Warung Kapucino

Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda

Tuesday, October 16, 2007

Blogactionday - Menuju Kesejahteraan Rakyat Yang Berwawasan Lingkungan

 

Hari ini kan hari Blogactionday - seperti disepakati bersama dan gue udah submit - janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang menulis suatu isu pada hari dan waktu yang sama? Apa pengaruhnya?
Okey, kita kembali kepada penguasa Internet dunia, Mbah Google . Kemampuan crawler Google yang mengelilingi semua situs di Internet dan menangkap isi nya adalah senjata ampuh dalam mengangkat sebuah informasi menjadi terbaca oleh semua orang di lapisan dunia. Bukan tidak mungkin jika separoh orang di dunia menulis sebuah propaganda mengenai Tuhan itu apa, maka ketika saya dengan polosnya bertanya dan mencari “kebenaran” lewat si Mbah, maka dia akan menjawab sesuai dengan propaganda tersebut. Saya menggunakan istilah propaganda, karena berarti itu adalah informasi yang memang sengaja dikeluarkan dalam rangka melawan (meng-counter) informasi resmi yang diketahui khalayak ramai pada umumnya.

 

Itu baru jika sebuah informasi yang update dan berjumlah banyak. Belum lagi jika di tambah technical SEO yang bagus. Bayangkan jika sebuah situs yang memiliki Traffic Rank (Pagerank) 7 ke-atas atau Alexa top 50 memberikan sebuah informasi yang bohong, dan sebenarnya tidak ada. Atau pembelokan sejarah yang masih ambigu misalnya. Yaaa… memang Internet dan Informasi di dalamnya sangat susah dikalibrasi ternyata, People common Room dan semua memberi informasi versi masing-masing.

 

Jika Pertanyaan saya lanjutkan, tolong tanyakan kepada “penyampai kebenaran” siapakah Tuhan? Maka jawabnya apa? hehehe… :lol:
—————————————————————————————

 

Okey, kembali pada Blogactionday. Pertama sekali saya bingung, kenapa harus membahas lingkungan hidup, seperti misal Rime mengangkat cerita tentang kemasan minuman, dan air minum komersial. Itu memang sebuah isu lingkungan.

 

Kalau saya sendiri dengan latar belakang Ilmu di Pertambangan, mau mengangkat isu tentang pengrusakan hutan, pembabatan bukit dan gunung, atau penurunan muka air tanah hingga isu limbah tailing, tentunya itu adalah isu yang umum sekali. Bahkan isu tersebut malah terlihat aneh karena nanti saya bisa berkacamata dari versi analisis dampak lingkungan konsultan penambangan. Semua pertambangan besar itu memiliki data analisis faktual dan sangat saintis sekali untuk diangkat ke pengadilan jika anda atau bahkan Greenpeace sekalipun mencoba menuntut. WALAU saya tidak tahu data tersebut dengan cara kotor atau bersih dalam memperolehnya - saya bukan polisi yang menyidik, atau BPK/KPK yang ngurus begituan. Karena urusan begini ga jauh dari politik-bisnis-politik.

 

Foto dari Walhi-yogya.or.id :Yogya di Hari Bumi 2007

 

Memang berbicara kebutuhan hidup manusia, baik personal, kelompok bahkan kebutuhan bersama, tidak akan terlepas dari urusan politik. Apakah masalah lingkungan juga menjadi kebutuhan bersama, kelompok, atau personal? Tentu kita menjawab menjadi kebutuhan bersama. Bersama siapa tapinya?

 

Coba kita lihat sang Al Gore - Peraih Nobel Perdamaian tahun ini. Karena kegiatannya yang sangat progressive dalam menyuarakan Pemanasan Global, ia berkesempatan memperoleh nobel perdamaian. Mungkin bisa jadi ada penilaian tersendiri terhadap posisinya yang anti Perang - Irak, tetapi tekanan pemilihan nobel ini sendiri justru pada gerakannya dalam Global Warming Issue. Komite Nobel Perdamaian sendiri sempat ribut-ribut untuk lebih strict - ketat dalam menentukan peraih nobel perdamaian tahun ini. Tahun lalu dengan terpilihnya M. Yunus dengan ide kredit mikro-nya tersebut, komite nobel sempat cekcok dengan pemerhati perdamaian dunia lainnya lantaran dinilai tidak memilih orang yang terkait erat dengan masalah perdamaian dunia. Namun tahun ini kembali terpilih tokoh yang paling kontroversial dalam percaturan dunia. Dan dialah Al Gore.

 

 

Seberapa besar permasalahan pemanasan global terkait dengan perdamaian dunia? Dari sudut pandang saya pribadi memang tidak terlihat kaitan langsung. Wong, beberapa fakta ilmiah dalam film Inconvinient Truth saja masih didebat oleh beberapa mahkamah konstitusi dan ilmuwan . Tetapi secara tidak langsung memang ada keterkaitan. Bagaimana situasi di Afrika dalam masalah sumber daya alam hayati bisa menyebabkan perang saudara, namun ini juga masih dipertanyakan apakah ada keterkaitan khusus dengan Global Warming. Dalam opini saya sendiri, justru dari sini bisa dilihat. Jika Afrika saja bisa berperang saudara karena urusan ketersediaan sumber air - terbayang tidak jika Indonesia berperang dengan Malaysia karena masalah Asap, hewan langka dan Limbah Minyak??

 

Dan isu menarik tentang pengangkatan Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian seperti menjadi tamparan di muka bagi kaum politisi sendiri (semoga). Karena kita tahu bagaimana Al Gore sendiri tetap berada dalam jalur pemilihan Presiden di USA 2008. Dalam wawancara dengan Times memang Gore tidak menyatakan langsung ia akan mengejar kursi presiden. Namun, pernyataannya “fallen out of love with politics,” dan “convinced the presidency is the highest and best role I could play” yang menancapkan opini posistif bahwa ia akan berjuang ke arah sana. Apakah posisinya sebagai peraih nobel perdamaian ini akan menjadi “boosting” tersendiri untuk melancarkan jalannya ke kursi presiden? Jelas berpengaruh. Thats again the politics play based on the enviromental issue…

 

Bagaimana dengan indonesia sendiri? Apakah isu lingkungan selalu dikadali oleh para politisi kita? Mungkin tidak selalu - tapi ada, dari isu naiknya kepala desa karena kampanye kebun bersamanya, hingga Gubernur yang menjanjikan perlindungan Hutan (dan notabene malah berakhir pada pembalakan oleh HPH pilihannya). Belum lagi jika kita flashback pada masa Suharto dan kroni-kroninya bagaimana urusan pengawasan lingkungan PMA (Penanam Modal Asing - terutama sektor Pertambangan/Migas) masih bisa diatur dalam kerangka “kekeluargaan”.

 

Tapi paling menarik adalah rencana terbaru Indonesia yang kian mengikut arus oleh kepentingan Global. Protokol Kyoto jelas bisa dipastikan gagal mengingat Amerika sudah pasti menolak pembatasan emisi gas buang. Dan kini para penguasa kepentingan global dunia mulai mengatur kepada sebuah strategi baru - Road Map baru, yang dengan kerennya dinamakan “A Bali Road Map After Kyoto”. Ya, tepat sekali. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan ini pada tanggal 4 - 17 Desember 2007.

 

Bukan berarti tidak bangga dengan predikat tersebut. Kalau kata Nagabonar “Cem mana pulak tidak bangga kau ini”. Tetapi kita masih bisa ingat bagaimana negara ketiga seperti Indonesia selalu menjadi kambing hitam dari kepentingan global.

 

Memang negara kita adalah salah satu negara yang sangat dihormati dalam kerangka menjaga iklim global. Istilah zaman saya SD dulu adalah “paru-paru dunia”. Entah istilah itu masih ada apa tidak, saya tidak tahu. Mengingat menggilanya pembukaan lahan Sumatra dan Kalimantan untuk perumahan, industri dan pertambangan. Belum lagi kebakaran hutan yang asapnya memperpanas hubungan kita dengan Malaysia berlanjut klaim-klaiman Batik, Lagu Daerah (dan mungkin pacar saya juga diklaim nantinya, hahaha..).

 

Dikadali negeri Barat dan kroninya, saya menggunakan istilah itu. Karena isu lingkungan telah menjadi kebutuhan dunia global. Tetapi uniknya dengan mengatasnamakan kepentingan global inilah kemudian muncul LSM dan NGO yang “awalnya” terlihat seperti pemerhati. Menawarkan berbagai solusi-solusi alternatif untuk keselamatan bersama. Saya masih ingat dengan istilah eco-labelling dimana ini adalah semacam program sertifikasi standar bagi produk eksport bahwa dalam proses produksinya tidak merusak lingkungan. Perusahaan produk eksport tersebut harus membayar sekian duit untuk memperoleh sertifikasi tersebut, dengan kata lain ada badan kompeten di dunia global yang menilai standard ini.

 

Lha, kenapa jadi nya ke duit? Mungkin kerangka berpikir awam masih menilai eco-labelling/ISO ini-itu adalah sebuah bentuk penilaian standarisasi dengan kompensasi gratis. NO!! Karena metode berpikir awal lahirnya badan-badan ini adalah karena kepentingan pasar dunia juga.

 

Begini, negara-negara maju (yang sudah duluan maju), mereka saat ini sudah memiliki tingkat industri yang sedemikian maju dan menjamin kesejahteraan diatas negara-negara berkembang. Sementara, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, China dan lainnya sedang mengusahakan ke arah sejahtera tersebut yang otomatis industrialisasinya digenjot gila-gilaan - dan ini tidak terlepas dari pergeseran pasar industri global dimana negara-negara maju telah memindahkan industrinya ke negara-negara berkembang. Bisa dilihat dari grafik penghasil emisi gas buang - selain amerika , India dan China memperoleh rating yang lumayan tinggi. Bahkan si Bush sempat mendebat Protokol Kyoto dengan menyebut-nyebut India dan negara ke-tiga lainnya harus lebih diperhatikan dalam urusan global warming.

 

Konsekuensi logisnya saat ini, ketika dunia menghadapi ancaman lingkungan hidup, lalu siapa yang bertanggung jawab? Seperti melempar gayung tak bersambut memang. Tentunya butuh mekanisasi pasar yang kompleks untuk mempemudah urusan antar negara-negara ini. Karena sudah terkait satu dengan lainnya dalam kebutuhan global.

 

Dan di sinilah ide-ide yang awalnya ditawarkan pemerhati lingkungan yang “pinter-pinter” untuk menyelesaikannya secara PASAR juga. Jadi negara-negara yang masih mengelola hutannya sekian hekar itu dibayar - memperoleh kompensasi dari negara-negara yang mengeluarkan emisi. Istilahnya ada pabrik yang membeli hutan untuk menyerap sekian gas buang yang mereka keluarkan. Keren yak? Polusi bisa di perjual-belikan dalam pasar global. Dari sinilah pokok-pokok dasar pemikiran lahirnya badan-badan eco-labelling/ISO tersebut.

 

Kembali ke Indonesia, dengan demokrasi yang didengung-dengungkan sekarang oleh politikus-politikus negeri ini, kehidupan menuju kesejahteraan memang mulai terlihat. Tetapi kesejahteraan yang ke arah mana dulu? Jika ditanyakan apakah ada buktinya kalau bangsa ini mulai terlihat sejahtera? ADA. Sudah lahir sebuah konglomerasi baru dinegara ini. Kenapa demikian? karena krismon 97-98 bukanlah akhir bagi semuanya. Ada pihak-pihak yang memang pintar dalam memanfaatkan keadaan dan memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan aset-nya.

 

Kemudian yang fenomenal saat ini muncul juga konglomerasi tetangga yang sukses membangun ekonominya di negara ini, seperti MNC dan BUMN tetangga-tetangga kita dalam bidang telekomunikasi dan migas. Saya juga mengungkapkan dalam post lainnya bagaimana infiltrasi saham asing dari negara tetangga dalam telekomunikasi kita sebelumnya.

 

Kombinasi konglomerat lokal yang menggila dan MNC/BUMN tetangga inilah yang menjadi ganjelan baru dalam ekonomi yang sejahtera bagi keseluruhan masyarakat Indonesia. Hebatnya para konglomerasi lokal kita pun tanpa malu-malu mengakui dirinya juga berada dalam ranah politik dan kepentingan. Coba lihat anggota-anggota DPR kita yang merasa wajar mewakili kepentingan usaha-nya, atau posisi partai yang di bekingi perusahaan besar, bahkan ada petinggi partai yang menjadi seorang pemilik usaha media terkemuka di negeri ini. Apakah ini tidak mempengaruhi arus kepentingan pribadi dan kepentingan bersama? Okey, some people may be just said like this “It’s Just Nasionalism - Patriotic - Sacrifice to The Ibu Pertiwi.. and blah..blah..”.

 

Tetapi seharusnya kita tetap mawas diri dan legowo bahwa BUKAN TIDAK MUNGKIN arus kepentingan politik negeri ini surut kembali ke zaman Suharto dan konglomerasi keluarganya. BAHKAN LEBIH BURUK mengingat kondisi saat ini dimana bukan hanya satu kroni keluarga saja yang berkuasa. Apakah ancaman itu? Korupsi dan manipulasi kebijakan untuk kepentingan rakyat - kepentingan bersama.

 

Dan akhirnya ketakutan dalam memimpin rakyat dan mewakili rakyat menuju kesejahteraan yang berwawasan lingkungan seperti yang disampaikan diawal tulisan ini akan kembali menjadi keraguan. Karena para desission maker-nya juga harus kembali dipertanyakan “Pratiotism - Nasionalism - Sacrifice to Ibu Pertiwi”-nya.

 

This Post Honoured to All Indonesian - Leksa

 

Thanks to : Christianto Wibisono - Politik Ekonomi Bisnis Dan Lingkungan

posted by Leksa at 12:27 am  
 

Saturday, September 29, 2007

Ini POST GA PENTING..Cuman hasil refleksi gue tentang wanita…

Perhatian, post ini mungkin sama sekali ga penting buat anda. Dan bisa juga sekaligus membuat situ pusing, terutama wanita2. Kalo mau komen, dah gue kasih ruang nya.. Bebazz.. Aturan gue berlaku disini..

 

Ini terpikir di kepala gue setelah baca postingan Superbed di Junker Paradiso Rileks. Si Bet bilang, “napa yah cewe2 sekarang cenderung Identik? Identik aka sama aka mirip aka sejenis (ya iyalah, sama2 betina) aka similar…

 

Terus setelah gue pikir2 benar juga…

 

Makin, semakin, dan kebanyakan wanita-wanita sekarang memilih untuk berpenampilan sama, berpakaian sama, memiliki style yang sama, berwawasan yang sama, berdandan yang sama, bergosip yang sama???

 

Kalo istilah si Bet (gue tambahin, yang italic itu gue):

  • rambut berponi (iya nih, minimal diwarnain lah biar kayak blonde2, walo aslinya item, dikasih merah2, kayak Fe2O3..)
  • baju ketat, nonjolin buah dada .. (bahan dari kain yang ngaret gitu,… biasanya paling sopan juga kaos luar tipis bahan ngaret, dengan daleman baju bertali dibatasan dada..)
  • celana mengerucut menyempit di bagian bawah berwarna warni (ngerucut menyempit, diatasnya perbatasan tali kolor ama kaos..)
  • tas samping cem ibu2 mau belanja ke pasar (walo ga belanja apapun..)
  • sepatu cem lampu aladin (ada suara pletak pletok nya juga..)…
  • Dandanan wajah minimalis sih, walo tetep aja terlihat bibir mengkilat dan sekitar mata kayak dispidol..
  • Attitude, gaya jalan dan gaya bicara juga mirip2. Malah wawasan dan goisipnya juga mirip!!

Yap,.. coba perhatikan.. Identik dengan penampilan gitu. Terutama ABG dan Mahasiswi.. Kalo mau jujur, gue rada bosen liatnya. Jalan ke mana-mana (ga di Bandung atau Yogya) ketemu nya yang gitu-gitu lagi.

 

Sebagai Lelaki normal, wajar kalo gue tertarik ama wanita cantik dan manis, tapi jadi ilfill juga pas liat yang cantik dan manis kok penampilanya jadi kek gini. Jadi ga bisa bedain mana cewe biasa2 ajah ama yang emang cantik dan manis.

 

Tapi sekali lagi, gue bilang kebanyakan. Kalo anda bukan golongan kebanyakan ini, ya berarti anda bukan bagian yang gue bahas disini..

 

Pernah ngerasa jalan ke Mall, tapi mata loe melihat wanita2 seperti bermuka sama, berbody sama??

 

Gue pernah! Ngeri kayak di film2 horor Indo….

posted by Leksa at 12:52 am  
 

Thursday, August 30, 2007

Hari ke-4,… Gue Nyogok Supaya Bisa Diterima??

Kalo udah bicara susahnya diterima masuk diperguruan tinggi, kadang muncul option seperti diatas. Apalagi bagi orang tua mahasiswa yang ingin banget anaknya diterima di PT tersebut.

Apa hubungannya dengan hari ke empat gue mengurus2 transferan gue? Hmm.. Sebenarnya gue udah bolak balik diantara 2 otoritas berbeda di kampus ini untuk membicarakan perihal proses transfer ini.

Dan seperti di post sebelumnya, nihil. Gue diminta test dengan kualifikasi seperti anak baru, bukan mahasiswa mengulang atau transfer yang direkomendasikan. Kenapa? Karena kursi udah full untuk jurusan tambang.

Dan tadi pagi gue test denganpersiapan minimal baca2 rumus malam sebelumnya. Bayar di loket, terus input data, terus validasi ke ruang test, dan langsung duduk depan komputer yang menyediakan 30 soal dalam 45 menit. Jreng..!!

Gue ingin nyelesein semuanya dengan benar, tetapi jujur aja, ga ngerti gue ama kimia SMU, dah lama banget gitu loch…

Dan karena kebetulan udah kenal ama mas2 ditempat test, saya minta diintipin hasilnya. Point gue kurang 7 sodara2..Sedikit lagi dari ambang batas passing grade terbaru yang terus naik, karena makin banyak nya peminat ini.

Dan.. dengan hati luka gue tercenung aja. Apakah selesai sampai disini? Terus mau gimana? Nunggu setahun? Atau ada opsi2 lain…??

Pas dalam kondisi bingung begitu, gue bertemu seorang ibu. Ibu tersebut adalah istri pensiunan tentara, yang mana putranya pengen banget masuk kampus ini. Namun beliau sendiri kesusahan dari segi dana. Dan beliau sekarang sedang mengusahakan bertemu dengan otoritas biro akademik yang juga mau gue temui lagi. Curhat lah si ibu panjang lebar dengan gue, cerita macem2 tentang susahnya mencari sekolah yang bagus bagi anaknya, selama kurang lebih 1 jam kita ngobrol menunggu si bapak selesai rapat. Gue melihat, begitu besar pengorbanan seorang ibu yang demi anaknya mau jauh2 datang dari jakarta untuk mengurus sekolah yang terbaik buat anaknya. Si ibu sempat cerita, jika di jakarta, dia tidak dapat lagi mensupport anaknya bersekolah, teramat sangat mahal untuk keluarganya. Ahh…jadi teringat ibunda gue nun jauh disana, walao dia ga pernah ngedampingin gue mengurus sekolah-sekolah gue sejak SMU, tetapi gue percaya seorang ibu sama di mana2, selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Setelah si Ibu menghadap, kemudian gue masuk keruang si bapak untuk kesekian kalinya, meminta beliau untuk bisa memberikan pertimbangan dari hasil test yang point-nya mepet begitu. Ohya, pas mau masuk gue ketemu si ibu dengan wajah yang ceria, gue harap dia dapat solusi terbaik buat putranya.

Obrolan gue dengan si bapak tetep seperti biasa, namun si bapak menawarkan option lain lagi yang baru gue tahu bisa dicoba. Gue kembali ke ruang PMB, ngobrol2 ama mas2 yang kerja disana hasil pembicaraan dari si bapak di Biro Akademik. Salah seorangnya itu ngasih petunjuk ke gue, kalo gue bisa diluluskan dengan saran tersebut. Jadi antara bobot test, besarnya sumbangan dan pilihan jurusan itu memiliki point2 berbeda. Dengan kata lain kalo gue test dengan sumbangan diatas minimal seharusnya, perhitungan dan pertimbangan untuk itu juga akan berbeda di dalam sistem. Karena sistemnya emang dirancang seperti itu - Input - test - result, begitu prosedurnya. Gue kira gue harus daftar lagi untuk test ulang. Tapi si Mas di PMB bilang ngga usah. Gw bisa dibantu (karena kasian liat gue bolak-balik heheh..) dengan langsung merubah validasi input. Kalo gw udah sepakat untuk bayar diatas minimal sumbangan, diitung2in ama beliau berapa minimal sumbangan tambahan yang harus gue capai agar ambang batas lulus seleksi tercapai. Dan alakazam keluarlah jumlah sumbangan yang baru… Dan kalo gue setuju maka akan segera dikeluarkan surat keterangan lulus seleksi. Dan selanjutnya menandatangani blanko perjanjian untuk kesediaan membayar.

Gue kontak dulu keluarga dirumah, .. pertimbangannya gue bisa aja nunggu setahun kerja lagi seperti biasa, sambil ngumpulin duit. Dan kemudian daftar di gelombang pertama untuk tahun ajaran depan. Tetapi si emak ku tercinta ga mau ditunda2 lagi, lagian dengan pertimbangan jurusan ini makin banyak peminatnya dari tahun ke tahun, bisa jadi tahun depan sumbangan minimalnya akan deket-deket juga ama jumlah sumbangan yang sekarang harus gue bayar.

Ya sudah, izin didapat, dan gue juga bulat ini bisa gue lunaskan. Gue kembali ke ruang Panitia PMB dan menyetujui untuk dikenakan sumbangan minimal sekian tersebut.

Yaaa… Begitulah sodara2…

Jadi bukan gue nyumbang lebih karena gue nyogok si panitia atau biro akademiknya. Gue cuman mengikuti sistem yang mereka miliki. Karena sebuah Institusi Swasta yang mandiri seperti ini kan harus membayar sendiri kegiatannya, dan subsidi silang adalah jalan keluar bagi mereka disini.

Layaknya seperti USM ITB lah, yang bayar 45 juta (atau lebih..) itu. Kalo mereka diperlakukan sama, ya buat apa bayar 45 juta. Mending test SPMB aja. Tetapi justru mereka diuntungkan dengan test tersendiri, yang pada intinya berkurangnya persaingan, membesarnya peluang untuk diterima. Plus mendapat antrian kursi terdepan untuk menentukan pilihan jurusan nantinya dibanding yang SPMB.

Sangat kapitalis memang sistem pendidikan seperti ini. Tetapi gue percaya ada ruang-ruang khusus yang disediakan untuk berlaku adil dan membuka kesempatan berpendidikan bagi semua kok. Karena mereka masih harus memberikan keringanan untuk beberapa pihak tertentu. Seperti misalnya bagi anak Pensiunan TNI atau aktif di kedinasan, kampus ini ngasih keringanan. Dan terlebih lagi bagi gue, jumlah biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa disini masih jauh dibawah dari kampus2 swasta lainnya. Dan juga banyak beasiswa yang bisa diurus untuk meringankan beban bagi golongan2 tertentu yang tidak mampu (gue berencana mengurus ini juga ke depan).

Namun kampus swasta tetap swasta. Biaya mandiri dan subsidi silang menjadi kebutuhan pokok untuk menjalankan sebuah institusi pendidikan sebesar ini.

Pengalaman baru tentang semua yang gue jalanin selama beberapa hari ini. Dari ngobrol-ngobrol dengan berbagai orang disini. Sedikit pemahaman baru tentang pendidikan yang adil dan merata. Membongkar cara pandang gue tentang apa itu membiayai pendidikan yang memang mahal. Muncul pertanyaan, jadi kapan nih kita bisa gratis bersekolah di negeri ini? Dikampus swasta aja masih mungkin hal itu terjadi, apalagi di kampus negeri gue rasa. Tul ngga?

posted by Leksa at 7:17 pm  
 

Tuesday, August 14, 2007

Dari 3 Stanza Indonesia Raya, Self-Appraising, Hingga Bibit-Bibit Self Kapitalisme

Keep Your Mouth, Roy

Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 - 2 dan 3 stanza tersebut (Rima juga mengakui hal yang sama dalam cerita di Blog nya). Bahkan di Youtube sendiri lagu ini sudah ada sebelum Om Roy ribut-ribut mengundang wartawan dalam Ad Hoc Konferensi Pers awal Agustus lalu.

(more…)

posted by Leksa at 3:44 pm  
 

Monday, July 30, 2007

Saya Nge-fans Situ Sebab Situ Kenapa Yaaa??

AsmiSapa yang suka Armirandah,.. hayo ngaku?? Haha.. ga penting ya. Memang sama sekali ga penting. Tapi gue bingung dengan bahasan di rileks tentang wanita ini. Gara-gara si Rendy membawa sang Asmir ke dalam Rileks, maka ramailah diskusi di sana. Semua lelaki mendiskusikan dia. Padahal dia kan cuman wanita biasa. Bukan presiden, bukan dewi dari surga apalagi Tuhan Sang Pencipta. Cuma seorang gadis muda yang dapat kesempatan untuk tampil di televisi.

(more…)

posted by Leksa at 10:29 pm  
 
« Previous PageNext Page »

Back to Mini Black Theme by Leksa (just for a while, babe)
Powered by WordPress and a cup of Cappucino Float