<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Belajar Adil</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/03/25/belajar-adil/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/03/25/belajar-adil/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 11:45:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/03/25/belajar-adil/</guid>
		<description><![CDATA[Adil atau fair. Mungkin sebuah istilah yang sangat basi. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk berlaku adil oleh keluarga. Adil dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Permasalahannya kadang tidak semudah itu dalam memahami keadilan. Sekian tahun saya hidup, nilai-nilai keadilan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/03/25/belajar-adil/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://photos-f.ak.facebook.com/photos-ak-sctm/v213/68/23/661293665/n661293665_462605_2826.jpg" alt="Blind Justice" height="436" width="290" />Adil atau fair. Mungkin sebuah istilah yang sangat basi. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk berlaku adil oleh keluarga. Adil dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Permasalahannya kadang tidak semudah itu dalam memahami keadilan. Sekian tahun saya hidup, nilai-nilai keadilan ternyata justru semakin absurd terlihat.</p>
<p align="justify"><span id="more-278"></span>Apa alasan saya melihat keadilan sebagai sebuah absurditas? Tidak usah dipungkiri jika pemahaman nilai keadilan sangat tergantung dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga, masyarakat dan norma. Dan satu lagi, jika anda berani mengeksplor dan mencari tahu apa itu keadilan layaknya seorang sufi, mungkin bisa jadi memberi pemahaman keadilan yang berbeda.</p>
<p align="justify">Mungkin karena itu ada yang namanya pengadilan dan hukum. Dimana banyak kepala bertemu, bersekutu dan berdebat untuk menemukan banyak pemahaman adil dari berbagai kepala, sehingga sebaik mungkin nilai keadilan dari berbagai versi di dekati. Hukum berasal dari turunan perundang-undangan yang juga disusun oleh banyak kepala dan ahli. Bisa jadi sebuah kesalahan di mata saya menjadi benar oleh sebuah debat hukum. Kondisi ideal ini tentu berlangsung baik adanya, dengan melepas unsur-unsur oportunistis.</p>
<p align="justify">Lalu ada yang bilang keadilan dilihat secara kemanusiaan. Ada juga versi <em>&#8220;pakailah hati itu dalam melihat keadilan&#8221;</em>. Saya justru selama ini termasuk <em>genre</em> yang satu ini. Percaya dengan nilai-nilai kemanusiaan sebagai parameter keadilan. Mungkin pemahaman saya sebatas nilai kemanusiaan satu dua orang saja. Saya tidak tahu apakah jika sudah menumpukkan berbagai ego manusia yang mengaku bernilai kemanusiaan, keadilan tersebut masih memiliki ukuran yang sama? mungkin saja hasil akhirnya malah beda.</p>
<p align="justify"><em>&#8220;Percayakan hati mu untuk menilai keadilan..&#8221;</em>, itu juga pesan lainnya yang saya terima. Tetapi masih bisa saya debat dengan kepala ini. Hati nya siapa? Hati saya dan anda jelas berbeda dalam melihat sebuah keadilan. Hati itu juga sebuah bentuk metafora yang tidak terlepas dari unsur subjektifitas.</p>
<p align="justify">Banyak kasus yang saya dengar dari teman-teman saya tentang pergulatan ini. Nilai keadilan mereka menjadi absurd setelah mencoba berpikir dengan hati dan nilai-nilai kemanusiaan yang satu dua. Mungkin anda juga pernah merasa yang sama seperti ini, begitupun saya. Kasus dimana sering terbentur antara keadilan manusia satu dua dengan keadilan sebuah kepentingan yang lebih besar.</p>
<p align="justify">Analogi sederhana lainnya &#8211; agak sedikit mudah. Dalam hubungan asmara manusia &#8211; <em>yak, soal cinta</em>. Ketika kita sudah berikrar <em>-dengan pertimbangan matang-</em> untuk berkomitmen dengan seseorang, dan kemudian ternyata hati ini masih tersandung rasa dengan hati yang lain, apakah keadilan yang bisa kita berikan untuk keduanya? Memihak hati sejati-jatinya? Atau Selingkuh? Poligami?Poliandri?</p>
<p align="justify"><em>Hmm..</em> Untuk kasus diatas, kenyataannya saya lebih sepakat menjaga yang telah terucap. Seperti sebuah nilai yang saya pahami dari dulu, <em>&#8220;Think, Said and Commit..&#8221;. </em>Komitmen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/03/25/belajar-adil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menara Gading (part one)</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 05:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[ITB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini akan menjadi sangat panjang. &#160; Sejak Kamis sore saya berada di Bandung dalam rangka banyak hal. Maaf buat Beni dan pacar tersayangnya yang tidak terkabari keberangkatan saya. Tapi harusnya lu tau gw pasti ke Bandung, gimana sih? Selama &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sctm/v213/68/23/661293665/n661293665_439993_1319.jpg" alt="Tugu Kubus ITB" height="217" width="290" />Cerita ini akan menjadi sangat panjang.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sejak Kamis sore saya berada di Bandung dalam rangka banyak hal. Maaf buat <a href="http://benxjelek.blogspot.com" title="Blog Beni" target="_blank">Beni</a> dan  pacar tersayangnya yang tidak terkabari keberangkatan saya. <em>Tapi harusnya lu tau gw pasti ke Bandung, gimana sih?</em></p>
<p align="justify"><span id="more-265"></span>Selama setengah minggu di sana, saya hadir di kota kembang itu untuk menyelesaikan janji-janji tertunda dan banyak hal. Dua hari sebelum berangkat, saya sempat bertemu dulu dengan <a href="http://cynthinks.blogspot.com" title="Cynthia's Blog" target="_blank">Cyn</a> yang sedang pulang kampung ke Salatiga &#8211; Cyn juga pulang ke Indonesia untuk wisuda ITB di hari sabtu-nya. Cewek satu ini penasaran dengan <a href="http://aprikot.wordpress.com/2008/01/02/balada-museum-1/" title="Ulen Sentalu dan Gita" target="_blank">Ulen Sentalu</a>, dan saya sempat menemani dia, pacar-nya dan 3 temannya menuju museum putri kraton tersebut, walaupun gerimis terus membasahi kaki Merapi.</p>
<p align="justify">Kamis pagi seperti direncanakan, berangkatlah saya. Oleh-oleh sebuah &#8220;patung yoni&#8221; dan coklat ala Yogya juga sudah terbeli. Saya menggunakan Lodaya Pagi jam 09.30. Walau sistem tiket di Stasiun Tugu sempat offline 30 menit sebelum berangkat, kereta tidak terlambat seperti kata Iwan Fals. Saya dapat duduk nyaman di kursi kosong tanpa teman di sebelah,  menikmati pagi-siang-sore perjalanan Yogya-Bandung. Kereta ini terasa sepi. Langit mendung sepanjang perjalanan, sawah-sawah yang menguning, buruh-buruh tani yang mengarit, pedagang kaki lima, dan <a href="http://antobilang.wordpress.com/2008/03/12/buruh-gendong-memanggul-derita/" title="Buruh Gendong cerita Anto" target="_blank">mbok-mbok gendong</a> yang setia menjajakan pecel <em>(saya memesan pecel gendongan yang beralas daun pisang itu, sayur yang segar!)</em>. Bacaan saya di atas kereta adalah <em>Kompas</em> hari itu beserta buku <em>&#8220;Surat Dari Palmerah&#8221;</em> sang Seno. Kombinasi sempurna. Melihat, membaca, mendengar dan merasakan. Sekelibat banyak ide yang ingin saya tuliskan nanti. Ada 6-8 list yang saya catat di halaman kosong buku Seno untuk ditulis nanti. Indonesia ini benar-benar indah dan &#8220;lucu&#8221;.</p>
<p align="justify">Dalam perjalanan ada kejadian aneh. Seperti biasa, selalu ada anak-anak iseng yang melempar batu ke kaca kereta. Tetapi kali ini bukan <em>iseng</em> lagi. Sudah mengarah pada pengrusakan dan membahayakan jiwa. Batu yang berukuran 2 kali kepalan tangan saya menghantam kaca jendela seorang ibu-ibu berada. Si ibu sangat <em>shock</em> saat itu. Saya bisa melihat dari matanya. Untungnya beliau tidak terkena batu tersebut. Seketika saya beranjak memanggil petugas yang ada di gerbong sebelah, sementara penumpang lain menenangkan si ibu. Petugas dengan pangkat tertinggi -<em>mungkin</em>- juga tiba di gerbong kami, beliau akan melapor di Stasiun terdekat tentang hal ini. Petugas-petugas lain membersihkan serpihan kaca-kaca. Gerbong masih ramai dengan gosip dan cengkrama perihal kejadian tadi, malah ada yang bergosip tentang kenyamanan angkutan-angkutan publik lainnya. Saya hanya bisa bertanya dalam hati, siapa yang disalahkan jika ada kejadian seperti ini?</p>
<p align="justify">Sorenya, gerimis di Stasiun Bandung. 16.45 saya menaiki angkot yang langsung menuju kampus Gajah itu. Disana saya sudah berjanji bertemu teman-teman Persma ITB, untuk diskusi tentang <em>&#8220;Konsep New Journalism Media&#8221; . </em>Cuma diskusi. Saya bukan pembicara yang handal soal jurnalistik. Karena ini cuma kebetulan saja saya didaulat oleh mereka untuk sekedar ndobos™, mumpung ada generasi baru yang masuk. Kalau saya bilang, tujuan ceramah saya lebih kepada membangun spirit berkegiatan buat anak-anak ini. Dimana kondisi kampus ini sudah sangat membatasi waktu mereka untuk berkegiatan di dunia kemahasiswaan dan kampus. Entah ide apa yang diusung kampus besar ini di tahun-tahun ke depan. Di satu sisi saya melihat sebuah langkah progresif yang bagus <em>(yap, saya pernah terlibat diskusi lama dulu sebelum konsep BHMN muncul dikampus ini)</em>. Namun di lain sisi seperti ada spirit-spirit yang sengaja dibunuh, atau lebih kasarnya lagi, ada pembunuhan karakter manusia yang <em>socialite</em> disini.<em> Ah</em>, entahlah. Yang pasti kampus ini sudah bukan milik saya lagi.</p>
<p align="justify">Dan malamnya, malam Jumat yang basah,  saya tetap berdiam dikampus itu. Di antara keraguan menghadiri undangan pesta wisuda dari seseorang, saya memilih <em>ngobrol-ngobrol</em> dengan banyak teman. Dari urusan politik negara hingga politik cinta. Seperti biasa, kampus ini selalu membawa saya pada langlang buana penuh romantisme. Semangat membubung tentang negeri ini. Dan akhirnya tercebur dalam pemahaman bahwa memang kampus ini lebih cocok dikatakan sebuah Menara Gading.</p>
<p align="justify">Hmm,.. tapi negeri ini tidak butuh sebuah menara gading yang tinggi, bukan?</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>To be Continued&#8230; </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terbakar Juga Saudara-saudara&#8230;</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/10/30/terbakar-juga-saudara-saudara/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/10/30/terbakar-juga-saudara-saudara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Oct 2007 09:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/10/30/terbakar-juga-saudara-saudara/</guid>
		<description><![CDATA[Gue memilih diam dan cenderung untuk otokritik dalam permasalahan Indonesia &#8211; Malaysia.Tapi hati ini tetap riweuh dan terbakar setelah gue mencari-cari tahu lebih lanjut (sampai buka buku-buku sejarah Pra &#8211; Pasca konfrontasi dengan Malay). Entah itu adalah setingan dari zaman &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/10/30/terbakar-juga-saudara-saudara/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Gue memilih diam dan <a href="http://www.kapucino.org/2007/10/26/rethinking/" title="Rethinking" target="_blank">cenderung untuk otokritik</a> dalam permasalahan Indonesia &#8211; Malaysia.Tapi hati ini tetap <em>riweuh</em> dan terbakar setelah gue mencari-cari tahu lebih lanjut (<em>sampai buka buku-buku sejarah Pra &#8211; Pasca konfrontasi dengan Malay</em>). Entah itu adalah setingan dari zaman dahulu untuk menghancurkan negara ini, dan juga mungkin di masa kini.</p>
<p align="justify">Didukung pemerintahan masa orde baru yang buruk dalam me<em>manage</em> negeri ini, wajar saja jika infiltrasi tersirat pihak asing mudah menguasai dan mengontrol negeri ini. Gue ambil sebuah ilustrasi &#8211; kasar. Jika gue  memainkan Game <strike>Earth</strike> [<em>si Rime bawel, jd di edit</em>] Age of Empire, DOTA, atau game strategi lainnya, strategi awal adalah dengan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk pemasukan negara. Dan tidak lupa, mengecek tapal batas dengan negara tetangga, jika ada sumber pemasukan negara yang berada di tapal batas, maka dengan segera gue ke sana dan menklaimnya duluan sebelum sang tetangga mengambilnya jadi miliknya (beberapa game strategi ada yang memiliki feature ini-harus eksplorasi dulu untuk mendapat kan resource).</p>
<p align="justify">Lalu apa hubungannya dengan Malaysia? Read more aja dah, soalnya banyak &#8220;BAKAR2AN&#8221; hihii..</p>
<p align="justify"><span id="more-188"></span></p>
<p align="justify">Begitu juga dengan Indonesia. Selat Malaka adalah salah satu gerbang strategis perdagangan dan keamanan buat Indonesia. Gue kadang sering bertanya dari dulu, kenapa Indonesia yang notabene duluan merdeka dari Singapura dan Malaysia malah malah tertinggal di kawasan ini? Maksudnya jika ada pelabuhan persinggahan besar di semenanjung Aceh, Medan, Riau &#8211; Batam atau sungai besar Palembang, tentunya itu adalah penguasaan strategis yang luar biasa. Bung Karno dan para menterinya dahulu mati2an memperjuangkan itu dalam berbagai negeosiasi ZEE. Tapi kenyataannya, saat ini. kita tertinggal.</p>
<p align="justify">Kemudian sedikit dengan <em>rasa sudzon</em>, maka menurut gue ada sebuah setingan besar disini. Kemungkinan memang ada pihak-pihak yang mengerti pentingnya kawasan itu, sehingga mereka melakukan infiltrasi yang cantik. Kita tahu siapa dibelakang Malaysia dan Singapura dalam pembangunan negerinya. Dengan berat hati gue bisa beropini memang banyak kepentingan yang terlibat dikawasan tersebut. Alhasil, setingan yang cantik berhasil, dan kawasan ini menjadi milik 2 negara tetangga itu.</p>
<p align="justify">Setingan berupa apa? Konflik berkepanjangan dengan GAM contohnya. Sentralisasi masa orde baru yang tidak adil. Dan ditambah korupnya pemerintahan masa itu. Cukup membuat kawasan ini tidak bisa berkembang sejauh negara-negara tetangga.</p>
<p align="justify">Yaa itu cuman ide otak gue yang <em>bleguk</em>. Ga usah dianggap serius.</p>
<p align="justify">Tapi gue ada kado buat yang disini, <em>nyomot</em> dari <a href="http://kaskus.us" title="Kaskus" target="_blank">Kaskus</a>. Semoga yang liat jadi berapi2 dan menjadi bahan bakar untuk otokritik lebih lanjut.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<ul>
<li><a href="http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/10/tgl/30/time/092856/idnews/846289/idkanal/10" title="Detik - Berita kakak tua" target="_blank">Burung Kakatua (Juga) Hinggap di Malaysia</a></li>
<li><a href="http://www.antara.co.id/arc/2007/10/29/malaysia-nyanyikan-rasa-sayange-di-forum-pemuda-jepang-asean/" title="Antara news" target="_blank">Malaysia Nyanyikan &#8220;Rasa Sayange&#8221; di Forum Pemuda Jepang-Asean</a></li>
</ul>
<p align="justify">Cek juga skrinsyut ini. Sekalian ngelink ke situs nya.</p>
<p align="justify"><a href="http://www.heritage.gov.my" target="_blank"><img src="http://kapucino.org/portalmy.jpg" alt="Screenshot Portal Budaya Malaysia" align="bottom" width="500" /></a></p>
<p align="justify">Mau <em>nunggu </em>apalagi yang diambil.</p>
<p align="justify">Ohya, sedikit perbandingan &#8211; seru juga denger nya, dari youtube (yang diblok dalem kampus,..<em>ciaann deh loee&#8230;</em>)</p>
<p align="justify"><code>[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/okHZx-c-wc4" width="425" height="350" wmode="transparent" /]</code></p>
<p align="justify">Itu Lagu Jali-jali versi Malaysia</p>
<p align="justify">Dan ini lagu Jali-jali versi Alm. Bang Ben</p>
<p align="justify"><code>[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/Ug30xXENZR8" width="425" height="350" wmode="transparent" /]</code></p>
<p align="justify">Ya, in kan cuman persepsi media kita. Mungkin lebih cenderung berpihak ke kita laporannya, walo jujur gue terbakar juga.  Tapi hikmah <a href="http://www.kapucino.org/2007/10/26/rethinking/" title="Rethinking" target="_blank">otokritik dan Rethinking</a> nya jangan lupa <em>guys.. (ga bosen2 gue ingetin..)</em></p>
<p align="justify">Gilaaa&#8230; 4 POSTINGAN sehari sekali!! Bukti gue lagi ga ada kerjaan.. Ada yang mau kasih kerjaan??? huehaha&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/10/30/terbakar-juga-saudara-saudara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&quot;Rethinking&quot;</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/10/26/rethinking/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/10/26/rethinking/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Oct 2007 07:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/10/26/rethinking/</guid>
		<description><![CDATA[RETHINKING&#8230; &#160; Saya meminjam kata di atas dari sebuah post di blog yang rutin saya kunjungi dalam melihat perspektif berbeda untuk permasalahan yang terjadi di negeri ini. Terlepas apapun dan siapapun blog berlabel Intel itu hadir, tetapi saya menyukai tulisan-tulisan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/10/26/rethinking/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">RETHINKING&#8230;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><img src="http://www.kapucino.org/imaging/visit.jpg" alt="Banner Plesetan Malaysia as Malingsia" align="left" height="128" hspace="5" vspace="5" width="206" />Saya meminjam kata di atas dari sebuah <a href="http://intelindonesia.blogspot.com/2007/08/rethinking-ancaman-asing.html" title="Intel Indonesia Perspektif" target="_blank">post di blog</a> yang rutin saya kunjungi dalam melihat perspektif berbeda untuk permasalahan yang terjadi di negeri ini. Terlepas apapun dan siapapun blog berlabel Intel itu hadir, tetapi saya menyukai tulisan-tulisan dan perspektif yang disampaikan penulisnya.</p>
<p align="justify">Namun di sini &#8220;rethinking&#8221; yang akan saya coba ungkapkan adalah persepsi saya terhadap ramainya cacian dan makian yang terjadi saat ini di antara 2 negara tetangga, Indonesia dan Malaysia.</p>
<p align="justify">Sejujurnya saya sumpek dengan komentar-komentar, baik itu dalam forum online, obrolan bersama teman-teman saya dan juga ramainya media massa yang mengangkat konflik &#8220;<em>riweuh&#8221;</em> ini karena isinya cuman buah menjelek-jelekan dan memancing emosi serta makian.</p>
<p align="justify">Saya berani mengungkapkan rasa <em>&#8220;sumpek&#8221; </em>ini kepada rekan-rekan yang membaca. Benar-benar sumpek. Apakah saya sendiri tidak cinta dengan negeri ini? Indonesia? Justru karena saya mencintainya saya mencoba rekan-rekan untuk me<em>&#8220;rethingking&#8221; </em>ulang pemahaman anda terhadap konflik kita dengan negara tetangga Malaysia, maupun konflik batin dengan negara-negara lainnya.</p>
<p align="justify">Dalam persepsi  kita bangsa Indonesia, Malaysia mencuri lagu dan beberapa objek budaya kita. Jika boleh saya katakan atribut budaya yang kita ributkan dengan Malaysia adalah sebagai objek. Karena kita manusia yang menggunakan atributnya adalah subjek-nya. Seberapa patut si subyek memanfaatkan ke-maha-an objek tersebut? Terlepas dari nilai kebenaran mutlak siapa pemilik yang &#8220;haq&#8221; dari berbagai objek budaya tersebut, karena jika bicara penelusuran hak milik, maka yang bermain adalah persepsi kita terhadap nilai kebenaran yang absurd oleh sejarah manusia.</p>
<p align="justify">Indonesia sendiri sudah dari dulu memliki ahli-ahli sejarah dan budaya yang memetakan berbagai atribut sosial kebudayaan dan kekayaan adat istiadat di seluruh pelosok negeri ini. Sebut saja Prof. T. Jacob, seorang Guru Besar Antropolog Ragawi dan juga ahli ilmu sosial dan perdamaian di negeri ini (&#8220;Selamat jalan, Pak.. Semoga harum pemikiran anda tetap hidup di hati negeri ini&#8230;&#8221;)  atau K.R.T. Hardjonagoro yang didaulat sebagai pelopor batik Indonesia di masa Bung Karno.</p>
<p align="justify">Apakah saya tahu tentang 2 ahli sejarah dan budaya  tersebut? Apakah saya pernah membaca buku-buku mereka tentang kekayaan budaya negeri ini? Padahal mereka hanya sebagian kecil dari banyaknya ahli yang berkontribusi menyumbangkan pemikiran atas pembangunan sosial budaya di negeri ini. Saya TIDAK mengenal banyak dari karya-karya mereka dan pemikiran mereka. Hanya sedikit kepedulian saya hingga tiba waktunya sekarang saya semakin sumpek dengan ramainya maki-makian yang berseliweran saat ini.</p>
<p align="justify">Memang kepedulian terhadap sesuatu hal baru muncul ketika sesuatu yang buruk terjadi terhadap hal tersebut. Kita baru berkoar-koar memiliki dan marah ketika salah satu lagu kita dicuri. Kita baru teriak lantang ketika budaya kita diambil. Berkoar, marah dan teriak lantang menyalahkan pihak pencuri.</p>
<p align="justify">Tetapi pernah kah berpikir, kemana saja kita selama ini? Apakah kita sudah menjaga apa yang kita punya  dengan baik? Apakah kita sudah merawat apa yang kita miliki dengan layak?</p>
<p align="justify">Saya terenyuh jika mereview bagaimana saya sendiri juga masih terkontaminasi dengan budaya barat dalam keseharian saya. Tetapi saya memahami itu sebagai sebuah kewajaran, sebagai human being yang berakulturasi dan berkontemplasi dengan sosial budaya di dalam kehidupan harfiahnya. Dan syukurlah saya tidak pernah menklaim bahwa budaya barat yang ada di bagian diri saya adalah jatidiri saya pribadi, apalagi sampai menklaimnya sebagai budaya sendiri.</p>
<p align="justify">Dalam dunia yang terus berkembang ke arah globalisasi saat ini, bukanlah waktunya berpikir manja untuk disuapi. Maksudnya adalah sudah sepatutnya kita sendiri merawat apa yang kita punya sebelum diambil oleh tangan-tangan asing. Bukan sekonyong-konyong malah bermental busuk untuk berkolaborasi memberikannya ke tangan asing. Ini berlaku untuk beberapa situasi dan kondisi di negeri ini .</p>
<p align="justify">Tidak perlu saya detailkan ungkapan kalimat tersebut diatas. Saya rasa rekan-rekan yang disini bisa memahami apa yang saya maksud.</p>
<p align="justify">Kemudian untuk kondisi yang lain lagi, ketika sudah tercuri baru berkoar teriak lantang dan memaki orang lain pencuri. Hey bung, selama ini kita kemana saja?! Apakah kita sendiri sudah cukup menjaga agar tidak tercuri?</p>
<p align="justify">Dunia semakin mengarah pada kehidupan persaingan bebas. Semua negara tentunya bersaing untuk semakin maju ke depan. Dan ini konsekuensi alami jika banyak kepentingan negara-negara yang semakin saling berpotongan satu sama lain.</p>
<p align="justify">Jepang mengembangkan teknologi Bioindustri yang luar biasa, bahkan terakhir mereka bisa mengembangkan industri Tempe dengan cara lebih advance, terus kita teriak bahwa kita kecurian lagi??!! memang kita kemana selama ini? Apakah kita telah menempatkan perhatian terhadap makanan lokal bergizi kita itu? Simpel nya lagi &#8211; Sudah layakkah perhatian pemerintah terhadap penelitian-penelitian anak bangsa ini?</p>
<p align="justify">Uncle Sam punya kepentingan terhadap negeri kita, jelas itu mah. Terus solusinya apakah dengan memaki USA karena mereka seenak perut begitu masuk-masuk dalam kebijakan ekonomi negeri kita? Yaa,.. justru sekarang seharusnya berpikir bagaimana kita membentengi diri agar tidak mudah dipotong-potong oleh mereka. Simpel kan?</p>
<p align="justify">Saya tidak menjelekkan rekan-rekan yang menjiwai budaya barat dalam kesehariannya. Saya tidak memaki rekan-rekan yang mengharu biru dengan dorama Korea atau anime-anime Jepang. Karena itu adalah kontemplasi teman-teman dalam memahami akulturasi budaya di era global sekarang. Sekonyong-konyong tidak juga mediskreditkan rekan-rekan yang sekedar pragmatis berlabel budaya lokal walau tidak paham maknanya.</p>
<p align="justify">Saya hanya berkeluh kesah untuk kita yang semakin lupa dengan cara menjaga apa yang kita miliki. Saya hanya bersedih terhadap mental kita yang tidak mau mengembangkan apa yang kita punya.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Ini adalah tulisan curahan hati disertai sedikit sekali fakta, &#8220;cuma segelas kopi dengan rasa berbeda&#8221;.</p>
<p align="justify">Sebuah opini lain tentang konflik Indonesia &#8211; Malaysia yang saya pilih untuk rekan-rekan simak adalah milik <a href="http://imanbrotoseno.blogspot.com/2007/10/malaysia-beruntung-saya-menemukan.html" title="Opini Mas Iman Brotoseno" target="_blank">Mas Iman</a>.</p>
<p align="justify">Selamat <strong>me&#8221;rethinking</strong>&#8221; untuk kita semua.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>**Image ilustrasi diambil dari http://malingsia.blogspot.com, edited by Leksa</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/10/26/rethinking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gegap Gempita Pesta Blogger Dalam pestablogger.com</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/10/18/gegap-gempita-pesta-blogger-dalam-pestabloggercom/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/10/18/gegap-gempita-pesta-blogger-dalam-pestabloggercom/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 23:18:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/10/18/gegap-gempita-pesta-blogger-dalam-pestabloggercom/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Saya suka membagi pemikiran saya di dalam Blog&#8221;. Yap, mungkin cuma itu jika ada yang menanyakan kepada saya mengapa menulis blog. Anda bisa melihat Cloudy Tags saya yang sangat ribet dan campur aduk kayak sayur asem diatas. Itu hanya sekedar &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/10/18/gegap-gempita-pesta-blogger-dalam-pestabloggercom/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://blogs.timesunion.com/editors/wp-content/uploads/2006/04/danziger.jpg" alt="Illustration about Blog" align="left" hspace="5" vspace="5" width="300" /><strong>&#8220;Saya suka membagi pemikiran saya di dalam Blog&#8221;.</strong></p>
<p align="justify">Yap, mungkin cuma itu jika ada yang menanyakan kepada saya mengapa menulis blog. Anda bisa melihat <em>Cloudy Tags</em> saya yang sangat <em>ribet</em> dan campur aduk kayak sayur <em>asem </em>diatas<em>. </em>Itu hanya sekedar menunjukkan bahwa memang saya ingin membahas banyak hal dengan semua pembaca blog saya. Cuma sesimpel itu, tanpa embel-embel <em><strong>&#8220;I&#8217;m a Bloggerrr..&#8221;</strong></em> atau <em><strong>&#8220;Long life Citizen Journalism&#8230;&#8221;</strong>.</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Saya memulai menulis di Internet ketika Cybersastra.Net masih eksis. Sekedar sharing puisi dan gejolak pemikiran muda bersama para komunitas sastra online &#8211; yang notabene dulu juga sempat dianggap oleh sastrawan senior sebagai komunitas sastra <em>abal-abal</em>/puisi sampah &#8211; sastrawan yang tidak mendapat tempat. Paling tidak itu kesimpulan yang saya peroleh ketika berbincang dengan sesama rekan cybersastra pada saat pertemuan di Bandung &#8211; 2002-2003 . <em>(Apakabar Teh Sireum Hideung ? <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </em>).</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kemudian sempat juga membuat blog di <a href="http://blogger.com" target="_blank" title="Blogspot Free">Blogspot</a>. Sayangnya saya lalu menghilang dalam gemerlap dunia perkampusan (ya standar lah, gosip sana sini &#8211; nongkrong luar-dalam kampus dan pacaran..hehehe). Dan akibat lama tidak update, saya lupa <em>account</em> di blogspot tersebut. Maklum, karena masih suka gonta ganti email waktu itu, makhluk polos baru kenal Internet, semua email provider saya subscribe, semua feature internet saya coba(dari game sampai Adult Content.. hahaha).</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kemudian, pernah mencoba menulis blog dari tawaran domain pribadi di leksanadra.com. Sekarang sudah mati, setahun lalu kalau tidak salah matinya. Dan kini saya menggunakan Kapucino.Org, yang kini sudah berumur setahun, walau post nya baru dimulai di bulan Desember 2006. Archives lama dari Kapucino bisa dilihat di <a href="http://blog-indonesia.com/blog.php?blogger=2631" target="_blank" title="Blog Indonesia">Blog-Indonesia.</a></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Nah, berarti saya memang bukan seorang senior blogger, setahun bukan lah waktu yang bisa dibilang <a href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;q=blogger+senior&amp;btnG=Telusuri+dengan+Google&amp;meta=cr%3DcountryID" target="_blank" title="Senior Blogger">senior blogger</a> &#8211; <em>dalam beberapa &#8220;kamus&#8221; blogger</em>. Tetapi saya pernah mengikuti <em>rame-rame</em> pembahasan mengenai blog dan <em>citizen journalism</em> &#8211; saya mengikuti kisah-kisah dari &#8220;jangan sembarang kopi paste&#8221;, <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/12/tgl/12/time/173959/idnews/496904/idkanal/10" target="_blank" title="Penahanan Blogger">penahanan polisi terhadap seorang blogger</a> hingga <em>cekcok </em>antara <a href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;q=roy+suryo+blogger&amp;btnG=Telusuri+dengan+Google&amp;meta=" target="_blank" title="Blogger dan Roy Suryo">blogger dan Roy Suryo</a>. Dalam pemahaman saya, kasus-kasus tersebut tidak memberikan unsur penekanan mendukung sesama blogger &#8220;<strong>Karena Kami Blogger</strong>&#8220;. Bagi saya bukan disana penekanannya, walaupun banyak senior blogger yang beropini dan menyuarakan gegap gempita bahwa sesama blogger harus bersatu, atau &#8220;<strong>mari-mari dukung teman kita sesama blogger</strong>&#8220;.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Tujuan penegasan saya di atas adalah untuk menghindari <a href="http://en.wiktionary.org/wiki/patronize" target="_blank" title="Patronase"><em>patronase</em></a> dalam menulis/berpendapat atau mengikuti sebuah komunitas. Mungkin itu kalimat paling nyaman untuk mengungkapkan hal-hal diatas. Menjadi blogger bukan berarti sekonyong-konyong sekedar mengikuti trend, bahkan pendapat dan suara pun jadi <em>ngikut </em>trend. Sama halnya ketika kita berada dalam pergaulan sosial lainnya. Sebagai contoh, misalkan saya berada/tergabung dalam sebuah komunitas &#8211; lingkungan, jika memang alam pikiran saya berkata ada sesuatu hal yang tidak sesuai dan tidak benar, maka sepatutnya disuarakan. Bukan se-<em>abal-abal</em> malah mengikuti trend atau idol atau senior dalam komunitas saya tersebut.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Blog adalah sebuah media penulisan dalam internet dimana semua orang dapat menulis apa yang dirasa &#8211; dipikirkan dan beropini. Bebas iya, tetapi dalam kerangka bertanggung jawab. Bukankah dalam kehidupan <em>riil</em> juga kita selalu dituntun berpendapat bebas yang bertanggung jawab? <em>So,</em> tidak ada bedanya bukan? Pendapat saya ini jika melihat posisi penulis blog sebagai individu dan <em>human being.</em> Ternyata sama saja etika yang mengatur kita dalam media blog ataupun dalam etika di kehidupan nyata.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Lalu saya sedikit tergelitik, ketika dulu awal &#8211; pertengahan 2006 teman-teman saya di kampus, sesama rekan-rekan pers di dalam kampus sedang hangat-hangatnya membahas <em>citizen journalism</em>. Sampai mengundang pembicara-pembicara dari kalangan pers pula, dan bahkan berupaya mengadakan <em>event</em> yang lebih besar (walau akhirnya gagal, syukurlah..). Saya melihat ini sebagai euforia saja, dikarenakan rekan-rekan pers tersebut menyaksikan hangatya kasus dalam dunia perbloggeran sendiri pada saat itu. Dan kemudian mengambil asumsi pendek, &#8220;Jika kita menulis blog, maka kita bebas bersuara dan beropini&#8221;.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Memang bebas <em>kok</em>, <em>ngga </em>ada yang larang. Sama juga bebasnya dengan mau menulis di koran-koran atau tabloid mereka. Sama bebasnya beropini dalam media-media selebaran mereka. Tidak ada bedanya. Hanya satu hal yang membedakan, TARGET PEMBACA tentu lebih luas dalam media Internet. Tetapi kemudian jika perbedaannya hanya itu, lalu apa bedanya dengan membuat situs website terhadap kantor pers mereka? Kenapa harus menjadi pers blog atau sejenisnya? Jika ingin berwarna diskusi dan bebas, ya silahkan saja ditambahkan media diskusi, tinggal tambahkan feature comment atau sekalian forum barangkali.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><img src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2007/10/button-pb-005.jpg" alt="Pestablogger" align="left" height="90" hspace="5" vspace="5" width="178" />Oke, itu sebuah asumsi saya dari dulu. Dan kemudian yang membuat saya menjadi bingung saat ini &#8211; terdorong oleh mas <a href="http://kramput.blogspot.com" target="_blank" title="Ikram">ikram</a> yang mendadak tengah malam mengajak diskusi tentang <a href="http://www.pestablogger.com" target="_blank" title="Pestablogger">PESTABLOGGER</a>&#8220;. Beliau menanyakan pendapat saya tentang kegiatan tersebut. Jawaban opini dan pemikiran sadar-bawah sadar saya dari dulu, yang namanya blog <em>ya</em> yang seperti saya ceritakan di atas. Tapi kemudian si Mas Ganteng Kacamata ini mulai menyinggung isi dari situs pestablogger.com. Memang dasar tukang kritik, paling bisa melihat celah sekecil itu (haha..<em>Negation in your Bloody Header, bro..</em> ). Ikram secara pendek mengungkapkan <em>&#8220;cm aneh aja kalo setiap pemberitaan di koran, mereka upload di pestablogger.com &#8211; karena bukannya blog itu new media? &#8211; yg berlawanan sm old media?&#8221;<br />
</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Yeah</em>,.. kembali perdebatan panjang dan perenungan disini. <a href="http://enda.goblogmedia.com/new-media-vs-old-media.html" target="_blank" title="New Media vs Old Media">Seorang senior blogger dahulu pernah mem-<em>boosting </em>tentang ini. </a>Bahkan anda bakal menemukan file PDF tentang tips trick menghadapi media baru (salam Mas Enda..). Sebagai <em>&#8220;junior blogger&#8221; </em>yang lebih junior dari Ikram, saya seperti diospek ulang hehehe&#8230;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Yap</em>, sangat masuk akal ungkapan Ikram di atas. Coba lihat situs pestablogger sendiri yang selalu mengangkat post tentang pemberitaan acara Pesta Blogger di koran-koran. Jika dan hanya jika <em><strong>Old dan New media</strong></em> tidak saling butuh seperti yang diungkapkan Enda (dan mungkin juga blogger lain berpendapat sama), lalu kenapa pestablogger sendiri mendapat sponsor dan partner dari 3 <em>Old Media</em>?</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Dalam opini saya sendiri (kembali &#8211; apa yang ada di pikiran saya), jika karena kasus <a href="http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/05/tgl/06/time/111827/idnews/356018/idkanal/10" target="_blank" title="Priyadi tentang kasus Kompas vs Basuki Suhardiman">Kompas dan Basuki Suhardiman</a> (<em>salam dari Yogya, Pak Bas.. <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em> ) yang awalnya di<em>boost</em> oleh Priyadi dalam post <a href="http://priyadi.net/archives/2005/05/03/satria-kepencet-whistleblower-anonimitas-dan-kompas/">Satria Kepencet, Whistleblower, Anonimitas dan Kompas</a>, kemudian menyebabkan muncul dikhotomi antara Old dan New Media, maka ini bukanlah suatu hal yang bijak. Kenapa? Alasan-alasan dan uraian saya diawal terkait dengan ini. Analogi paling buruk dari pembatasan tersebut, jika Kompas adalah Old Media &#8211; &#8220;butuh uang untuk tinta&#8221;, maka begitu pula dengan semua media cetak pers.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Bagi saya sendiri, kasus yang di<em>-blow-up</em> tersebut tidak lebih dari suara bebas yang bertanggung jawab, yang berusaha menyampaikan kebenaran dari versinya. Terlepas dari adanya isu-isu lain dibelakang yang menyusul <em>blow-up</em> tersebut.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Jika pun ingin memberikan label berbeda antara blog dan media cetak, maka bagi saya hanya lebih baik sebatas bahwa sang penulis blog &#8220;hanya&#8221; terikat oleh etika-nya dalam menyampaikan informasi yang sesuai dan runtut dengan jalan pikirannya &#8211; dan mungkin disertai fakta yang akurat. Berbeda dengan media cetak yang terikat aturan jurnalisme yang baku, teratur dalam manajemen dan memperhitungkan pasar komersial. Atau singkatnya blog adalah suara bebas yang bertanggung jawab dan media cetak adalah media informasi resmi bagi masyarakat. Dan silahkan masyarakat memilih asupan informasi mana yang baik bagi mereka.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kalau pembagian media &#8220;Old vs New Media yang tidak saling butuh&#8221; masih berlaku, <em>ntar</em> blunder <em>deh</em> kayak sekarang, malah kerjasama sekarang <em>kan</em>? Belum lagi sekarang beberapa media cetak sudah memberi fasilitas terbitan online, lengkap dengan milist, forum dan media untuk berkomentar.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Akhir kalimat dari saya sebagai seorang <em>&#8220;Blogger Junior&#8221;</em>, SELAMAT BERPESTA BLOGGER bagi anda yang merayakan. <em>(Udah kayak ucapan merayakan Idul Fitri ajah&#8230;hehehe)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/10/18/gegap-gempita-pesta-blogger-dalam-pestabloggercom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blogactionday &#8211; Menuju Kesejahteraan Rakyat Yang Berwawasan Lingkungan</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/10/16/blogactionday-menuju-kesejahteraan-rakyat-yang-berwawasan-lingkungan/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/10/16/blogactionday-menuju-kesejahteraan-rakyat-yang-berwawasan-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 17:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/10/16/blogactionday-menuju-kesejahteraan-rakyat-yang-berwawasan-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Hari ini kan hari Blogactionday &#8211; seperti disepakati bersama dan gue udah submit &#8211; janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/10/16/blogactionday-menuju-kesejahteraan-rakyat-yang-berwawasan-lingkungan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center" align="justify"><img src="http://www.candy.net.au/cma2006/extranet/uploads/images/About/Environment.jpg" height="331" width="352" /></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Hari ini kan hari <a href="http://blogactionday.org" title="Blogactionday" target="_blank">Blogactionday</a> &#8211; seperti disepakati bersama dan gue udah submit &#8211; janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang menulis suatu isu pada hari dan waktu yang sama? Apa pengaruhnya?<br />
Okey, kita kembali kepada penguasa Internet dunia, <a href="http://www.google.com" title="Si Mbah">Mbah Google</a> . Kemampuan crawler Google yang mengelilingi semua situs di Internet dan menangkap isi nya adalah senjata ampuh dalam mengangkat sebuah informasi menjadi terbaca oleh semua orang di lapisan dunia. Bukan tidak mungkin jika separoh orang di dunia menulis sebuah propaganda mengenai Tuhan itu apa, maka ketika saya dengan polosnya bertanya dan mencari &#8220;kebenaran&#8221; lewat si Mbah, maka dia akan menjawab sesuai dengan propaganda tersebut. Saya menggunakan istilah propaganda, karena berarti itu adalah informasi yang memang sengaja dikeluarkan dalam rangka melawan (meng-<em>counter)</em> informasi resmi yang diketahui khalayak ramai pada umumnya.
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Itu baru jika sebuah informasi yang update dan berjumlah banyak. Belum lagi jika di tambah technical SEO yang bagus. Bayangkan jika sebuah situs yang memiliki Traffic Rank (Pagerank) 7 ke-atas atau <a href="http://alexa.com" title="Mbak Alexa">Alexa top 50</a> memberikan sebuah informasi yang bohong, dan sebenarnya tidak ada. Atau pembelokan sejarah yang masih ambigu misalnya. Yaaa&#8230; memang Internet dan Informasi di dalamnya sangat susah dikalibrasi ternyata, <em>People common Room</em> dan semua memberi informasi versi masing-masing.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Jika Pertanyaan saya lanjutkan, tolong tanyakan kepada &#8220;<a href="http://www.google.com" title="Mbah Google" target="_blank">penyampai kebenaran</a>&#8221; siapakah Tuhan? Maka jawabnya apa? hehehe&#8230;  <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Okey, kembali pada Blogactionday. Pertama sekali saya bingung, kenapa harus membahas lingkungan hidup, seperti misal <a href="http://kopipakegula.blogspot.com" title="Rime" target="_blank">Rime</a> mengangkat cerita tentang kemasan minuman, dan air minum komersial. Itu memang sebuah isu lingkungan.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kalau saya sendiri dengan latar belakang Ilmu di Pertambangan, mau mengangkat isu tentang pengrusakan hutan, pembabatan bukit dan gunung, atau penurunan muka air tanah hingga isu limbah tailing, tentunya itu adalah isu yang umum sekali. Bahkan isu tersebut malah terlihat aneh karena nanti saya bisa berkacamata dari versi analisis dampak lingkungan konsultan penambangan. Semua pertambangan besar itu memiliki data analisis faktual dan sangat saintis sekali untuk diangkat ke pengadilan jika anda atau bahkan Greenpeace sekalipun mencoba menuntut. WALAU saya tidak tahu data tersebut dengan cara kotor atau bersih dalam memperolehnya &#8211; saya bukan polisi yang menyidik, atau BPK/KPK yang ngurus begituan. Karena urusan begini ga jauh dari politik-bisnis-politik.<br />
<img src="http://www.walhi-jogja.or.id/images/keg..jpg" height="488" width="496" />
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Foto dari Walhi-yogya.or.id :Yogya di Hari Bumi 2007</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Memang berbicara kebutuhan hidup manusia, baik personal, kelompok bahkan kebutuhan bersama, tidak akan terlepas dari urusan politik. Apakah masalah lingkungan juga menjadi kebutuhan bersama, kelompok, atau personal? Tentu kita menjawab menjadi kebutuhan bersama. Bersama siapa tapinya?</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Coba kita lihat sang Al Gore &#8211; Peraih Nobel Perdamaian tahun ini. Karena kegiatannya yang sangat <em>progressive</em> dalam menyuarakan Pemanasan Global, ia berkesempatan memperoleh nobel perdamaian. Mungkin bisa jadi ada penilaian tersendiri terhadap posisinya yang anti Perang &#8211; Irak, tetapi tekanan pemilihan nobel ini sendiri justru pada gerakannya dalam <em>Global Warming Issue</em>. Komite Nobel Perdamaian sendiri sempat ribut-ribut untuk lebih <em>strict</em> &#8211; ketat dalam menentukan peraih nobel perdamaian tahun ini. Tahun lalu dengan terpilihnya M. Yunus dengan ide kredit mikro-nya tersebut, komite nobel sempat cekcok dengan pemerhati perdamaian dunia lainnya <em>lantaran</em> dinilai tidak memilih orang yang terkait erat dengan masalah perdamaian dunia. Namun tahun ini kembali terpilih tokoh yang paling kontroversial dalam percaturan dunia. Dan dialah Al Gore.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><img src="http://www.funnyandjokes.com/wp-content/uploads/2007/06/shark-global-warming.jpg" width="540" /></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Seberapa besar permasalahan pemanasan global terkait dengan perdamaian dunia? Dari sudut pandang saya pribadi memang tidak terlihat kaitan langsung. <em>Wong</em>, beberapa fakta ilmiah dalam film Inconvinient Truth saja <a href="http://copiousdissent.blogspot.com/2007/10/judge-in-britain-outlines-11-of-al.html" title="Judge in Britain Outlines 11 of Al Goreâ€™s Lies That Must Be Disclosed to Students in Propaganda Film: An Inconvenient Truth" target="_blank">masih didebat oleh beberapa mahkamah konstitusi  dan ilmuwan </a>. Tetapi <a href="http://www.ranesi.nl/arsipaktua/masalahglobal/al_gore_nobel071012" title="Kaitan Global Warming dan Perdamaian" target="_blank">secara tidak langsung memang ada keterkaitan</a>. Bagaimana situasi di Afrika dalam masalah sumber daya alam hayati bisa menyebabkan perang saudara, namun ini juga masih dipertanyakan apakah ada keterkaitan khusus dengan <em>Global Warming. </em>Dalam opini saya sendiri, justru dari sini bisa dilihat. Jika Afrika saja bisa berperang saudara karena urusan ketersediaan sumber air &#8211; terbayang tidak jika Indonesia berperang dengan Malaysia karena masalah Asap, hewan langka dan Limbah Minyak??</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Dan isu menarik tentang pengangkatan Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian seperti menjadi tamparan di muka bagi kaum politisi sendiri (semoga). Karena kita tahu bagaimana Al Gore sendiri tetap berada dalam jalur pemilihan Presiden di USA 2008. Dalam <a href="http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1622597-3,00.html" title="Al Gore Interview" target="_blank">wawancara dengan Times</a> memang Gore tidak menyatakan langsung ia akan mengejar kursi presiden. Namun, pernyataannya <em>&#8220;fallen out of love with politics,&#8221;</em> dan <em>&#8220;convinced the presidency is the highest and best role I could play&#8221;</em> yang menancapkan opini posistif bahwa ia akan berjuang ke arah sana. Apakah posisinya sebagai peraih nobel perdamaian ini akan menjadi <em>&#8220;boosting&#8221;</em> tersendiri untuk melancarkan jalannya ke kursi presiden? Jelas berpengaruh. Thats again the politics play based on the enviromental issue&#8230;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Bagaimana dengan indonesia sendiri? Apakah isu lingkungan selalu dikadali oleh para politisi kita? Mungkin tidak selalu &#8211; tapi ada, dari isu naiknya kepala desa karena kampanye kebun bersamanya, hingga Gubernur yang menjanjikan perlindungan Hutan (dan notabene malah berakhir pada pembalakan oleh HPH pilihannya). Belum lagi jika kita <em>flashback</em> pada masa Suharto dan kroni-kroninya bagaimana urusan pengawasan lingkungan PMA (Penanam Modal Asing &#8211; terutama sektor Pertambangan/Migas) masih bisa diatur dalam kerangka &#8220;kekeluargaan&#8221;.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Tapi paling menarik adalah rencana terbaru Indonesia yang kian mengikut arus oleh kepentingan Global. Protokol Kyoto jelas bisa dipastikan gagal mengingat Amerika sudah pasti menolak pembatasan emisi gas buang. Dan kini para penguasa kepentingan global dunia mulai mengatur kepada sebuah strategi baru &#8211; Road Map baru, yang dengan kerennya dinamakan <strong>&#8220;A Bali Road Map After Kyoto&#8221;. </strong>Ya, tepat sekali. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan ini pada tanggal 4 &#8211; 17 Desember 2007.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Bukan berarti tidak bangga dengan predikat tersebut. Kalau kata Nagabonar &#8220;<em>Cem mana pulak tidak bangga kau ini&#8221;.</em> Tetapi kita masih bisa ingat bagaimana negara ketiga seperti Indonesia selalu menjadi kambing hitam dari kepentingan global.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Memang negara kita adalah salah satu negara yang sangat dihormati dalam kerangka menjaga iklim global. Istilah zaman saya SD dulu adalah &#8220;paru-paru dunia&#8221;. Entah istilah itu masih ada apa tidak, saya tidak tahu. Mengingat menggilanya pembukaan lahan Sumatra dan Kalimantan untuk perumahan, industri dan pertambangan. Belum lagi kebakaran hutan yang asapnya memperpanas hubungan kita dengan Malaysia berlanjut klaim-klaiman Batik, Lagu Daerah (<em>dan mungkin pacar saya juga diklaim nantinya, hahaha..</em>).</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Dikadali negeri Barat dan kroninya, saya menggunakan istilah itu. Karena isu lingkungan telah menjadi kebutuhan dunia global. Tetapi uniknya dengan mengatasnamakan kepentingan global inilah kemudian muncul LSM dan NGO yang &#8220;awalnya&#8221; terlihat seperti pemerhati. Menawarkan berbagai solusi-solusi alternatif untuk keselamatan bersama. Saya masih ingat dengan istilah <em>eco-labelling  </em>dimana ini adalah semacam program sertifikasi standar bagi produk eksport bahwa dalam proses produksinya tidak merusak lingkungan. Perusahaan produk eksport tersebut harus membayar sekian duit untuk memperoleh sertifikasi tersebut, dengan kata lain ada badan kompeten di dunia global yang menilai standard ini.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Lha</em>, kenapa jadi nya ke duit? Mungkin kerangka berpikir awam masih menilai eco-labelling/ISO ini-itu adalah sebuah bentuk penilaian standarisasi dengan kompensasi gratis. NO!! Karena metode berpikir awal lahirnya badan-badan ini adalah karena kepentingan pasar dunia juga.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Begini, negara-negara maju (yang sudah duluan maju), mereka saat ini sudah memiliki tingkat industri yang sedemikian maju dan menjamin kesejahteraan diatas negara-negara berkembang. Sementara, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, China dan lainnya sedang mengusahakan ke arah sejahtera tersebut yang otomatis industrialisasinya digenjot gila-gilaan &#8211; dan ini tidak terlepas dari pergeseran pasar industri global dimana negara-negara maju telah memindahkan industrinya ke negara-negara berkembang. Bisa dilihat dari grafik penghasil emisi gas buang &#8211; selain amerika , India dan China memperoleh rating yang lumayan tinggi. Bahkan si Bush sempat mendebat Protokol Kyoto dengan menyebut-nyebut India dan negara ke-tiga lainnya harus lebih diperhatikan dalam urusan <em>global warming.</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Konsekuensi logisnya saat ini, ketika dunia menghadapi ancaman lingkungan hidup, lalu siapa yang bertanggung jawab? Seperti melempar gayung tak bersambut memang. Tentunya butuh mekanisasi pasar yang kompleks untuk mempemudah urusan antar negara-negara ini. Karena sudah terkait satu dengan lainnya dalam kebutuhan global.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Dan di sinilah ide-ide yang awalnya ditawarkan pemerhati lingkungan yang <em>&#8220;pinter-pinter&#8221;</em> untuk menyelesaikannya secara PASAR juga. Jadi negara-negara yang masih mengelola hutannya sekian hekar itu dibayar &#8211; memperoleh kompensasi dari negara-negara yang mengeluarkan emisi. Istilahnya ada pabrik yang membeli hutan untuk menyerap sekian gas buang yang mereka keluarkan. <em>Keren yak</em>? Polusi bisa di perjual-belikan dalam pasar global. Dari sinilah pokok-pokok dasar pemikiran lahirnya badan-badan eco-labelling/ISO tersebut.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kembali ke Indonesia, dengan demokrasi yang didengung-dengungkan sekarang oleh politikus-politikus negeri ini, kehidupan menuju kesejahteraan memang mulai terlihat. Tetapi kesejahteraan yang ke arah mana dulu? Jika ditanyakan apakah ada buktinya kalau bangsa ini mulai terlihat sejahtera? ADA. Sudah lahir sebuah konglomerasi baru dinegara ini. Kenapa demikian? karena krismon 97-98 bukanlah akhir bagi semuanya. Ada pihak-pihak yang memang pintar dalam memanfaatkan keadaan dan memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan aset-nya.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kemudian yang fenomenal saat ini muncul juga konglomerasi tetangga yang sukses membangun ekonominya di negara ini, seperti MNC dan BUMN tetangga-tetangga kita dalam bidang telekomunikasi dan migas. Saya juga mengungkapkan dalam <a href="http://www.kapucino.org/2007/04/28/seberapa-besar-saham-asing-dalam-telekomunikasi-indonesia/" title="Saham asing dalam telekomunikasi" target="_blank">post lainnya</a> bagaimana infiltrasi saham asing dari negara tetangga dalam telekomunikasi kita sebelumnya.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kombinasi konglomerat lokal yang menggila dan MNC/BUMN tetangga inilah yang menjadi <em>ganjelan</em> baru dalam ekonomi yang sejahtera bagi keseluruhan masyarakat Indonesia. Hebatnya para konglomerasi lokal kita pun tanpa malu-malu mengakui dirinya juga berada dalam ranah politik dan kepentingan. Coba lihat anggota-anggota DPR kita yang merasa wajar mewakili kepentingan usaha-nya, atau posisi partai yang di bekingi perusahaan besar, bahkan ada petinggi partai yang menjadi seorang pemilik usaha media terkemuka di negeri ini. Apakah ini tidak mempengaruhi arus kepentingan pribadi dan kepentingan bersama? Okey, some people may be just said like this <em>&#8220;It&#8217;s Just Nasionalism &#8211; Patriotic &#8211; Sacrifice to The Ibu Pertiwi.. and blah..blah..&#8221;.</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Tetapi seharusnya kita tetap mawas diri dan <em>legowo</em> bahwa <strong>BUKAN TIDAK MUNGKIN</strong> arus kepentingan politik negeri ini surut kembali ke zaman Suharto dan konglomerasi keluarganya. <strong>BAHKAN LEBIH BURUK</strong> mengingat kondisi saat ini dimana bukan hanya satu kroni keluarga saja yang berkuasa. Apakah ancaman itu? Korupsi dan manipulasi kebijakan untuk kepentingan rakyat &#8211; kepentingan bersama.<br />
<img src="http://www.media-indonesia.com/data/resensi/378.jpg" height="278" width="200" />
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Dan akhirnya ketakutan dalam memimpin rakyat dan mewakili rakyat <strong>menuju kesejahteraan yang berwawasan lingkungan</strong> seperti yang disampaikan diawal tulisan ini akan kembali menjadi keraguan. Karena para <em>desission maker</em>-nya juga harus kembali dipertanyakan &#8220;Pratiotism &#8211; Nasionalism &#8211; Sacrifice to Ibu Pertiwi&#8221;-nya.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>This Post Honoured to All Indonesian &#8211; Leksa</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Thanks to : <strong> Christianto             Wibisono &#8211; Politik Ekonomi Bisnis Dan Lingkungan</strong> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/10/16/blogactionday-menuju-kesejahteraan-rakyat-yang-berwawasan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ini POST GA PENTING..Cuman hasil refleksi gue tentang wanita&#8230;</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/09/29/ini-post-ga-pentingcuman-hasil-refleksi-gue/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/09/29/ini-post-ga-pentingcuman-hasil-refleksi-gue/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2007 17:52:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[My Live]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/09/29/ini-post-ga-pentingcuman-hasil-refleksi-gue/</guid>
		<description><![CDATA[Perhatian, post ini mungkin sama sekali ga penting buat anda. Dan bisa juga sekaligus membuat situ pusing, terutama wanita2. Kalo mau komen, dah gue kasih ruang nya.. Bebazz.. Aturan gue berlaku disini.. &#160; Ini terpikir di kepala gue setelah baca &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/09/29/ini-post-ga-pentingcuman-hasil-refleksi-gue/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Perhatian, post ini mungkin sama sekali ga penting buat anda. Dan bisa juga sekaligus membuat situ pusing, terutama wanita2. Kalo mau komen, dah gue kasih ruang nya.. Bebazz.. Aturan gue berlaku disini..</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Ini terpikir di kepala gue setelah baca postingan Superbed di Junker Paradiso Rileks. Si Bet bilang, &#8220;napa yah cewe2 sekarang cenderung Identik? Identik aka sama aka mirip aka sejenis (ya iyalah, sama2 betina) aka similar&#8230;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Terus setelah gue pikir2 benar juga&#8230;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Makin, semakin, dan kebanyakan  wanita-wanita sekarang memilih untuk berpenampilan sama, berpakaian sama, memiliki style yang sama, berwawasan yang sama, berdandan yang sama, bergosip yang sama???</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kalo istilah si Bet (gue tambahin, yang italic itu gue):</p>
<p align="justify">
<ul>
<li>rambut berponi (<em>iya nih, minimal diwarnain lah biar kayak blonde2, walo aslinya item, dikasih merah2, kayak Fe2O3..</em>)</li>
<li>baju ketat, nonjolin buah dada .. (<em>bahan dari kain yang ngaret gitu,&#8230; biasanya paling sopan juga kaos luar tipis bahan ngaret, dengan daleman baju bertali dibatasan dada..</em>)</li>
<li>celana mengerucut menyempit di bagian bawah berwarna warni (<em>ngerucut menyempit,  diatasnya perbatasan tali kolor ama kaos..</em>)</li>
<li>tas samping cem ibu2 mau belanja ke pasar (<em>walo ga belanja apapun..</em>)</li>
<li>sepatu cem lampu aladin (<em>ada suara pletak pletok nya juga..</em>)&#8230;</li>
<li><em>Dandanan wajah minimalis sih, walo tetep aja terlihat bibir mengkilat dan sekitar mata kayak dispidol..</em></li>
<li><em>Attitude, gaya jalan dan gaya bicara juga mirip2. Malah wawasan dan goisipnya juga mirip!!</em></li>
</ul>
<p align="justify">Yap,.. coba perhatikan.. Identik dengan penampilan gitu. Terutama ABG dan Mahasiswi.. Kalo mau jujur, gue rada bosen liatnya. Jalan ke mana-mana (ga di Bandung atau Yogya) ketemu nya yang gitu-gitu lagi.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sebagai Lelaki normal, wajar kalo gue tertarik ama wanita cantik dan manis, tapi jadi ilfill juga pas liat yang cantik dan manis kok penampilanya jadi kek gini. Jadi ga bisa bedain mana cewe biasa2 ajah ama yang emang cantik dan manis.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Tapi sekali lagi, gue bilang kebanyakan. Kalo anda bukan golongan kebanyakan ini, ya berarti anda bukan bagian yang gue bahas disini..</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Pernah ngerasa jalan ke Mall, tapi mata loe melihat wanita2 seperti bermuka sama, berbody sama??</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Gue pernah! Ngeri kayak di film2 horor Indo&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/09/29/ini-post-ga-pentingcuman-hasil-refleksi-gue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari ke-4,&#8230; Gue Nyogok Supaya Bisa Diterima??</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/08/30/hari-ke-4-gue-nyogok-supaya-bisa-diterima/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/08/30/hari-ke-4-gue-nyogok-supaya-bisa-diterima/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2007 12:17:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[My Live]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/08/30/hari-ke-4-gue-nyogok-supaya-bisa-diterima/</guid>
		<description><![CDATA[Kalo udah bicara susahnya diterima masuk diperguruan tinggi, kadang muncul option seperti diatas. Apalagi bagi orang tua mahasiswa yang ingin banget anaknya diterima di PT tersebut. Apa hubungannya dengan hari ke empat gue mengurus2 transferan gue? Hmm.. Sebenarnya gue udah &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/08/30/hari-ke-4-gue-nyogok-supaya-bisa-diterima/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo udah bicara susahnya diterima masuk diperguruan tinggi, kadang muncul option seperti diatas. Apalagi bagi orang tua  mahasiswa yang ingin banget anaknya diterima di PT tersebut.</p>
<p>Apa hubungannya dengan hari ke empat gue mengurus2 transferan gue? Hmm.. Sebenarnya gue udah bolak balik diantara 2 otoritas berbeda di kampus ini untuk membicarakan perihal proses transfer ini.</p>
<p>Dan seperti di post sebelumnya, nihil. Gue diminta test dengan kualifikasi seperti anak baru, bukan mahasiswa mengulang atau transfer yang direkomendasikan. Kenapa? Karena kursi udah full untuk jurusan tambang.</p>
<p>Dan tadi pagi gue test denganpersiapan minimal baca2 rumus malam sebelumnya. Bayar di loket, terus input data, terus validasi ke ruang test, dan langsung duduk depan komputer yang menyediakan 30 soal dalam 45 menit. Jreng..!!</p>
<p>Gue ingin nyelesein semuanya dengan benar, tetapi jujur aja, ga ngerti gue ama kimia SMU, dah lama banget gitu loch&#8230;</p>
<p>Dan karena kebetulan udah kenal ama mas2 ditempat test, saya minta diintipin hasilnya. Point gue kurang 7 sodara2..Sedikit lagi dari ambang batas <em>passing grade</em> terbaru yang terus naik, karena makin banyak nya peminat ini.</p>
<p>Dan.. dengan hati luka gue tercenung aja. Apakah selesai sampai disini? Terus mau gimana? Nunggu setahun? Atau ada opsi2 lain&#8230;??</p>
<p>Pas dalam kondisi bingung begitu, gue bertemu seorang ibu. Ibu tersebut adalah istri pensiunan tentara, yang mana putranya pengen banget masuk kampus ini. Namun beliau sendiri kesusahan dari segi dana. Dan beliau sekarang sedang mengusahakan bertemu dengan otoritas biro akademik yang juga mau gue temui lagi. Curhat lah si ibu panjang lebar dengan gue, cerita macem2 tentang susahnya mencari sekolah yang bagus bagi anaknya, selama kurang lebih 1 jam kita ngobrol menunggu si bapak selesai rapat. Gue melihat, begitu besar pengorbanan seorang ibu yang demi anaknya mau jauh2 datang dari jakarta untuk mengurus sekolah yang terbaik buat anaknya. Si ibu sempat cerita, jika di jakarta, dia tidak dapat lagi mensupport anaknya bersekolah, teramat sangat mahal untuk keluarganya. Ahh&#8230;jadi teringat ibunda gue nun jauh disana, walao dia ga pernah ngedampingin gue mengurus sekolah-sekolah gue sejak SMU, tetapi gue percaya seorang ibu sama di mana2, selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya.</p>
<p>Setelah si Ibu menghadap, kemudian gue masuk keruang si bapak untuk kesekian kalinya, meminta beliau untuk bisa memberikan pertimbangan dari hasil test yang point-nya mepet begitu. Ohya, pas mau masuk gue ketemu si ibu dengan wajah yang ceria, gue harap dia dapat solusi terbaik buat putranya.</p>
<p>Obrolan gue dengan si bapak tetep seperti biasa, namun si bapak menawarkan option lain lagi yang baru gue tahu bisa dicoba. Gue kembali ke ruang PMB, ngobrol2 ama mas2 yang kerja disana hasil pembicaraan dari si bapak di Biro Akademik. Salah seorangnya itu ngasih petunjuk ke gue, kalo gue bisa diluluskan dengan saran tersebut. Jadi antara bobot test, besarnya sumbangan dan pilihan jurusan itu memiliki point2 berbeda. Dengan kata lain kalo gue test dengan sumbangan diatas minimal seharusnya, perhitungan dan pertimbangan untuk itu juga akan berbeda di dalam sistem. Karena sistemnya emang dirancang seperti itu &#8211; <em>Input &#8211; test &#8211; result</em>, begitu prosedurnya. Gue kira gue harus daftar lagi untuk test ulang. Tapi si Mas di PMB bilang ngga usah. Gw bisa dibantu (karena kasian liat gue bolak-balik heheh..)  dengan langsung merubah validasi input. Kalo gw udah sepakat untuk bayar diatas minimal sumbangan, diitung2in ama beliau berapa minimal sumbangan tambahan yang harus gue capai agar ambang batas lulus seleksi tercapai. Dan <em>alakazam</em> keluarlah jumlah sumbangan yang baru&#8230;  Dan kalo gue setuju maka akan segera dikeluarkan surat keterangan lulus seleksi. Dan selanjutnya menandatangani blanko perjanjian untuk kesediaan membayar.</p>
<p>Gue kontak dulu keluarga dirumah, .. pertimbangannya gue bisa aja nunggu setahun kerja lagi seperti biasa, sambil ngumpulin duit. Dan kemudian daftar di gelombang pertama untuk tahun ajaran depan. Tetapi si emak ku tercinta ga mau ditunda2 lagi, lagian dengan pertimbangan jurusan ini makin banyak peminatnya dari tahun ke tahun, bisa jadi tahun depan sumbangan minimalnya akan <em>deket-deket </em>juga ama jumlah sumbangan yang sekarang harus gue bayar.</p>
<p>Ya sudah, izin didapat, dan gue juga bulat ini bisa gue lunaskan. Gue kembali ke ruang Panitia PMB dan menyetujui untuk dikenakan sumbangan minimal sekian tersebut.</p>
<p>Yaaa&#8230; Begitulah sodara2&#8230;</p>
<p>Jadi bukan gue nyumbang lebih karena gue nyogok si panitia atau biro akademiknya. Gue cuman mengikuti sistem yang mereka miliki. Karena sebuah Institusi Swasta yang mandiri seperti ini kan harus membayar sendiri kegiatannya, dan subsidi silang adalah jalan keluar bagi mereka disini.</p>
<p>Layaknya seperti USM ITB lah, yang bayar 45 juta (atau lebih..) itu. Kalo mereka diperlakukan sama, ya buat apa bayar 45 juta. Mending test SPMB aja. Tetapi justru mereka diuntungkan dengan test tersendiri, yang pada intinya berkurangnya persaingan, membesarnya peluang untuk diterima. Plus mendapat antrian kursi terdepan untuk menentukan pilihan jurusan nantinya dibanding yang SPMB.</p>
<p>Sangat kapitalis memang sistem pendidikan seperti ini. Tetapi gue percaya ada ruang-ruang khusus yang disediakan untuk berlaku adil dan membuka kesempatan berpendidikan bagi semua kok. Karena mereka masih harus memberikan keringanan untuk beberapa pihak tertentu. Seperti misalnya bagi anak Pensiunan TNI atau aktif di kedinasan, kampus ini ngasih keringanan. Dan terlebih lagi bagi gue, jumlah biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa disini masih jauh dibawah dari kampus2 swasta lainnya. Dan juga banyak beasiswa yang bisa diurus untuk meringankan beban bagi golongan2 tertentu yang tidak mampu (gue berencana mengurus ini juga ke depan).</p>
<p>Namun kampus swasta tetap swasta. Biaya mandiri dan subsidi silang menjadi kebutuhan pokok untuk menjalankan sebuah institusi pendidikan sebesar ini.</p>
<p>Pengalaman baru tentang semua yang gue jalanin selama beberapa hari ini. Dari ngobrol-ngobrol dengan berbagai orang disini. Sedikit pemahaman baru tentang pendidikan yang adil dan merata. Membongkar cara pandang gue tentang apa itu membiayai pendidikan yang memang mahal. Muncul pertanyaan, jadi kapan nih kita bisa gratis bersekolah di negeri ini? Dikampus swasta aja masih mungkin hal itu terjadi, apalagi di kampus negeri gue rasa. <em>Tul ngga? </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/08/30/hari-ke-4-gue-nyogok-supaya-bisa-diterima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari 3 Stanza Indonesia Raya, Self-Appraising, Hingga Bibit-Bibit Self Kapitalisme</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/08/14/dari-3-stanza-indonesia-raya-self-appraising-hingga-bibit-bibit-self-kapitalisme/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/08/14/dari-3-stanza-indonesia-raya-self-appraising-hingga-bibit-bibit-self-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2007 08:44:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/08/14/dari-3-stanza-indonesia-raya-self-appraising-hingga-bibit-bibit-self-kapitalisme/</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 &#8211; 2 dan 3 stanza tersebut &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/08/14/dari-3-stanza-indonesia-raya-self-appraising-hingga-bibit-bibit-self-kapitalisme/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ryosaeba.files.wordpress.com/2006/08/blogger_talk_nonsense.jpg" title="Keep Your Mouth, Roy" alt="Keep Your Mouth, Roy" align="top" width="385" /></p>
<p>Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena <a href="http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=37563&amp;Itemid=54" title="Konferensi Pers Roy Suryo" target="_blank">penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza</a>. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 &#8211; 2 dan 3 stanza tersebut (<a href="http://kopipakegula.blogspot.com/2007/08/indonesia-raya-merdeka-merdeka.html#links" title="Rime tentang Indonesia Raya 3 Stanza" target="_blank">Rima</a> juga mengakui hal yang sama dalam cerita di Blog nya). Bahkan di <a href="http://youtube.com" title="Youtube" target="_blank">Youtube</a> sendiri lagu ini sudah ada sebelum Om Roy ribut-ribut mengundang wartawan dalam Ad Hoc Konferensi Pers awal Agustus lalu.</p>
<p><span id="more-74"></span></p>
<p>Karena keterbatasan saya hanya sebagai blogger kelas rendahan, maka saya tidak membuat klarifikasi atas hal tersebut. Tetapi melihat fenomena yang terjadi saat ini dimana terlihat adanya kekhawatiran pembelokan sejarah oleh Om Roy, terlihat dari berdiam dirinya para media cetak yang kemarin-kemarin berkoar-koar akan &#8220;Nobelis Telematika&#8221; kita ini, maka saya melacak kembali apa yang terjadi sebenarnya terjadi di antara komunitas Blogger dan media massa. Kenapa? Apakah saya <em>sirik</em><u> dengan om Roy? Karena tidak bisa sehebat beliau mengumpulkan popularitas?</u> Jelas bukan! Alasan saya simple seperti yang pernah Aan (teman di PSIK ITB) sampaikan kepada saya 2 hari lalu, &#8220;Bagaimana jika terjadi pembelokan sejarah? Karena si om Roy ini yang memang sangat menguasai media pers konvensional (cetak, TV, dan Radio)!&#8221;</p>
<p>Dan beruntung, Mas <a href="http://ryosaeba.wordpress.com/2007/08/07/indonesia-raya-epilog/" title="Rio Saeba" target="_blank">Rio Saeba</a>, salah seorang senior Blogger Indonesia melengkapi epilog 3 stanza Indonesia Raya tersebut dengan rapi, mengungkapkan apa yang terjadi sesungguhnya. Saya ambil beberapa quote dari tulisan beliau :  <em>(lengkapnya silahkan lihat langsung ke situs yang bersangkutan)</em></p>
<blockquote><p><strong>VANDALISME DI ENTRI INDONESIA RAYA</strong><br />
<a href="http://ryosaeba.files.wordpress.com/2007/08/vandalisme-wikipedia.png" title="vandalisme di wikipedia"><img src="http://ryosaeba.files.wordpress.com/2007/08/vandalisme-wikipedia.thumbnail.png" alt="vandalisme di wikipedia" align="right" /></a>sejak saya menyarankan untuk melihat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia_Raya">entri indonesia raya di wikipedia indonesia</a>, saya sudah mengkhawatirkan akan terjadi vandalisme terhadap entri tersebut, membuat seolah-olah pihak yang tadinya salah menjadi benar. dan ternyata <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Indonesia_Raya&amp;diff=886922&amp;oldid=886914">kekhawatiran saya menjadi kenyataan</a>, ada yang menghapus dua stanza terakhir dari lagu indonesia raya. tindakan vandalisme dengan mengacak-acak lagu kebangsaan ini benar-benar sangat tidak patriotis, dan sangat berlawanan dengan pernyataan â€œ<em>ingin ikut memperkaya sejarah indonesia.</em>â€ ingin memperkaya atau ingin memelintir? saya pribadi menganggap yang melakukan hal ini bisa dkategorikan sebagai pengkhianat negara.</p></blockquote>
<p>Apakah ini yang kita harapkan? Merusak sejarah? Jelas bukan! Sejarah memang perspektif yang turunan pembuktiannya sangat kompleks dalam berbagai sudut pandang pelaku-nya. Tetapi sebagai bangsa yang mengaku menghargai sejarah dan pembuktiannya, sepatutnya kita selalu berkaca dan mengkilas balik atas segala sesuatu yang terjadi dan berlaku saat ini. Dan tindakan Roy Suryo yang terburu-buru men-klaim dalam konferensi pers sebagai penemu Indonesia Raya 3 Stanza (atau lebih tepatnya <em>hamba</em> akan popularitas), membuatnya lupa me-<em>crosscheck</em> dengan aturan main pembuktian sejarah. Dan inilah prilaku tidak menghargai perspektif pembuktian sejarah yang baku. Atau ungkapan lebih kerasnya, tidak mengerti sejarah.</p>
<blockquote><p><strong>APA YANG SEBENARNYA TERJADI?</strong><br />
di sini saya akan berusaha menuliskan apa sebenarnya yang terjadi berdasarkan pengamatan saya. semua ini tampaknya diawali dari tindakan roy suryo menyalin hasil pengumpulan salinan-salinan digital yang berhubungan dengan sejarah indonesia dari arsip tim airputih melalui sobat kentalnya, heru nugroho, yang sampai kemarin masih disangka oleh roy suryo sebagai ketua tim airputih.</p>
<p>dari salinan yang didapat, dia menemukan rekaman film propaganda jepang yang isinya antara lain dinyanyikannya lagu indonesia raya versi 3 stanza dan dengan tempo <em>con bravura</em>, berani/bersemangat, berbeda dengan lagu kebangsaan yang sesuai dengan <a href="http://web.archive.org/web/20070310231601/http://kambing.vlsm.org/bebas/v01/RI/pp/1958/pp-1958-044.txt">PP no 44/1958</a> dengan tempo <em>maestoso con bravura</em>.</p>
<p>berdasarkan <a href="http://ndorokakung.com/2007/08/05/indonesia-raya-pecas-ndahe/">wawancara dengan ndoro kakung</a>, ternyata roy suryo memang tidak tahu kalau sebenarnya lagu indonesia raya itu benar-benar terdiri dari 3 stanza:</p></blockquote>
<blockquote><p>Dia mengaku baru waktu itu tahu bahwa versi asli Indonesia Raya terdiri dari 3 stanza, dan bukan cuma satu seperti yang selama ini dinyanyikan dalam pelbagai kesempatan resmi.</p></blockquote>
<blockquote><p>karena memang roy suryo tidak tahu mengenai hal ini, beliau menganggap ini merupakan sebuah penemuan besar (tentunya bagi beliau sendiri), dan lalu bersepakat dengan pihak airputih bahwa mereka akan mengumumkan hal ini di hari senin tanggal 6 agustus 2007.</p>
<p>tapi rupanya roy suryo melanggar kesepakatan tersebut, dan mendahului membuat sendiri <em>ad hoc</em> <a href="http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=37563&amp;Itemid=54">konferensi pers di jogja</a>, mengumumkan penemuannya tersebut. dalam konferensi pers tersebut beliau tampaknya â€œ<em>menuntun</em>â€ para wartawan sehingga terjadi kesimpulan bahwa beliau menemukan pita seluloid asli dari rekaman tersebut di leiden (entah museum, perpustakaan atau universitas) belanda. tampaknya kata â€œpita seluloidâ€ ini berasal dari hasil pengamatan rekaman video tersebut yang memang terlihat <em>vintage</em>, ditambah adanya tulisan menuju kemerdekaan di bulan 9 tahun 2064 (tahun jepang, yang berarti tahun julian 1944), namun saya masih belum berhasil menemukan dari mana kata â€œleidenâ€ berasal.</p>
<p>setelah konferensi pers di atas, dimulailah segala kontroversi. hal pertama yang dipertanyakan adalah mengapa roy suryo baru tahu kalau ternyata lagu indonesia raya itu memang terdiri dari tiga stanza. hal kedua yang menguatkan kesan bahwa versi 3 stanza ini merupakan â€œpenemuan baruâ€ adalah pada saat upacara atau acara kenegaraan, lagu kebangsaan yang dinyanyikan memang cuma satu stanza. ini bisa dijelaskan bahwa memang menyanyikan cuma satu stanza sudah sesuai dengan PP no 44/1958 bab I pasal 2 ayat 2, dan di dalam peraturan pemerintah itu pun versi 3 stanza juga dikenali. masalahnya adalah PP no 44/1958 ini memang jarang diketahui oleh orang banyak.</p>
<p>hal ketiga yang makin menimbulkan pertanyaan adalah orang-orang pemerintahan sendiri (dan juga beberapa wakil rakyat) ternyata sama awamnya, tidak tahu bahwa memang seharusnya lagu indonesia raya itu terdiri dari tiga stanza. ini makin memperburuk keadaan karena masyarakat awam tidak tahu mana yang bisa dipercaya, pihak yang tidak tahu soal 3 stanza (dan diperkuat oleh beberapa orang pemerintahan dan wakil rakyat) atau pihak yang tahu tentang 3 stanza.</p>
<p>ketika orang-orang yang mengetahui bahwa lagu indonesia raya memang terdiri dari 3 stanza mulai menyuarakan pendapatnya, roy suryo berusaha meredam hal ini dengan menyatakan bahwa mereka adalah <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/06/time/074213/idnews/813523/idkanal/10">pahlawan kesiangan</a>. lalu kemudian ketika tokoh pengamat sejarah des alwi angkat bicara, lagi-lagi roy suryo berusaha meredamnya dengan menyatakan bahwa des alwi <a href="http://ndorokakung.com/2007/08/05/indonesia-raya-pecas-ndahe/">menyembunyikan dokumen negara dan punya kepentingan ekonomi</a>. dan akhirnya ketika pihak airputih angkat bicara, roy suryo menganggap yang angkat bicara dari airputih adalah tingkatnya sederajat <a href="http://detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/06/time/175559/idnews/813929/idkanal/398">tukang kebun</a>, dan tidak layak dikutip.</p>
<p>kontroversi ini ditutup dengan dua pernyataan dari pihak airputih, bahwa ternyata pengumuman soal penemuan itu seharusnya dilakukan secara bersama antara roy suryo dan airputih, dan catatan tentang <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl%20/07/time/091059/idnews/814082/idkanal/398">kepingan sejarah indonesia dalam bentuk digital</a>, yang sayangnya oleh pihak tertentu hanya dipergunakan sebagai alat untuk mencari popularitas.</p></blockquote>
<p>Bukan hanya perspektif pembuktian sejarah yang dilanggar oleh Om Roy, tetapi juga dalam hal menelusur perundang-undangan Indonesia. Apakah pantas orang seperti ini masih diakui sebagai ahlinya Telematika Indonesia? Atau lebih kerennya penasihat Presiden untuk urusan Telematika? Seharusnya beliau sadar, dengan posisi-nya yang demikian penting dalam kacamata publik (asumsi saya karena beliau rutin <em>koar-koar</em> di Metro TV dan berbagai media cetak/elektronik lainnya), 91% rakyat Indonesia berarti telah tertipu, karena sampai saat ini <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/16/time/155524/idnews/720923/idkanal/328" title="Pengguna Internet di Indonesia" target="_blank">pengguna Internet di Indonesia yang masih 9%</a> dari  seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.</p>
<p>Memang susah jika kita berkoar-koar dalam media blog, atau kasarnya mau mengalahkan paradigma Jurnalisme Konvensional. Media sudah menjadi sebuah sistem kapitalisme tersendiri, baik dari segi konten, kebutuhan politik hingga atribut penguasa. Mengekang kebebasan berbicara akan kebenaran dan mengakomodir informasi yang &#8220;menyamankan&#8221; aliran dana dalam kantong-kantong borjuis dan penguasa adalah indikasi kapitalisme yang tidak sehat. Tidak ada bedanya dengan menyorongkan sebuah konsep satu suara untuk menyuarakan satu kepentingan. Dan bahkan ini pun berlaku dalam kampus yang notabene lulusannya banyak mengkritik Roy Suryo.</p>
<p>Ya, aneh bukan?.. Saya menyorot hal ini dan melihat keterkaitannya ketika mendengar konsep membangun <a href="http://www.itb.ac.id/news/1755" title="Campus Channel ITB diresmikan" target="_blank"><strong>Campus Channel</strong></a>. Sebagai salah seorang yang terlibat dalam Media Pers Kampus, usulan ini memang bukan hal baru. Sudah beberapa kali didengung-dengungkan sejak 2-3 tahun lalu. Saya membaca 2-3 proposal yang sama untuk ide ini. Namum untuk konsep Campus Channel ini saya memang melewatkannya karena berbagai kesibukan. Dan setelah melacak dari teman-teman di kampus, ide dan visi misi nya ternyata tidak jauh berbeda. Saya akui bahwa visi dan misi yang dibangun adalah bagus. Tetapi penerapannya dalam sebuah komunitas media pers mahasiswa yang bebas menyuarakan kebenaran tidak dipersiapkan dengan baik, atau malah belum dipertimbangkan.</p>
<p>Jika hanya mengejar sebuah  penerapan teknologi New Broadcaster yang terintegrasi, maka ini bukan lagi sebuah teknologi baru. Sudah banyak dikembangkan teknologi News Broadcaster oleh berbagai media online di dunia maya. Dengan memanfaatkan teknologi feed, streaming dan podcaster yang berkembang pesat saat ini, membangun sebuah integrasi media dalam satu kesatuan bukanlah hal yang baru. Dan Campus Channel mengusahakan juga hal tersebut. Namun perlu disadari ITB sendiri bukan sekedar menerapkan teknologi dari sisi &#8220;pertunjukan&#8221;. Dalam uji coba pertamanya beberapa waktu lalu, integrasi tersebut berlangsung sejak peliputan dengan manajemen lapangan yang solid dan peralatan yang <em>high tech</em>, hingga hasil akhirnya juga terintegrasi dengan baik dan dapat dinikmati pemirsa kampus. Sesungguhnya saya memberi salut dengan teknologi ini.</p>
<p>Sayangnya, dari sang koordinator penanggung jawab Uji Coba Campus Channel ini, menjelaskan kemungkinan komersialisasi terhadap Campus Channel tersebut. Apa yang dimaksud komersialisasi disini? Di dalam lingkungan kampus sendiri? Kekhawatiran saya langsung muncul akan bibit kapitalisme baru setelah cengkraman Kapitalisme Pendidikan berjalan di ITB sejak aturan BHMN 4 tahun lalu.</p>
<p>Pernyataan tersebut membuat saya khawatir. Siapa yang punya investasi, maka informasi nya lah yang berhak tampil dan diterima massa. Lalu kemanakah kebebasan Media-media Pers Kampus? Kebenaran pun akan menjadi absurd nantinya.</p>
<p>Padahal ide, visi dan misi Campus Channel ini sendiri adalah dengan mengundang berbagai pihak media dalam Kampus ITB yang berkontribusi bersama membangun jaringan tersebut menjadi solid dan kontinyu. Mereka mau berkontribusi karena demi kemajuan Media-Media Pers Kampus ITB, mengembangkan kreatifitas dan yang terpenting belajar menyuarakan kebenaran. Bukan hanya sebagai (maaf)<em> kacung</em> yang mensuplai berita terhadap kemegahan Campus Channel, tetapi dapat disensor sewaktu-waktu layaknya Tuhan men-cap halal dan haram. Kembali pertanyaan yang sama, jadi siapakah yang memanfaatkan kondisi ini? Apakah ini sekedar ajang Self Appraising sang koordinator yang notabene Kepala Kapntor Berita? Atau sebuah menara gading baru dari ITB untuk unjuk gigi?</p>
<p>Jika saya dikatakan membunuh karakter sang Koordinator Kantor Berita dalam tulisan ini, mungkin <a href="http://kramput.blogspot.com/2007/08/swawawancara.html" title="Ikram Menyebutnya Swawawancara" target="_blank">Ikram</a> punya bukti yang lebih &#8220;nyaman&#8221; terhadap ini. Karena <em>Personal Attitude sang Koordinator</em> juga-lah yang membuat saya menarik kesimpulan ini. Apakah me-wawancara diri sendiri adalah bagian dari Self Appraising diri-nya?</p>
<blockquote><p>  Bagi Armein Campus Channel adalah &#8220;panggung&#8221; baru dalam komunitas ITB. &#8220;Kita mau membangun suatu &#8220;panggung&#8221; di mana orang â€“siapapun ituâ€“ bisa tampil dan mengekspresikan kemampuannya,&#8221; katanya, &#8220;Dengan panggung ini terbentuk budaya suka berkontribusi yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas komunitas ITB.&#8221; Dalam waktu dekat, Campus Channel bersama dengan PPTIK akan memasang instalasi unit TV dan speaker di beberapa titik pusat massa kampus ITB. Siaran percobaan direncanakan dilakukan pada 27 Agustus 2007. <strong><span style="background-color: #ffff99">Ditanya apakah akan bersifat komersial, Krisna, Kepala Kantor Berita ITB menjawab,</span> &#8220;Bisa jadi. Tapi yang jelas, itu kami pikirkan nanti. Sekarang kami semua sedang fokus pada sosialisasi ke organisasiâ€“organisasi yang ada di ITB serta penyediaan konten yang kontinu.&#8221;</strong></p></blockquote>
<p>Self Appraising, Roy Suryo atau Pendukung Kapitalisme Media? Sepertinya saya harus mencoba untuk menulis ulang definisi Kapitalisme Global dan memasukkan unsur Self Appraising di dalamnya, kemudian me-numpahkannya kembali dalam Basbang sebagai Self-Kapitalisme.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/08/14/dari-3-stanza-indonesia-raya-self-appraising-hingga-bibit-bibit-self-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Nge-fans Situ Sebab Situ Kenapa Yaaa??</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/07/30/saya-nge-fans-situ-sebab-situ/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/07/30/saya-nge-fans-situ-sebab-situ/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jul 2007 15:29:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[My Live]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/07/30/saya-nge-fans-situ-sebab-situ/</guid>
		<description><![CDATA[Sapa yang suka Armirandah,.. hayo ngaku?? Haha.. ga penting ya. Memang sama sekali ga penting. Tapi gue bingung dengan bahasan di rileks tentang wanita ini. Gara-gara si Rendy membawa sang Asmir ke dalam Rileks, maka ramailah diskusi di sana. Semua &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/07/30/saya-nge-fans-situ-sebab-situ/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.indosiar.com/jo_imoetz/pic/jo_imoetz_101200693736AM_s9vx.jpg" title="Asmi" alt="Asmi" align="left" hspace="7" width="250" />Sapa yang suka Armirandah,.. hayo ngaku?? Haha.. ga penting ya. Memang sama sekali ga penting. Tapi gue bingung dengan bahasan di rileks tentang wanita ini. Gara-gara si <a href="http://rendymaulana.com" title="Rendy Maulana" target="_blank">Rendy</a> membawa sang Asmir ke dalam Rileks, maka ramailah diskusi di sana.  Semua lelaki mendiskusikan dia. Padahal dia kan cuman wanita biasa. Bukan presiden, bukan dewi dari surga apalagi Tuhan Sang Pencipta.  Cuma seorang gadis muda yang dapat kesempatan untuk tampil di televisi.</p>
<p><span id="more-63"></span></p>
<p><img src="http://www.detikhot.com/content_images/content/2006/05/17/231/dianluna-cover.jpg" title="Luna - Dian" alt="Luna - Dian" align="right" height="200" hspace="7" width="200" />Tetapi bukan hanya si Asmir. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah anda juga punya seorang artis atau aktor favorit? Pemain sinetron yang digemari karena fisiknya yang aduhai dan geboy. Yaa, gue juga akui itu. Gue sempat tergila-gila dengan Dian Sastro (dulu). Tapi lantaran ternyata si <a href="http://benxjelek.blogspot.com" title="Beni Gelo" target="_blank">Benx</a> juga nge-fans ama tuh cewe, gue ogah deh ikut-ikutan. Terus ganti favorit ke Artika Sari Devi, karena dalam kepala gue ini cewe cantik dan pintar. Sempat juga tergila-gila ama Luna Maya. Terus ada target nge-fans <img src="http://bunga.koronx.com/showimage.php?pid=8&amp;filename=21570469627489l.jpg" title="BCL" alt="BCL" align="left" hspace="7" width="250" />lainnya yaitu si Mecha yang maen film &#8220;Kiamat Sudah Dekat&#8221;. Terus sempat juga nge-fans ama Bunga Citra Lestari a.k.a. BCL gara-gara paha putihnya mejeng di video klip &#8220;Sani&#8221;. Terus..terus juga sempat nge-fans ama artis luar Drew Barymore, juga sempat ama Leah Dizon &#8211; artis campuran Jepang-Amrik (bukan bintang JAV lho..ini si Dizon dalam <a href="http://images.google.co.id/images?q=leah%20dizon&amp;ie=UTF-8&amp;oe=UTF-8&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;client=firefox-a&amp;um=1&amp;sa=N&amp;tab=wi" title="Pose2 Dizon yang laen" target="_blank">pose2 yang laen</a>). <img src="http://koujiprestage.img.jugem.jp/20070523_39262.jpg" title="Leah Dizon" alt="Leah Dizon" align="right" height="375" width="250" />Ohya juga sempat kesemsem ama Yukie Nakama gara-gara serial &#8220;I&#8217;ve been Merrit to Hell&#8221;. Terus..terus..dan teruss&#8230;.</p>
<p>Nah, sekarang gue sedikit bereksperimen membedah otak gue. Kok bisa ya gue favorit ama mereka? Karena attitude? Gue ga kenal ama mereka. Apa karena akting-gaya nya yang presticious di TV? Hmm.. ya wajar lah karena itu kan kerjaan mereka. Lalu kenapa? Ga bisa dipungkiri.. gue tertarik karena fisik mereka mencitrakan kesempurnaan dalam paradigma gue. Media wash my brain, MTV kill my music passion and Playboy make me horny b&#8217;cause big boobs!</p>
<p>Padahal, sekarang silahkan anda jalan-jalan disitus Social Network yang bertaburan, ala Friendster dan sejenisnya. Search wanita-wanita nya. Secara fisik anda mungkin akan menemukan yang sama cantiknya, atau bahkan lebih. Ketahuan latar belakangnya, kalo mau diterusin silahkan message dan berkenalan lah. Ternyata ada toh wanita-wanita yang sekaliber dengan yang di TV-TV itu.. Terus kenapa harus ngefans sama artis TV? Sampai2 menempel poster-poster mereka di kamar. Atau lebih parah sampai ikutan SMS Premium untuk dapat <em>&#8220;SMS yang anda terima,..langsung dari HP saya&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Sedikit perenungan saja. Karena otak itu emang harus sering-sering disikat. Kalo ngga bisa berkarat. Manusia semua sama kok. Mau bukti kalo semua sama?  Nih gue kasih buktinya :</p>
<p><a href="http://kapucino.org/wp-content/uploads/2007/07/fulmoon6.jpg" title="Pantat"><img src="http://kapucino.org/wp-content/uploads/2007/07/fulmoon6.jpg" title="Pantat" alt="Pantat" align="top" width="450" /></a></p>
<p>Ternyata pantat kita sama semua kan, walo kursi yang diduduki berbeda-beda &#8230; (si <a href="http://pantatitem.blogspot.com" title="Imoth" target="_blank">Imoth</a> pasti seneng dengan gambar ini, huakaka&#8230;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/07/30/saya-nge-fans-situ-sebab-situ/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

