<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; Lingkungan</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/lingkungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Aug 2010 13:23:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Plastik Itu Tidak Gratis!</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/02/02/plastik-itu-tidak-gratis/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/02/02/plastik-itu-tidak-gratis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 21:56:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Como Italia]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Plastik]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/02/02/plastik-itu-tidak-gratis/</guid>
		<description><![CDATA[Melirik kembali ke soal plastik. Sebenarnya ini adalah antrian post-post saya yang didahulukan. Jadi mohon maaf kalo flow ngeblog-nya seperti &#8220;tari poco-poco&#8221;. Begini, dalam komentar di postingan mengenai BAHASA KAMPANYE kantung &#8211; tas plastik, Mas Veta yang baik hati itu mengingatkan saya, bahwa sebenarnya Mbok-mbok di pasar itu malah lebih mengerti arti menjaga lingkungan dibandingkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/02/dscn1027.jpg" title="Tepi Danau Como Itali"><img src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/02/dscn1027.jpg" alt="Tepi Danau Como Itali" align="left" hspace="7" /></a>Melirik kembali ke soal plastik. Sebenarnya ini adalah antrian post-post saya yang didahulukan. Jadi mohon maaf kalo flow <em>ngeblog</em>-nya seperti <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/01/time/233913/idnews/887977/idkanal/10" title="Parpol-parpol mulai menari-nari" target="_blank">&#8220;tari poco-poco&#8221;</a>.</p>
<p align="justify">Begini, dalam komentar di postingan mengenai<a href="http://www.kapucino.org/2008/01/21/campaign-atau-kampanye/" title="Bahasa enggres, jowo, sunda, apa Aceh baiknya??" target="_blank"> BAHASA KAMPANYE kantung &#8211; tas plastik</a>, <a href="http://mandrabros.org/" title="Mas Veta Juru Kunci Kroners" target="_blank">Mas Veta</a> yang baik hati itu mengingatkan saya, bahwa sebenarnya Mbok-mbok di pasar itu malah lebih mengerti arti menjaga lingkungan dibandingkan saya dan mungkin anda-anda yang suka belanja di Supermarket. Kenapa?</p>
<p align="justify"><span id="more-243"></span> Sederhana saja. Karena hal ini mengingatkan saya dengan nenek saya, ibu saya dan ibu-ibu di kampung saya nun jauh di sana. Beliau-beliau senang sekali mengumpulkan tas-kantung plastik yang diperoleh dari belanjaan. Apalagi kalau plastiknya besar-besar. Dan setiap berangkat ke pasar, mereka selalu membawa segulung tas-kantung plastik, selain uang dalam dompet kecil khas oleh-oleh dari toko emas.</p>
<p align="justify">Coba bandingkan dengan saya. Seorang lelaki yang sok berlaku <strike>metrosexual</strike> mandiri, belanja di supermarket atau minimarket untuk kebutuhan sehari-hari. Datang dengan tangan kosong, <em>peleh di peleh</em> barang sambil mata menerawang gadis-gadis <em>single</em>, kemudian menuju kasir, dibungkus oleh mbak kasir yang manis, dan pulang ke kontrakan. Sesampai di kontrakan, plastik dibuka, barang diatur-atur, dan kantung plastik <em>diremes-remes</em>, ambil posisi <em>three point shot,</em> lempar, dan mendarat ke box sampah saya.</p>
<p align="justify">Jangankan mengumpulkan kantung-kantung plastik itu. Segala sampah termasuk tisu basah <strike>juga kondom kadaluarsa</strike>, mau tidak mau saya harus <em>ngedump</em> segalanya ke tempat sampah besar di sekitar kontrakan.</p>
<p align="justify"><em>Ini sih masalah budaya dan duit, Om. </em>Saya juga berpikir demikian awalnya. Terbayang kalau setiap tante-tante dan manusia kelas sosial atas kita berbelanja di Mal membawa kantung-kantung plastik sendiri. Bagaimana memalukannya. Dandan cantik-cantik dan ganteng-ganteng, <em>lha</em> kok bawaannya kantung plastik yang dikepit di ketiak? Lebih baik rugi 50 perak daripada menanggung malu bukan?  50 perak yang sudah dihitung dari belanjaan, makanya diberikan gratis di meja kasir.</p>
<p align="justify">Suatu malam saya sedang ngobrol gila-gilaan dengan seorang teman (wanita pastinya..) yang kebetulan beliau sedang berada di <a href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;client=firefox&amp;rls=FlockInc.:en-US:official&amp;hs=cIj&amp;sa=X&amp;oi=spell&amp;resnum=0&amp;ct=result&amp;cd=1&amp;q=Como+Italy&amp;spell=1" title="Lebih banyak Info dari Google Ketimbang Wiki" target="_blank">Como</a>. Sebuah daerah kecil di belahan negara Italia, negara tujuan saya mengungsi nantinya kalau-kalau Indonesia berdarah-darah lagi ala mafia. Dalam obrolan itu, Mbak Cyn, begitu saya memanggilnya, bercerita sesuatu yang justru terdengar hebat oleh saya yang kampungan ini.</p>
<p align="justify">Di Como sana, tidak ada pasar-pasar rakyat ala Indonesia. Wah,.. kecewa saya. Padahal salah satu hobi saya yaa nongkrong di sekitar sana pagi-pagi buta, ketika penjual sayur sibuk <em>ngurusi</em> dagangan. Mereka di Como sana sudah maju, pasar nya juga supermarket. Kalau mau belanja, <em>sagala aya</em> dalam satu atap. Begitu juga dengan minimarket nya.</p>
<p align="justify">Tapi sayangnya, di sana itu jangan harap anda bisa menemukan kantung plastik gratis di meja kasir. Karena kantung plastik juga dijual di meja kasirnya. Ya harus bayar, enak saja gratis, memangnya plastik diproduksi pakai dengkul <em>doang</em> apa?</p>
<p align="justify">Di supermarket-minimarket disana, kantung-kantung belanjaan itu ditawarkan beberapa model. Ada yang kantung plastik, ada yang kantung kertas, ada juga kantung sejenis plastik yang <a href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;client=firefox&amp;rls=FlockInc.%3Aen-US%3Aofficial&amp;hs=uGj&amp;q=biogradable&amp;btnG=Telusuri&amp;meta=" title="Tanya Google Ajah.." target="_blank"><em>biogradable</em></a>.  Dan bagusnya lagi, warga sekitar minimarketnya lebih tahu diri, mereka lebih memilih membawa kantung belanjaan mereka sendiri. Dan itu tidak dilarang, tidak memalukan dan biasa saja bagi mereka.</p>
<p align="justify">Saya mendengar cerita itu, malah terbayang &#8211; <em>ngimpi pengen</em> bikin supermarket sekelas Carefour atau Hypermart. Dimana saya bisa sediakan berbagai model kantung-kantung belanjaan, yang bisa dipilih-pilih pembeli. Cukup 3 model seperti di Como saja juga tidak apa-apa, tentu dengan harga bervariasi. Yang jelas tidak gratis!! (enak saja..). Dari kantung-kantung belanjaan itu,.. kira-kira bisa dapat 500 rupiah, dikali ratusan pengunjung sehari, omzet perbulan&#8230; Wahh.. cukup itu buat ngebayar orang misah-misahin sampah organik dan nonorganik dari supermarket saya.</p>
<p align="justify">Thx to : <a href="http://cynthinks.blogspot.com/" title="Cynthinks alias SINTING!" target="_blank">Cynthia</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/02/02/plastik-itu-tidak-gratis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How&#039;s Green Are You?</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/12/06/hows-green-are-you/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/12/06/hows-green-are-you/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 21:36:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/12/06/hows-green-are-you/</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang kecanduan Pacebuk™. Iya, memalukan memang. Gara-gara ada orang yang meminta untuk membangun aplikasi thirdparty ke si Pacebuk™ ini, membuat saya membuka lagi akun saya yang telah lama ditinggal kosong begitu saja, saya keliling untuk mempelajarinya, otomatis mencoba bermain-main dengan applikasi yang ada. Ternyata invited dari teman-teman juga sudah banyak. Ya sudah, sekalian confirm. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://www1.istockphoto.com/file_thumbview_approve/3030341/2/istockphoto_3030341_the_environment.jpg" alt="Enviro" align="left" hspace="7" width="270" />Saya sedang kecanduan <a href="http://www.facebook.com" title="Facebook" target="_blank">Pacebuk™</a>. Iya, memalukan memang. Gara-gara ada orang yang meminta untuk membangun aplikasi <em>thirdparty</em> ke si Pacebuk™ ini, membuat saya membuka lagi akun saya yang telah lama ditinggal kosong begitu saja, saya keliling untuk mempelajarinya, otomatis mencoba bermain-main dengan applikasi yang ada. Ternyata <em>invited</em> dari teman-teman juga sudah banyak. Ya sudah, sekalian <em>confirm</em>. Jujur saja lebih menarik dari <a href="http://www.friendster.com" title="Friendster" target="_blank">Prenster™</a> dan <a href="http://www.myspace.com" title="MySpace" target="_blank">MySpace</a> memang. Karena  membuat tiap individu beda dengan ketertarikan tersendiri terhadap fitur-fitur pilihan mereka. Mengenal seseorang dari apa yang menjadi <em>interest</em> buat mereka adalah hal yang menarik buat saya. Dan resikonya ketahuan apa? Saya menjelajah seluruh network teman-teman, mencari link-link diskusi buat kerjaan, melihat dan mencoba beragam aplikasi yang menarik, bermain-main dengan game lucu dan malah menginfeksi teman-teman yang belum bergabung!</p>
<p align="justify">Tetapi CUKUP! Gejala puber kedua setelah Prenster™ ini harus dicegah. Bukan hanya karena tujuan awal untuk belajar tadi itu, tetapi lebih karena sebuah aplikasi <em>thirdparty</em> yang menyentuh sedikit hati saya. Dengan nama aplikasi &#8220;Seberapa hijau saya&#8221; yang dalam bahasa Inggris dibaca &#8220;<em>How&#8217;s Green Are You?</em>&#8220;</p>
<p align="justify">Disana ada sebuah ungkapan menarik dari diskusi di forumnya. Sebuah pertanyaan seberapa hemat saya dalam menggunakan Internet. Bahkan lebih serem lagi bertanya, seberapa hemat saya menggunakan <em>resource Hosting, Space </em>dan<em> Bandwith</em>. Oh ada juga lebih ekstrim lagi, pertanyaan seberapa besar<a href="http://polygeek.com/419_weatherglobal-warming_optimized-code-could-help-reduce-global-warming" title="Optimized Code Could Help Reduce Global Warming" target="_blank"> efisiensi seorang programmer dalam membangun aplikasi dengan kode-kodenya</a> yang hemat dan <em>ga</em> berputar-putar bikin komputer dan user <em>lelet puyeng-puyeng</em>! Terlihat gila? Awalnya saya juga berpikir begitu.</p>
<p align="justify">Tetapi coba dipikir, walaupun pengaruhnya sangat kecil mungkin, tetapi ini berefek juga pada emisi gas buang. Generator listrik Hosting-hosting server di US itu menggunakan bahan bakar. Belum lagi kita juga menggunakan listrik walau sekedar men-<em>charge</em> laptop saja. Ditambah pula dengan berinternet hanya untuk ngider-ngider di Prenster™, chating nakal, atau malah ada yang mungkin download sesuatu yang &#8220;tidak jelas kebutuhannya&#8221;.</p>
<p align="justify">Tersindir? Sama. Menyindir saya juga kok. <em>Saya nyadar</em> kalau saya masih memilih mendownload film dari pada berjalan kaki ke rental atau toko DVD. Saya <em>ngerti</em> musik Rock di komputer saya masih berasal dari MP3 bajakan hasil unduh. Dan saya memahami lain-lain yang membuktikan bahwa saya belum berhemat energi.</p>
<p align="justify">Sebenarnya hal yang kecil-kecil begini terlalu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sementara <a href="http://globalwarming.detik.com/" title="UN Climate Change Conference 2007" target="_blank">bos-bos NGO di Bali </a><em><a href="http://globalwarming.detik.com/" title="UN Climate Change Conference 2007" target="_blank">sono</a> </em>pada<em> ngobrolin</em> pokok-pokok bahasan <em>Global Warming </em>yang<em> </em>masih &#8220;melangit&#8221;. Mereka berbicara pada tataran bagaimana berjual-beli emisi dengan kebun dan hutan. Sedangkan kita masih belibet dengan urusan mengatur sampah rumah tangga, Busway anti macet, atau kredit motor. Walaupun memang tidak bisa menjauhkan diri kita sebagai sebab panas yang makin tinggi di muka bumi, tetapi meminta kita menyadari Danau Chad yang mengering, beruang kutub yang terbunuh atau Kilimanjoro yang tidak ber-es lagi, masih terlalu mengawang-awang dari pemahaman kebanyakan dari kita.</p>
<p align="justify">Tetapi di lain sisi, ada orang-orang yang ribut bahwa muka air laut naik akibat Global Warming, tetapi kurang menyadari peran pembangunan kawasan pantai hingga membabat bakau malah menjadi sebab yang mempercepat air laut naik. Kita teriak-teriak banjir disebabkan pola iklim yang sudah berubah, tetapi tidak sadar tata kota yang buruk dan sampah menggunung menjadi sebab utama. Pemerintah menyalahkan petani tradisional sebagai sebab hilangnya hutan, padahal izin HPH untuk si konglomerat dan buldozer-nya bisa diatur dengan kongkalikong tak terjangkau hukum. Program ini itu dari pemerintah untuk mengurangi kemacetan dan emisi gas buang, tetapi ikon komersialisasi dan kemewahan terus di<em>support</em> demi lakunya pasar kendaraan bermotor.</p>
<p align="justify">Saya tidak tahu apa yang dibicarakan di Bali, apa keputusan yang mereka buat di sana atau lebih tepatnya apa manfaatnya bagi dunia, dan Indonesia Raya ini khususnya. Selain terbayang di kepala saya entah berapa banyak deal-deal bisnis yang tersebar, proyekan ini-itu yang menjadi target broker-broker nakal pemerintah. Jujur, itulah <em>sudzon-nya</em> saya ketika melihat hebatnya perlehatan expo lingkungan disana lewat televisi.</p>
<p align="justify">Ah sudahlah. Kembali saja ke awal tadi, ke si Pacebuk™. Mungkin bisa jadi nanti saya memakai Internet ini untuk mencari kebutuhan buat kerjaan saja. Kemudian menutup si Pacebuk™ dan segala akun saya di website yang tidak berguna. Atau mungkin sekalian saja saya tutup ruang komentar blog ini dan anda-anda tinggal mengirit emisi dengan membaca lewat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Feed_reader" title="Feed Reader Definition" target="_blank">Feed Reader</a> atau kopi saja satu Kapucino.Org lewat <a href="http://gears.google.com/" title="Google Gear" target="_blank">Google Gears</a> ??</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/12/06/hows-green-are-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
