"Itu ada di Detikcom, Yang Mulia"

Dalam banyak komunitas di dunia maya, Detik sering dipelesetkan sebagai media yang “basbang”, yang juga berarti “Basi Banget”.

Tetapi tidak begitu menurut Artalyta alias Ayin, si tersangka dalam kasus penyuapan Kejaksaan Agung itu. Dalam sidang hari ini, dengan gaya menjawabnya yang berbelit-belit, ternyata Detik harus berterima kasih ke Artalyta.

“OK. Dari pembicaraan itu, Anda sepertinya tahu persis perkembangan kasus BLBI II. Anda tahu dari mana?” kata Andi (Hakim Andi bachtiar -red).
“Itu ada di detikcom, yang Mulia,” kata Artalyta.

Hebat! Bermodal membaca Detik saja, Ayin bisa tahu seluk beluk kasus BLBI II sedalam itu. Selamat buat Detik. Sekaligus selamat bekerja mengumpulkan arsip berita BLBI untuk di crosscheck dengan rekaman Ayin.

Tapi jika merujuk logical fallacy, sebenarnya pernyataan itu juga tidak menjawab pertanyaan Andi. Pintar sekali wanita satu ini berkelit-kelit dalam menjawab pertanyaan hakim.

Sepertinya Arya harus traktir saya untuk kemajuan Detik satu ini.

Leak dan Framing Media

Dalam bukunya Real Peace (1983), Nixon menuliskan sebuah quote terkenal “Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war”. Dan quote itu cukup membuktikan kiprah luar biasanya dalam penghentian pengembangan senjata nuklir balistik dengan Uni Soviet yang dikenal dengan nama SALT (Strategic Arms Limitation Talks) 1969. Bersama Leonid Brezhnev dari Uni Soviet, Nixon mengumumkan akhir dari perang dingin yang melibatkan kebrutalan spionase antara kedua negara.

Continue reading →

Sepakbola Londo

Siapa jago anda di Piala EURO 2008?

Bagi saya sepakbola memang punya nuansa kenikmatan tersendiri. Dari jajaran klub dunia, saya pernah mengidolakan Parma Italia dengan Nesta-nya, kemudian AC Milan bersama Sheva dan Nesta. Dan sekarang ketika sepak bola Italia sudah tidak menarik lagi (bagi saya), beralih ke EPL yang semakin susah ditonton. Saya mengidolakan salah satu tim hebat yang bisa mengalahkan AC Milan dengan mental Juara di Champion 2005, Liverpool.

Sayang Inggris gagal total lolos ke babak utama Euro tahun ini. Tetapi tidak mengapa. Masih ada Belanda. Yap, negeri “Londo” yang pernah menjajah Indonesia. Bukan karena saya anti Timnas Indonesia dan PSSI-nya. Tetapi memang permainan generasi muda Belanda memberikan tontonan yang luar biasa buat saya.

Walaupun harapan penampilan apik di Piala Dunia 2006 tidak tercapai, namun saya percaya Belanda punya banyak kesempatan menjadi juara dunia nantinya, dimana saat-saat ini negara kampiun sepakbola lainnya di dunia sedang berbenah dalam regenerasi tim. Belanda satu langkah lebih maju dalam hal regenerasi tim nasionalnya. Dua pertandingan lewat di EURO 2008 menjadi jawaban. Mempercundangi Italia di bawah asuhan Donadoni dengan skor 3-0, dan 4-1 membantai Les Bleus. Keduanya adalah finalis piala dunia lalu.

Pertanyaan aneh yang menghinggapi saya ketika mengidolakan Belanda sejak Piala Dunia 2006 lalu. Jika dan hanya jika negara-negara jajahan Inggris bisa besar dengan sepakbola-nya, lalu mengapa Indonesia yang juga bekas jajahan Belanda tidak bisa seperti mereka?

Lalu teman saya berteriak lewat YM
“Ya mo gimana, ketua PSSI nya saja koruptor. Ada yang salah dengan manajemen PSSI kita!!”

Ah, selalu. Lari-larinya pembenaran selalu ke level itu.

Jadi, kapan kita bisa bikin liputan Sepakbola Indonesia sekelas ini, Ar?

Catatan :

Melihat Robben, Van Persie dan Sneider seperti menyaksikan Trio Belanda masa lalu. Salah satunya menjadi arsitek Belanda yang botak dan dingin itu, Marco Van Basten.

UPDATE:

Maaf, ternyata kolom komentar lupa saya buka. Ah, padahal saya ingin bertemu para fans tim-tim negara lain. Momen seperti EURO begini paling seru untuk saling “manghujat” lewat dreamteam masing-masing.. hehehe…

Diskalimer

Beberapa postingan lewat memang lebih banyak berbicara soal negeri ini. Entah kenapa di antara UAS di semester-semester tak berakhir ini, justru otak ini tidak berhenti berpikir untuk melihat apa yang terjadi disekitar. Terlalu banyak kekhawatiran? Atau mungkin saya berteman dengan orang-orang yang salah selama ini?

Kadang saya bermimpi seandainya hidup cuma sekedar dilewati sebatas sekolah, bekerja, menikmati sore dan malam hari bersama kekasih, jalan-jalan sore, tidur dan terjaga lagi esok dengan aktifitas serupa. Sepertinya teman-teman saya yang melewati hari-hari seperti itu hidup dalam tawa dan bahagia-bahagia saja.

Tetapi hidup memang berjalan berbeda untuk setiap orang. Jika cap pemikir rumit, orang edan, sok serius bahkan lagak aktifis sekalipun ada di jidat saya, itu hanya urusan peran yang ditetapkan lauhil mahfudz sana. Saya tidak pernah perduli dengan segala cap itu. Saya cuma berjalan dengan apa yang saya rasa benar, belajar dari hidup yang saya rasa wajar.

Sekian banyak aktifitas saya cuma dilalui dengan pikir dan perbuatan. Berpikir dan berbuat. Satu-satunya kegiatan hidup saya yang menyerempet aktifitas ala aktifis, hanya karena terlibat di jurnalisme, yang menjadikan beban sebagai orang sok pengen tahu. Harus berteman dan mengorek-ngorek rahasia dunia dari pemikir-pemikir berat itu. Sementara saya sendiri tidak pernah berpikir dalam berat. Pekerjaan membaca jelas iya, menuliskan opini adalah senjata. Tetapi turun ke jalan? Ah, sejauh ini saya cuma singgah dari pustaka usang sampai kegiatan sosial lainnya. Cuma se-cemen itu saudara-saudara

Jadi jika cap aktifis itu menjadi asumsi publik yang negatif bagi seseorang, itu urusan asumsi busuk anda. Dan lebih baik lupakan saja harga itu ada di dompet saya. Dan saya pun menganggap anda tidak mengenal saya dengan baik. Deal?