<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; curhat</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/curhat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Setahun</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/07/16/setahun/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/07/16/setahun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 20:27:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=365</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Selalu ada kejutan dibalik tikungan kehidupan&#8221;, demikian Ndoro yang bijak itu berpesan selalu. Saya mungkin orang yang hafal dengan baik teori itu di kepala. Tetapi soal memahami dan memaknai, saya bukan lah seorang sufi yang baik untuk itu. Setahun sudah &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/07/16/setahun/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/gardu-pandang.jpg" alt="" width="290" /><em>&#8220;Selalu ada kejutan dibalik tikungan kehidupan&#8221;</em>, demikian <a title="Ndoro sang Penakluk" href="http://ndorokakung.com" target="_blank">Ndoro</a> yang bijak itu berpesan selalu. Saya mungkin orang yang hafal dengan baik teori itu di kepala. Tetapi soal memahami dan memaknai, saya bukan lah seorang sufi yang baik untuk itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-367"></span>Setahun sudah perjalanan di kota Kesultanan ini. Dua belas purnama menjelang, dua semester hidup berakhir, entah saya menglami kemajuan atau kemunduran, atau malah stagnan. Tetapi harus saya terima, banyak hal yang sudah saya dapat. Tidak terlepas dari segala macam pencerahan ala Yogya yang ditawarkan bangunan, cerita, sejarah bahkan canda ala makhluk-makhluk ceria-nya. Termasuk anda, para bloger yang ada disekitar saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tantangan tahun ke-2 di depan mata. Berjejal tantangan sudah menumpuk membayang, menggunung. Laksana merapi yang menunggu meletus setiap siklus geologisnya. Siapa yang tahu apa yang terjadi setahun kedepan? Seperti pertanyaan yang sama ketika pertama kali saya sampai di kota ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu saya datang dengan kebodohan-kebodohan dan penyesalan. Berniat<a title="got the point?" href="http://tikabanget.com" target="_blank"> </a><a title="So?" href="http://tikabanget.com" target="_blank">kabur</a> dan tapa brata saja, tetapi tidak cukup menutup semua semangat baru yang ditawarkan dari laut selatan hingga <a title="Suroloyo" href="http://www.kapucino.org/2008/01/03/menikmati-keagungan-alam-di-awal-tahun-2008/" target="_blank">puncak Suroloyo</a>. Segala kejar cinta dan cita ternyata cuma bara lewat yang kurang nyala apinya. Nyalanya tidak cukup karena BBM yang terus membubung mungkin. Atau arang yang kurang banyak disematkan dalam panggangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Ketua Kelas" href="http://hermansaksono.com" target="_blank">Seorang teman berulang tahun malam ini</a>, tetapi saya malah terpekur dengan pikir saya sendiri. Hidup serasa singkat, setahun tidak terasa memang, seperempat abad umur sudah lewati sejak dulu. Luka-luka lama tanpa disadari sudah ditimbun dalam-dalam di balik peti-peti cerita kehidupan sejarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya percaya hidup harus mengalir. Tetapi ternyata mengalir saja tidak cukup. Semua orang sudah maju selangkah, dua langkah, bahkan beribu langkah. Mereka seperti tidak sekedar mengalirkan saja hidup ini. Saya melihat mereka dan mungkin anda-anda seperti mengayuh dalam jeram-jeram terjal. Dan sama juga, <em>&#8220;Tidak ada yang tahu tikungan terjal apa yang akan dihadapi di arus depan&#8221;</em>, demikian saya bisa lengkapi quote sang lelananging jagad itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Selamat Mengejar Cita-Cita, Mbak" href="http://dinautami.com" target="_blank">Seseorang</a> berpesan pada saya, <em>&#8220;banyak hal bisa terjadi dalam 2 tahun, Jal&#8221;</em> . <em>Oke.</em> Saya berhitung sejak sekarang dalam dua tahun akan terjadi apa saja. Berhitung sekarang, kalkulasi ini dan itu. Tetapi bukan berarti bisa menolak segala kelokan tajam yang terjadi di depan. Selalu ada faktor yang ada di luar kuasa perhitungan kita sebagai manusia bukan?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Hadapilah seperti &#8220;laki-laki&#8221;. Apapun yang harus diambil, lakukan dgn sungguh-sungguh. Itu saja kuncinya biar tidak sakit.&#8221;</em> Pesan <a title="Reporter Online sok Jagoan" href="http://aryaperdhana.wordpress.com" target="_blank">seorang teman lainnya</a>, yang mengingat kan saya dengan lelaki hebat di nirwana sana. Pesan yang sangat maskulin sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">-o0o-</p>
<p style="text-align: justify;">Ini bukan soal cinta, apalagi roman. Tetapi soal kegelisahan hidup kita yang memang selalu muncul kala ada &#8220;cinta&#8221; menggoda setiap hati yang gelisah. Kita butuh istirahat dari dunia cerita politik yang makin membuta menjelang tangan-tangan rakus berkuasa. Toh, saya dan anda juga manusia biasa, bukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/07/16/setahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskalimer</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/06/diskalimer/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/06/diskalimer/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 03:35:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa postingan lewat memang lebih banyak berbicara soal negeri ini. Entah kenapa di antara UAS di semester-semester tak berakhir ini, justru otak ini tidak berhenti berpikir untuk melihat apa yang terjadi disekitar. Terlalu banyak kekhawatiran? Atau mungkin saya berteman dengan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/06/diskalimer/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa postingan lewat memang lebih banyak berbicara soal negeri ini. Entah kenapa di antara UAS di semester-semester tak berakhir ini, justru otak ini tidak berhenti berpikir untuk melihat apa yang terjadi disekitar. Terlalu banyak kekhawatiran? Atau mungkin saya berteman dengan orang-orang yang salah selama ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang saya bermimpi seandainya hidup cuma sekedar dilewati sebatas sekolah, bekerja, menikmati sore dan malam hari bersama kekasih, jalan-jalan sore, tidur dan terjaga lagi esok dengan aktifitas serupa. Sepertinya teman-teman saya yang melewati hari-hari seperti itu hidup dalam tawa dan bahagia-bahagia saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi hidup memang berjalan berbeda untuk setiap orang. Jika cap pemikir rumit, orang edan, sok serius bahkan lagak aktifis sekalipun ada di jidat saya, itu hanya urusan peran yang ditetapkan lauhil mahfudz sana. Saya tidak pernah perduli dengan segala cap itu. Saya cuma berjalan dengan apa yang saya rasa benar, belajar dari hidup yang saya rasa wajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekian banyak aktifitas saya cuma dilalui dengan pikir dan perbuatan. Berpikir dan berbuat. Satu-satunya kegiatan hidup saya yang menyerempet aktifitas ala aktifis, hanya karena terlibat di jurnalisme, yang menjadikan beban sebagai orang <em>sok pengen tahu.</em> Harus berteman dan mengorek-ngorek rahasia dunia dari pemikir-pemikir berat itu. Sementara saya sendiri tidak pernah berpikir dalam berat. Pekerjaan membaca jelas iya, menuliskan opini adalah senjata. Tetapi turun ke jalan? <em>Ah,</em> sejauh ini saya cuma singgah dari pustaka usang sampai kegiatan sosial lainnya. Cuma se<em>-cemen</em> itu saudara-saudara</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi jika cap aktifis itu menjadi asumsi publik yang negatif bagi seseorang, itu urusan asumsi busuk anda. Dan lebih baik lupakan saja harga itu ada di dompet saya. Dan saya pun menganggap anda tidak mengenal saya dengan baik. <em>Deal?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/06/diskalimer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusur Kebangkitan Nasional</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/05/16/menyusur-kebangkitan-nasional/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/05/16/menyusur-kebangkitan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 13:16:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[kebangkitan nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional? Hmmff..Serasa tidak ada harapan untuk menikmati momen bersejarah ini. Di televisi sekarang, posisi nya masih tertinggal 0 &#8211; 1. Thomas punya jalan berat menuju Final. Tetapi saya berharap sangat bisa merayakan 100 tahun kebangkitan nasional &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/05/16/menyusur-kebangkitan-nasional/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional? Hmmff..Serasa tidak ada harapan untuk menikmati momen bersejarah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di televisi sekarang, posisi nya masih tertinggal 0 &#8211; 1. Thomas punya jalan berat menuju Final. Tetapi saya berharap sangat bisa merayakan 100 tahun kebangkitan nasional dengan double final. Sebuah ungkapan putus asa? Mungkin&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Yang pasti Malam Purnama menyusuri sang Budha di Borobudur menunggu. Paling tidak undangan ini, tidak boleh saya lewatkan. Sedikit istirahat dari penatnya dunia Indonesia yang seolah semakin &#8220;renta&#8221;, kalau tidak boleh saya katakan hamil tua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/05/16/menyusur-kebangkitan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Message Replied</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/05/06/message-replied/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/05/06/message-replied/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 00:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>
		<category><![CDATA[seno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Kamu bilang aku menggombal dengan pesan telepon 25 jam itu? Jelas itu gombal, Tem.. mana ada 25 jam dalam hitungan hari&#8230; hanya sekedar &#8220;rasa&#8221; yang membuat aku bermajas hiperbola menjadikan angka 25 itu.. Dan kamu gantian menggombal dengan kata hebat &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/05/06/message-replied/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-e.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v258/68/23/661293665/n661293665_548596_833.jpg" alt="Peri" width="290" height="375" /><strong><em>Kamu bilang aku menggombal dengan pesan telepon 25 jam itu?</em></strong><span id="more-323"></span><br />
Jelas itu gombal, Tem..<br />
mana ada 25 jam dalam hitungan hari&#8230;<br />
hanya sekedar &#8220;rasa&#8221; yang membuat aku bermajas hiperbola menjadikan angka 25 itu..</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Dan kamu gantian menggombal dengan kata hebat untukku?</em></strong><br />
Aku ga pernah hebat buat siapa-siapa&#8230;<br />
kalau hebat, sudah dari dulu aku jadi siapa-siapa&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Kamu menyamakan rona setan di antara kita?</em></strong><br />
Jangan membandingkan begitu, Tem&#8230;<br />
aku jelas berada dalam rona Durma.<br />
Sedangkan dirimu,&#8230; ya kamu, aku yakin sekali setan tidak suka disamakan dengan dirimu,..<br />
bukan soal dosa atau durjana&#8230;<br />
hanya saja, setan tidak suka disamakan dengan wanita berona peri yang turun dari langit Kinanthi&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Kamu meminta maaf soal kebiasaanmu mengoceh tidak penting?</em></strong><br />
Ocehanmu memang tidak pernah penting,..sama sekali tidak penting.<br />
Tetapi selalu menjadi penting untuk kudengar, karena menghilangkan sepi dan penat sendiriku disini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Lalu kamu pun bertanya tentang megatruh?</em></strong><br />
<em>mosok ga ngerti, Tem?</em> Setahuku megatruh itu adalah jenis terakhir dari tembang macapat di negerimu&#8230;<br />
dari kata am, pegat dan ruh..<br />
pegat artinya akhir, putus, atau selesai,<br />
ruh artinya ruh atau jiwa.<br />
Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti <em>mbucal kan sarwa ala</em> &#8211; membuang yang serba jelek dalam jiwa..</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Nah</em>, dalam lakon oleh Rendra, diartikan pula sebagai tapal batas antara baik &#8211; buruk, hidup &#8211; mati,.. bahkan berarti menunggu revolusi&#8230;<br />
<em>hmmfff&#8230;</em>semoga seperti aku yang sedang mencoba berevolusi lebih baik dari yang lalu-lalu serba buruk&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi aku paling suka jika diartikan layaknya Seno punya cerita, megatruh diartikan sebagai senja, yang diakhir cerita dimasukkan unsur roman cinta.<br />
Megatruh = senja = indah = tapal batas yang indah = antara cinta dan tidak bisa bercinta&#8230;<br />
Yang akhirnya ku simpulkan saja sebagai rasa rindu yang tak terbalas&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>See?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ya begitulah, Tem&#8230;<br />
Semoga kamu masih mau menunggu 25 jam telepon ku lagi nanti&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/05/06/message-replied/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Curhat</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/05/03/curhat/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/05/03/curhat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 01:08:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[bloger]]></category>
		<category><![CDATA[Blogosfer]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Baru-baru ini, seseorang bertanya kepada saya, &#8220;Mas, kok ngeblog jadi semakin ribet ya?&#8221; Saya antara mengerti dan penasaran dengan pertanyaan itu. Lalu mencoba untuk berdiskusi, &#8220;Ribet kenapa?&#8221; &#8220;Ya itu,.. nulis gini takut salah, nulis gitu ntar dikira merusak nama orang. &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/05/03/curhat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-d.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v258/68/23/661293665/n661293665_541651_2530.jpg" alt="Freedom of Speech" width="290" height="545" />Baru-baru ini, seseorang bertanya kepada saya,</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-319"></span><em>&#8220;Mas, kok ngeblog jadi semakin ribet ya?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saya antara mengerti dan penasaran dengan pertanyaan itu. Lalu mencoba untuk berdiskusi,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ribet kenapa?&#8221;</em><br />
<em>&#8220;Ya itu,.. nulis gini takut salah, nulis gitu ntar dikira merusak nama orang. Salah-salah, nanti saya terjerat Undang-Undang ini itu&#8221;</em>, jawab nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bingung saya memberi jawaban. Yang terpikir cuma satu saat itu, seperti prinsip saya ngeblog dari dulu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Situ biasanya sering curhat ma temen kan?&#8221;</em><br />
<em>&#8220;iya, manusiawi..&#8221;</em><br />
<em>&#8220;Sering kesel mengkel ama sesuatu? terus ngomongin hal ngeselin itu ma temen-temen?&#8221;</em><br />
<em>&#8220;Iya wajarlah. Lha, hubungannya dengan ngeblog kan beda?&#8221;</em><br />
<em>&#8220;Ntar dulu, saya tanya lagi. Di ruang kelas kuliah situ, di kantin-kantin, di meja-meja diskusi, toh pasti sering ngobrolin tentang apapunkan? Dari diskusi sampai ngegosip. Ya ngga?&#8221;</em><br />
<em>&#8220;Iya..iya.. Ga usah dipertegas, Mas&#8221;.</em><br />
<em>&#8220;Saya ga mempertegas. Tetapi buat saya ngeblog ya sama saja dengan yang begitu. Etika ngobrol-ngobrol, ngegosip dan curhat itu terbentuk dengan sendirinya. Bagaimana berdiskusi yang benar. Bagaimana bergosip yang pantas. Bagaimana debat yang sehat. Bagaimana bercanda yang wajar. Ya, buat saya ngeblog ya begitu&#8221;</em><br />
<em>&#8220;Enak situ ngomong, Mas. Emang bisa disamain segampang itu apa? Kan blog dibaca banyak orang&#8221;.</em><br />
<em>&#8220;Apa bedanya dengan saya curhat pengen didengar banyak teman? Saya bergosip beramai-ramai. Saya bercanda lucu-lucuan soal sesuatu beramai-ramai. Saya diskusi sambil ngundang audiens satu gedung&#8221;.</em><br />
<em>&#8220;Tetep beda donk&#8221;.</em><br />
<em>&#8220;Ah, itu situ saja kali ngerasa beda. Saya ngga kok&#8221;.</em><br />
<em>&#8220;Lha, situ sampai ngomongin negara, nuduh-nuduh politikus itu busuklah, anggota dewan kurang ajarlah. Masak yang begitu mau disamain ama ngegosip, curhat?&#8221;</em><br />
<em>&#8220;Lha, emang kenyataannya saya curhat. Seperti juga saya sering dengar curhatan serupa ini oleh tukang-tukang becak. Dengan supir-supir angkot. Tukang-tukang sayur,  preman-preman pasar, pedagang kaki lima. Malahan juga waktu saya ngobrol-ngobrol dengan teman-teman saya yang jadi buruh berdasi, walaupun dengan nada sinis cerdas bercanda, toh tetep itu curhat-curhatan penatnya mereka dengan kondisi&#8221;.</em><br />
<em>&#8220;Hmm..sesederhana itu?&#8221;</em><br />
<em>&#8220;Iya,.. ngeblog adalah curhat, bercerita akan penat. Seperti dulu awalnya blog diciptakan, sebagai diari online. Curhat segala keluh kesah, gundah gulana. Saya cuma memperlakukannya seperti itu. Saat ini  saya berkeluh kesah dengan busuknya politikus, lha itu curhat saya. Kegelisahan saya. Sama juga ketika saya sedang jatuh cinta kepada seorang wanita, saya tumpahkan saja dalam bait-bait curhat penuh rasa cinta&#8221;.</em><br />
<em>&#8220;Tetep saya ga ngerti. Kok masih terasa ribet&#8221;.</em><br />
<em>&#8220;Tulislah apa yang ingin situ tulis. Paling itu yang bisa saya pesankan. Saya juga ga ngerti mau jelasin gimana lagi yang lebih sederhana dari itu&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, saya cuma tukang curhat. Lalu saudara maunya apa? Mengatur curhatan saya? Dan gelisah hati setiap orang di republik ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/05/03/curhat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rindu Memaki</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/25/rindu-memaki/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/25/rindu-memaki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 00:15:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[gundah]]></category>
		<category><![CDATA[love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mbak&#8230;&#8221;, aku lebih memilih memberi awalan ini di depan namamu yang manis itu sekarang. Kau semakin bersinar di negeri orang, makin dewasa, semakin menjadi &#8220;wanita&#8221; dalam mimpi-mimpimu. Bahagia terlukis di setiap gambar-gambar mu. Namun gambar-gambar yang tak pernah kuasa aku &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/25/rindu-memaki/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/04/cew.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-305" title="Mbak" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/04/cew.jpg" alt="Mbak" /></a>&#8220;Mbak&#8230;&#8221;, aku lebih memilih memberi awalan ini di depan namamu yang manis itu sekarang. Kau semakin bersinar di negeri orang, makin dewasa, semakin menjadi &#8220;wanita&#8221; dalam mimpi-mimpimu. Bahagia terlukis di setiap gambar-gambar mu. Namun gambar-gambar yang tak pernah kuasa aku bingkai lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-304"></span>Bener Mbak, nama mu itu memang manis sekali. Bukan gombal anak tingkat satu. Sudah dari dulu aku katakan nama mu terlalu indah untuk seorang wanita dengan fragmen hidup yang keras. Tetapi aku mengenalmu dengan segala mimpi mu, dari yang indah laksana senja di setiap sore kita menunggu angkot di antara utara selatan kampus biru, hingga mimpi-mimpi kejam berisi makian mengutuk hidup, tersadar bahwa masih ada darah sebelum nyawa kita meleksa pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak, kadang kau menangis ketika terlalu takut akan mimpi-mimpi buruk itu. Tidak cukup dengan bercerita dan menangis, kau bahkan menambahi kata anjing di setiap kalimat mu. Tak mengapa, karena aku percaya bahwa dunia kita sama dalam menilai anjing. Bukan karena anjing itu haram, juga bukan karena anjing adalah binatang yang jorok. Kita pernah sepakat, karena anjing adalah hanya sekedar binatang.  Binatang paling dekat yang manusia temui sehari-hari dengan sifat galak dan kasar, bisa menggigit mengerikan dan akhirnya dilempari terhinakan. Haha.. sebuah kesepakatan paling merusak logika. Dan kita tertawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak, aku ingat kau punya seekor kucing di rumah mu. Kau bercerita bahwa kucing itu adalah generasi kesekian yang tetap bertahan di rumah mu dari kucing-kucing betina lain yang lahir, pergi atau mati. Kau bilang, nenek si kucing itu dulu sudah ada sejak kau masih percaya mereka juga makan roti dan keju seperti juga manusia. Aneh, karena aku justru sangat ingat kalau cucu-nya yang gemuk itu juga doyan roti keju. Jika aku datang bermain ke rumah mu membawa roti martabak bertabur keju, dengan manja dia meminta jatah di kaki ku. Ah, aku jadi percaya kalau kau telah merusak genetika alamiah kucing-kucing yang hidup turun temurun di rumah mu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak, masih ingat bagaimana dulu aku disebut teroris oleh ibu mu? Karena rambut ku yang waktu itu gondrong pertama kalinya tak terurus. Padahal seloroh ku cukup jelas, <em>rambut ku ini memang susah diurus, Bu</em>. Ya ya,..ibu mu sebenarnya tidak protes dengan rambutku itu, tetapi dia cuma kaget melihat photo kita yang hanya berdua &#8220;pertama kali&#8221;. Mungkin waktu itu dia berpikir apa yang salah di photo itu. Apakah gondrongku yang terlalu buruk merusak frame photobox itu? Atau anaknya yang terlalu cantik? Sebenarnya bagiku sama saja, kedua alasan itu benar. Supaya adil, seharusnya si ibu juga komplain waktu itu karena memiliki anak gadis yang cantik seperti mu.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak, inget malam dimana tiba-tiba kau merusak barisan sms busuk kita? Entah bagaimana awalnya, ketika sms-sms kita berbicara tentang teori 3 kelas feminis, patriaki dan memaksa keterkaitan keduanya dengan kapitalisme, kau tanpa dosa me&#8221;maki&#8221;ku karena sering memaksa dirimu memakai jaket merah bau milikku jika kuantar pulang melintasi Bandung-Cimahi. Ya, aku ingat sekali kau memang selalu begitu, menolak memakai jaket himpunan jurusan ku, karena kau merasa jaket himpunan tipis mu itu lebih gagah dan ego. Memalukan bila memakai jaket himpunan lain yang seharusnya menjadi musuh di setiap pertandingan olah raga dan lomba kampus. Padahal aku tidak berpikir begitu. Toh, kalau angin badai salju datang pun, himpunan mu atau himpunan ku juga akan merancang ulang desain jaket-jaket ego ini menjadi lebih tebal dan manusiawi buat semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak, makian mu di sms itu adalah kebodohan terbesar ku membalasnya dengan memaki tidak kalah hebat. Besok dan besoknya lagi kau selalu ingin memaki dan mengejekku. Bahkan tidak puas dengan barisan sms, kau berusaha menyerang telak memuaskan ego mu setiap jeda kuliah-kuliah kita. Mencari titik tengah geografis warung makan di sekitar kampus, karena kau berada di ujung Barat Daya, sedangkan aku di Timur Laut. Apalah daya berusaha ingin adil, karena akhirnya selalu aku yang datang ke kantin Barat Daya sana. Berjalan jauh diagonal, hanya untuk makan siang, menerima makian, lalu makan pun aku yang bayar. Sial!</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak, terakhir yang kuingat, suatu malam setelah acara entah apa itu, kau memaksa ku halus untuk menjemputmu di jurusan mu. Dengan dalih buku &#8220;Saksi Mata&#8221; Seno milik ku ingin kau kembalikan. Aku pun berjalan dalam gelap di lorong-lorong kampus. Terlihat kau duduk di anak tangga pojok bangunan tua segi delapan itu. Mendekap buku ku di dada mu dengan lunglai dan kedinginan, tidak ada takut di mata mu yang tetap bercahaya di dalam remang-remang sinar bintang. Cahaya mata mu seperti kemilau kaca. Dan rupanya memang matamu sedang berkaca-kaca saat itu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingat. ingat sekali, tersadar dalam putaran musik Rod Stewart malam ini. Seandainya aku tidak datang malam itu untuk menjemput buku yang kau katakan menjijikan tersebut, mungkin tidak akan ada pembicaraan-pembicaraan merusak di tahun-tahun berikutnya. Cukup saling memaki. Aku rindukan saat-saat makian-makian mu melacur dalam hari-hari ku. Seandainya saja kita terus memaki, kita pasti akan terus saling memaki sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ohya, ibu mu mengabari ku beberapa minggu lalu. Si Kucing roti keju itu sudah mati sakit tua.  Seperti kata ku dulu, kucing jantan memang selalu begitu. Memilih kesepian sampai akhir hidupnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/25/rindu-memaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Just Enjoy My Life&#8230;</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/18/just-enjoy-my-life/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/18/just-enjoy-my-life/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 05:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>
		<category><![CDATA[webdesign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Just enjoy my life, darling&#8230; Saya menikmati deadline dan deadline. Pekerjaan dadakan dan sejenisnya. Karena ada permintaan mendadak dari klien, dan sebenarnya butuh duit juga sih, semalaman saya memburu ide muter-muter galeri design web yang ada. Yap, sudah jadi rutinitas &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/18/just-enjoy-my-life/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_510709_7073.jpg" alt="Web Design" width="290" height="177" /><strong><em>Just enjoy my life, darling&#8230;</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya menikmati deadline dan deadline. Pekerjaan dadakan dan sejenisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena ada permintaan mendadak dari klien, dan sebenarnya butuh duit juga sih, semalaman saya memburu ide <em>muter-muter</em> galeri design web yang ada. <em>Yap</em>, sudah jadi rutinitas kalau begini. <span id="more-298"></span>Soalnya dari sononya tidak ngasih file PSD atau contoh design yang diminta. Ditambah kemampuan teknis saya dalam hal grafis sangat buruk. Buktinya, untuk blog ini saja, udah lebih dari 5 theme saya design, ga ada yang bikin saya puas untuk graphis-nya :p .</p>
<p style="text-align: justify;">Tumben-tumben saya ngomongin kerjaan saya seputar web lagi. Setelah berkutat dengan dunia web dan segala pernak pernik-nya 2 tahun belakangan, untuk hal grapfis justru masih meraba-raba <span style="text-decoration: line-through;">dada</span>. Kalau menggunakan PSD sih oke saja, tetapi kalau sudah permintaannya ngolah vector, mending saya lempar ke teman saja, atau bayar orang murah meriah :p .</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Hah</em>, jadi ngelantur. Jadi sebenarnya sedang mumet aja. Dalam waktu yang mepet, kebetulan saya didaulat buat menyiapkan proposalnya <span style="font-family: Verdana;"><a title="Cahmodyar..." href="http://www.cahandong.org" target="_blank">CA </a>untuk National IT eXpo </span>Yogya. Dan di waktu yang sama seseorang teman meminta bantuan menyelesaikan <em>project</em>nya. Disaat yang sama pula saya berjanji dengan <a title="Sandal" href="http://the.sandalian.com" target="_blank">Sandal</a> dan <a title="Zam" href="http://matriphe.com" target="_blank">Zam</a> untuk menonton Kiai Kanjeng-nya Cak Nun, itung-itung perpisahan dengan Pak Sultan selagi masih jadi orang kere. <em>Ntar</em> kalau dia sudah jadi orang kaya di Ibu Kota, pasti susah mengatur waktu karena terlalu sibuk mengumpulkan duit <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Eh</em>, tak disangka sore-nya ditambah lagi ajakan dadakan seorang teman buat nonton pertunjukan teater-teater kampus di Angkringan Kebon dekat kos saya malam tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan akhirnya semua yang berbau senang-senang saya lewatkan dulu. Duduk depan monitor semalaman untuk project sosial ini dan sekaligus proposal si Alex. <em>Syial.</em>.pas OL, sudah masuk email dari client lama yang minta <em>upgrade system</em> dan <em>rebuild</em> design web nya. Harus dilayani, sebagai &#8220;after sale service&#8221; saya. Hahahaha&#8230; Indahnya hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi inget kata mantan saya, <em>&#8220;Mau mu itu sebenarnya apa sih? Kerjaan ngurus Web,.. Kuliah belajar ilmu bumi,.. terus interest di Jurnalistik,.. belum lagi grasak grusuk urusan pendidikan, sosial, politik, budaya, ekonomi, pertahanan keamanan la..la..la&#8230;la&#8230;la&#8230;la..la..la..la&#8230; gubrakkk&#8230;!!!&#8221; ..</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Hmmff&#8230;</em>Pantas saja saya ditinggalin dia.. hihihi&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/18/just-enjoy-my-life/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMS Pria</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/12/sms-pria/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/12/sms-pria/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 00:25:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[sms]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Di antara kantuk saya menunggu seorang sahabat dari Jakarta di Stasiun Tugu Yogyakarta minggu lalu, tiba-tiba HP saya berbunyi mengabarkan sebuah pesan masuk. Aha.. ternyata lelaki itu masih resah dengan keberuntungan yang didapatnya. Sudah beberapa hari dia menggigau tentang segala &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/12/sms-pria/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-h.ak.facebook.com/photos-ak-sctm/v213/68/23/661293665/n661293665_496607_1729.jpg" alt="lelaki bawah" width="290" height="211" />Di antara kantuk saya menunggu seorang sahabat dari Jakarta di Stasiun Tugu Yogyakarta minggu lalu, tiba-tiba HP saya berbunyi mengabarkan sebuah pesan masuk.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-296"></span><em>Aha</em>.. ternyata lelaki itu masih resah dengan keberuntungan yang didapatnya. Sudah beberapa hari dia menggigau tentang segala gundah karena seorang wanita yang mencintainya sepenuh hati, wanita yang selalu ada disampingnya. Kadang saya tidak habis pikir, kenapa dengan keberuntungan seperti itu pun, kerisauan bisa menghampiri hatinya?</p>
<p style="text-align: justify;">Karena lelaki satu ini adalah sahabat terbaik yang selalu menerima cerita gombal saya di kala risau juga, saya pun menemaninya ber-SMS pagi itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ketawa ga ketawa, tem. Gw dari semalam ga bisa tidur. Kepikiran kata-kata abang gw. Go alone until 30 something, habis itu lu baru mikirin bini..&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Cuma senyum. Lalu saya menuliskan balasan,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Kalo kata tmn gw, jalan hidup kacau krn wanita mulu, brarti ga boleh jadi co baek2..just have fun with them,..so, mending kumpul duit dl, br trs jadi co brengsex..ha3x..mau? Showmustgoon! :p &#8220;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan 2 menit kemudian, ketika MU mencetak gol, balasan sms datang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Kalo &#8216;cuma&#8217; jd co brengsek, gw yakin dengan kondisi sekarang pun, kalo lu mau kasarnya, lu ato gw yakin dah bisa nidurin banyak wanita..&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan dengan PD saya membalas,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Bagaimanapun, baek ato brengsek sekalipun, cewe tetep butuh modal&#8230;bukan skdar gombal..&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu balasan lainnya &#8211; setelah TV menyiarkan tunda Barcelona,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;hahaha&#8230;mending lu ke jkt aja dul, biar bs ngobrol banyak kita. Gw mo subuh dulu..Lu msh rajin solat, tem? Gw msh..tp jarang ngobrol ma Dia..&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Anjrit! </em>Malah menanyakan urusan sholat segala ini bocah. Tidak saya jawab. Karena Barca sedang seru-serunya. Dan sms lanjutan datang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Tapi bukannya some man born to save the world? (njrit, ngomong apa gw yak)&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hahaha..gantian dia yang mengingatkan saya. Sepertinya dia sadar sekali kalau temannya ini juga sedang resah oleh urusan wanita. Saya cuma tersenyum, dan menjawab se-<em>sotoy-sotoy</em>-nya umat.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Some man&#8230;brarti gw boleh milih&#8230;you&#8217;re the man to save the woman. and me as a man to save the world&#8230;ha3x..well okey, i&#8217;ll take my part being 30.. :p &#8220;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Petugas kereta mulai memberitahukan bahwa kereta Senja Utama dari Jakarta telah tiba. Saya pun siap-siap bergerak untuk mencari teman saya. Dan 2 sms masuk seperti wangsit di subuh dingin itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;yg trpikir org2 kyk gw, dan mngkn jg lu, bisa sebegitunya &#8220;down&#8221; cuma krn wanita..kehabisan energi mikir mereka. Membuat lupa peran utk menjadi &#8216;kalifah&#8217;&#8230; &#8221; </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Semua rencana2 besar gw tiba2 brubah. Menjadi bgmn gw bisa dapet duit buat persiapan bangun keluarga bersama dia.  Bukannya itu salah, manusia  sekali malah..&#8221; </em></p>
<p style="text-align: justify;">Ah, kau benar sekali, sobat. Terkadang kita lupa kalau kita cuma manusia. Dan wajar untuk bersikap manusiawi. Untuk apa mendramatisir hidup, jika memang kodrat kita hanya menjadi manusia?</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kejauhan, lambaian tangan wanita manis itu terlihat di balik keramaian penumpang yang turun. Saya membalas dengan senyum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/12/sms-pria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Adil</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/03/25/belajar-adil/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/03/25/belajar-adil/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 11:45:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/03/25/belajar-adil/</guid>
		<description><![CDATA[Adil atau fair. Mungkin sebuah istilah yang sangat basi. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk berlaku adil oleh keluarga. Adil dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Permasalahannya kadang tidak semudah itu dalam memahami keadilan. Sekian tahun saya hidup, nilai-nilai keadilan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/03/25/belajar-adil/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://photos-f.ak.facebook.com/photos-ak-sctm/v213/68/23/661293665/n661293665_462605_2826.jpg" alt="Blind Justice" height="436" width="290" />Adil atau fair. Mungkin sebuah istilah yang sangat basi. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk berlaku adil oleh keluarga. Adil dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Permasalahannya kadang tidak semudah itu dalam memahami keadilan. Sekian tahun saya hidup, nilai-nilai keadilan ternyata justru semakin absurd terlihat.</p>
<p align="justify"><span id="more-278"></span>Apa alasan saya melihat keadilan sebagai sebuah absurditas? Tidak usah dipungkiri jika pemahaman nilai keadilan sangat tergantung dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga, masyarakat dan norma. Dan satu lagi, jika anda berani mengeksplor dan mencari tahu apa itu keadilan layaknya seorang sufi, mungkin bisa jadi memberi pemahaman keadilan yang berbeda.</p>
<p align="justify">Mungkin karena itu ada yang namanya pengadilan dan hukum. Dimana banyak kepala bertemu, bersekutu dan berdebat untuk menemukan banyak pemahaman adil dari berbagai kepala, sehingga sebaik mungkin nilai keadilan dari berbagai versi di dekati. Hukum berasal dari turunan perundang-undangan yang juga disusun oleh banyak kepala dan ahli. Bisa jadi sebuah kesalahan di mata saya menjadi benar oleh sebuah debat hukum. Kondisi ideal ini tentu berlangsung baik adanya, dengan melepas unsur-unsur oportunistis.</p>
<p align="justify">Lalu ada yang bilang keadilan dilihat secara kemanusiaan. Ada juga versi <em>&#8220;pakailah hati itu dalam melihat keadilan&#8221;</em>. Saya justru selama ini termasuk <em>genre</em> yang satu ini. Percaya dengan nilai-nilai kemanusiaan sebagai parameter keadilan. Mungkin pemahaman saya sebatas nilai kemanusiaan satu dua orang saja. Saya tidak tahu apakah jika sudah menumpukkan berbagai ego manusia yang mengaku bernilai kemanusiaan, keadilan tersebut masih memiliki ukuran yang sama? mungkin saja hasil akhirnya malah beda.</p>
<p align="justify"><em>&#8220;Percayakan hati mu untuk menilai keadilan..&#8221;</em>, itu juga pesan lainnya yang saya terima. Tetapi masih bisa saya debat dengan kepala ini. Hati nya siapa? Hati saya dan anda jelas berbeda dalam melihat sebuah keadilan. Hati itu juga sebuah bentuk metafora yang tidak terlepas dari unsur subjektifitas.</p>
<p align="justify">Banyak kasus yang saya dengar dari teman-teman saya tentang pergulatan ini. Nilai keadilan mereka menjadi absurd setelah mencoba berpikir dengan hati dan nilai-nilai kemanusiaan yang satu dua. Mungkin anda juga pernah merasa yang sama seperti ini, begitupun saya. Kasus dimana sering terbentur antara keadilan manusia satu dua dengan keadilan sebuah kepentingan yang lebih besar.</p>
<p align="justify">Analogi sederhana lainnya &#8211; agak sedikit mudah. Dalam hubungan asmara manusia &#8211; <em>yak, soal cinta</em>. Ketika kita sudah berikrar <em>-dengan pertimbangan matang-</em> untuk berkomitmen dengan seseorang, dan kemudian ternyata hati ini masih tersandung rasa dengan hati yang lain, apakah keadilan yang bisa kita berikan untuk keduanya? Memihak hati sejati-jatinya? Atau Selingkuh? Poligami?Poliandri?</p>
<p align="justify"><em>Hmm..</em> Untuk kasus diatas, kenyataannya saya lebih sepakat menjaga yang telah terucap. Seperti sebuah nilai yang saya pahami dari dulu, <em>&#8220;Think, Said and Commit..&#8221;. </em>Komitmen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/03/25/belajar-adil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menara Gading (part one)</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 05:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[ITB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini akan menjadi sangat panjang. &#160; Sejak Kamis sore saya berada di Bandung dalam rangka banyak hal. Maaf buat Beni dan pacar tersayangnya yang tidak terkabari keberangkatan saya. Tapi harusnya lu tau gw pasti ke Bandung, gimana sih? Selama &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sctm/v213/68/23/661293665/n661293665_439993_1319.jpg" alt="Tugu Kubus ITB" height="217" width="290" />Cerita ini akan menjadi sangat panjang.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sejak Kamis sore saya berada di Bandung dalam rangka banyak hal. Maaf buat <a href="http://benxjelek.blogspot.com" title="Blog Beni" target="_blank">Beni</a> dan  pacar tersayangnya yang tidak terkabari keberangkatan saya. <em>Tapi harusnya lu tau gw pasti ke Bandung, gimana sih?</em></p>
<p align="justify"><span id="more-265"></span>Selama setengah minggu di sana, saya hadir di kota kembang itu untuk menyelesaikan janji-janji tertunda dan banyak hal. Dua hari sebelum berangkat, saya sempat bertemu dulu dengan <a href="http://cynthinks.blogspot.com" title="Cynthia's Blog" target="_blank">Cyn</a> yang sedang pulang kampung ke Salatiga &#8211; Cyn juga pulang ke Indonesia untuk wisuda ITB di hari sabtu-nya. Cewek satu ini penasaran dengan <a href="http://aprikot.wordpress.com/2008/01/02/balada-museum-1/" title="Ulen Sentalu dan Gita" target="_blank">Ulen Sentalu</a>, dan saya sempat menemani dia, pacar-nya dan 3 temannya menuju museum putri kraton tersebut, walaupun gerimis terus membasahi kaki Merapi.</p>
<p align="justify">Kamis pagi seperti direncanakan, berangkatlah saya. Oleh-oleh sebuah &#8220;patung yoni&#8221; dan coklat ala Yogya juga sudah terbeli. Saya menggunakan Lodaya Pagi jam 09.30. Walau sistem tiket di Stasiun Tugu sempat offline 30 menit sebelum berangkat, kereta tidak terlambat seperti kata Iwan Fals. Saya dapat duduk nyaman di kursi kosong tanpa teman di sebelah,  menikmati pagi-siang-sore perjalanan Yogya-Bandung. Kereta ini terasa sepi. Langit mendung sepanjang perjalanan, sawah-sawah yang menguning, buruh-buruh tani yang mengarit, pedagang kaki lima, dan <a href="http://antobilang.wordpress.com/2008/03/12/buruh-gendong-memanggul-derita/" title="Buruh Gendong cerita Anto" target="_blank">mbok-mbok gendong</a> yang setia menjajakan pecel <em>(saya memesan pecel gendongan yang beralas daun pisang itu, sayur yang segar!)</em>. Bacaan saya di atas kereta adalah <em>Kompas</em> hari itu beserta buku <em>&#8220;Surat Dari Palmerah&#8221;</em> sang Seno. Kombinasi sempurna. Melihat, membaca, mendengar dan merasakan. Sekelibat banyak ide yang ingin saya tuliskan nanti. Ada 6-8 list yang saya catat di halaman kosong buku Seno untuk ditulis nanti. Indonesia ini benar-benar indah dan &#8220;lucu&#8221;.</p>
<p align="justify">Dalam perjalanan ada kejadian aneh. Seperti biasa, selalu ada anak-anak iseng yang melempar batu ke kaca kereta. Tetapi kali ini bukan <em>iseng</em> lagi. Sudah mengarah pada pengrusakan dan membahayakan jiwa. Batu yang berukuran 2 kali kepalan tangan saya menghantam kaca jendela seorang ibu-ibu berada. Si ibu sangat <em>shock</em> saat itu. Saya bisa melihat dari matanya. Untungnya beliau tidak terkena batu tersebut. Seketika saya beranjak memanggil petugas yang ada di gerbong sebelah, sementara penumpang lain menenangkan si ibu. Petugas dengan pangkat tertinggi -<em>mungkin</em>- juga tiba di gerbong kami, beliau akan melapor di Stasiun terdekat tentang hal ini. Petugas-petugas lain membersihkan serpihan kaca-kaca. Gerbong masih ramai dengan gosip dan cengkrama perihal kejadian tadi, malah ada yang bergosip tentang kenyamanan angkutan-angkutan publik lainnya. Saya hanya bisa bertanya dalam hati, siapa yang disalahkan jika ada kejadian seperti ini?</p>
<p align="justify">Sorenya, gerimis di Stasiun Bandung. 16.45 saya menaiki angkot yang langsung menuju kampus Gajah itu. Disana saya sudah berjanji bertemu teman-teman Persma ITB, untuk diskusi tentang <em>&#8220;Konsep New Journalism Media&#8221; . </em>Cuma diskusi. Saya bukan pembicara yang handal soal jurnalistik. Karena ini cuma kebetulan saja saya didaulat oleh mereka untuk sekedar ndobos™, mumpung ada generasi baru yang masuk. Kalau saya bilang, tujuan ceramah saya lebih kepada membangun spirit berkegiatan buat anak-anak ini. Dimana kondisi kampus ini sudah sangat membatasi waktu mereka untuk berkegiatan di dunia kemahasiswaan dan kampus. Entah ide apa yang diusung kampus besar ini di tahun-tahun ke depan. Di satu sisi saya melihat sebuah langkah progresif yang bagus <em>(yap, saya pernah terlibat diskusi lama dulu sebelum konsep BHMN muncul dikampus ini)</em>. Namun di lain sisi seperti ada spirit-spirit yang sengaja dibunuh, atau lebih kasarnya lagi, ada pembunuhan karakter manusia yang <em>socialite</em> disini.<em> Ah</em>, entahlah. Yang pasti kampus ini sudah bukan milik saya lagi.</p>
<p align="justify">Dan malamnya, malam Jumat yang basah,  saya tetap berdiam dikampus itu. Di antara keraguan menghadiri undangan pesta wisuda dari seseorang, saya memilih <em>ngobrol-ngobrol</em> dengan banyak teman. Dari urusan politik negara hingga politik cinta. Seperti biasa, kampus ini selalu membawa saya pada langlang buana penuh romantisme. Semangat membubung tentang negeri ini. Dan akhirnya tercebur dalam pemahaman bahwa memang kampus ini lebih cocok dikatakan sebuah Menara Gading.</p>
<p align="justify">Hmm,.. tapi negeri ini tidak butuh sebuah menara gading yang tinggi, bukan?</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>To be Continued&#8230; </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

