Posts Tagged ‘Kapucino’

Diskalimer

Friday, June 6th, 2008

Beberapa postingan lewat memang lebih banyak berbicara soal negeri ini. Entah kenapa di antara UAS di semester-semester tak berakhir ini, justru otak ini tidak berhenti berpikir untuk melihat apa yang terjadi disekitar. Terlalu banyak kekhawatiran? Atau mungkin saya berteman dengan orang-orang yang salah selama ini?

Kadang saya bermimpi seandainya hidup cuma sekedar dilewati sebatas sekolah, bekerja, menikmati sore dan malam hari bersama kekasih, jalan-jalan sore, tidur dan terjaga lagi esok dengan aktifitas serupa. Sepertinya teman-teman saya yang melewati hari-hari seperti itu hidup dalam tawa dan bahagia-bahagia saja.

Tetapi hidup memang berjalan berbeda untuk setiap orang. Jika cap pemikir rumit, orang edan, sok serius bahkan lagak aktifis sekalipun ada di jidat saya, itu hanya urusan peran yang ditetapkan lauhil mahfudz sana. Saya tidak pernah perduli dengan segala cap itu. Saya cuma berjalan dengan apa yang saya rasa benar, belajar dari hidup yang saya rasa wajar.

Sekian banyak aktifitas saya cuma dilalui dengan pikir dan perbuatan. Berpikir dan berbuat. Satu-satunya kegiatan hidup saya yang menyerempet aktifitas ala aktifis, hanya karena terlibat di jurnalisme, yang menjadikan beban sebagai orang sok pengen tahu. Harus berteman dan mengorek-ngorek rahasia dunia dari pemikir-pemikir berat itu. Sementara saya sendiri tidak pernah berpikir dalam berat. Pekerjaan membaca jelas iya, menuliskan opini adalah senjata. Tetapi turun ke jalan? Ah, sejauh ini saya cuma singgah dari pustaka usang sampai kegiatan sosial lainnya. Cuma se-cemen itu saudara-saudara

Jadi jika cap aktifis itu menjadi asumsi publik yang negatif bagi seseorang, itu urusan asumsi busuk anda. Dan lebih baik lupakan saja harga itu ada di dompet saya. Dan saya pun menganggap anda tidak mengenal saya dengan baik. Deal?

Dalam Doaku

Thursday, June 5th, 2008

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)

Selamat Menikmati Bulan Juni yang penuh cinta. Bulan Juni yang penuh nista. Dan bulan-bulan lain yang menunggu derita.

Penyakit Fatal

Tuesday, June 3rd, 2008

Jogja Gallery - Minggu siang, di antara ketenangan dan semangat menyaksikan lukisan-lukisan di sana, si Tika tiba-tiba bersuara,

“Leks, fatalis itu apa sih?”

Dan seketika semua bualan dari otak saya mengalir keluar memberikan penjelasan segombal-gombalnya.

(more…)

Setengah Hari, Menjelang Siang…

Friday, May 30th, 2008

Setengah Hari, Menjelang Siang…

Matahari sudah mulai tinggi ketika saya beranjak malas menuju jalan raya, mencari angkutan umum, bus lokal Yogya yang bukan Transjogja. (more…)

Bertaruh

Monday, May 26th, 2008

Ecco perché non ho mai scommesso su di esso, Fratello

I never bet on it, bro..

Itu bener. Gw ga pernah bertaruh dalam urusan itu (lagi). Urusan bertaruh dengan satu itu, tidak cuma soal egois pribadi. Ada 2 ego yang dibanting-banting dan dikocok-kocok sampai terjawab, menang berbahagia atau sakit berkalang resah.

Tapi lu musti inget! Dulu siapa yang bilang ke gue “Wanita hebat itu adalah yang berani mendampingi lu di saat gelap hingga terang. Bukan sekedar wanita yang menyicip kebahagiaan dan gemerlap lu!” ??

Sayangnya, sekarang lu dan gue sama-sama tahu. Cuma beberapa persen wanita yang berani mengambil secara hebat posisi itu. Dari sekian banyak yang kita kenal selama ini, ternyata tidak lebih dari sepuluh jari kita, bukan?

Bro,…
Sekarang saat lu bertaruh..
Silahkan kalian kocok dadunya bersama.
Atau tutup saja meja ini. Dan kita maen gaplek saja!

 

 

*niru2 gaya si Mbok, mosting pendek soal terlarang sambil nitip pesan