Blogactionday – Menuju Kesejahteraan Rakyat Yang Berwawasan Lingkungan

 

Hari ini kan hari Blogactionday – seperti disepakati bersama dan gue udah submit – janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang menulis suatu isu pada hari dan waktu yang sama? Apa pengaruhnya?
Okey, kita kembali kepada penguasa Internet dunia, Mbah Google . Kemampuan crawler Google yang mengelilingi semua situs di Internet dan menangkap isi nya adalah senjata ampuh dalam mengangkat sebuah informasi menjadi terbaca oleh semua orang di lapisan dunia. Bukan tidak mungkin jika separoh orang di dunia menulis sebuah propaganda mengenai Tuhan itu apa, maka ketika saya dengan polosnya bertanya dan mencari “kebenaran” lewat si Mbah, maka dia akan menjawab sesuai dengan propaganda tersebut. Saya menggunakan istilah propaganda, karena berarti itu adalah informasi yang memang sengaja dikeluarkan dalam rangka melawan (meng-counter) informasi resmi yang diketahui khalayak ramai pada umumnya.

 

Itu baru jika sebuah informasi yang update dan berjumlah banyak. Belum lagi jika di tambah technical SEO yang bagus. Bayangkan jika sebuah situs yang memiliki Traffic Rank (Pagerank) 7 ke-atas atau Alexa top 50 memberikan sebuah informasi yang bohong, dan sebenarnya tidak ada. Atau pembelokan sejarah yang masih ambigu misalnya. Yaaa… memang Internet dan Informasi di dalamnya sangat susah dikalibrasi ternyata, People common Room dan semua memberi informasi versi masing-masing.

 

Jika Pertanyaan saya lanjutkan, tolong tanyakan kepada “penyampai kebenaran” siapakah Tuhan? Maka jawabnya apa? hehehe… :lol:
—————————————————————————————

 

Okey, kembali pada Blogactionday. Pertama sekali saya bingung, kenapa harus membahas lingkungan hidup, seperti misal Rime mengangkat cerita tentang kemasan minuman, dan air minum komersial. Itu memang sebuah isu lingkungan.

 

Kalau saya sendiri dengan latar belakang Ilmu di Pertambangan, mau mengangkat isu tentang pengrusakan hutan, pembabatan bukit dan gunung, atau penurunan muka air tanah hingga isu limbah tailing, tentunya itu adalah isu yang umum sekali. Bahkan isu tersebut malah terlihat aneh karena nanti saya bisa berkacamata dari versi analisis dampak lingkungan konsultan penambangan. Semua pertambangan besar itu memiliki data analisis faktual dan sangat saintis sekali untuk diangkat ke pengadilan jika anda atau bahkan Greenpeace sekalipun mencoba menuntut. WALAU saya tidak tahu data tersebut dengan cara kotor atau bersih dalam memperolehnya – saya bukan polisi yang menyidik, atau BPK/KPK yang ngurus begituan. Karena urusan begini ga jauh dari politik-bisnis-politik.

 

Foto dari Walhi-yogya.or.id :Yogya di Hari Bumi 2007

 

Memang berbicara kebutuhan hidup manusia, baik personal, kelompok bahkan kebutuhan bersama, tidak akan terlepas dari urusan politik. Apakah masalah lingkungan juga menjadi kebutuhan bersama, kelompok, atau personal? Tentu kita menjawab menjadi kebutuhan bersama. Bersama siapa tapinya?

 

Coba kita lihat sang Al Gore – Peraih Nobel Perdamaian tahun ini. Karena kegiatannya yang sangat progressive dalam menyuarakan Pemanasan Global, ia berkesempatan memperoleh nobel perdamaian. Mungkin bisa jadi ada penilaian tersendiri terhadap posisinya yang anti Perang – Irak, tetapi tekanan pemilihan nobel ini sendiri justru pada gerakannya dalam Global Warming Issue. Komite Nobel Perdamaian sendiri sempat ribut-ribut untuk lebih strict – ketat dalam menentukan peraih nobel perdamaian tahun ini. Tahun lalu dengan terpilihnya M. Yunus dengan ide kredit mikro-nya tersebut, komite nobel sempat cekcok dengan pemerhati perdamaian dunia lainnya lantaran dinilai tidak memilih orang yang terkait erat dengan masalah perdamaian dunia. Namun tahun ini kembali terpilih tokoh yang paling kontroversial dalam percaturan dunia. Dan dialah Al Gore.

 

 

Seberapa besar permasalahan pemanasan global terkait dengan perdamaian dunia? Dari sudut pandang saya pribadi memang tidak terlihat kaitan langsung. Wong, beberapa fakta ilmiah dalam film Inconvinient Truth saja masih didebat oleh beberapa mahkamah konstitusi dan ilmuwan . Tetapi secara tidak langsung memang ada keterkaitan. Bagaimana situasi di Afrika dalam masalah sumber daya alam hayati bisa menyebabkan perang saudara, namun ini juga masih dipertanyakan apakah ada keterkaitan khusus dengan Global Warming. Dalam opini saya sendiri, justru dari sini bisa dilihat. Jika Afrika saja bisa berperang saudara karena urusan ketersediaan sumber air – terbayang tidak jika Indonesia berperang dengan Malaysia karena masalah Asap, hewan langka dan Limbah Minyak??

 

Dan isu menarik tentang pengangkatan Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian seperti menjadi tamparan di muka bagi kaum politisi sendiri (semoga). Karena kita tahu bagaimana Al Gore sendiri tetap berada dalam jalur pemilihan Presiden di USA 2008. Dalam wawancara dengan Times memang Gore tidak menyatakan langsung ia akan mengejar kursi presiden. Namun, pernyataannya “fallen out of love with politics,” dan “convinced the presidency is the highest and best role I could play” yang menancapkan opini posistif bahwa ia akan berjuang ke arah sana. Apakah posisinya sebagai peraih nobel perdamaian ini akan menjadi “boosting” tersendiri untuk melancarkan jalannya ke kursi presiden? Jelas berpengaruh. Thats again the politics play based on the enviromental issue…

 

Bagaimana dengan indonesia sendiri? Apakah isu lingkungan selalu dikadali oleh para politisi kita? Mungkin tidak selalu – tapi ada, dari isu naiknya kepala desa karena kampanye kebun bersamanya, hingga Gubernur yang menjanjikan perlindungan Hutan (dan notabene malah berakhir pada pembalakan oleh HPH pilihannya). Belum lagi jika kita flashback pada masa Suharto dan kroni-kroninya bagaimana urusan pengawasan lingkungan PMA (Penanam Modal Asing – terutama sektor Pertambangan/Migas) masih bisa diatur dalam kerangka “kekeluargaan”.

 

Tapi paling menarik adalah rencana terbaru Indonesia yang kian mengikut arus oleh kepentingan Global. Protokol Kyoto jelas bisa dipastikan gagal mengingat Amerika sudah pasti menolak pembatasan emisi gas buang. Dan kini para penguasa kepentingan global dunia mulai mengatur kepada sebuah strategi baru – Road Map baru, yang dengan kerennya dinamakan “A Bali Road Map After Kyoto”. Ya, tepat sekali. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan ini pada tanggal 4 – 17 Desember 2007.

 

Bukan berarti tidak bangga dengan predikat tersebut. Kalau kata Nagabonar “Cem mana pulak tidak bangga kau ini”. Tetapi kita masih bisa ingat bagaimana negara ketiga seperti Indonesia selalu menjadi kambing hitam dari kepentingan global.

 

Memang negara kita adalah salah satu negara yang sangat dihormati dalam kerangka menjaga iklim global. Istilah zaman saya SD dulu adalah “paru-paru dunia”. Entah istilah itu masih ada apa tidak, saya tidak tahu. Mengingat menggilanya pembukaan lahan Sumatra dan Kalimantan untuk perumahan, industri dan pertambangan. Belum lagi kebakaran hutan yang asapnya memperpanas hubungan kita dengan Malaysia berlanjut klaim-klaiman Batik, Lagu Daerah (dan mungkin pacar saya juga diklaim nantinya, hahaha..).

 

Dikadali negeri Barat dan kroninya, saya menggunakan istilah itu. Karena isu lingkungan telah menjadi kebutuhan dunia global. Tetapi uniknya dengan mengatasnamakan kepentingan global inilah kemudian muncul LSM dan NGO yang “awalnya” terlihat seperti pemerhati. Menawarkan berbagai solusi-solusi alternatif untuk keselamatan bersama. Saya masih ingat dengan istilah eco-labelling dimana ini adalah semacam program sertifikasi standar bagi produk eksport bahwa dalam proses produksinya tidak merusak lingkungan. Perusahaan produk eksport tersebut harus membayar sekian duit untuk memperoleh sertifikasi tersebut, dengan kata lain ada badan kompeten di dunia global yang menilai standard ini.

 

Lha, kenapa jadi nya ke duit? Mungkin kerangka berpikir awam masih menilai eco-labelling/ISO ini-itu adalah sebuah bentuk penilaian standarisasi dengan kompensasi gratis. NO!! Karena metode berpikir awal lahirnya badan-badan ini adalah karena kepentingan pasar dunia juga.

 

Begini, negara-negara maju (yang sudah duluan maju), mereka saat ini sudah memiliki tingkat industri yang sedemikian maju dan menjamin kesejahteraan diatas negara-negara berkembang. Sementara, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, China dan lainnya sedang mengusahakan ke arah sejahtera tersebut yang otomatis industrialisasinya digenjot gila-gilaan – dan ini tidak terlepas dari pergeseran pasar industri global dimana negara-negara maju telah memindahkan industrinya ke negara-negara berkembang. Bisa dilihat dari grafik penghasil emisi gas buang – selain amerika , India dan China memperoleh rating yang lumayan tinggi. Bahkan si Bush sempat mendebat Protokol Kyoto dengan menyebut-nyebut India dan negara ke-tiga lainnya harus lebih diperhatikan dalam urusan global warming.

 

Konsekuensi logisnya saat ini, ketika dunia menghadapi ancaman lingkungan hidup, lalu siapa yang bertanggung jawab? Seperti melempar gayung tak bersambut memang. Tentunya butuh mekanisasi pasar yang kompleks untuk mempemudah urusan antar negara-negara ini. Karena sudah terkait satu dengan lainnya dalam kebutuhan global.

 

Dan di sinilah ide-ide yang awalnya ditawarkan pemerhati lingkungan yang “pinter-pinter” untuk menyelesaikannya secara PASAR juga. Jadi negara-negara yang masih mengelola hutannya sekian hekar itu dibayar – memperoleh kompensasi dari negara-negara yang mengeluarkan emisi. Istilahnya ada pabrik yang membeli hutan untuk menyerap sekian gas buang yang mereka keluarkan. Keren yak? Polusi bisa di perjual-belikan dalam pasar global. Dari sinilah pokok-pokok dasar pemikiran lahirnya badan-badan eco-labelling/ISO tersebut.

 

Kembali ke Indonesia, dengan demokrasi yang didengung-dengungkan sekarang oleh politikus-politikus negeri ini, kehidupan menuju kesejahteraan memang mulai terlihat. Tetapi kesejahteraan yang ke arah mana dulu? Jika ditanyakan apakah ada buktinya kalau bangsa ini mulai terlihat sejahtera? ADA. Sudah lahir sebuah konglomerasi baru dinegara ini. Kenapa demikian? karena krismon 97-98 bukanlah akhir bagi semuanya. Ada pihak-pihak yang memang pintar dalam memanfaatkan keadaan dan memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan aset-nya.

 

Kemudian yang fenomenal saat ini muncul juga konglomerasi tetangga yang sukses membangun ekonominya di negara ini, seperti MNC dan BUMN tetangga-tetangga kita dalam bidang telekomunikasi dan migas. Saya juga mengungkapkan dalam post lainnya bagaimana infiltrasi saham asing dari negara tetangga dalam telekomunikasi kita sebelumnya.

 

Kombinasi konglomerat lokal yang menggila dan MNC/BUMN tetangga inilah yang menjadi ganjelan baru dalam ekonomi yang sejahtera bagi keseluruhan masyarakat Indonesia. Hebatnya para konglomerasi lokal kita pun tanpa malu-malu mengakui dirinya juga berada dalam ranah politik dan kepentingan. Coba lihat anggota-anggota DPR kita yang merasa wajar mewakili kepentingan usaha-nya, atau posisi partai yang di bekingi perusahaan besar, bahkan ada petinggi partai yang menjadi seorang pemilik usaha media terkemuka di negeri ini. Apakah ini tidak mempengaruhi arus kepentingan pribadi dan kepentingan bersama? Okey, some people may be just said like this “It’s Just Nasionalism – Patriotic – Sacrifice to The Ibu Pertiwi.. and blah..blah..”.

 

Tetapi seharusnya kita tetap mawas diri dan legowo bahwa BUKAN TIDAK MUNGKIN arus kepentingan politik negeri ini surut kembali ke zaman Suharto dan konglomerasi keluarganya. BAHKAN LEBIH BURUK mengingat kondisi saat ini dimana bukan hanya satu kroni keluarga saja yang berkuasa. Apakah ancaman itu? Korupsi dan manipulasi kebijakan untuk kepentingan rakyat – kepentingan bersama.

 

Dan akhirnya ketakutan dalam memimpin rakyat dan mewakili rakyat menuju kesejahteraan yang berwawasan lingkungan seperti yang disampaikan diawal tulisan ini akan kembali menjadi keraguan. Karena para desission maker-nya juga harus kembali dipertanyakan “Pratiotism – Nasionalism – Sacrifice to Ibu Pertiwi”-nya.

 

This Post Honoured to All Indonesian – Leksa

 

Thanks to : Christianto Wibisono – Politik Ekonomi Bisnis Dan Lingkungan

CeThe,.. Ukiran Batik Pada Sebatang Rokok

Sepulang dari Jumaatan, sambil ngaso bentar sebelum jalan-jalan nyari belanjaan buat kosan baru, gue dikejutkan ama sesuatu produk unik milik salah satu penghuni kost Andrew. Sebatang rokok Marlboro dengan lukisan batik di sepanjang glovenya!! Detail sekali persis ukiran batik pada kain. Ada juga yang berbentuk tribal-tribal layaknya pada tatoo. (berhubung file video dan phot2nya gede, jadi gue read more- kan aja yak ..)

Continue reading

Dari 3 Stanza Indonesia Raya, Self-Appraising, Hingga Bibit-Bibit Self Kapitalisme

Keep Your Mouth, Roy

Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 – 2 dan 3 stanza tersebut (Rima juga mengakui hal yang sama dalam cerita di Blog nya). Bahkan di Youtube sendiri lagu ini sudah ada sebelum Om Roy ribut-ribut mengundang wartawan dalam Ad Hoc Konferensi Pers awal Agustus lalu.

Continue reading

Gara-gara Luna Maya..

Ini cuman post singkat..

Gara-gara di post sebelumnya, gue menceritakan hubungan artis favorit dan pantat, traffic blog gue meningkat drastis. Pengalaman yang sama gue dapat waktu masih memakai blog lama, waktu itu gue mem-posting tentang 3GP pejabat DPR.

Blog ini sebenarnya bercerita macem-macem. Dari curhat hingga biang kentut. Tetapi lumayan juga, gue bisa memantau seberapa besar ketertarikan orang-orang dalam mensearching Google dan buat apa Search Engine itu digunakan.

Alhasil, seminggu ini terbukti, bahwa keyword atas nama Artis dan Gambar Artis masih jadi favorit. Ya minimal dalam lingkungan web blog Kapucino ini, dari sekian banyak cerita dan berita serta opini, ternyata begitu SEKALI SAJA gue mempost tentang artis, langsung kunjungan nya meningkat.

Ini buktinya (klik aja kalo mau lihat..).

Gue menggunakan script Mint untuk blog gue sebagai analytic record .

Data traffick dan rangking lainnya :

Alexa for Kapucino

SEO Stat

Wisata Nyodok

NineBall Addict

Malam yang membosankan dan tidak ada cerita. Biasalaahh.. hidup gue masih statis dalam 6 bulan belakang. Cuman udah sebulan ke belakang, pintu seperti terbuka lebar. Surat-surat kepindahan gue terbuka lebar untuk diurus (thanks Bang Wir…), dan ternyata gue bisa melanjutkan hidup disana, banyak pekerjaan menanti (semoga…). Dan ditambah ada wangi-wangi bunga di kembang setaman, sering tercium kala mimpi di tidur yang lelap… (Hayaahhh… masih berpuisi juga..)

Continue reading

Antara Vodka, Nasionalisme dan Cinta

Apa yang unik malam ini?

Tidak ada! Gue cuman berteman sekelompok “tua-tua”, kaum tua yang akan berangkat menuju medan pertempuran masing-masing nantinya. Ada yang akan studi lanjutan keluar negeri, ada yang mau bekerja di perusahaan asing, dan bahkan ada yang mau DO melanjutkan Tugas Akhirnya di kampus lain.

Unik memang… Tapi itulah hidup. Semua ada umur dan batasnya. Kuliah dengan ospek bersama diawal-awal juga akan dipisahkan oleh pekerjaan atau profesi di masa depan. Bahkan sepasang saling mencinta pun akan terpisah jika waktunya Sang Maha Kuasa menarik nyawa dari badan yang lemah ini. Yah,. itulah hidup teman.

Dan malam ini, setelah Vodka bersanding dengan oplosan Pepsi, atau VSOP dengan Coca Cola, hidup terasa ringan, sedih bercampur nostalgia. Dan anak-anak muda hanya tertawa menyaksikan kebodohan sang tua yang ego dan sentris akan dunia silam yang gemerlap. Memang tidak terlalu gemerlap. Nostalgia gue dan teman2 gue di masa silam tidak jauh-jauh dari banting tulang, menghidupi hari2 bertahan di Kampus megah ini. Ada yang tertawa mengingat kebodohannya menyeruak dengan gahar di kerumunan mahasiswa baru ketika ospek, atau sekedar jualan Pop Ice di kaki lima, ada juga yang menjadi bandar dari kupu-kupu indah malam hari, dan ada juga yang tertawa mengingat nostalgianya mengurusi “grasroot” yang peta saja tidak tahu utara-selatan.

Hidup adalah hidup. Semua ada umurnya. Ketika nostalgia disandingkan dengan kebanggan atas hidup lama yang indah dan “katanya” ala pahlawan, ternyata diakhir kata penghujung jalan, kita hanya menyadari bahwa kita hanya makhluk lemah.. Sangat lemah malah.. Tidak ada itu baju kebanggan bersanding dalam mimpi2 kita. Tidak ada itu rasa puas dalam setiap darah keringat untuk bangsa ini. Terlalu kecil, teman. Sangat kecil. Yang ada hanya pertanyaan dan pertanyaan kembali terlontar. Apa dan mau apa setelah ini? Perjuanganku selesaikah? atau aku harus lari kehutan lalu ke pantai? dan bertapa menunggu moksa? ..Ahh…. hidup cuman sebentar kawan. Segelas vodka juga tidak cukup membawa semua baju kebanggan akan menjadi dinasti kepuasan.

Dan malam ini, ditengah kepala yang limbung, dan diskusi berat seputar wacana-wacana kebangsaan, aku berkilas balik, membuka untaian kata2 lama yang kukumpulkan. Dan menemukan seberkas buku tua yang aku beli dari kota lama. Sebuah “tembang” Jawa, sebuah Langgem dari negeri Sunan, tapi bukan doktrin tua untuk menyembah Tuhan Pencipta. Hanya sebuah lembar tua tentang kesederhanaan layaknya lembar-lembar tua ini. Sangat sederhana….

Aku kembali ke meja diskusi, membawa lembar ini tapi tidak untuk dipamerkan isinya. Namun, limbungnya kepala ini membuat aku berkoar sendiri dan berucap ditengah gelak tawa romantisme tua. “Wahai kawan, sesederhana apa kita melihat hidup kita, diri kita dan pribadi kita? Tidaklah hebat secuil pun dari kita untuk bercinta dengan sang roman. Tidaklah pantas berkoar dengan bangga akan semua bakti keringat dan darah untuk rakyat selama kita darah kita masih basah..

Perjuangan belum selesai, tidak ada waktu berpuas diri,.. tidak ada waktu menghela napas yang masih berbau alkohol ini…

Kita hanya manusia, kita berdaging, berdarah dan berkeringat, dan hanya Pemilik Alam yang berhak menentukan, siapa sang juara…

Tetapi tidak ada yang tahu apakah itu saya, kamu atau mereka…

*Dalam kelimbungan pikiran dan air mata, serta rasa jatuh cinta yang lama telah hilang, namun muncul lagi. Semoga rasa cinta ini segera pergi dan aku meraih hidup dalam bahagia umpama kumbang tanpa bunga.. Dan kata teman-ku,..” tidak semua kumbang membutuhkan bunga, kau harus sadar itu”..

Dan aku harus bisa tanpa sesosok bunga… Waktunya berikrar…

“Selamat tinggal cinta dan segala atributnya…..”

Kesaksian Sederhana

Kesaksianku tentang dunia hanya bisa sederhana

Karena jenis dan standart kebahagianku juga biasa-biasa saja

Kaki hidupku tidak meloncat menggapai langit

Tak ada yang kukejar sampai lari terbirit-birit

Tanganku tidak mengacungkan tinju ke angkasa

Sebab tak ada satu unsur apapun dalam kehidupan ini yang membuatku kagum dan terpana

Kekuatanku tidak akan menyentuh siapa-siapa

Karena aku tidak tertarik pada kemenangan atas manusia

Kubelanjakan tenagaku hanya sedikit saja

Sebab atas segala yang lemah, hatiku tidak berdaya

Kalaupun pikiranku mengembara sampai ke ruang hampa

Hatiku sudah lama selesai dan tak meminta apa-apa

Tak ada sekilasanpun padaku mimpi menaklukkan dunia

Sebab dunia sangat murah harganya dan hanya beberapa tetes keringat dari badanku yang kurelakan untuknya

Tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diri

Karena jenis kelemahanku adalah kebiasaan untuk mentertawakan diriku sendiri

Jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungku

Volume kepalaku tidak membesar dan hatiku tetap bisa mengantuk

Jika mereka menemukan kebenaran sehingga bisa menghinaku

Helai-helai buluku tidak berdiri bahkan kantukku bertambah lelap

Kebesaran dan kegagahan amat sangat aku remehkan

Dan tak akan pernah kukenakan sebagai pakaian

Apabila dunia menyangka aku mencintainya dan ingin mengawininya

Tentu karena ia tak tahu aku sudah mentalaknya sebelum pernah mencintainya

Barang siapa kegagahannya mendatangiku dan menggertak

Kusihir ia jadi katak

Dari kumpulan puisi Runtuh – Kiai Kanjeng

Michael Moore, Pendongeng Dari Negeri Paman Sam (Vers. 1.0)

Bush and MooreGue udah lama ga nulis di blog ini. Karena ada beberapa kerjaan dan kesibukan yang musti gue urus. Sebagai gantinya, gue coba ngebahas sedikit tentang sosok aneh gendut dari Paman Sam. Hmm.. ”sedikit” dalam versi gue berarti bisa jadi panjang. So, yang ga suka tentang polemik kebangsaan, critism, dan perang idealisme, lebih baik tidak usah melanjutkan membaca. Tetapi jika anda cukup pintar untuk membaca, beropini dan mengeluarkan suara, tulisan berikut bisa jadi inspirasi baru bagi Indonesia yang cerah ke depannya…(Halah,halah…)

Michael MoreSiapa di dunia saat ini yang tidak kenal Michael Francis Moore? ooh.. banyak kok. Hahaha… si gendut Amerika tersebut tidak se-terkenal Mandy Moore, Julian Moore ataupun Roger Moore. Tetapi di negaranya, dia bisa dikatakan tukang kritik paling kaya saat ini dari film-film dokumenter buatannya. Walaupun filmnya tidak sebanyak film dokumenter yang diproduseri perusahaan media besar seperti CNN atau BBC atau National Geographic, dengan report data-data yang akurat dan ilmiah, namun Moore membawa gerakan baru dalam penyajian dokumenter secara ekspresif, animatif dan bersemangat.

”..He uses both an expository type documentary and an interactive perspective to demonstrate his opinion in this film ..”

(Wikipedia – “Roger and Me”)

Continue reading

Sebuah Kisah Tentang UN 2007

Gue memilih memposting ulang cerita ini. Walau gue udah jarang sekali terlibat dengan si penulis, tapi ketika beliau mengirim cerita ini, perasaan serasa diaduk-aduk. Kepada ibu guru Puti , saya minta ijin untuk memposting cerita ini.

30 Juni 2007

Sabtu lalu, tepatnya tanggal 23 Juni 2007, saya tersenyum sendiri sambil menyusuri tembok bermural yang berada di Jalan Siliwangi, Bandung. Saya baru mendapatkan sms dari seorang anak SMP yang sering belajar Matematika bersama saya semenjak ia kelas 1 SMP. Isinya, “Kak, ini Anis, Alhamdulillah Anis udah lulus UN, Anis mau makasih sama bantuan Kakak selama ini.”

Sms singkat yang bisa menyejukan hati saya, tapi saya sama sekali tidak menduga apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian tepatnya Selasa, 19 Juni 2007 yang lalu.

Pagi-pagi sekitar jam 8 pagi, 2 orang murid saya ( saya adalah guru Fisika di sebuah Madrasah) mendatangi tempat tinggal saya, mengabarkan bahwa 8 dari 10 murid saya tidak lulus Ujian Nasional. Alangkah kagetnya saya, dalam 4 tahun saya mengajar, baru kali ini ada murid saya yang dinyatakan tidak lulus.

Continue reading

Sandbox WordPress Competition 2007

Sandbox BannerI knew this competition from weblogtoolscollection site few days ago. This featured competion comes from the simplicity idea of Sandbox wordpress themes framework. Lot of WP designer build their design use sandbox based. Although maybe not too familiar as K2 themes, but from my experience use sabdbox, i could said that sandbox have the minimalism power in WP templating. Continue reading

Penampilan Baru Website KAPUCINO

Oke..oke..

Gue akui memang ngeselin temen2 semua yang singgah disini karena web ini belom kelar2. Sebenarnya gue sedang berusaha untuk membuat template baru yang sesuai dengan suasana hati gue. Dan karena suasana hati gue berubah-ubah tiap, minggu, hari, jam bahkan dalam hitungan detik, maka banyak perubahan disana sini yang gue lakukan. Kadang mendadak.

Continue reading