<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; Qwords</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/qwords/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Berhaji dan Mabrur</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/03/02/berhaji-dan-mabrur/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/03/02/berhaji-dan-mabrur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 13:12:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[iseng]]></category>
		<category><![CDATA[Qwords]]></category>
		<category><![CDATA[Rendy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/03/02/berhaji-dan-mabrur/</guid>
		<description><![CDATA[Dulu ibu saya pernah bilang &#8220;Jadi haji itu paling berat bukan ketika berusaha bisa naik haji, tetapi ketika sudah selesai berhaji&#8221;. Seperti itu jadi ukuran yang benar adanya. Sama halnya ketika ibadah puasa ramadhan yang diadakan tiap tahun itu. Ada &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/03/02/berhaji-dan-mabrur/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Dulu ibu saya pernah bilang <em>&#8220;Jadi haji itu paling berat bukan ketika berusaha bisa naik haji, tetapi ketika sudah selesai berhaji&#8221;.</em> Seperti itu jadi ukuran yang benar adanya. Sama halnya ketika ibadah puasa ramadhan yang diadakan tiap tahun itu. Ada 3 tahapan khusus selama 30 hari berpuasa, dengan tingkatan yang berbeda. Diharapkan seorang muslim bisa mencapai tahap tertinggi, yaitu taqwa. Dan pertanyaannya adalah, apakah kita bisa menjadi takwa hingga ramadhan berikutnya? Atau jangan-jangan karena Ramadhan setiap tahun adanya, maka maksud sesungguhnya adalah &#8220;dosa &#8211; hapus &#8211; dosa lagi &#8211; hapus lagi &#8211; dan seterusnya&#8221;.</p>
<p align="justify">Apalagi <a href="http://wiki.cahandong.org/Naik_Haji" title="Naek Haji ala CAhandong" target="_blank">berhaji</a> mungkin. Yang dikata naik haji haruslah benar-benar menuju pada takwa, menghapus dosa, mencium hajar aswat. Tetapi saya malah melihat dengan kondisi ekonomi yang <em>mungkin</em> semakin mapan di negeri ini, sepertinya berwisata religi bukanlah halangan lagi. Artis-artis juga bisa umrah dan haji berkali-kali, tetapi berita gosip putus cerai selingkuhnya pun bisa berulang kali di televisi.</p>
<p align="justify"><span id="more-259"></span>Terus berlanjut ke urusan mengurus naik haji yang diurus susah selama ini. Ditengarai tahun lalu, Panitia Haji yang dibentuk sulit untuk mengurusi perut jamaah. Karena katering yang telat sampai ke jamaah sendiri. Belum lagi isu korupsi di tubuh Depag yang rada rawan kalau dibahas.</p>
<p align="justify">Lalu saya teringat cerita-cerita klenik dari kakek dan sepuh-sepuh yang saya kenal. Dulu, ada orang yang bisa naik haji dengan mudah tinggal masuk sumur dan sampai ke kota Mekkah. Memang tidak ada yang melihat. Cuma warga sekitar bisa merasakan panganan ala kota Mekkah dirumah orang-orang sakti tersebut. Wallahualam.</p>
<p align="justify">Dan kemarin tepatnya, dari rumah di negeri Tsunami sana, saya disinggung sedikit oleh sepupu saya. <em>Segeralah kamu jadi orang sukses dan bisa naik haji, Nak</em>. Kira-kira demikian permintaannya. He,.. saya jadi bingung mau menjawab apa. Kok tiba-tiba berhaji menjadi ukuran kesuksesan.</p>
<p align="justify">Sukses akhirat mungkin. Atau sukses dimata orang lain dilingkungan sekitar? Ah, seandainya Naik Haji cuma pergi ke kota sebelah, cuma tinggal memanjat satu bukit, saya yakin pasti bukan menjadi ukuran kesuksesan.</p>
<p align="justify">Teman saya di arab sana juga cerita, naik haji tidak menjadi ukuran sukses buat mereka, selain mendapat keuntungan banyak dari orang-orang Indonesia yang doyan belanja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/03/02/berhaji-dan-mabrur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

