<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; puisi</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Dalam Doaku</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/05/dalam-doaku/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/05/dalam-doaku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 11:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/06/05/dalam-doaku/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang<br />
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening<br />
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening<br />
karena akan menerima suara-suara</p>
<p align="left">
<p>Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,<br />
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang<br />
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya<br />
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin<br />
yang mendesau entah dari mana</p>
<p align="left">
<p>Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung<br />
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,<br />
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu<br />
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan<br />
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu</p>
<p align="left">
<p>Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang<br />
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat<br />
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya<br />
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku</p>
<p align="left">
<p>Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,<br />
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit<br />
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia<br />
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi<br />
bagi kehidupanku</p>
<p align="left">
<p>Aku mencintaimu.<br />
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan<br />
keselamatanmu</p>
<p align="left">
<p><em> (Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak<br />
“Hujan Bulan Juni”)</em></p>
<p align="left">
<p align="left">
<p><strong>Selamat Menikmati Bulan Juni yang penuh cinta. Bulan Juni yang penuh nista. Dan bulan-bulan lain yang menunggu derita.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/05/dalam-doaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semoga Mendung Tidak Turun Sore Ini</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/29/semoga-mendung-tidak-turun-sore-ini/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/29/semoga-mendung-tidak-turun-sore-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 19:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[senja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Kapal-kapal nelayan beranjak ketika senja berakhir, sementara hidup di remang-remang halogen kota, dimulai dalam detak hasrat yang memuncak mengguncang nadir. Pacuan hidup menggeliat batas-batas kala dari 4 penjuru mata angin. Masing-masing dalam sendiri memikirkan waktu terbaik untuk berkata &#8220;Mari kita &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/29/semoga-mendung-tidak-turun-sore-ini/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_533011_7062.jpg" alt="" width="290" height="218" />Kapal-kapal nelayan beranjak ketika senja berakhir, sementara hidup di remang-remang halogen kota, dimulai dalam detak hasrat yang memuncak mengguncang nadir. Pacuan hidup menggeliat batas-batas kala dari 4 penjuru mata angin. Masing-masing dalam sendiri memikirkan waktu terbaik untuk berkata <em>&#8220;Mari kita Selesaikan Malam ini..&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-313"></span>Kau tahu itu artinya apa? Karena mereka tidak pernah bisa memiliki senja yang sekedar dilewati indahnya. Sekedar melewati batas-batas, antara semringis mentari dan kelam malam sebelum bulan diufuk timur menari. Senja tidak terjamah rupa-rupa manusia kota. Bahkan tidak untuk ku atau pun kau yang sering lupa waktu di antara hari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Gelap dan terang, keduanya berlangsung lama dalam hitungan waktu. Tetapi tapal batas keduanya hanya seperti jeda dan hela napas. Ketika subuh datang, justru di saat lelap menggelayut dibalik selimut-selimut wangi milik kita. Ketika senja datang, rasa lelah menutupi kesadaran-kesadaran kita seperti tertidur. Aku melihat tidak ada bedanya antara subuh dan senja, tetapi aku lebih memilih untuk menikmati senja. Waktu ku cukup banyak untuk menandai detik-detik senja.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan kau masukkan gernaha sebagai jawantah tapal batas. Bathara Kala dalam cerita bisa marah jika kau samakan dia dengan senja. Para pecinta senja guratan Seno juga akan bersedih jika babak senja yang indah dalam karya-karyanya disamakan demikian. Bukan karena gerhana tidak indah, bukan karena Bathara Kala bermuka durjana nan nista, sedang senja mewakili rasa-rasa roman yang membuat setiap hati redam. Hanya saja tak elok jika menyandingkan sebuah rubi kuning keemasan dengan selendang emas yang kemilaunya sepanjang batas cakrawala.</p>
<p style="text-align: justify;">Kabarnya matahari tidak pernah tenggelam di negeri senja. Aku yakin kau sudah baca babak itu dalam Negeri Senja. Pintar sekali Seno menggambarkan keindahan senja. Aku tidak pernah kuasa mendeskripsikannya seperti itu, selain dalam mimpi-mimpi yang kadang aku ingat atau tidak. Apalagi sambil menunggang unta. Setahu ku, kuda saja jarang yang mau diajak berjalan melintasi padang safana dengan latar belakang senja. Entah darimana ide lelaki itu membawa unta sebagai perias latar cerita.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga mendengar kabar, banyak orang-orang dari Tugu Yogyakarta ingin menuju ke sana, ke Negeri Senja. Entah kenapa. Aku hanya tahu satu arah perihal senja. Ketika bukit-bukit di Pasundan baru saja menyelesaikan babak senjanya, justru aku menuju arah berlawanan dari sang senja. Menuju timur menumpang batas gerbong kereta, meninggalkan senja di ufuk barat yang masih menyisakan kemilaunya. AKu masih bisa melihat redupnya turun perlahan, sembunyi-sembunyi membuka pintu kereta yang melaju kencang. Lalu gelap, hanya ada suara besi dan tiupan angin malam, tersadar sedetik kemudian sudah berada di Stasiun Yogya dengan latar suara pengajian subuh yang sumbang oleh kaset yang diputar bertahun-tahun lamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kau salah jika menilaiku tidak menikmati senja ufuk barat. Jelas aku menikmati. Prasangka mu ada resah di hatiku membawa segala roman duka, melarikan diri menuju gelap yang jumawa. Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya percaya senja juga ada di ufuk timur sana. Seperti senja yang ada di barat, selatan, utara, bahkan mata angin yang tidak terpetakan. Aku mencari senja-senja yang berbeda. Senja yang sedang bergulat dengan asa, mencari rasa dan terpekur dalam pikirnya yang tidak pernah sia-sia. Tetapi apakah senja-senja itu tahu kalau aku mencarinya? Entahlah..</p>
<p style="text-align: justify;">Biarkan itu menjadi rahasia dari setiap perjalananku. Yang pasti aku masih sempatkan hati berteduh sejenak di antara jalan kota, kampung, rel, laut dan sawah jika senja-senja itu tiba. Nikmati saja indahnya, seperti larik paragraph Seno mengagungkannya,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Segalanya serba keemasan ketika aku memasuki kota itu, serba merah keemas-emasan karena siraman cahaya matahari separuh yang bertengger di cakrawala itu. Kulihat cahaya senja seperti jalinan lembut benang-benang emas yang terpancang, dari matahari langsung ke jendela, ke dinding, ke pohon, dan ke daun-daun. Seperti garis-garis, seperti balok-balok, seperti tiang-tiang yang direbahkan. Rasanya baru sekali ini aku melihat cahaya berleret-leret begitu nyata, seolah-olah benda padat yang bisa dipegang. Tapi tentu saja cahaya bukan benda padat dan orang-orang berkerudung, bersorban, dan bersarung melewatinya sehingga cahaya itu seperti riak kolam yang tersibak-sibak. Cahaya itu menjadi terang dan gelap karena orang-orang yang lewat dan karena itu Negeri Senja seperti sebuah kota yang tenggelam dalam lautan cahaya sepenuhnya. Aku hanya seperti sebuah bayang-bayang yang berjalan. Kulihat bayang-bayangku sendiri menunggangi unta di tembok-tembok kota.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Negeri Senja &#8211; Seno Gumira</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Senja, semoga mendung tidak turun sore ini&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Gambar dari <a title="Only Senja Flickr" href="http://flickr.com/photos/onlysenja/2257993548/" target="_blank">Onlysenja</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/29/semoga-mendung-tidak-turun-sore-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/19/kartini/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/19/kartini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 19:24:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Menyambut Hari Kartini, saya persembahkan tulisan ini pada saudari-saudariku semua. BERSATULAH PELACUR-PELACUR KOTA JAKARTA Pelacur-pelacur kota Jakarta Dari kelas tinggi dan kelas rendah Telah diganyang Telah diharu-biru. Mereka kecut Keder Terhina dan tersipu-sipu Sesalkan mana yangmesti kau sesalkan Tapi jangan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/19/kartini/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-b.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_511585_4709.jpg" alt="" width="290" height="219" />Menyambut Hari Kartini,</p>
<p style="text-align: justify;">saya persembahkan tulisan ini pada saudari-saudariku semua.</p>
<p><span id="more-299"></span><br />
</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><span style="font-size:16px;font-weight:bold;">BERSATULAH PELACUR-PELACUR KOTA JAKARTA</span></p>
<p style="text-align: left;">Pelacur-pelacur kota Jakarta<br />
Dari kelas tinggi dan kelas rendah<br />
Telah diganyang<br />
Telah diharu-biru.<br />
Mereka kecut<br />
Keder<br />
Terhina dan tersipu-sipu<br />
Sesalkan mana yangmesti kau sesalkan<br />
Tapi jangan kau kleat putus asa.<br />
Dan relakan dirimu sebagi korban</p>
<p style="text-align: left;">Wahai, pelacur-pelacur kota Jakarta.<br />
Sekarang bangkitlah.<br />
Sanggul kembali rambutmu.<br />
Kerna setelah menyesal<br />
Datanglah kini giliranmu<br />
bukan untuk membela diri melulu<br />
Tapi untuk lancarkan serangan.<br />
Kerna:<br />
Sesalkan mana yangmesti kau sesalkan<br />
Tapi jangan rela kau dibikin korban.</p>
<p style="text-align: left;">Sarinah.<br />
Katakan kepada mereka<br />
Bagaimana kau dipanggil ke kantor mentri<br />
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu<br />
Tentang perjuangan nusa bangsa<br />
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal<br />
Ia sebut kau inspirasi revolusi<br />
Sambil ia buka kutangmu</p>
<p style="text-align: left;">Dan kau, Dasima<br />
Kabarkan kepada rakyat<br />
Bagaimana pemimpin revolusi<br />
Secara bergiliran memelukmu<br />
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi<br />
Sambil celananya basah<br />
Dan tubuhnya lemas<br />
Terkapai disampingmu.<br />
Ototnya keburu tak berdaya.</p>
<p style="text-align: left;">Politisi dan pegawai tinggi<br />
Adalah caluk yang rapi.<br />
Konggres-konggres dan konperensi<br />
Tak pernah berjalan tanpa kalian.<br />
Kalian tak pernah bisa bilang “tidak”<br />
Lantaran kelaparan yang menakutkan<br />
Kemiskinan yang mengekang<br />
Dan telah lama sia-sia mencari kerja.<br />
Ijazah sekolah tanpa guna.<br />
Para kepala jawatan<br />
Akan membuka kesempatan<br />
Kalau kau buka paha.<br />
Sedang di luar pemerintahan<br />
Perusahaan-perusahaan macet<br />
Lapangan kerja tak ada.</p>
<p style="text-align: left;">Revolusi para pemimpin<br />
Adalah revolusi dewa-dewa.<br />
Mereka berjuang untuk surga<br />
Dan tidak untuk bumi.<br />
Revolusi dewa-dewa<br />
Tak pernah menghasilkan<br />
Lebih banyak lapangan kerja<br />
Bagi rakyatnya.<br />
Kalian adalah sebagian kaum penganggur<br />
Yang mereka ciptakan.<br />
Namun<br />
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan<br />
Tapi jangan kau klewat putus asa<br />
Dan kau rela dibikin korban.</p>
<p style="text-align: left;">Pelacur-pelacur kota Jakarta<br />
Berhentilah tersipu-sipu.<br />
Ketika kubaca di Koran<br />
bagaimana badut-badut mengganyang kalian<br />
menuduh kalian sumber bencana Negara<br />
aku jadi murka.<br />
Kalian adalah temanku.<br />
Ini tak bisa dibiarkan.<br />
Astaga.<br />
Mulut-mulut badut.<br />
Mulut-mulut yang latah.<br />
Bahkan seks mereka perpolitikan.<br />
Saudari-saudariku.<br />
Membubarkan kalian<br />
Tidak semudah membubarkan partai politik.<br />
Mereka harus beri kalian kerja.<br />
Mereka harus pulihkan darjat kalian.<br />
Mereka harus ikut memikul kesalahan.</p>
<p style="text-align: left;">Saudarai-saudariku. Bersatulah.<br />
Ambilah galah.<br />
Kibarkan kutang-kutangmu di ujungnya.<br />
Araklah keliling kota<br />
Sebagai panji-panji yang telah mereka nodai.<br />
Kini giliranmu menuntut.<br />
Katakanlah kepada mereka:<br />
Menganjurkan mengganyang pelacuran<br />
Tanpa menganjurkan<br />
Mengawini bekas pelacur<br />
Adalah omong kosong.</p>
<p style="text-align: left;">Pelacur-pelacur kota Jakarta.<br />
Saudari-saudariku.<br />
Jangan melulu keder pada lelaki.<br />
Dengan mudah<br />
Kalian bisa telanjangi kaum palsu.<br />
Naikkan taripmu dua kali<br />
Dan mereka akan klabakan.<br />
Mogoklah satu bulan<br />
Dan mereka kan puyeng<br />
Lalu mereka akan berjina<br />
Dengan isteri saudaranya.</p>
<p style="text-align: left;"><em>(Rendra)</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>NB :</strong></p>
<p style="text-align: left;"><em>Dan teruntukmu dibalik bisu malam, </em></p>
<p style="text-align: left;"><em>percayalah kartini-ku, temanku itu pun sama busuknya dengan politisi tengik, karena ia memang calon politisi.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/19/kartini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Leksa</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/01/03/leksa/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/01/03/leksa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 15:35:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/01/03/leksa/</guid>
		<description><![CDATA[Bunuh saja aku Silahkan ambil sukmaku kapanpun kau mau Tapi jangan ragaku Secuil nafas aku rasa sudah cukup &#160; Dan aku pasti terbebas dari kotak kaca-mu &#160; SC-E02, 3 Januari 2006 2007 &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; update &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/01/03/leksa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://photos.friendster.com/photos/11/34/8464311/1_513591366l.jpg" alt="Leksa" align="right" height="295" hspace="7" width="175" />Bunuh saja aku<br />
Silahkan ambil sukmaku kapanpun kau mau<br />
Tapi jangan ragaku<br />
Secuil nafas aku rasa sudah cukup</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Dan aku pasti terbebas dari kotak kaca-mu</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="right"><em>SC-E02, 3 Januari <strike>2006</strike> 2007<br />
</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p><em>update 4 Jan 2007 : Tahun di Edit</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/01/03/leksa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solitude</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/11/18/solitude/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/11/18/solitude/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Nov 2007 14:26:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/11/18/solitude/</guid>
		<description><![CDATA[Dunia &#8220;rasa&#8221; meradang oleh peristiwa angkara pesanggrahan bubat jawa. Dentuman &#8220;gundah&#8221; di hati Sang Maha Raja berubah &#8220;gulana&#8221; murka seketika karena cita-cita Sang Maha Patih yang dititah akan kemerdekaan Nusantara &#160; Kisah yang sama oleh Nietzsche yang gila Dalam Zarasutra &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/11/18/solitude/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://www1.istockphoto.com/file_thumbview_approve/1040439/2/istockphoto_1040439_solitude.jpg" alt="Solitude" height="380" width="266" /></p>
<p align="justify">Dunia &#8220;rasa&#8221; meradang oleh peristiwa angkara pesanggrahan bubat jawa.</p>
<p align="justify">Dentuman &#8220;gundah&#8221; di hati Sang Maha Raja berubah &#8220;gulana&#8221; murka  seketika</p>
<p align="justify">karena cita-cita Sang Maha Patih yang dititah akan kemerdekaan Nusantara</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Kisah yang sama oleh Nietzsche yang gila</p>
<p align="justify">Dalam Zarasutra ia romantis bercerita..</p>
<p align="justify"><em>dimanakah &#8220;rasa&#8221; yang bertarung dengan logika?</em></p>
<p align="justify"><em>kemanakah intelektual menggiring cinta?</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Hei manusia logika yang sombong oleh intelek..!!</p>
<p align="justify">Tidak cukup sekedar <strong>&#8220;OK&#8221;</strong>, <em>okey</em>?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/11/18/solitude/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan..</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/07/27/jangan/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/07/27/jangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jul 2007 21:15:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[My Live]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/07/27/jangan/</guid>
		<description><![CDATA[Malam berdenyut lemah saat ini, namun sedegup napas datang beraroma sama seperti rasa lama.. Dan berikhtiarlah sang logika&#8230; &#8220;&#8230;sepertinya aku harus segera pergi!&#8221; Leksa &#8211; 27 Juli 2007, 04.15 WIB]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam berdenyut lemah saat ini,</p>
<p>namun sedegup napas datang</p>
<p>beraroma sama seperti rasa lama..</p>
<p>Dan berikhtiarlah sang logika&#8230;</p>
<p>&#8220;&#8230;sepertinya aku harus segera pergi!&#8221;</p>
<blockquote><p>                              <em>Leksa &#8211; 27 Juli 2007, 04.15 WIB</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/07/27/jangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesaksian Sederhana</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/07/25/kesaksian-sederhana/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/07/25/kesaksian-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 10:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/07/25/kesaksian-sederhana/</guid>
		<description><![CDATA[Kesaksianku tentang dunia hanya bisa sederhana Karena jenis dan standart kebahagianku juga biasa-biasa saja &#8230; Kaki hidupku tidak meloncat menggapai langit Tak ada yang kukejar sampai lari terbirit-birit &#8230; Tanganku tidak mengacungkan tinju ke angkasa Sebab tak ada satu unsur &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/07/25/kesaksian-sederhana/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesaksianku tentang dunia hanya bisa sederhana</p>
<p>Karena jenis <em>dan standart</em> kebahagianku juga biasa-<em>biasa</em> saja</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Kaki hidupku tidak meloncat menggapai langit</p>
<p>Tak ada yang kukejar sampai lari terbirit-birit</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Tanganku tidak mengacungkan tinju ke angkasa</p>
<p>Sebab tak ada satu unsur apapun dalam kehidupan ini yang membuatku kagum dan terpana</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Kekuatanku tidak akan menyentuh siapa-siapa</p>
<p>Karena aku tidak tertarik pada kemenangan atas manusia</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Kubelanjakan tenagaku hanya sedikit saja</p>
<p>Sebab atas segala yang lemah, hatiku tidak berdaya</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Kalaupun pikiranku mengembara sampai ke ruang hampa</p>
<p>Hatiku sudah lama selesai dan tak meminta apa-apa</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Tak ada sekilasanpun padaku mimpi menaklukkan dunia</p>
<p>Sebab dunia sangat murah harganya dan hanya beberapa tetes keringat  dari badanku yang kurelakan untuknya</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diri</p>
<p>Karena jenis kelemahanku adalah kebiasaan untuk mentertawakan diriku sendiri</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungku</p>
<p>Volume kepalaku tidak membesar dan hatiku tetap bisa mengantuk</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Jika mereka menemukan kebenaran sehingga bisa menghinaku</p>
<p>Helai-helai buluku tidak berdiri <em>bahkan </em>kantukku bertambah lelap</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Kebesaran dan kegagahan amat sangat aku remehkan</p>
<p><strong>Dan tak akan pernah kukenakan sebagai pakaian</strong></p>
<p>&#8230;</p>
<p>Apabila dunia menyangka aku mencintainya dan ingin mengawininya</p>
<p>Tentu karena ia tak tahu aku sudah mentalaknya sebelum pernah mencintainya</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Barang siapa kegagahannya mendatangiku dan menggertak</p>
<p>Kusihir ia jadi katak</p>
<p align="right"><em>Dari kumpulan puisi Runtuh &#8211; Kiai Kanjeng </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/07/25/kesaksian-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

