<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/pendidkan-nasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Jul 2011 23:41:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Anggaran Menye-Menye</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/17/anggaran-menye-menye/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/17/anggaran-menye-menye/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 22:22:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa banyak dari masyarakat negeri ini sadar jika anggaran pendidikan mereka sudah ditetapkan oleh konsttitusi sebesar 20%? Sejak ditetapkan tahun 2003 sampai sekarang, apakah pernah angka tersebut tercapai dalam APBN kita? Dan beberapa hari lalu, kembali jatah anggaran Sisdiknas dipotong. &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/17/anggaran-menye-menye/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-f.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_508157_6751.jpg" alt="Pendidikan Bangkrut - Edutrend Edisi 3" width="290" height="353" />Seberapa banyak dari masyarakat negeri ini sadar jika anggaran pendidikan mereka sudah ditetapkan oleh konsttitusi sebesar 20%? Sejak ditetapkan tahun 2003 sampai sekarang, apakah pernah angka tersebut tercapai dalam APBN kita?</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-297"></span>Dan beberapa hari lalu, kembali <a title="Anggaran Pendidikan Dipangkas" href="http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/10/21382141/anggaran.pendidikan.turun.drastis" target="_blank">jatah anggaran Sisdiknas dipotong</a>. Dengan alasan ancaman defisit akibat kondisi ekonomi dunia, sebesar 10% anggaran pendidikan tahun ini kembali dipotong dalam Perubahan APBN.</p>
<p style="text-align: justify;">
<blockquote style="text-align: justify;">Anggaran Departemen Pendidikan Nasional sebagai departemen pengemban tugas utama di bidang pendidikan dalam pemerintahan, hanya sebesar Rp 45,9 triliun tahun lalu dan itupun belum mencapai 20 persen sesuai amanat konstitusi. Sedangkan, setelah APBN-P tahun 2008 yang disahkan hari ini, anggaran Departemen Pendidikan Nasional dari Rp 49,7 triliun terpotong hingga tersisa Rp 44,7 triliun.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">APBN tahun lalu saja hanya menganggarkan 11,8% dari total APBN. Dan dengan perhitungan yang sama, APBN-P tahun ini turun menjadi 9,6% .</p>
<p style="text-align: justify;">Memang efisiensi menjadi penting mengingat kondisi ekonomi dunia yang memburuk. Belum lagi jika berbicara korupsi yang terjadi, terutama ditubuh Diknas. Rahasia umum kalo kata saya <em>mah</em>. Seperti mengulang memori cerita lama jika berbicara korupsi di berbagai institusi pendidikan negara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita boleh menangis <em>menye-menye </em>menyadari bahwa belum pernah persentase itu tercapai dalam sejarah APBN kita. Lalu buat apa juga dulu dibuat angka itu? Bukankah Undang-Undang di negara hukum ini punya kekuatan luar biasa untuk mengatur segala kehidupan warganya? Bahkan sampai urusan moral saja diatur oleh Undang-undang?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya jadi teringat salah satu petikan lagu Bang Iwan,</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Masalah moral masalah akhlak<br />
Biar kami cari sendiri<br />
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu<br />
Peraturan yang sehat yang kami mau</p>
<p>Tegakkan hukum setegak-tegaknya<br />
Adil dan tegas tak pandang bulu<br />
Pasti kuangkat engkau<br />
Menjadi manusia setengah dewa</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dan kalau anda melihat berita-berita media akhir ini, lebih banyak bercerita tentang kaum-kaum oportunis yang bersiap-siap untuk 2009. Berita tentang defisit anggaran, kemiskinan, bahkan berita perihal pemotongan anggaran ini saja hanya masuk dalam kolom kecil -hampir tidak terbaca. Kalah oleh headline-headline besar soal rebutan kursi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/17/anggaran-menye-menye/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Intermezzo Kelulusan</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/03/15/intermezzo-kelulusan/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/03/15/intermezzo-kelulusan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 20:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[tunanetra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/03/15/intermezzo-kelulusan/</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum melanjutkan cerita part two dari cerita &#8220;Menara Gading&#8221;, pendek saja sebagai pengantar tentang hari kelulusan dan wisuda. Supaya nantinya ga terlalu sensitif buat para penganut skripsi ra rampung-rampung. Ada sebuah candaan lama saya dan teman-teman dulu : &#8220;kecantikan/ketampanan fisik &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/03/15/intermezzo-kelulusan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://photos-c.ak.facebook.com/photos-ak-sctm/v213/68/23/661293665/n661293665_442094_6501.jpg" height="406" width="290" />Sebelum melanjutkan cerita <em>part two</em> dari cerita <a href="http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/" title="Menara Gading Part One" target="_blank">&#8220;Menara Gading&#8221;</a>, pendek saja sebagai pengantar tentang hari kelulusan dan wisuda. Supaya nantinya <em>ga</em> terlalu sensitif buat para penganut <a href="http://wiki.cahandong.org/Skripsi" title="Skripsihh..." target="_blank">skripsi ra rampung-rampung</a>.</p>
<p align="justify"><span id="more-266"></span>Ada sebuah candaan lama saya dan teman-teman dulu : &#8220;kecantikan/ketampanan fisik berbanding terbalik dengan kecerdasan akademik (a.k.a. Indeks Prestasi)&#8221;.  Ini hanya <em>gojekan kere</em>, tidak usah dianggap serius. Tetapi dalam urusan politik bisa saja 2 hal ini menjadi penting dan absolute. Biang masalah bagi yang tersangkut paut bikin mumet dan ruwet.</p>
<p align="justify">Saya membaca berita ada 2 wanita cantik nan hebat asal Banten ribut-ribut soal ijazah. Ternyata urusan cantiknya fisik dan ijazah harus sejalan dalam politik. Kalau tidak urusannya bisa ramai seperti <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/15/time/014243/idnews/908692/idkanal/10" title="Cantik menuntut yang cantik..." target="_blank">ini</a>.</p>
<p align="justify">Kalau boleh saya membandingkan ributnya 2 wanita di atas dengan kisah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/David_Paterson" title="David A. Paterson" target="_blank">David A. Paterson</a> si Gubernur NY yang baru, saya jadi sakit perut. Si David ini adalah seorang <strong>Tunanetra</strong> pengganti Spitzer yang tersangkut <a href="http://hermansaksono.blogspot.com/2008/03/emperors-club-vip.html" title="Momon paling ngerti urusan ginian..." target="_blank">skandal sex tingkat tinggi</a> itu. David adalah seorang pengacara handal yang buta dan alumni Columbia University. Kalau buta bisa dianggap kekurangan fisik, maka singkat kata saya boleh katakan <em>&#8220;Gile,..udah buta, jadi gubernur pulak&#8221;</em>.</p>
<p align="justify">Ngomong-ngomong bicara tunanetra dan kesempatan, saya jadi ingat Indonesia.<br />
<em> Eh, ntar dulu, Leks&#8230;Jangan bilang lu mau samain Indo ama USA. Beda dunk. Mereka udah ratusan tahun umur demokrasinya</em>.<br />
Ya ya ya, jawaban pragmatis standar dan <em>common used</em>.<br />
Jangankan bicara kesempatan jadi gubernur, kesempatan belajar saja masih harus kita pikirkan bagi saudara-saudara kita penyandang cacat di negeri ini.</p>
<p align="justify">Eh tapi,..Kok, saya tiba-tiba jadi teringat si mantan presiden kita yang suka kedip-kedip itu yak&#8230;</p>
<p align="justify"><em>Whatever</em>-lah.. Yang pasti ada seorang wisudawati pintar nan cantik di Sabtu kemarin pas saya di Bandung. <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Gambar dicomot dari <a href="http://farm2.static.flickr.com/1359/1200543186_96e1790022_o.jpg" title="Gambar Wisuda Original" target="_blank">sini </a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/03/15/intermezzo-kelulusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kisah Tentang Mengajar</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/11/04/sebuah-kisah-tentang-mengajar/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/11/04/sebuah-kisah-tentang-mengajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 10:52:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/11/04/sebuah-kisah-tentang-mengajar/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu, seorang teman, lewat percakapan YM™, meminta saya untuk dibuatkan sebuah blog. Bukan blog untuk dirinya, karena dia sendiri sudah memiliki blog yang cukup item di kalangan penggemar pantatitem™. Blog yang dimaksud disini adalah blog sebagai media informasi &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/11/04/sebuah-kisah-tentang-mengajar/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://kapucino.org/cewe_smu.jpg" alt="Ilustrasi Cewe SMU" align="left" height="251" hspace="5" vspace="5" width="294" />Beberapa hari lalu,  seorang teman, lewat percakapan YM™, meminta saya untuk dibuatkan sebuah blog. Bukan blog untuk dirinya, karena dia sendiri sudah memiliki blog yang cukup <em>item</em> di kalangan penggemar <a href="http://pantatitem.blogspot.com" title="Pantat Item - Imoth" target="_blank">pantatitem™</a>. Blog yang dimaksud disini adalah blog sebagai media informasi dan promosi aktifitas kegiatan pendidikan bagi anak-anak miskin dan putus sekolah.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Kok make kata promo, kayak ngarep duit banget??</em> Memang kata &#8220;promosi&#8221; sangat bersinggungan dengan label komersial, berbau pasar dan materi. Tetapi saya tidak menemukan larangan menggunakan kata promosi dalam kerangka mengenalkan kegiatan sosial. <em>So, Why not?</em>Lagi pula memang tujuan teman-teman saya untuk menunjukkan eksistensi kegiatan mereka, dan ingin menghimpun perhatian dari khalayak ramai online yang notabene cuma 9% dari penduduk Indonesia. Dalam opini saya, memang kita yang online ini <em>(saya dan anda yang sedang membaca postingan ini)</em> adalah kaum-kam intelektual yang mendapat rezeki lebih untuk menikmati pendidikan lebih baik. Dan apa salahnya membagi sedikit kapasitas akan kelebihan kita untuk 16,58% lain yang kurang beruntung <em>(Data BPS masyarakat miskin Indonesia hingga 2007 semester pertama).</em></p>
<p align="justify">Dan di sini teman saya tersebut meminta kapasitas saya yang kebetulan berlebih sedikit di Bandwith <em>(karena sebenarnya saya juga masih Fekir Benwit™) </em>untuk membuat media informasi online kegitatan tersebut lewat blog. Mungkin anda yang Blogger-blogger ini sudah tidak asing lagi dengan cerita <a href="http://bloggersforbangsari.blogspot.com/" title="Bloggersforbangsari" target="_blank">&#8220;Kambing Bangsari&#8221;</a>, yang dalam beberapa opini blogger menyelamatkan perlehatan si <a href="http://pestablogger.com" title="Pesta Blogger 2007" target="_blank">&#8220;Pesta&#8221;</a>. Sesungguhnya saya salut dengan konsistensi komunitas pendidikan di Bangsari, dan kami yang mungkin masih junior dalam kegiatan seperti ini butuh belajar banyak dari saudara-saudara di Bantarsari.</p>
<p align="justify">Lalu rencana blog ini bergulir, email saya dikirimi oleh si pantatitem™ PDF dan Doc file sebagai materi untuk blog tersebut.</p>
<p align="justify">Sebenarnya salah seorang yang paling <em>getol</em> dalam komunitas pendidikan ini adalah salah satu sahabat baik saya. <a href="http://mahkotalima.blogspot.com" title="Puti" target="_blank">Puti</a> namanya. Baru saja lulus 27 Oktober lalu, setelah 6,5 tahun bertarung di kampus <a href="http://www.kapucino.org/2007/04/09/kritik-untuk-kedatangan-jk-di-itb-sabtu-7-april/" title="Kampus gajah tiarap Post" target="_blank">Gajah Tiarap™</a>. Cewe ini seangkatan dengan saya, namun saya bernasib tidak lebih baik dari si Mbak ini <em>(a.k.a buruk a.k.a. DO .. *halah kok curhat..)</em>.</p>
<p align="justify">Perkenalan pertama di tahun ke-2 kampus Gajah Tiarap™ lewat sebuah kegiatan salah satu unit kajian sosial di sana. Kebetulan kita mengambil fokus yang sama yaitu mengenai pendidikan Indonesia. Lalu terpisah karena saya sendiri bermain dengan komunitas luar kampus yang masih bernuansa pendidikan alternatif juga, sedangkan si Mbak ini menemukan labuhan hatinya di salah satu sekolah setingkat SMP bagi anak-anak miskin di daerah Dago Atas, Bandung. Seiring berjalannya waktu, saya terhenti karena kurangnya kosistensi mungkin, dan banting setir ke wacana lain <em>(atau mungkin lebih tepatnya terseret kali yaa..haha..)</em>. Tapi si Mbak ini malah makin maju, integritasnya dengan sekolah itu membuat dia sempat beberapa kali <em>pontang panting</em> mengurusi Ujian Paket B untuk muridnya yang penuh akal-akalan dari Dinas Pendidikan.</p>
<p align="justify">Selain itu dengan beberapa rekan-rekan lainnya si Mbak ini maju terus dengan berbagai aktifitas pendidikan alternatif lainnya. Membuat komunitas belajar, seperti bimbingan belajar tepatnya, untuk anak-anak di kawasan Dago Pojok Bandung. Targetnya adalah membantu anak-anak miskin daerah sekitar untuk fokus dalam belajar karena terkadang mereka harus terpecah konsentrasinya untuk membantu orang tua. Dengan dukungan junior-junior di Kampus GT™, kegiatan ini masih berjalan sampai sekarang. Menumpang di salah satu rumah Seniman Bandung, Kang Jabaril. Lengkap dengan buku-buku bacaan seadanya. Dan syukurnya justru anak-anak yang datang kesana bukan hanya umur sekolah, bahkan anak di bawah umur sekolah pun hanya untuk sekedar mendengarkan dongeng pun mau bermain ke sawung belajar <strong>Taboo </strong>ini<strong>,</strong> begitu kami menyebutnya.</p>
<p align="justify">Dan sebelum saya hijrah ke Yogyakarta, satu lagi gerakan si Mbak ini, beliau melirik sebuah Madrasah di kawasan Dago Pojok juga yang dalam pandangan kami tidak layak disebut sekolah. Dalam sebuah lorong gang sempit dan hanya terdiri dari 3 kelas. Teman-teman yang selama ini <em>bareng</em> si Mbak pun tergerak untuk memulai ekspansi aktifitas disana, mereka mulai mengajar di senggang kuliah untuk Madrasah tersebut, sambil menyumbang sedikit kreasi untuk membuat sekolah itu menjadi lebih layak. Terkadang juga memberikan materi luar sekolah &#8211; terapan, di hari Sabtu layaknya outbound dan sejenisnya. Kegiatan mengajar di sini semakin difokuskan, karena kegiatan mengajar di SMP Dago Atas yang telah berlangsung 4 tahun tersebut akhirnya berhenti. Karena yayasan kehabisan biaya, dan tanah tempat sekolah itu berdiri harus dijual.</p>
<p align="justify">Ohya, masih ada lagi, haha.. bicara tentang si Mbak ini <em>emang</em> <em>ga</em> ada habis-habisnya. terakhir <em>banget</em> sebelum saya hijrah ke Yogya <em>(yep, pengulangan, emang deket-deket waktunya..), </em>si Mbak dan rekan-rekannya sudah selangkah lebih maju. Menggunakan <strong>subsidi silang</strong> antara kegiatan <em>non profit</em> dan <em>profit</em>nya. Kegiatan <em>profit</em>nya? Masih tidak jauh-jauh dari pendidikan alternatif. Yaitu mendalami <em>Telling Story</em> untuk TK-TK &#8220;kalangan atas&#8221; dan sekaligus mempersiapkan aktifitas <em>Home Schooling</em> yang juga buat kalangan atas. Lucu memang, dengan bekal yang sama tetapi bisa mengisi 2 pundi kosong berbeda bahan, satu tanah liat dan satu lagi dari <em>diamond.</em> Yang miskin ngumpul di kelas tidak layak, dan yang lainnya dalam ruangan ber-AC dan <em>Private. </em>Tetapi anda perlu tahu, justru mengalami 2 kondisi langit dan bumi ini, membuat kita akan menjadi &#8220;kaya&#8221;. Dan semoga bekal yang yang diberikan ke anak didik juga sama. Terbayang tidak, bagaimana memberikan materi pendidikan yang disisipkan penyadaran lingkungan sosial. Si kaya akan tahu dari cerita guru-nya bagaimana lingkungan nya tidak seratus persen &#8220;Emas Permata&#8221;, dan yang miskin juga diberikan pemahaman bahwa mereka juga memiliki hak mendapat pendidikan yang sama dengan yang gurunya ajarkan ke teman-teman mereka yang kaya. Toh, ilmu pengetahuan adalah sama bagi semua kalangan.</p>
<p align="justify">Yah&#8230;sekarang si Ibu Puti telah menjadi Mechanical Engineer, dan kemungkinan besar harus cabut dari kota Bandung untuk melanjutkan studinya. Saya selalu teringat di mana saya sering berpesan ke si Ibu ini untuk memikirkan regenerasi mengurusi kegiatan-kegiatannya tersebut. Karena kita manusia bertambah umur dan bertambah tanggung jawab <em>(hoho&#8230;tumben gue sadar&#8230;)</em>. Dan masih inget juga, saya pernah bilang, <em>&#8220;Put, suatu hari loe ngga cuman bikin ini itu seperti sekarang. Harus berkembang dan maju..!! Kalahkan tuh Sampoerna Foundation..&#8221;, </em>masih berapi-api saat itu saudara-saudara, heuhue&#8230;</p>
<p align="justify">Cuma kebetulan lagi inget akan kisah lalu saja.</p>
<p align="justify">Dan saya sendiri tercenung, ternyata sampai sekarang belum beres-beres mengurusi pendidikan saya sendiri. <em>*sigh&#8230;.</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>PS : Jangan protes gambarnya,.. itu kan anak sekolahan juga, lhoo.. </em></p>
<p align="justify"><em>haahaha.. *Ketawa Setan&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/11/04/sebuah-kisah-tentang-mengajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blogactionday &#8211; Menuju Kesejahteraan Rakyat Yang Berwawasan Lingkungan</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/10/16/blogactionday-menuju-kesejahteraan-rakyat-yang-berwawasan-lingkungan/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/10/16/blogactionday-menuju-kesejahteraan-rakyat-yang-berwawasan-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 17:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/10/16/blogactionday-menuju-kesejahteraan-rakyat-yang-berwawasan-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Hari ini kan hari Blogactionday &#8211; seperti disepakati bersama dan gue udah submit &#8211; janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/10/16/blogactionday-menuju-kesejahteraan-rakyat-yang-berwawasan-lingkungan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center" align="justify"><img src="http://www.candy.net.au/cma2006/extranet/uploads/images/About/Environment.jpg" height="331" width="352" /></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Hari ini kan hari <a href="http://blogactionday.org" title="Blogactionday" target="_blank">Blogactionday</a> &#8211; seperti disepakati bersama dan gue udah submit &#8211; janjiin tulisan mengenai lingkungan hidup, maka gue akan tulis. Tapi sebelumnya ada hal yang mau gue jelaskan mengenai Blogactionday ini. Kenapa dan mengapa ribuan orang menulis suatu isu pada hari dan waktu yang sama? Apa pengaruhnya?<br />
Okey, kita kembali kepada penguasa Internet dunia, <a href="http://www.google.com" title="Si Mbah">Mbah Google</a> . Kemampuan crawler Google yang mengelilingi semua situs di Internet dan menangkap isi nya adalah senjata ampuh dalam mengangkat sebuah informasi menjadi terbaca oleh semua orang di lapisan dunia. Bukan tidak mungkin jika separoh orang di dunia menulis sebuah propaganda mengenai Tuhan itu apa, maka ketika saya dengan polosnya bertanya dan mencari &#8220;kebenaran&#8221; lewat si Mbah, maka dia akan menjawab sesuai dengan propaganda tersebut. Saya menggunakan istilah propaganda, karena berarti itu adalah informasi yang memang sengaja dikeluarkan dalam rangka melawan (meng-<em>counter)</em> informasi resmi yang diketahui khalayak ramai pada umumnya.
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Itu baru jika sebuah informasi yang update dan berjumlah banyak. Belum lagi jika di tambah technical SEO yang bagus. Bayangkan jika sebuah situs yang memiliki Traffic Rank (Pagerank) 7 ke-atas atau <a href="http://alexa.com" title="Mbak Alexa">Alexa top 50</a> memberikan sebuah informasi yang bohong, dan sebenarnya tidak ada. Atau pembelokan sejarah yang masih ambigu misalnya. Yaaa&#8230; memang Internet dan Informasi di dalamnya sangat susah dikalibrasi ternyata, <em>People common Room</em> dan semua memberi informasi versi masing-masing.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Jika Pertanyaan saya lanjutkan, tolong tanyakan kepada &#8220;<a href="http://www.google.com" title="Mbah Google" target="_blank">penyampai kebenaran</a>&#8221; siapakah Tuhan? Maka jawabnya apa? hehehe&#8230;  <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Okey, kembali pada Blogactionday. Pertama sekali saya bingung, kenapa harus membahas lingkungan hidup, seperti misal <a href="http://kopipakegula.blogspot.com" title="Rime" target="_blank">Rime</a> mengangkat cerita tentang kemasan minuman, dan air minum komersial. Itu memang sebuah isu lingkungan.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kalau saya sendiri dengan latar belakang Ilmu di Pertambangan, mau mengangkat isu tentang pengrusakan hutan, pembabatan bukit dan gunung, atau penurunan muka air tanah hingga isu limbah tailing, tentunya itu adalah isu yang umum sekali. Bahkan isu tersebut malah terlihat aneh karena nanti saya bisa berkacamata dari versi analisis dampak lingkungan konsultan penambangan. Semua pertambangan besar itu memiliki data analisis faktual dan sangat saintis sekali untuk diangkat ke pengadilan jika anda atau bahkan Greenpeace sekalipun mencoba menuntut. WALAU saya tidak tahu data tersebut dengan cara kotor atau bersih dalam memperolehnya &#8211; saya bukan polisi yang menyidik, atau BPK/KPK yang ngurus begituan. Karena urusan begini ga jauh dari politik-bisnis-politik.<br />
<img src="http://www.walhi-jogja.or.id/images/keg..jpg" height="488" width="496" />
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Foto dari Walhi-yogya.or.id :Yogya di Hari Bumi 2007</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Memang berbicara kebutuhan hidup manusia, baik personal, kelompok bahkan kebutuhan bersama, tidak akan terlepas dari urusan politik. Apakah masalah lingkungan juga menjadi kebutuhan bersama, kelompok, atau personal? Tentu kita menjawab menjadi kebutuhan bersama. Bersama siapa tapinya?</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Coba kita lihat sang Al Gore &#8211; Peraih Nobel Perdamaian tahun ini. Karena kegiatannya yang sangat <em>progressive</em> dalam menyuarakan Pemanasan Global, ia berkesempatan memperoleh nobel perdamaian. Mungkin bisa jadi ada penilaian tersendiri terhadap posisinya yang anti Perang &#8211; Irak, tetapi tekanan pemilihan nobel ini sendiri justru pada gerakannya dalam <em>Global Warming Issue</em>. Komite Nobel Perdamaian sendiri sempat ribut-ribut untuk lebih <em>strict</em> &#8211; ketat dalam menentukan peraih nobel perdamaian tahun ini. Tahun lalu dengan terpilihnya M. Yunus dengan ide kredit mikro-nya tersebut, komite nobel sempat cekcok dengan pemerhati perdamaian dunia lainnya <em>lantaran</em> dinilai tidak memilih orang yang terkait erat dengan masalah perdamaian dunia. Namun tahun ini kembali terpilih tokoh yang paling kontroversial dalam percaturan dunia. Dan dialah Al Gore.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><img src="http://www.funnyandjokes.com/wp-content/uploads/2007/06/shark-global-warming.jpg" width="540" /></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Seberapa besar permasalahan pemanasan global terkait dengan perdamaian dunia? Dari sudut pandang saya pribadi memang tidak terlihat kaitan langsung. <em>Wong</em>, beberapa fakta ilmiah dalam film Inconvinient Truth saja <a href="http://copiousdissent.blogspot.com/2007/10/judge-in-britain-outlines-11-of-al.html" title="Judge in Britain Outlines 11 of Al Goreâ€™s Lies That Must Be Disclosed to Students in Propaganda Film: An Inconvenient Truth" target="_blank">masih didebat oleh beberapa mahkamah konstitusi  dan ilmuwan </a>. Tetapi <a href="http://www.ranesi.nl/arsipaktua/masalahglobal/al_gore_nobel071012" title="Kaitan Global Warming dan Perdamaian" target="_blank">secara tidak langsung memang ada keterkaitan</a>. Bagaimana situasi di Afrika dalam masalah sumber daya alam hayati bisa menyebabkan perang saudara, namun ini juga masih dipertanyakan apakah ada keterkaitan khusus dengan <em>Global Warming. </em>Dalam opini saya sendiri, justru dari sini bisa dilihat. Jika Afrika saja bisa berperang saudara karena urusan ketersediaan sumber air &#8211; terbayang tidak jika Indonesia berperang dengan Malaysia karena masalah Asap, hewan langka dan Limbah Minyak??</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Dan isu menarik tentang pengangkatan Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian seperti menjadi tamparan di muka bagi kaum politisi sendiri (semoga). Karena kita tahu bagaimana Al Gore sendiri tetap berada dalam jalur pemilihan Presiden di USA 2008. Dalam <a href="http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1622597-3,00.html" title="Al Gore Interview" target="_blank">wawancara dengan Times</a> memang Gore tidak menyatakan langsung ia akan mengejar kursi presiden. Namun, pernyataannya <em>&#8220;fallen out of love with politics,&#8221;</em> dan <em>&#8220;convinced the presidency is the highest and best role I could play&#8221;</em> yang menancapkan opini posistif bahwa ia akan berjuang ke arah sana. Apakah posisinya sebagai peraih nobel perdamaian ini akan menjadi <em>&#8220;boosting&#8221;</em> tersendiri untuk melancarkan jalannya ke kursi presiden? Jelas berpengaruh. Thats again the politics play based on the enviromental issue&#8230;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Bagaimana dengan indonesia sendiri? Apakah isu lingkungan selalu dikadali oleh para politisi kita? Mungkin tidak selalu &#8211; tapi ada, dari isu naiknya kepala desa karena kampanye kebun bersamanya, hingga Gubernur yang menjanjikan perlindungan Hutan (dan notabene malah berakhir pada pembalakan oleh HPH pilihannya). Belum lagi jika kita <em>flashback</em> pada masa Suharto dan kroni-kroninya bagaimana urusan pengawasan lingkungan PMA (Penanam Modal Asing &#8211; terutama sektor Pertambangan/Migas) masih bisa diatur dalam kerangka &#8220;kekeluargaan&#8221;.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Tapi paling menarik adalah rencana terbaru Indonesia yang kian mengikut arus oleh kepentingan Global. Protokol Kyoto jelas bisa dipastikan gagal mengingat Amerika sudah pasti menolak pembatasan emisi gas buang. Dan kini para penguasa kepentingan global dunia mulai mengatur kepada sebuah strategi baru &#8211; Road Map baru, yang dengan kerennya dinamakan <strong>&#8220;A Bali Road Map After Kyoto&#8221;. </strong>Ya, tepat sekali. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan ini pada tanggal 4 &#8211; 17 Desember 2007.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Bukan berarti tidak bangga dengan predikat tersebut. Kalau kata Nagabonar &#8220;<em>Cem mana pulak tidak bangga kau ini&#8221;.</em> Tetapi kita masih bisa ingat bagaimana negara ketiga seperti Indonesia selalu menjadi kambing hitam dari kepentingan global.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Memang negara kita adalah salah satu negara yang sangat dihormati dalam kerangka menjaga iklim global. Istilah zaman saya SD dulu adalah &#8220;paru-paru dunia&#8221;. Entah istilah itu masih ada apa tidak, saya tidak tahu. Mengingat menggilanya pembukaan lahan Sumatra dan Kalimantan untuk perumahan, industri dan pertambangan. Belum lagi kebakaran hutan yang asapnya memperpanas hubungan kita dengan Malaysia berlanjut klaim-klaiman Batik, Lagu Daerah (<em>dan mungkin pacar saya juga diklaim nantinya, hahaha..</em>).</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Dikadali negeri Barat dan kroninya, saya menggunakan istilah itu. Karena isu lingkungan telah menjadi kebutuhan dunia global. Tetapi uniknya dengan mengatasnamakan kepentingan global inilah kemudian muncul LSM dan NGO yang &#8220;awalnya&#8221; terlihat seperti pemerhati. Menawarkan berbagai solusi-solusi alternatif untuk keselamatan bersama. Saya masih ingat dengan istilah <em>eco-labelling  </em>dimana ini adalah semacam program sertifikasi standar bagi produk eksport bahwa dalam proses produksinya tidak merusak lingkungan. Perusahaan produk eksport tersebut harus membayar sekian duit untuk memperoleh sertifikasi tersebut, dengan kata lain ada badan kompeten di dunia global yang menilai standard ini.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Lha</em>, kenapa jadi nya ke duit? Mungkin kerangka berpikir awam masih menilai eco-labelling/ISO ini-itu adalah sebuah bentuk penilaian standarisasi dengan kompensasi gratis. NO!! Karena metode berpikir awal lahirnya badan-badan ini adalah karena kepentingan pasar dunia juga.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Begini, negara-negara maju (yang sudah duluan maju), mereka saat ini sudah memiliki tingkat industri yang sedemikian maju dan menjamin kesejahteraan diatas negara-negara berkembang. Sementara, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, China dan lainnya sedang mengusahakan ke arah sejahtera tersebut yang otomatis industrialisasinya digenjot gila-gilaan &#8211; dan ini tidak terlepas dari pergeseran pasar industri global dimana negara-negara maju telah memindahkan industrinya ke negara-negara berkembang. Bisa dilihat dari grafik penghasil emisi gas buang &#8211; selain amerika , India dan China memperoleh rating yang lumayan tinggi. Bahkan si Bush sempat mendebat Protokol Kyoto dengan menyebut-nyebut India dan negara ke-tiga lainnya harus lebih diperhatikan dalam urusan <em>global warming.</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Konsekuensi logisnya saat ini, ketika dunia menghadapi ancaman lingkungan hidup, lalu siapa yang bertanggung jawab? Seperti melempar gayung tak bersambut memang. Tentunya butuh mekanisasi pasar yang kompleks untuk mempemudah urusan antar negara-negara ini. Karena sudah terkait satu dengan lainnya dalam kebutuhan global.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Dan di sinilah ide-ide yang awalnya ditawarkan pemerhati lingkungan yang <em>&#8220;pinter-pinter&#8221;</em> untuk menyelesaikannya secara PASAR juga. Jadi negara-negara yang masih mengelola hutannya sekian hekar itu dibayar &#8211; memperoleh kompensasi dari negara-negara yang mengeluarkan emisi. Istilahnya ada pabrik yang membeli hutan untuk menyerap sekian gas buang yang mereka keluarkan. <em>Keren yak</em>? Polusi bisa di perjual-belikan dalam pasar global. Dari sinilah pokok-pokok dasar pemikiran lahirnya badan-badan eco-labelling/ISO tersebut.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kembali ke Indonesia, dengan demokrasi yang didengung-dengungkan sekarang oleh politikus-politikus negeri ini, kehidupan menuju kesejahteraan memang mulai terlihat. Tetapi kesejahteraan yang ke arah mana dulu? Jika ditanyakan apakah ada buktinya kalau bangsa ini mulai terlihat sejahtera? ADA. Sudah lahir sebuah konglomerasi baru dinegara ini. Kenapa demikian? karena krismon 97-98 bukanlah akhir bagi semuanya. Ada pihak-pihak yang memang pintar dalam memanfaatkan keadaan dan memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan aset-nya.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kemudian yang fenomenal saat ini muncul juga konglomerasi tetangga yang sukses membangun ekonominya di negara ini, seperti MNC dan BUMN tetangga-tetangga kita dalam bidang telekomunikasi dan migas. Saya juga mengungkapkan dalam <a href="http://www.kapucino.org/2007/04/28/seberapa-besar-saham-asing-dalam-telekomunikasi-indonesia/" title="Saham asing dalam telekomunikasi" target="_blank">post lainnya</a> bagaimana infiltrasi saham asing dari negara tetangga dalam telekomunikasi kita sebelumnya.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kombinasi konglomerat lokal yang menggila dan MNC/BUMN tetangga inilah yang menjadi <em>ganjelan</em> baru dalam ekonomi yang sejahtera bagi keseluruhan masyarakat Indonesia. Hebatnya para konglomerasi lokal kita pun tanpa malu-malu mengakui dirinya juga berada dalam ranah politik dan kepentingan. Coba lihat anggota-anggota DPR kita yang merasa wajar mewakili kepentingan usaha-nya, atau posisi partai yang di bekingi perusahaan besar, bahkan ada petinggi partai yang menjadi seorang pemilik usaha media terkemuka di negeri ini. Apakah ini tidak mempengaruhi arus kepentingan pribadi dan kepentingan bersama? Okey, some people may be just said like this <em>&#8220;It&#8217;s Just Nasionalism &#8211; Patriotic &#8211; Sacrifice to The Ibu Pertiwi.. and blah..blah..&#8221;.</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Tetapi seharusnya kita tetap mawas diri dan <em>legowo</em> bahwa <strong>BUKAN TIDAK MUNGKIN</strong> arus kepentingan politik negeri ini surut kembali ke zaman Suharto dan konglomerasi keluarganya. <strong>BAHKAN LEBIH BURUK</strong> mengingat kondisi saat ini dimana bukan hanya satu kroni keluarga saja yang berkuasa. Apakah ancaman itu? Korupsi dan manipulasi kebijakan untuk kepentingan rakyat &#8211; kepentingan bersama.<br />
<img src="http://www.media-indonesia.com/data/resensi/378.jpg" height="278" width="200" />
</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Dan akhirnya ketakutan dalam memimpin rakyat dan mewakili rakyat <strong>menuju kesejahteraan yang berwawasan lingkungan</strong> seperti yang disampaikan diawal tulisan ini akan kembali menjadi keraguan. Karena para <em>desission maker</em>-nya juga harus kembali dipertanyakan &#8220;Pratiotism &#8211; Nasionalism &#8211; Sacrifice to Ibu Pertiwi&#8221;-nya.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>This Post Honoured to All Indonesian &#8211; Leksa</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Thanks to : <strong> Christianto             Wibisono &#8211; Politik Ekonomi Bisnis Dan Lingkungan</strong> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/10/16/blogactionday-menuju-kesejahteraan-rakyat-yang-berwawasan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tambang Batu Bara Kecil, Mungkin Ga Yaaa??</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/09/06/tambang-batu-bara-kecil-mungkin-ga-yaaa/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/09/06/tambang-batu-bara-kecil-mungkin-ga-yaaa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2007 12:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Mining and Energy]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/09/06/tambang-batu-bara-kecil-mungkin-ga-yaaa/</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang menarik sebagai seorang lelaki muda? Pulang malam? bergadang? Minum-minum bersama teman? Pacaran? atau yang lain? Heuhue.. sepertinya kesenangan yang seperti itu sudah harus gw tinggalkan. Berhubung kost yang sekarang punya jam malam sampai jam 11! Wew.. Tetapi ga &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/09/06/tambang-batu-bara-kecil-mungkin-ga-yaaa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang menarik sebagai seorang lelaki muda? Pulang malam? bergadang? Minum-minum bersama teman? Pacaran? atau yang lain?</p>
<p>Heuhue.. sepertinya kesenangan yang seperti itu sudah harus gw tinggalkan. Berhubung kost yang sekarang punya jam malam sampai jam 11! Wew.. Tetapi ga papa lah.. Wong emang udah diniatkan untuk membenahi rencana-rencana masa depan yang tertunda. Mungkin Tuhan sengaja ngasih kayak gini buat membantu rencana-rencana gw. Walaupunnn,..walaupun sebenarnya banyak cara ngakalin si bapak kost. Tadi aja gue cerita ke dia kalo gue emang terkadang butuh OL malam2 buat kerjaan, jadi harus ke warnet karena sementara belom masang koneksi di kost-an. Ehh..  si bapak malah bilang</p>
<p><em>&#8220;Anak muda kan terkadang suka ga perhitungan, Mas. Ga sadarkelakuan </em><em>e malah mengganggu ketertiban..Tapi saya percaya sama, Mas. Kan situ juga yang paling <strong>&#8220;TUA&#8221;</strong> disini. Wong emang susah juga kalau mengatur waktu bagi yang bekerja&#8230; Nanti khusus buat mas saya kasih-kan kunci gerbang depan.&#8221; </em></p>
<p>Busett dahhh,.. ga di Bandung atau di sini tetep aja gue dianggap orang Tua (<em>Paakk,..KTM saya masih 2007, lhoo&#8230; </em>). Atau emang tampang gue udah cocok ber-anak 2 kali yee..Arghh..</p>
<p>Hmm.. itu obrolan2 tadi pas pindah2. Sekarang bukan mau omongin tentang kepindahan gw. Kita membahas hal yg agak serius sekarang (yaeelaahh&#8230;). Sedikit menyinggung ke-ilmuan kuliah gw (huahahaha&#8230;). Biar gw ga terlalu dianggap durhaka ama profesi pertambangan.</p>
<p>Beberapa hari lalu, temen nya gue disini, kebetulan punya kenalan yang sedang mencari info tentang klasifikasi batubara. Karena dia jurusan perminyakan, jadilah ia menghubungi gw. Pas banget karena gue lagi di sini ngurus2 kuliah.</p>
<p>Berbekal pengetahuan yang cuman se-<em>empil</em> biji jagung, gue coba bantu. Si Mas tersebut (sebenarnya lebih cucok dipanggil Bapak sih..) memberikan saya hasil analisa sampling dari sebuah kontraktor penambangan yang lumayan punya nama di negeri ini. Selembar <em>Report analysis</em> dari analisa batu bara.</p>
<p>Ini bukan pertama kali gue dapet hasil sampling batu bara. Praktikum dan ujian2 kuliah  dulu juga pernah menyajikan data yang sama dengan persoalan yang sama seperti diminta si Bapak. Pertanyaannya &#8220;Batu bara ini bagus apa tidak?&#8221; Kalo dalam istilah tekniknya  digolongkan dalam Rank apa dan kemudian diturunkan menjadi keputusan layak tambang atau tidak.</p>
<p>Gw mencoba memperkirakan kasar data-data tersebut. Termasuk bagus sih. Dengan Kalori di atas 7000 KKal/Kg, bisa dikatakan termasuk bagus  mengingat rataan batu bara Indonesia pada kisaran 6000 KKal/Kg. Tetapi untuk mengklasifikasi juga masih dibutuhkan data-data kualitas lainnya yaitu :</p>
<ol>
<li>Data Kualitas Analisis Proximat : jumlah air (<em>moisture</em>), zat terbang (<em>volatile matter</em>), karbon padat (<em>fixed carbon</em>), dan kadar abu (<em>ash</em>)</li>
<li>Data Kualitas Analisis Ultimat : kandungan unsur kimia pada batubara seperti karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang.</li>
</ol>
<p>Selain itu juga digunakan <strong><em>Formula Parr</em></strong> dalam penentuan <em>British Thermal Units </em>(BTU). Yang nantinya akan memberikan angka  limits BTU per Pound nya (Dry, Mineral  Matter Free) :</p>
<p style="background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial"><font size="3"><span style="background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial"></span></font>Ke semua data tersebut biasanya dihitung dalam sebuah tabel standard, yang biasanya di pakai adalah ASTM, 1981, <em>op cit </em>Wood <em>et al., </em>1983.</p>
<p><img src="http://www.steel.org/AM/images/learning/howmade/images/coal2.gif" title="Coal Rank" alt="Coal Rank" width="570" /></p>
<p align="center"><em>Gambar dari <a href="http://www.steel.org" title="Steel.Org" target="_blank">http://steel.org</a> </em></p>
<p align="left">Namun terpenting diketahui oleh para awam yang ingin mengelola batu bara, bahwa sample yang dianalisis tidak bisa hanya berasal dari satu <em>log bor core</em> saja. Dibutuhkan beberapa sample untuk memberikan data keseluruhan kualitas batubara tersebut. Karena dari sini juga lahir nilai rata2 kualitas batubara dari keseluruhan <em>seam</em> yang ada. Mungkin data yang diharapkan akan tampil seperti ini :</p>
<p align="left"><img src="http://ilmubatubara.files.wordpress.com/2006/10/contoh-analisa-kualitas.JPG" title="Contoh Data Rataan" alt="Contoh Data Rataan" width="530" /></p>
<p align="center"><em>Sumber <a href="http://ilmubatubara.wordpress.com" title="Ilmu Batu Bara Blog" target="_blank">Ilmu Batu Bara</a></em></p>
<p align="left">Bagi beberapa pertambangan besar, mereka dengan mudah (karena dana yang banyak) bisa mengklasifikasi per-blok-nya untuk kualitas tertentu. Sehingga bisa mensuplai ke semua industri yang memerlukan batu bara sebagai sumber energinya. Karena memang setiap industri membutuhkan kualitas batu bara yang berbeda. Dan jelas harga batu bara tersebut juga berbeda.</p>
<ul>
<li> Hardcoal, adalah batubara yang mempunyai nilai kalori diatas 5700 kcal/kg (23,26 MJ/kg). Hardcoal terdiri dari batubara steam, batubara coking, bituminous dan antrasit</li>
</ul>
<p align="left">&nbsp;</p>
<ul></ul>
<ul>
<li>Batubara Steam adalah batubara yang dipakai di ketel uap (boiler/steam generator) dan tungku pemanas.  Yang termasuk dalam kategori ini adalah batubara antrasit dan bituminous.  Nilai kalor bruto (Gross Calorific value) nya lebih besar dari 23.865,0 kJ/kg (5700 kcal/kg) dan dibawah batubara cooking.</li>
</ul>
<ul>
<li>Batubara Coking adalah batubara yang bisa dipakai untuk membuat kokas untuk bahan reduktor di tungku peleburan baja (blast furnace).  Nilai kalor bruto (Gross Calorific value) nya lebih besar dari 23.865,0 kJ/kg (5700 kcal/kg) yang bebas debu.</li>
</ul>
<ul>
<li>Batubara Subbituminous, adalah batubara yang mempunyai nilai kalor bruto (Gross Calorific value) antara 17.435,0 kJ/kg (4165 kcal/kg) dan  23.860,0 kJ/kg (5700 kcal/kg)</li>
</ul>
<ul>
<li>Batubara Anthrasit, batubara yang mempunyai sifat-sifat seperti batubara steam</li>
</ul>
<ul>
<li>Batubara Lignit, adalah batubara yang mempunyai nilai kalor bruto (Gross Calorific value) dibawah 4.165 kcal/kg (17,44 MJ/kg) yang mempunyai abu terbang (volatile matter) diatas 31% dalam keadaan kering.  Batubara lignit sering disebut sebagai batubara kelas rendah (Low Rank Coal), batubara jenis ini sering juga disebut sebagai Brown Coal.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kokas, adalah hasil karbonisasi dari batubara steam pada temperatur tinggi.  Produk ini dipakai sebagai reduktor pada peleburan baja.</li>
</ul>
<ul>
<li>Gambut, gambut adalah bahan bakar yang berasal dari tumpukan zat-zat organik dari tumbuhan yang terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun.  Mempunyai kadar air tinggi (sampai 90%) mudah diambil, berwarna terang sampai coklat muda.</li>
</ul>
<ul>
<li>Briket, briket adalah komposisi bahan bakar yang dibuat dengan briketisasi batubara sub-bitumious, lignit atau gambut melalui karbonisasi atau bubuk. Briket lebih mudah digunakan dan mempunyai kualitas yang lebih baik daripada bahan bakunya.</li>
</ul>
<p align="left">Kenapa kok gue malah memberikan posting seperti ini? Mungkin itu pertanyaan dari beberapa rekan blogger yang biasanya maen kesini.</p>
<p align="left">Begini, si Mas yang datang ke saya tersebut adalah cerita ke-sekian kalinya dari para penambang kecil batu bara. Dimana mereka masih buta  dalam pengelolaan sumber daya energi ini.  Ada  kejadian seorang yang baru memulai bisnis batu bara kecil2an malah rugi besar, ada juga yang malah dananya habis untuk pembukaan lahan saja padahal belum memulai menambang. Bagi perusahaan sekelas PT Batu Bara Bukit Asam atau Kaltim Prima Coal, mungkin kejadian seperti ini <em>nothing</em>-lah buat mereka. Wong bisa produksi dalam ukuran lebih 2400 ton per-jam-nya.</p>
<p align="left">Bandingkan dengan pengusaha batu bara kecil yang rata-rata bermain dalam kisaran 50 &#8211; 200 ton perminggunya. Seperti beberapa lokasi tambang daerah lokal di Pulau Jawa dan Sumatra. Tetapi tetap potensi tersebut bukan berarti harus disia-siakan, karena kebutuhan batu bara bukan hanya untuk sebuah pembangkit listrik atau industri pengecoran sebesar Krakatau Steel. Masih banyak kebutuhan industri kecil dan bahkan industri rumah tangga yang juga dapat menggunakan batu bara sebagai sumber energinya. Belum lagi jika dimasukkan dalam program briket yang dulu sempat di genjot oleh pemerintah.</p>
<p align="left">Mungkin sekarang masih hangat pembicaraan seputar pengalihan kebutuhan energi dari penggunaan minyak tanah ke gas LPG. Memang batu bara dan briket-nya belum cocok digunakan di rumah tangga mengingat pengoperasiannya yang rumit. Tetapi bagaimana dengan industri rumah tangga, seperti konveksi/tekstil skala kecil, peternakan, makanan jadi atau mungkin sekalian warung makan padang misalnya. Gw yakin masih mungkin menggunakan sumber energi tersebut.</p>
<p align="left">Kembali kepada penambang kecil batu bara lokal. Bagi beberapa orang yang kaya akan pengalaman di dunia ini, mungkin pembicaraan kita sedikit bertele-tele. Dan gue sendiri juga ngerti, karena jujur saja terkadang jika dilapangan, intuisi &#8220;mereka&#8221; yang kaya akan pengalaman lebih manjur dari sebuah selembar data yang butuh proses bulanan untuk mendapatkannya. Tetapi bagi para pengusaha yang mau terjun ke dunia ini sangat penting untuk memahami kapan dan bagaimana mengelola teknologi dan pengalaman untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan kisaran harga batu bara dunia saat ini pada $40 -$45 per ton nya, sangat mungkin untuk mendulang profit di wilayah ini. Tentunya dengan memperkirakan strategi dan perencanaan yang matang.</p>
<p align="left">Seperti si Mas yang saya ceritakan, mereka sendiri belum tahu luasan area keseluruhan yang dapat dijadikan objek eksploitasi. Sampel batu bara pun hanya dikirim sebongkah untuk dianalisis. Padahal sangat penting untuk dapat memperkirakan besarnya cadangan karena ini pula yang dapat menjadi perhitungan berapa modal dan waktu yang dibutuhkan untuk memulai usaha di dunia ini. Belum lagi jika dimasukkan parameter kualitas rata-rata seluruh area penambangan karena setiap blok bisa memberikan kualitas yang berbeda. Dan sangat teramat penting adalah memngenal karakter lapisan batu bara tersebut, karena ini akan sangat berpengaruh pada besarnya modal dan waktu untuk mendapatkan si emas hitam tersebut.</p>
<p align="left">Perlu juga gw sedikit mengkritisi permasalahan birokrasi dan premanisme di dunia ini (ampuunn Om, sayah emang minim pengalaman dan bekingan..hehehe..). Bisa kebayang ga kalo ada cerita begini : Seseorang mengetahui secara kasar ada <em>outcrop</em> (lapisan batu bara / mineral yang muncul ke atas permukaan tanah) batu bara di area tanah nya. Lalu dia mulai menjajaki dengan teman terdekatnya. Si teman menawarkan bantuan dengan kongsiniasi sekian persen. lalu si teman itu menjajaki ke kenalan nya yang udah lama bermain di batu bara, di situ juga ada kongsiniasi sekian persen. Lalu si pemain batu bara mulai masuk pada level analisa sampling dan kontak-kontak ke teman-temannya di kontraktor, dan terpotong lagi kongsiniasi sekian persen. Terus Pengolahan data di kontraktor ada charge plus plus dengan kongsiniasi sekian persen. Lalu untuk memudah kan jalan di level kontrak butuh teman lagi, kongsiniasi sekian persen. Lalu mempermudah sewa ini itu untuk pembongkaran dan pengangkutan, kongsiniasi sekian persen. Lalu ijin ke Pemda dan pajak ini itu, kalo mau dimudahkan kongsiniasi sekian persen. Terus..terus.. pas mulai jalan, syukuran dulu dan undang aparat dan pejabat dengan kongsiniasi sekian persen. Terakhir jangan lupa centeng dan dukun juga harus dibayar sekian persen supaya produksi aman dari para pengacau, baik jin dan manusia. Hmmffhhh&#8230;. Pertanyaannya,.. berapa persen yang dapat di kelola menguntungkan??  Walau sampai sekarang dengan kondisi tersebut masih banyak tambang batu bara kecil yang bisa berjalan. Tetapi jika cost-cost tersebut masuk dalam analisis investasi penambangannya, tentunya itu mempengaruhi perhitungan apakah sumberdaya tersebut layak tambang atau tidak.</p>
<p align="left">Bukan tidak mungkin mengelola sebuah tambang batu bara kecil. Tetapi perhitungan dan perencanaan yang baik di awal akan sangat membantu dalam memperoleh hasil maksimal dan menguntungkan.</p>
<p align="left">Selesaaaiiiiiii curhat guee&#8230;..</p>
<p align="left">Ini adalah post pertama gue di Kategori Mining and Energy, semoga awet dan masih terus menulis seputaran masalah ini (Itung2 supaya gue ga terlalu jauh meninggalkan keilmuan gw&#8230;. dan segera lulusss.. malu ama mahasiswa baru .. :p )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/09/06/tambang-batu-bara-kecil-mungkin-ga-yaaa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari 3 Stanza Indonesia Raya, Self-Appraising, Hingga Bibit-Bibit Self Kapitalisme</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/08/14/dari-3-stanza-indonesia-raya-self-appraising-hingga-bibit-bibit-self-kapitalisme/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/08/14/dari-3-stanza-indonesia-raya-self-appraising-hingga-bibit-bibit-self-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Aug 2007 08:44:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/08/14/dari-3-stanza-indonesia-raya-self-appraising-hingga-bibit-bibit-self-kapitalisme/</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 &#8211; 2 dan 3 stanza tersebut &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/08/14/dari-3-stanza-indonesia-raya-self-appraising-hingga-bibit-bibit-self-kapitalisme/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ryosaeba.files.wordpress.com/2006/08/blogger_talk_nonsense.jpg" title="Keep Your Mouth, Roy" alt="Keep Your Mouth, Roy" align="top" width="385" /></p>
<p>Sebenarnya saya tidak berani angkat bicara mengenai fenomena <a href="http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=37563&amp;Itemid=54" title="Konferensi Pers Roy Suryo" target="_blank">penemuan Om Roy atas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza</a>. Walau saya sendiri dulu ketika masih penggalang di Pramuka, pernah dikenalkan dengan lagu Indonesia Raya 1 &#8211; 2 dan 3 stanza tersebut (<a href="http://kopipakegula.blogspot.com/2007/08/indonesia-raya-merdeka-merdeka.html#links" title="Rime tentang Indonesia Raya 3 Stanza" target="_blank">Rima</a> juga mengakui hal yang sama dalam cerita di Blog nya). Bahkan di <a href="http://youtube.com" title="Youtube" target="_blank">Youtube</a> sendiri lagu ini sudah ada sebelum Om Roy ribut-ribut mengundang wartawan dalam Ad Hoc Konferensi Pers awal Agustus lalu.</p>
<p><span id="more-74"></span></p>
<p>Karena keterbatasan saya hanya sebagai blogger kelas rendahan, maka saya tidak membuat klarifikasi atas hal tersebut. Tetapi melihat fenomena yang terjadi saat ini dimana terlihat adanya kekhawatiran pembelokan sejarah oleh Om Roy, terlihat dari berdiam dirinya para media cetak yang kemarin-kemarin berkoar-koar akan &#8220;Nobelis Telematika&#8221; kita ini, maka saya melacak kembali apa yang terjadi sebenarnya terjadi di antara komunitas Blogger dan media massa. Kenapa? Apakah saya <em>sirik</em><u> dengan om Roy? Karena tidak bisa sehebat beliau mengumpulkan popularitas?</u> Jelas bukan! Alasan saya simple seperti yang pernah Aan (teman di PSIK ITB) sampaikan kepada saya 2 hari lalu, &#8220;Bagaimana jika terjadi pembelokan sejarah? Karena si om Roy ini yang memang sangat menguasai media pers konvensional (cetak, TV, dan Radio)!&#8221;</p>
<p>Dan beruntung, Mas <a href="http://ryosaeba.wordpress.com/2007/08/07/indonesia-raya-epilog/" title="Rio Saeba" target="_blank">Rio Saeba</a>, salah seorang senior Blogger Indonesia melengkapi epilog 3 stanza Indonesia Raya tersebut dengan rapi, mengungkapkan apa yang terjadi sesungguhnya. Saya ambil beberapa quote dari tulisan beliau :  <em>(lengkapnya silahkan lihat langsung ke situs yang bersangkutan)</em></p>
<blockquote><p><strong>VANDALISME DI ENTRI INDONESIA RAYA</strong><br />
<a href="http://ryosaeba.files.wordpress.com/2007/08/vandalisme-wikipedia.png" title="vandalisme di wikipedia"><img src="http://ryosaeba.files.wordpress.com/2007/08/vandalisme-wikipedia.thumbnail.png" alt="vandalisme di wikipedia" align="right" /></a>sejak saya menyarankan untuk melihat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia_Raya">entri indonesia raya di wikipedia indonesia</a>, saya sudah mengkhawatirkan akan terjadi vandalisme terhadap entri tersebut, membuat seolah-olah pihak yang tadinya salah menjadi benar. dan ternyata <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Indonesia_Raya&amp;diff=886922&amp;oldid=886914">kekhawatiran saya menjadi kenyataan</a>, ada yang menghapus dua stanza terakhir dari lagu indonesia raya. tindakan vandalisme dengan mengacak-acak lagu kebangsaan ini benar-benar sangat tidak patriotis, dan sangat berlawanan dengan pernyataan â€œ<em>ingin ikut memperkaya sejarah indonesia.</em>â€ ingin memperkaya atau ingin memelintir? saya pribadi menganggap yang melakukan hal ini bisa dkategorikan sebagai pengkhianat negara.</p></blockquote>
<p>Apakah ini yang kita harapkan? Merusak sejarah? Jelas bukan! Sejarah memang perspektif yang turunan pembuktiannya sangat kompleks dalam berbagai sudut pandang pelaku-nya. Tetapi sebagai bangsa yang mengaku menghargai sejarah dan pembuktiannya, sepatutnya kita selalu berkaca dan mengkilas balik atas segala sesuatu yang terjadi dan berlaku saat ini. Dan tindakan Roy Suryo yang terburu-buru men-klaim dalam konferensi pers sebagai penemu Indonesia Raya 3 Stanza (atau lebih tepatnya <em>hamba</em> akan popularitas), membuatnya lupa me-<em>crosscheck</em> dengan aturan main pembuktian sejarah. Dan inilah prilaku tidak menghargai perspektif pembuktian sejarah yang baku. Atau ungkapan lebih kerasnya, tidak mengerti sejarah.</p>
<blockquote><p><strong>APA YANG SEBENARNYA TERJADI?</strong><br />
di sini saya akan berusaha menuliskan apa sebenarnya yang terjadi berdasarkan pengamatan saya. semua ini tampaknya diawali dari tindakan roy suryo menyalin hasil pengumpulan salinan-salinan digital yang berhubungan dengan sejarah indonesia dari arsip tim airputih melalui sobat kentalnya, heru nugroho, yang sampai kemarin masih disangka oleh roy suryo sebagai ketua tim airputih.</p>
<p>dari salinan yang didapat, dia menemukan rekaman film propaganda jepang yang isinya antara lain dinyanyikannya lagu indonesia raya versi 3 stanza dan dengan tempo <em>con bravura</em>, berani/bersemangat, berbeda dengan lagu kebangsaan yang sesuai dengan <a href="http://web.archive.org/web/20070310231601/http://kambing.vlsm.org/bebas/v01/RI/pp/1958/pp-1958-044.txt">PP no 44/1958</a> dengan tempo <em>maestoso con bravura</em>.</p>
<p>berdasarkan <a href="http://ndorokakung.com/2007/08/05/indonesia-raya-pecas-ndahe/">wawancara dengan ndoro kakung</a>, ternyata roy suryo memang tidak tahu kalau sebenarnya lagu indonesia raya itu benar-benar terdiri dari 3 stanza:</p></blockquote>
<blockquote><p>Dia mengaku baru waktu itu tahu bahwa versi asli Indonesia Raya terdiri dari 3 stanza, dan bukan cuma satu seperti yang selama ini dinyanyikan dalam pelbagai kesempatan resmi.</p></blockquote>
<blockquote><p>karena memang roy suryo tidak tahu mengenai hal ini, beliau menganggap ini merupakan sebuah penemuan besar (tentunya bagi beliau sendiri), dan lalu bersepakat dengan pihak airputih bahwa mereka akan mengumumkan hal ini di hari senin tanggal 6 agustus 2007.</p>
<p>tapi rupanya roy suryo melanggar kesepakatan tersebut, dan mendahului membuat sendiri <em>ad hoc</em> <a href="http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=37563&amp;Itemid=54">konferensi pers di jogja</a>, mengumumkan penemuannya tersebut. dalam konferensi pers tersebut beliau tampaknya â€œ<em>menuntun</em>â€ para wartawan sehingga terjadi kesimpulan bahwa beliau menemukan pita seluloid asli dari rekaman tersebut di leiden (entah museum, perpustakaan atau universitas) belanda. tampaknya kata â€œpita seluloidâ€ ini berasal dari hasil pengamatan rekaman video tersebut yang memang terlihat <em>vintage</em>, ditambah adanya tulisan menuju kemerdekaan di bulan 9 tahun 2064 (tahun jepang, yang berarti tahun julian 1944), namun saya masih belum berhasil menemukan dari mana kata â€œleidenâ€ berasal.</p>
<p>setelah konferensi pers di atas, dimulailah segala kontroversi. hal pertama yang dipertanyakan adalah mengapa roy suryo baru tahu kalau ternyata lagu indonesia raya itu memang terdiri dari tiga stanza. hal kedua yang menguatkan kesan bahwa versi 3 stanza ini merupakan â€œpenemuan baruâ€ adalah pada saat upacara atau acara kenegaraan, lagu kebangsaan yang dinyanyikan memang cuma satu stanza. ini bisa dijelaskan bahwa memang menyanyikan cuma satu stanza sudah sesuai dengan PP no 44/1958 bab I pasal 2 ayat 2, dan di dalam peraturan pemerintah itu pun versi 3 stanza juga dikenali. masalahnya adalah PP no 44/1958 ini memang jarang diketahui oleh orang banyak.</p>
<p>hal ketiga yang makin menimbulkan pertanyaan adalah orang-orang pemerintahan sendiri (dan juga beberapa wakil rakyat) ternyata sama awamnya, tidak tahu bahwa memang seharusnya lagu indonesia raya itu terdiri dari tiga stanza. ini makin memperburuk keadaan karena masyarakat awam tidak tahu mana yang bisa dipercaya, pihak yang tidak tahu soal 3 stanza (dan diperkuat oleh beberapa orang pemerintahan dan wakil rakyat) atau pihak yang tahu tentang 3 stanza.</p>
<p>ketika orang-orang yang mengetahui bahwa lagu indonesia raya memang terdiri dari 3 stanza mulai menyuarakan pendapatnya, roy suryo berusaha meredam hal ini dengan menyatakan bahwa mereka adalah <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/06/time/074213/idnews/813523/idkanal/10">pahlawan kesiangan</a>. lalu kemudian ketika tokoh pengamat sejarah des alwi angkat bicara, lagi-lagi roy suryo berusaha meredamnya dengan menyatakan bahwa des alwi <a href="http://ndorokakung.com/2007/08/05/indonesia-raya-pecas-ndahe/">menyembunyikan dokumen negara dan punya kepentingan ekonomi</a>. dan akhirnya ketika pihak airputih angkat bicara, roy suryo menganggap yang angkat bicara dari airputih adalah tingkatnya sederajat <a href="http://detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/06/time/175559/idnews/813929/idkanal/398">tukang kebun</a>, dan tidak layak dikutip.</p>
<p>kontroversi ini ditutup dengan dua pernyataan dari pihak airputih, bahwa ternyata pengumuman soal penemuan itu seharusnya dilakukan secara bersama antara roy suryo dan airputih, dan catatan tentang <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl%20/07/time/091059/idnews/814082/idkanal/398">kepingan sejarah indonesia dalam bentuk digital</a>, yang sayangnya oleh pihak tertentu hanya dipergunakan sebagai alat untuk mencari popularitas.</p></blockquote>
<p>Bukan hanya perspektif pembuktian sejarah yang dilanggar oleh Om Roy, tetapi juga dalam hal menelusur perundang-undangan Indonesia. Apakah pantas orang seperti ini masih diakui sebagai ahlinya Telematika Indonesia? Atau lebih kerennya penasihat Presiden untuk urusan Telematika? Seharusnya beliau sadar, dengan posisi-nya yang demikian penting dalam kacamata publik (asumsi saya karena beliau rutin <em>koar-koar</em> di Metro TV dan berbagai media cetak/elektronik lainnya), 91% rakyat Indonesia berarti telah tertipu, karena sampai saat ini <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/16/time/155524/idnews/720923/idkanal/328" title="Pengguna Internet di Indonesia" target="_blank">pengguna Internet di Indonesia yang masih 9%</a> dari  seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.</p>
<p>Memang susah jika kita berkoar-koar dalam media blog, atau kasarnya mau mengalahkan paradigma Jurnalisme Konvensional. Media sudah menjadi sebuah sistem kapitalisme tersendiri, baik dari segi konten, kebutuhan politik hingga atribut penguasa. Mengekang kebebasan berbicara akan kebenaran dan mengakomodir informasi yang &#8220;menyamankan&#8221; aliran dana dalam kantong-kantong borjuis dan penguasa adalah indikasi kapitalisme yang tidak sehat. Tidak ada bedanya dengan menyorongkan sebuah konsep satu suara untuk menyuarakan satu kepentingan. Dan bahkan ini pun berlaku dalam kampus yang notabene lulusannya banyak mengkritik Roy Suryo.</p>
<p>Ya, aneh bukan?.. Saya menyorot hal ini dan melihat keterkaitannya ketika mendengar konsep membangun <a href="http://www.itb.ac.id/news/1755" title="Campus Channel ITB diresmikan" target="_blank"><strong>Campus Channel</strong></a>. Sebagai salah seorang yang terlibat dalam Media Pers Kampus, usulan ini memang bukan hal baru. Sudah beberapa kali didengung-dengungkan sejak 2-3 tahun lalu. Saya membaca 2-3 proposal yang sama untuk ide ini. Namum untuk konsep Campus Channel ini saya memang melewatkannya karena berbagai kesibukan. Dan setelah melacak dari teman-teman di kampus, ide dan visi misi nya ternyata tidak jauh berbeda. Saya akui bahwa visi dan misi yang dibangun adalah bagus. Tetapi penerapannya dalam sebuah komunitas media pers mahasiswa yang bebas menyuarakan kebenaran tidak dipersiapkan dengan baik, atau malah belum dipertimbangkan.</p>
<p>Jika hanya mengejar sebuah  penerapan teknologi New Broadcaster yang terintegrasi, maka ini bukan lagi sebuah teknologi baru. Sudah banyak dikembangkan teknologi News Broadcaster oleh berbagai media online di dunia maya. Dengan memanfaatkan teknologi feed, streaming dan podcaster yang berkembang pesat saat ini, membangun sebuah integrasi media dalam satu kesatuan bukanlah hal yang baru. Dan Campus Channel mengusahakan juga hal tersebut. Namun perlu disadari ITB sendiri bukan sekedar menerapkan teknologi dari sisi &#8220;pertunjukan&#8221;. Dalam uji coba pertamanya beberapa waktu lalu, integrasi tersebut berlangsung sejak peliputan dengan manajemen lapangan yang solid dan peralatan yang <em>high tech</em>, hingga hasil akhirnya juga terintegrasi dengan baik dan dapat dinikmati pemirsa kampus. Sesungguhnya saya memberi salut dengan teknologi ini.</p>
<p>Sayangnya, dari sang koordinator penanggung jawab Uji Coba Campus Channel ini, menjelaskan kemungkinan komersialisasi terhadap Campus Channel tersebut. Apa yang dimaksud komersialisasi disini? Di dalam lingkungan kampus sendiri? Kekhawatiran saya langsung muncul akan bibit kapitalisme baru setelah cengkraman Kapitalisme Pendidikan berjalan di ITB sejak aturan BHMN 4 tahun lalu.</p>
<p>Pernyataan tersebut membuat saya khawatir. Siapa yang punya investasi, maka informasi nya lah yang berhak tampil dan diterima massa. Lalu kemanakah kebebasan Media-media Pers Kampus? Kebenaran pun akan menjadi absurd nantinya.</p>
<p>Padahal ide, visi dan misi Campus Channel ini sendiri adalah dengan mengundang berbagai pihak media dalam Kampus ITB yang berkontribusi bersama membangun jaringan tersebut menjadi solid dan kontinyu. Mereka mau berkontribusi karena demi kemajuan Media-Media Pers Kampus ITB, mengembangkan kreatifitas dan yang terpenting belajar menyuarakan kebenaran. Bukan hanya sebagai (maaf)<em> kacung</em> yang mensuplai berita terhadap kemegahan Campus Channel, tetapi dapat disensor sewaktu-waktu layaknya Tuhan men-cap halal dan haram. Kembali pertanyaan yang sama, jadi siapakah yang memanfaatkan kondisi ini? Apakah ini sekedar ajang Self Appraising sang koordinator yang notabene Kepala Kapntor Berita? Atau sebuah menara gading baru dari ITB untuk unjuk gigi?</p>
<p>Jika saya dikatakan membunuh karakter sang Koordinator Kantor Berita dalam tulisan ini, mungkin <a href="http://kramput.blogspot.com/2007/08/swawawancara.html" title="Ikram Menyebutnya Swawawancara" target="_blank">Ikram</a> punya bukti yang lebih &#8220;nyaman&#8221; terhadap ini. Karena <em>Personal Attitude sang Koordinator</em> juga-lah yang membuat saya menarik kesimpulan ini. Apakah me-wawancara diri sendiri adalah bagian dari Self Appraising diri-nya?</p>
<blockquote><p>  Bagi Armein Campus Channel adalah &#8220;panggung&#8221; baru dalam komunitas ITB. &#8220;Kita mau membangun suatu &#8220;panggung&#8221; di mana orang â€“siapapun ituâ€“ bisa tampil dan mengekspresikan kemampuannya,&#8221; katanya, &#8220;Dengan panggung ini terbentuk budaya suka berkontribusi yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas komunitas ITB.&#8221; Dalam waktu dekat, Campus Channel bersama dengan PPTIK akan memasang instalasi unit TV dan speaker di beberapa titik pusat massa kampus ITB. Siaran percobaan direncanakan dilakukan pada 27 Agustus 2007. <strong><span style="background-color: #ffff99">Ditanya apakah akan bersifat komersial, Krisna, Kepala Kantor Berita ITB menjawab,</span> &#8220;Bisa jadi. Tapi yang jelas, itu kami pikirkan nanti. Sekarang kami semua sedang fokus pada sosialisasi ke organisasiâ€“organisasi yang ada di ITB serta penyediaan konten yang kontinu.&#8221;</strong></p></blockquote>
<p>Self Appraising, Roy Suryo atau Pendukung Kapitalisme Media? Sepertinya saya harus mencoba untuk menulis ulang definisi Kapitalisme Global dan memasukkan unsur Self Appraising di dalamnya, kemudian me-numpahkannya kembali dalam Basbang sebagai Self-Kapitalisme.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/08/14/dari-3-stanza-indonesia-raya-self-appraising-hingga-bibit-bibit-self-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ah Ga Muncul-Muncul si Meteor</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/08/13/ah-ga-muncul-muncul-si-meteor/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/08/13/ah-ga-muncul-muncul-si-meteor/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Aug 2007 14:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[My Live]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/08/13/ah-ga-muncul-muncul-si-meteor/</guid>
		<description><![CDATA[Gue nungguin meteor Perseid, tapi ga muncul-muncul. Kemungkinan karena kondisi lembah Siliwangi yang terlalu berkabut, atau karena pengaruh Bandung yang makin terpolusi oleh asap dan cahaya. Ceritanya gue nungguin sambil beresin kerjaaan. Jam 1-an gue keluar, ketemu Sawung yang juga &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/08/13/ah-ga-muncul-muncul-si-meteor/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gue nungguin meteor Perseid, tapi ga muncul-muncul. Kemungkinan karena kondisi lembah Siliwangi yang terlalu berkabut, atau karena pengaruh Bandung yang makin terpolusi oleh asap dan cahaya.</p>
<p>Ceritanya gue nungguin sambil beresin kerjaaan. Jam 1-an gue keluar, ketemu <a href="http://sawung.blogspot.com" target="_blank">Sawung</a> yang juga sedang liat-liat, mana tahu ada. Tapi ampe lebih setengah 3 pagi, ga ada satu pun yang bisa diindikasikan sebagai meteor. Padahal Sawung kan anak Astro.</p>
<p>Ya sudah jadinya gue cari di Google mana tahu ada yang ngeliat dan majang hasil penampakannya.</p>
<p>Dan ternyata <a href="http://kaskus.us" target="_blank">Kaskus</a> juga tempat mendapatkan resources terbaik untuk sharing segala macam.</p>
<p>Ini photo2nya :</p>
<p><a href="http://kapucino.org/wp-content/uploads/2007/08/brian-emfinger1.jpg" title="Perseid-1"><img src="http://kapucino.org/wp-content/uploads/2007/08/brian-emfinger1.jpg" title="Perseid-1" alt="Perseid-1" align="top" width="380" /></a></p>
<p><a href="http://kapucino.org/wp-content/uploads/2007/08/ginger-mayfield1.jpg" title="Perseid-2"><img src="http://kapucino.org/wp-content/uploads/2007/08/ginger-mayfield1.jpg" title="Perseid-2" alt="Perseid-2" width="380" /></a></p>
<p><em>Sumber :  http://www.spaceweather.com/meteors/gallery_12aug07_page2.htm</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/08/13/ah-ga-muncul-muncul-si-meteor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kisah Tentang UN 2007</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/07/02/sebuah-kisah-tentang-un-2007/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/07/02/sebuah-kisah-tentang-un-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jul 2007 08:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/07/02/sebuah-kisah-tentang-un-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Gue memilih memposting ulang cerita ini. Walau gue udah jarang sekali terlibat dengan si penulis, tapi ketika beliau mengirim cerita ini, perasaan serasa diaduk-aduk. Kepada ibu guru Puti , saya minta ijin untuk memposting cerita ini. 30 Juni 2007 Sabtu &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/07/02/sebuah-kisah-tentang-un-2007/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gue memilih memposting ulang cerita ini. Walau gue udah jarang sekali terlibat dengan si penulis, tapi ketika beliau mengirim cerita ini, perasaan serasa diaduk-aduk. Kepada ibu guru <a href="http://www.mahkotalima.blogspot.com/" title="Puti blogs" target="_blank">Puti</a> , saya minta ijin untuk memposting cerita ini.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">30 Juni 2007</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sabtu lalu, tepatnya tanggal 23 Juni 2007, saya tersenyum sendiri sambil menyusuri tembok bermural yang berada di Jalan Siliwangi, Bandung. Saya baru mendapatkan sms dari seorang anak SMP yang sering belajar Matematika bersama saya semenjak ia kelas 1 SMP. Isinya, &#8220;Kak, ini Anis, Alhamdulillah Anis udah lulus UN, Anis mau makasih sama bantuan Kakak selama ini.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sms singkat yang bisa menyejukan hati saya, tapi saya sama sekali tidak menduga apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian tepatnya Selasa, 19 Juni 2007 yang lalu.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Pagi-pagi sekitar jam 8 pagi, 2 orang murid saya ( saya adalah guru Fisika di sebuah Madrasah) mendatangi tempat tinggal saya, mengabarkan bahwa 8 dari 10 murid saya tidak lulus Ujian Nasional. Alangkah kagetnya saya, dalam 4 tahun saya mengajar, baru kali ini ada murid saya yang dinyatakan tidak lulus.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span id="more-54"></span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Ternyata murid-murid saya baru mendapatkan kabar kegagalan ini sehari sebelumnya, 2 hari lebih telat dari yang seharusnya. Salah seorang rekan guru mendatangi rumah murid saya satu satu untuk menyampaikan kabar ini.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Â &#8221;Hari ini katanya kita disuruh ujian Paket B&#8221;, kata seorang murid saya,&#8221;anak-anak udah pada nunggu di rumah Pak X (ketua yayasan).&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Ternyata ujian akan berlangsung pada pukul 13.oo. Saya pun pergi ke rumah ketua Yayasan untuk bertemu anak-anak.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Di jalan menuju rumah Pak X. Murid saya bercerita bahwa di rumah ia dimarahi orang tuanya, &#8220;Bobogohan wae sih.. Makannya jadi bodo gak lulus sekolah&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Â &#8221;Padahal, Bu saya kan jadiannya juga baru setelah ujian, sebelumnya mah engga&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sesampai dirumahPak X, saya pun mengumpulkan anak-anak, dan bercerita tentang apa yang saya baca di koran, dan kejadian-kejadian menganai UN tahun lalu. Saya bercerita bahwa tahun lalu ada murid yang mendapatkan PMDK di IPB ( dimana PMDK dilihat dari prestasi murid selama 3 tahun) dan ada juga yang mendapatkan beasiswa sekolah ke Australia, tapi ternyata dinyatakan tidak lulus UN. Say katakana bahwa saya tahu banyak kecurangan terjadi di UN, tapi yang melakukan kecurangan pun diluluskan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Ia Bu, kan kita kemarin UN nya nebeng di SMP â€¦ (sekolah lain), kita liat sendiri kalau guru-gurunya ngasih contekan ke murid-muridnya, kita mah asli jujur, gak dapet contekan, tapi malah nga lulus&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Ia Bu tetangga pada bilang saya bodo, saya bodo, samapai nga lulus&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Engga kok, kalian nga bodo, saya tahu persis kok. Harusnya yang curang-curang juga gak dilulusin yah&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya tidak bohong, murid saya mungkin tidak jenius. Tapi saya tahu persis mereka tidak bodoh. Ya, memang tidak semuanya pandai secara akademik. Memang ada yang sediit tersendat-sendat di pelajaran matematika, misalnya. Tapi saya tahu persis bahwa ketika mereka mengajukan pertanyaan di kelas, pertanyaannya cukup cerdas, saya tahu bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Waktu saya menontonkan film tentang luar angkasa dan otak kepada mereka, mereka mengajukan berbagai macam pertanyaan. Bahkan mereka sibuk bercerita kepada temannya yang tidak bisa ikut menonton, dan temannya tersebut minggu depannya mengajak saya menontonkan film tersebut lagi. Saya beberapa kali meminjamkan mereka ensiklopedia, dan ternyata mereka benar-benar membaca ensiklopedia tersebut, dan mengajukan pertanyaan bila ada bagian yang tidak mereka mengerti. Ketika mereka saya ajak mengunjungi PLTA di Bandung ( Bareng Bandung Heritage) pun</span><span>Â  </span>mereka bertanya macam-macam, termasuk mengenai lingkungan. </p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya juga pernah mengajak mereka untuk membuat kompor dengan energi matahari, dan tanpa sepengetahuan saya mereka mencoba-coba sendiri kemampuan kompor matahari tersebut (saat saya tidak masuk).</p>
<p>Saya tahu persis bahwa kegagalan UN yang terjadi dengan mereka engga worthed.</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Ibu, saya udah daftar mau sekolah lagi di otomotif. Gimana mau sekolah lagi sekarang aja gak lulus.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya berkata bahwa hal tersebut bisa diperjuangkan, padahal, di dalam hati saya sangat sedih juga, saya teringat bahwa tahun-tahun sebelumnya hanya sedikit sekali murid saya yang melanjutkan ke tingkat SMU. Misalnya tahun sebelumnya hanya sekitar 5 dari 16 anak yang melanjutkan sekolah. Yang lain tidak melanjutkankarena biaya, sisanya menikah atau bekerja. Kalau dulu murid-murid saya biasanya bingung untuk sekolah lagi karena tidak ada biaya, sekarang selain harus memikirkan biaya, mereka pun berpikiran tidak mungkin melanjutkan sekolah lagi karena dinyatakan tidak lulus.&#8221;</p>
<p>Salah satu hal miris lainnya yang saya dengar hari itu adalah, &#8221; Ibu, da baru dikasih tahu ujiannya kemaren, saya teh bingung, gimana cari ongkosnya buat ketempat ujian. Kan ngedadak gitu. Bolak-balik kan sekitar 10ribu.&#8221;</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sekitar jam 10, saya dank ke-8 murid-murid saya pun berangkat menuju SMU8, Buah Batu, Bandung, tempat dimana diselenggarakan ujian paket B. Saya berjanji bertemu dengan teman saya, Nuri, guru Biologi. Kebetulan dulu SMU 8 adalah sekolah Nuri dulu.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Kami sampai disana sekitar jam 10.45, ternyata anak-anak belum makan, apa-apa dari rumah, kebteluan teman saya yang guru Biologi punya rezeki sehingga kami semua mendapatkan traktiran mie darinya. Saya pun mengingatkan anak-anak agar keesokan harinya membawa bekal untuk makan, dan sebaiknya makan pagi dulu.Â </span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Oia. Perlu saya ceritakan bahwa penyelenggaraan ujian paket B ini kacau sekali. Kata orang dari Dinas Pendidikan, pesertanya ada sekitar 1500 orang. Dan tempat ujiannya nga Cuma di SMU 8. Dan ternyata nomor ruangan tidak tertulis di kartu ujian, sehingga anak-anak harus mendatangi kelasnya satu persatu untuk mencari ruang kelasnya, dan mencari apa nomor ujian mereka ada di kelas tersebut. (Keesokannya saya baca di koran bahwa nomor ruang ujian diberitahukan kepada kepala sekolah, jadi salah sendiri kalau kepala sekolah tidak mengumumkan hal tersebut kepada muridnya. Bagaimanapun, seharusnya kalau ada ujian, nomor ruang ujiannya tertulis di kartu ujian, tidak bisa melalui pemberitahuan lisan saja.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Di SMU 8 tersebut banyak sekali siswa setingkat SMP, bahkan ada yang dari satu sekolah bisa mencapai lebih dari 20an anak.</p>
<p>&#8220;Banyak juga yah bu,&#8221;kata seorang murid saya,&#8221;Saya pikir cuma sekolah kita aja yang pada ngak lulus&#8221;</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Â </span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Hari pertama anak-anak ujian matematika dan Pancasila. Gagal di Ujian Nasional yang hanya terdiri dari 3 pelajaran (Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia), anak-anak harus ujian paket yang terdiri dari 6 mata pelajaran.</p>
<p>Selasa : Pancasila-Matematika</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Rabu </span><span>Â Â  </span>: Bahasa Indonesia â€“ IPS</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Kamis</span><span>Â  </span>: Bahasa Inggris â€“ IPA</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sambil menunggu anak-anak ujian, saya dan teman saya (guru Biologi) pun berjalan-jalan, rencananya untuk menanyakan informasi mengenai kapan hasil ujian, dan menanyakan di mana/nomor kontak information center dari Diknas, bila ada pertanyanyaan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya pun mendatangi salah satu panitia yang berada SMU 8. Ketika kami ditanya kami dari mana, kami menjawab dari Mts Al-Huda. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Di sana, kami melihat seorang ibu yang sedang curhat (dengan nada sedikit marah-marah) kepada panitia, kurang lebih intinya anaknya habis operasi amandel, dan tiba-tiba ada guru lewat (sepertinya guru sekolah anaknya) lalu ia pun memeluk guru tersebut dan menangis.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Lalu kami pun bertanya, kapan pengumuman hasil ujian, nomor kontak di Dinas Pendidikan yang bisa ditanya-tanya untuk tahu informasi yang diperlukan itu berapa dan siapa kontak personnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sayang sekali, perlakuan yang kami dapatkan dari panitia sangat tidak ramah, &#8220;Siapa sih tanya-tanya? Wartawan yah? Pasti bukan wartawan Galamedia! Kalau wartawan gala media, saya kenal! Kalau wartawan ke sana aja ke SMK3! Gak ada tempat buat wartawan di sini, wartawan udah dialihin ke sana semua!&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Alhasil, saya dan teman saya pun tidak mendapat jawaban yang kami inginkan. Kami pun memilih untuk pergi ke SMK3, siapa tahu dapat informasi di sana.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Kami pun mendatangi meja panitia. &#8220;Pak hasil ujiannya kira-kira kapan yah?&#8221; tanya kami.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Wah, persisnya gak tahu juga, Cuma kalau dari pengalaman tahun lalu paling cepat sebulan, bisa juga 1 Â½ bulan, kalau masyarakat banyak yang nuntut bisa aja lebih cepat.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Wah lama juga yah, padahal pendaftaran masuk SMU bentar lagi. Jadi pastinya belum tahu yah?&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Belum tahu, ini juga kan kita cuma pelaksana, kalau hasilnya tergantung dari pusat. Kalau di sini informasi suka cepat berubah-ubah. Tergantung dari pusat.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Kalau pusat informasi yang bisa ditanya-tanyain siapa yah? Atau nomor telepon yang bisa ditanyain untuk informasi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh datang aja ke Dinas Pendidikan, Jalan Ahmad Yani, bagian PLS, kalau nga ada juga, Tanya aja ke Pusat, ke Jakarta.&#8221;</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Berhubung kami masih ingin mengetahui informasi yang lebih jelas, akhirnya kami menyelonong masuk ke rombongan wartawan, yang sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pak Wawan, seorang dari dinas pendidikan.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Pak apakah nga mendadak nih ujian Paket B-nya, padahal kan hasil UN, baru diumumkan sekitar 3 hari yang lalu?&#8221; Tanya seorang wartawan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Tapi kan anak-anak sudah mendapatkan proses pembelajaran selama 3 tahun di sekolah, jadi seharusnya ngak menjadi masalah.&#8221; Jawab Pak Wawan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya pun menyelipkan sebuah pertanyaan, di sela-sela pertanyaan wartawan, &#8220;Pak ada gak nomor kontak yang bisa dihubungi orang tua bila ingin bertany-tanya mengenai informasi dari Paket B&#8221;</p>
<p>Akhirnya saya pun mendapatkan sebuah nomor telepon seseorang dari dinas pendidikan Jawa barat, yang katanya bisa ditanyai informasi.</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Tak terasa ternyata waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Anak-anak pun telah selesai ujian Pancasila, dan bisa beristirahat samapi pukul Â½ empat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya dan teman saya pun menghampiri anak-anak, dan ikut mendengarkan celotehan mereka</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Bu, ujian Pancasilanya lebih gampang daripada ujian sekolah&#8221; kata anak-anak.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;50 nomor ujiannya&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Bu ujian Pancasilanya kok lebih lama daripada matematikanya? Pancasila mah 2 jam, matematika sekitar satu Â½ jam.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Bu, nanti ijazahnya paket B yah? Udah susah-susah belajar di sekolah 3 tahun, ijazahnya paket B aja ya?&#8221;<br />
<span lang="IN"> </span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Besok ujian IPS, itu geografi, sejarah, ekonomi. Da buku Geografi di sekolah Cuma 3 itu juga dipegang sama anak cowo semua&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN"><br />
Pernyataan yang cukup miris lainnya. Ya, diantara-anak-anak tak satu pun yang memiliki buku teks pelajaran apapun. Kadang-kadang anak-anak meminjam buku pelajaran dari sekolah. Kalau untuk pelajaran Fisika dan Biologi, biasanya saya dan Nuri suka membuatkan</span><span>Â  </span>ringkasan di kertas A-4 sehingga bisa difotokopi dan dibagikan satu-satu ke anak-anak. Kalau ada ujian atau sejenisnya, paling anak-anak belajar dari catatan seadanya.</p>
<p>Tak lama setelah anak-anak sekolah ashar, bel pun berbunyi. Anak-anak harus mulai ujian matematika.
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya dan Nuri pun menyusun strategi untuk keesokan harinya. Misalnya meminta anak-anak menuliskan nama, alamat, dan sekolah (setingkat SMU) yang akan dituju. Kami memerlukan alamat anak-anak katerna tak satu pun di antara murid Al-Huda yang punya nomor telepon, sehingga nanti kalau ada yang perlu diinformasikan sesuatu kami harus mendatangi rumahnya satu-satu.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sambil menunggu, saya dan Nuri pun mengobrol ngalor ngidul di samping ruang kelas tempat anak-anak ujian. Kami juga sempat ngobrol dengan seorang ibu dari Cileunyi yang sedang mengantarkan anaknya ikut ujian. Dia bercerita bahwa anaknya menangis selama 2 hari saat tahu tidak lulus UN, dan sebagai ibu pun ia turut menangis rasanya. Ia juga bercerita bahwa ia baru tahu ujian Paket B-nya sehari sebelumnya, sehingga kami pun tahu bahwa ternyata kabar yang mendadak tidak hanya terjadi di sekolah kami melainkan di sekolah lain juga. Dari hari sabtu hingga senin ia terus mencari informasi ke sekolah anaknya mengenai ujian paket B, tapi baru menddapat kabar hari Senin, tepat sehari sebelum ujian paket B.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Akhirnya ujian pun selesai sekitar pukul 17.oo. Saya, Nuri dan anak-anak pun telah bersiap untuk pulang. Anak-anak tampak sedikit lebih tenang dibandingkan ketika pagi hari. Tapi mereka tentu lelas sekali. Saya sarankan mereka untuk segera tidur setelah pulang, agar tak lelah keesokannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Ketika menuju gerbang SMU 8 untuk pulang, kami bertemu dengan mantan gurunya Nuri, Bapak Guru ini sempat berceloteh,&#8221;Gagal 3 ujian semua. Kalau kemarin yang kasian yang paket C. Itu tuh yang asalnya dari sekolah kejuruan, kayak STM, SMEA, dan macem-macem waktu ujian paket C bingung karena mesti ujian tata negara juga, sosiologi juga, dan banyak lagi, padahal dulu selama sekolah belum pernah belajar.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Begitu banyak cerita yang didapatkan dalam sehari, tunggu kelanjutan untuk cerita hari kedua dan ketiga.</span></p>
<p><a href="http://mahkotalima.blogspot.com/2007/07/ujian-paket-b-cerita-hari-pertama.html" target="_blank">UjianPaket B Cerita Hari Pertama</a></p></blockquote>
<p style="text-align: justify">Sejujurnya gw adalah orang yang paling sepakat dengan peningkatan kualitas pendidikan, secara merata diseluruh penjuru Indonesia. Siapa yang tidak ingin kita memiliki kualitas sekolah, guru, dan murid yang baik diseluruh penjuru nusantara ini? Dan dari pemahaman itu, gue sepenuhnya setuju dengan pelaksanaan UN.</p>
<p style="text-align: justify">Sayangnya, apa yang pemerintah siapkan untuk menuju ke arah sana? Infra dan supra struktur yang memadai? Aturan main yang mendukung? Integritas? Sepertinya belum ada arah kesana.</p>
<p style="text-align: justify">Adik gue, lolos UN dengan nilai meyakinkan. Ibu gue juga seorang guru. Tetapi tetap miris jika mereka menceritakan perihal UN. Bukan pada UN -nya yang menjadi masalah, tetapi pada aturan main, dukungan pemerintah yang kurang memiliki integritas ke arah sana. Itu lah yang menjadi masalah dari setiap tahun ribut-ribut UN.</p>
<p style="text-align: justify">Terlalu banyak kondisi kompleks di seluruh penjuru Indonesia, diseluruh tatanan sosial masyarakat kita. Sepertinya hal ini yang harus dipahami oleh pemerintah. Terlepas UN adalah sesuatu yang tabu, tetapi niat awal pelaksanaan UN sebagai karakter kualitas pendidikan nasional harus terus kita kejar. JK mungkin secara mudah berucap bahwa <em><strong>&#8220;anak yang tidak lulus UN adalah anak yang malas&#8221;.</strong></em> Tetapi &#8220;Si Kelik&#8221; itu tidak tahu apa-apa tentang kompleksitas sosial masyarakat dalam menghadapi UN. Tidak ada ke-<em>legowo-</em>an seorang pemimpin di ucapan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify">Gue pernah ngebantu Puti sedikit mengajar tentang kompor matahari (cerita diatas) di sekolahnya dia. Apa yang gue dapat dari sana? Seburuk-buruknya kondisi keuangan sekolah apapun di Indonesia ini, tetapi sosok pembelajar adalah sama. Guru yang mengisi ruang-ruang kosong dikrtas putih itu, dan guru mewakili sebuah sistem pendidikan yang kompleks untuk tatanan pendidikan nasional yang besar ini. Dan tatanan itu adalah sinergisasi para birokrat, pemerintah dan tujuan nasional negara.</p>
<p style="text-align: justify">Murid tetaplah seorang murid, entah bersekolah dipinggir emperan, atau dalam kelas ber-AC. Dan sekali lagi, ketidak-<em>legowo-</em>an pemerintah lah menyebabkan mereka menjadi korban.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/07/02/sebuah-kisah-tentang-un-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulan Mei adalah Bulan Penting? Meibi yes,..Meibi No!</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/05/03/bulan-mei-adalah-bulan-penting-meibi-yesmeibi-no/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/05/03/bulan-mei-adalah-bulan-penting-meibi-yesmeibi-no/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2007 23:34:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[My Live]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/05/03/bulan-mei-adalah-bulan-penting-meibi-yesmeibi-no/</guid>
		<description><![CDATA[Entah kenapa gue merasa bulan Mei menjadi bulan yang penting, mendadak terkenal dalam benak gue. Sepertinya bakal ada hal-hal menarik di bulan Mei ini bagi gue. Itu sudah gue rasakan dari pertengahan April lalu. Mungkin karena bulan Mei adalah bulan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/05/03/bulan-mei-adalah-bulan-penting-meibi-yesmeibi-no/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah kenapa gue merasa bulan Mei menjadi bulan yang penting, mendadak terkenal dalam benak gue. Sepertinya bakal ada hal-hal menarik di bulan Mei ini bagi gue. Itu sudah gue rasakan dari pertengahan April lalu.</p>
<p>Mungkin karena bulan Mei adalah bulan akhir dari masa kuliah. Bisa juga karena di bulan Mei memiliki agenda-agenda yang dinanti-nanti banyak pihak. Dari Semmifinal Liga Champion, hingga rencana reshuffle Kabinet SBY. Seolah-olah orang-orang dibuat penasaran akan banyak hal di bulan ini. Dan kemudian bertanya &#8220;kira-kira bagaimana yaa?&#8221; , seperti teman gue menanyakan mungkin ga ya Manchester United akan Treble di musim ini. Dan gue sih ngejawab ringan,  &#8220;Meibi Yes, Meibi No!&#8221; <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-26"></span></p>
<p>Dimulai dari tanggal 1 kemarin, dirayakan sebagai Hari Buruh Sedunia. Dan pemerintah menjadikannya sebagai hari libur nasional. Dan media-media pers sibuk membahas tentang <em>May Day</em>, sebuah ungkapan yang menggambarkan istimewanya bulan mei tersebut. Entah karena kekhawatiran akan aksi buruh besar-besaran seperti tahun lalu, entah karena penghargaannya.  Yang pasti memang menjadi topik hangat hingga tanggal 2 menjelang datang. Namun ketika tengah malam tanggal 2-nya, topik berganti menjadi olahraga. Chelsea ditaklukan Liverpool di semifinal Piala Champion tahun ini.</p>
<p>Sebenarnya gue mengharapkan Chelsea menang sejak mereka berhasil mengalahkan Liverpool pada putaran semifinal pertama minggu lalu. Dengan mimpi terbesar gue, bakal ada duel Final Absolute Fantastic nantinya antara Chelsea dan MU, yang bisa diklaim sebagai Final Trebel pertama dalam dunia sepakbola. MU dan Chelsea lagi seru2nya mengejar Top Premier League, dan mereka juga akan bermain di Final FA. Tetapi karena pertandingan malam minggu lalu, chelsea kalah dan MU bermain seri, maka peluang Chelsea megejar MU di liga makin sulit di sisa 3 pertandingan terakhir. Dan mimpi gue mulai kabur. Alhasil, kekalahan Chelsea di Anfield menjadi kenyataan. Bayang-bayang bakal ada Replay Final Champion musim 2005 mulai terlihat. Feeling gue bicara, Liverpool akan ditantang Milan. Dan gue positif mendukung Replay Final Champion ini.</p>
<p>Kembali ke siang hari-nya tanggal 2, diperingati sebagai HARDIKNAS, Hari Pendidikan Nasional. Gue cuman mesem-mesem di peringatan Hardiknas, no comment dulu. Karena bahasan gue buat pendidikan kita yang sedang diterpa banyak musibah. Dan mengingat gue sendiri belum beres dalam ngurusin pendidikan sendiri. Hehhehe..</p>
<p>Malamnya kembali terjadi ajang penting, dimana MU bertandang ke Sansiro Milan. MU terbantai  telak 3-0. Sesuai prediksi gue, tidak ada Final Trebel, tidak ada Trebel ke-2 bagi MU. Yang ada hanyalah kisah klasik, Replay Big Match terhebat Steven Gerrard VS Pirlo. <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Akankah Milan sanggup membalas kekalahan memalukan 2 tahun lalu? <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Kita lihat nanti.</p>
<p>Dan pagi ini, tangal 3 Mei. Orang-orang sedunia memperingati sebagai Hari Anti Rokok. Dan gue sekarang mengetik di Laptop ini sambil nge-rokok. Tidak istimewa mungkin buat gue, tetapi gue niat berhenti kok. Karena baru dapat kabar beberapa hari lalu, Mamak gue (a.k.a nyokab a.k.a Ibu) baru-baru ini dipastikan mengidap penyakit jantung. Walaupun masih ringan, tetapi cukup membuat gue rada deg-degan. Almarhum Ayah gue meninggal karena serangan jantung 6 tahun lalu. Duh, kalau soal berniat memang gue jago-nya kayaknya. Namun selalu jelek dieksekusi akhir. Yaa, gue akui gue memang buruk kalo dalam hal me-manage diri sendiri (sekalian curhat&#8230;)</p>
<p>Kemudian agenda-agenda Mei ke depan bakal lebih seru sepertinya. Dari rencana reshuffle kabinet SBY. Terus peringatan reformasi, hingga isu akan adanya aksi besar dari para korban lumpur Lapindo. Koran-koran mulai hangat angkat bicara tentang berbagai manuver politik dan ekonomi bangsa sejak awal Mei. Dimulai dengan laporan bahwa Indonesia mengalami kenaikan harga saham  siginifikan setelah sebelumnya dilaporkan besaran ekspor yang melonjak. Data makro ekonomi negeri ini sepertinya sedang berbunga-bunga. Dan itu dipastikan setelah muncul laporan bahwa Indonesia mengalami peningkatan devisa negara yang fantastis. Namun pernyataan ini belum bisa menggambarkan bagaimana kondisi riil masyarakat Indonesia sendiri. Kondisi makroekonomi tersebut lebih cenderung meningkat karena faktor kekuatan modal, dan tentunya keterlibatan dari &#8220;pemain-pemain besar&#8221;. Kadang gue menjadi sedikit agnostik untuk  bicara kekuatan ekonomi rakyat kalau melihat kondisi-kondisi seperti ini. Seolah-olah modal menjadi kekuatan luar biasa bagi suatu bangsa. Dan ekonomi rakyat bukanlah hal yang penting. Tetapi gue masih sadar, bahwa kemakmuran bukanlah indikator-indikator ekonomi. &#8220;Kemakmuran adalah pencapaian&#8221; , dan quote tersebut menyadarkan gue.</p>
<p>Sedangkan untuk gue pribadi masih menyisakan ketidakpastian, dan gue masih terduduk, belum bergerak maju selangkah pun. Pekerjaan tidak memberikan kemajuan berarti. Terhenti disana sini. Dan gue seperti merasa semakin terpuruk, ditambah penyelesaian yang tertunda di urusan akademis. Pencapaian gue tidak ada sama sekali. Semoga Mei ini benar-benar memberikan arti yang lebih bagi gue pribadi. Paling tidak memberikan kepastian. Harapan gue tidak menjadi Bulan Ketidakpastian lagi, tidak mengikuti rencana kawin si Ringgo &#8220;Jomblo&#8221;, Meibi Yes, Meibi No&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/05/03/bulan-mei-adalah-bulan-penting-meibi-yesmeibi-no/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit Cuap-cuap Tentang Pendidikan Tinggi Indonesia</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/04/26/sedikit-cuap-cuap-tentang-pendidikan-tinggi-indonesia/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/04/26/sedikit-cuap-cuap-tentang-pendidikan-tinggi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 10:19:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Postingan ini sebenarnya jawaban atas komentar Mas Odi di Kalau Masukannya Sampah, Maka Yang Keluar Juga Sampah. Sebelumnya terima kasih kunjungannya, Mas Odi,..Salam kenal dari saya Saya hanya orang ke-3 dari sumber Informasi media. Dan saya sendiri tidak mengkonfirmasi ke &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/04/26/sedikit-cuap-cuap-tentang-pendidikan-tinggi-indonesia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Postingan ini sebenarnya jawaban atas komentar Mas Odi di <a href="http://kapucino.org//?p=15" rel="bookmark" title="Permanent Link to Kalau Masukannya Sampah, Maka Yang Keluar Juga Sampah">Kalau Masukannya Sampah, Maka Yang Keluar Juga Sampah.</a><br />
Sebelumnya terima kasih kunjungannya, Mas Odi,..Salam kenal dari saya <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Saya hanya orang ke-3 dari sumber Informasi media. Dan saya sendiri tidak mengkonfirmasi ke Prof Soes.. Jika mengikuti aturan main dalam dunia Jurnalistik, tentunya hal postingan saya tersebut hanya menjadi isu atau fitnah..</p>
<p>Namun saya mencoba mengambil sebuah kesimpulan dari informasi2 yang saya terima (seperti prinsip blog saya ini, sebagai sudut pandang yang berbeda..) <span id="more-22"></span><br />
Bentuk kritis saya adalah general terhadap kondisi pendidikan tinggi Indonesia. Begitu juga dengan kampus saya sendiri, ITB. Walau saya tahu sekali bahwa eksekusi sebuah keputusan dari Rektorat berasal dari pertimbangan yang padat, lama dan melibatkan banyak komisi senat, guru besar, MWA, dan pihak2 berkepentingan (beberapa kali saya  meliput, dan melihat..) tetapi tidak menyurutkan pandangan saya bahwa kurang nya pandangan untuk membangun integritas terhadap kebutuhan pendidikan bagi anak Bangsa. Karena PTN/PTS kita telah terpatroni sebuah idealisme baru, yaitu PERSAINGAN MENUJU KUALITAS PASAR PEKERJA, bahkan itu tertuang dalam visi-misi beberapa PTN/PTS. Sangat disayangkan, dimana seharusnya sebuah PTN/PTS menjadi ujung tombak akreditasi kualitas manusia Indonesia yang Sehat dan menghasilkan Riset yang unggul, tetapi malah mengikuti kebutuhan pasar dunia.</p>
<p>Saya harap Prof. Soes dan seluruh akademika di UNDIP tidak terjebak dalam paradigma tolol ini. Karena paradigma ini juga lah yang membunuh kualitas manusia kita, dan mematikan kreatifitas riset kita.</p>
<p>Memang seperti buah simalakama, karena sumber modal PTN saat ini juga bersumber dari perusahaan/bidang usaha mandiri atau modal-modal yang terkumpul dari investor (Mahasiswa sendiri sebenarnya adalah investor bagi Universitas, itu menurut saya). Dengan berlakunya aturan BHMN, pemerintah harus mencabut segala bentuk bantuan pendidikan. Walaupun belum bisa sepenuhnya dicabut (Lihat laporan BPK/BAPENAS terbaru tentang Aset Kepemilikan Negara di http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=129193). Tentunya kita tahu, tanpa disertai attitude yang sehat, patriotisme dan kerendahan hati untuk kemajuan bangsa, tentunya keputusan2 untuk kebijakan di PTN/PTS tidak akan selaras dengan tujuan pendidikan nasional.</p>
<p>Maka kekhawatiran saya adalah terjadinya komersialisasi pendidikan di Perguruan Tinggi2 kita. Mungkin terlalu khawatir, tetapi itu lah tantangan berat nya.</p>
<p>Semoga Prof. Soes masih memiliki visi memajukan manusia-manusia Indonesia. Tidak hanya dari segi kualitas, tetapi membuka kesempatan seluas2nya untuk berkembang menjadi kualitas. Bukankan pepatah mengatakan, &#8220;Sebatang lidi lebih mudah dipatahkan, dari pada seikat lidi..&#8221; <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   Bayangkan jika kita memiliki banyak orang pintar. Layaknya Satria Spartan dalam Film &#8220;300&#8243;, tiga ratus prajurit terlalu sedikit meskipun se-jago apapun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/04/26/sedikit-cuap-cuap-tentang-pendidikan-tinggi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

