Hari Ke-2,.. Dan Gue Cukup Senang Hari Ini…

Walau gue sempat agak frustasi kemarin, tetapi hari ini ada sedikit angin segar.

Pagi-pagi, seperti biasa gue bareng temen alumni SMU yang kebetulan di kampus ini kuliahnya, nongkrong2 bentar. Sambil coba mendiskusikan cara2 alternatif dalam urusan transfer kuliah gue. Selain itu kita juga ngobrol2 ringan tentang SMU dan alumni2 lainnya.

Dan rencana hari ini untuk force ke TU jurusan agar dapat bertemu otoritas selain Pak Kajur yang keluar kota (ternyata ada janjian di Pongkor..Hello ITB,..), gue berencana mau ke SekJur. Tetapi rencana batal, dan feeling gue bilang, gue harus ketemu seseorang yang gue kenal di kampus ini terlebih dahulu. Dia seorang yang biasa, lulusan kampus ini yang kebetulan lulus sebagai mahasiswa abadi, dan bekerja sebagai pegawai di kampus ini. Si Mas ini bukan panitia PMB, tetapi paling ngga beliau kenal dengan keluarga besar kampus ini – dan semoga bisa dibawa ke otoritas lainnya di kampus ini dalam rangka urusan gue. Kenapa gue berpikir demikian? Gue melihat kampus ini punya style kekeluargaan yang akrab, kampus kecil tapi dengan totokromo Yogya-nya ini sepertinya sampai pegawai warnet kampus pun bisa bercanda bersama seorang dosen senior atau bos-nya.

Ya sudah, gue maen ke si Mas. Obrolan ringan, dan memang beliau tahu urusan gue di sini adalah untuk apa, karena kita udah kontak2 sebelumnya. Seharusnya ketemu senin, tetapi karena kebetulan beliau sedang terkena musibah hari Minggu lalu, sang istri tercinta keguguran kandungannya. Pasangan muda yang resmi Maret 2007 lalu ini masih kondisi berduka, dan gue sendiri sebenarnya jadi ga enak untuk merepotkan beliau. Tetapi beliau sendiri yang sangat bersemangat membantu, jadinya gue ikut aja.

Dia berusaha menghubungkan gue dengan pejabat rektorat bagian akademik. Sepanjang perjalanan sampai ke ruang-ruang kantor rektor, tegur sapa dan prolog2 ringan keluar dari si Mas dan pegawai2 disini, begitu juga dengan mahasiswa yang berseliweran. Sepertinya kok jadi budaya tersendiri untuk saling bertegur sapa walo sekedar bertanya apa kabar hari ini.

Sayangnya kita ga bertemu dengan orang yang dimaksud, karena berhubung sedang rapat. Ya sudah, kita kembali ke tempat si Mas, bersebelahan dengan ruang PMB. Dan dari hasil obrolan2 kita berencana untuk malamnya tembak langsung ke salah seorang dosen senior di sini, mantan Kajur dan juga lulusan pertama Pertambangan kampus ini. Kebetulan si Mas kenal dengan anak beliau dan juga kenal dengan si Bapak Dosen.

Malamnya..Lebih tepat setelah Maghrib…

Sambil menikmati bulan purnama yang indah di Jogja, gue nugguin si Mas yang janji jemput. Walau berada di kota, di jalan Kaliurang, tetep aja Bulan Purnama di sini terlihat bulat jelas dan terang benderang. Proyeksi ke mata gue hingga berukuran 2 cm. Sehingga pas gerhana INDAAAH BANGEETT… Orang2 yang jalan kaki dan dipinggir jalan juga banyak yang terkesima, takbir begema di seluruh pelosok mesjid. Momen yang paling bagus adalah ketika Bulan tertutup penuh dengan hanya sedikit cahaya di bagian bawah, seperti sebuah cincin permata (Gue bakal post gambarnya disini nanti..) . Entah kenapa kok ada perasaan beda yang muncul saat itu, seperti merasa ada momen baik yang datang, sekaligus tiba2 teringat seseorang yang cocok dideskripsikan dengan visual gerhana bulan cincin ini. Haha.. melow deehh… Biar lah ga papa… Ga selamanya yang indah itu harus di miliki, terkadang memang sesuatu yang sangat indah itu hanya sekedar untuk dinikmati keindahannya.

Dan gue dijemput juga. Dengan motor kita menuju rumah dosen yang dituju. Agak jauh kalo dalam perkiraan gue. Ohya, gue sampai harus nyari pinjeman helm dulu ke tetangga kost temen gue.. hehehe.. bener2 gue adalah orang yang merepotkan orang lain..huks..

Sesampai di rumah dosen tersebut, si Bapak Dosen ternyata sedang bareng 3 mahasiswa pertambangannya. Awalnya gue pikir mereka adalah mahasiswa yang sedang bimbingan TA. Rupanya bukan. Mereka sedang mendiskusikan kerjaan mereka dengan si Bapak Dosen, proyekan-lah istilah umumnya. Heuhheu…

Ternyata si Bapak Dosen cukup ramah. Dan diluar dugaan, si Mas rupanya kenal dekat dengan beliau.. Ya mungkin karena anaknya temen main dan kerja si Mas. Saat itu gue dapat membayangkan hubungan pertemanan yang bagaimana antara si Mas dan anaknya si bapak. First impression sih,.. tapi ya gue ga pernah menjatuhkan penilaian pada pandangan pertama terhadap seseorang yang gue kenal. Umur beliau cukup tua, malah mungkin seumuran dengan seorang mantan guru besar pertambangan ITB yang gue kenal.

Karena situasi yang sedang tidak nyaman karena mereka sedang bekerja, terpaksa Si Mas dan saya tidak bisa lama2 berbasa-basi. Dengan ijin, “Pak, karena sepertinya bapak sedang sibuk, langsung aja pada tujuan kami kesini ya, Pak” obrolan rencana transfer kita paparkan. Di luar perkiraan, si Bapak seperti sudah tahu gue bakal dateng, dengan sigap dan senyum ramah menjawab apa2 saja langkah yang harus gue tempuh. Lalu beliau mengambil HP dan langsung mengambil keputusan untuk meng-sms SekJur, dan meminta-kan izin agar gue bisa bertemu besok pagi. What’s the healing story today for me…!! Alhamdulillaahh…

Y ahh… setelah obrolan basa basi tentang yang sedang beliau kerjakan saat ini, akhirnya kita pamit. Malam di jogja masih ramai, walau kita melewati Ring Road Utara. Udaranya terasa nyaman seperti hati gue saat ini.

Dan tantangan selanjutnya adalah bagaimana esok? Apakah sama lancarnya dengan hari ini?

Time is countdown…

..

Semoga pertolongan bebagai energi positif sang Gerhana masih tersisa esok pagi…

Hari Pertama di Yogya

Ga ada yang penting. Malah rencana mengurus / menghadap ke KaJur calon kampus yang baru  jadi tertunda, berhubung si Bapak keluar kota. Ah.. makin kritis aja semuanya. Besok mau coba dengan cara lain. Tapi paling tidak bersyukur, karena sekarang surat2 di bandung beres diurus ama Mas Wira bahkan Plus2 dengan rekomendasi (gilaa… salut buat si Mas..)

Hmmff.. alternatif lain dengan cara normal, mengikuti test Penerimaan Mahasiswa Baru. Dan memproses konversi SKS dari kampus lama ke kampus baru di hari2 berikutnya…

Tetapi semua bisa jadi blunder, karena KRS disini di verified tanggal 3 September!! Dan bisa jadi masalah lanjutan, karena urusan “duit” bisa membengkak diluar perkiraan akibat waktu mepet ini. Hmmfff…. memang waktu yang mepet tidak menyenangkan…

..

….

Atau gue harus menunggu setahun dulu???

Suka Dengan Momen Kritis??

Iya nih.. kalo bicara tentang kritis, mungkin ada 3 makna.. ( inilah jeleknya Bahasa Indonesia..). Pertama adalah kritis dalam arti “memiliki sifat kritik, mengemukakan opini berlawanan atau doyan protes”. Selain itu, ada juga arti kritis untuk “waktu yang sudah mepet, hampir selesai masa/waktunya” . Dan yang ke-3 adalah dalam arti “saat-saat yang berbahaya, dalam ancaman bahaya”… Ya..ya.. gue tahu gue asal dalam mendefinisikan arti kritis itu, tapi yaaa begitulah kira-kira artinya..

Continue reading

Antara Vodka, Nasionalisme dan Cinta

Apa yang unik malam ini?

Tidak ada! Gue cuman berteman sekelompok “tua-tua”, kaum tua yang akan berangkat menuju medan pertempuran masing-masing nantinya. Ada yang akan studi lanjutan keluar negeri, ada yang mau bekerja di perusahaan asing, dan bahkan ada yang mau DO melanjutkan Tugas Akhirnya di kampus lain.

Unik memang… Tapi itulah hidup. Semua ada umur dan batasnya. Kuliah dengan ospek bersama diawal-awal juga akan dipisahkan oleh pekerjaan atau profesi di masa depan. Bahkan sepasang saling mencinta pun akan terpisah jika waktunya Sang Maha Kuasa menarik nyawa dari badan yang lemah ini. Yah,. itulah hidup teman.

Dan malam ini, setelah Vodka bersanding dengan oplosan Pepsi, atau VSOP dengan Coca Cola, hidup terasa ringan, sedih bercampur nostalgia. Dan anak-anak muda hanya tertawa menyaksikan kebodohan sang tua yang ego dan sentris akan dunia silam yang gemerlap. Memang tidak terlalu gemerlap. Nostalgia gue dan teman2 gue di masa silam tidak jauh-jauh dari banting tulang, menghidupi hari2 bertahan di Kampus megah ini. Ada yang tertawa mengingat kebodohannya menyeruak dengan gahar di kerumunan mahasiswa baru ketika ospek, atau sekedar jualan Pop Ice di kaki lima, ada juga yang menjadi bandar dari kupu-kupu indah malam hari, dan ada juga yang tertawa mengingat nostalgianya mengurusi “grasroot” yang peta saja tidak tahu utara-selatan.

Hidup adalah hidup. Semua ada umurnya. Ketika nostalgia disandingkan dengan kebanggan atas hidup lama yang indah dan “katanya” ala pahlawan, ternyata diakhir kata penghujung jalan, kita hanya menyadari bahwa kita hanya makhluk lemah.. Sangat lemah malah.. Tidak ada itu baju kebanggan bersanding dalam mimpi2 kita. Tidak ada itu rasa puas dalam setiap darah keringat untuk bangsa ini. Terlalu kecil, teman. Sangat kecil. Yang ada hanya pertanyaan dan pertanyaan kembali terlontar. Apa dan mau apa setelah ini? Perjuanganku selesaikah? atau aku harus lari kehutan lalu ke pantai? dan bertapa menunggu moksa? ..Ahh…. hidup cuman sebentar kawan. Segelas vodka juga tidak cukup membawa semua baju kebanggan akan menjadi dinasti kepuasan.

Dan malam ini, ditengah kepala yang limbung, dan diskusi berat seputar wacana-wacana kebangsaan, aku berkilas balik, membuka untaian kata2 lama yang kukumpulkan. Dan menemukan seberkas buku tua yang aku beli dari kota lama. Sebuah “tembang” Jawa, sebuah Langgem dari negeri Sunan, tapi bukan doktrin tua untuk menyembah Tuhan Pencipta. Hanya sebuah lembar tua tentang kesederhanaan layaknya lembar-lembar tua ini. Sangat sederhana….

Aku kembali ke meja diskusi, membawa lembar ini tapi tidak untuk dipamerkan isinya. Namun, limbungnya kepala ini membuat aku berkoar sendiri dan berucap ditengah gelak tawa romantisme tua. “Wahai kawan, sesederhana apa kita melihat hidup kita, diri kita dan pribadi kita? Tidaklah hebat secuil pun dari kita untuk bercinta dengan sang roman. Tidaklah pantas berkoar dengan bangga akan semua bakti keringat dan darah untuk rakyat selama kita darah kita masih basah..

Perjuangan belum selesai, tidak ada waktu berpuas diri,.. tidak ada waktu menghela napas yang masih berbau alkohol ini…

Kita hanya manusia, kita berdaging, berdarah dan berkeringat, dan hanya Pemilik Alam yang berhak menentukan, siapa sang juara…

Tetapi tidak ada yang tahu apakah itu saya, kamu atau mereka…

*Dalam kelimbungan pikiran dan air mata, serta rasa jatuh cinta yang lama telah hilang, namun muncul lagi. Semoga rasa cinta ini segera pergi dan aku meraih hidup dalam bahagia umpama kumbang tanpa bunga.. Dan kata teman-ku,..” tidak semua kumbang membutuhkan bunga, kau harus sadar itu”..

Dan aku harus bisa tanpa sesosok bunga… Waktunya berikrar…

“Selamat tinggal cinta dan segala atributnya…..”

Kesaksian Sederhana

Kesaksianku tentang dunia hanya bisa sederhana

Karena jenis dan standart kebahagianku juga biasa-biasa saja

Kaki hidupku tidak meloncat menggapai langit

Tak ada yang kukejar sampai lari terbirit-birit

Tanganku tidak mengacungkan tinju ke angkasa

Sebab tak ada satu unsur apapun dalam kehidupan ini yang membuatku kagum dan terpana

Kekuatanku tidak akan menyentuh siapa-siapa

Karena aku tidak tertarik pada kemenangan atas manusia

Kubelanjakan tenagaku hanya sedikit saja

Sebab atas segala yang lemah, hatiku tidak berdaya

Kalaupun pikiranku mengembara sampai ke ruang hampa

Hatiku sudah lama selesai dan tak meminta apa-apa

Tak ada sekilasanpun padaku mimpi menaklukkan dunia

Sebab dunia sangat murah harganya dan hanya beberapa tetes keringat dari badanku yang kurelakan untuknya

Tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diri

Karena jenis kelemahanku adalah kebiasaan untuk mentertawakan diriku sendiri

Jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungku

Volume kepalaku tidak membesar dan hatiku tetap bisa mengantuk

Jika mereka menemukan kebenaran sehingga bisa menghinaku

Helai-helai buluku tidak berdiri bahkan kantukku bertambah lelap

Kebesaran dan kegagahan amat sangat aku remehkan

Dan tak akan pernah kukenakan sebagai pakaian

Apabila dunia menyangka aku mencintainya dan ingin mengawininya

Tentu karena ia tak tahu aku sudah mentalaknya sebelum pernah mencintainya

Barang siapa kegagahannya mendatangiku dan menggertak

Kusihir ia jadi katak

Dari kumpulan puisi Runtuh – Kiai Kanjeng

Sebuah Kisah Tentang UN 2007

Gue memilih memposting ulang cerita ini. Walau gue udah jarang sekali terlibat dengan si penulis, tapi ketika beliau mengirim cerita ini, perasaan serasa diaduk-aduk. Kepada ibu guru Puti , saya minta ijin untuk memposting cerita ini.

30 Juni 2007

Sabtu lalu, tepatnya tanggal 23 Juni 2007, saya tersenyum sendiri sambil menyusuri tembok bermural yang berada di Jalan Siliwangi, Bandung. Saya baru mendapatkan sms dari seorang anak SMP yang sering belajar Matematika bersama saya semenjak ia kelas 1 SMP. Isinya, “Kak, ini Anis, Alhamdulillah Anis udah lulus UN, Anis mau makasih sama bantuan Kakak selama ini.”

Sms singkat yang bisa menyejukan hati saya, tapi saya sama sekali tidak menduga apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian tepatnya Selasa, 19 Juni 2007 yang lalu.

Pagi-pagi sekitar jam 8 pagi, 2 orang murid saya ( saya adalah guru Fisika di sebuah Madrasah) mendatangi tempat tinggal saya, mengabarkan bahwa 8 dari 10 murid saya tidak lulus Ujian Nasional. Alangkah kagetnya saya, dalam 4 tahun saya mengajar, baru kali ini ada murid saya yang dinyatakan tidak lulus.

Continue reading

9 Episode Serial Jepang, Ternyata Bagus Juga

Dalam semalam, gue ngehabisin 9 Episode film Dorama Jepang. Gelo.. Serasa 3,5 tahun lalu, ketika gue menamatkan Meteor Garden. Hahaha… Tapi memang ni film bagus kok. Awalnya karena iseng, Internet mati, dan cuma bisa lokal se-Sunken Court doang. Gue akhirnya menjelajah di folder share Komputer di sunken. Dan biasa,..KMPA lagi dan lagi membuka bebas folder mereka. Sori Rime, bukan maksud, tapi seperti kata bang Napi, “Kejahatan bisa timbul karena ada kesempatan..”. So, gue menjelajah. Dan memang anak2 KMPA ini sukanya nyedot film dari Rileks, dan kebiasaan gw, sebelum gue nyedot film di Rileks, gue mampir dulu di folder2 KMPA, mana tahu udah download duluan. Lumayan hemat waktu, waktu akses dan terutama Bandwith.

Continue reading

3 Hari

It’s been so long
Since I’ve known right from wrong
Got no job, sometimes I just sit down and sob
Wondering if anything will go right
Or will you dance with me tonight

Sudah lebih 6 bulan. Cuma melurusi apa yang ada dalam pikiran-pikiran gue. Ada rasa kalah, dan ada rasa menang. Tidak bergerak dan tidak berputar, namun serasa dunia berada dalam manuver spiral yang entah dimana ujung pangkal-nya. Jika ada hukum fisika yang bisa menerangkan apa yang gue alami, mungkin Stephen Hawking juga tidak akan duduk dikursi roda-nya.

Continue reading

Bulan Mei adalah Bulan Penting? Meibi yes,..Meibi No!

Entah kenapa gue merasa bulan Mei menjadi bulan yang penting, mendadak terkenal dalam benak gue. Sepertinya bakal ada hal-hal menarik di bulan Mei ini bagi gue. Itu sudah gue rasakan dari pertengahan April lalu.

Mungkin karena bulan Mei adalah bulan akhir dari masa kuliah. Bisa juga karena di bulan Mei memiliki agenda-agenda yang dinanti-nanti banyak pihak. Dari Semmifinal Liga Champion, hingga rencana reshuffle Kabinet SBY. Seolah-olah orang-orang dibuat penasaran akan banyak hal di bulan ini. Dan kemudian bertanya “kira-kira bagaimana yaa?” , seperti teman gue menanyakan mungkin ga ya Manchester United akan Treble di musim ini. Dan gue sih ngejawab ringan, “Meibi Yes, Meibi No!” :D

Continue reading