“Selalu ada kejutan dibalik tikungan kehidupan”, demikian Ndoro yang bijak itu berpesan selalu. Saya mungkin orang yang hafal dengan baik teori itu di kepala. Tetapi soal memahami dan memaknai, saya bukan lah seorang sufi yang baik untuk itu.
Tag Archives: curhat
Diskalimer
Beberapa postingan lewat memang lebih banyak berbicara soal negeri ini. Entah kenapa di antara UAS di semester-semester tak berakhir ini, justru otak ini tidak berhenti berpikir untuk melihat apa yang terjadi disekitar. Terlalu banyak kekhawatiran? Atau mungkin saya berteman dengan orang-orang yang salah selama ini?
Kadang saya bermimpi seandainya hidup cuma sekedar dilewati sebatas sekolah, bekerja, menikmati sore dan malam hari bersama kekasih, jalan-jalan sore, tidur dan terjaga lagi esok dengan aktifitas serupa. Sepertinya teman-teman saya yang melewati hari-hari seperti itu hidup dalam tawa dan bahagia-bahagia saja.
Tetapi hidup memang berjalan berbeda untuk setiap orang. Jika cap pemikir rumit, orang edan, sok serius bahkan lagak aktifis sekalipun ada di jidat saya, itu hanya urusan peran yang ditetapkan lauhil mahfudz sana. Saya tidak pernah perduli dengan segala cap itu. Saya cuma berjalan dengan apa yang saya rasa benar, belajar dari hidup yang saya rasa wajar.
Sekian banyak aktifitas saya cuma dilalui dengan pikir dan perbuatan. Berpikir dan berbuat. Satu-satunya kegiatan hidup saya yang menyerempet aktifitas ala aktifis, hanya karena terlibat di jurnalisme, yang menjadikan beban sebagai orang sok pengen tahu. Harus berteman dan mengorek-ngorek rahasia dunia dari pemikir-pemikir berat itu. Sementara saya sendiri tidak pernah berpikir dalam berat. Pekerjaan membaca jelas iya, menuliskan opini adalah senjata. Tetapi turun ke jalan? Ah, sejauh ini saya cuma singgah dari pustaka usang sampai kegiatan sosial lainnya. Cuma se-cemen itu saudara-saudara
Jadi jika cap aktifis itu menjadi asumsi publik yang negatif bagi seseorang, itu urusan asumsi busuk anda. Dan lebih baik lupakan saja harga itu ada di dompet saya. Dan saya pun menganggap anda tidak mengenal saya dengan baik. Deal?
Menyusur Kebangkitan Nasional
Merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional? Hmmff..Serasa tidak ada harapan untuk menikmati momen bersejarah ini.
Di televisi sekarang, posisi nya masih tertinggal 0 – 1. Thomas punya jalan berat menuju Final. Tetapi saya berharap sangat bisa merayakan 100 tahun kebangkitan nasional dengan double final. Sebuah ungkapan putus asa? Mungkin…
Yang pasti Malam Purnama menyusuri sang Budha di Borobudur menunggu. Paling tidak undangan ini, tidak boleh saya lewatkan. Sedikit istirahat dari penatnya dunia Indonesia yang seolah semakin “renta”, kalau tidak boleh saya katakan hamil tua.
Message Replied
Kamu bilang aku menggombal dengan pesan telepon 25 jam itu? Continue reading
Curhat
Baru-baru ini, seseorang bertanya kepada saya,
Rindu Memaki
Just Enjoy My Life…
Just enjoy my life, darling…
Saya menikmati deadline dan deadline. Pekerjaan dadakan dan sejenisnya.
Karena ada permintaan mendadak dari klien, dan sebenarnya butuh duit juga sih, semalaman saya memburu ide muter-muter galeri design web yang ada. Yap, sudah jadi rutinitas kalau begini. Continue reading
SMS Pria
Di antara kantuk saya menunggu seorang sahabat dari Jakarta di Stasiun Tugu Yogyakarta minggu lalu, tiba-tiba HP saya berbunyi mengabarkan sebuah pesan masuk.
Belajar Adil
Adil atau fair. Mungkin sebuah istilah yang sangat basi. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk berlaku adil oleh keluarga. Adil dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Permasalahannya kadang tidak semudah itu dalam memahami keadilan. Sekian tahun saya hidup, nilai-nilai keadilan ternyata justru semakin absurd terlihat.
Menara Gading (part one)
Cerita ini akan menjadi sangat panjang.
Sejak Kamis sore saya berada di Bandung dalam rangka banyak hal. Maaf buat Beni dan pacar tersayangnya yang tidak terkabari keberangkatan saya. Tapi harusnya lu tau gw pasti ke Bandung, gimana sih?
Politik
Secara naluriah, manusia akan selalu berpolitik. Sudah merupakan aturan main yang mungkin sudah berasal dari sono-nya. Seorang anak kecil juga bisa berpolitik untuk mendapatkan uang jajan. Seorang murid berpolitik terhadap guru-gurunya. Seorang pedagang juga berpolitik terhadap pelanggannya. Seorang pejabat apalagi.
Tapi yang paling tidak menyenangkan adalah ketika manusia berpolitik untuk cinta.
Ah, seandainya manusia tidak difasilitasi dengan otak,
cuma hati yang berbicara….
NB : Forget the politic, back to Jogja adem city..
