<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; politik</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/politik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Leak dan Framing Media</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 07:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[media framming]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bukunya Real Peace (1983), Nixon menuliskan sebuah quote terkenal &#8220;Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war&#8221;. Dan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_654022_8498.jpg" alt="" width="290" height="211" />Dalam bukunya Real Peace (1983), <a title="Richard Nixon - 37th USA President" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Nixon" target="_blank">Nixon</a> menuliskan sebuah quote terkenal <em>&#8220;Short of changing human nature, therefore, the only way to achieve a practical, livable peace in a world of competing nations is to take the profit out of war&#8221;. </em>Dan quote itu cukup membuktikan kiprah luar biasanya dalam penghentian pengembangan senjata nuklir balistik dengan Uni Soviet yang dikenal dengan nama SALT (Strategic Arms Limitation Talks) 1969. Bersama Leonid Brezhnev dari Uni Soviet, Nixon mengumumkan akhir dari perang dingin yang melibatkan kebrutalan spionase antara kedua negara.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-358"></span>Sayangnya arti dari potongan quote itu memiliki makna lain bagi Nixon. <em>&#8220;&#8230;livable peace in a world of competing nations is to <strong>take the profit out of war&#8221; </strong></em>ternyata tidak hanya berarti keluar dari perang secara langsung. Namun tetap berada di belakang negara-negara boneka untuk mempertahankan eksistensi dan impian sebagai adikuasa dunia. Dan mulailah penderitaan perang berpindah ke negara-negara seperti Vietnam dan Pakistan. Konflik dunia terus disuburkan untuk memarkir ambisi-ambisi Uncle Sam. Sebuah ego adikuasa yang terus bertahan sampai sekarang dengan segala upaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah catatan buruk dari seorang Nixon. Apalagi setelah kasus <a title="Watergate Scandal" href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;q=watergate&amp;btnG=Telusuri+dengan+Google&amp;meta=" target="_blank">Watergate</a> terbuka ke publik dan membuka segala konspirasinya berkenaan dengan upaya-upaya ego Uncle Sam tersebut. Kisah Watergate adalah kesalahan terbesar dari sebuah upaya untuk memata-matai pihak lawan partai politik. Usaha spionase politik terhadap Partai Demokrat tersebut terbuka ke publik setelah 5 orang perampok berhasil ditangkap ketika sedang berusaha merampok di <a title="Komplek gedung Watergate" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Watergate_complex" target="_blank">komplek gedung Watergate</a>. Perampokan ini disinyalir lebih dari sekedar perampokan biasa karena ketahuan adanya usaha penyadapan terhadap gedung tersebut. Diduga kegiatan penyadapan ini juga dilakukan Nixon terhadap semua lawan politik dan juga di area gedung putih. Rekaman hasil penyadapan itu digunakannya sebagai alat <em>&#8220;kekuatan lobi&#8221;</em>-nya terhadap lawan-lawan politik. Semua itu dilakukan dalam usaha untuk meraih kursi presiden lagi dalam sebuah proyek kampanye dinamakan <a title="CREEP - Watergate Scandal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Committee_to_Re-elect_the_President" target="_blank">CREEP (<em>Committee to Re-elect the President</em>).</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kurun waktu 2 tahun, penyelidikan pihak hukum membuka borok spionase Nixon, aksi penyuapan dalam berpolitik dan juga proyek rahasia militer yang berbau korupsi. Watergate sendiri membawa banyak cerita indah seputar hebatnya dunia informan, dan bukti kekuatan media dalam membongkar konspirasi politik kelas tinggi. Salah satu dongeng yang terkenal adalah <a title="Watergate's Tape" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Watergate_tapes" target="_blank"><em>Watergate&#8217;s Tape</em></a> and <a title="Smoking Gun - Watergate Scandal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Watergate_tapes#The_.22Smoking_Gun.22_tape" target="_blank"><em>Smoking Gun</em></a>, yaitu berupa bukti-bukti rekaman Nixon sendiri dalam pita audio 9 kaset Sony TC-800B. Salah satunya adalah cerita tentang usaha Nixon yang meminta Direktur FBI untuk menghentikan penyelidikan kasus perampokan di komplek Watergate (dikenal dengan sandi Smoking Gun). Mungkin bisa dibilang juga sebagai senjata makan tuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rekaman-rekaman tersebut membuat Nixon tidak bisa berkelit. Tiga bawahannya pun mengundurkan diri tidak bisa membelanya. Memaksa Nixon mengganti secara mendadak posisi-posisi ajudannya. Kejadian ini dikenal dengan sebutan <em>&#8220;<a title="Saturday Night Massacre - Watergate Scandal" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Saturday_Night_Massacre" target="_blank">Saturday Night Massacre</a>&#8220;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu ada usaha dari pihak Nixon untuk menghapus 18,5 menit dari tape tersebut. Sayangnya publik dan pihak hukum sudah terlanjur meruncing untuk menyudutkannya dengan keterlibatan kejahatan politik tersebut. Alhasil tiga orang lingkaran dalam Nixon, yang juga tokoh politik besar di masa itu, mantan jaksa agung John Mitchell dan kepala penasehat Gedung Putih John Ehrlichman serta Penanggung Jawab CREEP HR Haldeman, diangkut ke dalam sel. Nixon sendiri memilih mengundurkan diri, dan kemudian mendapat pengampunan dari presiden Gerrard Ford, penggantinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengungkapan skandal terbesar di USA tersebut berkat usaha-usaha pihak lawan politik Nixon sendiri, termasuk dari pihak hukum dipimpin Hakim John Sirica, ditambah 2 wartawan <a title="The Post Investigates" href="http://www.washingtonpost.com/wp-srv/politics/special/watergate/part1.html" target="_blank">Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein</a>. Tidak terlupakan seorang informan rahasia yang dikenal dengan panggilan &#8220;<a title="Deep Throat - Watergate Scandal Informan" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Deep_Throat" target="_blank">Deep Throat</a>&#8220;, yang akhirnya setelah 30 tahun, dibuka identitasnya oleh <a title="I'm the Guy They Called Deep Throat" href="http://www.vanityfair.com/politics/features/2005/07/deepthroat200507" target="_blank">Vanity Fair</a> dan Washington Post sebagai orang nomor dua di FBI pada masa itu, Mark Felt.</p>
<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_654023_8711.jpg" alt="" width="290" height="436" />Cerita ini sengaja saya detailkan. Karena ada kesamaan dengan sebuah dongeng yang sedang berlangsung di negeri Indonesia, si negeri krisis APBN -<em>bukan BBM-</em>. Ternyata sebuah pita rekaman bisa bercerita banyak dan bahkan mengancam <em>impeachment</em> seorang penguasa negara. Saya mendadak terbayang seandainya saja sadapan rekaman telpon yang hanya terpublikasi 3 sesi itu, masih bisa ditambah rekaman-rekaman sadapan lainnya. Bukan tidak mungkin ada sebuah &#8220;Smoking Gun&#8221; atau mungkin lebih buruk dari itu pernah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Disini, peran jurnalis yang berkarakter, pihak hukum yang kuat, dan lawan politik yang cerdas plus integritas kejujuran dibutuhkan. Media mana yang berani mengambil posisi itu sekarang? Kompas? Tempo? MNC? Metro TV? koran lokal? atau malah freemagz-freemagz di cafe-cafe?</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk hukum dan lawan politik, saya tidak tahu apakah karakter Hakim John Sirica masih ada di Indonesia? Apakah masih ada partai politik yang berintegritas dengan kejujuran?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memutar lagi film &#8220;<a title="All the President's Men" href="http://www.imdb.com/title/tt0074119/" target="_blank">All The President&#8217;s Men</a>&#8220;. Dan teringat potongan scene terkenal, ketika Deep Throat menjawab pertanyaan Woodward di remang-remang garasi gelap parkiran umum di kota Washington,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Forget the myths the media&#8217;s created about the White House. The truth is, these are not very bright guys, and things got out of hand. Follow the money</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">&#8212;0o0&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah catatan pendek lain dari cerita negeri ini, seorang Mantan Danjen baret merah ditangkap sudah. Walaupun kisah ini harusnya berakhir sederhana sejak dulu. Tetapi sekarang menjadi sangat dramatis lewat semua berita media dan mendadak banyak &#8220;pahlawan&#8221; HAM kesiangan bermunculan. Padahal kerja mereka loyo selama ini bertameng antek-antek asing. Apa karena pemilu sebentar lagi? Dan media hanya menjadi ajang bersuara mencuri posisi?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ah,</em> kebenaran itu rumit untuk menjadi <a title="Absolut" href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=245#comment-16728" target="_blank">Absolut</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/21/leak-dan-framming-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilarang Mengaji</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 20:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[mengaji]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-h.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_628431_8270.jpg" alt="" width="290" height="193" />Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih jumlah kitab kuning yang tersimpan rapi di lemari-nya, atau soal doa-doa <em>rajah</em>, atau soal adat ini itu, bahkan memilih nama dan tanggal baik pun dilakoninya selama hidup. Dari sekian banyak waktu saya bersamanya karena memang beliau tinggal bersama saya, ada satu hal tentang beliau yang masih teringat baik di kepala saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-351"></span>Dulu, saat saya masih kecil, mungkin belum juga TK, televisi masih hanya berisi siaran TVRI. Secara rutin disiarkan acara bimbingan rohani keagamaan secara bergantian dari tiap agama yang diakui di negara ini. Dari sejak kecil itu, kakek saya sudah mengajarkan kami bagaimana menyikapi acara tersebut. Bukan dengan ceramah panjang. Bukan pula sebuah lakon ala preman memukulkan rotan. Hanya sebuah pesan sederhana yang sangat mudah di tangkap anak kecil seusia saya dan kakak saya. Paling tidak efek nya luar biasa mengenang, karena begitu juga yang saya lihat ke semua saudara sepupu yang seumuran dengan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek ini sangat terngiang-ngiang di dalam diri saya sampai sekarang. Terutama setelah suatu kejadian sederhana ketika saya SD, kira-kira masih kelas 1 atau kelas 2 <em>-kalau tidak salah. </em>Saat itu saya pulang sekolah bersama kakak, Ibu (yang menjadi guru di SMP sebelah SD saya) dan ayah saya. Dalam perjalanan pulang itu, ayah saya menanyakan bagaimana ujian saya di sekolah tadi. Saat itu memang saya sedang ujian caturwulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan ujian hari itu adalah PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Jujur saja, semua soal-soal sangat mudah saya jawab. Hanya ada satu soal yang menjadi masalah buat saya saat itu, dan saya ceritakan kepada ayah dan ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam soal ujian ditanyakan sebuah pernyataan sikap apabila di televisi sedang menayangkan siaran rohani agama lain, apa sikap yang musti diambil? Ya, pertanyaan yang mudah, dan saya juga yakin anda pasti tahu option-option jawabannya. Tetapi bagi saya saat itu, malah sebaliknya. Dari 4 option tersebut, ada 2 jawaban yang meragukan saya. Pertama adalah <em>&#8220;dengan membiarkan acara rohani tersebut tayang&#8221; </em>atau<em>&#8220;mematikan televisi&#8221;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, ibu saya menanyakan, saya memilih jawaban apa. Saya katakan dengan benar-benar bingung, saya menunggu sampai waktu ujian berakhir dan akhirnya memilih <em>&#8220;mematikan televisi&#8221;.</em> Ayah saya bingung dengan jawaban saya itu. Beliau menanyakan kenapa.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan saya sangat sederhana saat itu. Hanya karena melihat apa yang selama ini diajarkan kakek saya. Biasanya beliau selalu menyuruh saya mengecilkan volume suara televisi ketika siaran rohani agama lain berlangsung. Dan karena di option jawaban tidak ada <em>&#8220;mengecilkan volume suara TV&#8221;</em>, maka yang paling dekat dengan itu ya <em>&#8220;mematikan televisi&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em></em>Seketika itu satu mobil menertawai saya. Tentunya bukan karena sebuah tawa membodohi. Saya bisa merasakan itu adalah sebuah tawa yang satir. Dan tidak ada penjelasan sama sekali sampai di rumah, sementara saya masih terus ditertawai oleh kakak saya. Saya cuma terdiam dalam bete dan penuh tanda tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini mungkin hanya angin lewat buat anak kecil seperti sayya waktu itu. <em>Toh</em>, saya juga masih bisa mendapat ranking 1 di kelas. Tetapi bekasnya masih terasa sampai sekarang karena pada suatu malam setelah kejadian konyol itu, entah bagaimana, kakek saya menjadi lebih banyak omong dari biasanya soal acara rohani di televisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, saya refleks mengecilkan volume suara televisi. Dan kakek saya sebagai penikmat televisi menunggu acara &#8220;Dunia Dalam Berita&#8221; pasti duduk nyaman di depan televisi dengan buku bacaannya. Dan beliau pun bersuara (kira-kira begini)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dek, tv-nya ngga dimatikan saja?&#8221;, ujar beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya cuma diam, lalu kembali ke televisi tanpa remote itu, dan menekan tombol mati. Tetapi beliau berujar lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Abah cuma nanya, &#8216;ga nyuruh kamu matikan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dasar orang tua aneh, saya pun menghidupkannya lagi tanpa bicara apa-apa. Dan beliau pun berbicara lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dek, mereka itu sedang ngajarin ngaji ke pemeluk agamanya. Seperti Abu Ya <em>(guru mengaji saya di Langgar dekat rumah)</em> juga ngajar ngaji ke adek. Adek &#8216;ga perlu dengar apa yang mereka ajarkan, tapi cukup tahu saja kalau mereka itu juga ada di sekitar kita. Mereka berhak ngaji kayak adek juga&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu, pesan tersebut terlalu susah buat saya mengerti. Tetapi dengan makin bertambahnya umur, saya semakin mengerti maksud dari sikap dan pesan beliau tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah <strong>&#8220;penghormatan perbedaan&#8221;</strong> keyakinan itu memang mahal harganya. Kalau boleh saya katakan seperti membunuh ego terbesar dalam diri manusia. Terkadang kita terlalu sulit menempatkan diri dalam memahami perbedaan, yang hanya berujung pada kebingungan identitas diri. Tak salah pada akhirnya malah menciptakan argumen-argumen lunak yang mudah diplintir kesana kemari. Sebuah hal yang sangat rumit untuk saya pahami sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ternyata pesan sederhana seperti dari kakek saya itu memiliki kesan sampai saat ini buat saya maknai, walaupun akhirnya kitab-kitab kuningnya itu hanya diwarisi ke adik saya yang lain. Mungkin beliau tahu benar bagaimana saya akan menemukan <em>&#8220;kitab kuning&#8221;</em> nya tersebut dengan cara saya sendiri. Mungkin juga dari awal beliau sudah mengenal orok cucunya satu ini sehingga hanya dinamakan pendek sembilan huruf saja.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Malam ini saya membaca sebuah dagelan indah dari negeri krisis APBN <em>-bukan BBM</em>- soal pelarangan &#8220;mengaji&#8221;. Dan mendadak malam ini pun saya merasa bersyukur terlahir sebagai muslim dari darah kakek saya. Dan tentunya darah Negeri Serambi Mekah yang notabene dikatakan bersyariat islam oleh  orang-orang yang melarang-larang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p><em>Illustrasi diambil dari <a title="Illustrasi Gambar" href="http://saifulislam.com/?p=243" target="_blank">sini</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyakit Fatal</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/03/penyakit-fatal/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/03/penyakit-fatal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 00:13:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[demo]]></category>
		<category><![CDATA[FPI]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Jogja Gallery &#8211; Minggu siang, di antara ketenangan dan semangat menyaksikan lukisan-lukisan di sana, si Tika tiba-tiba bersuara, &#8220;Leks, fatalis itu apa sih?&#8221; Dan seketika semua bualan dari otak saya mengalir keluar memberikan penjelasan segombal-gombalnya. Ternyata pertanyaan Tika itu muncul &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/03/penyakit-fatal/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_613086_7795.jpg" alt="" width="290" height="290" />Jogja Gallery &#8211; Minggu siang, di antara ketenangan dan semangat menyaksikan lukisan-lukisan di sana, si <a title="Tika" href="http://www.tikabanget.com" target="_blank">Tika</a> tiba-tiba bersuara,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Leks, fatalis itu apa sih?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan seketika semua bualan dari otak saya mengalir keluar memberikan penjelasan segombal-gombalnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-347"></span>Ternyata pertanyaan Tika itu muncul karena sebuah lukisan sederhana  yang memberikan pesan singkat,</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><em>&#8220;Sebuah negara yang sakit, selalu membiasakan diri dengan idiom-idiom fatalis. Dan sebuah negara yang sehat hidup dengan idiom-idiom progresif&#8221;</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sederhana saja penjabaran lukisan tersebut. Ungkapan <em>&#8220;Cape Deh&#8221; </em>yang tergambar di lukisan itu, diartikan sebagai sebuah idiom fatalis. Mungkin saya bisa menjamakkan idiom-idiom lainnya seperti <em>&#8220;Udah becek, ga ada ojyek&#8221;</em> atau mungkin seperti <em>&#8220;meneketehe&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang itu hanya sebuah pesan lukisan. Goretan di atas kanvas yang kemudian berakhir dalam ruang-ruang hotel, atau ruang pribadi para kolektor berkantong tebal. Perbedaannya hanya soal tema lukisan saja. Seperti Minggu itu, kebetulan tema pameran lukisan tersebut adalah &#8220;Kebangkitan Nasional&#8221; dan segala tetek bengeknya soal nasionalisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Sering saya melihat, membaca dan menceritakan ulang kronologis semangat nasionalisme dalam panggung sejarah negeri ini. Tetapi membacanya kembali berulang-ulang bukanlah kegiatan membosankan. Apalagi saya tahu mereka, para pelaku seni ini, mencoba melihat dengan berbagai kacamata berbeda. Mereka paham pertentangan klasik antara kaum Nasionalis moderat dan Islam Konservatif soal &#8220;Kebangkitan Nasional&#8221; di masa lalu. Dengan gamblang mereka mempersembahkan kritik terhadap pandangan nasionalisme modern dan mental nasionalisme konservatif. Bahkan ada cerita sederhana soal persamaan kolonialisme di zaman perang dengan kolonialisme di zaman modal, dan dengan demikian berarti pula arti kemerdekaan bersemangat &#8217;45 dan kemerdekaan berkedok reformasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini bukan soal inspirasi si pelukis yang memang bisanya dia saja mencari ide buat jualan karya. Ini adalah soal refleksi, soal menaruh kaca di depan muka -mengutip istilah <a title="Momon" href="http://www.hermansaksono.com" target="_blank">Momon</a>. Ketika saya berjalan-jalan mengelilingi semua lukisan di Jogja Gallery tersebut, antara pikir dan perasaan teraduk-aduk di sana. Sebuah kesedihan dari optimisme yang surut. Sebuah gambaran negeri yang rusak. Sebuah sinisme tentang nasionalisme yang sakit akut. Dan ada sebuah kesan lebih dalam lagi, yaitu malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Iya! malu. Malu karena di sana saya menyaksikan sebuah kronologis sejarah membangun bangsa besar ini. Kronologis yang hadir dengan teks, cerita dan gambar visual. Entah sekedar sebuah photo tokoh-tokoh bangsa maupun ilustrasi kasar bergores acrylic. Dan ternyata hari itu saya hanya menjadi tukang menonton, membaca dan beromantisme bersama mereka, dari dulu hingga saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga malu, ketika tahu seorang mudi Jepang melakukan perjalanan menyusuri sejarah. Sendiri ia mengumpulkan cerita perjuangan bersenjata era penjajahan Jepang yang dilakukan PETA pimpinan Soepriyadi di Blitar. Sementara kita dengan mudahnya bicara nasionalisme lewat sebuah papan pengumuman <em>&#8220;Besok ada upacara bendera memperingati Kebangkitan Nasional&#8221;</em>. Selesai upacara bendera, merah putih berkibar dengan gagahnya, lalu kita bubar kembali pada kebusukan-kebusukan lokal. Curang, keserakahan dan ketidakjujuran menjadi rutinitas harian membuat saudara-saudara sebangsa berada dalam kungkungan penderitaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekian banyak gambaran rusaknya nasionalisme yang dipaparkan di ruangan pameran tersebut, menjadikan saya bingung. Bingung karena negeri ini hanya diisi oleh penyakit-penyakit walau dikatakan sudah bangkit 100 tahun lalu. Seperti tidak ada celah untuk mengatasi penyakit bangsa ini? <em>Ah sial!</em>, tulisan ini pun menjadi sebuah keluhan. Ternyata saya dan tulisan ini memang hidup dalam idiom fatalis juga!</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin benar kata orang-orang alim itu. Hanya Tuhan yang bisa menyelesaikan segala kesemrawutan negeri ini. Mungkin hanya Tuhan yang bisa, <em>itu pun kalau Dia mau -</em>seperti ungkapan sebuah puisi gerakan terkenal.</p>
<p style="text-align: center;">-o0o-</p>
<p style="text-align: justify;">Sore sudah menapak di hari minggu cerah itu. Saya, Tika, <a title="Momon" href="http://www.hermansaksono.com" target="_blank">Momon</a> dan <a title="Dina" href="http://www.dinautami.com/" target="_blank">Dina</a> keluar dari ruang pameran tersebut dengan inspirasi nasionalisme masing-masing. Lalu sekelebat saya melihat hiruk pikuk sebuah berita di TV. Monas rusuh oleh keributan dan aksi kekerasan. Semua media nasional berebut bercerita dengan antusiasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya terpana sekejap. Tiba-tiba teringat berapa banyak lagi masyarakat miskin dan anak putus sekolah yang akan dilupakan? Dilupakan karena sebuah setingan busuk para serakah negeri ini yang bertopeng nasionalisme, bahkan nama Tuhan bisa disewa dengan sekian rupiah saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata fatalis tidak hanya sekedar idiom-idiom semata di negeri ini. Tetapi juga sudah menjadi kesimpulan hidup untuk menyembuhkan penyakit negeri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/03/penyakit-fatal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumbakarna dan Cuek</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/05/19/kumbakarna-dan-cuek/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/05/19/kumbakarna-dan-cuek/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 10:34:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[cahandong]]></category>
		<category><![CDATA[pantai pandansari]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[Lakon Rama &#8211; Sinta memang selalu menarik jika kita bicara tentang hitam dan putih, karena memang cerita Ramayana lebih jelas &#8220;who is the bad or good guys&#8221; nya, dibandingkan Mahabharata. Dalam cerita Ramayana, mungkin anda masih ingat bagaimana 2 adik &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/05/19/kumbakarna-dan-cuek/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-c.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_576722_4031.jpg" alt="hampir Purnama di Pandansari" width="290" height="281" />Lakon Rama &#8211; Sinta memang selalu menarik jika kita bicara tentang hitam dan putih, karena memang cerita Ramayana lebih jelas <em>&#8220;who is the bad or good guys&#8221;</em> nya, dibandingkan Mahabharata. Dalam cerita Ramayana, mungkin anda masih ingat bagaimana 2 adik Rahwana justru sangat berbeda dengan sang kakaknya itu. Wibisana dan Kumbakarna sama-sama menyadari bahwa sang Kakak luar biasa jahatnya. Rahwana itu memang raja tega. Anaknya sendiri saja dipenggal -Sondara dan Sondari, yang mirip Rama dan Lesmana- hanya karena ingin menipu Dewi Sinta.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-335"></span>Walaupun kedua adik Rahwana ini sadar akan kejahatan-kejahatan kakaknya, tetapi mereka punya pilihan jalan hidup yang berbeda. Wibisana berkhianat dan memilih membantu kubu Rama, melawan sang kakak dan membocorkan rahasia-rahasia kelemahan pendekar Alengka. Sementara Kumbakarna, lebih memilih menjadi raksasa &#8220;tidur&#8221;. Tidak peduli hiruk pikuk yang berkembang di Alengka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak awal dilahirkan dari gumpalan darah Dewi Sukesi, anak Begawan Wisrawa ini memang selalu tidur. Suatu kali Rahwana atau Dasamuka mengajak adik-adiknya itu untuk meminta sesuatu kepada dewa, dan lagi-lagi si Kumbakarna ini memilih tapa-tidur. Ketika Batara Narada membangunkan Kumbakarna, menanyakan apa keinginannya, Kumbakarna menjawab <em>&#8220;Saya tidak ingin apa-apa, tidak peduli apa-apa, dan hanya ingin tidur saja&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin Kumbakarna memang raksasa pemalas. Tetapi itu masih lebih baik dari pada kakaknya yang selalu berlaku jahat. Seperti juga setiap kepala manusia yang anda kenal satu dua di kehidupan sehari-hari. Tipikal-tipikal seperti Kumbakarna bisa ditemui dimana saja. Di saat orang-orang mulai berteriak akan pergulatan politik dan ekonomi yang makin panas, sementara ada orang-orang yang lebih memilih tertidur, terpejam atas kondisi yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah itu salah? Bukan hak saya mengatakan salah benar. <em>Toh, </em>Kumbakarna juga memiliki pilihan itu atas kesadarannya sendiri. Lebih baik tidur dari pada <em>nimbrung</em> memilih berpihak siapa-siapa. Penat dan lelah, istilahnya. Sayangnya, Kumbakarna mencapai pilihannya dengan akhir cerita tragis, dia akhirnya mati oleh panah Lesmana.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda bisa mengatakan, <em>ini mah namanya cuek, bukan cuma pemalas.</em> Bisa jadi juga benar. Karena soal <em>cuek</em> adalah sifat manusia yang paling <em>ngeselin. </em>Siapa diantara anda yang tahan kalau dicuekin pujaan hati? Pasti bete-nya minta ampun, bukan? Makanya cuek sosial politik juga paling ditakuti oleh tim sukses partai-partai itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau bicara soal cuek, seharus dibedakan, mana yang namanya cuek sosial dan cuek seperti tipikal Kumbakarna. Cuek sosial itu seperti ibarat menutup kuping dan mata dari segala persoalan sosial, lebih memilih untuk autis menikmati hidup sendiri yang nyaman-nyaman saja. Selalu berpikir <em>&#8220;itu bukan urusan saya&#8221;</em>. Ohya, ada juga cuek lain lagi, orang yang cuek karena memang tidak tahu apa-apa. Ini <em>mah</em> namanya cuek karena tidak tahu esensi dari cuek itu sendiri.<em> Hahaha..</em></p>
<p style="text-align: justify;">Urusan kepedulian dan cuek adalah pelajaran dan pengalaman dari perilaku sosial. Freud sendiri menjelaskan bahwa afeksi sosial adalah dominan dalam perkembangan perilaku sosial si manusia. Bisa dilihat bagaimana<a title="Sok Ngganteng!!" href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/05/19/jeng-jeng-pangalengan.html" target="_blank"> seorang lelaki</a> bisa membedakan <a title="Sarah.." href="http://buanadara.wordpress.com" target="_blank">wanita yang cantik</a> atau bukan dalam lingkungannya -begitupun sebaliknya, karena memang ada afeksi sosial terhadap si manusia dari pesan, cerita, gosip, maupun iklan mungkin.</p>
<p style="text-align: justify;">Proses afeksi ini bisa berlangsung lewat pesan visual jika memang istilah diatas ada, yang saya namakan cuek dengan menutup mata. Misal pesan-pesan iklan di TV, atau spanduk-baliho pinggir jalan. Konon kata seorang <a title="Psikolog Amatir yang mendadak jadi Seksologi Amatir" href="http://restlessangel.wordpress.com/" target="_blank">psikolog amatir</a>, pesan visual itu bisa memberikan <em>shock therapy</em>. Menjadi pengingat yang nanti ada hubungannya dengan perilaku sosial komunal setempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya, Anto dan Gun kemarin juga mencoba hal yang sama. Sekedar memasang plang &#8220;JAGALAH KEBERSIHAN PANTAI&#8221; di satu pantai selatan Yogyakarta, Pantai Pandansari. Menuntaskan hutang kami yang tertinggal dari kegiatan sebelumnya, <a title="Bersih-bersih Pantai" href="http://wiki.cahandong.org/Bloger_Bekisar" target="_blank">&#8220;Bloger Bekisar&#8221;</a>. Pantai ini sekarang sudah memiliki jalan yang mulus, dan dipastikan makin ramai nantinya. Entah ramai oleh pengelola pasar, pengunjung luar kota, atau bahkan pasangan berpacaran. Menariknya, kami di sana kemarin menemukan sebuah bentuk afeksi sosial lain untuk komunal setempat. Karena jalan yang sudah amat mulus tersebut, anak-anak muda lokal sekitar pantai memilih jalur mulus itu sebagai tempat <em>trek-trekan</em> (balap motor).</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/05/anto-gun1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-337" title="anto-gun1" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/05/anto-gun1.jpg" alt="anto gun pasang plang" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kami bertiga menonton mereka sambil congkel-mencongkel pasir pantai, mengaduk semen, dan memalu paku di plang. Sepertinya mereka juga menjadikan kami tontonan. Mungkin aneh saja melihat orang-orang asing di lingkungannya malah memasang pesan berplang putih itu. Saya jadi berpikir seandainya saja kata-kata di plang itu bertuliskan, &#8220;DILARANG BALAPAN DI PANTAI&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Harapan saya, paling tidak pesan kecil di plang itu menjadi afeksi sosial tersendiri buat orang-orang yang datang ke lokasi pantai ini, seperti afeksi sosial si jalan mulus terhadap pembalap-pembalap amatir itu. Bukan tujuan untuk benar-benar berharap tidak ada sampah lagi yang terbuang ke pantai. Sekali lagi Ini cuma <em>shock therapy</em> dengan harapan ada sebuah perilaku sosial sehat yang terbentuk. <em>Lagian</em> plang kami tidak ada apa-apanya jika dilihat dari segi desain dan pesan politis, dibandingkan dengan baliho-baliho berlatar merah putih, berukuran 2 x 3 meter yang berjajar sepanjang jalan Yogya- Bantul setiap 50 meter, berisi pesan &#8220;Hidup Adalah Perbuatan&#8221;. Baliho itu menampakkan photo berwibawa seorang ketua partai terkenal memandang 45 derajat ke kuadran 2. Tidak lupa di sudut kiri kantong jas birunya-nya terbordir jelas nama sang partai. Saya tidak yakin masyarakat yang melihat  baliho tersebut akan menangkap pesan &#8220;Hidup Adalah Perbuatan&#8221;, selain mengingat bordir nama partai tersebut. Seharusnya baliho ini menyampaikan pesan yang konkrit dan gampang, misal seperti pesan plang kami, &#8220;Jagalah Kebersihan Pantai&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejauh apa pengaruh afeksi sosial dari sisi visual terhadap perilaku cuek masyarakat? Masih banyak bahasan soal ini secara antropologi dan budaya yang saya saja tidak pernah mengerti membacanya. Silahkan anda google sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya tahu, manusia memiliki otak untuk berpikir. Mengolah pesan secara sadar. Dan pada akhirnya kembali kepada pilihan. Berbuat atau tidak. Atau tutup mata saja? Memasukkan diri dalam perilaku cuek sosial? Itu adalah pilihan. Yang penting pesan untuk menghindarkan diri dari ketidaktahuan sudah coba disampaikan. Jadi, minimal &#8220;cuek tanpa tahu esensi cuek&#8221; itu tidak terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti Kumbakarna misal, walaupun tukang tidur, bukan berarti dia tidak tahu apa-apa. Kematian tragisnya sendiri pun justru karena dia sangat tahu esensi dari cueknya dia itu. Konon, saat Alengka semakin genting karena sudah dikepung oleh banyaknya monyet-monyet anak buah Hanoman, Rahwana mendatangi Kumbakarna dengan membawa 40 pikul makanan, memintanya turun ke medan pertempuran. Tetapi seusai makan, Kumbakarna malah menasihati Rahwana, <em>&#8220;Sudahlah Kakanda. serahkan Dewi Sinta, dan berdamailah dengan Sri Rama. Kita tidak mungkin mengalahkan titisan Batara Wisnu. Seorang pembela kebenaran&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rahwana pun tersinggung, lalu memaki Kumbakarna, <em>&#8220;Raksasa bau tidak tahu diuntung. Diurus berpuluh-puluh tahun kok tidak tahu diri. Kerjamu hanya makan dan tidur. Giliran disuruh berperang, malah menganjurkan menyerah. Kembalikan semua yang telah kau telan!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ajaib. Kumbakarna memuntahkan semua makanan tadi, lengkap seperti sebelum ditelan dengan kondisi seperti tidak terjamah. Ini membuat Rahwana menangis. Lalu Kumbakarna pun berkata,<br />
<em>&#8220;Ketahuilah Kakanda, aku sebenarnya sangat mencintaimu. Sayang jiwa mu begitu jahat, sehingga Wibisana pun memihak Sri Rama. Jangan khawatir Kakanda, aku akan maju ke medan tempur. Walaupun aku tahu tidak akan menang, tetapi aku berjuang bukan untuk membela kejahatan. Tetapi sebagai samurai yang berperang membela tanah airnya. Selamat tinggal Kakanda, dan insyaflah. Ingat, semua orang telah berkorban untuk mu&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan Kumbakarna pun berperang dengan hebatnya, menimbulkan korban terbesar sepanjang pertempuran klasik Rama &#8211; Rahwana ini. Karena memang dia adalah raksasa terkuat dari Alengka. Panah-panah dari Rama dan Lesmana membabat tubuhnya membuat Kumbakarna cedera jatuh terguling. Namun masih semangat terus bertarung dengan ribuan monyet suruhan Hanoman. Dan akhirnya kematian tragis bagi Kumbakarna, diakhiri sebuah anak panah Lesmana di lehernya karena petunjuk dari Wibisana. Membuat Kumbakarna sempurna, berakhir sebagai pahlawan, diiringi tangis oleh Wibisana.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti Kumbakarna, memilih cuek bukan berarti tidak memiliki pilihan yang justru sangat paham akan esensi sebuah persoalan. Terkadang memilih sesuatu yang menjadi takdir yang sudah teratur dan bisa dibaca bukan menjadi pilihan yang buruk, asalkan kita tahu bagaimana memaknainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya sekarang, adalah seberapa banyak Kumbakarna yang hidup di negeri ini? Menunggu waktu untuk terbangun dari tidur panjangnya?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>PS : </strong>Buat seseorang yang &#8220;sedang memilih&#8221; disana, <em>&#8220;Menjalani yang tertakdir sekalipun bukanlah soal baik atau buruk, selama kamu tahu esensinya. Aku percaya kamu bisa menjadi Kumbakarna untuk dirimu sendiri&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/05/19/kumbakarna-dan-cuek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>For Sale</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/05/15/for-sale/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/05/15/for-sale/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 01:08:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[9808]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;font-size: 128px; color: #980000;"><strong>9808</strong></p>
<p><span id="more-331"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://i32.tinypic.com/1sfpxf.jpg" alt="9808" width="510" height="809" /></p>
<div style="clear:both;"></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/05/15/for-sale/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Skenario Pribadi Berjudul BBM-update</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/05/13/skenario-pribadi-berjudul-bbm/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/05/13/skenario-pribadi-berjudul-bbm/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 06:58:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[energi]]></category>
		<category><![CDATA[neokolonialisme]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[Kekuatan kepentingan golongan sangat dominan dalam dunia politik Indonesia, begitu yang saya tangkap sampai saat ini menjelang turunnya pemerintahan SBY-JK. Ini bukan masalah politik yang sehat lagi cerdas. Tetapi memang tarik ulur dalam kebijakan pemerintah terlihat berjalan plin plan, tentu &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/05/13/skenario-pribadi-berjudul-bbm/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/05/tower.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-328" title="tower" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/05/tower.jpg" alt="Tower" /></a><em>Kekuatan kepentingan golongan sangat dominan dalam dunia politik Indonesia</em>, begitu yang saya tangkap sampai saat ini menjelang turunnya pemerintahan SBY-JK. Ini bukan masalah politik yang sehat lagi cerdas. Tetapi memang tarik ulur dalam kebijakan pemerintah terlihat berjalan plin plan, tentu karena kurang tegasnya SBY memanfaatkan hak eksekutif lembaganya dalam kebijakan sehingga membuka ruang politikus &#8220;cerdas&#8221; untuk menjejalkan isu kepentingan golongan mereka yang cadas.<span id="more-330"></span></p>
<p style="text-align: justify;">SBY memang terkesan sangat menjaga stabilitas politik di dalam pemerintahannya. Apakah salah jika menimbang stabilitas politik nasional dalam kebijakan pemerintah? Jelas itu penting. Tetapi bagaimana mengemasnya sehingga memiliki keadilan dari top lovel partai hingga ke level masyarakat kelas bawah? Di sanalah seninya seorang pemimpin yang cerdas. Bukan bermaksud mengatakan SBY-JK tidak cerdas. Tetapi ketegasan memang menjadi PR tersendiri bagi seorang pemimpin dalam resiko negara di era persiapan globalisasi ini .</p>
<p style="text-align: justify;">Misal, isu sederhana seputar BBM bersubsidi yang akan naik harganya. Menyikapi kondisi ini saja, pemerintah sudah pernah mempercepat Perubahan APBN yang harusnya berjalan Juli 2008 nanti menjadi Februari 2008 lalu. Kini ada usul untuk kembali merevisi APBN mengingat harga minyak dunia yang terus melambung tinggi hingga titik USD125.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika berbicara penenetuan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut, tentunya pemerintah berkolaborasi dengan banyak ahli, pengusaha multinasional, dan pastinya tidak terlepas dari unsur-unsur partai politik. Seingat saya memang itu isinya partai-partai politik. Lalu apa sinerginya dengan kepentingan golongan? Toh partai politik memang sudah menjadi bagian absolut dari sebuah sistem demokrasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Begini alur berpikir yang sangat sederhana dari kepala saya. Dalam perubahan APBN 2008 sudah ditetapkan subsidi BBM sebesar Rp. 126,8 triliun. Sementara itu penghasilan Migas termasuk Minyak Bumi dan Gas Bumi ditetapkan sebesar Rp. 182,9 triliun. Silahkan berhitung sendiri, apakah itu keuntungan atau malah kerugian? Dengan membagi beban anggaran <em>post to post</em> saja, subsidi masih tertutupi, bahkan surplus.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kondisi demikian, logisnya pemerintah masih mampu mensubsidisilangkan profit dari PMB dan PPH penjualan Minyak Bumi terhadap ketidakmampuan masyarakat akan harga BBM yang terus naik. Lalu kenapa pemerintah lebih memilih untuk pelan-pelan menyesuaikan harga BBM lokal dengan harga pasar dunia?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban dari pandangan saya <em>ya</em> jelas karena efek dari kepentingan pelaku ekonomi pasar bebas yang mencari keuntungan sepihak. Konglomerasi multinasional dan perusahaan asing sangat tidak bersahabat dengan apa yang dinamakan subsidi. Segala bentuk campur tangan pemerintah terhadap harga pasar, adalah musuh bagi pelaku ekonomi pasar. Contoh saja, pelaku distributor BBM eceran dari negeri tetangga jelas enggan berinvestasi di Indonesia, yang kini cuma baru berani beroperasi di Jakarta dan Jawa Barat. Contoh lain lagi, produsen Minyak dan Gas Bumi asing sulit menerima kondisi dimana mereka tidak bisa memperoleh keuntungan maksimal dalam penjualan, karena masih terikat kompensasi mensuplai kebutuhan lokal dengan harga bersubsidi tentunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keterkaitan dalam usaha-usaha neokolonialisme berbalut globalisasi ini terlihat dari 3 kalinya ada judical review terhadap 3 Undang-undang negara perihal kebijakan SDA yaitu UU No.20 /2003 tentang Ketenagalistrikan Nomor 001-021-022/PUU-I/2003, UU No.22 /2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Nomor 002/PUU-I/2003, dan Putusan Uji materi UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Nomor 058-059-060-063/PUU-II/2004. Keputusan MK ini berdasarkan pertimbangan bahwa segala sesuatu sumber kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak, harus dikuasai oleh negara. Khusus untuk UU No.22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, MK membatalkan poin-poin yang memberi akses lebih kepada perusahaan asing dalam penguasaan sumber daya migas. Dalam putusan tersebut MK berketetapan bahwa alasan yang dimaksud dengan “hak menguasai negara” mencakup lima pengertian. Negara merumuskan kebijakan (<em>beleid</em>), termasuk melakukan pengaturan (<em>regelen daad</em>), melakukan pengurusan (<em>bestuurdaad</em>), mengelakukan pengelolaan (<em>beheer daad</em>) dan melakukan pengawasan (<em>toezicht houden daad</em>) untuk tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, segala bentuk kegiatan politik, hukum dan ekonomi tentunya masih berada dalam satu lingkaran yang sama. Dan pelaku-pelaku neokolonialisme global ini tidak serta merta berhenti. Masih ada jalur-jalur yang bisa terus dirong-rong. Sialnya celah paling bebas adalah lewat jalur politik. Karena politikus negeri ini mudah untuk bermanuver sesuai kebutuhan dan kepentingan golongannya, jika boleh saya berkata kasar dalam perumpamaan pendek adalah &#8220;busuk&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu hanya pertimbangan sederhana saya yang kurang ilmu dalam melihat kondisi ini. Mungkin <a title="Ya dia,..sapa lagi coba..??" href="http://tukangkopi.wordpress.com" target="_blank">bapak playboy muda satu ini</a> masih bisa memberikan cerita lebih dekat soal regulasi BBM negara kita, karena memang lahan buruhnya di area tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi perlu diingat bahwa yang saya sampaikan diatas terlepas dari pertimbangan-pertimbangan lainnya, seperti perhitungan ekonomis dalam hubungan multilateral negara-negara dunia, tanpa pertimbangan unsur politik internasional dan konsekuensi kerja sama ekonomi, dan terutama soal stabilitas keamanan dalam hubungan antar negara.</p>
<p>Untuk alasan pertimbangan di atas, saya sendiri hanya bisa menjawab, <em>&#8220;kenapa kita harus berpikir siap bersaing dengan negara-negara dunia? Toh,  negara ini dicipta untuk mensejahterakan warganya. Bukan untuk bersaing mencari nama di mata dunia&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Alasan lain yang patut dilihat adalah kemampuan negara ini dalam manajemen pengelolaan Migas yang carut marut, rawan oleh korupsi dan budaya rente hingga ke level produksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ribet ya? Sebenarnya segala kisruh-kisruh ini bermula dari kekhawatiran defisitnya APBN. Dan buat saya jawaban permasalahan juga bisa berkembang hingga menilik kembali soal penghematan belanja negara terutama untuk pos-pos yang berurusan dengan penyelenggaraan negara. Mungkin saran saya bisa dicoba, semua pejabat bersepeda kalau menuju gedung-gedung ber-AC mereka. Bosnya saja naik sepeda, saya yakin bawahannya <em>ndak</em> sok-sok-an ngegaya dengan mobil ber-cc besar. Apalagi sampai mengemis dibelikan mobil dinas baru ke dalam anggaran .</p>
<p>Pemilu? sudahlah. Lupakan saja pemilu hura-hura dengan goyangan panas artis dangdut. <em>Ndak</em> perlu iring-iringan kendaraan yang menguras BBM dan bikin produsen kendaraan bermotor menaikkan produksi motornya. Lagian setelah terpilih, semua pemimpin itu tidak akan ingat dengan muka-muka anda yang ditemui pas kampanye. Sibuk <em>ngurusi</em> modalnya yang tekor buat kampanye. Jadi mending tidak usah ada kampanye sekalian saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Ohya, kelupaan. Kita masih punya hutang bertumpuk-tumpuk. Dan ini menjadi salah satu agenda pemerintah untuk membayar dengan keuntungan dari penjualan minyak dan gas bumi. Utang memang harus dibayar, seperti juga utang saya untuk pulang kampung lebaran nanti setelah 2 tahun tidak <em>soan</em> ke pusara ayahanda. Sayangnya Juni harga BBM sudah naik, dan pasti harga tiket pesawat juga naik.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Hmm.. </em>mungkin pilihan mengulang masa-masa dulu naik kapal laut bisa jadi alternatif. Hitung-hitung mencoba mengendarai ombak-ombak global warming yang makin liar akibat tingginya angka karbon dari pembakaran BBM.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>UPDATE :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menjawab pertanyaan Yudhis di komentar, saya rasa perlu memperjelas data yang saya punya. <span style="padding: 5px; margin-right: 5px;"> Dalam APBN 2008, harga minyak mentah dipatok sebesar 60 dolar Amerika per barel. Dengan asumsi seperti itu, beban subsidi BBM berjumlah Rp 45,8 triliun, sedangkan Penerimaan Minyak Bumi (PMB) berjumlah Rp 84,3 triliun. Selanjutnya, dalam APBN-P 2008, harga minyak mentah dipatok sebesar 95 dolar Amerika per barel. Dengan asumsi baru ini, beban subsidi BBM meningkat menjadi Rp 126,8 triliun, sedangkan PMB meningkat menjadi Rp 149,1 triliun (diluar Gas Bumi).</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tentunya meningkatnya harga minyak dunia, juga mendukung penerimaan BBM yang berimbang. Itu secara sederhana. Tetapi tentunya ada mekanisasi harga tersendiri untuk mempertimbangkan <em>balancing</em> yang baik dalam APBN kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Perhitungan diatas berdasar pada kemampuan produksi minyak negara ini. Misal dalam APBN 2008 tersebut, angka PMB diperoleh dengan target lifting 1.034 bph. Sementara kenyataannya target tidak tercapai. Dalam 3 bulan terakhir saja <em>lifting</em> minyak berada dikisaran 917 bph dan cenderung menurun. Lalu dalam P-APBN 2008 lalu target yang dikejar adalah 927 bph.</p>
<p style="text-align: justify;">Tambah lagi OPEC sendiri sudah menegaskan, tidak akan menaikkan produksi minyak sampai September 2008. karena produksi minyak dunia masih dalam kondisi aman, mencukupi. Bahkan cukup untuk persediaan selama Olimpiade Beijing dan tidak dalam rentang musim dingin. Harga yang melambung beberapa saat lalu jelas karena ulah spekulan dan akibat pukulan telak pada resesi ekonomi di AS akibat krisis <em>subprime mortgage</em>. <em>Ngutang mulu sih</em>. <em>Ngutangnya make</em> kertas lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dhis, mungkin masih ingat kata pak Kurtubi ahli kita itu, seandainya saja Indonesia bisa memproduksi minyak pada angka 1,3 jt barel saja, maka <em>balancing</em> dalam pemenuhan BBM lokal dan kekuatan APBN akan terjaga. <em>Loe </em>juga pasti tahu bagaimana hukum alam pemenuhan energi dunia dari minyak seperti cerita teori paradoks. Sejak abad 20, permintaan akan minyak bumi semakin tinggi, tetapi ketersediaan dan penemuan minyak <em>(discoveries) </em>justru menurun. Terkadang ketakutan akan kekurangan suplai masa depan inilah yang membuat ekspektasi pelaku pasar melakukan <em>future trading, </em>yaitu berani membeli harga ekspektasi masa depan dengan ketersediaan masa sekarang. Permainan yang indah dari spekulan neolib.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/05/13/skenario-pribadi-berjudul-bbm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Magic Works</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/30/magic-works/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/30/magic-works/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 03:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[ShOrTOY]]></category>
		<category><![CDATA[hermione]]></category>
		<category><![CDATA[love]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Semua penggemar Harry Potter pasti tahu sebuah kisah persahabatan unik antara Hermione dan Ron. Ditambah bumbu-bumbu asmara ala anak muda juga tentunya. Tokoh Ron Weasley, sudah terlihat akhil baliq dan mulai ada &#8220;rasa&#8221; terhadap Hermione sejak buku atau film ke-3, &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/30/magic-works/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-d.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_536555_9517.jpg" alt="" width="290" height="215" />Semua penggemar Harry Potter pasti tahu sebuah kisah persahabatan unik antara Hermione dan Ron. Ditambah bumbu-bumbu asmara ala anak muda juga tentunya. Tokoh Ron Weasley, sudah terlihat <em>akhil baliq</em> dan mulai ada &#8220;rasa&#8221; terhadap Hermione sejak buku atau film ke-3, <em>The Prisoner of Azkaban</em>. Tetapi bumbu asmara keduanya baru terasa pedas di seri ke-4 cerita tersebut, <em>The Goblet of Fire.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-314"></span>Dalam filmnya, Sebuah scene bagus dimainkan 2 tokoh muda ini ketika Hermione menangis usai <a title="Yule Ball - Triwizard Dance Night" href="http://harrypotter.warnerbros.com/yuleball/" target="_blank"><em>Yule Ball</em></a>, sebuah pesta dansa lintas negara dan ras (sejujurnya sebuah nilai anti Rasism disampaikan dengan baik di seri ke-4 film ini).</p>
<p style="text-align: justify;">Hermione yang tampil cantik sekali malam itu, kesal luar biasa dengan ucapan-ucapan sinis Ron, <em>ngdumel</em> seolah-olah tidak setuju Hermione yang berdansa dengan Victor Kraum -jagoan sihir muda tamu dari daratan Eropa Utara. Sederhana alasan yang dibuat-buat oleh Ron, karena Kraum musuh Harry dalam lomba Triwizard. Padahal jelas digambarkan selama pesta dansa berlangsung, Ron sangat cemburu saat itu. Sampai-sampai teman wanita-nya berdansa ikut menjadi kesal.</p>
<p style="text-align: justify;">Usai pesta, Hermione melabrak Ron dengan emosi yang luar biasa karena terus dikata-katai oleh Ron yang terlihat jumawa sok <em>cool</em>-butuh-tidak-butuh. Ron menuduh sinis Hermione yang mau-maunya dimanfaatkan oleh Victor Kraum. Jelas Hermione berteriak marah</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><em>&#8220;How dare you! Besides I can take care of myself!!&#8221;<br />
&#8220;I doubt it. He&#8217;s way to old&#8221;<br />
&#8220;What?! What?!! If thats what you think?!!&#8221;<br />
&#8220;Yeah, thats what I think&#8221;<br />
&#8220;You know the solution then don&#8217;t you?!&#8221;<br />
&#8220;Go on&#8221;<br />
&#8220;Next time theres a ball, pick up the courage and ask me                                     before somebody else does! And not as a last resort!!&#8221;<br />
&#8220;Well, thats, erghh.. I mean thats completely off the point!<br />
&#8230; </em><em>(Harry datang cuma diam..)<br />
&#8220;They get scary as they get older..! (celoteh Ron ke Harry)<br />
&#8220;Ron, you&#8217;ve spoiled everything!!&#8221; (Hermione berteriak dan menangis..)<br />
</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dan berakhirlah malam dansa yang gagal bagi ketiga sahabat itu. Termasuk Harry yang juga  patah hati melihat Cho berdansa sepanjang malam bersama Cedric. Scene ditutup sebuah lagu yang sendu nan indah mengiringi Hermione yang menangis di anak tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya tadi saya mau menganalogikan roman sial Hermione dan Ron ini sebagai analogi drama politik Indonesia sekarang ini. Seperti drama politik antara calon-calon independen dan partai politik yang suka malu-malu dan saling menyerang. Saya mau membahas hal itu tadi. Tetapi sayang, saya keburu mengantuk sekarang setelah bergadang semalaman.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Toh, </em>biasanya ribut-ribut antar birokrat itu sekedar bergaya cool sok wibawa depan rakyat saja. Setahu saya para calon independen dan partai politik itu biasanya juga akan duduk bersama nantinya, menghitung-hitung untung sesama.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti akhir kisah Harry Potter, terbukti sihir tertua bekerja untuk Hermione dan Ron. Keduanya hidup bahagia bersama sampai akhir cerita. <em>The Old Magic Always Works.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Menarik </em><em>selimut diiringi &#8220;<a title="Magic Works - Harry Potter OST" href="http://www.box.net/shared/rh19lwiccw" target="_blank">Magic Works&#8221; &#8211; OST. Harry Potter </a></em><em><a title="Magic Works - Harry Potter OST" href="http://www.box.net/shared/rh19lwiccw" target="_blank">&#8220;The Goblet of Fire&#8221; </a> by Patrick Doyle. Bermimpi menemani Hermione di anak tangga.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><em> And dance your final dance<br />
This is your final chance<br />
To hold the one you love<br />
You know you&#8217;ve waited long enough</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Believe that magic works<br />
Don&#8217;t be afraid<br />
Afraid of bein&#8217; hurt<br />
No, don&#8217;t let this magic die<br />
Ooh, the answer&#8217;s there<br />
Yeah, just look in her eyes</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/mTjN23hK8n0" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/mTjN23hK8n0"></embed></object></p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/30/magic-works/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revolusioner (part 1) &#8211; Tentara</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/23/revolusioner-part-1-tentara/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/23/revolusioner-part-1-tentara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 22:37:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[ShOrTOY]]></category>
		<category><![CDATA[agus wirahadikusuma]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[tentara]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Revolusi. Sebuah kata yang paling menggigit. Bagi sebagian kaum tua, kata revolusi masih menjadi momok menakutkan, dengan cerita-cerita lama dan tekanan yang sesak di dalam dada tentang sebuah pengorbanan besar dari jargon revolusi. Menakutkan karena frame yang kuat terhadap kata &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/23/revolusioner-part-1-tentara/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-d.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_521475_7091.jpg" alt="Letjend (alm) Agus Wirahadikusuma" width="290" height="204" />Revolusi. Sebuah kata yang paling menggigit. Bagi sebagian kaum tua, kata revolusi masih menjadi momok menakutkan, dengan cerita-cerita lama dan tekanan yang sesak di dalam dada tentang sebuah pengorbanan besar dari jargon revolusi. Menakutkan karena frame yang kuat terhadap kata revolusi sendiri. Frame yang telah lama dipaksakan tertelan untuk sekian generasi, bahwa revolusi adalah &#8220;darah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara bagi kaum muda, revolusi menjadi momok karena terkesan serius ketinggalan zaman. Inpirasi tua tukang demo, sok aktifis, dan lebih buruknya tercium berbau paham terlarang. Dan mereka dalam kostum clubbing malam berseloroh <em>&#8220;ihh&#8230;emang masih jaman ya?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-302"></span>Padahal revolusi cuma sebuah kata. Yang memiliki arti tidak lebih dari perubahan yang dipercepat. Anak-anak muda bersemangat seperti saya mungkin, bisa jadi hanya mengenal tokoh-tokoh revolusioner negeri lain.  Stalin yang tangguh,  Che yang berwajah kokoh, Chavez yang mandiri, atau Sun Yat Sen yang cerdas. Padahal kita memiliki tokoh-tokoh revolusioner kita sendiri. Tan Malaka dan Sjahrir yang hebat itu. Atau Soekarno dan kawan-kawan di masanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oke, itu dulu. Mereka lapuk dan bapuk dalam catatan sejarah kita. Bagaimana dengan sekarang? Saat ini? Agak sulit melihat pemikiran revolusioner tokoh-tokoh Indonesia di masa sekarang. Tetapi paling tidak saya punya sedikit catatan dalam memori saya, penilaian saya tentang mereka yang berpikiran/bervisi revolusioner dalam pertemuan saya dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tahun 2000, sekolah saya sempat mengundang seorang Petinggi TNI. Tidak main-main, jabatannya adalah (mungkin) Pangkostrad saat itu. Saya lupa tepatnya kapan acara ceramah di sekolah saya tersebut. Yang pasti 29 Maret 2000, Letjen Agus Wirahadikusuma, dikenal dengan nama AWK, diangkat Presiden Gusdur sebagai Pangkostrad. Dan diberhentikan 3 bulan kemudian. Beliau adalah keponakan sekaligus anak angkat dari mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusuma.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih ingat oleh saya, dengan pakaian hijaunya itu, di balairung segilima sekolah kami, beliau terlihat dalam rona muka yang sangat serius. Berbeda dengan tamu-tamu lainnya yang biasa datang ke sekolah ini. Walau mereka dari kalangan TNI, tetapi sangat menyesuaikan diri dengan anak-anak remaja seperti kami. Pembicaraan soal nasionalisme dan negara dibahas secara santai dan disesuaikan untuk anak-anak muda -hanya sekedar tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">Letjen AWK saat itu dengan berapi-api (ya saya ingat sekali) menyampaikan pesan-pesan  menekan, bahwa reformasi atau revolusi sekalipun namanya adalah tugas bersama-sama, sipil maupun TNI. Saat itu TNI dalam kondisi perdebatan panas perihal reformasi di tubuhnya sendiri. AWK berkata , setiap orang bahkan hingga TNI pun tidak luput dari resiko untuk berubah. Dan sekolah saya, sebagai bagian dari tubuh TNI, juga harus menyesuaikan diri. Reformasi bukanlah sebuah hantu menakutkan. Ketakutan hanyalah bagi orang-orang yang bersalah, layak untuk mendapat ganjaran atas penderitaan rakyat selama ini. Yang siap untuk berubah menuju revolusi Indonesia baru, diajak oleh beliau untuk maju bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga sempat bercerita tentang pengalaman-pengalamannya menempuh pendidikan militer. Satu hal lain yang sangat saya ingat. Beliau membanggakan kesempatan bisa menempuh pendidikan Ranger di USA. Ranger itu bisa dikatakan sebagai pasukan khususnya Army Paman Sam. Beliau senang bisa mencuri ilmu-ilmu perang Ranger Amerika perihal konsep gerilya Vietkong. Ranger Amerika menjadi sangat fokus membedah pengetahuan gerilya daerah tropis, sejak kekalahan telak di masa perang Vietnam.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya tangkap saat itu, wow..! Tentara berpangkat tinggi satu ini memang beda dalam visi dan semangat. Bercerita dengan lugas, tegas dan sangat menohok ke persoalan bangsa. Terutama tentang hubungan antara TNI &#8211; sipil dan reformasi dalam tubuh TNI, sesuatu hal yang saya tahu sangat tabu dibicarakan oleh korps berbaju hijau.</p>
<p style="text-align: justify;">Selepas ceramah itu, saya suka mencari info tentang lelaki dengan inspirasi liar ini. Terkenal sebagai jendral vokal dalam jajaran tubuh petinggi TNI. Bahkan sempat ada berita besar beliau membongkar korupsi Yayasan Dharma Putera Kostrad senilai Rp 189 milyar (dalam artikel <span class="fullpost" style="font-size: 100%; font-family: georgia;">si peneliti sosial konflik SARA Maluku, George J. Aditjondro &#8211; <em>&#8220;Orang-orang Jakarta Dibalik Tragedi Maluku</em>&#8220;)</span>. Satu kesimpulan bagi saya untuknya saat itu . Tentara yang hebat!</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga ketika di Agustus 2001, saya mendengar <a title="Tentang kepergian AWH" href="http://www.indonesiamedia.com/2001/october/berta-1001-awkmeninggal.htm" target="_blank">beliau meninggal dunia</a>, saya kaget, sekaligus sedih. Kenapa orang seperti beliau malah harus pergi duluan. Sementara masih banyak tentara-tentara yang lebih pantas pergi berkalang dosa dibandingkan beliau?</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi kematian beliau memang tidak jelas detailnya. Hanya dikabarkan sakit jantung mendadak. Walau sebenarnya dalam pengakuan keluarga, almarhum masih sehat-sehat saja di hari sebelumnya, hingga esok paginya mulai tidak sehat. Dan kemudian meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit Pusat Pertamina. Saya jadi teringat kasus-kasus kepergian tokoh-tokoh lainnya yang meninggal secara misterius, seperti jaksa agung Baharuddin Lopa maupun Munir Thalib. Isu pun berhembus kencang dimana meninggalnya AWK erat kaitannya dengan konspirasi para Pati AD yang berseberangan blok dengan AWK untuk menjegal AWK menjadi KASAD. Para Pati AD ini sempat mengadakan pertemuan di Bandung 9 Oktober 2000 untuk membicarakan perihal pengajuan AWK ke Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Dan konspirasi berlanjut, dimana para perwira yang resah tersebut, disinyalir tersangkut luas dalam jaringan tentara yang membawa tungku api di jantung tragedi Maluku, sepanjang 1999 hingga 2001, dan percikannya masih terasa panas sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: center;">-0o0-</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu keberuntungan bagi saya mengenal beberapa tentara-tentara hebat seperti ini. Cerita lain adalah seorang Kolonel Marinir bernama Tjuk Sutanto yang sangat menginspirasi sudut pandang saya tentang bangsa. Beliau menjadi pengasuh saya di sekolah itu dulu. Dan setahu saya penempatannya selalu dalam lingkup pendidikan di tubuh TNI. Sebuah jabatan yang memang bukan lah posisi yang strategis. Atau sengaja ditempatkan di posisi tidak strategis seperti itu? Entahlah.  Satu sisi, jika anak didiknya cukup &#8220;cerdas&#8221;, semoga bakal banyak orang-orang berpikiran hebat seperti beliau lahir.</p>
<p style="text-align: justify;">Sempat juga saya melihat ketangkasan seorang Danrem Teuku Umar saat Musibah Tsunami menimpa Aceh. Saat  itu saya bergabung di Tsunami Emergency Response di kota Meulaboh, Aceh Barat. Ketika semua jajaran Petinggi Pemda menghilang (entah karena trauma atau mengurusi dirinya sendiri), Danrem ini me-<em>manage</em> kondisi darurat menjadi lebih baik dengan nurani membantu rakyat yang menderita dalam barak. Paling tidak itulah sedikit banyak kesan yang sempat saya tangkap. Satu cerita miris saya, saat tim kami membutuhkan gudang tempat menaruh bantuan, kami berencana menggunakan rumah besar kosong milik seorang pejabat daerah di kota Meulaboh itu. Edan! Kami tidak mendapat izin dari sang pemilik. Malu saya saat itu, karena sebagai putra Aceh, datang ke kota ini dengan teman-teman dari tanah berbeda yang ikhlas menanggung resiko demi saudara-saudara satu daerah saya.  Dan kemudian Danrem ini lah yang membantu mengurus tempat lain bagi kami untuk menyetok berbagai bantuan. Bahkan armada bantuan militernya pun berhak digunakan oleh kalangan LSM/Volunter manapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal di tengah konflik yang masih terus berlangsung saat itu, saya bisa mengerti resiko berat yang ditanggungnya. Dualisme antara nurani dan berpegang teguh pada perintah (politik) komando atasannya. Saya bisa menangkap pesan ini dari obrolan-obrolan ringan dengannya. Dalam setiap malam rapat satuan koordinasi pelaksana (SatKorLak), selama 2 bulan lebih, beliau langsung memimpin rapat. Mengatur setiap bantuan dan teknis pelaksanaan. Cara militer memang efektif, tidak bertele-tele dan tepat sasaran. Berbeda dengan setelah masa rehabilitasi diserahkan kembali kepada sipil 3 bulan kemudian, dimana terlalu banyak intrik, kongkalikong yang mencium-cium kesempatan. Perbedaan mencolok yang saya lihat dengan mata kepala sendiri saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala keputusan ala militer saat itu hanyalah untuk bantuan dan keselamatan warga. Bahkan daerah rawan kontak senjata pun diterjang demi sampainya bantuan di daerah-daerah belum terjamah. Pernah 2 truk tentara dan personil pun dikirimkannya menemani tim saya survei ke daerah yang sangat minim menerima bantuan. Terbayang bagaimana tentara-tentara ini dalam kondisi <em>dag dig dug</em> melewati daerah rawan, dan kemudian setiba di sana pun mereka turut membagi-bagi bantuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepenggal cerita dari mereka-mereka yang mau melakukan akselerasi untuk sedikit perubahan yang lebih baik. Para Tentara Revolusioner.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><em>&#8220;Kalau             kita berbicara mengenai moralitas, saya minta dikembalikan lagi. Apakah penculikan itu bermoral? Apakah permainan-permainan yang menimbulkan kerusuhan Mei itu bermoral? Apakah penembakan-penembakan dan tindakan-tindakan di luar batas-batas profesionalitas             sebagai tentara terhadap mahasiswa itu bermoral? Termasuk juga             masalah-masalah di Timor Timur dan Aceh. Apakah itu bermoral? Saya             kembalikan lagi. Jangan keluar dari kenyataan. Itu sangat tidak             bermoral dan sangat merusak kredibilitas TNI sebagai tentara yang seharusnya dicintai rakyat,&#8221;</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>-<a title="Letnan Jenderal (alm) Agus Wirahadikusuma" href="http://www.gatra.com/2001-08-30/artikel.php?id=9812" target="_blank">Letnan Jendral (Alm) Agus Wirahadikusma</a>-</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>(bersambung)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/23/revolusioner-part-1-tentara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Presiden Penyair</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/20/presiden-penyair/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/20/presiden-penyair/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 01:47:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[jimmy carter]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[seno]]></category>
		<category><![CDATA[timur tengah]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=300</guid>
		<description><![CDATA[Disaat pemilu di USA semakin memanas, nama Jimmy Carter dua kali sempat disebut-sebut. Pertama adalah isu akan adanya dukungan Jimmy Carter terhadap Obama. Di lain versi, konspirasi muncul dimana pernyataan &#8220;berandai-andai&#8221; bahwa keberpihakan Carter terhadap Obama adalah karena kemiripan mereka &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/20/presiden-penyair/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_514144_499.jpg" alt="Jimmy Carter" width="290" height="427" />Disaat pemilu di USA semakin memanas, nama <a title="Jimmy Carter" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jimmy_Carter" target="_blank">Jimmy Carter</a> dua kali sempat disebut-sebut. Pertama adalah isu akan adanya <a title="Carter - Obama" href="http://www.antara.co.id/arc/2008/4/4/jimmy-carter-isyaratkan-akan-dukung-obama/" target="_blank">dukungan Jimmy Carter terhadap Obama</a>. Di lain versi, konspirasi muncul dimana pernyataan &#8220;berandai-andai&#8221; bahwa keberpihakan Carter terhadap Obama adalah karena kemiripan mereka berdua dalam berpolitik. Isu versi lain yang lebih keras malah lebih buruk, <em>&#8220;Obama akan sama buruknya dengan Carter&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-300"></span>Memang itu cuma cerita negeri orang. Tetapi justru isu itu membuat saya teringat dengan sebuah cerita tentang Carter, sang mediator perjanjian damai bersejarah antara Mesir dan Israel itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Carter dikenal sebagai Presiden USA yang paling lembek &#8211; dalam arti kebanggaan sensasional USA yang &#8220;gagah&#8221; ala Rambo membabat Vietnam. Kesan ini muncul karena kebijakan politik nya yang lemah dalam kasus penyanderaan di Kedubes Teheran 1979.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya Carter bukan orang yang <em>lembek-lembek</em> amat. Layaknya anak desa dengan mimpi tinggi dan  berprestasi, Carter memulai karir di <em>Naval Academy</em> dengan predikat Sarjana Fisika. Kecintaannya pada Angkatan Laut, terutama ilmu submarine/selam, membuat Carter muda ingin terus belajar mengenai teknologi kapal laut. Pada tahun 1953, sekolah training ilmu nuklir pun dijajalnya. Carter sangat yakin nuklir akan menjadi bagian penting dari<em> Submarine Ship</em> di masa mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya beberapa bulan kemudian, ditahun yang sama, ayahnya meninggal dunia. Dan keadaan ini membuatnya harus berhenti sekolah, sekaligus keluar dari kedinasan dengan pangkat terakhir Letnan. Carter pulang ke kampung halaman, menutup lembaran mimpinya menjadi seorang Jenderal AL USA. Tanggal 17 januari 1955, kapal selam nuklir pertama USA yang seharusnya diujicoba olehnya, berlayar di perairan pasifik.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke kampung halaman menjadi petani kacang. Pembawaannya memang bukanlah seseorang yang populis. Malah cenderung puitis. Tidak ada dramatisasi dengan nasib yang menimpa dirinya. <em>&#8220;Saya tidak punya buruh dan saya juga tidak punya pelanggan,&#8221;</em> katanya. Dengan kondisi sebagai petani kacang yang <em>nyambi</em> usaha  keluarga di penjualan pupuk, kesan yang tertangkap hidupnya amatlah santai. Santai yang bermanfaat dimana dia justru menyempatkan diri kembali bergulat dengan banyak buku. Sialnya, Carter menggemari antologi puisi. Fans berat <a title="Dylan Thomas" href="http://www.dylanthomas.com/" target="_blank">Dylan Thomas</a>, penyair terkenal dari Wales. Seorang penyair yang mengenalkan istilah <em>&#8220;After the first death there is no other&#8221; </em>, yang juga dikutip oleh film terkenal <em>Dangerous Minds</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jiwa sosial yang mengalir dari <a title="Lillian Gordy Carter" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lillian_Gordy_Carter" target="_blank">ibu-nya</a> yang kemudian membuat Carter aktif dalam berbagai organisasi sosial. Dan memang karena visi-visi nya yang brilian (seperti halnya visi akan Nuklir di kapal selam), justru membuat orang terkagum-kagum. Namanya melejit cepat. Karir politik dimulainya dengan bergabung di Senat Georgia dan kemudian menjadi Gubernur. Pada 1976 Carter berhasil menjadi Presiden USA. Kemenangannya ditandai dengan terbitnya 2 buku inspiratif tentang visi politik Amerika yang baru untuk masa itu (<em>Why Not the Best?</em> dan <em>A Government as Good as Its People</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Kejenuhan rakyat Amerika dengan segala konflik Vietnam di masa Nixon memang menguntungkan kubu Carter, Partai Demokrat. Belum lagi ditambah kasus Watergate yang <em>unspokable</em> itu. Langkah mulus pun diraih Carter menuju kursi presiden, dielu-elukan oleh rakyat Amerika sebagai pecinta perdamaian dan berpihak pada kaum marginal.</p>
<p style="text-align: justify;">Rakyat Amerika mengenalnya sebagai Presiden dengan kemampuan verbal yang hebat, tidak hanya seorang pembaca yang tekun, tetapi juga pecinta puisi. Puisi-puisi kesukaannya tidak saja hanya tulisan Dylan Thomas dan James Dickey yang biasanya menjadi makanan anak-anak Sastra. Puisi-puisi milik kaum marginal sekelas &#8220;pengamen&#8221; Bob Dylan pun dikuasainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi politik dalam hubungannya dengan kekuasaan, memang memerlukan aksi yang dramatik penuh sensasional, bukan malah puitik. Seperti ketika Bush Tua menggelar  Perang Gurun, atau Bill Clinton yang merudal Irak, atau paling terkenal si Keras Kepala Bush Muda yang secara dramatis mengecam negara-negara penggangu sebagai biang kerok teroris. Sayangnya Carter terlalu lembek untuk hal-hal teaterikal seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di pemilihan selanjutnya Carter kalah oleh seorang aktor kelas dua yang sering bermain film koboi, Ronald Reagan. Ternyata seberbudaya-budayanya Amerika, mereka lebih suka melihat dirinya sebagai koboi ketimbang penyair.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan beberapa hari lalu, kembali Carter ber<em>puisi</em> dengan gayanya. Membuat panas kuping-kuping politisi di USA sendiri. Secara sepihak, <a title="Carter Bertemu Khaled - Hamas" href="http://www.kapucino.org/wp-admin/Carter membuat pertemuan dengan Khaled Meshaal, pemimpin Hamas" target="_blank">Carter membuat pertemuan dengan Khaled Meshaal, pemimpin Hamas</a>, untuk membahas perihal perjanjian damai antar Israel dan Palestina, dengan poin pokok adalah pembukaan blokade oleh Israel di Gaza, dan pertukaran sandera. &#8220;Puisi&#8221;-nya  kali ini justru mendapat kecaman dari negaranya sendiri, dan jelas satu lagi oleh Israel yang mana dalam buku terbaru Carter disebut-sebut melakukan politik serupa apartheid di Palestina. Bagi USA dan Israel, Hamas adalah teroris, dan berarti tidak ada kewajiban untuk mengikutkan mereka dalam negosiasi. Sementara Carter berpendapat bahwa Hamas adalah kelompok pemenang Pemilu di Palestina, maka sewajarnya melibatkan mereka dalam proses perdamaian.</p>
<p style="text-align: justify;">Jimmy Carter tentu sangat mengerti soal setingan politik dalam proses menuju damai antara kedua negara itu. Perdamaian bukan lagi menjadi kebutuhan manusiawi, tidak butuh sebuah nurani. Tertutup oleh kebutuhan politik penguasa. Persis seperti sebuah bait puisi Dylan Thomas yang digemarinya, yang mempertanyakan &#8220;apakah tangan-tangan kekuasaan mempunyai hati?&#8221;</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Great is the hand that holds dominion over Man by a scribbled name.</p>
<p>The five kings count the dead but do not soften</p>
<p>The crusted wound nor stroke the brow :</p>
<p>A hands rule pity as a hand rules heaven :</p>
<p>Hands have no tears to flow&#8230;</p>
<p style="text-align: right;"><em>The Hands that Signed the Paper &#8211; Dylan Thomas</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: justify;">Bahasan saya inii tidak berbicara tentang politik luar atau dalam negeri. Seperti kata saya diawal, saya tiba-tiba saja hanya ingin bercerita tentang tokoh satu ini. Carter memang bukan seorang orator hebat layaknya Soekarno atau Sang Mastro Fidel Castro. Bukan pula seorang aktor kawakan sekelas Reagan atau Arnold Scwazeneger atau pun Rano Karno dan Dede Yusuf. Apalagi jika anda sandingkan dengan para inspirator sekelas Mahatma Gandhi dan Bunda Theresa.</p>
<p style="text-align: justify;">Jimmy Carter hanyalah seorang presiden dengan apa adanya yang dia miliki, dan ia sangat menyadari bahwa kekuasaan hanyalah tangan-tangan yang menandatangani kertas-kertas. Seperti kata bait terakhir puisi Dylan diatas, sebuah kalimat yang sangat sering dikutip Jimmy Carter, dan juga membuat saya terpekur ketika mengulang-ulang membaca maksud kutipan ini di kolomnya Seno, <strong></strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>&#8220;Yeah, thats right..Hands Have No Tears to Flow&#8230;&#8221;</strong></em></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/20/presiden-penyair/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Intermezzo Kelulusan</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/03/15/intermezzo-kelulusan/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/03/15/intermezzo-kelulusan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 20:20:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[tunanetra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/03/15/intermezzo-kelulusan/</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum melanjutkan cerita part two dari cerita &#8220;Menara Gading&#8221;, pendek saja sebagai pengantar tentang hari kelulusan dan wisuda. Supaya nantinya ga terlalu sensitif buat para penganut skripsi ra rampung-rampung. Ada sebuah candaan lama saya dan teman-teman dulu : &#8220;kecantikan/ketampanan fisik &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/03/15/intermezzo-kelulusan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://photos-c.ak.facebook.com/photos-ak-sctm/v213/68/23/661293665/n661293665_442094_6501.jpg" height="406" width="290" />Sebelum melanjutkan cerita <em>part two</em> dari cerita <a href="http://www.kapucino.org/2008/03/13/menara-gading-part-one/" title="Menara Gading Part One" target="_blank">&#8220;Menara Gading&#8221;</a>, pendek saja sebagai pengantar tentang hari kelulusan dan wisuda. Supaya nantinya <em>ga</em> terlalu sensitif buat para penganut <a href="http://wiki.cahandong.org/Skripsi" title="Skripsihh..." target="_blank">skripsi ra rampung-rampung</a>.</p>
<p align="justify"><span id="more-266"></span>Ada sebuah candaan lama saya dan teman-teman dulu : &#8220;kecantikan/ketampanan fisik berbanding terbalik dengan kecerdasan akademik (a.k.a. Indeks Prestasi)&#8221;.  Ini hanya <em>gojekan kere</em>, tidak usah dianggap serius. Tetapi dalam urusan politik bisa saja 2 hal ini menjadi penting dan absolute. Biang masalah bagi yang tersangkut paut bikin mumet dan ruwet.</p>
<p align="justify">Saya membaca berita ada 2 wanita cantik nan hebat asal Banten ribut-ribut soal ijazah. Ternyata urusan cantiknya fisik dan ijazah harus sejalan dalam politik. Kalau tidak urusannya bisa ramai seperti <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/15/time/014243/idnews/908692/idkanal/10" title="Cantik menuntut yang cantik..." target="_blank">ini</a>.</p>
<p align="justify">Kalau boleh saya membandingkan ributnya 2 wanita di atas dengan kisah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/David_Paterson" title="David A. Paterson" target="_blank">David A. Paterson</a> si Gubernur NY yang baru, saya jadi sakit perut. Si David ini adalah seorang <strong>Tunanetra</strong> pengganti Spitzer yang tersangkut <a href="http://hermansaksono.blogspot.com/2008/03/emperors-club-vip.html" title="Momon paling ngerti urusan ginian..." target="_blank">skandal sex tingkat tinggi</a> itu. David adalah seorang pengacara handal yang buta dan alumni Columbia University. Kalau buta bisa dianggap kekurangan fisik, maka singkat kata saya boleh katakan <em>&#8220;Gile,..udah buta, jadi gubernur pulak&#8221;</em>.</p>
<p align="justify">Ngomong-ngomong bicara tunanetra dan kesempatan, saya jadi ingat Indonesia.<br />
<em> Eh, ntar dulu, Leks&#8230;Jangan bilang lu mau samain Indo ama USA. Beda dunk. Mereka udah ratusan tahun umur demokrasinya</em>.<br />
Ya ya ya, jawaban pragmatis standar dan <em>common used</em>.<br />
Jangankan bicara kesempatan jadi gubernur, kesempatan belajar saja masih harus kita pikirkan bagi saudara-saudara kita penyandang cacat di negeri ini.</p>
<p align="justify">Eh tapi,..Kok, saya tiba-tiba jadi teringat si mantan presiden kita yang suka kedip-kedip itu yak&#8230;</p>
<p align="justify"><em>Whatever</em>-lah.. Yang pasti ada seorang wisudawati pintar nan cantik di Sabtu kemarin pas saya di Bandung. <img src='http://www.kapucino.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Gambar dicomot dari <a href="http://farm2.static.flickr.com/1359/1200543186_96e1790022_o.jpg" title="Gambar Wisuda Original" target="_blank">sini </a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/03/15/intermezzo-kelulusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

