<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; agus wirahadikusuma</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/agus-wirahadikusuma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Revolusioner (part 1) &#8211; Tentara</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/23/revolusioner-part-1-tentara/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/23/revolusioner-part-1-tentara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 22:37:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[ShOrTOY]]></category>
		<category><![CDATA[agus wirahadikusuma]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[tentara]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Revolusi. Sebuah kata yang paling menggigit. Bagi sebagian kaum tua, kata revolusi masih menjadi momok menakutkan, dengan cerita-cerita lama dan tekanan yang sesak di dalam dada tentang sebuah pengorbanan besar dari jargon revolusi. Menakutkan karena frame yang kuat terhadap kata &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/23/revolusioner-part-1-tentara/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-d.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_521475_7091.jpg" alt="Letjend (alm) Agus Wirahadikusuma" width="290" height="204" />Revolusi. Sebuah kata yang paling menggigit. Bagi sebagian kaum tua, kata revolusi masih menjadi momok menakutkan, dengan cerita-cerita lama dan tekanan yang sesak di dalam dada tentang sebuah pengorbanan besar dari jargon revolusi. Menakutkan karena frame yang kuat terhadap kata revolusi sendiri. Frame yang telah lama dipaksakan tertelan untuk sekian generasi, bahwa revolusi adalah &#8220;darah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara bagi kaum muda, revolusi menjadi momok karena terkesan serius ketinggalan zaman. Inpirasi tua tukang demo, sok aktifis, dan lebih buruknya tercium berbau paham terlarang. Dan mereka dalam kostum clubbing malam berseloroh <em>&#8220;ihh&#8230;emang masih jaman ya?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-302"></span>Padahal revolusi cuma sebuah kata. Yang memiliki arti tidak lebih dari perubahan yang dipercepat. Anak-anak muda bersemangat seperti saya mungkin, bisa jadi hanya mengenal tokoh-tokoh revolusioner negeri lain.  Stalin yang tangguh,  Che yang berwajah kokoh, Chavez yang mandiri, atau Sun Yat Sen yang cerdas. Padahal kita memiliki tokoh-tokoh revolusioner kita sendiri. Tan Malaka dan Sjahrir yang hebat itu. Atau Soekarno dan kawan-kawan di masanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oke, itu dulu. Mereka lapuk dan bapuk dalam catatan sejarah kita. Bagaimana dengan sekarang? Saat ini? Agak sulit melihat pemikiran revolusioner tokoh-tokoh Indonesia di masa sekarang. Tetapi paling tidak saya punya sedikit catatan dalam memori saya, penilaian saya tentang mereka yang berpikiran/bervisi revolusioner dalam pertemuan saya dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tahun 2000, sekolah saya sempat mengundang seorang Petinggi TNI. Tidak main-main, jabatannya adalah (mungkin) Pangkostrad saat itu. Saya lupa tepatnya kapan acara ceramah di sekolah saya tersebut. Yang pasti 29 Maret 2000, Letjen Agus Wirahadikusuma, dikenal dengan nama AWK, diangkat Presiden Gusdur sebagai Pangkostrad. Dan diberhentikan 3 bulan kemudian. Beliau adalah keponakan sekaligus anak angkat dari mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusuma.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih ingat oleh saya, dengan pakaian hijaunya itu, di balairung segilima sekolah kami, beliau terlihat dalam rona muka yang sangat serius. Berbeda dengan tamu-tamu lainnya yang biasa datang ke sekolah ini. Walau mereka dari kalangan TNI, tetapi sangat menyesuaikan diri dengan anak-anak remaja seperti kami. Pembicaraan soal nasionalisme dan negara dibahas secara santai dan disesuaikan untuk anak-anak muda -hanya sekedar tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">Letjen AWK saat itu dengan berapi-api (ya saya ingat sekali) menyampaikan pesan-pesan  menekan, bahwa reformasi atau revolusi sekalipun namanya adalah tugas bersama-sama, sipil maupun TNI. Saat itu TNI dalam kondisi perdebatan panas perihal reformasi di tubuhnya sendiri. AWK berkata , setiap orang bahkan hingga TNI pun tidak luput dari resiko untuk berubah. Dan sekolah saya, sebagai bagian dari tubuh TNI, juga harus menyesuaikan diri. Reformasi bukanlah sebuah hantu menakutkan. Ketakutan hanyalah bagi orang-orang yang bersalah, layak untuk mendapat ganjaran atas penderitaan rakyat selama ini. Yang siap untuk berubah menuju revolusi Indonesia baru, diajak oleh beliau untuk maju bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga sempat bercerita tentang pengalaman-pengalamannya menempuh pendidikan militer. Satu hal lain yang sangat saya ingat. Beliau membanggakan kesempatan bisa menempuh pendidikan Ranger di USA. Ranger itu bisa dikatakan sebagai pasukan khususnya Army Paman Sam. Beliau senang bisa mencuri ilmu-ilmu perang Ranger Amerika perihal konsep gerilya Vietkong. Ranger Amerika menjadi sangat fokus membedah pengetahuan gerilya daerah tropis, sejak kekalahan telak di masa perang Vietnam.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya tangkap saat itu, wow..! Tentara berpangkat tinggi satu ini memang beda dalam visi dan semangat. Bercerita dengan lugas, tegas dan sangat menohok ke persoalan bangsa. Terutama tentang hubungan antara TNI &#8211; sipil dan reformasi dalam tubuh TNI, sesuatu hal yang saya tahu sangat tabu dibicarakan oleh korps berbaju hijau.</p>
<p style="text-align: justify;">Selepas ceramah itu, saya suka mencari info tentang lelaki dengan inspirasi liar ini. Terkenal sebagai jendral vokal dalam jajaran tubuh petinggi TNI. Bahkan sempat ada berita besar beliau membongkar korupsi Yayasan Dharma Putera Kostrad senilai Rp 189 milyar (dalam artikel <span class="fullpost" style="font-size: 100%; font-family: georgia;">si peneliti sosial konflik SARA Maluku, George J. Aditjondro &#8211; <em>&#8220;Orang-orang Jakarta Dibalik Tragedi Maluku</em>&#8220;)</span>. Satu kesimpulan bagi saya untuknya saat itu . Tentara yang hebat!</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga ketika di Agustus 2001, saya mendengar <a title="Tentang kepergian AWH" href="http://www.indonesiamedia.com/2001/october/berta-1001-awkmeninggal.htm" target="_blank">beliau meninggal dunia</a>, saya kaget, sekaligus sedih. Kenapa orang seperti beliau malah harus pergi duluan. Sementara masih banyak tentara-tentara yang lebih pantas pergi berkalang dosa dibandingkan beliau?</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi kematian beliau memang tidak jelas detailnya. Hanya dikabarkan sakit jantung mendadak. Walau sebenarnya dalam pengakuan keluarga, almarhum masih sehat-sehat saja di hari sebelumnya, hingga esok paginya mulai tidak sehat. Dan kemudian meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit Pusat Pertamina. Saya jadi teringat kasus-kasus kepergian tokoh-tokoh lainnya yang meninggal secara misterius, seperti jaksa agung Baharuddin Lopa maupun Munir Thalib. Isu pun berhembus kencang dimana meninggalnya AWK erat kaitannya dengan konspirasi para Pati AD yang berseberangan blok dengan AWK untuk menjegal AWK menjadi KASAD. Para Pati AD ini sempat mengadakan pertemuan di Bandung 9 Oktober 2000 untuk membicarakan perihal pengajuan AWK ke Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Dan konspirasi berlanjut, dimana para perwira yang resah tersebut, disinyalir tersangkut luas dalam jaringan tentara yang membawa tungku api di jantung tragedi Maluku, sepanjang 1999 hingga 2001, dan percikannya masih terasa panas sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: center;">-0o0-</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu keberuntungan bagi saya mengenal beberapa tentara-tentara hebat seperti ini. Cerita lain adalah seorang Kolonel Marinir bernama Tjuk Sutanto yang sangat menginspirasi sudut pandang saya tentang bangsa. Beliau menjadi pengasuh saya di sekolah itu dulu. Dan setahu saya penempatannya selalu dalam lingkup pendidikan di tubuh TNI. Sebuah jabatan yang memang bukan lah posisi yang strategis. Atau sengaja ditempatkan di posisi tidak strategis seperti itu? Entahlah.  Satu sisi, jika anak didiknya cukup &#8220;cerdas&#8221;, semoga bakal banyak orang-orang berpikiran hebat seperti beliau lahir.</p>
<p style="text-align: justify;">Sempat juga saya melihat ketangkasan seorang Danrem Teuku Umar saat Musibah Tsunami menimpa Aceh. Saat  itu saya bergabung di Tsunami Emergency Response di kota Meulaboh, Aceh Barat. Ketika semua jajaran Petinggi Pemda menghilang (entah karena trauma atau mengurusi dirinya sendiri), Danrem ini me-<em>manage</em> kondisi darurat menjadi lebih baik dengan nurani membantu rakyat yang menderita dalam barak. Paling tidak itulah sedikit banyak kesan yang sempat saya tangkap. Satu cerita miris saya, saat tim kami membutuhkan gudang tempat menaruh bantuan, kami berencana menggunakan rumah besar kosong milik seorang pejabat daerah di kota Meulaboh itu. Edan! Kami tidak mendapat izin dari sang pemilik. Malu saya saat itu, karena sebagai putra Aceh, datang ke kota ini dengan teman-teman dari tanah berbeda yang ikhlas menanggung resiko demi saudara-saudara satu daerah saya.  Dan kemudian Danrem ini lah yang membantu mengurus tempat lain bagi kami untuk menyetok berbagai bantuan. Bahkan armada bantuan militernya pun berhak digunakan oleh kalangan LSM/Volunter manapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal di tengah konflik yang masih terus berlangsung saat itu, saya bisa mengerti resiko berat yang ditanggungnya. Dualisme antara nurani dan berpegang teguh pada perintah (politik) komando atasannya. Saya bisa menangkap pesan ini dari obrolan-obrolan ringan dengannya. Dalam setiap malam rapat satuan koordinasi pelaksana (SatKorLak), selama 2 bulan lebih, beliau langsung memimpin rapat. Mengatur setiap bantuan dan teknis pelaksanaan. Cara militer memang efektif, tidak bertele-tele dan tepat sasaran. Berbeda dengan setelah masa rehabilitasi diserahkan kembali kepada sipil 3 bulan kemudian, dimana terlalu banyak intrik, kongkalikong yang mencium-cium kesempatan. Perbedaan mencolok yang saya lihat dengan mata kepala sendiri saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala keputusan ala militer saat itu hanyalah untuk bantuan dan keselamatan warga. Bahkan daerah rawan kontak senjata pun diterjang demi sampainya bantuan di daerah-daerah belum terjamah. Pernah 2 truk tentara dan personil pun dikirimkannya menemani tim saya survei ke daerah yang sangat minim menerima bantuan. Terbayang bagaimana tentara-tentara ini dalam kondisi <em>dag dig dug</em> melewati daerah rawan, dan kemudian setiba di sana pun mereka turut membagi-bagi bantuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepenggal cerita dari mereka-mereka yang mau melakukan akselerasi untuk sedikit perubahan yang lebih baik. Para Tentara Revolusioner.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><em>&#8220;Kalau             kita berbicara mengenai moralitas, saya minta dikembalikan lagi. Apakah penculikan itu bermoral? Apakah permainan-permainan yang menimbulkan kerusuhan Mei itu bermoral? Apakah penembakan-penembakan dan tindakan-tindakan di luar batas-batas profesionalitas             sebagai tentara terhadap mahasiswa itu bermoral? Termasuk juga             masalah-masalah di Timor Timur dan Aceh. Apakah itu bermoral? Saya             kembalikan lagi. Jangan keluar dari kenyataan. Itu sangat tidak             bermoral dan sangat merusak kredibilitas TNI sebagai tentara yang seharusnya dicintai rakyat,&#8221;</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>-<a title="Letnan Jenderal (alm) Agus Wirahadikusuma" href="http://www.gatra.com/2001-08-30/artikel.php?id=9812" target="_blank">Letnan Jendral (Alm) Agus Wirahadikusma</a>-</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>(bersambung)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/23/revolusioner-part-1-tentara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

