<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; Sengkuni</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/sengkuni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Politik Wayang</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/05/politik-wayang/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/05/politik-wayang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 23:44:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[kresna]]></category>
		<category><![CDATA[mahabharata]]></category>
		<category><![CDATA[Sengkuni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Hampir sepuluh tahun saya berada di tanah Jawa. Makan dan minum dari tanah yang petaknya paling kecil dibanding 4 pulau besar lainnya di Indonesia. Padahal saya sendiri tidak pernah berpikir akan berdiam lama di pulau ini. Tetapi saya menikmatinya. Semakin &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2008/04/05/politik-wayang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-a.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v193/68/23/661293665/n661293665_481688_7265.jpg" alt="" width="290" height="390" />Hampir sepuluh tahun saya berada di tanah Jawa. Makan dan minum dari tanah yang <em>petak</em>nya paling kecil dibanding 4 pulau besar lainnya di Indonesia. Padahal saya sendiri tidak pernah berpikir akan berdiam lama di pulau ini. Tetapi saya menikmatinya. Semakin lama saya menikmatinya, semakin mengolah pikir dan rasa. Proses dewasa dan sosial pribadi saya juga erat sekali dengan pulau wayang ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-289"></span>Saya berani menyebutnya pulau wayang. Karena saya melihat memang filosofi wayang lekat hingga ke sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Mungkin sebagian orang-orang di pulau jawa akan membantah karena merasa tidak mewakili filosofi-filosofi wayang tersebut. Belum lagi jika sudah membawa unsur budaya dan <em>ke-lokal-an</em>. Saya belum menemukan seorang Sunda asli mau dikatakan sebagai orang jawa. Walau sebenarnya mereka tinggal di Pulau Jawa sebelah barat. Tetapi sebagai &#8216;penonton&#8217;, orang pendatang, saya bisa menilai, wayang adalah topeng dan sekaligus ruh kehidupan di Jawa. Mungkin untuk orang Sunda saya bisa menawarkan lebih, <em>&#8220;bagaimana kalau wayang golek saja&#8221;?</em></p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Fachry Ali dalam opini" href="http://www.gatra.com/2001-04-04/artikel.php?id=5294" target="_blank">Fachry Ali</a> pernah menulis sebuah buku<em> &#8220;Refleksi Paham -Kekuasaan jawa- Dalam Indonesia Modern&#8221;</em> (1986). Ada juga De Jong, S dalam <em>&#8220;Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa&#8221;</em> (1976). Buku-buku budaya terbaru yang berbau fiksi sejarah seperti karya Langit Kresna Hariadi, juga menjelaskan secara implisit mengenai kekuatan budaya jawa dalam politik dan kekuasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu apa hubungannya dengan wayang? Pemahaman saya yang <em>secuil</em> ini membawa pemikiran ke sana. Bagaimana lakon budaya, punggawa dan penguasa dalam wayang-wayang jawa selalu bisa dilakonkankan dengan sempurna dalam kehidupaan politik negeri ini. Sejak zaman Indonesia menjadi negara yang merdeka, hingga <em>&#8220;merasa</em>&#8221; postmodern seperti sekarang, banyak orang berusaha membuktikan bahwa pembangunan Indonesia menjadi seperti ini karena dipengaruhi kebudayaan Jawa sehari-hari. Infiltrasi budaya <em>njawani</em> ini sampai ke pelosok-pelosok nusantara. Bahkan buku-buku sejarah SMU di Aceh juga lebih banyak halaman bercerita sejarah raja-raja Jawa &#8211; <em>kalau kata adik saya, tidak dihapal, resikonya tidak lulus.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke wayang. Ada 2 tokoh wayang menarik yang saya kutip dari artikel Seno Gumira di Majalah <em>Jakarta &#8211; Jakarta. </em><strong>Sengkuni </strong>dan<strong> Kresna.</strong> Siapa yang tidak kenal kedua tokoh belakang layar dalam panggung <em>Mahabaratha</em> ini, bagaimana mereka menginspirasi sebuah film serial India kolosal terbaik di TPI di masa orde baru dulu. Kadang membuat saya betah untuk menunda-nunda jadwal masuk siang ke sekolah hanya untuk menanti kejutan-kejutan trik dan politik kedua tokoh ini. Mereka berdua aktif dalam permainan kekuasaan, menggunakan otak mereka &#8211; bukan dengan aji kesaktian.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang  benar Kresna adalah titisan <em>Betara Wisnu</em> yang tidak terkalahkan, tetapi sebagai Kresna dalam Mahabharata, Kresna tidaklah berperan sebagai Rama dalam lakon <em>Ramayana &#8211; Sinta</em>. Bukan pula Kresna sebagai <em>Arjuna Sasrabahu</em> di zaman sebelum perang Mahabharata. Dalam Mahabharata, ia hanya diizinkan menggunakan akalnya. Kecuali jka dalam keadaan terpaksa tidak mampu menahan amarah, seperti dalam lakon <em>Kresna Duta, </em>maka otomatis &#8220;takdir&#8221; menentukannya harus bertiwikrama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam lakon Mahabharata, seperti diajarkan dalam &#8216;cerita-cerita baik&#8217; dan menginspirasi, Sengkuni adalah seorang yang licik pembawa angkara murka (<em>busuklah pokoknya</em>), sedang Kresna adalah sumber segala kebaikan pesan dan perjuangan menuju kebenaran. Seperti layaknya semua dongeng masa kanak-kanak, kebenaran selalu absolute dimana sang jagoan dan tertindas harus menjadi pemenang. Cinderella maried berbahagia dan Putri Salju dikecup sang pangeran.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi coba kita lihat dari sisi politik. Kresna justru adalah tokoh yang sangat politis. Ia punya segala kelebihan nirwana. <em>Backing </em>dari <em>Suralaya </em>dan sebuah <em>Kaca Lopian</em> yang bisa menjawab semua masalah. Bahkan sudah tahu persis bagaimana jalannya sejarah yang akan datang, tahu akhir kisah Barathayudha dari awal cerita dipentaskan. Ya jelas, karena memang skenario nya adalah : &#8220;<em>Pandawa</em> memenangkan <em>Bharatayudha</em>&#8220;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan sang laknat Sengkuni? Sungguh dia adalah seorang <em>mediocre </em>dari kampung coret Gandara. Cuma manusia biasa dengan modal otak saja. Tanpa ilmu-ilmu ajaib dari langit. Tetapi justru tampil dalam pentas secara lebih manusiawi. Sangat manusiawi malah, karena ada sifat iri dan dengki-nya itu. Kalau anda perhatikan, justru akal dan taktik politiknya sungguh mengagumkan dan bertebaran di sepanjang kisah Mahabharata.</p>
<p style="text-align: justify;">Dasar nasib sial cuma terlahir sebagai manusia biasa, segala langkah Sengkuni jelas sudah terbaca oleh Kresna karena <em>support</em> dari Dewata. Berusaha sampai <a title="Njengking ala Bloger" href="http://wiki.cahandong.org/Njengking" target="_blank"><em>njengking</em></a> sekalipun tetap saja kalah, karena tidak punya <em>backing</em> pemegang nasib dan takdir seperti sang Kresna.</p>
<p style="text-align: justify;">Opini mitos Mahabharata di atas memang sangat dangkal adanya. Saya juga terinspirasi dari Seno. Tetapi bisa jadi benar juga, kenapa pandangan konservatif biasanya lebih cenderung memihak legitimasi Kresna. Dan sebaliknya dalam pandangan modern justru Sengkuni yang lebih manusiawi berada dalam batas realitas yang lebih mudah diterima. Meski kedua pandangan tersebut juga belum patut dijadikan teladan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu saya ditanya oleh seorang teman, <em>&#8220;Jadi kamu memihak siapa?&#8221;</em>. <em>Well</em>, mungkin menjadi Sengkuni lebih baik bagi saya. Manusia yang cerdik dan bisa menjadi kontrol penguasa dengan segala kekuatan politis yang licik. <em>Ohya</em>, Alm. Bapak saya juga pernah berpesan, <em>&#8220;bayar zakat fitrah mu dimana kamu makan beras dan minum air-nya&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>NB :</strong> Ini cuma pikiran jorok saya di pagi hari saja. Sambil mendengar lagu Lobow <em>&#8220;Kau Cantik Hari Ini&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Btw, kamu memang cantik hari itu, Sungguh&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/05/politik-wayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

