Ecco perché non ho mai scommesso su di esso, Fratello…
I never bet on it, bro..
Itu bener. Gw ga pernah bertaruh dalam urusan itu (lagi). Urusan bertaruh dengan satu itu, tidak cuma soal egois pribadi. Ada 2 ego yang dibanting-banting dan dikocok-kocok sampai terjawab, menang berbahagia atau sakit berkalang resah.
Tapi lu musti inget! Dulu siapa yang bilang ke gue “Wanita hebat itu adalah yang berani mendampingi lu di saat gelap hingga terang. Bukan sekedar wanita yang menyicip kebahagiaan dan gemerlap lu!” ??
Sayangnya, sekarang lu dan gue sama-sama tahu. Cuma beberapa persen wanita yang berani mengambil secara hebat posisi itu. Dari sekian banyak yang kita kenal selama ini, ternyata tidak lebih dari sepuluh jari kita, bukan?
Bro,…
Sekarang saat lu bertaruh..
Silahkan kalian kocok dadunya bersama.
Atau tutup saja meja ini. Dan kita maen gaplek saja!
*niru2 gaya si Mbok, mosting pendek soal terlarang sambil nitip pesan
Di antara kantuk saya menunggu seorang sahabat dari Jakarta di Stasiun Tugu Yogyakarta minggu lalu, tiba-tiba HP saya berbunyi mengabarkan sebuah pesan masuk.
Adil atau fair. Mungkin sebuah istilah yang sangat basi. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk berlaku adil oleh keluarga. Adil dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Permasalahannya kadang tidak semudah itu dalam memahami keadilan. Sekian tahun saya hidup, nilai-nilai keadilan ternyata justru semakin absurd terlihat.
Teronggok seperti tai. Walaupun bau tetapi memikat penasaran untuk dilihat oleh mata. Itulah cinta, sayang. Maka tidak heran jika ada orang yang mengatakan cinta itu sama dengan tai. Bahkan aku juga paling anti mengucapkan kalimat ini – “Aku Mencintai mu”. Karena bagiku, kalimat itu sangat mudah dipelesetkan menjadi “Aku Mencium Tai mu”.
Secara naluriah, manusia akan selalu berpolitik. Sudah merupakan aturan main yang mungkin sudah berasal dari sono-nya. Seorang anak kecil juga bisa berpolitik untuk mendapatkan uang jajan. Seorang murid berpolitik terhadap guru-gurunya. Seorang pedagang juga berpolitik terhadap pelanggannya. Seorang pejabat apalagi.
“Bersamaku kau tidak mendapatkan apa yang dinamakan bahagia. Dan bersamanya, impian bahagia-mu itu dapat tercipta… Itu sudah cukup.