Leak dan Framing Media

Standard

Dalam bukunya Real Peace (1983), Nixon menuliskan sebuah quote terkenal “Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war”. Dan quote itu cukup membuktikan kiprah luar biasanya dalam penghentian pengembangan senjata nuklir balistik dengan Uni Soviet yang dikenal dengan nama SALT (Strategic Arms Limitation Talks) 1969. Bersama Leonid Brezhnev dari Uni Soviet, Nixon mengumumkan akhir dari perang dingin yang melibatkan kebrutalan spionase antara kedua negara.

Continue reading

Di Sun

Standard

 

“Sebenarnya ada acara apa disini, Mas?”, tanya saya.

Nemenin si Bos, ada rapat”, jawab nya.

“Rapat kok ampe’ ke Jogja. Gedung di Jakarta kurang gede apa?”

Biasssalaahh,.. akhir tahun. Ntar lagi kan tutup anggaran..”.

Dan keluarlah segala gosip seputar instansi pemerintah tempat kawan saya itu bekerja. Dari masalah budget rapat, pemenang tender siluman, naik pangkat, intrik partai, dan lain lain dan sebagainya.

 

Obrolan itu berlangsung November lalu, ketika sang kawan bertemu saya. Pagi ini saya baca koran di warung makan, isinya seputar DIPA ini DIPA itu – bersanding dengan berita bencana ini bencana itu. Bacaan yang mengaduk-aduk emosi untuk diungkapkan.

Mau senyum-senyum kok ga enak karena di sini banyak cewe-cewe cantik lagi makan, ntar dikira saya gila. Mau pasang muka jutek, kasihan kalau ternyata ada yang naksir saya malah ga jadi.

 

Ah,.. padahal saya berharap bisa di-sun oleh mereka.

Gegap Gempita Pesta Blogger Dalam pestablogger.com

Standard

Illustration about Blog“Saya suka membagi pemikiran saya di dalam Blog”.

Yap, mungkin cuma itu jika ada yang menanyakan kepada saya mengapa menulis blog. Anda bisa melihat Cloudy Tags saya yang sangat ribet dan campur aduk kayak sayur asem diatas. Itu hanya sekedar menunjukkan bahwa memang saya ingin membahas banyak hal dengan semua pembaca blog saya. Cuma sesimpel itu, tanpa embel-embel “I’m a Bloggerrr..” atau “Long life Citizen Journalism…”.

 

Saya memulai menulis di Internet ketika Cybersastra.Net masih eksis. Sekedar sharing puisi dan gejolak pemikiran muda bersama para komunitas sastra online – yang notabene dulu juga sempat dianggap oleh sastrawan senior sebagai komunitas sastra abal-abal/puisi sampah – sastrawan yang tidak mendapat tempat. Paling tidak itu kesimpulan yang saya peroleh ketika berbincang dengan sesama rekan cybersastra pada saat pertemuan di Bandung – 2002-2003 . (Apakabar Teh Sireum Hideung ? :) ).

 

Kemudian sempat juga membuat blog di Blogspot. Sayangnya saya lalu menghilang dalam gemerlap dunia perkampusan (ya standar lah, gosip sana sini – nongkrong luar-dalam kampus dan pacaran..hehehe). Dan akibat lama tidak update, saya lupa account di blogspot tersebut. Maklum, karena masih suka gonta ganti email waktu itu, makhluk polos baru kenal Internet, semua email provider saya subscribe, semua feature internet saya coba(dari game sampai Adult Content.. hahaha).

 

Kemudian, pernah mencoba menulis blog dari tawaran domain pribadi di leksanadra.com. Sekarang sudah mati, setahun lalu kalau tidak salah matinya. Dan kini saya menggunakan Kapucino.Org, yang kini sudah berumur setahun, walau post nya baru dimulai di bulan Desember 2006. Archives lama dari Kapucino bisa dilihat di Blog-Indonesia.

 

Nah, berarti saya memang bukan seorang senior blogger, setahun bukan lah waktu yang bisa dibilang senior bloggerdalam beberapa “kamus” blogger. Tetapi saya pernah mengikuti rame-rame pembahasan mengenai blog dan citizen journalism – saya mengikuti kisah-kisah dari “jangan sembarang kopi paste”, penahanan polisi terhadap seorang blogger hingga cekcok antara blogger dan Roy Suryo. Dalam pemahaman saya, kasus-kasus tersebut tidak memberikan unsur penekanan mendukung sesama blogger “Karena Kami Blogger“. Bagi saya bukan disana penekanannya, walaupun banyak senior blogger yang beropini dan menyuarakan gegap gempita bahwa sesama blogger harus bersatu, atau “mari-mari dukung teman kita sesama blogger“.

 

Tujuan penegasan saya di atas adalah untuk menghindari patronase dalam menulis/berpendapat atau mengikuti sebuah komunitas. Mungkin itu kalimat paling nyaman untuk mengungkapkan hal-hal diatas. Menjadi blogger bukan berarti sekonyong-konyong sekedar mengikuti trend, bahkan pendapat dan suara pun jadi ngikut trend. Sama halnya ketika kita berada dalam pergaulan sosial lainnya. Sebagai contoh, misalkan saya berada/tergabung dalam sebuah komunitas – lingkungan, jika memang alam pikiran saya berkata ada sesuatu hal yang tidak sesuai dan tidak benar, maka sepatutnya disuarakan. Bukan se-abal-abal malah mengikuti trend atau idol atau senior dalam komunitas saya tersebut.

 

Blog adalah sebuah media penulisan dalam internet dimana semua orang dapat menulis apa yang dirasa – dipikirkan dan beropini. Bebas iya, tetapi dalam kerangka bertanggung jawab. Bukankah dalam kehidupan riil juga kita selalu dituntun berpendapat bebas yang bertanggung jawab? So, tidak ada bedanya bukan? Pendapat saya ini jika melihat posisi penulis blog sebagai individu dan human being. Ternyata sama saja etika yang mengatur kita dalam media blog ataupun dalam etika di kehidupan nyata.

 

Lalu saya sedikit tergelitik, ketika dulu awal – pertengahan 2006 teman-teman saya di kampus, sesama rekan-rekan pers di dalam kampus sedang hangat-hangatnya membahas citizen journalism. Sampai mengundang pembicara-pembicara dari kalangan pers pula, dan bahkan berupaya mengadakan event yang lebih besar (walau akhirnya gagal, syukurlah..). Saya melihat ini sebagai euforia saja, dikarenakan rekan-rekan pers tersebut menyaksikan hangatya kasus dalam dunia perbloggeran sendiri pada saat itu. Dan kemudian mengambil asumsi pendek, “Jika kita menulis blog, maka kita bebas bersuara dan beropini”.

 

Memang bebas kok, ngga ada yang larang. Sama juga bebasnya dengan mau menulis di koran-koran atau tabloid mereka. Sama bebasnya beropini dalam media-media selebaran mereka. Tidak ada bedanya. Hanya satu hal yang membedakan, TARGET PEMBACA tentu lebih luas dalam media Internet. Tetapi kemudian jika perbedaannya hanya itu, lalu apa bedanya dengan membuat situs website terhadap kantor pers mereka? Kenapa harus menjadi pers blog atau sejenisnya? Jika ingin berwarna diskusi dan bebas, ya silahkan saja ditambahkan media diskusi, tinggal tambahkan feature comment atau sekalian forum barangkali.

 

 

PestabloggerOke, itu sebuah asumsi saya dari dulu. Dan kemudian yang membuat saya menjadi bingung saat ini – terdorong oleh mas ikram yang mendadak tengah malam mengajak diskusi tentang PESTABLOGGER“. Beliau menanyakan pendapat saya tentang kegiatan tersebut. Jawaban opini dan pemikiran sadar-bawah sadar saya dari dulu, yang namanya blog ya yang seperti saya ceritakan di atas. Tapi kemudian si Mas Ganteng Kacamata ini mulai menyinggung isi dari situs pestablogger.com. Memang dasar tukang kritik, paling bisa melihat celah sekecil itu (haha..Negation in your Bloody Header, bro.. ). Ikram secara pendek mengungkapkan “cm aneh aja kalo setiap pemberitaan di koran, mereka upload di pestablogger.com – karena bukannya blog itu new media? – yg berlawanan sm old media?”

 

Yeah,.. kembali perdebatan panjang dan perenungan disini. Seorang senior blogger dahulu pernah mem-boosting tentang ini. Bahkan anda bakal menemukan file PDF tentang tips trick menghadapi media baru (salam Mas Enda..). Sebagai “junior blogger” yang lebih junior dari Ikram, saya seperti diospek ulang hehehe…

 

Yap, sangat masuk akal ungkapan Ikram di atas. Coba lihat situs pestablogger sendiri yang selalu mengangkat post tentang pemberitaan acara Pesta Blogger di koran-koran. Jika dan hanya jika Old dan New media tidak saling butuh seperti yang diungkapkan Enda (dan mungkin juga blogger lain berpendapat sama), lalu kenapa pestablogger sendiri mendapat sponsor dan partner dari 3 Old Media?

 

Dalam opini saya sendiri (kembali – apa yang ada di pikiran saya), jika karena kasus Kompas dan Basuki Suhardiman (salam dari Yogya, Pak Bas.. :) ) yang awalnya diboost oleh Priyadi dalam post Satria Kepencet, Whistleblower, Anonimitas dan Kompas, kemudian menyebabkan muncul dikhotomi antara Old dan New Media, maka ini bukanlah suatu hal yang bijak. Kenapa? Alasan-alasan dan uraian saya diawal terkait dengan ini. Analogi paling buruk dari pembatasan tersebut, jika Kompas adalah Old Media – “butuh uang untuk tinta”, maka begitu pula dengan semua media cetak pers.

 

Bagi saya sendiri, kasus yang di-blow-up tersebut tidak lebih dari suara bebas yang bertanggung jawab, yang berusaha menyampaikan kebenaran dari versinya. Terlepas dari adanya isu-isu lain dibelakang yang menyusul blow-up tersebut.

 

Jika pun ingin memberikan label berbeda antara blog dan media cetak, maka bagi saya hanya lebih baik sebatas bahwa sang penulis blog “hanya” terikat oleh etika-nya dalam menyampaikan informasi yang sesuai dan runtut dengan jalan pikirannya – dan mungkin disertai fakta yang akurat. Berbeda dengan media cetak yang terikat aturan jurnalisme yang baku, teratur dalam manajemen dan memperhitungkan pasar komersial. Atau singkatnya blog adalah suara bebas yang bertanggung jawab dan media cetak adalah media informasi resmi bagi masyarakat. Dan silahkan masyarakat memilih asupan informasi mana yang baik bagi mereka.

 

Kalau pembagian media “Old vs New Media yang tidak saling butuh” masih berlaku, ntar blunder deh kayak sekarang, malah kerjasama sekarang kan? Belum lagi sekarang beberapa media cetak sudah memberi fasilitas terbitan online, lengkap dengan milist, forum dan media untuk berkomentar.

 

Akhir kalimat dari saya sebagai seorang “Blogger Junior”, SELAMAT BERPESTA BLOGGER bagi anda yang merayakan. (Udah kayak ucapan merayakan Idul Fitri ajah…hehehe)

Blogactionday – Menuju Kesejahteraan Rakyat Yang Berwawasan Lingkungan

Standard

 

Hari ini kan hari Blogactionday – seperti disepakati bersama dan gue udah submit – janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang menulis suatu isu pada hari dan waktu yang sama? Apa pengaruhnya?
Okey, kita kembali kepada penguasa Internet dunia, Mbah Google . Kemampuan crawler Google yang mengelilingi semua situs di Internet dan menangkap isi nya adalah senjata ampuh dalam mengangkat sebuah informasi menjadi terbaca oleh semua orang di lapisan dunia. Bukan tidak mungkin jika separoh orang di dunia menulis sebuah propaganda mengenai Tuhan itu apa, maka ketika saya dengan polosnya bertanya dan mencari “kebenaran” lewat si Mbah, maka dia akan menjawab sesuai dengan propaganda tersebut. Saya menggunakan istilah propaganda, karena berarti itu adalah informasi yang memang sengaja dikeluarkan dalam rangka melawan (meng-counter) informasi resmi yang diketahui khalayak ramai pada umumnya.

 

Itu baru jika sebuah informasi yang update dan berjumlah banyak. Belum lagi jika di tambah technical SEO yang bagus. Bayangkan jika sebuah situs yang memiliki Traffic Rank (Pagerank) 7 ke-atas atau Alexa top 50 memberikan sebuah informasi yang bohong, dan sebenarnya tidak ada. Atau pembelokan sejarah yang masih ambigu misalnya. Yaaa… memang Internet dan Informasi di dalamnya sangat susah dikalibrasi ternyata, People common Room dan semua memberi informasi versi masing-masing.

 

Jika Pertanyaan saya lanjutkan, tolong tanyakan kepada “penyampai kebenaran” siapakah Tuhan? Maka jawabnya apa? hehehe… :lol:
—————————————————————————————

 

Okey, kembali pada Blogactionday. Pertama sekali saya bingung, kenapa harus membahas lingkungan hidup, seperti misal Rime mengangkat cerita tentang kemasan minuman, dan air minum komersial. Itu memang sebuah isu lingkungan.

 

Kalau saya sendiri dengan latar belakang Ilmu di Pertambangan, mau mengangkat isu tentang pengrusakan hutan, pembabatan bukit dan gunung, atau penurunan muka air tanah hingga isu limbah tailing, tentunya itu adalah isu yang umum sekali. Bahkan isu tersebut malah terlihat aneh karena nanti saya bisa berkacamata dari versi analisis dampak lingkungan konsultan penambangan. Semua pertambangan besar itu memiliki data analisis faktual dan sangat saintis sekali untuk diangkat ke pengadilan jika anda atau bahkan Greenpeace sekalipun mencoba menuntut. WALAU saya tidak tahu data tersebut dengan cara kotor atau bersih dalam memperolehnya – saya bukan polisi yang menyidik, atau BPK/KPK yang ngurus begituan. Karena urusan begini ga jauh dari politik-bisnis-politik.

 

Foto dari Walhi-yogya.or.id :Yogya di Hari Bumi 2007

 

Memang berbicara kebutuhan hidup manusia, baik personal, kelompok bahkan kebutuhan bersama, tidak akan terlepas dari urusan politik. Apakah masalah lingkungan juga menjadi kebutuhan bersama, kelompok, atau personal? Tentu kita menjawab menjadi kebutuhan bersama. Bersama siapa tapinya?

 

Coba kita lihat sang Al Gore – Peraih Nobel Perdamaian tahun ini. Karena kegiatannya yang sangat progressive dalam menyuarakan Pemanasan Global, ia berkesempatan memperoleh nobel perdamaian. Mungkin bisa jadi ada penilaian tersendiri terhadap posisinya yang anti Perang – Irak, tetapi tekanan pemilihan nobel ini sendiri justru pada gerakannya dalam Global Warming Issue. Komite Nobel Perdamaian sendiri sempat ribut-ribut untuk lebih strict – ketat dalam menentukan peraih nobel perdamaian tahun ini. Tahun lalu dengan terpilihnya M. Yunus dengan ide kredit mikro-nya tersebut, komite nobel sempat cekcok dengan pemerhati perdamaian dunia lainnya lantaran dinilai tidak memilih orang yang terkait erat dengan masalah perdamaian dunia. Namun tahun ini kembali terpilih tokoh yang paling kontroversial dalam percaturan dunia. Dan dialah Al Gore.

 

 

Seberapa besar permasalahan pemanasan global terkait dengan perdamaian dunia? Dari sudut pandang saya pribadi memang tidak terlihat kaitan langsung. Wong, beberapa fakta ilmiah dalam film Inconvinient Truth saja masih didebat oleh beberapa mahkamah konstitusi dan ilmuwan . Tetapi secara tidak langsung memang ada keterkaitan. Bagaimana situasi di Afrika dalam masalah sumber daya alam hayati bisa menyebabkan perang saudara, namun ini juga masih dipertanyakan apakah ada keterkaitan khusus dengan Global Warming. Dalam opini saya sendiri, justru dari sini bisa dilihat. Jika Afrika saja bisa berperang saudara karena urusan ketersediaan sumber air – terbayang tidak jika Indonesia berperang dengan Malaysia karena masalah Asap, hewan langka dan Limbah Minyak??

 

Dan isu menarik tentang pengangkatan Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian seperti menjadi tamparan di muka bagi kaum politisi sendiri (semoga). Karena kita tahu bagaimana Al Gore sendiri tetap berada dalam jalur pemilihan Presiden di USA 2008. Dalam wawancara dengan Times memang Gore tidak menyatakan langsung ia akan mengejar kursi presiden. Namun, pernyataannya “fallen out of love with politics,” dan “convinced the presidency is the highest and best role I could play” yang menancapkan opini posistif bahwa ia akan berjuang ke arah sana. Apakah posisinya sebagai peraih nobel perdamaian ini akan menjadi “boosting” tersendiri untuk melancarkan jalannya ke kursi presiden? Jelas berpengaruh. Thats again the politics play based on the enviromental issue…

 

Bagaimana dengan indonesia sendiri? Apakah isu lingkungan selalu dikadali oleh para politisi kita? Mungkin tidak selalu – tapi ada, dari isu naiknya kepala desa karena kampanye kebun bersamanya, hingga Gubernur yang menjanjikan perlindungan Hutan (dan notabene malah berakhir pada pembalakan oleh HPH pilihannya). Belum lagi jika kita flashback pada masa Suharto dan kroni-kroninya bagaimana urusan pengawasan lingkungan PMA (Penanam Modal Asing – terutama sektor Pertambangan/Migas) masih bisa diatur dalam kerangka “kekeluargaan”.

 

Tapi paling menarik adalah rencana terbaru Indonesia yang kian mengikut arus oleh kepentingan Global. Protokol Kyoto jelas bisa dipastikan gagal mengingat Amerika sudah pasti menolak pembatasan emisi gas buang. Dan kini para penguasa kepentingan global dunia mulai mengatur kepada sebuah strategi baru – Road Map baru, yang dengan kerennya dinamakan “A Bali Road Map After Kyoto”. Ya, tepat sekali. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan ini pada tanggal 4 – 17 Desember 2007.

 

Bukan berarti tidak bangga dengan predikat tersebut. Kalau kata Nagabonar “Cem mana pulak tidak bangga kau ini”. Tetapi kita masih bisa ingat bagaimana negara ketiga seperti Indonesia selalu menjadi kambing hitam dari kepentingan global.

 

Memang negara kita adalah salah satu negara yang sangat dihormati dalam kerangka menjaga iklim global. Istilah zaman saya SD dulu adalah “paru-paru dunia”. Entah istilah itu masih ada apa tidak, saya tidak tahu. Mengingat menggilanya pembukaan lahan Sumatra dan Kalimantan untuk perumahan, industri dan pertambangan. Belum lagi kebakaran hutan yang asapnya memperpanas hubungan kita dengan Malaysia berlanjut klaim-klaiman Batik, Lagu Daerah (dan mungkin pacar saya juga diklaim nantinya, hahaha..).

 

Dikadali negeri Barat dan kroninya, saya menggunakan istilah itu. Karena isu lingkungan telah menjadi kebutuhan dunia global. Tetapi uniknya dengan mengatasnamakan kepentingan global inilah kemudian muncul LSM dan NGO yang “awalnya” terlihat seperti pemerhati. Menawarkan berbagai solusi-solusi alternatif untuk keselamatan bersama. Saya masih ingat dengan istilah eco-labelling dimana ini adalah semacam program sertifikasi standar bagi produk eksport bahwa dalam proses produksinya tidak merusak lingkungan. Perusahaan produk eksport tersebut harus membayar sekian duit untuk memperoleh sertifikasi tersebut, dengan kata lain ada badan kompeten di dunia global yang menilai standard ini.

 

Lha, kenapa jadi nya ke duit? Mungkin kerangka berpikir awam masih menilai eco-labelling/ISO ini-itu adalah sebuah bentuk penilaian standarisasi dengan kompensasi gratis. NO!! Karena metode berpikir awal lahirnya badan-badan ini adalah karena kepentingan pasar dunia juga.

 

Begini, negara-negara maju (yang sudah duluan maju), mereka saat ini sudah memiliki tingkat industri yang sedemikian maju dan menjamin kesejahteraan diatas negara-negara berkembang. Sementara, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, China dan lainnya sedang mengusahakan ke arah sejahtera tersebut yang otomatis industrialisasinya digenjot gila-gilaan – dan ini tidak terlepas dari pergeseran pasar industri global dimana negara-negara maju telah memindahkan industrinya ke negara-negara berkembang. Bisa dilihat dari grafik penghasil emisi gas buang – selain amerika , India dan China memperoleh rating yang lumayan tinggi. Bahkan si Bush sempat mendebat Protokol Kyoto dengan menyebut-nyebut India dan negara ke-tiga lainnya harus lebih diperhatikan dalam urusan global warming.

 

Konsekuensi logisnya saat ini, ketika dunia menghadapi ancaman lingkungan hidup, lalu siapa yang bertanggung jawab? Seperti melempar gayung tak bersambut memang. Tentunya butuh mekanisasi pasar yang kompleks untuk mempemudah urusan antar negara-negara ini. Karena sudah terkait satu dengan lainnya dalam kebutuhan global.

 

Dan di sinilah ide-ide yang awalnya ditawarkan pemerhati lingkungan yang “pinter-pinter” untuk menyelesaikannya secara PASAR juga. Jadi negara-negara yang masih mengelola hutannya sekian hekar itu dibayar – memperoleh kompensasi dari negara-negara yang mengeluarkan emisi. Istilahnya ada pabrik yang membeli hutan untuk menyerap sekian gas buang yang mereka keluarkan. Keren yak? Polusi bisa di perjual-belikan dalam pasar global. Dari sinilah pokok-pokok dasar pemikiran lahirnya badan-badan eco-labelling/ISO tersebut.

 

Kembali ke Indonesia, dengan demokrasi yang didengung-dengungkan sekarang oleh politikus-politikus negeri ini, kehidupan menuju kesejahteraan memang mulai terlihat. Tetapi kesejahteraan yang ke arah mana dulu? Jika ditanyakan apakah ada buktinya kalau bangsa ini mulai terlihat sejahtera? ADA. Sudah lahir sebuah konglomerasi baru dinegara ini. Kenapa demikian? karena krismon 97-98 bukanlah akhir bagi semuanya. Ada pihak-pihak yang memang pintar dalam memanfaatkan keadaan dan memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan aset-nya.

 

Kemudian yang fenomenal saat ini muncul juga konglomerasi tetangga yang sukses membangun ekonominya di negara ini, seperti MNC dan BUMN tetangga-tetangga kita dalam bidang telekomunikasi dan migas. Saya juga mengungkapkan dalam post lainnya bagaimana infiltrasi saham asing dari negara tetangga dalam telekomunikasi kita sebelumnya.

 

Kombinasi konglomerat lokal yang menggila dan MNC/BUMN tetangga inilah yang menjadi ganjelan baru dalam ekonomi yang sejahtera bagi keseluruhan masyarakat Indonesia. Hebatnya para konglomerasi lokal kita pun tanpa malu-malu mengakui dirinya juga berada dalam ranah politik dan kepentingan. Coba lihat anggota-anggota DPR kita yang merasa wajar mewakili kepentingan usaha-nya, atau posisi partai yang di bekingi perusahaan besar, bahkan ada petinggi partai yang menjadi seorang pemilik usaha media terkemuka di negeri ini. Apakah ini tidak mempengaruhi arus kepentingan pribadi dan kepentingan bersama? Okey, some people may be just said like this “It’s Just Nasionalism – Patriotic – Sacrifice to The Ibu Pertiwi.. and blah..blah..”.

 

Tetapi seharusnya kita tetap mawas diri dan legowo bahwa BUKAN TIDAK MUNGKIN arus kepentingan politik negeri ini surut kembali ke zaman Suharto dan konglomerasi keluarganya. BAHKAN LEBIH BURUK mengingat kondisi saat ini dimana bukan hanya satu kroni keluarga saja yang berkuasa. Apakah ancaman itu? Korupsi dan manipulasi kebijakan untuk kepentingan rakyat – kepentingan bersama.

 

Dan akhirnya ketakutan dalam memimpin rakyat dan mewakili rakyat menuju kesejahteraan yang berwawasan lingkungan seperti yang disampaikan diawal tulisan ini akan kembali menjadi keraguan. Karena para desission maker-nya juga harus kembali dipertanyakan “Pratiotism – Nasionalism – Sacrifice to Ibu Pertiwi”-nya.

 

This Post Honoured to All Indonesian – Leksa

 

Thanks to : Christianto Wibisono – Politik Ekonomi Bisnis Dan Lingkungan

Lomba Desain Tshirt Qwords.com Web Hosting Indonesia

Standard

Ikuti lomba desain Tshirt Qwords.com Web Hosting Indonesia dan menangkan beragam hadiah menarik.
Web Hosting, Web Camera, Flash Disk, Mp3 Player menanti anda, jadi tunggu apa lagi?

Tshirt Qwords.com

Hadiah Pemenang Lomba Desain Tshirt Qwords.com:
- Juara I : Paket Hosting Ultimate 1 + Domain Name + Mp3 Player + Tshirt Qwords.com
- Juara II : Paket Hosting Premium 1 + Domain Name + Web Camera + Tshirt Qwords.com
- Juara III : Paket Blog Hosting 3 + Domain Name + Flash Disk + Tshirt Qwords.com

25 Pengirim desain tshirt pertama akan mendapatkan souvenir menarik dari Qwords.com

Persyaratan Peserta Lomba: Continue reading

CeThe,.. Ukiran Batik Pada Sebatang Rokok

Standard

Sepulang dari Jumaatan, sambil ngaso bentar sebelum jalan-jalan nyari belanjaan buat kosan baru, gue dikejutkan ama sesuatu produk unik milik salah satu penghuni kost Andrew. Sebatang rokok Marlboro dengan lukisan batik di sepanjang glovenya!! Detail sekali persis ukiran batik pada kain. Ada juga yang berbentuk tribal-tribal layaknya pada tatoo. (berhubung file video dan phot2nya gede, jadi gue read more- kan aja yak ..)

Continue reading

I Posted This Music Just For "You",…

Standard

Pas lagi googling lagu ini buat download, eh malah nemu versi Accoustic Indo-nya di Youtube. Keren juga..

Yang tahu lagu ini, sering dijadiin back OST di film2 drama. Dulu gue suka dengan musiknya, tetapi pas dah baca sekalilagi liriknya,..hmmm.. serasa terbang dan langsung ke hati…hehehe (wew… mellowww.. )

Okey.. Let’s Sing Together,… (sori buat yang buka dari dalem ITB, ga bisa menikmati,weks)

Thax to quemarry

I cant stay now, Im just wait now
My hand they grow so impatient
Many things Ive got to do now
for the first ray of the morningThough she dreams in peacefull slumber
Sleep to me just doesnt come
When she wakes Ill try to tell her
Everything Ive to sayAnd the night so dark inside me
Makes me finally understand
Where the love that she has given
She can light the sky forever

Its the way she gives so freely
Its the way she takes my hand
Ill just ask the sunshine brightly
Got to see her smile again

Then Ill sing the song Ive written
And Ill make the whole world listen
In the silence just for you
Like no one has ever heard

And Ill wake up all the lovers
And Ill keep them back for hours
And well do the things weve wanted
The way that lovers do

Then well run to the street
And well start to dance like crazy
Though she wants only to feel joy
Its the love she give and need

And well take me tab of chorus
And well paint the street and building
Rainbow colors everyone
Though she wants colors to see

And well take all field of flowers
Make the street alive with spring
Make the place where lovers go
To love the way like lovers do

Then well fly to the sky
And we chose we trought the stars
And our stars will tell the whole world
The love we had, we are

The love we share is sweet
The love we know is real
That love is not a dream
but last a life time long

Because your love and mine we give
Without gleaming holdng in
And love that we have given
Return to ask the wind

Cause your love for me
Is not beginning and the end
Your love and mine is now
for me forever