<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; senja</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/senja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Aug 2010 13:23:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Perdebatan Subuh dan Senja</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/08/07/perdebatan-subuh-dan-senja/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/08/07/perdebatan-subuh-dan-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 20:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[mentari]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rindu bumi]]></category>
		<category><![CDATA[senja]]></category>
		<category><![CDATA[subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Mbak, Sekarang semakin ramai bendera-bendera partai berlambang bulan dan bintang di sini. Justru itu aku malah teringat kata-kata mu, &#8220;Mentari tetap yang berkuasa. Bintang dan bulan tidak terlihat kala mentari ada&#8221;. Memang benar ucapan mu itu. Paling tidak aku bisa memikirkannya dengan serius sekarang ini, di antara batas gelap dan terang, si mentari selalu ada. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://photos-a.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v298/52/18/594791027/n594791027_779200_6809.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-369" title="subuhinboston" src="http://www.kapucino.org/wp-content/uploads/2008/08/subuhinboston.jpg" alt="" width="290" height="387" /></a>Mbak,<br />
Sekarang semakin ramai bendera-bendera partai berlambang bulan dan bintang di sini. Justru itu aku malah teringat kata-kata mu, <em>&#8220;Mentari tetap yang berkuasa. Bintang dan bulan tidak terlihat kala mentari ada&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-369"></span>Memang benar ucapan mu itu. Paling tidak aku bisa memikirkannya dengan serius sekarang ini, di antara batas gelap dan terang, si mentari selalu ada. Ia membuktikan dirinya berkuasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi sekarang bukan soal senja seperti cerita-cerita ku dulu. Aku sedang menjajaki subuh sekarang ini. Aku tidak mencoba sok jumawa dalam rasa adil. Tidak pula memaksa diri berpura-pura mengenal subuh. Hanya saja aku belum sempat bercerita pada mu. Seperti senja dimana ada terang menuju gelap, dan begitu pun subuh dengan hening gelap dihapus terang. Kedua nya adalah tapal batas yang indah dalam nuansa warna berbeda. Cobalah sisakan waktu untuk menyaksikan keduanya. Guratan langitnya memang berbeda, Mbak!</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin aku tidak sempat bercerita banyak soal bagaimana aku juga selalu menikmati subuh. Aku cuma dikenal sebagai pecinta senja dengan tapal batas emasnya. Aku bisa mendiamkan diri dalam hitungan detik bahkan menit ketika senja meluruh di ufuk barat, padahal Mbak di samping ku berharap aku meracau soal dunia yang tidak jelas gelap atau terang. Kau memang selalu memaksa ku <em>riwil</em> karena kau bisanya cuma diam melihat bibir ku komat kamit bercerita.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak,<br />
Kau pasti lebih tahu, dikala subuh tiba, ada suara sumbang pengajian di surau-surau kota. Aku tahu rahasia mereka bisa mengaji berjam-jam sebelum azan subuh tiba. Karena itu adalah suara dari tape recoder. Yang kasetnya sudah bulukan diputar berjam-jam, setiap hari, setiap minggu, bulan bahkan tahunan. Kadang juga diselingi oleh ceramah-ceramah Zainudin MZ, yang dulu aku pikir itu adalah percakapan 2 orang yang direkam. Aku masih berumur 4-7 tahun waktu itu, jadi tidak tahu siapa itu Zainudin MZ.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, di kota asal ku, ada surau tempat ku biasa mengaji. Surau itu selalu mengaji kala senja ketika skor sepak bola kami sudah mendekati angka 10. Jarak surau dengan lapangan kuburan tempat kami bermain bola tidak jauh. Kadang bola yang kami tendang terlalu keras bisa melayang masuk surau. Dan pengurus surau pun marah memaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Di waktu lain, ketika bulan puasa tiba, aku dan teman-teman di kampung bisa tidak tidur semalaman berdiam di surau itu. Alasan yang kami pakai ke ibu bapak kami sama saja <em>&#8220;Bu-Pak, aku menginap di surau ya. Tadarusan&#8221;</em>. Orang tua mana yang kuasa menahan anaknya begitu mulia beribadah di bulan suci? Walau pun cerita nya akan berbeda ketika kami sudah berkumpul. Memang awalnya mengaji. Satu ayat terlantun, 2 lembar sudah lewat. Dan tidak sampai satu Juz, kami mulai melakukan perjalanan tadarus sebenarnya. Mencari arti malam di pelosok kampung. Tidak perlu khawatir dengan teguran pengurus surau. Suara tadarus ayat-ayat suci masih bisa terus berkumandang lewat beberapa murid teladan ustadz kami. Paling buruk sekalipun, ketika kami mulai bakar-bakar singkong atau memasak mie rebus di samping surau, murid-murid teladan itu akan ikut. Dan kaset pengajian bulukan itu pun masih dengan setia mau diputar.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mbak,<br />
kadang aku berpikir penyakit imsomnia ku sudah dimulai sejak aku dibesarkan dekat surau itu&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika subuh semakin dekat, kami pulang. Berjanji bertemu lagi nanti setelah sahur, dan shalat subuh di surau itu. Dan sesi terindah dimulai. Bisa kau bayangkan, Mbak. Tidak pernah surau itu penuh jika subuh berlangsung di bulan-bulan lainnya. Tapi saat itu, seolah-olah semua ingin mengaji di surau ketika subuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Puasa baru saja dimulai ketika mentari terbit. Tetapi soal hasrat, justru juga ikut menguncup, mengembang seolah mengerti mentari adalah sumber segala energi. Bukan cuma karena aku dan teman-teman ku adalah laki-laki muda. Tetapi gadis-gadis di perumahan kami pun sama. Mereka mendadak mengerti hasrat subuh. Aku dan teman-teman mengenalnya sebagai asmara subuh. Anak laki-laki berkeliaran keliling desa, kampung bahkan sampai pinggiran kota menikmati mentari terbit sambil bergaya dengan sarung melilit sehebatnya di depan gadis-gadis. Dan gadis-gadis juga begitu, malu-malu cekikikan kecil manis dalam balutan mukena putihnya, menikmati dipandangi para pemuda tanggung dibawah siraman dingin kuningnya mentari pagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak,<br />
Mentari pagi itu memang indah. Aku mengakuinya. Dulu juga, disaat aku masih tersandar di kota gadis-gadis geulis itu, aku selalu sisakan waktu sebelum subuh ku di pasar dekat perempatan Dago itu. Ibu-ibu penjual sayur, ayam potong, bumbu dapur, jajanan pasar, sampai pakaian dalam sudah menumpuk hanya dalam hitungan tidak lebih 2 jam.</p>
<p style="text-align: justify;">Iya, Mbak. Aku pernah menghitungnya sambil menghabiskan kopi dan menu favoritku, &#8220;Indomie Rebus dengan tambahan rebusan bakso urat&#8221; yang aku beli terpisah di salah satu penjual disana. Jangan salah, justru rasanya nikmat sekali. Karena masih segar dari penggilingan daging di malam hari. Aku bisa beli 3-4 bakso urat. Lalu kutitipkan kepada <em>emang</em> yang memasak Indomie Rebus buat ku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak,<br />
Subuh memang punya banyak cerita buat ku. Dari dulu. Subuh bagi ku adalah awal dari semburat mentari memancar menutup sepi-sepi yang lewat di kala malam. Aku juga bisa menikmatinya seperti aku menikmati senja. Bedanya, ketika senja aku menunggu terang hilang diganti pendar-pendar bintang dan rona bulan. Sampai beberapa waktu lalu, aku tidak mendebatkan antara keduanya. Keduanya indah dengan caranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, Bumi tidak tercipta datar dan rata dari berbagai sisi, seperti wajan penjual martabak Aceh. Jika demikian adanya, Mbak dan aku bisa menikmati senja dan subuh di waktu yang sama, bahkan salam rindu pun bisa kutitipkan kepada mentari, bulan dan bintang, secepat kilat dipantulkan dibelahan lain, seperti gelombang-gelombang panas yang dipantulkan gas rumah kaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak,<br />
Kini aku ingin mendebat bumi, kenapa ia harus bulat?</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<h4><em>Photo ilustrasi dari <a title="Dina Utami" href="http://www.dinautami.com" target="_blank">Dina Utami</a> Facebook Album, outside her window&#8217;s dorm in UCSC, California</em></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/08/07/perdebatan-subuh-dan-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semoga Mendung Tidak Turun Sore Ini</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/29/semoga-mendung-tidak-turun-sore-ini/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/29/semoga-mendung-tidak-turun-sore-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 19:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[senja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Kapal-kapal nelayan beranjak ketika senja berakhir, sementara hidup di remang-remang halogen kota, dimulai dalam detak hasrat yang memuncak mengguncang nadir. Pacuan hidup menggeliat batas-batas kala dari 4 penjuru mata angin. Masing-masing dalam sendiri memikirkan waktu terbaik untuk berkata &#8220;Mari kita Selesaikan Malam ini..&#8221; Kau tahu itu artinya apa? Karena mereka tidak pernah bisa memiliki senja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_533011_7062.jpg" alt="" width="290" height="218" />Kapal-kapal nelayan beranjak ketika senja berakhir, sementara hidup di remang-remang halogen kota, dimulai dalam detak hasrat yang memuncak mengguncang nadir. Pacuan hidup menggeliat batas-batas kala dari 4 penjuru mata angin. Masing-masing dalam sendiri memikirkan waktu terbaik untuk berkata <em>&#8220;Mari kita Selesaikan Malam ini..&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-313"></span>Kau tahu itu artinya apa? Karena mereka tidak pernah bisa memiliki senja yang sekedar dilewati indahnya. Sekedar melewati batas-batas, antara semringis mentari dan kelam malam sebelum bulan diufuk timur menari. Senja tidak terjamah rupa-rupa manusia kota. Bahkan tidak untuk ku atau pun kau yang sering lupa waktu di antara hari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Gelap dan terang, keduanya berlangsung lama dalam hitungan waktu. Tetapi tapal batas keduanya hanya seperti jeda dan hela napas. Ketika subuh datang, justru di saat lelap menggelayut dibalik selimut-selimut wangi milik kita. Ketika senja datang, rasa lelah menutupi kesadaran-kesadaran kita seperti tertidur. Aku melihat tidak ada bedanya antara subuh dan senja, tetapi aku lebih memilih untuk menikmati senja. Waktu ku cukup banyak untuk menandai detik-detik senja.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan kau masukkan gernaha sebagai jawantah tapal batas. Bathara Kala dalam cerita bisa marah jika kau samakan dia dengan senja. Para pecinta senja guratan Seno juga akan bersedih jika babak senja yang indah dalam karya-karyanya disamakan demikian. Bukan karena gerhana tidak indah, bukan karena Bathara Kala bermuka durjana nan nista, sedang senja mewakili rasa-rasa roman yang membuat setiap hati redam. Hanya saja tak elok jika menyandingkan sebuah rubi kuning keemasan dengan selendang emas yang kemilaunya sepanjang batas cakrawala.</p>
<p style="text-align: justify;">Kabarnya matahari tidak pernah tenggelam di negeri senja. Aku yakin kau sudah baca babak itu dalam Negeri Senja. Pintar sekali Seno menggambarkan keindahan senja. Aku tidak pernah kuasa mendeskripsikannya seperti itu, selain dalam mimpi-mimpi yang kadang aku ingat atau tidak. Apalagi sambil menunggang unta. Setahu ku, kuda saja jarang yang mau diajak berjalan melintasi padang safana dengan latar belakang senja. Entah darimana ide lelaki itu membawa unta sebagai perias latar cerita.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga mendengar kabar, banyak orang-orang dari Tugu Yogyakarta ingin menuju ke sana, ke Negeri Senja. Entah kenapa. Aku hanya tahu satu arah perihal senja. Ketika bukit-bukit di Pasundan baru saja menyelesaikan babak senjanya, justru aku menuju arah berlawanan dari sang senja. Menuju timur menumpang batas gerbong kereta, meninggalkan senja di ufuk barat yang masih menyisakan kemilaunya. AKu masih bisa melihat redupnya turun perlahan, sembunyi-sembunyi membuka pintu kereta yang melaju kencang. Lalu gelap, hanya ada suara besi dan tiupan angin malam, tersadar sedetik kemudian sudah berada di Stasiun Yogya dengan latar suara pengajian subuh yang sumbang oleh kaset yang diputar bertahun-tahun lamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kau salah jika menilaiku tidak menikmati senja ufuk barat. Jelas aku menikmati. Prasangka mu ada resah di hatiku membawa segala roman duka, melarikan diri menuju gelap yang jumawa. Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya percaya senja juga ada di ufuk timur sana. Seperti senja yang ada di barat, selatan, utara, bahkan mata angin yang tidak terpetakan. Aku mencari senja-senja yang berbeda. Senja yang sedang bergulat dengan asa, mencari rasa dan terpekur dalam pikirnya yang tidak pernah sia-sia. Tetapi apakah senja-senja itu tahu kalau aku mencarinya? Entahlah..</p>
<p style="text-align: justify;">Biarkan itu menjadi rahasia dari setiap perjalananku. Yang pasti aku masih sempatkan hati berteduh sejenak di antara jalan kota, kampung, rel, laut dan sawah jika senja-senja itu tiba. Nikmati saja indahnya, seperti larik paragraph Seno mengagungkannya,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Segalanya serba keemasan ketika aku memasuki kota itu, serba merah keemas-emasan karena siraman cahaya matahari separuh yang bertengger di cakrawala itu. Kulihat cahaya senja seperti jalinan lembut benang-benang emas yang terpancang, dari matahari langsung ke jendela, ke dinding, ke pohon, dan ke daun-daun. Seperti garis-garis, seperti balok-balok, seperti tiang-tiang yang direbahkan. Rasanya baru sekali ini aku melihat cahaya berleret-leret begitu nyata, seolah-olah benda padat yang bisa dipegang. Tapi tentu saja cahaya bukan benda padat dan orang-orang berkerudung, bersorban, dan bersarung melewatinya sehingga cahaya itu seperti riak kolam yang tersibak-sibak. Cahaya itu menjadi terang dan gelap karena orang-orang yang lewat dan karena itu Negeri Senja seperti sebuah kota yang tenggelam dalam lautan cahaya sepenuhnya. Aku hanya seperti sebuah bayang-bayang yang berjalan. Kulihat bayang-bayangku sendiri menunggangi unta di tembok-tembok kota.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Negeri Senja &#8211; Seno Gumira</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Senja, semoga mendung tidak turun sore ini&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Gambar dari <a title="Only Senja Flickr" href="http://flickr.com/photos/onlysenja/2257993548/" target="_blank">Onlysenja</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/29/semoga-mendung-tidak-turun-sore-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
