Desember telah tiba… Dan lagu berganti, setelah “November Rain” tak geber sebulan penuh di PC ini.
Desember, kalau melihat jadwal Ultah, blog ini juga bakal Ultah pertengahan Desember ini. Gerakan Aceh Merdeka – GAM juga ultah di 4 Desember – bersamaan dengan Mbak Ani si calon pakar perhiasan masa depan. Terus ada ultah sepupu gue nan cabi di Aceh sono. Dan nuansa malam-malam suci mengiring Idul Adha dan Natal nantinya.
Belum lagi dimasukkan ada Hari AIDS sedunia, sampai-sampai pemerintah menggelar kampanye kondom seminggu penuh. Eh,.. juga ada acara Global Warming Campaign di Bali (ini gue diajak Beni ke sana, tapi pake modal dengkul ndiri,.. Mohh…!!) Wuihh… bener-bener bulan penuh perlehatan.
Tapi apa makna Desember bagi gue. ENTAH…!! Desember ya begitu-begitu saja, Desember satu berganti Desember lain setiap tahun, tentunya dengan warna-warnanya sendiri. Hidup juga masih begini-begini saja, paling bulu-bulu tubuh yang terus bertambah dan dicukur, sel-sel tubuh mati dan terus berganti, serta memori otak dan hati dirangkai wacana yang terus berkembangbiak, persis Hardisk PC gue yang selalu full dalam 2 bulanan.
Ntar postingan rada serius membahas AIDS versi gue dalam paradigma penganut “suka-sama-suka”. Atau kalo lagi muncul cerdasnya gue, kita ngebahas Global Warming Conference di Bali dari sudut pandang Global Capitalism. Tsahhhh…. berat amaaaaattt otak mu, Jaalll….
*Sekedar mengisi Ruang Waktu di 1 Desember, dan memasukkan Keyword “AIDS, Global Warming Bali”. Hahahaha….
——
Ahh.. baru aja terpikir setelah melihat gambar di Blog Anto. Tadi sempat ketawa ngakak gila gara-gara ni gambar. Tapi kemudian diam, hening sejenak. Dan bibir mingkem. Kamprettt…!! ini gambar punya makna bagus juga rupanya. :-w … Jadi sekalian nulis ajah.

Gimana? gimana? Kalo Anto ga cerita apa-apa tentang gambar ini di blognya, justru gue pengen cerita.
Gue tuh punya sedikit pemahaman, bahwa produsen kondom adalah pahlawan Indonesia. Dan penjual kondom adalah para pahlawan a.k.a. pemberani di Indonesia.
Dalam masyarakat kita yang serba tabu jika bersinggungan dengan urusan selangkangan, justru produsen kondom mengambil peran sebagai pahlawan. Fungsi kondom sebagai Birth Control jelas adalah terobosan dalam permasalahn sosial kependudukan. Belum lagi jika ditambah dengan fungsinya sebagai garda pertahanan AIDS bagi pria yang mau ngesex tapi beresiko HIV.
Ehh.. jadi elu mendukung freesex yah, Jal? Gue ngga bilang gitu. Sudut pandang gue buat urusan ini ngga terbatas hanya sex dalam nikah saja atau luar nikah doang, apalagi swinger-swingeran, trisam, gigolo, bispak, TG, homok, lesbong, dan urusan eksekusi-eksekusi ringan ala ABG pacaran pake acara peting-petingan.
Intinya udah kodrat manusia untuk urusan bawah puser itu emang kompleks. Dari zamannya Adam masih di Surga juga udah gitu, sampai-sampai die minta ke Tuhan buat diberikan pasangan ber-Yoni, karena si Adam ber-Lingga. Nah, filosofi ampe ke “atas” saja, udah ngasih gambaran ke gue kalo urusan satu ini kodrati.
Gue disini ngga ngeributin perilaku-perilaku para pelaku hubungan intim ini. Hanya coba melihat dari sisi si kondom tadi, si produsen dan penjualnya. Alat satu itu emang simpel kalo dipikir. Tetapi gue pernah masuk pabrik kondom duluuuu banget pas SMP, ngeliat mbak-mbak buruh yang bekerja di situ, dari sekedar cek satu-satu kondom, dimelar-melarin, digelembung-gelembungin, dan tes standar QC lainnya untuk mengetes si kondom. Mereka tanpa malu-malu, tanpa rasa tabu, untuk sekedar biaya makan keluarga sehari-hari, ngepak-ngepakin ribuan kondom perhari. RIBUAN..!!. Terbayang? Berapa aktifitas seksual rata2 di Indonesia perhari, dengan asumsi kondom satu pabrik itu semua buat konsumsi lokal – tanpa persen galat.
Dan ada pula para penjual kondom, dari yang kaki lima seperti di warung remang-remang atau warung jamu atau warung obat kuat. Belum lagi mbak-mbak kasir yang di Indomaret, Superindo, minimarket, apotik-apotik, walau dengan tampang mesem-mesem pas meriksa kotak, ketak-ketik di tuts mesin billing, bungkusin si kondom dengan hati-hati walaupun nantinya berakhir indah penuh peluh ketika dipakai si pembeli.
Gue pernah iseng nanya ama si Mas Kasir di sebuah depot minimarket 24 jam di Bandung, berapa kali seminggu stok kondom di buffet itu habis dan harus restocking (kira-kira ada 100-200 berbagai merk di buffet nya). Dan jawabnya :“Seminggu sekali paling tidak, Mas”.
Heuheuhe… ya itulah paradoksnya. Sebagian dari kita ribut-ribut, malu-malu harimau dengan urusan selangkangan – sampai dibawa ke gedung Dewan Rakyat. Tetapi sebagian lainnya justru menyuplai kebutuhan itu buat keamanan dan kenyamanan kita dalam urusan selangkangan, tanpa malu-malu, tanpa lelah. Karena sudah kodratnya pula bukan hanya bawah puser yang butuh disuplai. Bagian dalam puser kita ini pun suka menuntut lebih. Jadi teringat kata seorang temen saya yang Master Reiki, “Dari seluruh cakra di tubuh manusia, ada 2 cakra yang paling susah dilatih dan di kontrol. Cakra Seks dan Cakra Perut.”
Dan tentang gambar di blog Anto tersebut, kenapa kok jadinya sampai kepikiran gue nulis panjang gini ? Hahaha…
Cuma karena gue kepikiran saja. Seorang Sarjana, entah itu cerdas-cendekia layaknya filosofi jubah dan toga, ternyata tidak cukup menutupi kebutuhannya yang masih berurusan seputar kondom dan selangkangan.
SELAMAT MEMPERINGATI “HARI AIDS”. Be Honest and Romantic to your Fiance, and play safe, please..