Ketololan

ijal

Tidak saya pungkiri, sejak SMU saya menggemari segala sesuatu berbau sosial budaya dan sejarah. Selepas SMU, saya nekat mengambil sebuah formulir masuk untuk kelas Seni, tanpa kursus-kursus persiapan, hanya dengan tekad “ah apa salahnya dicoba”, dan parahnya lagi hanya bermodal bisa menggambar seorang anak TK dengan dua gunung dan pematang sawah. Mimpi sih tidak bulat untuk kesana, juga disusupi sifat standar seorang lulusan SMU, “Segala kesempatan dicoba”. Sayangnya karena “manut” terhadap permintaan ibu yang saya cinta, formulir tersebut tidak pernah saya kembalikan dan test masuk juga tidak pernah saya lakukan.

Continue reading →