Soeharto

Mercusuar Pandansari YogyaBasi banget membahas Eyang satu ini. Jasadnya juga sudah beristirahat di Astana Giri Bangun. Tetapi apa salah nya kalau saya menulis tentang beliau? Terserah orang-orang mau bilang “capee deeehh..Soeharto lagee, Soeharto lage..”. Kalau bagi saya justru penting meramaikan wacana ini. Karena mengingatkan saya dan pembaca blog ini, bagaimana seharusnya menyikapi berita hingar bingar perihal Soeharto, sejak beliau langser hingga meninggalkan kita semua 2 hari lalu. “Pamali tau mengungkit-ngungkit kisah orang yang sudah ngga ada”. Halahh… Lebih baik pamali daripada beliau di “alam sana” meninggalkan tanggungan dan menjadi arwah penasaran.

Bahwa sesungguhnya manusia sakit itu adalah biasa. Bahkan kematian adalah keniscayaan dari hukum dunia yang fana. Tidak ada kehebatan, apalagi sampai patut untuk dilebih-lebihkan mengenai itu. Tetapi kemarin-kemarin, suatu kewajaran tersebut justru menjadi suatu hal yang luar biasa untuk Soeharto. Mengalahkan keluarbiasaan bencana banjir di Timur Jawa, atau melambungnya harga kedelai karena langka di pasaran nasional.

Kenapa semua orang ribut-ribut membahas soal kasus kejahatan Soeharto? Sejak almarhum mendapat Surat Keputusan Penghentian Proses Penyidikan (SKP3) atas kasus-kasus pidananya, sebenarnya polemik mulai berkembang. Keputusan spekulatif dari Kejaksaan Agung di Mei 2006 itu melengkapi jalan panjang pengusutan kasus perdata Soeharto hingga ajalnya menjelang. Kesempatan besar untuk mengusut 7 yayasannya sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kerugian negara juga kemudian tersendat. Namun anehnya dalam rentang waktu satu setengah tahun, dengan kondisi kesehatan yang turun naik, tidak terlihat itikad baik dari autoritas hukum Indonesia maupun pihak Soeharto CS untuk menyelesaikan sisa-sisa dari sekian banyak catatan kejahatan negara beliau. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana menggemanya kemeriahan Reformasi 1998 untuk mengusut segala penyimpangan KKN Soeharto, yang ini mendasari munculnya TAP MPR No. 11 Tahun 1998. TAP MPR tersebut adalah acuan dasar hukum tertinggi yang terus mendorong setiap organ hukum kita bergerak mengusut segala kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, terutama sebagai kekuatan hukum untuk menyidak kasus KKN yang dilakukan oleh pejabat negara.

Mengingat prelude diatas membuat saya berpikir, apakah sedemikian lemahnya hukum kita sehingga bisa dijadikan komoditas politik. Suara-suara sumbang sudah mendehem jauh-jauh hari untuk berhati-hati akan kekuatan kroni-kroni Soeharto dan orde baru. Karena sebenarnya Soeharto sendiri bisa jadi adalah komoditas politik dari kroni-kroni nya sendiri, yang sampai saat ini berlindung, bersembunyi dan terus mengatur strategi untuk menyelamatkan diri.

Lalu isu berkembang menjadi tawaran win win solution dari kejaksaan kepada Soeharto cs. Tepatnya sejak almarhum kembali masuk ke Rumah Sakit Pertamina karena kondisi kesehatannya yang cenderung menurun, dan bahkan sempat beberapa kali divonis kritis. Semua orang panik di awal Tahun Tikus ini. Pemerintah seperti kebakaran jenggot, mengingatkan saya pada saya sendiri yang suka dikejar deadline karena menunda-nunda pekerjaan. Media-media raksasa negeri ini juga tidak mau kehilangan moment. Seperti seragam – serempak kontan menyambut kondisi kritisnya beliau sebagai lahan menggenjot rating.

Saya sendiri sampai bosan menunggu kapan beliau akan meninggal saat itu. Karena tiap hari ada saja berita-berita, entah di koran atau televisi yang seolah-olah menciptakan keprihatinan dan ketakutan akan kehilangan sesosok agung bagi negeri ini. Media memang lahan yang basah untuk menciptakan opini publik. Seperti dejavu, saya jadi teringat bagaimana dulu keseragaman mainstream media-media kita di jaman Soeharto saat masih berkuasa.

Dan opini-opini yang bermunculan kemudian, membulat menjadi sebuah isu “memaafkan”. Setingan yang luar biasa, mengingatkan saya juga terhadap strategi BIN dan BAIS di zaman orde baru sebagai Prajurit Khusus Perang Fikiran ala Soeharto. Memang hanya beliau, yang sanggup membuat setingan berkelas serupa ini. Tidak heran jika gelar Bapak Intelijen Indonesia patut disandang oleh almarhum.

Dan setelah beliau mengakhiri hidupnya, dikubur dan tenang malam di Astana Giri Bangun, apa yang tertinggal dari hingar bingar tersebut? Malam ini saya hanya melihat di televisi menayangkan berita tahlilan di Pendopo Ndalem Kalitan Solo.

Padahal saya berharap ada sebuah jamuan Open House ala Pejabat-Pejabat Negara/Daerah di hari Idul Fitri, lengkap dengan ucapan pembuka Open House dari pejabat-pejabat itu biasanya, “Saya mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Bathin kepada semua hadirin dan masyarakat yang hadir di Open House kami” – dan masyarakat pun menyerbu semua panganan yang belum tentu mereka tahu itu adalah hasil gaji atau korupsi.

 

 

*Gambar mercusuar diambil dari Ekowanz.info. Sebuah editan sephia photo mercusuar, yang gagah namun sangat hening pada akhirnya.

Sejarah

History TimeSelesai SMP di sebuah kota kecil, saya masuk sebuah sekolah asrama dimana kental dengan nuansa pendidikan dan pengasuhan ala orde baru. Bahkan ketika tahun 1998, saat perubahan politik yang drastis terjadi di luar pagar sekolah, saya bisa dibilang tidak tahu apa-apa. Langit Magelang yang memayungi sekolah saya tetap biru, rutinitas sebuah asrama tetap berlangsung seperti biasa dan makanan tidak pernah kurang sama sekali, walau menunya memang mengalami perubahan terpengaruh harga pasar.

Beruntunglah saya memiliki guru-guru sejarah hebat di sana. Mereka adalah orang-orang yang hebat bagi saya karena mengikuti kondisi aktual bangsa layaknya peneliti sejarah dan sosial. “Segala sesuatu yang berlaku kini adalah akibat hari lalu”, itu sedikit pemahaman yang saya peroleh dari mereka.

Seorang ibu guru sejarah yang mengajar saya di kelas 1, sangat pintar dalam menjelaskan sejarah dunia dan kerajaan-kerajaan Indonesia kuno. Beliau bisa bercerita hingga keluar dari textbook, membawakan dongeng-dongeng dan legenda menjadi penghias sebuah kronologis sejarah. Oh ya, terlebih lagi beliau masih single dan menawan. Saya menaruh salut kepada beliau, bisa mengajar di sekolah seperti ini dengan umur yang masih muda.

Kemudian di kelas 2 SMU, saya bertemu dengan seorang guru sejarah yang tidak kalah hebat. Si bapak ini dulunya adalah bagian dari tim yang mengelola sebuah meseum pejuang terkenal di Jakarta. Namun karena alasan tertentu, lalu beliau memilih menjadi guru di sekolah ini. Dengan bekal pengalamannya yang segudang tentang sejarah pra-pasca kemerdekaan Indonesia, lebih dari cukup untuk membius saya dan teman-teman menelusuri sejarah bangsa ini. Selain sebagai pencerita yang hebat, si bapak ini juga enak diajak berdiskusi. Saya kadang-kadang saat malam minggu, ketika tidak ada acara di luar asrama, memilih untuk bermain ke rumahnya. Sekedar nonton tv, menikmati pangan gratis dan juga ngobrol banyak tentunya.

Ketika kelas 3, saya tidak bertemu mereka lagi, karena mengambil kelas IPA. Namun saya masih suka main ke rumah si Bapak, atau ke tempat si Ibu. Yah lumayan kalau bisa main tempat si Ibu, sekalian cuci mata ke daerah asrama perempuan. :) )

Pernah saya bertanya ke si Ibu Guru sejarah itu. Kenapa beliau selalu mengambil kelas mengajar di kelas 1. Alasannya sederhana, beliau merasa si Bapak guru sejarah lebih senior, pengalamannya lebih banyak. Dan satu alasan lainnya yang menarik. Karena semakin tua suatu sejarah, maka semakin ringan untuk mendeskripsikannya, semakin banyak sudut pandang yang sudah memiliki bukti dan pemahaman yang baik.

Benar memang kata si Ibu. Bapak guru sejarah saya memang sangat lihai dalam meladeni diskusi tajam seputar cerita pasca kemerdekaan yang memang terlalu gamang bagi remaja kelas 2 SMU. Berita-berita di koran, bukti-bukti baru setelah keruntuhan Orba, tentunya membuat seorang guru sejarah pasca kemerdekaan harus ekstra kerja keras dalam menjelaskan.

Saya jadi ingat momen-momen diskusi kecil saya dengan si Bapak guru dulu. Beliau sangat sabar dan hati-hati sekali meladeni saya. Entah karena pertanyaan-pertanyaan saya, atau entah karena saya berasal dari negeri “berdarah” di ujung barat Sumatra. Tetapi kesabaran beliau dalam bercerita, menjelaskan dan mengungkapkan berbagai sudut pandang, justru malah membuat saya sangat menghargai beliau.

Saya semakin mengerti setelah berkuliah. Bagaimana sejarah pasca kemerdekaan sampai sejarah hari kemarin pun akan selalu sulit diberi kesimpulan akhir. Seiring bertambahnya wawasan, maka kedewasaan dalam menilai sejarah juga menjadi semakin penting. Sesuatu yang justru terlupakan ketika sejarah malah dijadikan komoditi.

Sekarang dan sampai kapanpun, sejarah akan selalu menjadi polemik kehidupan. Begitu juga dengan sejarah bangsa ini. Ketika sebagian orang bicara bukti, ketika sebagian yang lain pesimis dengan jargon “Sejarah adalah milik penguasa”, ketika anak-anak muda negeri ini mengganti pahlawan kemerdekaan dengan “Idol-idol” baru, ketika media mengubah sejarah sebagai rating, ketika politik membeli sejarah yang memihak,… lalu saya bertanya “saya ada di sejarah yang mana?”

 

 

Hmmff,.. sepertinya saya kangen bertemu si Ibu dan si Bapak guru sejarah saya lagi.

Fana

[singlepic=76,,,watermark,]

Tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diri

Karena jenis kelemahanku adalah kebiasaan untuk mentertawakan diriku sendiri

 

Jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungku

Volume kepalaku tidak membesar dan hatiku tetap bisa mengantuk

 

Jika mereka menemukan kebenaran sehingga bisa menghinaku

Helai-helai buluku tidak berdiri bahkan kantukku bertambah lelap

 

Kebesaran dan kegagahan amat sangat aku remehkan

Dan tak akan pernah kukenakan sebagai pakaian

 

Apabila dunia menyangka aku mencintainya dan ingin mengawininya

Tentu karena ia tak tahu aku sudah mentalaknya sebelum pernah mencintainya

 

Sesungguhnya manusia tidak memiliki kuasa apapun terhadap diri dan alamnya. Lalu kenapa manusia tidak pernah mau memahaminya? Tetap melihat harta dunia sebagai hakikat semu keberadaan. Bahkan ketika umur menjadi keniscayaan yang tak mungkin ditolak.

Tidak pernah ada satu ksatria pun, penguasa pun, atau sehebat apa pun, yang mampu bertahan dengan 2 kaki mereka selama-lamanya.

 

 

Bahkan seorang Nabi paling suci sekalipun…

 

 

Penggalan Puisi di atas : Kesaksian Sederhana – Kyai Kanjeng

Leksa

LeksaBunuh saja aku
Silahkan ambil sukmaku kapanpun kau mau
Tapi jangan ragaku
Secuil nafas aku rasa sudah cukup

 

Dan aku pasti terbebas dari kotak kaca-mu

 

SC-E02, 3 Januari 2006 2007

 

 

 

 

 

 

 

update 4 Jan 2007 : Tahun di Edit

Renungan Akhir Tahun

Komik RenunganSaya hanya terpaku sekian detik, berpuluh menit, hingga sejam hanya untuk memulai menulis. Tertulis sebuah kalimat, lalu saya hapus lagi. Sudah hampir satu paragraf, lalu saya delete lagi. Berulang-ulang seperti itu. Dan akhirnya beralih ke window lainnya untuk membaca-baca artikel-artikel, blogwalking melihat renungan-renungan di blog teman-teman dan ngobrol sana-sini di YM.

Entah kenapa terasa sangat sulit memberi ucapan di hari terakhir 2007 ini, menghadirkan tulisan refleksi yang bisa memperkaya diri dan sebagainya. Hanya sekedar untuk 3 kata menyambut tahun yang baru! Padahal tidak ada ukuran yang berbeda sama sekali dari skala waktu. Hari akhir 2007 ini juga tetap berlangsung 24 jam. Matahari tetap terbit tanpa memberikan rasa panas berbeda, langit malam juga masih berawan seperti mendung-mendung di malam-malam lainnya. Lalu kenapa saya harus bingung untuk sekedar menuliskan segalanya?

Ingin sekali memberikan tulisan sebagai sebuah bentuk perenungan. Menyentuh akal sehat kita semua, memperkaya hati nurani kita dan mungkin berharap memberikan inspirasi untuk saya dan semua pembaca.

Tetapi saya hanya stuck, terhenti berpikir, otak kram dan hati seperti mati rasa. Kosmos seputar saya serasa stagnan, waktu terasa berhenti.

Ataukah jangan-jangan selama 2007 ini memang stagnan bagi saya? Terlalu banyak waktu terbuang yang bahkan mungkin saya hentikan? Apakah tidak ada warna sama sekali di 2007 ini bagi saya? Tidakkah satu pun dapat menjadi refleksi dan renungan?

Ah sudahlah. Sambut saja tahun depan dengan gembira dan rasa optimis. Penuhi dengan mimpi-mimpi indah. Matikan segala stagnansi, bunuh semua duka, warnai semua yang masih kelabu. Dengan demikian, semoga setahun kedepan saya bisa menulis sebuah refleksi dan renungan yang indah menyambut 2009.

 

2008 akan sangat banyak kejutan bagi kita semua. Selamat Tahun Baru.

 

Ikut-ikutan Ndoro bikin komik.. :) ) Komik lengkapnya di sini

Bebas

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/icHDhsAz610" width="425" height="350" wmode="transparent" /]

 

“..On a waggon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer`s night.


Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

“Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be ?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“


Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly..”

 

Bebas, dalam interprestasi kondisi sosial masyarakat yang selalu ribut-ribut dengan kekuasaan dan posisi, sering diidentikkan dengan tidak bisa diatur, sok melawan arus, tukang nyolot dan perusuh dalam kehidupan absolut materil yang mapan.

Padahal tidak selalu demikian. Gie sendiri memilih untuk bebas menjauhkan dirinya dari bagi-bagi kue dimasa revolusi karena tidak menyukai sebuah gaya lama dalam proses kekuasaan. Siapa yang menyangkal jika Gie sendiri berperan dalam menciptakan revolusi 60-an – mengkritisi Soekarno, dan bisa jadi turut andil menciptakan opini publik tentang kegagalan Soekarno sehingga beliau turun dari kursi kekuasaan. Tetapi dibalik itu, Soekarno sendiri adalah idola favoritnya.

Gie meninggalkan segala gemerlap tawaran politik dan lebih memilih untuk menjadi sosok dengan side opinion. Berada dalam jarak dekat dengan pokok masalah bangsa, tetapi tidak di dalam sebuah sistem yang memaku cara pikir dan berkontribusi. Gie menurutkan kata hati untuk menjadi pejuang intelektual yang bebas dengan prinsipnya : “Patriotisme tidak mungkin ditumbuhkan melalui hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang baru dapat mencintai sesuatu secara sehat apabila dia mengenal dengan baik akan obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia hanya bisa ditumbuhkan dengan melihat Indonesia bersama rakyatnya dari dekat”.

Mungkin memang terlalu naif jika kita bicara bebas, kebebasan layaknya seorang Gie, apalagi bagi kita yang hidup di zaman sekarang yang serba dekat dengan materi. Kekuasaan dan politik juga terkadang menjauhkan diri untuk berpikir bebas, harus selalu setia pada TOR, aturan main dalam berpolitik, dan mungkin menjilat pantat penguasa untuk bertahan. Ukuran materi dan kemakmuran pribadi pun dengan mudah diraih jika berada dalam tataran hidup berslogan kekuasaan. Tidak perlu memikirkan akhir bulan duit dikantong sisa berapa, hidup dengan tenang dalam kursi keseharian dan tidak perlu berkeluh kesah dengan masa tua.

Semua dari kita pernah, sedang atau akan melalui masa muda yang penuh gairah kebebasan. Dulu, saya juga pernah dicekoki dipaksa disarankan oleh senior kampus, untuk masuk ke dalam himpunan mahasiswa. Sebagai makhluk polos yang baru lepas dari putih abu-abu, pandangan saya waktu itu si Himpunan Mahasiswa sendiri jauh dari sistem yang “benar”. Mereka berdialektika bahwa jika saya ingin merubah sistem yang saya lihat salah, maka masuklah ke dalamnya dan ubahlah menjadi lebih baik. Sebuah ungkapan yang mungkin saja benar. Dan apa daya seorang anak baru dalam kondisi dipaksa menurut, dengan setingan kekerasan mengharuskan menjadi pribadi tegar, akhirnya harus menurut juga.

Lalu bagaimana dengan yang tidak menjadi bagian dari slogan himpunan? Bisa ditebak, yaitu menjadi bagian dari orang-orang yang malah tidak bebas dan terhimpit oleh opini sosial sekitar. Dari itu saja, ditahun 2001, bisa saya rasakan betapa kebebasan telah menjadi barang yang absurd. Dan saya pun menikmati berada dalam sistem yang hipokrit dan semu seperti itu. Sebuah model dari organisasi pemuda zaman sekarang mungkin.

Padahal dalam membangun sebuah sistem yang mapan, tidak pernah lepas dari proses dialektis. Selalu dibutuhkan orang-orang yang justru memiliki pandangan berbeda. Kalau istilah seorang teman, “bermain peran”. Tan Malaka sendiri menghabiskan 539 halaman di Madilog hanya untuk menjelaskan pentingnya tesis dan anti-tesis dalam proses membangun sintesa peradaban yang sehat.

Saya juga percaya masih ada orang-orang yang tidak sekedar mencari aman di kursi-kursi empuk berslogan kekuasaan. Masih ada yang dengan gigih berusaha berkata benar, bebas berpendapat, walaupun kursi nya tidak akan pernah bergeser ke lantai lebih atas karena teriakannya. Seperti juga sepeda motornya tidak akan pernah diganti layaknya lagu Oemar Bakrie.

Zaman terus berubah. Fashion terus berganti, bahkan ada yang berulang. Mungkin saja idealisme layaknya Gie dan eksponen 66 lalu kembali muncul dalam tataran negeri ini. Atau mungkin model baru dalam beridealisme akan muncul menggeser pola-pola pikir lama mengenai kebebasan.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di depan. Bahkan Gie sendiri mungkin tidak bisa menebak apa yang terjadi terhadap Indonesia Raya ini setelah 38 tahun ditinggalkannya. Bisa jadi jika ia masih hidup di masa sekarang, menjadi seorang profesor sosial seperti abangnya, Arief Budiman. Mungkin juga ia menangis dalam tulisan-tulisan artikelnya di Kompas melihat anak-anak bangsa sekarang? Atau memilih salah satu kursi berslogan sebagai pemanis hari tua dengan kebanggaan sejarah aktivitas sosial kebangsaannya? Atau mungkin memilih menjadi blogger seperti saya? Ah, tidak ada yang tahu. Yang pasti seperti kutipan dalam bukunya sendiri dia menulis “

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Tapi saya lebih percaya dengan sebuah quote yang pernah saya dengar entah dari mana, “Pemberani itu adalah orang yang berani menjalani hidupnya walau serumit apa pun”.

Berani menghadapi hidup yang rumit, dengan paradigma bebas untuk memilih. Saya percaya itu sulit. Seperti pagi-pagi ini diantara takbir, saya kembali tercenung setelah Mamak saya nun jauh disana memberi kabar walau tanpa pesan tersurat, “Om xxx, teman almarhum ayah mu, menanyakan kabar kuliah mu, .. Sekarang beliau sudah menjadi yyy di Departemen zzz di sini..” Mak..Mamak…sebuah ciri khas yang selalu saya banggakan, pendek, tidak mengiba apalagi memaksa.

 

Mungkin lagu yang sedang berputar di PC ini patut saya kirimkan ke beliau, sebelum saya berangkat Sholat Ied,

“..sampaikanlah pada ibuku – aku pulang terlambat waktu – ku akan menaklukkan malam – dengan jalan pikiranku..”.

 

Tambahan :

Joan Baez adalah penyanyi favorit Gie, terutama lagunya yang di atas, “Donna Donna”. Maaf saya streaming diatas via Youtube. Jadi kasian deh loe yang Youtube nya di blok kampus huakakakak… Versi MP3 nya boleh saya share. Atau dengerin aja versi Sita RSD dalam OST. Gie. Lagu tersebut (dan lagu-lagu Joan Baez lainnya) sangat lekat dengan kondisi masa 60-an, dimana kondisi seluruh dunia, termasuk Indonesia sendiri saat itu terpolarisasi dalam politik perang dingin global. Sehingga piring hitam Joan Baez milik Gie sempat ditahan imigrasi Australia ketika dia berada disana. Joan masih terus bernyanyi hingga sekarang, dengan khas folksong-bergitar Amerika-nya, membawakan lagu-lagu bertema Human Rights. Single lainnya yang dikenal adalah “We Shall Overcome” (yang di kampus GT™ pasti tahu lagu ini).

 

Postingan ini dipersembahkan buat semua pembaca untuk mengenang kembali semangat seorang Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969). Yang dimasanya memiliki interprestasi berbeda terhadap revolusi Indonesia. Bahkan merelakan suatu kebutuhan kodrati dari manusia untuk perjuangannya, yaitu “hidup sendiri” :

“Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap. (Surat Seorang Teman dari Amerika – Dalam Resensi Buku Catatan Seorang Demonstran oleh Arif Budiman, 1993)

Bertaruh

Illustration for GamblingTeman-teman tentu tahu arti bertaruh. Istilah kasarnya berjudi.

Kalau di film-film, berjudi diinterprestasikan dengan permainan kartu. Bertaruh dengan sekian banyak kartu-kartu untuk mendapatkan kemenangan. Kartu dikeluarkan satu persatu, mengikuti strategi dan irama permainan.

Ada tipikal penjudi/petaruh yang selalu tahu kapan harus entry – masuk, kapan harus berhenti. Walaupun kartu pamungkas belum sempat dikeluarkan, tetapi jika irama permainan tidak memberi peluang signifikan untuk menang, maka sudah sepantasnya ia berhenti.

Tetapi ada juga tipe penjudi/petaruh yang “what ‘D Hell”. Pokoknya keluarkan sampai sehabis-habisnya hingga kartu pamungkas dan seluruh dana dipertaruhkan. Dengan asumsi “siapa tahu kartu lawan sebenarnya tidak sehebat irama permainannya”.

Dan kalau saya? Lebih memilih menjadi penjudi tipe pertama. Jika memang kartu-kartu yang sudah saya buka tidak juga membuka peluang, maka “kartu AS hati” tidak perlu keluar. Permainan selesai. Kita akhiri saja dan memulai putaran taruhan baru.

Sakit

Badan sedang ga enak beberapa hari. Refreshing tidak selalu membawa kesegaran. Sampai sekarang masih terkapar limbung dan badan tertusuk-tusuk rasa pegal. Mana ini akhir bulan. Entah harus berapa butir lagi masuk ke perut ini Panadol.

Romantika Kota-Kota

City memoryAdakah di antara rekan-rekan yang merindukan sebuah kota tertentu? Saya yakin sekali pasti ada. Apalagi bagi seseorang yang doyan jalan-jalan atau memang kerjaannya membutuhkan jalan-jalan dari satu kota ke kota lainnya.

Dulu, ketika saya masih tinggal di Banda Aceh, saya sangat merindukan romantika kota Lhokseumawe, tepatnya di kampung halaman kakek saya di “Desa Kandang”. Di sana ketika masih kecil, saya sempat beberapa kali mengikuti acara keluarga. Kami, para anak-anak, menikmati kenakalan dengan naik bukit, jalan-jalan ke hutan, mandi di sungai, memasang perangkap burung puyuh dan bakar-bakar ikan serta burung puyuh. Ada juga pengalaman lainnya tidak terlupakan ketika dikejar anak babi hutan. Sebuah kejadian yang sampai sekarang tidak pernah kami ceritakan kepada orang tua-orang tua kami.

Kota-kota lain di Sumatra juga menjadi kunjungan resmi dan tidak resmi saya di masa-masa itu. Dari Padang hingga Tebing, Sumatra Utara. Semua kota tersebut memliki nuansa yang masih terngiang-ngiang di kepala, seperti tidak rela jika terlupakan sedikit saja momen-momen indah ketika berada disana.

Lalu ketika SMU di Magelang, saya merindukan kota Banda Aceh dengan segala kenangannya di masa-masa SMP. Padahal dari awal menginjak Pulau Jawa, saya sudah berniat untuk menjelajah Jawa lebih jauh lagi. Dan jadinya Pekalongan, Semarang, Yogya, Pati, Bandung menjadi persinggahan di saat-saat liburan sekolah.

Ketika kuliah di Bandung, walaupun kota ini awalnya dirindukan ketika liburan masa SMU, kesan tersebut menjadi hilang ketika kota ini mejadi tempat saya berteduh selama bertahun-tahun. Dan seperti biasa saya tidak menyia-nyiakan untuk mengarungi kota-kota Jawa Barat lainnya selama saya hidup di Bandung. Terkadang juga sesempatnya kembali ke kota-kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan Sumatra. Kesan yang muncul dalam setiap perjalanan memang luar biasa. Mengunjungi Yogyakarta dengan rasa romantis, atau kembali ke Sumatra dengan kangen yang bergelut di hati.

Setiap kota punya cerita pendek tersendiri buat saya. Ada kisah-kisahnya yang khusus dengan teman yang berbeda-beda. Bukan hanya urusan dengan wanita yang lantas berkenalan atau sejenisnya, walau itu juga kadang menghias memori, tetapi lebih pada menikmati udara, suasana, asesoris dan tata laku masyarakat nya. Sepertinya itu lebih ter”cap” di kepala saya.

Mungkin sudah jadi kodrat manusia untuk mencari kesan di dalam memori. Bagi saya sendiri menikmati perjalanan antar kota tersebut juga memiliki nuansa tersendiri. Entah itu dengan berganti-ganti bus, kereta malam, kapal laut ataupun pesawat. Momen-momen menunggu di stasiun, pelabuhan, bandara dan bahkan terminal sekalipun, apalagi di kala malam hari hingga subuh tiba adalah puncak kenikmatan tersendiri. Geliat hidup yang berbeda dari normalnya perjalanan waktu di dalam kota-kota besar dan desa-desa.

Namun uniknya sebuah kota yang menjadi tujuan romantis berlibur tersebut, justru menjadi biasa dan mengalir saja ketika saya sudah berteduh di dalamnya. Saya kangen dengan segala nuansa adem Yogya dan Magelang ketika saya berada di Bandung dulu. Tetapi saat ini ketika telah berada di Yogya, kota ini menjadi ruh tersendiri buat saya, dan saya malah merindukan nuansa Bandung yang dulu membuat saya sumpek.

Romantika antar kota, memang menjadi luar biasa buat saya. Tetapi saya malah berpikir kemudian, tidak satu kota pun akhirnya yang menjadi lebih berkesan. Terlalu subjektif, dipengaruhi waktu dan momen, bercampur gelisah di hati. Rasa yang sangat manusiawi memang. Sebuah paradoks saja dimana ketika saya kangen akan kesan sebuah kota, maka kesan itu menjadi hilang ketika saya menetap disana. Dan akhirnya malah menjadi pertanyaan buat saya, lalu apakah pantas kita meributkan kota mana yang lebih berkesan antara satu dengan yang lainnya?

Mumet, Ruwet dan Kangen

Last KissOverload lagi. Yaa, resiko jadi pekerja lepas ya begini, pas lagi kosong ceting dan blogwalking seharian. Pas lagi rame kerjaan langsung modyaar. Yang jadi bos pun begitu, pas butuh saja pada ngomong dengan bahasa baik-baik dan menyenangkan. Begitu udah waktunya duit harus turun mulai ada “eng..eng..”, atau keluar kata “sebenarnya..” (piss lah yaa buat bos-bos saya yang baca ini).

 

Ini bukan keluhan. Sekedar gambaran bahwa begitulah posisi orang-orang yang menjadi pekerja sebagai lepasan. Bermimpi punya bendera sendiri? Nabung dulu lah, sama bangun banyak link terus, itu kalimat yang berulang-ulang di seminar-seminar Entepreneurship. Tidak harus ke bank mengirim proposal kredit yang sebenarnya tingkat keyakinan “bisa ngembaliin apa ngga” saja masih dikhawatirkan. Nantilah itu, ada waktunya. Wong sekarang buat minta kredit saja susahnya minta ampyuunn dengan syarat-syarat beragam. “Saya ini belum ada NPWP wahai mbak-mbak Bank yang cantik”. Eh, lalu malah ditawari jalan belakang dengan bentuk jaminan credit dari saldo Bank saya atau memakai NPWP ibu atau keluarga lainnya? “Walah-walah, kalo pas sepi job, ga ada uang masuk, tapi situ motong-motong, terus saya makan apa ? lagian bisa diamuk massa satu keluarga saya nanti” . Jadinya, ya saya memilih sabar saja sampai waktunya tiba. “Karena saya sadar aturan dan syarat-syarat itu juga demi kebaikan kita bersama lho, Mbak..”, sambil kedip-kedip ke si Mbak yang manis.

Terus kemarin saya sempat bergundah gulana, sepi kerjaan, ditambah ada UTS di kuliahan. Dan nambah ruwet karena bentrok antara otak dan hati saya. Maaf buat postingan puisi Solitude kemarin, ngga saya jawab komentar-komentar yang bermunculan. Kan ceritanya sedang mau bergundah gulana, berlagak introvert, dan menjadi solitude wanna be (penyepi dan penyendiri). Lagian kalau kata Mbak Venus dalam komentar kemarin, “Blog aing kumaha Aing” Hahaha.. (dikutip dari blog http://joerig.wordpress.com/). 

Membuat sebuah postingan bermutu itu bukan sebuah pilihan bagi saya. Dalam kondisi tertentu, manusia juga bisa merasakan ritme hidup yang kondisinya seperti putaran roda. Terkadang suatu saat intelegensia menjadi powerfull melebihi komponen lain dalam diri kita. Dan saat itu lahirlah postingan bermutu. Namun di saat lain pula, bisa jadi emosi ini yang bergejolak, dan lahirlah lagak sastrawan yang ingin diterima.

Mungkin ke depan nya saya coba untuk partisi postingan dalam bentuk blok-blok tertentu, ada serius wanna be, ada iseng wanna be, ada pula curhat wanna be. Sebenarnya dulu sudah saya coba dalam template kapucino yang lalu-lalu. Mempartisi postingan dalam kelompok-kelompok tertentu. Posisinya juga tertentu. Ya, seperti magazine style gitu, mumpung bisa oprek-oprek WP sesuka perut gini.

Tetapi terus saya malah mikir, “ngeblog aja gaya amat, kayak mau jadiin situs CNN aja..”, makanya lalu saya kembalikan ke bentuk beginian, like other blog style-laahh. Lalu sekarang malah ingin kembali ke bentuk majalah lagi. “Dasar ga konsisten kamu, Jal. Wajar pindah-pindah kuliah!”. Lha.. kan prinsipnya ini punya saya dan suka-suka saya. Saya memang banyak maunya dan suka eksperimen macem-macem, jadi ya wajarlah. Tetapi perlu dipahami intinya, bahwa mendesain dan memilih denah rumah yang bagus adalah sebuah bentuk inspirasi sekaligus bentuk penghargaan terhadap tamu yang berkunjung. Tolong dipahami ini dalam kacamata berbeda, karena berbeda itu indah saudara-saudara.

Lho,.. postingan apa toh ini? Ya pokoknya ya itu saja, saya lagi pengen nulis. Lagian kasian feed reader dan google tidak menerima postingan saya beberapa hari, bisa ngambek dan pundung mereka. Walau bahannya campur aduk, semoga postingan ini tetap menginspirasi teman-teman semua. Karena mungkin beberapa hari saya akan di Bandung, dan pasti lupa ngeblog, ada yang lain musti diurus, plus ada yang lain musti dikangenin. Halah..halah…

 

 

NB : Cari Lapen yang bisa tahan buat oleh-oleh dimana toh? heuhuee… *Ngelirik Zam..

Solitude

Solitude

Dunia “rasa” meradang oleh peristiwa angkara pesanggrahan bubat jawa.

Dentuman “gundah” di hati Sang Maha Raja berubah “gulana” murka seketika

karena cita-cita Sang Maha Patih yang dititah akan kemerdekaan Nusantara

 

Kisah yang sama oleh Nietzsche yang gila

Dalam Zarasutra ia romantis bercerita..

dimanakah “rasa” yang bertarung dengan logika?

kemanakah intelektual menggiring cinta?

 

 

Hei manusia logika yang sombong oleh intelek..!!

Tidak cukup sekedar “OK”, okey?

Siapa Yang Salah?

Dulu, ada seorang temen cewe pernah bilang “Hati terkadang bisa mengkhianati logika”. Dan bener juga, umur manusia juga ga menjamin bisa berpikir lebih dewasa. Tadi pagi, ternyata ungkapan itu benar sekali lagi adanya.

Kenapa wanita dengan mudah bisa bilang begini “Kalo kamu sekarang nanya, would you marry me? aku akan bilang I do..!!. Jedang..!!

Ga mikir apa kalo si cowo nya masih pengangguran. Tergila-gila oleh buaian asmara?Lalu membunuh logika??

Ntar kalo mesem-mesem pas di rumahtangga karena suami ga bisa bikin dapur ngebul, baru deh menyek-menyek. Yang jadi korban si laki-laki lagi dah (halah serasa pejuang maskulinisme gue,..hahaha..)

*Sekedar posting buat ngingetin tetangga sebelah. WOI sadar WOi. Buruan cari kerja. Dasar bebek. Udah ga tahan artinya itu… huakakaka….