Politik Wayang

Hampir sepuluh tahun saya berada di tanah Jawa. Makan dan minum dari tanah yang petaknya paling kecil dibanding 4 pulau besar lainnya di Indonesia. Padahal saya sendiri tidak pernah berpikir akan berdiam lama di pulau ini. Tetapi saya menikmatinya. Semakin lama saya menikmatinya, semakin mengolah pikir dan rasa. Proses dewasa dan sosial pribadi saya juga erat sekali dengan pulau wayang ini.

Continue reading

Resah Karena Tai

Ratu Boko ViewTeronggok seperti tai. Walaupun bau tetapi memikat penasaran untuk dilihat oleh mata. Itulah cinta, sayang. Maka tidak heran jika ada orang yang mengatakan cinta itu sama dengan tai. Bahkan aku juga paling anti mengucapkan kalimat ini – “Aku Mencintai mu”. Karena bagiku, kalimat itu sangat mudah dipelesetkan menjadi “Aku Mencium Tai mu”.

Continue reading

Percakapan Beda Dunia

Indonesia EnlightmentKawan, aku kembali kepada cerita tentang kondisi yang memiriskan hati. Lebih tepatnya bukan kembali. Tetapi memang setiap saat, setiap hari, setiap aku membuka koran, internet, blog dan bahkan membuka mata dan telinga ini (dari dulu), seolah-olah angin sekitar aku mengabarkan bahwa negeri ini benar-benar berada dalam kerusakan. Dari kerusakan alam, kerusakan moral, kehancuran nilai kemanusiaan, rusaknya hukum yang adil sampai kerusakan bangunan sosial.

Continue reading

Label Blog Lagi?

Blog WarSabtu kemarin di Kafe Djendelo, saya ngga sengaja malah mengulik hal “kemana aja lu, Mon!” bersama seorang teman. Ya kembali masalah label, terutama label blog. Apa pentingnya ngebahas itu? Pertanyaan sederhana saja, label apa yang anda sosorkan ke blog ini ketika mulai membaca dan mengenal blog ini? Semoga saja bukan label kalau si penulis adalah seorang residivis .. hahaha….

Continue reading

Evolusi Kota

Bioskop Menteng

Saya bukan seorang “The Jak Mania”. Hanya seorang fans sepak bola dengan klub favorit tidak tetap, sekedar menikmati indahnya menunggu detik-detik gol terjadi. Juga mencintai tim nasional negeri ini dengan setulus hati. Walaupun manajemen dari PSSI yang “ngaco” itu terus bikin saya makan hati sebelah.

Saya tidak bicara mengenai PSSI yang amburadul itu. Cuma secara tidak sengaja, diantara blogwalking malam sabtu lalu, terdengar kabar sebuah perlehatan akbar di Taman Menteng Jakarta. Nama Menteng memutar sedikit kenangan manis saya di awal tahun 2002 ketika menunggu seseorang disana. Waktu itu tidak ada yang namanya Taman Menteng nan indah dan classy itu. Hanya Stadion Menteng milik PERSIJA saja, dan saya saat itu cuma “mencari aman” menunggu di salah satu warung kaki lima terdekat.

Continue reading

Soeharto Lagi..??

Pak HartoMemang Bapak Pembangunan satu ini mengundang banyak cerita dan kontroversi. Dari sejak beliau masih menjadi kadet TKR, hingga sudah berakhir di alam kubur. Saya membahas beliau 2 post belakang, dan komentar yang muncul pun cenderung muales ngebahas beliau. Kenapa males? Apa karena kasus beliau lebih tidak menarik dibanding menggilanya gosip bahwa Dian Sastro ngeblog? (hee.. ini bukan gosip! Saya udah ninggalin koment 10 kali disana .. huahahahahah)

Lucu memang. Bloger yang notabene diharapkan menjadi “Suara Baru Indonesia”, malah lebih suka kisruh dengan ramai-ramai dunia mereka sendiri. Seleb – nonseleb jadi gunjingan trekbek bersama, anonim yang menyerang saja diributin, bloger palsu juga dipermasalahkan, komentar bloger ngeyel juga dilempari bareng-bareng, style ngeblog curhat atau agamis atau atheis atau ngesex bisa berujung bunuh diri, dan seringnya nyampah dimana-mana dengan komentar pertamax – keduax – pertamina – minyak tanah.

Lha terus bloger itu bagaimana dong, Mas? Hahaha.. ndak tahu saya. Saya bukan dewa-dewinya alam per-bloger-an. Wong saya juga masih suka nganu-nganu seperti yang tertulis diatas itu kok. Tapi “paling tidak” saya punya mimpi bloger itu tidak menjadi Suara Baru sahaja seperti didengung-dengungkan dahulu kala di Oktober 2007 oleh bapak Menteri kita. Tetapi juga bersuara dengan NURANI.

Nurani situ teriak apa ya monggo tuliskan. Nurani situ bergundah-gulana dengan harga tempe, ya hayuk kita kita ngeblog di angkringan. Nurani situ patah hati, ya sinih sharing-sharing bersama ngurangi beban (eh ini curhat juga ya namanya..?? :) ) ). Terlebih lagi sangat bersyukur kalau nurani situ semua gatel pengen bikin sesuatu yang keliatan – bukan cuma nulis menghabiskan bandwith Indonesia Raya ini.

Lha saya kok jadi seperti bloger-bloger curhat yak.. ?? :) ) Ga papalah, saya bukan sedang sedih, atau bete ini. Curhat kan ga selalu pas lagi bete atau patah hati. Atau jangan-jangan karena SMS saya ndak pernah dibales-bales (huss.. itu bukan urusan situ!!). Sekarang ini saya curhat sambil ber-du-di-dam-dam dengan hati senang. Kok bisa??

Continue reading

Ketika Soeharto

Soeharto-SoedirmanKetika Soeharto langser, saya saat itu aman sentosa sedang mengkuti proses penerimaan Siswa Baru di calon SMU saya. Berhubung panjang dan ruwetnya pendaftaran, ditambah dengan ala militer-nya itu, jadi saya sama sekali tidak paham apa yang terjadi diluar sana. Saya baru paham setelah diterima di sekolah itu dan menyelesaikan semua kegiatan awal-awal seorang siswa baru. Dan “JRENG”, saya kaget atas apa yang terjadi dari cerita-cerita surat kabar.

Kok bisa saya tidak tahu? Padahal itu adalah kejadian paling bersejarah yang seharusnya tidak luput dari siapapun di negeri ini. Yap, demikianlah hebatnya sebuah kehidupan militer. Setiap instansi militer memiliki tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Walaupun mungkin secara tidak langsung kondisi nasional mempengaruhi, tetapi manajemen secara hirarkis komando memungkinkan kondisi sedemikian rupa sehingga dalam konteks interen instansi tersebut tidak terpengaruh. Ditambah saya sendiri yang kala itu masih imut muda dengan otak yang belum tercemar suka sok cari tahu seperti sekarang. Sangat wajar kalau saya kaget saat itu.

Dan hari Minggu lalu, ketika saya masih senang-senangnya bertarung dengan sampah dan berbahagia dengan teman-teman baru, saya mendapat kabar si Eyang telah meninggalkan kita semua. Saya teringat waktu itu saya dapat informasi “juga dengan KAGET”. Mungkin Kang Heri, Om Denden dan Uncle Goop tidak sadar kalau saya kaget karena berita dari mereka itu. Tetapi asli saya kaget. Soalnya baru saja paginya, kira-kira pukul 4 pagi, saya melihat Detik masih mengabarkan beliau membaik kondisinya. Malahan saya yakin beliau bisa sehat kembali, walau cuma untuk memperpanjang umur sebentar saja. Kenyataannya berbeda, Tuhan paling tahu apa yang pantas dan tidak pantas.

Saya langsung meng-SMS Anto yang saat itu sedang tebar pesona di bawah pohon rindang. Sekaligus “sms to group” lainnya ke beberapa teman. Ternyata saya lebih dulu tahu daripada beberapa teman yang notabene berada di Kota. Ada yang sedang menghabiskan siang bersama pacar, ada yang sedang sibuk ngurusi calon bini yang rewel minta kawin, ada juga yang masih nguli lembur jaga BTS telephone nya Malaysia, ada juga yang baru check out hotel sama TTM-nya. Lha saya sendiri sedang istirahat dari berburu sampah di pandai Pandansari, belah selatan Pulau Jawa.

Dari awal januari, kita menunggu beliau lewat berita-berita TV dan koran yang menghebohkan. Sepanjang rentang waktu itu pula kita ribut-ribut. Ada yang berkoar-koar tentang urusan hukum beliau yang tertunda-tunda. Memaafkan menjadi sebuah permintaan massal, padahal urusan ini adalah sesuatu yang sangat personal. Di lain sisi, keadilan yang merupakan tanggung jawab bersama sebagai bangsa taat hukum, malah di boyong kearah ranah personal.

Saya cuma bisa mendehem saja melihat riweuh-riweuh itu, bersama tumpukan deadline yang malas saya kerjakan. Hanya bisa berharap, cukup sekali saja kita kehilangan seorang Pemimpin Besar dengan status dipertanyakan, meninggal dalam tahanan sendirian tanpa suatu kepastian hukum, membingungkan generasi muda seperti saya untuk mengenal sang Pemimpin Bangsa lebih dekat dengan bangga – entah baik atau buruknya.

Seperti kata para simpatisan Nixon “si Presiden Watergate”, mereka berani bicara lantang dengan bangga “Wrong is wrong , but i like whats the best he can did.”

 

*Gambar di-scan dari “Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”. Sebuah buku yang saya peroleh gratis dari Alm. Soeharto ketika temu wicara dengan beliau di Jakarta, Agustus 1996.

Campaign atau Kampanye?

Cuma lagi iseng. Udah nemu iklan kampanye yang sama 2 kali di Internet, dan sekali di jalan.

Stop Using Plastic

Sepengetahuan saya sampah plastik paling banyak dipakai mbok-mbok di pasar rakyat, dan pembantu-pembantu rumah tangga.

Semoga mereka cukup ngerti bahasa bule walau sekedar dari telenovela-telenovela bilingual kita :D

 

*gambar menumpang di Hosting si Matt, make akun om didut .