Warung Kapucino

Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda

Saturday, January 5, 2008

Objektif

Ayat Ayat CintaDulu sekali, pernah ada istilah beken “Shot The Message, Not The Messenger”. Bagaimana ngeshot message yang benar? Atau minimal coba-coba menilai secara objektif? Atau lebih ekstrim lagi - Belajar cuci otak??

Mungkin menonton film “Ayat Ayat Cinta” (AAC) bisa menjadi ajang latihan.

Tokoh Aisha yang islami, arab turki jerman tulen, kemayu, sopan, pendiem, akhlaqul qarimah dan istri yang sangat soleha impian semua pria muslim, diperankan oleh Rianti sang VJ MTV cantik, friendly, hip hip hura, juga terkadang seksi.

Tokoh Maria yang introvert, baik dan rendah hati, simpatik dengan kecintaannya terhadap Islam, walau bukan muslimah. Sosok wanita penuh luka cinta yang bisa menggugah pria-pria yang membaca novel AAC untuk memilikinya (termasuk saya). Diperankan oleh Carissa si antagonis sinetron-sinetron Indoonesia yang bengis, tak kenal ampun, suka teriak-teriak dan membuat ibu-ibu di mall bisa memaki-maki dirinya bila bertemu.

Tokoh Nurul yang putri pesantren, anak seorang Kyai ternama, baik budi, cerdas menggugah intelektual, kaffah dalam islam Indonesianya, mengingatkan saya pada ustadzah-ustadzah di mesjid kampung saya. Pemerannya adalah Melanie Putria yang mantan putri Indonesia, dengan keglamoran dan aktivitas selebnya yang macem-macem tanpa pakem.

Noura sang wanita penuh tekanan batin, terhimpit dalam penderitaan sehingga mengubahnya menjadi tukang fitnah yang keji. Dan Zaskia Mecca idola para lelaki “baik-baik” ketiban peran ini, model sekaligus aktris yang dianggap mumpuni dengan popularitas dan keteguhan budi muslimahnya. (Kenapa impian liar saya selalu membayangkan Zaskia sebagai BCL ditutupi kerudung?? :)) )

Fedi Nuril?? Kalau ini saya ga kenal.

Hanung Bramantyo, sang sutradara. Wah ini sih Mas Rumputeki lebih kenal.

 

Mumpung belum tayang, jadi persiapkan diri anda untuk berlatih seperti yang saya ungkapkan diatas. Menjadi objektif bukanlah tuntutan, toh ini cuma hiburan bagi penonton, duit bagi produser dan idealisme bagi sang Sutradara.

 

*sedikit hadiah yang keren dari Blog Mas Hanung :

 

Rianti's Eye

 

posted by Leksa at 5:52 am  
 

Wednesday, December 19, 2007

Klarifikasi Dari Adeline Djelita (Nama Yang Indah)

Saya merasa perlu memposting ulang komentar dari indo.Com di kolom komentar saya tentang ini. Biar adil, ga enak kalau isi-nya misuh-misuh terus.

——

Nenek bilang jangan ditelan mentah-mentah tulisan di media yang salah melulu. (Dan seperti biasanya di Indonesia, nothing is the way it seems – orang Medan bilang, ada udang dibalik kuetiaw.)

First, anggaran yang bener itu Rp 5.5 milyar untuk 2007, bukan 17 milyar. 17M itu kalo dijumlahkan dari tahun 2006 dan 2007 yang sudah direalisasi, dan 2008 yang paling banyak, 10 milyar, yang masih rencana. (Kenapa gak sekalian dijumlahin dari tahun 1945, inflation adjusted, sampai tahun 2050?)

Second, anggaran yang tahun 2007, dari 5.5 milyar, potong pajak jadi efektif 4.65 milyar, itu porsi terbesarnya dipakai untuk promosi online, di Google, Yahoo, portal wisata internasional seperti Travelocity, dan juga portal domestic seperti Kompas, Bisnis, Media dsb (hint: apa yang tidak disebut?) Porsi kedua dialokasikan untuk memberdayakan hotel-hotel kecil, biar bisa ikut belajar promosi dan bertransaksi online. Kita bikin workshop di 3 kota – Jogja, Lombok, Manado – dihadiri 400-an orang/hotel, iklankan, talk show, masukkan 100-an lebih hotel ke my-indonesia.info dan system reservasi indo.com, dan ketika terjadi transaksi, membimbing mereka.

Intinya, kegiatan e-marketing ini tentang promosi online, bukan tentang bikin web site. Hasil apa yang didapat? Iklan pariwisata Indonesia ditayangkan sekitar 90 juta kali, kepada pengguna Internet yang senang berwisata atau bahkan sudah mencari informasi tentang berwisata ke Indonesia melalui situs pencari. Berarti efektif biaya menjangkau satu orang ini hanya Rp 50an. Pengunjung yang sudah dilayani tahun ini 230 ribu orang. Berarti biaya melayani satu orang calon wisatawan ke Indonesia, kalau dilakukan secara virtual via Internet, biayanya hanya Rp 20 ribuan. Sangat cost efektif.

Belum lagi waktu sebelum promosi, kalau coba cari “indonesia info” di Google, situs paling atas adalah punyanya CIA. Jadi perspektif yang didapat orang adalah perspektif CIA. (Coba search “president indonesia” sekarang di Google, situs siapa yang paling atas?) Punya Pemerintah dulu tidak kelihatan. Sekarang, untuk kata-kata kunci seperti itu, “tourism indonesia” dan hampir 2000 kata lainnya, situs Pemerintah sudah muncul, bahkan pada posisi-posisi terdepan.

Jadi lihatlah kegiatan e-marketing ini dalam konteks strategi pemasaran pariwisata Indonesia secara keseluruhan. Kalau tahun 2008 dianggarkan Rp 10 milyar, dari total anggaran promosi pariwisata, yang kalau saya tidak salah sekitar Rp 280 milyar, optimalkah kalau hanya 3-4% yang dialokasikan untuk pemasaran via Internet? Survey BudPar sendiri menunjukkan sudah 56% wisatawan ke Indonesia yang mencari informasi tentang wisata ke Indonesia via Internet. Kalau kita mau book Yahoo Singapore untuk 1 HARI saja – supaya setiap orang yang buka pasti lihat iklan kita, seperti blocking time di TV – biayanya bisa sekitar SGD 1 juta - atau Rp 6 Milyar sendiri!

Negara tetangga kita juga mengetahui ini dan berpromosi via Internet dengan agresif. Kita dapat info bahwa mereka di Google dan Yahoo saja bisa belanja iklannya sekitar USD 1-2 juta (Rp 9-18 Milyar)per tahun di masing-masing portal. Belum portal-portal lainnya dan kegiatan online promotion lainnya (Singapore Tourism Board pernah beriklan via newsletter broadcast menggunakan indo.com.) Untuk mengajak industri pariwisata berteknologi saja (seperti yang kita lakukan dengan hotel-hotel kecil ini), Singapore alokasikan dana SGD 10 juta (bisa lihat di situs Singapore Tourism Board).

Yang jelas, promosi pariwisata sekarang ini, oleh pemerintah maupun swasta, mau tak mau sudah harus melibatkan Internet – karena wisatawan adanya di situ.

 

Komentar lebih lanjut, silahkan email ke saran@indo.com

 

Salam

 

Adeline Djelita
www.indo.com

—–

Tapi standar, saya tetap ingin berkomentar, karena memang saya banyak bacot-nya. Tentang e-marketing, apakah yang dimaksud e-marketing ini adalah sebuah iklan tanpa website? Cuman numpang mejeng banner di Yahoo, Google, dll. Terus ya model iklan seperti apa yang dipajang sampai ngabisin dana segitu besar?

Seorang yang browsing internet, melihat banner dimanapun berada, akan menuju ke website yang dilink olah si Banner tentunya. Dan kemana larinya si link? Apakah dalam hal ini situs my-indonesia.info? Kalau benar, walah, jadi tetep lho mbak Adeline, ujung tombak informasi Indonesia ada di situs my-indonesia.info . Dan sayangnya, sampai November akhir tahun ini, situs my-indonesia itu acak kadut. Konten berantakan, dan kritik-kritik lainnya yang sudah beredar di Internet (termasuk blog saya ini). Situs itu SERASA ga worth it untuk didukung oleh jorjoran dana promo ke mana-mana selama 2 tahun (kondisi tersebut sebelum ramai-ramai terjadi).

Bagaimana seorang turis merasa nyaman melihat situs yang konten-nya ngaco, tidak lengkap?, memakai wordpress yang isi nya kosong, malah di tambah dengan ber-adsense di dalamnya?

Satu lagi yang penting diketahui, situs tersebut sekarang, saat ini, tampilan jadi lumayan bagus, kontent sudah rapi dan semantic code-nya terus mengalami peningkatkan. Mungkin para developer web tersebut merasa presure yang diberikan ke mereka dengan banyak nya mata membuat mereka kerja lembur siang malam untuk hasil terbaik, setelah dikritik sana sini. Justru saya salut dengan semangat Bung Ardi dan rekan-nya, karena saat pertama kali kasus ini saya tulis di blog saya, justru saat itu masih dalam kondisi memprihatinkan. Dan perlu diingat bahwa masih banyak pertanyaan belum terjawab seputar keamanan situs, server dan hal teknis lainnya, tapi saya yakin akan diperbaiki.

Sedang masalah e-marketing sendiri si situs saat ini menempati jawara google karena mengalami google dancing signifikan setelah ramai-ramai dibahas, dibantu teman-teman blogger dan berbagai media online yang membahasnya. Coba lihat sebulan 2 bulan yang lalu?

Lalu catatan ke-3, masalah etika-nya. Saya tidak tahu bagaiman Indo.com membuat perjanjian dengan Budpar. Tetapi apakah salah jika muncul pertanyaan menggelitik, kok kenapa semua booking hotel harus via Indo.com? Sambil menyelam minum air-kah? Duuuh, kok saya merasa tidak nyaman seperti ada monopoli agen travel wisata disini.

Jadi perlu diingat, jika dana tersebut dipermainkan dengan ukuran waktu, informasi yang blunder, maka selamanya menjadi pertanyaan buat semua orang. Ah sudahlah, situ dan Indo.com atur-atur saja bagaimana mempertanggungjawabkan dana itu bersama DPR terhormat. Kami cuma rakyat biasa yang njago ngritik dan banyak bacot, tidak level untuk mengerti cara kerja orang-orang atas.

 

 

PS :

Mbak Adeline Djelita, namanya beneran bagus :x, suka saya. Makanya dipilih jadi Judul postingan.. Met lebaran kurban yah, Mbak, met Idul Adha, maaf lahir bathin.

posted by Leksa at 7:33 pm  
 

Tuesday, December 11, 2007

Oh My-Indonesia … Oh My-God

 

My-Indonesia Website
Ngga habis pikir. Masih aja ada yang kejam dengan kondisi Bangsa yang semakin sulit.

Pantaskah situs ini berbudget 17.5 Miliar ?

 

Ratna Suranti, Kasubdit Promosi Elektronik Direktorat Sarana Promosi Depbudpar mengatakan dana untuk pengembangan situs ini pada 2006 mencapai Rp 2 miliar. Sedangkan pada 2007, dana yang disiapkan mencapai Rp 5,5 miliar.

“Untuk 2008 disiapkan investasi Rp 10 miliar. Itu dana untuk pengembangan situs dan promosi. Dana itu didapatkan dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-red),” ujar Ratna.

Mahal dimananya? Design? Server? Aplikasi? atau Promosinya?

 

“Konten yang dijagokan dalam situs ini, ujar Ratna, mencakup beragam tempat tujuan wisata. “Kekuatannya adalah database tujuan yang beragam,” Ratna menambahkan.”

Databasenya belum lengkap lengkap lengkap lengkap sampai sekarang (katanya sampai 2007 udah berbudget 7.5M??). Mungkin untuk server, aplikasi dan design sahaja butuh waktu 2 tahun kali yak?

 

“Situs ini didukung oleh empat server yang berlokasi di empat benua, yaitu di Amerika Serikat (Benua Amerika), Singapura (Asia), Eropa, dan Australia. Lokasi server di empat benua itu dimaksudkan agar pengguna internet mancanegara yang mengakses situs ini secara otomatis dilayani oleh server terdekat.”

Emang harga Dedicated Server termahal saat ini dunia berapa sih?

 

“Selain itu, My-Indonesia.info menurut Ratna telah dioptimalkan sehingga pencarian kata kunci ‘indonesia info’ atau ‘indonesia tourism’ di mesin cari Google akan menempatkan situs itu pada posisi atas. Ratna mengatakan, pada 2006, 56 persen wisatawan yang datang ke Indonesia mencari informasi tujuan wisata dari internet. “

Yakin telah optimal? untuk KW “Indonesia Info” masih kalah ama situs Profil artis. Untuk KW “Indonesia Tourism” masih kalah ama situs pariwisata Jogja.com.

 

Dari sisi design sendiri, jujur gue berani bilang Katrok. Kenapa ga ngikutin trend style Web yang Glossy ala web2.0 yang lagi berkembang sekarang? (coba deh si Mbak Ratna jalan-jalan ke sini atau sini).

Untuk Aplikasi, seharusnya bisa pakai fitur-fitur dynamic dari layanan Google Maps kek (ini malah make peta dari flash yang cuman bisa lihat titik-titik merah doang..), atau aplikasi-aplikasi dengan genre web 2.0 dan social networking site. Nah ini,… RSS Feed aja gue ngga nemuin! Selain logo-logo Bookmark ini itu yang entah ada feednya atau tidak.

Untuk google map sendiri, sebenarnya gue rada geuleuh, kapan kita bisa bikin layer dan marker peta yang komplit kayak US ituh :( ? Seharusnya ada yang memulai dari sekian banyak developer di Indonesia rayah ini. Mumpung ada budget segitu, kenapa ga coba dimulai, menjadi perintis. Pasti juga akan mendapat sambutan meriah di kalangan developer website lainnya.

Sebagai tandingan situs sejenis dari negara tetangga, gue suka ama situs pariwisata Thailand nih. Cocok ama selera gue. :x

Review lainnya yang sangat menarik dari sisi design dan content bisa dilihat di blog ini . Thanks Om Ray buat reviewnya.

UPDATE :

Opini dari sisi server dan mesin belakang website ini ada di blog Mas Andri.

Opini dari sisi Internet Marketing, SEOKita, Brokencode dan Dexno.

Komentar menarik dari yang pengalaman mbikin situs pemerintah Mas Edo.

Supaya adil, ini tanggapan dari pemilik-pengelola situs tersebut. Namun tetap belum rinci menurut gue. :-w

Jawaban menarik dari salah seorang developer situs tsb, patut dinikmati dengan secangkir kapucino dari Mas Ardi (selamat bekerja Mas.. :beer: ).

KESIMPULAN sementara :

Tentu ini harus diusut,.. terutama angka 7.5M tersebut. Karena duit tersebut untuk 2 tahun mengembangkan web dengan hasil seperti ini. Harus dikritisi dimana efisiensinya. Karena duit segitu besar.. apalagi buat saya ..

Dan tentunya untuk kedepan, dengan semakin banyaknya pakar, praktisi yang melirik dan membicarakan ini di blog, forum, milist, dan media-media lain, harapan saya sih pemerintah jadi mawas diri. Dan developer web ini sendiri makin serius memberikan hasil terbaik. Semogaaaaa……. (padahal developer web-nya ndiri cuma kuli, yang bandit noh Broker-nya.. [-( ).

Dan semoga juga, broker-broker proyek IT serupa tapi tak sama, diwaktu akan datang makin pinter untuk membuat proposal yang make a sense. Pemerintah mungkin GuoBlookk, tetapi yaa kita-kita ini toh yang harusnya mencerdaskan pemerintah. Jangan malah memanfaatkan kebodohan pemerintah tersebut, akhirnya sama-sama masa bodoh.

Perkembangan selanjutnya, ntar di post-post yang lain.

Saya sendiri mau kerja dulu, beresin proyek orang yang ga beres-beres, sambil bermimpi kapan ketiban proyek pemerintah...

 

 

PS : Ini bukan karena gue sirik ga kebagian Job Lhoo.. Suerr..huekekee..!! Dan Opini-opini diatas adalah tanggung jawab pemiliknya masing-masing.

posted by Leksa at 10:45 pm  
 

Back to Mini Black Theme by Leksa (just for a while, babe)
Powered by WordPress and a cup of Cappucino Float