And the sky keeps turning grey
And the sun is set
The sun will rise another day

How I wish for you today
Will I walk the long road?
We all walk the long road

Diolah dari :

Sosialisasi Digital Plan Indonesia Kreatif

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/12/04335636/kami.tidak.percaya.negara

gambar : http://simplychi.wordpress.com/2008/07/24/bulan-indonesia-kreatif/

meLANJUTKAN hutang

bukupengusaha

Disaat semua ramai membahas Teroris, Om Nurdin dan serangan gotong royong SWAT Indonesia Jumat lalu, saya nyasar ke beberapa berita lain. Seperti yang menarik adalah soal hutang negeri ini. Ternyata utang “kita” baru saja bertambah US$500 Juta untuk Program Pemberdayaan Masyarakat Nasional (PMPN) tahun 2009. Dan entah berapa lagi untuk 2010, menunggu pertemuan dengan World Bank Oktober nanti.

Bank Dunia Siap Kucurkan Utang US$ 500 Juta buat PNPM Mandiri

JAKARTA. Pemerintah masih mengandalkan utang luar negeri untuk membiayai program pemberdayaan masyarakat. Yang terbaru, Bank Dunia akan menggelontorkan pinjaman sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun (kurs Rp 9.850 per US$) untuk membiayai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri 2009.

Tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 13,7 triliun untuk membiayai PNPM Mandiri. Rinciannya, PNPM Inti Rp 10,4 triliun dan PNPM Penguatan Rp 3,3 triliun. Program tersebut akan dilaksanakan oleh enam kementerian dan lembaga di 33 provinsi, 465 kabupaten/kota, dan 6.408 kecamatan. Yang menarik, semua dana tersebut berasal dari utang sejumlah lembaga keuangan asing.

Lantaran bertujuan mengurangi kemiskinan, utang dari Bank Dunia tersebut mengenakan bunga nonkomersial. Sayangnya, pemerintah masih enggan menyebutkan besaran bunga utang tersebut. Bappenas juga belum bisa memastikan kapan Bank Dunia akan mencairkan duit pinjaman itu. Yang pasti, Pemerintah dan Bank Dunia akan membahas kembali rencana ini pada Oktober mendatang.

Selain dari Bank Dunia, pinjaman untuk PNPM Mandiri juga berasal dari lembaga keuangan internasional lain seperti Bank Pembangunan Asia (ADB). “Tapi, jumlahnya tidak akan sebesar Bank Dunia,” kata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Paskah Suzetta, Rabu (5/8).

Paskah mengaku yakin, dana PNPM Mandiri tahun ini akan terserap hingga 90% sampai Desember nanti. Dengan begitu, akan terjadi penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran dibandingkan tahun lalu.

Yang menarik, utang luar negeri dari sejumlah lembaga keuangan tersebut juga akan menjadi andalan pembiayaan PNPM Mandiri 2010. Tahun depan, Pemerintah akan mengalokasikan sekitar Rp 16 triliun untuk membiayai program ini. Jumlah anggaran ini naik Rp 2,3 triliun dibandingkan tahun ini. Nah, saat bertemu Bank Dunia Oktober nanti, Pemerintah juga berniat membahas rencana utang baru untuk pembiayaan PNPM Mandiri tahun depan.

Dalam Nota Keuangan 2010, PNPM Mandiri memang masuk sebagai prioritas belanja Pemerintah untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. Selain PNPM, Pemerintah juga menggulirkan Bantuan Operasional Sekolah, Program Keluarga Harapan, dan Jaminan Kesehatan Nasional. Total alokasi anggaran untuk semua program tersebut mencapai Rp 37 triliun. Dengan dana sebesar itu, Pemerintah menargetkan bisa memangkas tingkat kemiskinan menjadi 12% – 13% pada tahun depan.

Sumber : http://www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/19217/Bank-Dunia-Siap-Kucurkan-Utang-US-500-Juta-buat-PNPM-Mandiri

 

Saya tahu memang ada ilmunya untuk mengekstrak parameter-parameter ekonomi menjadi angka-angka (value). Dan masing-masing value ini bisa di otak atik, sehingga bisa didapatkan point (tujuan) ideal yang diharapkan. Mungkin untuk kasus di atas, tujuannya adalah sebuah angka yaitu “tingkat kemiskinan”.

Selain itu ada berita lain lagi di saat yang sama dengan penggrebekan Densus 88,

Jakarta – Kepemilikan asing pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) sampai akhir Juli 2009 bertambah Rp 4 triliun menjadi Rp 91,58 triliun dari posisi akhir Juni 2009 yang berjumlah Rp 87,15 triliun.

Secara persentase kepemilikan asing pada SUN adalah sebesar 16,54% dari total SUN yang diterbitkan pemerintah yang jumlahnya Rp 553,6 triliun.

Demikian data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan yang dikutip detikFinance , Senin (27/7/2009).

Dari Rp 553,6 triliun jumlah SUN yang diterbitkan, perbankan masih memegang porsi terbesar yaitu Rp 273,08 triliun.

Sementara Bank Indonesia (BI) memegang Rp 17,82 triliun. Kemudian reksadana memegang Rp 37,46 triliun, asuransi Rp 62,87 triliun, dana pensiun Rp 34,62 triliun, sekuritas Rp 0,61 triliun, dan lainnya Rp 36,17 triliun.

Namun sampai posisi 6 Agustus 2009, porsi kepemilikan asing pada SUN turun menjadi Rp 90,98 triliun.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Budi Mulya mengatakan dana yang masuk kepada SUN mencapai US$ 4 miliar ini berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah yang menyentuh level di bawah Rp 10.000 per dolar AS.

Kemudian juga terus naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir disebabkan makin derasnya aliran dana asing yang masuk ke Indonesia melalui pintu pasar modal.

 

Kenapa negara ini doyan meLANJUTKAN utang ?