Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)

Selamat Menikmati Bulan Juni yang penuh cinta. Bulan Juni yang penuh nista. Dan bulan-bulan lain yang menunggu derita.

Semoga Mendung Tidak Turun Sore Ini

Kapal-kapal nelayan beranjak ketika senja berakhir, sementara hidup di remang-remang halogen kota, dimulai dalam detak hasrat yang memuncak mengguncang nadir. Pacuan hidup menggeliat batas-batas kala dari 4 penjuru mata angin. Masing-masing dalam sendiri memikirkan waktu terbaik untuk berkata “Mari kita Selesaikan Malam ini..”

Continue reading

Leksa

LeksaBunuh saja aku
Silahkan ambil sukmaku kapanpun kau mau
Tapi jangan ragaku
Secuil nafas aku rasa sudah cukup

 

Dan aku pasti terbebas dari kotak kaca-mu

 

SC-E02, 3 Januari 2006 2007

 

 

 

 

 

 

 

update 4 Jan 2007 : Tahun di Edit

Solitude

Solitude

Dunia “rasa” meradang oleh peristiwa angkara pesanggrahan bubat jawa.

Dentuman “gundah” di hati Sang Maha Raja berubah “gulana” murka seketika

karena cita-cita Sang Maha Patih yang dititah akan kemerdekaan Nusantara

 

Kisah yang sama oleh Nietzsche yang gila

Dalam Zarasutra ia romantis bercerita..

dimanakah “rasa” yang bertarung dengan logika?

kemanakah intelektual menggiring cinta?

 

 

Hei manusia logika yang sombong oleh intelek..!!

Tidak cukup sekedar “OK”, okey?

Kesaksian Sederhana

Kesaksianku tentang dunia hanya bisa sederhana

Karena jenis dan standart kebahagianku juga biasa-biasa saja

Kaki hidupku tidak meloncat menggapai langit

Tak ada yang kukejar sampai lari terbirit-birit

Tanganku tidak mengacungkan tinju ke angkasa

Sebab tak ada satu unsur apapun dalam kehidupan ini yang membuatku kagum dan terpana

Kekuatanku tidak akan menyentuh siapa-siapa

Karena aku tidak tertarik pada kemenangan atas manusia

Kubelanjakan tenagaku hanya sedikit saja

Sebab atas segala yang lemah, hatiku tidak berdaya

Kalaupun pikiranku mengembara sampai ke ruang hampa

Hatiku sudah lama selesai dan tak meminta apa-apa

Tak ada sekilasanpun padaku mimpi menaklukkan dunia

Sebab dunia sangat murah harganya dan hanya beberapa tetes keringat dari badanku yang kurelakan untuknya

Tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diri

Karena jenis kelemahanku adalah kebiasaan untuk mentertawakan diriku sendiri

Jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungku

Volume kepalaku tidak membesar dan hatiku tetap bisa mengantuk

Jika mereka menemukan kebenaran sehingga bisa menghinaku

Helai-helai buluku tidak berdiri bahkan kantukku bertambah lelap

Kebesaran dan kegagahan amat sangat aku remehkan

Dan tak akan pernah kukenakan sebagai pakaian

Apabila dunia menyangka aku mencintainya dan ingin mengawininya

Tentu karena ia tak tahu aku sudah mentalaknya sebelum pernah mencintainya

Barang siapa kegagahannya mendatangiku dan menggertak

Kusihir ia jadi katak

Dari kumpulan puisi Runtuh – Kiai Kanjeng