Adil atau fair. Mungkin sebuah istilah yang sangat basi. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk berlaku adil oleh keluarga. Adil dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Permasalahannya kadang tidak semudah itu dalam memahami keadilan. Sekian tahun saya hidup, nilai-nilai keadilan ternyata justru semakin absurd terlihat.
Tag Archives: Opini
Menara Gading (part one)
Cerita ini akan menjadi sangat panjang.
Sejak Kamis sore saya berada di Bandung dalam rangka banyak hal. Maaf buat Beni dan pacar tersayangnya yang tidak terkabari keberangkatan saya. Tapi harusnya lu tau gw pasti ke Bandung, gimana sih?
Terbakar Juga Saudara-saudara…
Gue memilih diam dan cenderung untuk otokritik dalam permasalahan Indonesia – Malaysia.Tapi hati ini tetap riweuh dan terbakar setelah gue mencari-cari tahu lebih lanjut (sampai buka buku-buku sejarah Pra – Pasca konfrontasi dengan Malay). Entah itu adalah setingan dari zaman dahulu untuk menghancurkan negara ini, dan juga mungkin di masa kini.
Didukung pemerintahan masa orde baru yang buruk dalam memanage negeri ini, wajar saja jika infiltrasi tersirat pihak asing mudah menguasai dan mengontrol negeri ini. Gue ambil sebuah ilustrasi – kasar. Jika gue memainkan Game Earth [si Rime bawel, jd di edit] Age of Empire, DOTA, atau game strategi lainnya, strategi awal adalah dengan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk pemasukan negara. Dan tidak lupa, mengecek tapal batas dengan negara tetangga, jika ada sumber pemasukan negara yang berada di tapal batas, maka dengan segera gue ke sana dan menklaimnya duluan sebelum sang tetangga mengambilnya jadi miliknya (beberapa game strategi ada yang memiliki feature ini-harus eksplorasi dulu untuk mendapat kan resource).
Lalu apa hubungannya dengan Malaysia? Read more aja dah, soalnya banyak “BAKAR2AN” hihii..
"Rethinking"
RETHINKING…
Saya meminjam kata di atas dari sebuah post di blog yang rutin saya kunjungi dalam melihat perspektif berbeda untuk permasalahan yang terjadi di negeri ini. Terlepas apapun dan siapapun blog berlabel Intel itu hadir, tetapi saya menyukai tulisan-tulisan dan perspektif yang disampaikan penulisnya.
Namun di sini “rethinking” yang akan saya coba ungkapkan adalah persepsi saya terhadap ramainya cacian dan makian yang terjadi saat ini di antara 2 negara tetangga, Indonesia dan Malaysia.
Sejujurnya saya sumpek dengan komentar-komentar, baik itu dalam forum online, obrolan bersama teman-teman saya dan juga ramainya media massa yang mengangkat konflik “riweuh” ini karena isinya cuman buah menjelek-jelekan dan memancing emosi serta makian.
Saya berani mengungkapkan rasa “sumpek” ini kepada rekan-rekan yang membaca. Benar-benar sumpek. Apakah saya sendiri tidak cinta dengan negeri ini? Indonesia? Justru karena saya mencintainya saya mencoba rekan-rekan untuk me“rethingking” ulang pemahaman anda terhadap konflik kita dengan negara tetangga Malaysia, maupun konflik batin dengan negara-negara lainnya.
Dalam persepsi kita bangsa Indonesia, Malaysia mencuri lagu dan beberapa objek budaya kita. Jika boleh saya katakan atribut budaya yang kita ributkan dengan Malaysia adalah sebagai objek. Karena kita manusia yang menggunakan atributnya adalah subjek-nya. Seberapa patut si subyek memanfaatkan ke-maha-an objek tersebut? Terlepas dari nilai kebenaran mutlak siapa pemilik yang “haq” dari berbagai objek budaya tersebut, karena jika bicara penelusuran hak milik, maka yang bermain adalah persepsi kita terhadap nilai kebenaran yang absurd oleh sejarah manusia.
Indonesia sendiri sudah dari dulu memliki ahli-ahli sejarah dan budaya yang memetakan berbagai atribut sosial kebudayaan dan kekayaan adat istiadat di seluruh pelosok negeri ini. Sebut saja Prof. T. Jacob, seorang Guru Besar Antropolog Ragawi dan juga ahli ilmu sosial dan perdamaian di negeri ini (“Selamat jalan, Pak.. Semoga harum pemikiran anda tetap hidup di hati negeri ini…”) atau K.R.T. Hardjonagoro yang didaulat sebagai pelopor batik Indonesia di masa Bung Karno.
Apakah saya tahu tentang 2 ahli sejarah dan budaya tersebut? Apakah saya pernah membaca buku-buku mereka tentang kekayaan budaya negeri ini? Padahal mereka hanya sebagian kecil dari banyaknya ahli yang berkontribusi menyumbangkan pemikiran atas pembangunan sosial budaya di negeri ini. Saya TIDAK mengenal banyak dari karya-karya mereka dan pemikiran mereka. Hanya sedikit kepedulian saya hingga tiba waktunya sekarang saya semakin sumpek dengan ramainya maki-makian yang berseliweran saat ini.
Memang kepedulian terhadap sesuatu hal baru muncul ketika sesuatu yang buruk terjadi terhadap hal tersebut. Kita baru berkoar-koar memiliki dan marah ketika salah satu lagu kita dicuri. Kita baru teriak lantang ketika budaya kita diambil. Berkoar, marah dan teriak lantang menyalahkan pihak pencuri.
Tetapi pernah kah berpikir, kemana saja kita selama ini? Apakah kita sudah menjaga apa yang kita punya dengan baik? Apakah kita sudah merawat apa yang kita miliki dengan layak?
Saya terenyuh jika mereview bagaimana saya sendiri juga masih terkontaminasi dengan budaya barat dalam keseharian saya. Tetapi saya memahami itu sebagai sebuah kewajaran, sebagai human being yang berakulturasi dan berkontemplasi dengan sosial budaya di dalam kehidupan harfiahnya. Dan syukurlah saya tidak pernah menklaim bahwa budaya barat yang ada di bagian diri saya adalah jatidiri saya pribadi, apalagi sampai menklaimnya sebagai budaya sendiri.
Dalam dunia yang terus berkembang ke arah globalisasi saat ini, bukanlah waktunya berpikir manja untuk disuapi. Maksudnya adalah sudah sepatutnya kita sendiri merawat apa yang kita punya sebelum diambil oleh tangan-tangan asing. Bukan sekonyong-konyong malah bermental busuk untuk berkolaborasi memberikannya ke tangan asing. Ini berlaku untuk beberapa situasi dan kondisi di negeri ini .
Tidak perlu saya detailkan ungkapan kalimat tersebut diatas. Saya rasa rekan-rekan yang disini bisa memahami apa yang saya maksud.
Kemudian untuk kondisi yang lain lagi, ketika sudah tercuri baru berkoar teriak lantang dan memaki orang lain pencuri. Hey bung, selama ini kita kemana saja?! Apakah kita sendiri sudah cukup menjaga agar tidak tercuri?
Dunia semakin mengarah pada kehidupan persaingan bebas. Semua negara tentunya bersaing untuk semakin maju ke depan. Dan ini konsekuensi alami jika banyak kepentingan negara-negara yang semakin saling berpotongan satu sama lain.
Jepang mengembangkan teknologi Bioindustri yang luar biasa, bahkan terakhir mereka bisa mengembangkan industri Tempe dengan cara lebih advance, terus kita teriak bahwa kita kecurian lagi??!! memang kita kemana selama ini? Apakah kita telah menempatkan perhatian terhadap makanan lokal bergizi kita itu? Simpel nya lagi – Sudah layakkah perhatian pemerintah terhadap penelitian-penelitian anak bangsa ini?
Uncle Sam punya kepentingan terhadap negeri kita, jelas itu mah. Terus solusinya apakah dengan memaki USA karena mereka seenak perut begitu masuk-masuk dalam kebijakan ekonomi negeri kita? Yaa,.. justru sekarang seharusnya berpikir bagaimana kita membentengi diri agar tidak mudah dipotong-potong oleh mereka. Simpel kan?
Saya tidak menjelekkan rekan-rekan yang menjiwai budaya barat dalam kesehariannya. Saya tidak memaki rekan-rekan yang mengharu biru dengan dorama Korea atau anime-anime Jepang. Karena itu adalah kontemplasi teman-teman dalam memahami akulturasi budaya di era global sekarang. Sekonyong-konyong tidak juga mediskreditkan rekan-rekan yang sekedar pragmatis berlabel budaya lokal walau tidak paham maknanya.
Saya hanya berkeluh kesah untuk kita yang semakin lupa dengan cara menjaga apa yang kita miliki. Saya hanya bersedih terhadap mental kita yang tidak mau mengembangkan apa yang kita punya.
Ini adalah tulisan curahan hati disertai sedikit sekali fakta, “cuma segelas kopi dengan rasa berbeda”.
Sebuah opini lain tentang konflik Indonesia – Malaysia yang saya pilih untuk rekan-rekan simak adalah milik Mas Iman.
Selamat me”rethinking” untuk kita semua.
**Image ilustrasi diambil dari http://malingsia.blogspot.com, edited by Leksa
Gegap Gempita Pesta Blogger Dalam pestablogger.com
“Saya suka membagi pemikiran saya di dalam Blog”.
Yap, mungkin cuma itu jika ada yang menanyakan kepada saya mengapa menulis blog. Anda bisa melihat Cloudy Tags saya yang sangat ribet dan campur aduk kayak sayur asem diatas. Itu hanya sekedar menunjukkan bahwa memang saya ingin membahas banyak hal dengan semua pembaca blog saya. Cuma sesimpel itu, tanpa embel-embel “I’m a Bloggerrr..” atau “Long life Citizen Journalism…”.
Saya memulai menulis di Internet ketika Cybersastra.Net masih eksis. Sekedar sharing puisi dan gejolak pemikiran muda bersama para komunitas sastra online – yang notabene dulu juga sempat dianggap oleh sastrawan senior sebagai komunitas sastra abal-abal/puisi sampah – sastrawan yang tidak mendapat tempat. Paling tidak itu kesimpulan yang saya peroleh ketika berbincang dengan sesama rekan cybersastra pada saat pertemuan di Bandung – 2002-2003 . (Apakabar Teh Sireum Hideung ?
).
Kemudian sempat juga membuat blog di Blogspot. Sayangnya saya lalu menghilang dalam gemerlap dunia perkampusan (ya standar lah, gosip sana sini – nongkrong luar-dalam kampus dan pacaran..hehehe). Dan akibat lama tidak update, saya lupa account di blogspot tersebut. Maklum, karena masih suka gonta ganti email waktu itu, makhluk polos baru kenal Internet, semua email provider saya subscribe, semua feature internet saya coba(dari game sampai Adult Content.. hahaha).
Kemudian, pernah mencoba menulis blog dari tawaran domain pribadi di leksanadra.com. Sekarang sudah mati, setahun lalu kalau tidak salah matinya. Dan kini saya menggunakan Kapucino.Org, yang kini sudah berumur setahun, walau post nya baru dimulai di bulan Desember 2006. Archives lama dari Kapucino bisa dilihat di Blog-Indonesia.
Nah, berarti saya memang bukan seorang senior blogger, setahun bukan lah waktu yang bisa dibilang senior blogger – dalam beberapa “kamus” blogger. Tetapi saya pernah mengikuti rame-rame pembahasan mengenai blog dan citizen journalism – saya mengikuti kisah-kisah dari “jangan sembarang kopi paste”, penahanan polisi terhadap seorang blogger hingga cekcok antara blogger dan Roy Suryo. Dalam pemahaman saya, kasus-kasus tersebut tidak memberikan unsur penekanan mendukung sesama blogger “Karena Kami Blogger“. Bagi saya bukan disana penekanannya, walaupun banyak senior blogger yang beropini dan menyuarakan gegap gempita bahwa sesama blogger harus bersatu, atau “mari-mari dukung teman kita sesama blogger“.
Tujuan penegasan saya di atas adalah untuk menghindari patronase dalam menulis/berpendapat atau mengikuti sebuah komunitas. Mungkin itu kalimat paling nyaman untuk mengungkapkan hal-hal diatas. Menjadi blogger bukan berarti sekonyong-konyong sekedar mengikuti trend, bahkan pendapat dan suara pun jadi ngikut trend. Sama halnya ketika kita berada dalam pergaulan sosial lainnya. Sebagai contoh, misalkan saya berada/tergabung dalam sebuah komunitas – lingkungan, jika memang alam pikiran saya berkata ada sesuatu hal yang tidak sesuai dan tidak benar, maka sepatutnya disuarakan. Bukan se-abal-abal malah mengikuti trend atau idol atau senior dalam komunitas saya tersebut.
Blog adalah sebuah media penulisan dalam internet dimana semua orang dapat menulis apa yang dirasa – dipikirkan dan beropini. Bebas iya, tetapi dalam kerangka bertanggung jawab. Bukankah dalam kehidupan riil juga kita selalu dituntun berpendapat bebas yang bertanggung jawab? So, tidak ada bedanya bukan? Pendapat saya ini jika melihat posisi penulis blog sebagai individu dan human being. Ternyata sama saja etika yang mengatur kita dalam media blog ataupun dalam etika di kehidupan nyata.
Lalu saya sedikit tergelitik, ketika dulu awal – pertengahan 2006 teman-teman saya di kampus, sesama rekan-rekan pers di dalam kampus sedang hangat-hangatnya membahas citizen journalism. Sampai mengundang pembicara-pembicara dari kalangan pers pula, dan bahkan berupaya mengadakan event yang lebih besar (walau akhirnya gagal, syukurlah..). Saya melihat ini sebagai euforia saja, dikarenakan rekan-rekan pers tersebut menyaksikan hangatya kasus dalam dunia perbloggeran sendiri pada saat itu. Dan kemudian mengambil asumsi pendek, “Jika kita menulis blog, maka kita bebas bersuara dan beropini”.
Memang bebas kok, ngga ada yang larang. Sama juga bebasnya dengan mau menulis di koran-koran atau tabloid mereka. Sama bebasnya beropini dalam media-media selebaran mereka. Tidak ada bedanya. Hanya satu hal yang membedakan, TARGET PEMBACA tentu lebih luas dalam media Internet. Tetapi kemudian jika perbedaannya hanya itu, lalu apa bedanya dengan membuat situs website terhadap kantor pers mereka? Kenapa harus menjadi pers blog atau sejenisnya? Jika ingin berwarna diskusi dan bebas, ya silahkan saja ditambahkan media diskusi, tinggal tambahkan feature comment atau sekalian forum barangkali.
Oke, itu sebuah asumsi saya dari dulu. Dan kemudian yang membuat saya menjadi bingung saat ini – terdorong oleh mas ikram yang mendadak tengah malam mengajak diskusi tentang PESTABLOGGER“. Beliau menanyakan pendapat saya tentang kegiatan tersebut. Jawaban opini dan pemikiran sadar-bawah sadar saya dari dulu, yang namanya blog ya yang seperti saya ceritakan di atas. Tapi kemudian si Mas Ganteng Kacamata ini mulai menyinggung isi dari situs pestablogger.com. Memang dasar tukang kritik, paling bisa melihat celah sekecil itu (haha..Negation in your Bloody Header, bro.. ). Ikram secara pendek mengungkapkan “cm aneh aja kalo setiap pemberitaan di koran, mereka upload di pestablogger.com – karena bukannya blog itu new media? – yg berlawanan sm old media?”
Yeah,.. kembali perdebatan panjang dan perenungan disini. Seorang senior blogger dahulu pernah mem-boosting tentang ini. Bahkan anda bakal menemukan file PDF tentang tips trick menghadapi media baru (salam Mas Enda..). Sebagai “junior blogger” yang lebih junior dari Ikram, saya seperti diospek ulang hehehe…
Yap, sangat masuk akal ungkapan Ikram di atas. Coba lihat situs pestablogger sendiri yang selalu mengangkat post tentang pemberitaan acara Pesta Blogger di koran-koran. Jika dan hanya jika Old dan New media tidak saling butuh seperti yang diungkapkan Enda (dan mungkin juga blogger lain berpendapat sama), lalu kenapa pestablogger sendiri mendapat sponsor dan partner dari 3 Old Media?
Dalam opini saya sendiri (kembali – apa yang ada di pikiran saya), jika karena kasus Kompas dan Basuki Suhardiman (salam dari Yogya, Pak Bas..
) yang awalnya diboost oleh Priyadi dalam post Satria Kepencet, Whistleblower, Anonimitas dan Kompas, kemudian menyebabkan muncul dikhotomi antara Old dan New Media, maka ini bukanlah suatu hal yang bijak. Kenapa? Alasan-alasan dan uraian saya diawal terkait dengan ini. Analogi paling buruk dari pembatasan tersebut, jika Kompas adalah Old Media – “butuh uang untuk tinta”, maka begitu pula dengan semua media cetak pers.
Bagi saya sendiri, kasus yang di-blow-up tersebut tidak lebih dari suara bebas yang bertanggung jawab, yang berusaha menyampaikan kebenaran dari versinya. Terlepas dari adanya isu-isu lain dibelakang yang menyusul blow-up tersebut.
Jika pun ingin memberikan label berbeda antara blog dan media cetak, maka bagi saya hanya lebih baik sebatas bahwa sang penulis blog “hanya” terikat oleh etika-nya dalam menyampaikan informasi yang sesuai dan runtut dengan jalan pikirannya – dan mungkin disertai fakta yang akurat. Berbeda dengan media cetak yang terikat aturan jurnalisme yang baku, teratur dalam manajemen dan memperhitungkan pasar komersial. Atau singkatnya blog adalah suara bebas yang bertanggung jawab dan media cetak adalah media informasi resmi bagi masyarakat. Dan silahkan masyarakat memilih asupan informasi mana yang baik bagi mereka.
Kalau pembagian media “Old vs New Media yang tidak saling butuh” masih berlaku, ntar blunder deh kayak sekarang, malah kerjasama sekarang kan? Belum lagi sekarang beberapa media cetak sudah memberi fasilitas terbitan online, lengkap dengan milist, forum dan media untuk berkomentar.
Akhir kalimat dari saya sebagai seorang “Blogger Junior”, SELAMAT BERPESTA BLOGGER bagi anda yang merayakan. (Udah kayak ucapan merayakan Idul Fitri ajah…hehehe)
Blogactionday – Menuju Kesejahteraan Rakyat Yang Berwawasan Lingkungan

Hari ini kan hari Blogactionday – seperti disepakati bersama dan gue udah submit – janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang menulis suatu isu pada hari dan waktu yang sama? Apa pengaruhnya?
Okey, kita kembali kepada penguasa Internet dunia, Mbah Google . Kemampuan crawler Google yang mengelilingi semua situs di Internet dan menangkap isi nya adalah senjata ampuh dalam mengangkat sebuah informasi menjadi terbaca oleh semua orang di lapisan dunia. Bukan tidak mungkin jika separoh orang di dunia menulis sebuah propaganda mengenai Tuhan itu apa, maka ketika saya dengan polosnya bertanya dan mencari “kebenaran” lewat si Mbah, maka dia akan menjawab sesuai dengan propaganda tersebut. Saya menggunakan istilah propaganda, karena berarti itu adalah informasi yang memang sengaja dikeluarkan dalam rangka melawan (meng-counter) informasi resmi yang diketahui khalayak ramai pada umumnya.
Itu baru jika sebuah informasi yang update dan berjumlah banyak. Belum lagi jika di tambah technical SEO yang bagus. Bayangkan jika sebuah situs yang memiliki Traffic Rank (Pagerank) 7 ke-atas atau Alexa top 50 memberikan sebuah informasi yang bohong, dan sebenarnya tidak ada. Atau pembelokan sejarah yang masih ambigu misalnya. Yaaa… memang Internet dan Informasi di dalamnya sangat susah dikalibrasi ternyata, People common Room dan semua memberi informasi versi masing-masing.
Jika Pertanyaan saya lanjutkan, tolong tanyakan kepada “penyampai kebenaran” siapakah Tuhan? Maka jawabnya apa? hehehe… ![]()
—————————————————————————————
Okey, kembali pada Blogactionday. Pertama sekali saya bingung, kenapa harus membahas lingkungan hidup, seperti misal Rime mengangkat cerita tentang kemasan minuman, dan air minum komersial. Itu memang sebuah isu lingkungan.
Kalau saya sendiri dengan latar belakang Ilmu di Pertambangan, mau mengangkat isu tentang pengrusakan hutan, pembabatan bukit dan gunung, atau penurunan muka air tanah hingga isu limbah tailing, tentunya itu adalah isu yang umum sekali. Bahkan isu tersebut malah terlihat aneh karena nanti saya bisa berkacamata dari versi analisis dampak lingkungan konsultan penambangan. Semua pertambangan besar itu memiliki data analisis faktual dan sangat saintis sekali untuk diangkat ke pengadilan jika anda atau bahkan Greenpeace sekalipun mencoba menuntut. WALAU saya tidak tahu data tersebut dengan cara kotor atau bersih dalam memperolehnya – saya bukan polisi yang menyidik, atau BPK/KPK yang ngurus begituan. Karena urusan begini ga jauh dari politik-bisnis-politik.
Foto dari Walhi-yogya.or.id :Yogya di Hari Bumi 2007
Memang berbicara kebutuhan hidup manusia, baik personal, kelompok bahkan kebutuhan bersama, tidak akan terlepas dari urusan politik. Apakah masalah lingkungan juga menjadi kebutuhan bersama, kelompok, atau personal? Tentu kita menjawab menjadi kebutuhan bersama. Bersama siapa tapinya?
Coba kita lihat sang Al Gore – Peraih Nobel Perdamaian tahun ini. Karena kegiatannya yang sangat progressive dalam menyuarakan Pemanasan Global, ia berkesempatan memperoleh nobel perdamaian. Mungkin bisa jadi ada penilaian tersendiri terhadap posisinya yang anti Perang – Irak, tetapi tekanan pemilihan nobel ini sendiri justru pada gerakannya dalam Global Warming Issue. Komite Nobel Perdamaian sendiri sempat ribut-ribut untuk lebih strict – ketat dalam menentukan peraih nobel perdamaian tahun ini. Tahun lalu dengan terpilihnya M. Yunus dengan ide kredit mikro-nya tersebut, komite nobel sempat cekcok dengan pemerhati perdamaian dunia lainnya lantaran dinilai tidak memilih orang yang terkait erat dengan masalah perdamaian dunia. Namun tahun ini kembali terpilih tokoh yang paling kontroversial dalam percaturan dunia. Dan dialah Al Gore.

Seberapa besar permasalahan pemanasan global terkait dengan perdamaian dunia? Dari sudut pandang saya pribadi memang tidak terlihat kaitan langsung. Wong, beberapa fakta ilmiah dalam film Inconvinient Truth saja masih didebat oleh beberapa mahkamah konstitusi dan ilmuwan . Tetapi secara tidak langsung memang ada keterkaitan. Bagaimana situasi di Afrika dalam masalah sumber daya alam hayati bisa menyebabkan perang saudara, namun ini juga masih dipertanyakan apakah ada keterkaitan khusus dengan Global Warming. Dalam opini saya sendiri, justru dari sini bisa dilihat. Jika Afrika saja bisa berperang saudara karena urusan ketersediaan sumber air – terbayang tidak jika Indonesia berperang dengan Malaysia karena masalah Asap, hewan langka dan Limbah Minyak??
Dan isu menarik tentang pengangkatan Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian seperti menjadi tamparan di muka bagi kaum politisi sendiri (semoga). Karena kita tahu bagaimana Al Gore sendiri tetap berada dalam jalur pemilihan Presiden di USA 2008. Dalam wawancara dengan Times memang Gore tidak menyatakan langsung ia akan mengejar kursi presiden. Namun, pernyataannya “fallen out of love with politics,” dan “convinced the presidency is the highest and best role I could play” yang menancapkan opini posistif bahwa ia akan berjuang ke arah sana. Apakah posisinya sebagai peraih nobel perdamaian ini akan menjadi “boosting” tersendiri untuk melancarkan jalannya ke kursi presiden? Jelas berpengaruh. Thats again the politics play based on the enviromental issue…
Bagaimana dengan indonesia sendiri? Apakah isu lingkungan selalu dikadali oleh para politisi kita? Mungkin tidak selalu – tapi ada, dari isu naiknya kepala desa karena kampanye kebun bersamanya, hingga Gubernur yang menjanjikan perlindungan Hutan (dan notabene malah berakhir pada pembalakan oleh HPH pilihannya). Belum lagi jika kita flashback pada masa Suharto dan kroni-kroninya bagaimana urusan pengawasan lingkungan PMA (Penanam Modal Asing – terutama sektor Pertambangan/Migas) masih bisa diatur dalam kerangka “kekeluargaan”.
Tapi paling menarik adalah rencana terbaru Indonesia yang kian mengikut arus oleh kepentingan Global. Protokol Kyoto jelas bisa dipastikan gagal mengingat Amerika sudah pasti menolak pembatasan emisi gas buang. Dan kini para penguasa kepentingan global dunia mulai mengatur kepada sebuah strategi baru – Road Map baru, yang dengan kerennya dinamakan “A Bali Road Map After Kyoto”. Ya, tepat sekali. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan ini pada tanggal 4 – 17 Desember 2007.
Bukan berarti tidak bangga dengan predikat tersebut. Kalau kata Nagabonar “Cem mana pulak tidak bangga kau ini”. Tetapi kita masih bisa ingat bagaimana negara ketiga seperti Indonesia selalu menjadi kambing hitam dari kepentingan global.
Memang negara kita adalah salah satu negara yang sangat dihormati dalam kerangka menjaga iklim global. Istilah zaman saya SD dulu adalah “paru-paru dunia”. Entah istilah itu masih ada apa tidak, saya tidak tahu. Mengingat menggilanya pembukaan lahan Sumatra dan Kalimantan untuk perumahan, industri dan pertambangan. Belum lagi kebakaran hutan yang asapnya memperpanas hubungan kita dengan Malaysia berlanjut klaim-klaiman Batik, Lagu Daerah (dan mungkin pacar saya juga diklaim nantinya, hahaha..).
Dikadali negeri Barat dan kroninya, saya menggunakan istilah itu. Karena isu lingkungan telah menjadi kebutuhan dunia global. Tetapi uniknya dengan mengatasnamakan kepentingan global inilah kemudian muncul LSM dan NGO yang “awalnya” terlihat seperti pemerhati. Menawarkan berbagai solusi-solusi alternatif untuk keselamatan bersama. Saya masih ingat dengan istilah eco-labelling dimana ini adalah semacam program sertifikasi standar bagi produk eksport bahwa dalam proses produksinya tidak merusak lingkungan. Perusahaan produk eksport tersebut harus membayar sekian duit untuk memperoleh sertifikasi tersebut, dengan kata lain ada badan kompeten di dunia global yang menilai standard ini.
Lha, kenapa jadi nya ke duit? Mungkin kerangka berpikir awam masih menilai eco-labelling/ISO ini-itu adalah sebuah bentuk penilaian standarisasi dengan kompensasi gratis. NO!! Karena metode berpikir awal lahirnya badan-badan ini adalah karena kepentingan pasar dunia juga.
Begini, negara-negara maju (yang sudah duluan maju), mereka saat ini sudah memiliki tingkat industri yang sedemikian maju dan menjamin kesejahteraan diatas negara-negara berkembang. Sementara, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, China dan lainnya sedang mengusahakan ke arah sejahtera tersebut yang otomatis industrialisasinya digenjot gila-gilaan – dan ini tidak terlepas dari pergeseran pasar industri global dimana negara-negara maju telah memindahkan industrinya ke negara-negara berkembang. Bisa dilihat dari grafik penghasil emisi gas buang – selain amerika , India dan China memperoleh rating yang lumayan tinggi. Bahkan si Bush sempat mendebat Protokol Kyoto dengan menyebut-nyebut India dan negara ke-tiga lainnya harus lebih diperhatikan dalam urusan global warming.
Konsekuensi logisnya saat ini, ketika dunia menghadapi ancaman lingkungan hidup, lalu siapa yang bertanggung jawab? Seperti melempar gayung tak bersambut memang. Tentunya butuh mekanisasi pasar yang kompleks untuk mempemudah urusan antar negara-negara ini. Karena sudah terkait satu dengan lainnya dalam kebutuhan global.
Dan di sinilah ide-ide yang awalnya ditawarkan pemerhati lingkungan yang “pinter-pinter” untuk menyelesaikannya secara PASAR juga. Jadi negara-negara yang masih mengelola hutannya sekian hekar itu dibayar – memperoleh kompensasi dari negara-negara yang mengeluarkan emisi. Istilahnya ada pabrik yang membeli hutan untuk menyerap sekian gas buang yang mereka keluarkan. Keren yak? Polusi bisa di perjual-belikan dalam pasar global. Dari sinilah pokok-pokok dasar pemikiran lahirnya badan-badan eco-labelling/ISO tersebut.
Kembali ke Indonesia, dengan demokrasi yang didengung-dengungkan sekarang oleh politikus-politikus negeri ini, kehidupan menuju kesejahteraan memang mulai terlihat. Tetapi kesejahteraan yang ke arah mana dulu? Jika ditanyakan apakah ada buktinya kalau bangsa ini mulai terlihat sejahtera? ADA. Sudah lahir sebuah konglomerasi baru dinegara ini. Kenapa demikian? karena krismon 97-98 bukanlah akhir bagi semuanya. Ada pihak-pihak yang memang pintar dalam memanfaatkan keadaan dan memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan aset-nya.
Kemudian yang fenomenal saat ini muncul juga konglomerasi tetangga yang sukses membangun ekonominya di negara ini, seperti MNC dan BUMN tetangga-tetangga kita dalam bidang telekomunikasi dan migas. Saya juga mengungkapkan dalam post lainnya bagaimana infiltrasi saham asing dari negara tetangga dalam telekomunikasi kita sebelumnya.
Kombinasi konglomerat lokal yang menggila dan MNC/BUMN tetangga inilah yang menjadi ganjelan baru dalam ekonomi yang sejahtera bagi keseluruhan masyarakat Indonesia. Hebatnya para konglomerasi lokal kita pun tanpa malu-malu mengakui dirinya juga berada dalam ranah politik dan kepentingan. Coba lihat anggota-anggota DPR kita yang merasa wajar mewakili kepentingan usaha-nya, atau posisi partai yang di bekingi perusahaan besar, bahkan ada petinggi partai yang menjadi seorang pemilik usaha media terkemuka di negeri ini. Apakah ini tidak mempengaruhi arus kepentingan pribadi dan kepentingan bersama? Okey, some people may be just said like this “It’s Just Nasionalism – Patriotic – Sacrifice to The Ibu Pertiwi.. and blah..blah..”.
Tetapi seharusnya kita tetap mawas diri dan legowo bahwa BUKAN TIDAK MUNGKIN arus kepentingan politik negeri ini surut kembali ke zaman Suharto dan konglomerasi keluarganya. BAHKAN LEBIH BURUK mengingat kondisi saat ini dimana bukan hanya satu kroni keluarga saja yang berkuasa. Apakah ancaman itu? Korupsi dan manipulasi kebijakan untuk kepentingan rakyat – kepentingan bersama.
Dan akhirnya ketakutan dalam memimpin rakyat dan mewakili rakyat menuju kesejahteraan yang berwawasan lingkungan seperti yang disampaikan diawal tulisan ini akan kembali menjadi keraguan. Karena para desission maker-nya juga harus kembali dipertanyakan “Pratiotism – Nasionalism – Sacrifice to Ibu Pertiwi”-nya.
This Post Honoured to All Indonesian – Leksa
Thanks to : Christianto Wibisono – Politik Ekonomi Bisnis Dan Lingkungan
Ini POST GA PENTING..Cuman hasil refleksi gue tentang wanita…
Perhatian, post ini mungkin sama sekali ga penting buat anda. Dan bisa juga sekaligus membuat situ pusing, terutama wanita2. Kalo mau komen, dah gue kasih ruang nya.. Bebazz.. Aturan gue berlaku disini..
Ini terpikir di kepala gue setelah baca postingan Superbed di Junker Paradiso Rileks. Si Bet bilang, “napa yah cewe2 sekarang cenderung Identik? Identik aka sama aka mirip aka sejenis (ya iyalah, sama2 betina) aka similar…
Terus setelah gue pikir2 benar juga…
Makin, semakin, dan kebanyakan wanita-wanita sekarang memilih untuk berpenampilan sama, berpakaian sama, memiliki style yang sama, berwawasan yang sama, berdandan yang sama, bergosip yang sama???
Kalo istilah si Bet (gue tambahin, yang italic itu gue):
- rambut berponi (iya nih, minimal diwarnain lah biar kayak blonde2, walo aslinya item, dikasih merah2, kayak Fe2O3..)
- baju ketat, nonjolin buah dada .. (bahan dari kain yang ngaret gitu,… biasanya paling sopan juga kaos luar tipis bahan ngaret, dengan daleman baju bertali dibatasan dada..)
- celana mengerucut menyempit di bagian bawah berwarna warni (ngerucut menyempit, diatasnya perbatasan tali kolor ama kaos..)
- tas samping cem ibu2 mau belanja ke pasar (walo ga belanja apapun..)
- sepatu cem lampu aladin (ada suara pletak pletok nya juga..)…
- Dandanan wajah minimalis sih, walo tetep aja terlihat bibir mengkilat dan sekitar mata kayak dispidol..
- Attitude, gaya jalan dan gaya bicara juga mirip2. Malah wawasan dan goisipnya juga mirip!!
Yap,.. coba perhatikan.. Identik dengan penampilan gitu. Terutama ABG dan Mahasiswi.. Kalo mau jujur, gue rada bosen liatnya. Jalan ke mana-mana (ga di Bandung atau Yogya) ketemu nya yang gitu-gitu lagi.
Sebagai Lelaki normal, wajar kalo gue tertarik ama wanita cantik dan manis, tapi jadi ilfill juga pas liat yang cantik dan manis kok penampilanya jadi kek gini. Jadi ga bisa bedain mana cewe biasa2 ajah ama yang emang cantik dan manis.
Tapi sekali lagi, gue bilang kebanyakan. Kalo anda bukan golongan kebanyakan ini, ya berarti anda bukan bagian yang gue bahas disini..
Pernah ngerasa jalan ke Mall, tapi mata loe melihat wanita2 seperti bermuka sama, berbody sama??
Gue pernah! Ngeri kayak di film2 horor Indo….
Hari ke-4,… Gue Nyogok Supaya Bisa Diterima??
Kalo udah bicara susahnya diterima masuk diperguruan tinggi, kadang muncul option seperti diatas. Apalagi bagi orang tua mahasiswa yang ingin banget anaknya diterima di PT tersebut.
Apa hubungannya dengan hari ke empat gue mengurus2 transferan gue? Hmm.. Sebenarnya gue udah bolak balik diantara 2 otoritas berbeda di kampus ini untuk membicarakan perihal proses transfer ini.
Dan seperti di post sebelumnya, nihil. Gue diminta test dengan kualifikasi seperti anak baru, bukan mahasiswa mengulang atau transfer yang direkomendasikan. Kenapa? Karena kursi udah full untuk jurusan tambang.
Dan tadi pagi gue test denganpersiapan minimal baca2 rumus malam sebelumnya. Bayar di loket, terus input data, terus validasi ke ruang test, dan langsung duduk depan komputer yang menyediakan 30 soal dalam 45 menit. Jreng..!!
Gue ingin nyelesein semuanya dengan benar, tetapi jujur aja, ga ngerti gue ama kimia SMU, dah lama banget gitu loch…
Dan karena kebetulan udah kenal ama mas2 ditempat test, saya minta diintipin hasilnya. Point gue kurang 7 sodara2..Sedikit lagi dari ambang batas passing grade terbaru yang terus naik, karena makin banyak nya peminat ini.
Dan.. dengan hati luka gue tercenung aja. Apakah selesai sampai disini? Terus mau gimana? Nunggu setahun? Atau ada opsi2 lain…??
Pas dalam kondisi bingung begitu, gue bertemu seorang ibu. Ibu tersebut adalah istri pensiunan tentara, yang mana putranya pengen banget masuk kampus ini. Namun beliau sendiri kesusahan dari segi dana. Dan beliau sekarang sedang mengusahakan bertemu dengan otoritas biro akademik yang juga mau gue temui lagi. Curhat lah si ibu panjang lebar dengan gue, cerita macem2 tentang susahnya mencari sekolah yang bagus bagi anaknya, selama kurang lebih 1 jam kita ngobrol menunggu si bapak selesai rapat. Gue melihat, begitu besar pengorbanan seorang ibu yang demi anaknya mau jauh2 datang dari jakarta untuk mengurus sekolah yang terbaik buat anaknya. Si ibu sempat cerita, jika di jakarta, dia tidak dapat lagi mensupport anaknya bersekolah, teramat sangat mahal untuk keluarganya. Ahh…jadi teringat ibunda gue nun jauh disana, walao dia ga pernah ngedampingin gue mengurus sekolah-sekolah gue sejak SMU, tetapi gue percaya seorang ibu sama di mana2, selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Setelah si Ibu menghadap, kemudian gue masuk keruang si bapak untuk kesekian kalinya, meminta beliau untuk bisa memberikan pertimbangan dari hasil test yang point-nya mepet begitu. Ohya, pas mau masuk gue ketemu si ibu dengan wajah yang ceria, gue harap dia dapat solusi terbaik buat putranya.
Obrolan gue dengan si bapak tetep seperti biasa, namun si bapak menawarkan option lain lagi yang baru gue tahu bisa dicoba. Gue kembali ke ruang PMB, ngobrol2 ama mas2 yang kerja disana hasil pembicaraan dari si bapak di Biro Akademik. Salah seorangnya itu ngasih petunjuk ke gue, kalo gue bisa diluluskan dengan saran tersebut. Jadi antara bobot test, besarnya sumbangan dan pilihan jurusan itu memiliki point2 berbeda. Dengan kata lain kalo gue test dengan sumbangan diatas minimal seharusnya, perhitungan dan pertimbangan untuk itu juga akan berbeda di dalam sistem. Karena sistemnya emang dirancang seperti itu – Input – test – result, begitu prosedurnya. Gue kira gue harus daftar lagi untuk test ulang. Tapi si Mas di PMB bilang ngga usah. Gw bisa dibantu (karena kasian liat gue bolak-balik heheh..) dengan langsung merubah validasi input. Kalo gw udah sepakat untuk bayar diatas minimal sumbangan, diitung2in ama beliau berapa minimal sumbangan tambahan yang harus gue capai agar ambang batas lulus seleksi tercapai. Dan alakazam keluarlah jumlah sumbangan yang baru… Dan kalo gue setuju maka akan segera dikeluarkan surat keterangan lulus seleksi. Dan selanjutnya menandatangani blanko perjanjian untuk kesediaan membayar.
Gue kontak dulu keluarga dirumah, .. pertimbangannya gue bisa aja nunggu setahun kerja lagi seperti biasa, sambil ngumpulin duit. Dan kemudian daftar di gelombang pertama untuk tahun ajaran depan. Tetapi si emak ku tercinta ga mau ditunda2 lagi, lagian dengan pertimbangan jurusan ini makin banyak peminatnya dari tahun ke tahun, bisa jadi tahun depan sumbangan minimalnya akan deket-deket juga ama jumlah sumbangan yang sekarang harus gue bayar.
Ya sudah, izin didapat, dan gue juga bulat ini bisa gue lunaskan. Gue kembali ke ruang Panitia PMB dan menyetujui untuk dikenakan sumbangan minimal sekian tersebut.
Yaaa… Begitulah sodara2…
Jadi bukan gue nyumbang lebih karena gue nyogok si panitia atau biro akademiknya. Gue cuman mengikuti sistem yang mereka miliki. Karena sebuah Institusi Swasta yang mandiri seperti ini kan harus membayar sendiri kegiatannya, dan subsidi silang adalah jalan keluar bagi mereka disini.
Layaknya seperti USM ITB lah, yang bayar 45 juta (atau lebih..) itu. Kalo mereka diperlakukan sama, ya buat apa bayar 45 juta. Mending test SPMB aja. Tetapi justru mereka diuntungkan dengan test tersendiri, yang pada intinya berkurangnya persaingan, membesarnya peluang untuk diterima. Plus mendapat antrian kursi terdepan untuk menentukan pilihan jurusan nantinya dibanding yang SPMB.
Sangat kapitalis memang sistem pendidikan seperti ini. Tetapi gue percaya ada ruang-ruang khusus yang disediakan untuk berlaku adil dan membuka kesempatan berpendidikan bagi semua kok. Karena mereka masih harus memberikan keringanan untuk beberapa pihak tertentu. Seperti misalnya bagi anak Pensiunan TNI atau aktif di kedinasan, kampus ini ngasih keringanan. Dan terlebih lagi bagi gue, jumlah biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa disini masih jauh dibawah dari kampus2 swasta lainnya. Dan juga banyak beasiswa yang bisa diurus untuk meringankan beban bagi golongan2 tertentu yang tidak mampu (gue berencana mengurus ini juga ke depan).
Namun kampus swasta tetap swasta. Biaya mandiri dan subsidi silang menjadi kebutuhan pokok untuk menjalankan sebuah institusi pendidikan sebesar ini.
Pengalaman baru tentang semua yang gue jalanin selama beberapa hari ini. Dari ngobrol-ngobrol dengan berbagai orang disini. Sedikit pemahaman baru tentang pendidikan yang adil dan merata. Membongkar cara pandang gue tentang apa itu membiayai pendidikan yang memang mahal. Muncul pertanyaan, jadi kapan nih kita bisa gratis bersekolah di negeri ini? Dikampus swasta aja masih mungkin hal itu terjadi, apalagi di kampus negeri gue rasa. Tul ngga?
Dari 3 Stanza Indonesia Raya, Self-Appraising, Hingga Bibit-Bibit Self Kapitalisme

Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 – 2 dan 3 stanza tersebut (Rima juga mengakui hal yang sama dalam cerita di Blog nya). Bahkan di Youtube sendiri lagu ini sudah ada sebelum Om Roy ribut-ribut mengundang wartawan dalam Ad Hoc Konferensi Pers awal Agustus lalu.
Saya Nge-fans Situ Sebab Situ Kenapa Yaaa??
Sapa yang suka Armirandah,.. hayo ngaku?? Haha.. ga penting ya. Memang sama sekali ga penting. Tapi gue bingung dengan bahasan di rileks tentang wanita ini. Gara-gara si Rendy membawa sang Asmir ke dalam Rileks, maka ramailah diskusi di sana. Semua lelaki mendiskusikan dia. Padahal dia kan cuman wanita biasa. Bukan presiden, bukan dewi dari surga apalagi Tuhan Sang Pencipta. Cuma seorang gadis muda yang dapat kesempatan untuk tampil di televisi.
Ngegosip Sepak Bola Indonesia Setelah Kalah…
Photo diatas dari Timnas Jaman Baheula, Piala Dunia 1938. Ternyata muka pribumi semua kan? :p
Tulisan ini bukan hinaan. Apalagi cacimaki buat Timnas Indonesia AFC 2007. Melainkan ungkapan kebanggan dan salut buat kalian. Kekalahan bukan segala-galanya. Kemenangan juga demikian. Tetapi semangat juang untuk menunjukkan bahwa kita memang bisa dan sepadan dengan sepak bola dunia, itulah yang terpenting saat ini.
Michael Moore, Pendongeng Dari Negeri Paman Sam (Vers. 1.0)
Gue udah lama ga nulis di blog ini. Karena ada beberapa kerjaan dan kesibukan yang musti gue urus. Sebagai gantinya, gue coba ngebahas sedikit tentang sosok aneh gendut dari Paman Sam. Hmm.. â€sedikit†dalam versi gue berarti bisa jadi panjang. So, yang ga suka tentang polemik kebangsaan, critism, dan perang idealisme, lebih baik tidak usah melanjutkan membaca. Tetapi jika anda cukup pintar untuk membaca, beropini dan mengeluarkan suara, tulisan berikut bisa jadi inspirasi baru bagi Indonesia yang cerah ke depannya…(Halah,halah…)
Siapa di dunia saat ini yang tidak kenal Michael Francis Moore? ooh.. banyak kok. Hahaha… si gendut Amerika tersebut tidak se-terkenal Mandy Moore, Julian Moore ataupun Roger Moore. Tetapi di negaranya, dia bisa dikatakan tukang kritik paling kaya saat ini dari film-film dokumenter buatannya. Walaupun filmnya tidak sebanyak film dokumenter yang diproduseri perusahaan media besar seperti CNN atau BBC atau National Geographic, dengan report data-data yang akurat dan ilmiah, namun
â€..He uses both an expository type documentary and an interactive perspective to demonstrate his opinion in this film ..â€
(Wikipedia – “Roger and Meâ€)
