Warung Kapucino

Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda

Thursday, December 20, 2007

Bebas

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/icHDhsAz610" width="425" height="350" wmode="transparent" /]

 

“..On a waggon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.

How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer`s night.


Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

“Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be ?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“


Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly..”

 

Bebas, dalam interprestasi kondisi sosial masyarakat yang selalu ribut-ribut dengan kekuasaan dan posisi, sering diidentikkan dengan tidak bisa diatur, sok melawan arus, tukang nyolot dan perusuh dalam kehidupan absolut materil yang mapan.

Padahal tidak selalu demikian. Gie sendiri memilih untuk bebas menjauhkan dirinya dari bagi-bagi kue dimasa revolusi karena tidak menyukai sebuah gaya lama dalam proses kekuasaan. Siapa yang menyangkal jika Gie sendiri berperan dalam menciptakan revolusi 60-an - mengkritisi Soekarno, dan bisa jadi turut andil menciptakan opini publik tentang kegagalan Soekarno sehingga beliau turun dari kursi kekuasaan. Tetapi dibalik itu, Soekarno sendiri adalah idola favoritnya.

Gie meninggalkan segala gemerlap tawaran politik dan lebih memilih untuk menjadi sosok dengan side opinion. Berada dalam jarak dekat dengan pokok masalah bangsa, tetapi tidak di dalam sebuah sistem yang memaku cara pikir dan berkontribusi. Gie menurutkan kata hati untuk menjadi pejuang intelektual yang bebas dengan prinsipnya : “Patriotisme tidak mungkin ditumbuhkan melalui hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang baru dapat mencintai sesuatu secara sehat apabila dia mengenal dengan baik akan obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia hanya bisa ditumbuhkan dengan melihat Indonesia bersama rakyatnya dari dekat”.

Mungkin memang terlalu naif jika kita bicara bebas, kebebasan layaknya seorang Gie, apalagi bagi kita yang hidup di zaman sekarang yang serba dekat dengan materi. Kekuasaan dan politik juga terkadang menjauhkan diri untuk berpikir bebas, harus selalu setia pada TOR, aturan main dalam berpolitik, dan mungkin menjilat pantat penguasa untuk bertahan. Ukuran materi dan kemakmuran pribadi pun dengan mudah diraih jika berada dalam tataran hidup berslogan kekuasaan. Tidak perlu memikirkan akhir bulan duit dikantong sisa berapa, hidup dengan tenang dalam kursi keseharian dan tidak perlu berkeluh kesah dengan masa tua.

Semua dari kita pernah, sedang atau akan melalui masa muda yang penuh gairah kebebasan. Dulu, saya juga pernah dicekoki dipaksa disarankan oleh senior kampus, untuk masuk ke dalam himpunan mahasiswa. Sebagai makhluk polos yang baru lepas dari putih abu-abu, pandangan saya waktu itu si Himpunan Mahasiswa sendiri jauh dari sistem yang “benar”. Mereka berdialektika bahwa jika saya ingin merubah sistem yang saya lihat salah, maka masuklah ke dalamnya dan ubahlah menjadi lebih baik. Sebuah ungkapan yang mungkin saja benar. Dan apa daya seorang anak baru dalam kondisi dipaksa menurut, dengan setingan kekerasan mengharuskan menjadi pribadi tegar, akhirnya harus menurut juga.

Lalu bagaimana dengan yang tidak menjadi bagian dari slogan himpunan? Bisa ditebak, yaitu menjadi bagian dari orang-orang yang malah tidak bebas dan terhimpit oleh opini sosial sekitar. Dari itu saja, ditahun 2001, bisa saya rasakan betapa kebebasan telah menjadi barang yang absurd. Dan saya pun menikmati berada dalam sistem yang hipokrit dan semu seperti itu. Sebuah model dari organisasi pemuda zaman sekarang mungkin.

Padahal dalam membangun sebuah sistem yang mapan, tidak pernah lepas dari proses dialektis. Selalu dibutuhkan orang-orang yang justru memiliki pandangan berbeda. Kalau istilah seorang teman, “bermain peran”. Tan Malaka sendiri menghabiskan 539 halaman di Madilog hanya untuk menjelaskan pentingnya tesis dan anti-tesis dalam proses membangun sintesa peradaban yang sehat.

Saya juga percaya masih ada orang-orang yang tidak sekedar mencari aman di kursi-kursi empuk berslogan kekuasaan. Masih ada yang dengan gigih berusaha berkata benar, bebas berpendapat, walaupun kursi nya tidak akan pernah bergeser ke lantai lebih atas karena teriakannya. Seperti juga sepeda motornya tidak akan pernah diganti layaknya lagu Oemar Bakrie.

Zaman terus berubah. Fashion terus berganti, bahkan ada yang berulang. Mungkin saja idealisme layaknya Gie dan eksponen 66 lalu kembali muncul dalam tataran negeri ini. Atau mungkin model baru dalam beridealisme akan muncul menggeser pola-pola pikir lama mengenai kebebasan.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di depan. Bahkan Gie sendiri mungkin tidak bisa menebak apa yang terjadi terhadap Indonesia Raya ini setelah 38 tahun ditinggalkannya. Bisa jadi jika ia masih hidup di masa sekarang, menjadi seorang profesor sosial seperti abangnya, Arief Budiman. Mungkin juga ia menangis dalam tulisan-tulisan artikelnya di Kompas melihat anak-anak bangsa sekarang? Atau memilih salah satu kursi berslogan sebagai pemanis hari tua dengan kebanggaan sejarah aktivitas sosial kebangsaannya? Atau mungkin memilih menjadi blogger seperti saya? Ah, tidak ada yang tahu. Yang pasti seperti kutipan dalam bukunya sendiri dia menulis “

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Tapi saya lebih percaya dengan sebuah quote yang pernah saya dengar entah dari mana, “Pemberani itu adalah orang yang berani menjalani hidupnya walau serumit apa pun”.

Berani menghadapi hidup yang rumit, dengan paradigma bebas untuk memilih. Saya percaya itu sulit. Seperti pagi-pagi ini diantara takbir, saya kembali tercenung setelah Mamak saya nun jauh disana memberi kabar walau tanpa pesan tersurat, “Om xxx, teman almarhum ayah mu, menanyakan kabar kuliah mu, .. Sekarang beliau sudah menjadi yyy di Departemen zzz di sini..” Mak..Mamak…sebuah ciri khas yang selalu saya banggakan, pendek, tidak mengiba apalagi memaksa.

 

Mungkin lagu yang sedang berputar di PC ini patut saya kirimkan ke beliau, sebelum saya berangkat Sholat Ied,

“..sampaikanlah pada ibuku - aku pulang terlambat waktu - ku akan menaklukkan malam - dengan jalan pikiranku..”.

 

Tambahan :

Joan Baez adalah penyanyi favorit Gie, terutama lagunya yang di atas, “Donna Donna”. Maaf saya streaming diatas via Youtube. Jadi kasian deh loe yang Youtube nya di blok kampus huakakakak… Versi MP3 nya boleh saya share. Atau dengerin aja versi Sita RSD dalam OST. Gie. Lagu tersebut (dan lagu-lagu Joan Baez lainnya) sangat lekat dengan kondisi masa 60-an, dimana kondisi seluruh dunia, termasuk Indonesia sendiri saat itu terpolarisasi dalam politik perang dingin global. Sehingga piring hitam Joan Baez milik Gie sempat ditahan imigrasi Australia ketika dia berada disana. Joan masih terus bernyanyi hingga sekarang, dengan khas folksong-bergitar Amerika-nya, membawakan lagu-lagu bertema Human Rights. Single lainnya yang dikenal adalah “We Shall Overcome” (yang di kampus GT™ pasti tahu lagu ini).

 

Postingan ini dipersembahkan buat semua pembaca untuk mengenang kembali semangat seorang Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969). Yang dimasanya memiliki interprestasi berbeda terhadap revolusi Indonesia. Bahkan merelakan suatu kebutuhan kodrati dari manusia untuk perjuangannya, yaitu “hidup sendiri” :

“Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap. (Surat Seorang Teman dari Amerika - Dalam Resensi Buku Catatan Seorang Demonstran oleh Arif Budiman, 1993)

posted by Leksa at 5:24 am  
 

Friday, December 14, 2007

Bertaruh

Illustration for GamblingTeman-teman tentu tahu arti bertaruh. Istilah kasarnya berjudi.

Kalau di film-film, berjudi diinterprestasikan dengan permainan kartu. Bertaruh dengan sekian banyak kartu-kartu untuk mendapatkan kemenangan. Kartu dikeluarkan satu persatu, mengikuti strategi dan irama permainan.

Ada tipikal penjudi/petaruh yang selalu tahu kapan harus entry - masuk, kapan harus berhenti. Walaupun kartu pamungkas belum sempat dikeluarkan, tetapi jika irama permainan tidak memberi peluang signifikan untuk menang, maka sudah sepantasnya ia berhenti.

Tetapi ada juga tipe penjudi/petaruh yang “what ‘D Hell”. Pokoknya keluarkan sampai sehabis-habisnya hingga kartu pamungkas dan seluruh dana dipertaruhkan. Dengan asumsi “siapa tahu kartu lawan sebenarnya tidak sehebat irama permainannya”.

Dan kalau saya? Lebih memilih menjadi penjudi tipe pertama. Jika memang kartu-kartu yang sudah saya buka tidak juga membuka peluang, maka “kartu AS hati” tidak perlu keluar. Permainan selesai. Kita akhiri saja dan memulai putaran taruhan baru.

posted by Leksa at 9:03 pm  
 

Wednesday, November 28, 2007

Sakit

Badan sedang ga enak beberapa hari. Refreshing tidak selalu membawa kesegaran. Sampai sekarang masih terkapar limbung dan badan tertusuk-tusuk rasa pegal. Mana ini akhir bulan. Entah harus berapa butir lagi masuk ke perut ini Panadol.

posted by Leksa at 11:59 pm  
 

Wednesday, November 28, 2007

Romantika Kota-Kota

City memoryAdakah di antara rekan-rekan yang merindukan sebuah kota tertentu? Saya yakin sekali pasti ada. Apalagi bagi seseorang yang doyan jalan-jalan atau memang kerjaannya membutuhkan jalan-jalan dari satu kota ke kota lainnya.

Dulu, ketika saya masih tinggal di Banda Aceh, saya sangat merindukan romantika kota Lhokseumawe, tepatnya di kampung halaman kakek saya di “Desa Kandang”. Di sana ketika masih kecil, saya sempat beberapa kali mengikuti acara keluarga. Kami, para anak-anak, menikmati kenakalan dengan naik bukit, jalan-jalan ke hutan, mandi di sungai, memasang perangkap burung puyuh dan bakar-bakar ikan serta burung puyuh. Ada juga pengalaman lainnya tidak terlupakan ketika dikejar anak babi hutan. Sebuah kejadian yang sampai sekarang tidak pernah kami ceritakan kepada orang tua-orang tua kami.

Kota-kota lain di Sumatra juga menjadi kunjungan resmi dan tidak resmi saya di masa-masa itu. Dari Padang hingga Tebing, Sumatra Utara. Semua kota tersebut memliki nuansa yang masih terngiang-ngiang di kepala, seperti tidak rela jika terlupakan sedikit saja momen-momen indah ketika berada disana.

Lalu ketika SMU di Magelang, saya merindukan kota Banda Aceh dengan segala kenangannya di masa-masa SMP. Padahal dari awal menginjak Pulau Jawa, saya sudah berniat untuk menjelajah Jawa lebih jauh lagi. Dan jadinya Pekalongan, Semarang, Yogya, Pati, Bandung menjadi persinggahan di saat-saat liburan sekolah.

Ketika kuliah di Bandung, walaupun kota ini awalnya dirindukan ketika liburan masa SMU, kesan tersebut menjadi hilang ketika kota ini mejadi tempat saya berteduh selama bertahun-tahun. Dan seperti biasa saya tidak menyia-nyiakan untuk mengarungi kota-kota Jawa Barat lainnya selama saya hidup di Bandung. Terkadang juga sesempatnya kembali ke kota-kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan Sumatra. Kesan yang muncul dalam setiap perjalanan memang luar biasa. Mengunjungi Yogyakarta dengan rasa romantis, atau kembali ke Sumatra dengan kangen yang bergelut di hati.

Setiap kota punya cerita pendek tersendiri buat saya. Ada kisah-kisahnya yang khusus dengan teman yang berbeda-beda. Bukan hanya urusan dengan wanita yang lantas berkenalan atau sejenisnya, walau itu juga kadang menghias memori, tetapi lebih pada menikmati udara, suasana, asesoris dan tata laku masyarakat nya. Sepertinya itu lebih ter”cap” di kepala saya.

Mungkin sudah jadi kodrat manusia untuk mencari kesan di dalam memori. Bagi saya sendiri menikmati perjalanan antar kota tersebut juga memiliki nuansa tersendiri. Entah itu dengan berganti-ganti bus, kereta malam, kapal laut ataupun pesawat. Momen-momen menunggu di stasiun, pelabuhan, bandara dan bahkan terminal sekalipun, apalagi di kala malam hari hingga subuh tiba adalah puncak kenikmatan tersendiri. Geliat hidup yang berbeda dari normalnya perjalanan waktu di dalam kota-kota besar dan desa-desa.

Namun uniknya sebuah kota yang menjadi tujuan romantis berlibur tersebut, justru menjadi biasa dan mengalir saja ketika saya sudah berteduh di dalamnya. Saya kangen dengan segala nuansa adem Yogya dan Magelang ketika saya berada di Bandung dulu. Tetapi saat ini ketika telah berada di Yogya, kota ini menjadi ruh tersendiri buat saya, dan saya malah merindukan nuansa Bandung yang dulu membuat saya sumpek.

Romantika antar kota, memang menjadi luar biasa buat saya. Tetapi saya malah berpikir kemudian, tidak satu kota pun akhirnya yang menjadi lebih berkesan. Terlalu subjektif, dipengaruhi waktu dan momen, bercampur gelisah di hati. Rasa yang sangat manusiawi memang. Sebuah paradoks saja dimana ketika saya kangen akan kesan sebuah kota, maka kesan itu menjadi hilang ketika saya menetap disana. Dan akhirnya malah menjadi pertanyaan buat saya, lalu apakah pantas kita meributkan kota mana yang lebih berkesan antara satu dengan yang lainnya?

posted by Leksa at 8:58 am  
 

Wednesday, November 21, 2007

Mumet, Ruwet dan Kangen

Last KissOverload lagi. Yaa, resiko jadi pekerja lepas ya begini, pas lagi kosong ceting dan blogwalking seharian. Pas lagi rame kerjaan langsung modyaar. Yang jadi bos pun begitu, pas butuh saja pada ngomong dengan bahasa baik-baik dan menyenangkan. Begitu udah waktunya duit harus turun mulai ada “eng..eng..”, atau keluar kata “sebenarnya..” (piss lah yaa buat bos-bos saya yang baca ini).

 

Ini bukan keluhan. Sekedar gambaran bahwa begitulah posisi orang-orang yang menjadi pekerja sebagai lepasan. Bermimpi punya bendera sendiri? Nabung dulu lah, sama bangun banyak link terus, itu kalimat yang berulang-ulang di seminar-seminar Entepreneurship. Tidak harus ke bank mengirim proposal kredit yang sebenarnya tingkat keyakinan “bisa ngembaliin apa ngga” saja masih dikhawatirkan. Nantilah itu, ada waktunya. Wong sekarang buat minta kredit saja susahnya minta ampyuunn dengan syarat-syarat beragam. “Saya ini belum ada NPWP wahai mbak-mbak Bank yang cantik”. Eh, lalu malah ditawari jalan belakang dengan bentuk jaminan credit dari saldo Bank saya atau memakai NPWP ibu atau keluarga lainnya? “Walah-walah, kalo pas sepi job, ga ada uang masuk, tapi situ motong-motong, terus saya makan apa ? lagian bisa diamuk massa satu keluarga saya nanti” . Jadinya, ya saya memilih sabar saja sampai waktunya tiba. “Karena saya sadar aturan dan syarat-syarat itu juga demi kebaikan kita bersama lho, Mbak..”, sambil kedip-kedip ke si Mbak yang manis.

Terus kemarin saya sempat bergundah gulana, sepi kerjaan, ditambah ada UTS di kuliahan. Dan nambah ruwet karena bentrok antara otak dan hati saya. Maaf buat postingan puisi Solitude kemarin, ngga saya jawab komentar-komentar yang bermunculan. Kan ceritanya sedang mau bergundah gulana, berlagak introvert, dan menjadi solitude wanna be (penyepi dan penyendiri). Lagian kalau kata Mbak Venus dalam komentar kemarin, “Blog aing kumaha Aing” Hahaha.. (dikutip dari blog http://joerig.wordpress.com/). 

Membuat sebuah postingan bermutu itu bukan sebuah pilihan bagi saya. Dalam kondisi tertentu, manusia juga bisa merasakan ritme hidup yang kondisinya seperti putaran roda. Terkadang suatu saat intelegensia menjadi powerfull melebihi komponen lain dalam diri kita. Dan saat itu lahirlah postingan bermutu. Namun di saat lain pula, bisa jadi emosi ini yang bergejolak, dan lahirlah lagak sastrawan yang ingin diterima.

Mungkin ke depan nya saya coba untuk partisi postingan dalam bentuk blok-blok tertentu, ada serius wanna be, ada iseng wanna be, ada pula curhat wanna be. Sebenarnya dulu sudah saya coba dalam template kapucino yang lalu-lalu. Mempartisi postingan dalam kelompok-kelompok tertentu. Posisinya juga tertentu. Ya, seperti magazine style gitu, mumpung bisa oprek-oprek WP sesuka perut gini.

Tetapi terus saya malah mikir, “ngeblog aja gaya amat, kayak mau jadiin situs CNN aja..”, makanya lalu saya kembalikan ke bentuk beginian, like other blog style-laahh. Lalu sekarang malah ingin kembali ke bentuk majalah lagi. “Dasar ga konsisten kamu, Jal. Wajar pindah-pindah kuliah!”. Lha.. kan prinsipnya ini punya saya dan suka-suka saya. Saya memang banyak maunya dan suka eksperimen macem-macem, jadi ya wajarlah. Tetapi perlu dipahami intinya, bahwa mendesain dan memilih denah rumah yang bagus adalah sebuah bentuk inspirasi sekaligus bentuk penghargaan terhadap tamu yang berkunjung. Tolong dipahami ini dalam kacamata berbeda, karena berbeda itu indah saudara-saudara.

Lho,.. postingan apa toh ini? Ya pokoknya ya itu saja, saya lagi pengen nulis. Lagian kasian feed reader dan google tidak menerima postingan saya beberapa hari, bisa ngambek dan pundung mereka. Walau bahannya campur aduk, semoga postingan ini tetap menginspirasi teman-teman semua. Karena mungkin beberapa hari saya akan di Bandung, dan pasti lupa ngeblog, ada yang lain musti diurus, plus ada yang lain musti dikangenin. Halah..halah…

 

 

NB : Cari Lapen yang bisa tahan buat oleh-oleh dimana toh? heuhuee… *Ngelirik Zam..

posted by Leksa at 11:49 pm  
 
« Previous PageNext Page »

Back to Mini Black Theme by Leksa (just for a while, babe)
Powered by WordPress and a cup of Cappucino Float