<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; Kapucino</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/kapucino/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Setahun</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/07/16/setahun/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/07/16/setahun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 20:27:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=365</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Selalu ada kejutan dibalik tikungan kehidupan&#8221;, demikian Ndoro yang bijak itu berpesan selalu. Saya mungkin orang yang hafal dengan baik teori itu di kepala. Tetapi soal memahami dan memaknai, saya bukan lah seorang sufi yang baik untuk itu. Setahun sudah &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/07/16/setahun/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/gardu-pandang.jpg" alt="" width="290" /><em>&#8220;Selalu ada kejutan dibalik tikungan kehidupan&#8221;</em>, demikian <a title="Ndoro sang Penakluk" href="http://ndorokakung.com" target="_blank">Ndoro</a> yang bijak itu berpesan selalu. Saya mungkin orang yang hafal dengan baik teori itu di kepala. Tetapi soal memahami dan memaknai, saya bukan lah seorang sufi yang baik untuk itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-367"></span>Setahun sudah perjalanan di kota Kesultanan ini. Dua belas purnama menjelang, dua semester hidup berakhir, entah saya menglami kemajuan atau kemunduran, atau malah stagnan. Tetapi harus saya terima, banyak hal yang sudah saya dapat. Tidak terlepas dari segala macam pencerahan ala Yogya yang ditawarkan bangunan, cerita, sejarah bahkan canda ala makhluk-makhluk ceria-nya. Termasuk anda, para bloger yang ada disekitar saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tantangan tahun ke-2 di depan mata. Berjejal tantangan sudah menumpuk membayang, menggunung. Laksana merapi yang menunggu meletus setiap siklus geologisnya. Siapa yang tahu apa yang terjadi setahun kedepan? Seperti pertanyaan yang sama ketika pertama kali saya sampai di kota ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu saya datang dengan kebodohan-kebodohan dan penyesalan. Berniat<a title="got the point?" href="http://tikabanget.com" target="_blank"> </a><a title="So?" href="http://tikabanget.com" target="_blank">kabur</a> dan tapa brata saja, tetapi tidak cukup menutup semua semangat baru yang ditawarkan dari laut selatan hingga <a title="Suroloyo" href="http://www.kapucino.org/2008/01/03/menikmati-keagungan-alam-di-awal-tahun-2008/" target="_blank">puncak Suroloyo</a>. Segala kejar cinta dan cita ternyata cuma bara lewat yang kurang nyala apinya. Nyalanya tidak cukup karena BBM yang terus membubung mungkin. Atau arang yang kurang banyak disematkan dalam panggangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Ketua Kelas" href="http://hermansaksono.com" target="_blank">Seorang teman berulang tahun malam ini</a>, tetapi saya malah terpekur dengan pikir saya sendiri. Hidup serasa singkat, setahun tidak terasa memang, seperempat abad umur sudah lewati sejak dulu. Luka-luka lama tanpa disadari sudah ditimbun dalam-dalam di balik peti-peti cerita kehidupan sejarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya percaya hidup harus mengalir. Tetapi ternyata mengalir saja tidak cukup. Semua orang sudah maju selangkah, dua langkah, bahkan beribu langkah. Mereka seperti tidak sekedar mengalirkan saja hidup ini. Saya melihat mereka dan mungkin anda-anda seperti mengayuh dalam jeram-jeram terjal. Dan sama juga, <em>&#8220;Tidak ada yang tahu tikungan terjal apa yang akan dihadapi di arus depan&#8221;</em>, demikian saya bisa lengkapi quote sang lelananging jagad itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Selamat Mengejar Cita-Cita, Mbak" href="http://dinautami.com" target="_blank">Seseorang</a> berpesan pada saya, <em>&#8220;banyak hal bisa terjadi dalam 2 tahun, Jal&#8221;</em> . <em>Oke.</em> Saya berhitung sejak sekarang dalam dua tahun akan terjadi apa saja. Berhitung sekarang, kalkulasi ini dan itu. Tetapi bukan berarti bisa menolak segala kelokan tajam yang terjadi di depan. Selalu ada faktor yang ada di luar kuasa perhitungan kita sebagai manusia bukan?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Hadapilah seperti &#8220;laki-laki&#8221;. Apapun yang harus diambil, lakukan dgn sungguh-sungguh. Itu saja kuncinya biar tidak sakit.&#8221;</em> Pesan <a title="Reporter Online sok Jagoan" href="http://aryaperdhana.wordpress.com" target="_blank">seorang teman lainnya</a>, yang mengingat kan saya dengan lelaki hebat di nirwana sana. Pesan yang sangat maskulin sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">-o0o-</p>
<p style="text-align: justify;">Ini bukan soal cinta, apalagi roman. Tetapi soal kegelisahan hidup kita yang memang selalu muncul kala ada &#8220;cinta&#8221; menggoda setiap hati yang gelisah. Kita butuh istirahat dari dunia cerita politik yang makin membuta menjelang tangan-tangan rakus berkuasa. Toh, saya dan anda juga manusia biasa, bukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/07/16/setahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Dinginnya Malam dan Bintang</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/07/09/tentang-dinginnya-malam-dan-bintang/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/07/09/tentang-dinginnya-malam-dan-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 22:56:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[bintang]]></category>
		<category><![CDATA[blog malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Bintang tidak pernah bersinar dalam waktu yang sama di setiap belahan bumi. Ini bukan soal dunia yang bundar. Atau soal putaran galaksi. Ini hanya soal keliru menganggap bintang yang bersinar bisa dititipkan sebuah salam rindu. Berapa banyak muda mudi terlena &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/07/09/tentang-dinginnya-malam-dan-bintang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-h.ak.facebook.com/photos-ak-snc1/v265/68/23/661293665/n661293665_701687_9483.jpg" alt="" width="290" height="232" />Bintang tidak pernah bersinar dalam waktu yang sama di setiap belahan bumi. Ini bukan soal dunia yang bundar. Atau soal putaran galaksi. Ini hanya soal keliru menganggap bintang yang bersinar bisa dititipkan sebuah salam rindu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-366"></span>Berapa banyak muda mudi terlena dalam sebuah quote mesra <em>&#8220;Semoga kau melihat sinar bintang yang kulihat ini, Dinda..&#8221;.</em> Padahal dalam fisika semesta hanya ada satu hukum yang menjelaskan soal ini. Teori Relativitas. Sinar mentari yang dekat dengan bumi saja, butuh waktu 8 menit 18 detik untuk sampai di bumi. Entah berapa lama sinar bintang yang lainnya itu tiba di bumi. Bisa jadi ketika aku lihat sebenarnya mereka telah mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti malam ini, di Yogyakarta mendadak sangat cerah. Tanpa awan, biru gelap bersih seperti warna botol Dark Blue Hugo Boss milik ku. Kuning sang senja baru saja berakhir di ufuk barat. Bayang langkah kaki pun masih bisa aku lihat jelas berjajar di sebelah kiri. Bayang langkah kaki yang menyisakan sebuah cerita babak baru ku setiap hari, padahal sebenarnya babak baru sudah harus aku mulai dari setahun lalu. Seperti tidak pernah berakhir arti dari si babak baru ku ini. Atau mungkin lebih tepatnya bila ku anggap saja aku tidak pernah menjejak dalam posisi tegak berdiri yang pasti. Masa sudah lewat, senja berakhir, malam menyusul, bintang bersinar dan aku akui masih tetap bisa menikmatinya dalam perahu cadik versi ku.</p>
<p style="text-align: justify;">Seno pernah bercerita soal &#8220;Cinta di Atas Perahu Cadik&#8221;. Bagaimana relatifitas sebuah cinta laksana berlayar tanpa mesin dalam perahu cadik. Hayati, istri dari Dullah, dengan hebatnya mencintai Sukab dan berlayar bersama di atas perahu cadik. Para nelayan mengaku hanya melihat Hayati dilatari warna langit senja tanpa sehelai benang pun di atas perahu, dengan mata penuh cinta membara menatap lantai perahu. Tidak ada orang lain di perahu itu, juga tidak ada Sukab. Apa yang ada di pikir  para nelayan itu? Sukab bercinta dengan Hayati?  Seno hanya memberi bocoran di akhir cerita bahwa mereka saling mencintai walau sudah saling beristri dan bersuami. Aku juga tidak tahu pastinya apa yang terjadi di antara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak bedanya dengan perahu. Setali tiga uang, ada bintang di langit atas perahu. Aku sadar malam ini bintang bersinar cerah tanpa perduli hati para peminatnya sedang gundah atau tidak. Awan-awan seperti sengaja digeser oleh angin menuju pinggiran cakrawala. Dan angin pula yang membawa dingin malam. Dinginnya yang berbeda di setiap Juni-Juli-Agustus. Aku sadari dingin seperti ini hanya dirasai di bulan-bulan itu. Entah di Bandung atau di Yogya, siklusnya selalu sama. Masa yang baik untuk membiarkan mahasiswa baru bergadang dengan tugas awal kuliah dan tugas ospek. Terakhir aku tahu, Bandung mencatat suhu 15 derajat celcius beberapa malam ini. Sayangnya aku tidak membawa termometer untuk mengukur suhu di Yogya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Malam ini cerah. Banyak bintang. Tapi udaranya dingin banget&#8221;.</em> Entah bagaimana aku menuliskan kalimat itu di telepon selular ku sambil berjalan keluar dari lorong gelap ini. Dan seketika pesan itu sudah kau baca di ujung sana. Ini mungkin hanya aku yang berharap mengabarkan dinginnya malam. Mungkin pula sekedar menebak kau sedang memandang bintang dari jendela kamar mu. Aneh, di antara sadar soal relatifitas, aku juga bisa berharap mimpi dalam relatifitas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian, pintu mobil sudah aku buka. Duduk dengan nyaman bersandar empuknya kursi. Bintang di langit sudah tidak terlihat, terganti lampu-lampu jalan yang sinarnya mengayun cepat. Dinginnya malam juga sudah tak terasa, karena AC mobil ini sudah berusaha menggantikan segarnya udara malam.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Disini aku ga bisa liat bintang. Dalam kamar kost he3x. Kalo diluar sih kayaknya emang dingin juga&#8221;. </em>Pesan masuk. Sekilas saja aku baca pesan itu, seperti sudah pernah aku baca sejak dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memang perlu membaca ulang Cala Ibi. Pembukaannya juga sudah mengingatkan soal ini.<em> “Lalu bapakmu akan berkata, bintang tak pernah secantik tampakkannya, tak sedekat yang kita duga. Ia cuma penghias panas malam para pemimpi. Tapi aku mau terbang. Aku mau menyentuh bintang Jika ujung jariku melepuh, akan kubelah lima. Dan pulang dengan sepasang tangan berjari lima puluh”</em>. Mungkin aku memang ingin menuju bintang. Tetapi kurang sadar kalau aku terlalu tolol sampai mengorbankan jari-jari ku hanya untuk berbagi suatu hal bernama mimpi.</p>
<p style="text-align: center;">-o0o-</p>
<p style="text-align: justify;">Ada bintang di langitku. Sepertinya tidak begitu dengan langit mu. Seseorang di langit yang sama dengan ku bisa saja melihat bintang ku. Mungkin aku juga bisa berbagi jaket jeans lusuh ku melawan dingin malam bersamanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/07/09/tentang-dinginnya-malam-dan-bintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Leak dan Framing Media</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 07:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[media framming]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bukunya Real Peace (1983), Nixon menuliskan sebuah quote terkenal &#8220;Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war&#8221;. Dan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_654022_8498.jpg" alt="" width="290" height="211" />Dalam bukunya Real Peace (1983), <a title="Richard Nixon - 37th USA President" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Nixon" target="_blank">Nixon</a> menuliskan sebuah quote terkenal <em>&#8220;Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war&#8221;. </em>Dan quote itu cukup membuktikan kiprah luar biasanya dalam penghentian pengembangan senjata nuklir balistik dengan Uni Soviet yang dikenal dengan nama SALT (Strategic Arms Limitation Talks) 1969. Bersama Leonid Brezhnev dari Uni Soviet, Nixon mengumumkan akhir dari perang dingin yang melibatkan kebrutalan spionase antara kedua negara.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-358"></span>Sayangnya arti dari potongan quote itu memiliki makna lain bagi Nixon. <em>&#8220;&#8230;livable peace in a world of competing nations is to <strong>take the profit out of war&#8221; </strong></em>ternyata tidak hanya berarti keluar dari perang secara langsung. Namun tetap berada di belakang negara-negara boneka untuk mempertahankan eksistensi dan impian sebagai adikuasa dunia. Dan mulailah penderitaan perang berpindah ke negara-negara seperti Vietnam dan Pakistan. Konflik dunia terus disuburkan untuk memarkir ambisi-ambisi Uncle Sam. Sebuah ego adikuasa yang terus bertahan sampai sekarang dengan segala upaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah catatan buruk dari seorang Nixon. Apalagi setelah kasus <a title="Watergate Scandal" href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;q=watergate&amp;btnG=Telusuri+dengan+Google&amp;meta=" target="_blank">Watergate</a> terbuka ke publik dan membuka segala konspirasinya berkenaan dengan upaya-upaya ego Uncle Sam tersebut. Kisah Watergate adalah kesalahan terbesar dari sebuah upaya untuk memata-matai pihak lawan partai politik. Usaha spionase politik terhadap Partai Demokrat tersebut terbuka ke publik setelah 5 orang perampok berhasil ditangkap ketika sedang berusaha merampok di <a title="Komplek gedung Watergate" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Watergate_complex" target="_blank">komplek gedung Watergate</a>. Perampokan ini disinyalir lebih dari sekedar perampokan biasa karena ketahuan adanya usaha penyadapan terhadap gedung tersebut. Diduga kegiatan penyadapan ini juga dilakukan Nixon terhadap semua lawan politik dan juga di area gedung putih. Rekaman hasil penyadapan itu digunakannya sebagai alat <em>&#8220;kekuatan lobi&#8221;</em>-nya terhadap lawan-lawan politik. Semua itu dilakukan dalam usaha untuk meraih kursi presiden lagi dalam sebuah proyek kampanye dinamakan <a title="CREEP - Watergate Scandal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Committee_to_Re-elect_the_President" target="_blank">CREEP (<em>Committee to Re-elect the President</em>).</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kurun waktu 2 tahun, penyelidikan pihak hukum membuka borok spionase Nixon, aksi penyuapan dalam berpolitik dan juga proyek rahasia militer yang berbau korupsi. Watergate sendiri membawa banyak cerita indah seputar hebatnya dunia informan, dan bukti kekuatan media dalam membongkar konspirasi politik kelas tinggi. Salah satu dongeng yang terkenal adalah <a title="Watergate's Tape" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Watergate_tapes" target="_blank"><em>Watergate&#8217;s Tape</em></a> and <a title="Smoking Gun - Watergate Scandal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Watergate_tapes#The_.22Smoking_Gun.22_tape" target="_blank"><em>Smoking Gun</em></a>, yaitu berupa bukti-bukti rekaman Nixon sendiri dalam pita audio 9 kaset Sony TC-800B. Salah satunya adalah cerita tentang usaha Nixon yang meminta Direktur FBI untuk menghentikan penyelidikan kasus perampokan di komplek Watergate (dikenal dengan sandi Smoking Gun). Mungkin bisa dibilang juga sebagai senjata makan tuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rekaman-rekaman tersebut membuat Nixon tidak bisa berkelit. Tiga bawahannya pun mengundurkan diri tidak bisa membelanya. Memaksa Nixon mengganti secara mendadak posisi-posisi ajudannya. Kejadian ini dikenal dengan sebutan <em>&#8220;<a title="Saturday Night Massacre - Watergate Scandal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Saturday_Night_Massacre" target="_blank">Saturday Night Massacre</a>&#8220;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu ada usaha dari pihak Nixon untuk menghapus 18,5 menit dari tape tersebut. Sayangnya publik dan pihak hukum sudah terlanjur meruncing untuk menyudutkannya dengan keterlibatan kejahatan politik tersebut. Alhasil tiga orang lingkaran dalam Nixon, yang juga tokoh politik besar di masa itu, mantan jaksa agung John Mitchell dan kepala penasehat Gedung Putih John Ehrlichman serta Penanggung Jawab CREEP HR Haldeman, diangkut ke dalam sel. Nixon sendiri memilih mengundurkan diri, dan kemudian mendapat pengampunan dari presiden Gerrard Ford, penggantinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengungkapan skandal terbesar di USA tersebut berkat usaha-usaha pihak lawan politik Nixon sendiri, termasuk dari pihak hukum dipimpin Hakim John Sirica, ditambah 2 wartawan <a title="The Post Investigates" href="http://www.washingtonpost.com/wp-srv/politics/special/watergate/part1.html" target="_blank">Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein</a>. Tidak terlupakan seorang informan rahasia yang dikenal dengan panggilan &#8220;<a title="Deep Throat - Watergate Scandal Informan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Deep_Throat" target="_blank">Deep Throat</a>&#8220;, yang akhirnya setelah 30 tahun, dibuka identitasnya oleh <a title="I'm the Guy They Called Deep Throat" href="http://www.vanityfair.com/politics/features/2005/07/deepthroat200507" target="_blank">Vanity Fair</a> dan Washington Post sebagai orang nomor dua di FBI pada masa itu, Mark Felt.</p>
<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_654023_8711.jpg" alt="" width="290" height="436" />Cerita ini sengaja saya detailkan. Karena ada kesamaan dengan sebuah dongeng yang sedang berlangsung di negeri Indonesia, si negeri krisis APBN -<em>bukan BBM-</em>. Ternyata sebuah pita rekaman bisa bercerita banyak dan bahkan mengancam <em>impeachment</em> seorang penguasa negara. Saya mendadak terbayang seandainya saja sadapan rekaman telpon yang hanya terpublikasi 3 sesi itu, masih bisa ditambah rekaman-rekaman sadapan lainnya. Bukan tidak mungkin ada sebuah &#8220;Smoking Gun&#8221; atau mungkin lebih buruk dari itu pernah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Disini, peran jurnalis yang berkarakter, pihak hukum yang kuat, dan lawan politik yang cerdas plus integritas kejujuran dibutuhkan. Media mana yang berani mengambil posisi itu sekarang? Kompas? Tempo? MNC? Metro TV? koran lokal? atau malah freemagz-freemagz di cafe-cafe?</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk hukum dan lawan politik, saya tidak tahu apakah karakter Hakim John Sirica masih ada di Indonesia? Apakah masih ada partai politik yang berintegritas dengan kejujuran?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memutar lagi film &#8220;<a title="All the President's Men" href="http://www.imdb.com/title/tt0074119/" target="_blank">All The President&#8217;s Men</a>&#8220;. Dan teringat potongan scene terkenal, ketika Deep Throat menjawab pertanyaan Woodward di remang-remang garasi gelap parkiran umum di kota Washington,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Forget the myths the media&#8217;s created about the White House. The truth is, these are not very bright guys, and things got out of hand. Follow the money</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">&#8212;0o0&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah catatan pendek lain dari cerita negeri ini, seorang Mantan Danjen baret merah ditangkap sudah. Walaupun kisah ini harusnya berakhir sederhana sejak dulu. Tetapi sekarang menjadi sangat dramatis lewat semua berita media dan mendadak banyak &#8220;pahlawan&#8221; HAM kesiangan bermunculan. Padahal kerja mereka loyo selama ini bertameng antek-antek asing. Apa karena pemilu sebentar lagi? Dan media hanya menjadi ajang bersuara mencuri posisi?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ah,</em> kebenaran itu rumit untuk menjadi <a title="Absolut" href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=245#comment-16728" target="_blank">Absolut</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepakbola Londo</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/17/sepakbola-londo/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/17/sepakbola-londo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 20:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Siapa jago anda di Piala EURO 2008? Bagi saya sepakbola memang punya nuansa kenikmatan tersendiri. Dari jajaran klub dunia, saya pernah mengidolakan Parma Italia dengan Nesta-nya, kemudian AC Milan bersama Sheva dan Nesta. Dan sekarang ketika sepak bola Italia sudah &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/17/sepakbola-londo/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/06/hollan-tits1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-355" title="holland" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/06/hollan-tits1.jpg" alt="" width="290" height="140" /></a>Siapa jago anda di Piala EURO 2008?</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya sepakbola memang punya nuansa kenikmatan tersendiri. Dari jajaran klub dunia, saya pernah mengidolakan Parma Italia dengan Nesta-nya, kemudian AC Milan bersama Sheva dan Nesta. Dan sekarang ketika sepak bola Italia sudah tidak menarik lagi (bagi saya), beralih ke EPL yang semakin susah ditonton. Saya mengidolakan salah satu tim hebat yang bisa mengalahkan AC Milan dengan mental Juara di Champion 2005, Liverpool.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayang Inggris gagal total lolos ke babak utama Euro tahun ini. Tetapi tidak mengapa. Masih ada Belanda. <em>Yap</em>, negeri &#8220;Londo&#8221; yang pernah menjajah Indonesia. Bukan karena saya anti <a title="Soal Tim Nas Indonesia" href="http://www.kapucino.org/2007/07/18/ngegosip-sepak-bola-indonesia-setelah-kalah/" target="_blank">Timnas Indonesia</a> dan PSSI-nya. Tetapi memang permainan generasi muda Belanda memberikan tontonan yang luar biasa buat saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun harapan penampilan <em>apik</em> di Piala Dunia 2006 tidak tercapai, namun saya percaya Belanda punya banyak kesempatan menjadi juara dunia nantinya, dimana saat-saat ini negara <em>kampiun </em>sepakbola lainnya di dunia sedang berbenah dalam regenerasi tim. Belanda satu langkah lebih maju dalam hal regenerasi tim nasionalnya. Dua pertandingan lewat di EURO 2008 menjadi jawaban. Mempercundangi Italia di bawah asuhan Donadoni dengan skor 3-0, dan 4-1 membantai <em>Les Bleus</em>. Keduanya adalah finalis piala dunia lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan aneh yang menghinggapi saya ketika mengidolakan Belanda sejak Piala Dunia 2006 lalu. Jika dan hanya jika negara-negara jajahan Inggris bisa besar dengan sepakbola-nya, lalu mengapa Indonesia yang juga bekas jajahan Belanda tidak bisa seperti mereka?</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu teman saya berteriak lewat YM<br />
<em>&#8220;Ya mo gimana, ketua PSSI nya saja koruptor. Ada yang salah dengan manajemen PSSI kita!!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ah,</em> selalu. Lari-larinya pembenaran selalu ke level itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, kapan kita bisa bikin liputan Sepakbola Indonesia <a title="Video Holland - France" href="http://www.box.net/shared/g47y2apkw4" target="_blank">sekelas ini</a>, <a title="Arya Detik" href="http://aryaperdhana.wordpress.com" target="_blank">Ar</a>?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Catatan :</em></p>
<p style="text-align: justify;">Melihat Robben, Van Persie dan Sneider seperti menyaksikan Trio Belanda masa lalu. Salah satunya menjadi arsitek Belanda yang botak dan dingin itu, Marco Van Basten.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>UPDATE:</em></p>
<p style="text-align: justify;">Maaf, ternyata kolom komentar lupa saya buka. <em>Ah,</em> padahal saya ingin bertemu para fans tim-tim negara lain. Momen seperti EURO begini paling seru untuk saling &#8220;<em>manghujat</em>&#8221; lewat dreamteam masing-masing.. hehehe&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/17/sepakbola-londo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilarang Mengaji</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 20:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[mengaji]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-h.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_628431_8270.jpg" alt="" width="290" height="193" />Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih jumlah kitab kuning yang tersimpan rapi di lemari-nya, atau soal doa-doa <em>rajah</em>, atau soal adat ini itu, bahkan memilih nama dan tanggal baik pun dilakoninya selama hidup. Dari sekian banyak waktu saya bersamanya karena memang beliau tinggal bersama saya, ada satu hal tentang beliau yang masih teringat baik di kepala saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-351"></span>Dulu, saat saya masih kecil, mungkin belum juga TK, televisi masih hanya berisi siaran TVRI. Secara rutin disiarkan acara bimbingan rohani keagamaan secara bergantian dari tiap agama yang diakui di negara ini. Dari sejak kecil itu, kakek saya sudah mengajarkan kami bagaimana menyikapi acara tersebut. Bukan dengan ceramah panjang. Bukan pula sebuah lakon ala preman memukulkan rotan. Hanya sebuah pesan sederhana yang sangat mudah di tangkap anak kecil seusia saya dan kakak saya. Paling tidak efek nya luar biasa mengenang, karena begitu juga yang saya lihat ke semua saudara sepupu yang seumuran dengan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek ini sangat terngiang-ngiang di dalam diri saya sampai sekarang. Terutama setelah suatu kejadian sederhana ketika saya SD, kira-kira masih kelas 1 atau kelas 2 <em>-kalau tidak salah. </em>Saat itu saya pulang sekolah bersama kakak, Ibu (yang menjadi guru di SMP sebelah SD saya) dan ayah saya. Dalam perjalanan pulang itu, ayah saya menanyakan bagaimana ujian saya di sekolah tadi. Saat itu memang saya sedang ujian caturwulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan ujian hari itu adalah PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Jujur saja, semua soal-soal sangat mudah saya jawab. Hanya ada satu soal yang menjadi masalah buat saya saat itu, dan saya ceritakan kepada ayah dan ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam soal ujian ditanyakan sebuah pernyataan sikap apabila di televisi sedang menayangkan siaran rohani agama lain, apa sikap yang musti diambil? Ya, pertanyaan yang mudah, dan saya juga yakin anda pasti tahu option-option jawabannya. Tetapi bagi saya saat itu, malah sebaliknya. Dari 4 option tersebut, ada 2 jawaban yang meragukan saya. Pertama adalah <em>&#8220;dengan membiarkan acara rohani tersebut tayang&#8221; </em>atau<em>&#8220;mematikan televisi&#8221;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, ibu saya menanyakan, saya memilih jawaban apa. Saya katakan dengan benar-benar bingung, saya menunggu sampai waktu ujian berakhir dan akhirnya memilih <em>&#8220;mematikan televisi&#8221;.</em> Ayah saya bingung dengan jawaban saya itu. Beliau menanyakan kenapa.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan saya sangat sederhana saat itu. Hanya karena melihat apa yang selama ini diajarkan kakek saya. Biasanya beliau selalu menyuruh saya mengecilkan volume suara televisi ketika siaran rohani agama lain berlangsung. Dan karena di option jawaban tidak ada <em>&#8220;mengecilkan volume suara TV&#8221;</em>, maka yang paling dekat dengan itu ya <em>&#8220;mematikan televisi&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em></em>Seketika itu satu mobil menertawai saya. Tentunya bukan karena sebuah tawa membodohi. Saya bisa merasakan itu adalah sebuah tawa yang satir. Dan tidak ada penjelasan sama sekali sampai di rumah, sementara saya masih terus ditertawai oleh kakak saya. Saya cuma terdiam dalam bete dan penuh tanda tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini mungkin hanya angin lewat buat anak kecil seperti sayya waktu itu. <em>Toh</em>, saya juga masih bisa mendapat ranking 1 di kelas. Tetapi bekasnya masih terasa sampai sekarang karena pada suatu malam setelah kejadian konyol itu, entah bagaimana, kakek saya menjadi lebih banyak omong dari biasanya soal acara rohani di televisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, saya refleks mengecilkan volume suara televisi. Dan kakek saya sebagai penikmat televisi menunggu acara &#8220;Dunia Dalam Berita&#8221; pasti duduk nyaman di depan televisi dengan buku bacaannya. Dan beliau pun bersuara (kira-kira begini)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dek, tv-nya ngga dimatikan saja?&#8221;, ujar beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya cuma diam, lalu kembali ke televisi tanpa remote itu, dan menekan tombol mati. Tetapi beliau berujar lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Abah cuma nanya, &#8216;ga nyuruh kamu matikan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dasar orang tua aneh, saya pun menghidupkannya lagi tanpa bicara apa-apa. Dan beliau pun berbicara lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dek, mereka itu sedang ngajarin ngaji ke pemeluk agamanya. Seperti Abu Ya <em>(guru mengaji saya di Langgar dekat rumah)</em> juga ngajar ngaji ke adek. Adek &#8216;ga perlu dengar apa yang mereka ajarkan, tapi cukup tahu saja kalau mereka itu juga ada di sekitar kita. Mereka berhak ngaji kayak adek juga&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu, pesan tersebut terlalu susah buat saya mengerti. Tetapi dengan makin bertambahnya umur, saya semakin mengerti maksud dari sikap dan pesan beliau tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah <strong>&#8220;penghormatan perbedaan&#8221;</strong> keyakinan itu memang mahal harganya. Kalau boleh saya katakan seperti membunuh ego terbesar dalam diri manusia. Terkadang kita terlalu sulit menempatkan diri dalam memahami perbedaan, yang hanya berujung pada kebingungan identitas diri. Tak salah pada akhirnya malah menciptakan argumen-argumen lunak yang mudah diplintir kesana kemari. Sebuah hal yang sangat rumit untuk saya pahami sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ternyata pesan sederhana seperti dari kakek saya itu memiliki kesan sampai saat ini buat saya maknai, walaupun akhirnya kitab-kitab kuningnya itu hanya diwarisi ke adik saya yang lain. Mungkin beliau tahu benar bagaimana saya akan menemukan <em>&#8220;kitab kuning&#8221;</em> nya tersebut dengan cara saya sendiri. Mungkin juga dari awal beliau sudah mengenal orok cucunya satu ini sehingga hanya dinamakan pendek sembilan huruf saja.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Malam ini saya membaca sebuah dagelan indah dari negeri krisis APBN <em>-bukan BBM</em>- soal pelarangan &#8220;mengaji&#8221;. Dan mendadak malam ini pun saya merasa bersyukur terlahir sebagai muslim dari darah kakek saya. Dan tentunya darah Negeri Serambi Mekah yang notabene dikatakan bersyariat islam oleh  orang-orang yang melarang-larang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p><em>Illustrasi diambil dari <a title="Illustrasi Gambar" href="http://saifulislam.com/?p=243" target="_blank">sini</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskalimer</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/06/diskalimer/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/06/diskalimer/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 03:35:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa postingan lewat memang lebih banyak berbicara soal negeri ini. Entah kenapa di antara UAS di semester-semester tak berakhir ini, justru otak ini tidak berhenti berpikir untuk melihat apa yang terjadi disekitar. Terlalu banyak kekhawatiran? Atau mungkin saya berteman dengan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/06/diskalimer/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa postingan lewat memang lebih banyak berbicara soal negeri ini. Entah kenapa di antara UAS di semester-semester tak berakhir ini, justru otak ini tidak berhenti berpikir untuk melihat apa yang terjadi disekitar. Terlalu banyak kekhawatiran? Atau mungkin saya berteman dengan orang-orang yang salah selama ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang saya bermimpi seandainya hidup cuma sekedar dilewati sebatas sekolah, bekerja, menikmati sore dan malam hari bersama kekasih, jalan-jalan sore, tidur dan terjaga lagi esok dengan aktifitas serupa. Sepertinya teman-teman saya yang melewati hari-hari seperti itu hidup dalam tawa dan bahagia-bahagia saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi hidup memang berjalan berbeda untuk setiap orang. Jika cap pemikir rumit, orang edan, sok serius bahkan lagak aktifis sekalipun ada di jidat saya, itu hanya urusan peran yang ditetapkan lauhil mahfudz sana. Saya tidak pernah perduli dengan segala cap itu. Saya cuma berjalan dengan apa yang saya rasa benar, belajar dari hidup yang saya rasa wajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekian banyak aktifitas saya cuma dilalui dengan pikir dan perbuatan. Berpikir dan berbuat. Satu-satunya kegiatan hidup saya yang menyerempet aktifitas ala aktifis, hanya karena terlibat di jurnalisme, yang menjadikan beban sebagai orang <em>sok pengen tahu.</em> Harus berteman dan mengorek-ngorek rahasia dunia dari pemikir-pemikir berat itu. Sementara saya sendiri tidak pernah berpikir dalam berat. Pekerjaan membaca jelas iya, menuliskan opini adalah senjata. Tetapi turun ke jalan? <em>Ah,</em> sejauh ini saya cuma singgah dari pustaka usang sampai kegiatan sosial lainnya. Cuma se<em>-cemen</em> itu saudara-saudara</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi jika cap aktifis itu menjadi asumsi publik yang negatif bagi seseorang, itu urusan asumsi busuk anda. Dan lebih baik lupakan saja harga itu ada di dompet saya. Dan saya pun menganggap anda tidak mengenal saya dengan baik. <em>Deal?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/06/diskalimer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dalam Doaku</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/05/dalam-doaku/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/05/dalam-doaku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 11:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/05/dalam-doaku/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang<br />
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening<br />
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening<br />
karena akan menerima suara-suara</p>
<p align="left">
<p>Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,<br />
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang<br />
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya<br />
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin<br />
yang mendesau entah dari mana</p>
<p align="left">
<p>Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung<br />
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,<br />
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu<br />
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan<br />
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu</p>
<p align="left">
<p>Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang<br />
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat<br />
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya<br />
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku</p>
<p align="left">
<p>Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,<br />
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit<br />
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia<br />
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi<br />
bagi kehidupanku</p>
<p align="left">
<p>Aku mencintaimu.<br />
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan<br />
keselamatanmu</p>
<p align="left">
<p><em> (Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak<br />
“Hujan Bulan Juni”)</em></p>
<p align="left">
<p align="left">
<p><strong>Selamat Menikmati Bulan Juni yang penuh cinta. Bulan Juni yang penuh nista. Dan bulan-bulan lain yang menunggu derita.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/05/dalam-doaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyakit Fatal</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/03/penyakit-fatal/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/03/penyakit-fatal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 00:13:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[demo]]></category>
		<category><![CDATA[FPI]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Jogja Gallery &#8211; Minggu siang, di antara ketenangan dan semangat menyaksikan lukisan-lukisan di sana, si Tika tiba-tiba bersuara, &#8220;Leks, fatalis itu apa sih?&#8221; Dan seketika semua bualan dari otak saya mengalir keluar memberikan penjelasan segombal-gombalnya. Ternyata pertanyaan Tika itu muncul &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/03/penyakit-fatal/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_613086_7795.jpg" alt="" width="290" height="290" />Jogja Gallery &#8211; Minggu siang, di antara ketenangan dan semangat menyaksikan lukisan-lukisan di sana, si <a title="Tika" href="http://www.tikabanget.com" target="_blank">Tika</a> tiba-tiba bersuara,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Leks, fatalis itu apa sih?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan seketika semua bualan dari otak saya mengalir keluar memberikan penjelasan segombal-gombalnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-347"></span>Ternyata pertanyaan Tika itu muncul karena sebuah lukisan sederhana  yang memberikan pesan singkat,</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><em>&#8220;Sebuah negara yang sakit, selalu membiasakan diri dengan idiom-idiom fatalis. Dan sebuah negara yang sehat hidup dengan idiom-idiom progresif&#8221;</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sederhana saja penjabaran lukisan tersebut. Ungkapan <em>&#8220;Cape Deh&#8221; </em>yang tergambar di lukisan itu, diartikan sebagai sebuah idiom fatalis. Mungkin saya bisa menjamakkan idiom-idiom lainnya seperti <em>&#8220;Udah becek, ga ada ojyek&#8221;</em> atau mungkin seperti <em>&#8220;meneketehe&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang itu hanya sebuah pesan lukisan. Goretan di atas kanvas yang kemudian berakhir dalam ruang-ruang hotel, atau ruang pribadi para kolektor berkantong tebal. Perbedaannya hanya soal tema lukisan saja. Seperti Minggu itu, kebetulan tema pameran lukisan tersebut adalah &#8220;Kebangkitan Nasional&#8221; dan segala tetek bengeknya soal nasionalisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Sering saya melihat, membaca dan menceritakan ulang kronologis semangat nasionalisme dalam panggung sejarah negeri ini. Tetapi membacanya kembali berulang-ulang bukanlah kegiatan membosankan. Apalagi saya tahu mereka, para pelaku seni ini, mencoba melihat dengan berbagai kacamata berbeda. Mereka paham pertentangan klasik antara kaum Nasionalis moderat dan Islam Konservatif soal &#8220;Kebangkitan Nasional&#8221; di masa lalu. Dengan gamblang mereka mempersembahkan kritik terhadap pandangan nasionalisme modern dan mental nasionalisme konservatif. Bahkan ada cerita sederhana soal persamaan kolonialisme di zaman perang dengan kolonialisme di zaman modal, dan dengan demikian berarti pula arti kemerdekaan bersemangat &#8217;45 dan kemerdekaan berkedok reformasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini bukan soal inspirasi si pelukis yang memang bisanya dia saja mencari ide buat jualan karya. Ini adalah soal refleksi, soal menaruh kaca di depan muka -mengutip istilah <a title="Momon" href="http://www.hermansaksono.com" target="_blank">Momon</a>. Ketika saya berjalan-jalan mengelilingi semua lukisan di Jogja Gallery tersebut, antara pikir dan perasaan teraduk-aduk di sana. Sebuah kesedihan dari optimisme yang surut. Sebuah gambaran negeri yang rusak. Sebuah sinisme tentang nasionalisme yang sakit akut. Dan ada sebuah kesan lebih dalam lagi, yaitu malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Iya! malu. Malu karena di sana saya menyaksikan sebuah kronologis sejarah membangun bangsa besar ini. Kronologis yang hadir dengan teks, cerita dan gambar visual. Entah sekedar sebuah photo tokoh-tokoh bangsa maupun ilustrasi kasar bergores acrylic. Dan ternyata hari itu saya hanya menjadi tukang menonton, membaca dan beromantisme bersama mereka, dari dulu hingga saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga malu, ketika tahu seorang mudi Jepang melakukan perjalanan menyusuri sejarah. Sendiri ia mengumpulkan cerita perjuangan bersenjata era penjajahan Jepang yang dilakukan PETA pimpinan Soepriyadi di Blitar. Sementara kita dengan mudahnya bicara nasionalisme lewat sebuah papan pengumuman <em>&#8220;Besok ada upacara bendera memperingati Kebangkitan Nasional&#8221;</em>. Selesai upacara bendera, merah putih berkibar dengan gagahnya, lalu kita bubar kembali pada kebusukan-kebusukan lokal. Curang, keserakahan dan ketidakjujuran menjadi rutinitas harian membuat saudara-saudara sebangsa berada dalam kungkungan penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekian banyak gambaran rusaknya nasionalisme yang dipaparkan di ruangan pameran tersebut, menjadikan saya bingung. Bingung karena negeri ini hanya diisi oleh penyakit-penyakit walau dikatakan sudah bangkit 100 tahun lalu. Seperti tidak ada celah untuk mengatasi penyakit bangsa ini? <em>Ah sial!</em>, tulisan ini pun menjadi sebuah keluhan. Ternyata saya dan tulisan ini memang hidup dalam idiom fatalis juga!</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin benar kata orang-orang alim itu. Hanya Tuhan yang bisa menyelesaikan segala kesemrawutan negeri ini. Mungkin hanya Tuhan yang bisa, <em>itu pun kalau Dia mau -</em>seperti ungkapan sebuah puisi gerakan terkenal.</p>
<p style="text-align: center;">-o0o-</p>
<p style="text-align: justify;">Sore sudah menapak di hari minggu cerah itu. Saya, Tika, <a title="Momon" href="http://www.hermansaksono.com" target="_blank">Momon</a> dan <a title="Dina" href="http://www.dinautami.com/" target="_blank">Dina</a> keluar dari ruang pameran tersebut dengan inspirasi nasionalisme masing-masing. Lalu sekelebat saya melihat hiruk pikuk sebuah berita di TV. Monas rusuh oleh keributan dan aksi kekerasan. Semua media nasional berebut bercerita dengan antusiasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya terpana sekejap. Tiba-tiba teringat berapa banyak lagi masyarakat miskin dan anak putus sekolah yang akan dilupakan? Dilupakan karena sebuah setingan busuk para serakah negeri ini yang bertopeng nasionalisme, bahkan nama Tuhan bisa disewa dengan sekian rupiah saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata fatalis tidak hanya sekedar idiom-idiom semata di negeri ini. Tetapi juga sudah menjadi kesimpulan hidup untuk menyembuhkan penyakit negeri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/03/penyakit-fatal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setengah Hari, Menjelang Siang&#8230;</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/05/30/setengah-hari-menjelang-siang/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/05/30/setengah-hari-menjelang-siang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 09:03:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Setengah Hari, Menjelang Siang&#8230; Matahari sudah mulai tinggi ketika saya beranjak malas menuju jalan raya, mencari angkutan umum, bus lokal Yogya yang bukan Transjogja. Tujuan saya hari ini adalah Babarsari. Kawasan Babarsari dikenal bagi pendatang baru sebagai kawasan yang notabene &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/05/30/setengah-hari-menjelang-siang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_604023_8373.jpg" alt="" width="290" height="377" />Setengah Hari, Menjelang Siang&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Matahari sudah mulai tinggi ketika saya beranjak malas menuju jalan raya, mencari angkutan umum, bus lokal Yogya yang bukan Transjogja. <span id="more-346"></span>Tujuan saya hari ini adalah Babarsari. Kawasan Babarsari dikenal bagi pendatang baru sebagai kawasan yang notabene dekat dengan <em>&#8220;kebebasan&#8221;</em> mahasiswa-mahasiswi Yogya-nya. Salah satu kawasan yang memang ramai oleh kampus-kampus swasta. Tetapi saya kesana bukan untuk menikmati pemandangan kerlap kerlip mahasiswi muda di area itu. Ada tanggung jawab tersisa dengan seorang dosen, mengharuskan saya datang ke kampus Atmajaya yang berlokasi di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya tidak ada Transjogja yang melewati daerah ini. Terasa aneh untuk sebuah kawasan ramai pendidikan tidak dilengkapi halte bis berlabel <em>&#8220;Kawasan Bebas Copet&#8221;</em> tersebut. Terpaksa saya menggunakan alternatif lain menggunakan bus lokal saja. Dan itu pun tidak lebih baik. Tidak ada bus yang melewati jalan sepanjang kawasan Babarsari. Saya harus turun di sekitaran Flyover Janti, dan kemudian berjalan kaki menuju Atmajaya. Sial. Padahal kantor Dinas Perhubungan Kota Yogya berlokasi di jalan Babarsari ini. Aneh saja kalau mereka tidak menyadari kebutuhan strategis angkutan di ruas 2 jalur depan kantor mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Walau sekian lama saya menjadi pelanggan Tejo (panggilan khas Transjogja), bukan berarti saya tidak menikmati bus-bus lokal butut yang sudah lebih dulu mewarnai Yogya. Seperti hari ini misalnya, saya bisa menikmatinya  dengan cara saya. Menjadi Pemerhati Kelas Marginal Kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Bus berwarna kuning dengan karat di sana sini itu terasa <em>sumuk. </em>Tetapi bukan itu yang membuatnya sepi penumpang. Persaingan angkutan umum yang murah dan nyaman sudah mewarnai trasportasi kota Yogyakarta sejak Transjogja beroperasi di bulan Februari 2008. Apalagi ditambah dengan naiknya BBM beberapa hari lalu. Wajar kalau pengguna angkutan umum jadi berhitung, dan pengusaha transportasi kota juga mulai mengencangkan ikat pinggang armadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam bus ini hanya ada saya, pak supir dan seorang nenek. Penampilan nenek itu khas sekali seperti kebanyakan warga miskin kota. Dengan kebaya hijau dan sarung lusuh, ditambah bawaannya <em>-yang entah apa , </em>dibalut kain selendang bermotif batik dengan bahan kelas dua. Namun saya bisa melihat sumringah di setiap lipatan kerut wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Obrolan sederhana si nenek dan pak supir sempat terdengar oleh saya. Walau dengan penguasaan bahasa jawa yang belum sempurna, tetapi saya cukup <em>dong</em> dengan obrolan tersebut. Kira-kira beginilah isi percakapan tersebut,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pulang dari pasar, Mbah?&#8221; tanya pak Supir</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya. Belanja buat dapur. Tadi baru saja dapat duit dari kantor pos.&#8221; jawab si nenek.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ooo bantuan BBM itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iyoo,..Sekarang semua-semuanya mahal&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ditabung, Mbah. Buat belanja-belanja lagi nanti. <em>Wis,..Sak</em> penting dicukup-cukupkan&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Rejeki cucu saya ini. Anak itu mau daftar SMP. Alhamdulillah&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagus itu.<em> Tak</em> doakan jadi orang pinter, iso bantu-bantu si Mbah nanti.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seketika saya jadi teringat kisah Subadra atau Dewi Rara Ireng dalam Mahabharata. Cerita wayang menggambarkan bagaimana bersedihnya beliau dalam mangu menyaksikan Arjuna sang suami pulang perang tanpa disertai sang putra satu-satunya Abimanyu. Tetapi dalam rasa yang berat itu, Rara Ireng masih menyisakan senyum, nasihat-nasihat dan energi bijak untuk cucunya. Putra Abimanyu yang kelak menjadi Pewaris 2 kerajaan Mahabharata, sang Prabu Parikesit.</p>
<p style="text-align: justify;">Bus berhenti. Si Mbah turun tertatih dengan ucapan terima kasih berkali-kali setelah pak supir menolak 2000 rupiah pemberiannya. Dua ribu rupiah yang menjadi ongkos normal yang belum kunjung naik mengikuti harga BBM.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas, turun dimana? Saya cuma sampai kantor imigrasi.&#8221; tanya si pak supir memecah lamunan saya yang hampir pilu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Disini saja, pak. Kiri.&#8221; jawab saya seketika, beberapa belas meter menjelang tikungan kantor Imigrasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah pecahan 500-an rupiah saya berikan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mas..mas.. ini kelebihan..&#8221; panggilnya, sambil membalik badan  menyodorkan saya dua keping logam 500 rupiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan saya menerimanya dengan tanpa sadar. Mulut saya terkunci untuk mengatakan <em>&#8220;Simpan saja, Pak&#8221;.</em> Padahal, saya memang sekenanya saja mengambil lebih recehan 500-an rupiah dalam saku saya tadi.  Karena <em>toh </em> ongkos perjalanan singkat ini saya anggap terlalu mahal walau untuk sejumlah recehan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya melihat teriknya sinar matahari di jumat siang ini. Asap kendaraan mengepul dari knalpot mobil-mobil berkaca gelap yang melaju. Panasnya matahari mulai menyengat setiap pori. Dan tujuan saya masih beberapa puluh meter lagi..</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/05/30/setengah-hari-menjelang-siang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertaruh</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/05/26/bertaruh-2/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/05/26/bertaruh-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 03:19:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Ecco perché non ho mai scommesso su di esso, Fratello… I never bet on it, bro.. Itu bener. Gw ga pernah bertaruh dalam urusan itu (lagi). Urusan bertaruh dengan satu itu, tidak cuma soal egois pribadi. Ada 2 ego yang &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/05/26/bertaruh-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ecco perché non ho mai scommesso su di esso, Fratello</em><em>…</em></p>
<p>I never bet on it, bro..</p>
<p>Itu bener. Gw ga pernah bertaruh dalam urusan itu (lagi). Urusan bertaruh dengan satu itu, tidak cuma soal egois pribadi. Ada 2 ego yang dibanting-banting dan dikocok-kocok sampai terjawab, menang berbahagia atau sakit berkalang resah.</p>
<p>Tapi lu musti inget! Dulu siapa yang bilang ke gue <em>&#8220;Wanita hebat itu adalah yang berani mendampingi lu di saat gelap hingga terang. Bukan sekedar wanita yang menyicip kebahagiaan dan gemerlap lu!&#8221;</em> ??</p>
<p>Sayangnya, sekarang lu dan gue sama-sama tahu. Cuma beberapa persen wanita yang berani mengambil secara hebat posisi itu. Dari sekian banyak yang kita kenal selama ini, ternyata tidak lebih dari sepuluh jari kita, bukan?</p>
<p>Bro,&#8230;<br />
Sekarang saat lu bertaruh..<br />
Silahkan kalian kocok dadunya bersama.<br />
Atau tutup saja meja ini. Dan kita maen gaplek saja!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>*niru2 gaya si Mbok, mosting pendek soal terlarang sambil nitip pesan </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/05/26/bertaruh-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

