<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Aug 2010 13:23:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Dilarang Mengaji</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 20:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[mengaji]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih jumlah kitab kuning yang tersimpan rapi di lemari-nya, atau soal doa-doa rajah, atau soal adat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-h.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_628431_8270.jpg" alt="" width="290" height="193" />Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih jumlah kitab kuning yang tersimpan rapi di lemari-nya, atau soal doa-doa <em>rajah</em>, atau soal adat ini itu, bahkan memilih nama dan tanggal baik pun dilakoninya selama hidup. Dari sekian banyak waktu saya bersamanya karena memang beliau tinggal bersama saya, ada satu hal tentang beliau yang masih teringat baik di kepala saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-351"></span>Dulu, saat saya masih kecil, mungkin belum juga TK, televisi masih hanya berisi siaran TVRI. Secara rutin disiarkan acara bimbingan rohani keagamaan secara bergantian dari tiap agama yang diakui di negara ini. Dari sejak kecil itu, kakek saya sudah mengajarkan kami bagaimana menyikapi acara tersebut. Bukan dengan ceramah panjang. Bukan pula sebuah lakon ala preman memukulkan rotan. Hanya sebuah pesan sederhana yang sangat mudah di tangkap anak kecil seusia saya dan kakak saya. Paling tidak efek nya luar biasa mengenang, karena begitu juga yang saya lihat ke semua saudara sepupu yang seumuran dengan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek ini sangat terngiang-ngiang di dalam diri saya sampai sekarang. Terutama setelah suatu kejadian sederhana ketika saya SD, kira-kira masih kelas 1 atau kelas 2 <em>-kalau tidak salah. </em>Saat itu saya pulang sekolah bersama kakak, Ibu (yang menjadi guru di SMP sebelah SD saya) dan ayah saya. Dalam perjalanan pulang itu, ayah saya menanyakan bagaimana ujian saya di sekolah tadi. Saat itu memang saya sedang ujian caturwulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan ujian hari itu adalah PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Jujur saja, semua soal-soal sangat mudah saya jawab. Hanya ada satu soal yang menjadi masalah buat saya saat itu, dan saya ceritakan kepada ayah dan ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam soal ujian ditanyakan sebuah pernyataan sikap apabila di televisi sedang menayangkan siaran rohani agama lain, apa sikap yang musti diambil? Ya, pertanyaan yang mudah, dan saya juga yakin anda pasti tahu option-option jawabannya. Tetapi bagi saya saat itu, malah sebaliknya. Dari 4 option tersebut, ada 2 jawaban yang meragukan saya. Pertama adalah <em>&#8220;dengan membiarkan acara rohani tersebut tayang&#8221; </em>atau<em>&#8220;mematikan televisi&#8221;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, ibu saya menanyakan, saya memilih jawaban apa. Saya katakan dengan benar-benar bingung, saya menunggu sampai waktu ujian berakhir dan akhirnya memilih <em>&#8220;mematikan televisi&#8221;.</em> Ayah saya bingung dengan jawaban saya itu. Beliau menanyakan kenapa.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan saya sangat sederhana saat itu. Hanya karena melihat apa yang selama ini diajarkan kakek saya. Biasanya beliau selalu menyuruh saya mengecilkan volume suara televisi ketika siaran rohani agama lain berlangsung. Dan karena di option jawaban tidak ada <em>&#8220;mengecilkan volume suara TV&#8221;</em>, maka yang paling dekat dengan itu ya <em>&#8220;mematikan televisi&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em></em>Seketika itu satu mobil menertawai saya. Tentunya bukan karena sebuah tawa membodohi. Saya bisa merasakan itu adalah sebuah tawa yang satir. Dan tidak ada penjelasan sama sekali sampai di rumah, sementara saya masih terus ditertawai oleh kakak saya. Saya cuma terdiam dalam bete dan penuh tanda tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini mungkin hanya angin lewat buat anak kecil seperti sayya waktu itu. <em>Toh</em>, saya juga masih bisa mendapat ranking 1 di kelas. Tetapi bekasnya masih terasa sampai sekarang karena pada suatu malam setelah kejadian konyol itu, entah bagaimana, kakek saya menjadi lebih banyak omong dari biasanya soal acara rohani di televisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, saya refleks mengecilkan volume suara televisi. Dan kakek saya sebagai penikmat televisi menunggu acara &#8220;Dunia Dalam Berita&#8221; pasti duduk nyaman di depan televisi dengan buku bacaannya. Dan beliau pun bersuara (kira-kira begini)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dek, tv-nya ngga dimatikan saja?&#8221;, ujar beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya cuma diam, lalu kembali ke televisi tanpa remote itu, dan menekan tombol mati. Tetapi beliau berujar lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Abah cuma nanya, &#8216;ga nyuruh kamu matikan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dasar orang tua aneh, saya pun menghidupkannya lagi tanpa bicara apa-apa. Dan beliau pun berbicara lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dek, mereka itu sedang ngajarin ngaji ke pemeluk agamanya. Seperti Abu Ya <em>(guru mengaji saya di Langgar dekat rumah)</em> juga ngajar ngaji ke adek. Adek &#8216;ga perlu dengar apa yang mereka ajarkan, tapi cukup tahu saja kalau mereka itu juga ada di sekitar kita. Mereka berhak ngaji kayak adek juga&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu, pesan tersebut terlalu susah buat saya mengerti. Tetapi dengan makin bertambahnya umur, saya semakin mengerti maksud dari sikap dan pesan beliau tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah <strong>&#8220;penghormatan perbedaan&#8221;</strong> keyakinan itu memang mahal harganya. Kalau boleh saya katakan seperti membunuh ego terbesar dalam diri manusia. Terkadang kita terlalu sulit menempatkan diri dalam memahami perbedaan, yang hanya berujung pada kebingungan identitas diri. Tak salah pada akhirnya malah menciptakan argumen-argumen lunak yang mudah diplintir kesana kemari. Sebuah hal yang sangat rumit untuk saya pahami sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ternyata pesan sederhana seperti dari kakek saya itu memiliki kesan sampai saat ini buat saya maknai, walaupun akhirnya kitab-kitab kuningnya itu hanya diwarisi ke adik saya yang lain. Mungkin beliau tahu benar bagaimana saya akan menemukan <em>&#8220;kitab kuning&#8221;</em> nya tersebut dengan cara saya sendiri. Mungkin juga dari awal beliau sudah mengenal orok cucunya satu ini sehingga hanya dinamakan pendek sembilan huruf saja.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Malam ini saya membaca sebuah dagelan indah dari negeri krisis APBN <em>-bukan BBM</em>- soal pelarangan &#8220;mengaji&#8221;. Dan mendadak malam ini pun saya merasa bersyukur terlahir sebagai muslim dari darah kakek saya. Dan tentunya darah Negeri Serambi Mekah yang notabene dikatakan bersyariat islam oleh  orang-orang yang melarang-larang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p><em>Illustrasi diambil dari <a title="Illustrasi Gambar" href="http://saifulislam.com/?p=243" target="_blank">sini</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Objektif</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/01/05/objektif/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/01/05/objektif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jan 2008 22:52:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/01/05/objektif/</guid>
		<description><![CDATA[Dulu sekali, pernah ada istilah beken &#8220;Shot The Message, Not The Messenger&#8221;. Bagaimana ngeshot message yang benar? Atau minimal coba-coba menilai secara objektif? Atau lebih ekstrim lagi &#8211; Belajar cuci otak?? Mungkin menonton film &#8220;Ayat Ayat Cinta&#8221; (AAC) bisa menjadi ajang latihan. Tokoh Aisha yang islami, arab turki jerman tulen, kemayu, sopan, pendiem, akhlaqul qarimah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/01/ayat-ayatcinta2.jpg" title="Ayat Ayat Cinta"><img src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/01/ayat-ayatcinta2.jpg" alt="Ayat Ayat Cinta" align="left" hspace="7" /></a>Dulu sekali, pernah ada istilah beken <em>&#8220;Shot The Message, Not The Messenger&#8221;</em>. Bagaimana <em>ngeshot</em> <em>message</em> yang benar? Atau minimal coba-coba menilai secara objektif? Atau lebih ekstrim lagi &#8211; Belajar cuci otak??</p>
<p align="justify">Mungkin menonton film <a href="http://www.ayatayatcintathemovie.com/" title="Ayat Ayat Cinta Movie" target="_blank">&#8220;Ayat Ayat Cinta&#8221;</a> (AAC) bisa menjadi ajang latihan.</p>
<p align="justify">Tokoh Aisha yang islami, arab turki jerman tulen, kemayu, sopan, pendiem, akhlaqul qarimah dan istri yang sangat soleha impian semua pria muslim, <em>diperankan oleh Rianti sang VJ MTV cantik, friendly, hip hip hura, juga terkadang seksi. </em></p>
<p align="justify">Tokoh Maria yang introvert, baik dan rendah hati, simpatik dengan kecintaannya terhadap Islam, walau bukan muslimah. Sosok wanita penuh luka cinta yang bisa menggugah pria-pria yang membaca novel AAC untuk memilikinya (termasuk saya). <em>Diperankan oleh Carissa si antagonis sinetron-sinetron Indoonesia yang bengis, tak kenal ampun, suka teriak-teriak dan membuat ibu-ibu di mall bisa memaki-maki dirinya bila bertemu.</em></p>
<p align="justify">Tokoh Nurul yang putri pesantren, anak seorang Kyai ternama, baik budi, cerdas menggugah intelektual, kaffah dalam islam Indonesianya, mengingatkan saya pada ustadzah-ustadzah di mesjid kampung saya. <em>Pemerannya adalah Melanie Putria yang mantan putri Indonesia, dengan keglamoran dan aktivitas selebnya yang macem-macem tanpa pakem.</em></p>
<p align="justify">Noura sang wanita penuh tekanan batin, terhimpit dalam penderitaan sehingga mengubahnya menjadi tukang fitnah yang keji. <em>Dan Zaskia Mecca idola para lelaki &#8220;baik-baik&#8221; ketiban peran ini, model sekaligus aktris yang dianggap mumpuni dengan popularitas dan keteguhan budi muslimahnya. </em>(Kenapa impian liar saya selalu membayangkan Zaskia sebagai BCL ditutupi kerudung?? <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) )</p>
<p align="justify">Fedi Nuril?? Kalau ini saya ga kenal.</p>
<p align="justify">Hanung Bramantyo, sang sutradara. Wah ini sih <a href="http://rumputeki.multiply.com/" title="Mumu's Blog" target="_blank">Mas Rumputeki</a> lebih kenal.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Mumpung belum tayang, jadi persiapkan diri anda untuk berlatih seperti yang saya ungkapkan diatas. Menjadi objektif bukanlah tuntutan, <em>toh</em> ini cuma hiburan bagi penonton, duit bagi <a href="http://www.mdentertainment.net/" title="MD Entertainment" target="_blank">produser</a> dan <a href="http://hanungbramantyo.multiply.com/journal/item/8" title="Hanung's Blog" target="_blank">idealisme</a> bagi sang Sutradara.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>*sedikit hadiah yang keren dari Blog Mas Hanung</em> :</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://images.hanungbramantyo.multiply.com/image/30/photos/3/400x400/2/10.jpg?et=m4b7auDaIgMds2MMshYE7A&amp;nmid=57891188" alt="Rianti's Eye" height="266" width="400" /></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/01/05/objektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
