<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; Quote</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/quote/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kesaksian Sederhana</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/07/25/kesaksian-sederhana/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/07/25/kesaksian-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 10:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/07/25/kesaksian-sederhana/</guid>
		<description><![CDATA[Kesaksianku tentang dunia hanya bisa sederhana Karena jenis dan standart kebahagianku juga biasa-biasa saja &#8230; Kaki hidupku tidak meloncat menggapai langit Tak ada yang kukejar sampai lari terbirit-birit &#8230; Tanganku tidak mengacungkan tinju ke angkasa Sebab tak ada satu unsur &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/07/25/kesaksian-sederhana/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesaksianku tentang dunia hanya bisa sederhana</p>
<p>Karena jenis <em>dan standart</em> kebahagianku juga biasa-<em>biasa</em> saja</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Kaki hidupku tidak meloncat menggapai langit</p>
<p>Tak ada yang kukejar sampai lari terbirit-birit</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Tanganku tidak mengacungkan tinju ke angkasa</p>
<p>Sebab tak ada satu unsur apapun dalam kehidupan ini yang membuatku kagum dan terpana</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Kekuatanku tidak akan menyentuh siapa-siapa</p>
<p>Karena aku tidak tertarik pada kemenangan atas manusia</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Kubelanjakan tenagaku hanya sedikit saja</p>
<p>Sebab atas segala yang lemah, hatiku tidak berdaya</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Kalaupun pikiranku mengembara sampai ke ruang hampa</p>
<p>Hatiku sudah lama selesai dan tak meminta apa-apa</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Tak ada sekilasanpun padaku mimpi menaklukkan dunia</p>
<p>Sebab dunia sangat murah harganya dan hanya beberapa tetes keringat  dari badanku yang kurelakan untuknya</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diri</p>
<p>Karena jenis kelemahanku adalah kebiasaan untuk mentertawakan diriku sendiri</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungku</p>
<p>Volume kepalaku tidak membesar dan hatiku tetap bisa mengantuk</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Jika mereka menemukan kebenaran sehingga bisa menghinaku</p>
<p>Helai-helai buluku tidak berdiri <em>bahkan </em>kantukku bertambah lelap</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Kebesaran dan kegagahan amat sangat aku remehkan</p>
<p><strong>Dan tak akan pernah kukenakan sebagai pakaian</strong></p>
<p>&#8230;</p>
<p>Apabila dunia menyangka aku mencintainya dan ingin mengawininya</p>
<p>Tentu karena ia tak tahu aku sudah mentalaknya sebelum pernah mencintainya</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Barang siapa kegagahannya mendatangiku dan menggertak</p>
<p>Kusihir ia jadi katak</p>
<p align="right"><em>Dari kumpulan puisi Runtuh &#8211; Kiai Kanjeng </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/07/25/kesaksian-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kisah Tentang UN 2007</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/07/02/sebuah-kisah-tentang-un-2007/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/07/02/sebuah-kisah-tentang-un-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jul 2007 08:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[D'touch]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/2007/07/02/sebuah-kisah-tentang-un-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Gue memilih memposting ulang cerita ini. Walau gue udah jarang sekali terlibat dengan si penulis, tapi ketika beliau mengirim cerita ini, perasaan serasa diaduk-aduk. Kepada ibu guru Puti , saya minta ijin untuk memposting cerita ini. 30 Juni 2007 Sabtu &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/07/02/sebuah-kisah-tentang-un-2007/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gue memilih memposting ulang cerita ini. Walau gue udah jarang sekali terlibat dengan si penulis, tapi ketika beliau mengirim cerita ini, perasaan serasa diaduk-aduk. Kepada ibu guru <a href="http://www.mahkotalima.blogspot.com/" title="Puti blogs" target="_blank">Puti</a> , saya minta ijin untuk memposting cerita ini.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">30 Juni 2007</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sabtu lalu, tepatnya tanggal 23 Juni 2007, saya tersenyum sendiri sambil menyusuri tembok bermural yang berada di Jalan Siliwangi, Bandung. Saya baru mendapatkan sms dari seorang anak SMP yang sering belajar Matematika bersama saya semenjak ia kelas 1 SMP. Isinya, &#8220;Kak, ini Anis, Alhamdulillah Anis udah lulus UN, Anis mau makasih sama bantuan Kakak selama ini.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sms singkat yang bisa menyejukan hati saya, tapi saya sama sekali tidak menduga apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian tepatnya Selasa, 19 Juni 2007 yang lalu.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Pagi-pagi sekitar jam 8 pagi, 2 orang murid saya ( saya adalah guru Fisika di sebuah Madrasah) mendatangi tempat tinggal saya, mengabarkan bahwa 8 dari 10 murid saya tidak lulus Ujian Nasional. Alangkah kagetnya saya, dalam 4 tahun saya mengajar, baru kali ini ada murid saya yang dinyatakan tidak lulus.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span id="more-54"></span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Ternyata murid-murid saya baru mendapatkan kabar kegagalan ini sehari sebelumnya, 2 hari lebih telat dari yang seharusnya. Salah seorang rekan guru mendatangi rumah murid saya satu satu untuk menyampaikan kabar ini.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Â &#8221;Hari ini katanya kita disuruh ujian Paket B&#8221;, kata seorang murid saya,&#8221;anak-anak udah pada nunggu di rumah Pak X (ketua yayasan).&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Ternyata ujian akan berlangsung pada pukul 13.oo. Saya pun pergi ke rumah ketua Yayasan untuk bertemu anak-anak.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Di jalan menuju rumah Pak X. Murid saya bercerita bahwa di rumah ia dimarahi orang tuanya, &#8220;Bobogohan wae sih.. Makannya jadi bodo gak lulus sekolah&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Â &#8221;Padahal, Bu saya kan jadiannya juga baru setelah ujian, sebelumnya mah engga&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sesampai dirumahPak X, saya pun mengumpulkan anak-anak, dan bercerita tentang apa yang saya baca di koran, dan kejadian-kejadian menganai UN tahun lalu. Saya bercerita bahwa tahun lalu ada murid yang mendapatkan PMDK di IPB ( dimana PMDK dilihat dari prestasi murid selama 3 tahun) dan ada juga yang mendapatkan beasiswa sekolah ke Australia, tapi ternyata dinyatakan tidak lulus UN. Say katakana bahwa saya tahu banyak kecurangan terjadi di UN, tapi yang melakukan kecurangan pun diluluskan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Ia Bu, kan kita kemarin UN nya nebeng di SMP â€¦ (sekolah lain), kita liat sendiri kalau guru-gurunya ngasih contekan ke murid-muridnya, kita mah asli jujur, gak dapet contekan, tapi malah nga lulus&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Ia Bu tetangga pada bilang saya bodo, saya bodo, samapai nga lulus&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Engga kok, kalian nga bodo, saya tahu persis kok. Harusnya yang curang-curang juga gak dilulusin yah&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya tidak bohong, murid saya mungkin tidak jenius. Tapi saya tahu persis mereka tidak bodoh. Ya, memang tidak semuanya pandai secara akademik. Memang ada yang sediit tersendat-sendat di pelajaran matematika, misalnya. Tapi saya tahu persis bahwa ketika mereka mengajukan pertanyaan di kelas, pertanyaannya cukup cerdas, saya tahu bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Waktu saya menontonkan film tentang luar angkasa dan otak kepada mereka, mereka mengajukan berbagai macam pertanyaan. Bahkan mereka sibuk bercerita kepada temannya yang tidak bisa ikut menonton, dan temannya tersebut minggu depannya mengajak saya menontonkan film tersebut lagi. Saya beberapa kali meminjamkan mereka ensiklopedia, dan ternyata mereka benar-benar membaca ensiklopedia tersebut, dan mengajukan pertanyaan bila ada bagian yang tidak mereka mengerti. Ketika mereka saya ajak mengunjungi PLTA di Bandung ( Bareng Bandung Heritage) pun</span><span>Â  </span>mereka bertanya macam-macam, termasuk mengenai lingkungan. </p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya juga pernah mengajak mereka untuk membuat kompor dengan energi matahari, dan tanpa sepengetahuan saya mereka mencoba-coba sendiri kemampuan kompor matahari tersebut (saat saya tidak masuk).</p>
<p>Saya tahu persis bahwa kegagalan UN yang terjadi dengan mereka engga worthed.</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Ibu, saya udah daftar mau sekolah lagi di otomotif. Gimana mau sekolah lagi sekarang aja gak lulus.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya berkata bahwa hal tersebut bisa diperjuangkan, padahal, di dalam hati saya sangat sedih juga, saya teringat bahwa tahun-tahun sebelumnya hanya sedikit sekali murid saya yang melanjutkan ke tingkat SMU. Misalnya tahun sebelumnya hanya sekitar 5 dari 16 anak yang melanjutkan sekolah. Yang lain tidak melanjutkankarena biaya, sisanya menikah atau bekerja. Kalau dulu murid-murid saya biasanya bingung untuk sekolah lagi karena tidak ada biaya, sekarang selain harus memikirkan biaya, mereka pun berpikiran tidak mungkin melanjutkan sekolah lagi karena dinyatakan tidak lulus.&#8221;</p>
<p>Salah satu hal miris lainnya yang saya dengar hari itu adalah, &#8221; Ibu, da baru dikasih tahu ujiannya kemaren, saya teh bingung, gimana cari ongkosnya buat ketempat ujian. Kan ngedadak gitu. Bolak-balik kan sekitar 10ribu.&#8221;</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sekitar jam 10, saya dank ke-8 murid-murid saya pun berangkat menuju SMU8, Buah Batu, Bandung, tempat dimana diselenggarakan ujian paket B. Saya berjanji bertemu dengan teman saya, Nuri, guru Biologi. Kebetulan dulu SMU 8 adalah sekolah Nuri dulu.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Kami sampai disana sekitar jam 10.45, ternyata anak-anak belum makan, apa-apa dari rumah, kebteluan teman saya yang guru Biologi punya rezeki sehingga kami semua mendapatkan traktiran mie darinya. Saya pun mengingatkan anak-anak agar keesokan harinya membawa bekal untuk makan, dan sebaiknya makan pagi dulu.Â </span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Oia. Perlu saya ceritakan bahwa penyelenggaraan ujian paket B ini kacau sekali. Kata orang dari Dinas Pendidikan, pesertanya ada sekitar 1500 orang. Dan tempat ujiannya nga Cuma di SMU 8. Dan ternyata nomor ruangan tidak tertulis di kartu ujian, sehingga anak-anak harus mendatangi kelasnya satu persatu untuk mencari ruang kelasnya, dan mencari apa nomor ujian mereka ada di kelas tersebut. (Keesokannya saya baca di koran bahwa nomor ruang ujian diberitahukan kepada kepala sekolah, jadi salah sendiri kalau kepala sekolah tidak mengumumkan hal tersebut kepada muridnya. Bagaimanapun, seharusnya kalau ada ujian, nomor ruang ujiannya tertulis di kartu ujian, tidak bisa melalui pemberitahuan lisan saja.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Di SMU 8 tersebut banyak sekali siswa setingkat SMP, bahkan ada yang dari satu sekolah bisa mencapai lebih dari 20an anak.</p>
<p>&#8220;Banyak juga yah bu,&#8221;kata seorang murid saya,&#8221;Saya pikir cuma sekolah kita aja yang pada ngak lulus&#8221;</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Â </span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Hari pertama anak-anak ujian matematika dan Pancasila. Gagal di Ujian Nasional yang hanya terdiri dari 3 pelajaran (Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia), anak-anak harus ujian paket yang terdiri dari 6 mata pelajaran.</p>
<p>Selasa : Pancasila-Matematika</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Rabu </span><span>Â Â  </span>: Bahasa Indonesia â€“ IPS</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Kamis</span><span>Â  </span>: Bahasa Inggris â€“ IPA</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sambil menunggu anak-anak ujian, saya dan teman saya (guru Biologi) pun berjalan-jalan, rencananya untuk menanyakan informasi mengenai kapan hasil ujian, dan menanyakan di mana/nomor kontak information center dari Diknas, bila ada pertanyanyaan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya pun mendatangi salah satu panitia yang berada SMU 8. Ketika kami ditanya kami dari mana, kami menjawab dari Mts Al-Huda. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Di sana, kami melihat seorang ibu yang sedang curhat (dengan nada sedikit marah-marah) kepada panitia, kurang lebih intinya anaknya habis operasi amandel, dan tiba-tiba ada guru lewat (sepertinya guru sekolah anaknya) lalu ia pun memeluk guru tersebut dan menangis.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Lalu kami pun bertanya, kapan pengumuman hasil ujian, nomor kontak di Dinas Pendidikan yang bisa ditanya-tanya untuk tahu informasi yang diperlukan itu berapa dan siapa kontak personnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sayang sekali, perlakuan yang kami dapatkan dari panitia sangat tidak ramah, &#8220;Siapa sih tanya-tanya? Wartawan yah? Pasti bukan wartawan Galamedia! Kalau wartawan gala media, saya kenal! Kalau wartawan ke sana aja ke SMK3! Gak ada tempat buat wartawan di sini, wartawan udah dialihin ke sana semua!&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Alhasil, saya dan teman saya pun tidak mendapat jawaban yang kami inginkan. Kami pun memilih untuk pergi ke SMK3, siapa tahu dapat informasi di sana.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Kami pun mendatangi meja panitia. &#8220;Pak hasil ujiannya kira-kira kapan yah?&#8221; tanya kami.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Wah, persisnya gak tahu juga, Cuma kalau dari pengalaman tahun lalu paling cepat sebulan, bisa juga 1 Â½ bulan, kalau masyarakat banyak yang nuntut bisa aja lebih cepat.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Wah lama juga yah, padahal pendaftaran masuk SMU bentar lagi. Jadi pastinya belum tahu yah?&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Belum tahu, ini juga kan kita cuma pelaksana, kalau hasilnya tergantung dari pusat. Kalau di sini informasi suka cepat berubah-ubah. Tergantung dari pusat.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Kalau pusat informasi yang bisa ditanya-tanyain siapa yah? Atau nomor telepon yang bisa ditanyain untuk informasi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh datang aja ke Dinas Pendidikan, Jalan Ahmad Yani, bagian PLS, kalau nga ada juga, Tanya aja ke Pusat, ke Jakarta.&#8221;</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Berhubung kami masih ingin mengetahui informasi yang lebih jelas, akhirnya kami menyelonong masuk ke rombongan wartawan, yang sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pak Wawan, seorang dari dinas pendidikan.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Pak apakah nga mendadak nih ujian Paket B-nya, padahal kan hasil UN, baru diumumkan sekitar 3 hari yang lalu?&#8221; Tanya seorang wartawan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Tapi kan anak-anak sudah mendapatkan proses pembelajaran selama 3 tahun di sekolah, jadi seharusnya ngak menjadi masalah.&#8221; Jawab Pak Wawan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya pun menyelipkan sebuah pertanyaan, di sela-sela pertanyaan wartawan, &#8220;Pak ada gak nomor kontak yang bisa dihubungi orang tua bila ingin bertany-tanya mengenai informasi dari Paket B&#8221;</p>
<p>Akhirnya saya pun mendapatkan sebuah nomor telepon seseorang dari dinas pendidikan Jawa barat, yang katanya bisa ditanyai informasi.</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Tak terasa ternyata waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Anak-anak pun telah selesai ujian Pancasila, dan bisa beristirahat samapi pukul Â½ empat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya dan teman saya pun menghampiri anak-anak, dan ikut mendengarkan celotehan mereka</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Bu, ujian Pancasilanya lebih gampang daripada ujian sekolah&#8221; kata anak-anak.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;50 nomor ujiannya&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Bu ujian Pancasilanya kok lebih lama daripada matematikanya? Pancasila mah 2 jam, matematika sekitar satu Â½ jam.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Bu, nanti ijazahnya paket B yah? Udah susah-susah belajar di sekolah 3 tahun, ijazahnya paket B aja ya?&#8221;<br />
<span lang="IN"> </span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">&#8220;Besok ujian IPS, itu geografi, sejarah, ekonomi. Da buku Geografi di sekolah Cuma 3 itu juga dipegang sama anak cowo semua&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN"><br />
Pernyataan yang cukup miris lainnya. Ya, diantara-anak-anak tak satu pun yang memiliki buku teks pelajaran apapun. Kadang-kadang anak-anak meminjam buku pelajaran dari sekolah. Kalau untuk pelajaran Fisika dan Biologi, biasanya saya dan Nuri suka membuatkan</span><span>Â  </span>ringkasan di kertas A-4 sehingga bisa difotokopi dan dibagikan satu-satu ke anak-anak. Kalau ada ujian atau sejenisnya, paling anak-anak belajar dari catatan seadanya.</p>
<p>Tak lama setelah anak-anak sekolah ashar, bel pun berbunyi. Anak-anak harus mulai ujian matematika.
</p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Saya dan Nuri pun menyusun strategi untuk keesokan harinya. Misalnya meminta anak-anak menuliskan nama, alamat, dan sekolah (setingkat SMU) yang akan dituju. Kami memerlukan alamat anak-anak katerna tak satu pun di antara murid Al-Huda yang punya nomor telepon, sehingga nanti kalau ada yang perlu diinformasikan sesuatu kami harus mendatangi rumahnya satu-satu.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Sambil menunggu, saya dan Nuri pun mengobrol ngalor ngidul di samping ruang kelas tempat anak-anak ujian. Kami juga sempat ngobrol dengan seorang ibu dari Cileunyi yang sedang mengantarkan anaknya ikut ujian. Dia bercerita bahwa anaknya menangis selama 2 hari saat tahu tidak lulus UN, dan sebagai ibu pun ia turut menangis rasanya. Ia juga bercerita bahwa ia baru tahu ujian Paket B-nya sehari sebelumnya, sehingga kami pun tahu bahwa ternyata kabar yang mendadak tidak hanya terjadi di sekolah kami melainkan di sekolah lain juga. Dari hari sabtu hingga senin ia terus mencari informasi ke sekolah anaknya mengenai ujian paket B, tapi baru menddapat kabar hari Senin, tepat sehari sebelum ujian paket B.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Akhirnya ujian pun selesai sekitar pukul 17.oo. Saya, Nuri dan anak-anak pun telah bersiap untuk pulang. Anak-anak tampak sedikit lebih tenang dibandingkan ketika pagi hari. Tapi mereka tentu lelas sekali. Saya sarankan mereka untuk segera tidur setelah pulang, agar tak lelah keesokannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Ketika menuju gerbang SMU 8 untuk pulang, kami bertemu dengan mantan gurunya Nuri, Bapak Guru ini sempat berceloteh,&#8221;Gagal 3 ujian semua. Kalau kemarin yang kasian yang paket C. Itu tuh yang asalnya dari sekolah kejuruan, kayak STM, SMEA, dan macem-macem waktu ujian paket C bingung karena mesti ujian tata negara juga, sosiologi juga, dan banyak lagi, padahal dulu selama sekolah belum pernah belajar.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span lang="IN">Begitu banyak cerita yang didapatkan dalam sehari, tunggu kelanjutan untuk cerita hari kedua dan ketiga.</span></p>
<p><a href="http://mahkotalima.blogspot.com/2007/07/ujian-paket-b-cerita-hari-pertama.html" target="_blank">UjianPaket B Cerita Hari Pertama</a></p></blockquote>
<p style="text-align: justify">Sejujurnya gw adalah orang yang paling sepakat dengan peningkatan kualitas pendidikan, secara merata diseluruh penjuru Indonesia. Siapa yang tidak ingin kita memiliki kualitas sekolah, guru, dan murid yang baik diseluruh penjuru nusantara ini? Dan dari pemahaman itu, gue sepenuhnya setuju dengan pelaksanaan UN.</p>
<p style="text-align: justify">Sayangnya, apa yang pemerintah siapkan untuk menuju ke arah sana? Infra dan supra struktur yang memadai? Aturan main yang mendukung? Integritas? Sepertinya belum ada arah kesana.</p>
<p style="text-align: justify">Adik gue, lolos UN dengan nilai meyakinkan. Ibu gue juga seorang guru. Tetapi tetap miris jika mereka menceritakan perihal UN. Bukan pada UN -nya yang menjadi masalah, tetapi pada aturan main, dukungan pemerintah yang kurang memiliki integritas ke arah sana. Itu lah yang menjadi masalah dari setiap tahun ribut-ribut UN.</p>
<p style="text-align: justify">Terlalu banyak kondisi kompleks di seluruh penjuru Indonesia, diseluruh tatanan sosial masyarakat kita. Sepertinya hal ini yang harus dipahami oleh pemerintah. Terlepas UN adalah sesuatu yang tabu, tetapi niat awal pelaksanaan UN sebagai karakter kualitas pendidikan nasional harus terus kita kejar. JK mungkin secara mudah berucap bahwa <em><strong>&#8220;anak yang tidak lulus UN adalah anak yang malas&#8221;.</strong></em> Tetapi &#8220;Si Kelik&#8221; itu tidak tahu apa-apa tentang kompleksitas sosial masyarakat dalam menghadapi UN. Tidak ada ke-<em>legowo-</em>an seorang pemimpin di ucapan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify">Gue pernah ngebantu Puti sedikit mengajar tentang kompor matahari (cerita diatas) di sekolahnya dia. Apa yang gue dapat dari sana? Seburuk-buruknya kondisi keuangan sekolah apapun di Indonesia ini, tetapi sosok pembelajar adalah sama. Guru yang mengisi ruang-ruang kosong dikrtas putih itu, dan guru mewakili sebuah sistem pendidikan yang kompleks untuk tatanan pendidikan nasional yang besar ini. Dan tatanan itu adalah sinergisasi para birokrat, pemerintah dan tujuan nasional negara.</p>
<p style="text-align: justify">Murid tetaplah seorang murid, entah bersekolah dipinggir emperan, atau dalam kelas ber-AC. Dan sekali lagi, ketidak-<em>legowo-</em>an pemerintah lah menyebabkan mereka menjadi korban.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/07/02/sebuah-kisah-tentang-un-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa Besar Saham Asing Dalam Telekomunikasi Indonesia?</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/04/28/seberapa-besar-saham-asing-dalam-telekomunikasi-indonesia/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/04/28/seberapa-besar-saham-asing-dalam-telekomunikasi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2007 10:50:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya ini adalah bentuk keprihatinan terhadap besarnya infiltrasi asing dalam objek vital bangsa. Telekomunikasi adalah objek vital bangsa yang tidak usah dipertanyakan lagi. Karena menurut apa yang gue baca2, ada 4 objek vital suatu bangsa yang berpengaruh terhadap kemandirian bangsa &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/04/28/seberapa-besar-saham-asing-dalam-telekomunikasi-indonesia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini adalah bentuk keprihatinan terhadap besarnya infiltrasi asing dalam objek vital bangsa.</p>
<p>Telekomunikasi adalah objek vital bangsa yang tidak usah dipertanyakan lagi. Karena menurut apa yang gue baca2, ada 4 objek vital suatu bangsa yang berpengaruh terhadap kemandirian bangsa tersebut. Pertambangan &#8211; Migas, Pendidikan, Pertanian/Perternakan dan Telekomunikasi.</p>
<p>Dan teman2 bisa melihat sejauh apa pengaruh asing terhadap objek2 vital ini di Indonesia. Dan sekarang gue sekedar sharing data yang gue dapat untuk objek vital telekomunikasi.</p>
<blockquote><p><span id="more-23"></span>Perkembangan dunia telekomunikasi di Indonesia sudah mencapai tahap yang mengagumkan. Pada September 2006 data menunjukan bahwa pengguna Ponsel di Negeri ini sudah mencapai angka yang cukup fantastis. Pengguna Ponsel  mencapai lebih dari 38 juta pelanggan atau sekitar 17,28 % dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini adalah jumlah mereka yang hanya menggunakan operator yang menyediakan layanan berbasis teknologi GSM (Global Satellite Mobile) belum ditambah lagi mereka yang menggunakan operator yang menyediakan layanan berbasis teknologi CDMA (Code Digital Multiple Access).<br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost">Tanpa ampun trend menggunakan Ponsel ini sudah merambah ke semua lapisan masyarakat dari semua golongan baik itu di daerah pedesaan maupun di kota-kota besar. Ponsel sudah menjadi semacam instrumen untuk menaikan status sosial dari seorang individu, bahkan banyak yang menjadikannya sebagai life style dengan alasan kebutuhan akan komunikasi dan informasi yang cepat. Tentunya hal ini adalah sesuatu yang positif dan bisa dipahami di satu sisi, tetapi apabila tidak diawasi dengan semestinya oleh pemerintah sebagai regulator sistem telekomunikasi di </span><span class="fullpost">Indonesia</span><span class="fullpost"> ini, maka perkembangan dunia telekomunikasi ini akan menjadi boomerang yang memungkinkan terbukanya celah dalam sistem pertahanan dan keamanan negara.</span><br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost">Saya terngiang dengan kalimat â€œAsal masih GSM !â€ Hal inilah yang kemudian mendorong saya mengambil inisiatif lebih lanjut untuk menganalisis menggunakan pendekatan <strong>Potential Risk Assessment (PRA)</strong> dalam perspektif pertahanan. </span><br />
<span class="fullpost">Dalam teknologi telekomunikasi nirkabel, setiap modulasi yang terkirim dalam pelayanan kepada para pelanggannya pasti dalam keadaan encrypted dengan kode binary yang memang diciptakan khas, tidak mengikuti aturan umum sehingga tidak mudah dipecahkan. Jangankan untuk intercepting apalagi penyadapan, untuk mengakses server induknya saja pasti sudah sangat kesulitan. Kecuali ada yang â€œbermainâ€ di balik itu semua, dengan memberikan key code binary untuk decryption sehingga memudahkan langkah decoding setiap modulasi. Saya mencoba melakukan deep study tentang dunia telekomunikasi di Indonesia ini khususnya operator seluler yang menggunakan teknologi berbasis GSM. Hasilnya cukup memuaskan saya, hipotesa saya terbukti.</span><br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost">Di Indonesia ini ada 3 operator seluler besar yang menggunakan teknologi berbasis GSM yaitu </span><span style="color: #ff0000">PT. Telekomunikasi Indonesia Seluler Tbk. (Telkomsel), PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat), dan PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (Pro XL).</span> Kalau dilihat sekilas memang tidak ada yang salah dengan ketiga perusahaan itu. Tetapi ketika diselidiki lebih jauh Corporate Insight nya, maka akan ditemukan potensi terbukanya masalah national security ini. Berikut ini adalah data Biro Transaksi dan Lembaga Efek dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM) per Oktober 2006 tentang komposisi pemegang saham dari 3 perusahaan telekomunikasi ini :<br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost">1. PT. Telekomunikasi Indonesia Seluler Tbk. (Telkomsel)</span><br />
<span class="fullpost">Singapore Telecom + publik asing : 37,86 %</span><br />
<span class="fullpost">Pemerintah </span><span class="fullpost">Indonesia</span><span class="fullpost"> + publik </span><span class="fullpost">Indonesia</span><span class="fullpost"> : 62,14 %</span><br />
<span class="fullpost">2. PT. Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat)</span><br />
<span class="fullpost">Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. + publik asing : 86,62 %</span><br />
<span class="fullpost">Pemerintah </span><span class="fullpost">Indonesia</span><span class="fullpost"> + publik </span><span class="fullpost">Indonesia</span><span class="fullpost"> : 13, 38 %</span><br />
<span class="fullpost">3. PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (Pro XL)</span><br />
<span class="fullpost">Telekom Malaysia Berhad + publik asing : 85,07 %</span><br />
<span class="fullpost">Telekomindo Primabhakti + publik </span><span class="fullpost">Indonesia</span><span class="fullpost"> : 14,93 %</span><br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost">Lihat saja angka-angka tersebut. Wajar logikanya kalau saya mengatakan bahwa telekomunikasi di Indonesia sudah <strong>tidak â€œberbendera Merah Putihâ€</strong> lagi. Kalau boleh diambil rata-ratanya, maka kepemilikan asing akan saham perusahaan-perusahaan telekomunikasi di </span><span class="fullpost">Indonesia</span><span class="fullpost"> mencapai angka 69,85 %. Kepemilikan saham yang hampir mencapai 70 % inilah celah keamanan yang tidak diperhatikan oleh aparat-aparat yang berkepentingan dalam hal ini.</span><br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost">Saya mencoba menyelidiki tentang perusahaan-perusahaan asing ini. Tentunya dimulai dari kepemilikan atas saham perusahaan-perusahaan tersebut. Saya meminta bantuan seorang teman di Singapore untuk melacak kepemilikan saham dari Singapore Telecom Inc. dan Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. Hasilnya cukup lumayan untuk membuat saya curiga. Setengah dari saham perusahaan-perusahaan tersebut memang dimiliki oleh <strong>pemerintah Singapore</strong>, tetapi sebagian kecil yaitu sekitar 20 % lebih dimiliki oleh seorang Spekulan Valas Yahudi yang pernah mengacak-acak konstelasi perekonomian Asia Tenggara pada dekade 90-an. Dia adalah <strong>George Soros</strong>. Sekalipun tidak secara langsung, tetapi salah satu anak perusahaan dari Soros Corporation Holding Co. memiliki saham kedua perusahaan ini. Meskipun kepemilikan saham atas kedua perusahaan ini cukup kecil dibanding pemerintah Singapore, tetapi munculnya nama ini dalam deretan para pemegang saham Singapore Telekom Inc. dan Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. cukup menimbulkan kecurigaan dalam benak saya terhadap setiap policy kedua perusahaan ini di </span><span class="fullpost">Indonesia</span><span class="fullpost">.</span><br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost">Kalau diselidiki lebih dalam lagi, maka komposisi saham yang sedemikian besar dari kedua perusahaan Singapore ini atas perusahaan-perusahaan telekomunikasi di </span><span class="fullpost">Indonesia</span><span class="fullpost"> akan memberikan berbagai macam konsekuensi tersendiri di dalam manajemen perusahaan tersebut. Pihak pemilik saham yang lebih banyak akan menaruh orang-orangnya di dalam manajemen inti dengan porsi yang lebih banyak pula dalam perusahaan tersebut. Analoginya mirip partai politik yang memenangkan suara terbanyak sehingga memiliki banyak wakil di parlemen, demikian pula pemegang saham dan Dewan Komisaris di dalam sebuah perusahaan.</span><br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost">Orang-orang yang ditaruh di dalam manajemen inti sebuah perusahaan ini tentunya memiliki pengaruh besar dalam setiap policy dan keputusan-keputusan yang diambil perusahaan. Ekses negatif lainnya adalah, orang-orang yang duduk di manajemen inti inilah yang memegang banyak rahasia perusahaan termasuk sistem keamanannya.</span><br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost">Terlalu panjang kalau saya ceritakan di sini tentang latar belakang mereka satu persatu. Setidaknya ada beberapa orang dari mereka yang berasal dari Singapore yang bisa saya sebut di sini seperti <strong>Peter Seah Lim Huat, Lee Theng Kiat, Sio Tat Hiang, Sum Soon Lim, Lim Ah Doo, Ng Eng Ho, Joseph Chan Lam Seng, Raymond Tan Kim Meng, dan Wong Heang Tuck</strong>. </span><br />
<span class="fullpost">Dari closed source yang saya dapatkan, mengkonfirmasikan kebenaran hal tersebut. Ada kemungkinan mereka bukan hanya seorang businessman saja, bisa jadi Mossad Agent atau sekurang-kurangnya orang-orang binaan yang dimanfaatkan, karena harus diingat bahwa Singapore adalah sahabat karib Israel di Asia Tenggara. <em><strong>Tidak salah rasanya kalau saya menilai dari sinilah sumber kebocoran enskripsi telekomunikasi </strong></em></span><strong><em><span class="fullpost">Indonesia</span></em></strong><span class="fullpost"><em><strong>.</strong></em></span><br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost">Saya mencoba menarik benang merah yang merangkum semuanya. â€œAsal masih GSM, berita itu milik kami !â€ Saat ini saya tidak lagi terheran-heran kalau para Hulubalang Mossad (intel Israel &#8211; red ) mampu dengan mudah menyadap banyak informasi, ataupun pembicaraan-pembicaraan penting yang dilakukan melalui Ponsel berbasis teknologi GSM (saya tidak tahu bagaimana dengan nasib CDMA). Tapi saya ingin menekankan bahwa, bahkan orang paling bodoh di negeri ini pun akan tahu masa depan negeri ini kalau 17,28 % warga negaranya dimata-matai secara sistematis dan terorganisir oleh negara lain yang memang menghendaki kehancurannya. Anda tahu yang saya maksud. <strong><em>Saya menghimbau pada pemerintah dan semua komunitas intelijen yang ada, seriuslah dalam mengemban tugas negara</em></strong>. Kalau orang segoblok saya dengan ketrampilan, tenaga, dana, fasilitas, dan waktu yang terbatas saja masih bisa mendeteksi sampai sejauh ini meskipun tidak detail, apalagi kalian yang dibekali dengan pendidikan, pelatihan, dana, dan fasilitas yang memadai, harusnya bisa jauh lebih dalam dari ini semua. Kami sebagai warga negara ingin melihat hasilnya.</span><br />
<span class="fullpost"></span><br />
<span class="fullpost"><strong><em>â€œAsal masih GSM, berita itu milik kami !â€ saya berharap statement mereka akan berubah menjadi â€œKalau sudah GSM, berita itu bukan milik kami !â€</em></strong></span></p></blockquote>
<p>Berita ini mungkin cenderung memposisikan pihak Singapore &#8211; Israel sebagai infiltrant terbesar di Indonesia di bidang telekomunikasi. Namun yang gue tekankan dari informasi tersebut, bahwa sangat penting untuk memahami kondisi penguasaan asing terhadap Telekomunikasi Indonesia.</p>
<p>Bagaimana dengan Internet Provider? Sebagai info kuping ke kuping saja, beberapa provider besar Indonesia mengikat kontrak yang spektakuler dengan Provider Asing, bahkan sekarang sebuah warnet saja dapat dengan mudah memiliki ikatan kontrak dengan satelit Singapura dalam menjalankan bisnisnya. Belum lagi jika melihat perkembangan telekomunikasi nirkabel Indonesia yang saat ini booming dengan konsep GSM Mobile Connectivity, 3G dan akses Internet lewat GSM. Bukannya gue paranoid. Tetapi setidaknya menjadi perhatian bersama, dan sebagai bangsa yang berusaha untuk mandiri, seharusnya pemerintah bisa mengatur berbagai kebijakan yang vital terhadap telekomunikasi dan objek vital kita lainnya, istilah kerennya memproteksi.</p>
<p>Dengan angka rata2 penguasaan saham hampir 70%, bisa dikatakan kekuatan bangsa ini di bidang telekomunikasi sudah mengkhawatirkan. Tidak perlu bicara mengenai perang inteligen dalam masalah intercept &#8211; penyadapan (itu bukan urusan gue, ada yang bertanggung jawab disitu). Berbicara masalah aturan main dan regulasi-kebijakan saja, tentunya kita sudah kalah. Dalam konsep kapitalisme global, pemegang modal adalah penguasa, kebijakan &#8211; regulasi vital akan ditentukan oleh komisariat perusahaan. Dan untuk kondisi saat ini, dimana posisi Indonesia yang hanya memiliki 30% hak-nya?</p>
<p>Demikian informasi yang mau gue share buat teman2. Semoga menjadi bahan masukan berharga, betapa berharganya posisi telekomunikasi di Negara ini, dan seberapa parah para pengusaha Telekomunikasi kita melacurkan negerinya sendiri.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><em>NB : gue edit sebisa mungkin untuk mengaburkan pemilik info tersebut. Tapi pada intinya gw hanya ingin menyampaikan sebuah opini terhadap publik dalam rangka kewaspadaan nasional. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/04/28/seberapa-besar-saham-asing-dalam-telekomunikasi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Masukannya Sampah, Maka Yang Keluar Juga Sampah</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/04/16/kalau-masukannya-sampah-maka-yang-keluar-juga-sampah/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/04/16/kalau-masukannya-sampah-maka-yang-keluar-juga-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2007 17:50:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Berita ini masuk dalam beberapa media, dan dikomentari oleh beberapa pemerhati Pendidikan. Bagi gue pribadi keprihatinan yang muncul bukan pada sistem yang dipermasalahkan. Tetapi pada komentar seorang REKTOR dari peguruan tinggi ternama, bergelar Profesor Doktor! Memalukan! Walau gue tanpa gelar &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/04/16/kalau-masukannya-sampah-maka-yang-keluar-juga-sampah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berita ini masuk dalam beberapa media, dan dikomentari oleh beberapa pemerhati Pendidikan. Bagi gue pribadi keprihatinan yang muncul bukan pada sistem yang dipermasalahkan. Tetapi pada komentar seorang REKTOR dari peguruan tinggi ternama, bergelar Profesor Doktor! Memalukan! Walau gue tanpa gelar apa pun, namun berhadapan dengan orang ini, tidak akan ada rasa hormat sedikit pun dari gue.</p>
<p>Berita ini saya kutip dari Antara (sumber : <a href="http://www.antara.co.id/arc/2007/4/12/undip-pangkas-jumlah-mahasiswa-baru-jalur-spmb/">Undip Pangkas Jumlah Mahasiswa Baru Jalur SPMB</a>  ), ini kutipan yang memalukan tersebut :</p>
<p><em>Rektor Undip, Prof. Dr. dr. Susilo Wibowo, Sp. And., di Semarang, Rabu malam, menjelaskan, semula Undip menerima mahasiswa baru dari jalur SPMB sebanyak 3.500 orang atau 70 persen dari sekitar 5.000 mahasiswa baru dari jalur reguler, namun nanti dipangkas menjadi 50 persen atau tinggal sekitar 2.500 orang.</em></p>
<p><em>Pemangkasan ini menurut Susilo, dilandasi kenyataan bahwa sebagian besar perguruan tinggi (PT) terkemuka, seperti UGM dan IPB juga melakukan ujian masuk sendiri sebelum SPMB diselenggarakan, dengan tujuan memperoleh bibit terbaik lapis kedua setelah siswa kelas tiga SMA terbaik (top ranking) disedot PT luar negeri.</em></p>
<p><em>&#8220;Kalau Undip hanya mengandalkan jalur SPMB, maka hanya mendapat siswa dengan `grade` (lapisan) ketiga. <strong>Kalau masukannya sampah, maka yang keluar juga sampah</strong>,&#8221; kata Susilo. Penyelenggaraan ujian masuk yang diadakan sendiri Undip disebut Ujian Masuk Mandiri (UMM).</em><span id="more-15"></span></p>
<p>Sebuah pernyataan yang menggambarkan ketololan seseorang yang mengakunya Pendidik. Bukankah Sebuah Proses Pendidikan itu bertujuan menghasilkan emas walau sampah sekalipun sebagai inputnya. Jika si rektor itu berprinsip seperti kata2nya diatas, maka bisa dikatakan dia Pemimpin yang gagal. Masak input dan output dari &#8220;sebuah proses pendidikan&#8221; di institusi yang dipimpinnya tersebut memberikan nilai yg sama. Gue ga mungkin menjelekkan UNDIP sebagai kampus gagal, karena gue yakin dengan kualitas UNDIP selama ini. Tetapi pemimpin seperti ini hanya membuat paradigma pendidikan di UNDIP sendiri menjadi GAGAL.</p>
<p>Kita kembalikan semuanya kepada nilai-nilai pendidikan itu sebenarnya. Kenapa ada yang namanya sekolah? Kenapa ada yang namanya Perguruan Tinggi?</p>
<p>Sekolah maupun perguruan tinggi hadir untuk memberikan nilai kualitas terhadap sumber daya manusia di negara kita. Bukan sebagai ajang adu prestidge, atau gengsi. Apalah artinya sebuah kampus GAJAH DUDUK jika ternyata tidak berkontribusi banyak terhadap peningkatan kualitas manusia? Atau manusia-manusia di dalamnya hanya sekedar dicetak menjadi buruh-buruh pabrik? Dan nama besar sebuah PT tergantung dari jumlah lulusan mereka yang bekerja di Perusahaan Asing Kenamaan??? Idealisme yang memalukan bagi Perguruan2 tinggi yang mengakunya berkelas!</p>
<p>Memang, sejak BHMN di berlakukan, dengan kata lain Pemerintah mulai menarik subsidi bagi PTN2 tersebut, maka dimulailah komersialisasi pendidikan, dimana semua PTN membebek untuk bikin program mandiri. Tidak ada yang salah dengan program2 tersebut. Karena memang kebutuhan mereka untuk menarik fulus lebih banyak dari keluarga-keluarga kaya.</p>
<p>Namun adakah yang tahu efek domino apa yang terjadi kemudian?</p>
<p>Coba kita renungkan.</p>
<p>Secara tidak langsung, sebenarya pemberlakuan Ujian2 Mandiri  di PTN-BHMN ini, telah memangkas kursi penerimaan dari SPMB. SPMB yang merupakan pintu masuk PTN skala nasional, secara tidak langsung telah di rampingkan pintu gerbang nya. Bahkan ada rencana akan menghilangkan SPMB sama sekali?</p>
<p>Bagi gue, yang terbayang adalah : Bagaimana dengan teman-teman dikampung yang tidak mampu? Jika mereka mengikuti ujian mandiri tersebut, belum tentu diterima saja sudah mengeluarkan cost yang besar. Dan kalau diterima apalagi. Pernahkah terbayang, bahwa calon-calon Mahasiswa Baru tersebut cupu-cupu. Serba kebingungan. Informasi sepihak saja tidak cukup bagi mereka, terutama bagi teman2 gue dikampung.</p>
<p>Sangat cupu saudara2, ada dulu gue ketemu seorang mahasiswa baru yang duduk menangis karena dia merasa tidak menyangka bakal diminta biaya ini itu untuk daftar ulang. Sedangkan hari itu proses pendaftaran terakhir. Dalam bayangannya pupus sudah kesempatan bersekolah di ITB. Sedangkan dia jah2 dari desa hanya untuk mendaftar di ITB dengan duit pas2an. Setelah gue tanya2, ..Ya oloooohhh itu cuman duit sumbangan ini itu, biaya buka rekening dan lain2, yang biasa ada ketika pendaftaran. Bukan duit SPP atau sejenisnya. Urusan gini aja masak sampai panik segala.</p>
<p>Akhir nya gue dan temen gue, nemenin aja di loket. Lewat diskusi , lobi ini itu, semua ongkos ketebelece tadi bisa di tunda ampe besok, minggu depan, bulan depan atau tahun depan mungkin. Yaaa&#8230; bagi mahasiswa lama urusan ketebelece gini selesai dengan ngemeng2 doang ama si bapak2 loket, bahkan urusan SPP aja bisa ditunda2..hehehe..  Tapi bagi anak baru, dari sudut pandang mereka, tentunya penuh kebingungan kan?</p>
<p>Itu sekedar cerita report di lapangan, bagaimana sebenarnya respon masyarakat terhadap informasi-informasi seputar pendidikan kita. BINGUNG.!! Mau dibilang ada beasiswa juga, ada keringanan juga,.. tetapi yang tersosialisasikan tetep bagaimana mahalnya bersekolah.</p>
<p>Kesimpulan gue, Ujian2 Mandiri dengan ongkos masuk segede gentong ini adalah proses penyeleksian mahasiswa secara sistematis dari kemampuan ekonomi. Istilah kata kerennya &#8220;Yang kaya silahkan bersekolah, yang miskin,.. NEHI  !!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/04/16/kalau-masukannya-sampah-maka-yang-keluar-juga-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SBY dititip pesen ama Hacker lewat FRAME SET :p</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/03/18/sby-dititip-pesen-ama-hacker-lewat-frame-set-p/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/03/18/sby-dititip-pesen-ama-hacker-lewat-frame-set-p/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2007 02:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[coding]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Post]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Kompi]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Quote]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kapucino.org/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Hehahah&#8230; Ini cuman tulisan populis,&#8230; Kalo gue udah ada di depan komputer, gue taruh link umbaran si Mister Roy dulu tentang tangguhnya server http://www.presidensby.info/ . Sementara kita tunggu perkembangan lanjutan dari teknisi web kepresidenan. Sejak jam tujuh pagi tadi gue &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/03/18/sby-dititip-pesen-ama-hacker-lewat-frame-set-p/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hehahah&#8230;</p>
<p>Ini cuman tulisan populis,&#8230;  Kalo gue udah ada di depan komputer, gue taruh link umbaran si Mister Roy dulu tentang tangguhnya server http://www.presidensby.info/ .</p>
<p>Sementara kita tunggu perkembangan lanjutan dari teknisi web kepresidenan.  Sejak jam tujuh pagi tadi gue denger dan ampe sekarang gue cek (09.41 AM WIB) , situs dot info ini masih memajang pesan TRITURA Version 2.0 huahahah&#8230;.</p>
<p>Ini isinya:</p>
<blockquote><p>Kepada Yth.											Indonesia, 17 Maret 2007<br />
Presiden Republik Indonesia<br />
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono<br />
Di<br />
Istana Negara</p>
<p>Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kami,<br />
Yang bertandatangan di bawah ini:<br />
Nama: on behalf of underground community<br />
Alamat: the world where the devils gather<br />
Nick: Qwerty</p>
<p>Dengan ini mewakili komunitas underground Indonesia ingin menyampaikan beberapa permintaan:<br />
1. Turunkan harga Bandwith agar kita semua bisa merasakan internet, apa Anda tidak malu dengan China atau India?<br />
Mereka negara berpenduduk padat yang bisa mengakomodasi kebutuhan bandwidth dengan baik<br />
2. Dukung dan laksanakan IGOS (Indonesia Go Open Source), pikirkan masa depan bangsa ini, tingkatkan mutu pendidikan,<br />
masa depan kita terletak di pundak mereka yang dengan jari-jari mungilnya setiap pagi mengemis dan mengamen di jalanan<br />
3. Berantas KKN, pornografi dan pornoaksi di negeri kita tercinta ini.<br />
Saya kira Anda telah menyaksikan bagaimana azab yang telah menimpa bangsa ini. Tsunami, Gempa Bumi, Banjir,<br />
dan Kecelakaan baik di udara, laut maupun darat yang telah merenggut anak dari ibunya,<br />
yang telah memisahkan adik dari kakaknya. Kurang apalagi? Tanah Longsor? Lumpur Sidoarjo?<br />
Mungkin sebentar lagi bencana yang akan lebih besar lagi. Tidakkah kita malu terhadap Tuhan?<br />
Sudah diperingatkan berulang kali tetap saja membangkang dan tidak ingat kepada-Nya.</p>
<p>Agar permintaan kami ini diperhatikan dan dilaksanakan. Karena pemimpin yang baik pasti mendengarkan suara rakyatnya.<br />
Terima kasih.</p>
<p>Hormat Kami,</p>
<p>Qwerty</p></blockquote>
<p>Tulisan tersebut di di call secara biasa aja dengan frameset. HTML aslinya berada di situs http://www.luthermusic.com/TuntutanRakyat.html</p>
<p>Time is ticking,.. dan berapa lama bakal majang ni Frame di situs SBY :p ( REndy malah dah denger dari jam 4 pagi tadi..bujug tuh anak , ga pernah kelewat dia kalo urusan ginian&#8230; :nohope:)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/03/18/sby-dititip-pesen-ama-hacker-lewat-frame-set-p/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

