<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; social</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/social/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 09:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Rethinking Part 2</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/12/08/rethinking-part-2/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/12/08/rethinking-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Dec 2007 02:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[politic]]></category>
		<category><![CDATA[social]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/12/08/rethinking-part-2/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau Ndoro bilang blog ini cuma trend sesaat, mungkin untuk sekedar blog numpang nyeleb benar adanya. Tetapi justru di ruang-ruang publik internet lain adalah sebaliknya. Sejumlah diskusi panas di beberapa forum-forum internasional dan situs social network sudah melebar kemana-mana. Gesekan-gesekan &#8230; <a href="http://www.kapucino.org/2007/12/08/rethinking-part-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://www1.istockphoto.com/file_thumbview_approve/4673362/2/istockphoto_4673362_vector_sickle_hammer.jpg" align="left" hspace="7" width="270" />Kalau <a href="http://ndorokakung.com" title="Ndoro" target="_blank">Ndoro</a> bilang <a href="http://ihateindon.blogspot.com" title="i hate indon" target="_blank">blog</a><a href="http://"> ini</a> <a href="http://ndorokakung.com/2007/12/05/indon-pecas-ndahe/" title="Indon Pecah Endahe" target="_blank">cuma trend sesaat</a>, mungkin untuk sekedar blog numpang nyeleb benar adanya. Tetapi justru di ruang-ruang publik internet lain adalah sebaliknya. Sejumlah diskusi panas di beberapa forum-forum internasional dan situs social network sudah melebar kemana-mana. Gesekan-gesekan di level masyarakat dan grassroot kedua negara sudah bukan lagi diskusi sehat tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi sudah pada saling memaki, merendahkan harkat martabat masing-masing negara, resolusi dengan berperang, hingga mengancam untuk saling menyabotase tahun kunjungan wisata 2008 kedua negara, entah secara opini atau dalam bentuk fisik. Apakah kelakuan seperti ini sudah termasuk bentuk kejahatan intercontinental/international?</p>
<p align="justify">Coba kita lihat kondisi Malaysia sendiri, yang kini diliputi kecemasan akan <a href="http://www.google.co.id/search?q=Ethnic+Cleansing+malaysia&amp;ie=utf-8&amp;oe=utf-8&amp;aq=t&amp;rls=org.mozilla:en-US:official&amp;client=firefox-a" title="Cek aja di Google Gosipnya." target="_blank">Ethnic Cleansing</a> setelah demo yang dilakukan sebagian komunitas India di Malaysia (<a href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;client=firefox-a&amp;rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&amp;hs=h6T&amp;q=HINDRAF&amp;btnG=Telusuri&amp;meta=" title="yaa,..silahkan Google lagi.." target="_blank">HINDRAF</a>) beberapa waktu lalu. Dan sampai sekarang isu-nya terus berkembang mengarah ke berbagai sentimen lainnya. Memang situasi ini sangat kental oleh unsur politik. Membuat saya teringat juga kalau kondisi politik internal yang sama tidak jauh berbeda terjadi di Indonesia dalam kilasan-kilasan suram sejarah bangsa ini. Sebut saja setiap masa-masa peralihan kekuasaan yang punya daftar hitam. Dan sampai sekarang pun masih ada sedikit intrik berupa sentimen agama, dibasuh oleh berita-berita ajaran sesat dan Islam Garis Keras. Tidak lupa pula memasukan konflik vertikal disintegrasi yang tak kunjung selesai.</p>
<p align="justify">Memang ada usaha kedua negara untuk me-rekonsiliasi dan <a href="http://www.budpar.go.id/page.php?ic=511&amp;id=3289" title="Tim Kerja dan Aduan Pemerintah Indonesia" target="_blank">membentuk tim kerja mengurusi masalah ribut-ribut budaya ini</a>. Tetapi yang terbayang di kepala saya adalah para petinggi-petinggi cuma duduk-duduk saja di tiap rapat pertemuan berganti-ganti di kedua hotel megah kedua negara. <a href="http://tikabanget.com/2007/11/06/rapat-instansi-pemerintah-ituh/" title="Kejadian Serupa Om-nya Mbak Tika" target="_blank">Menghabiskan biaya setiap rapat untuk menentukan jadwal rapat lainnya</a>.</p>
<p align="justify">Semoga negative thinking saya di atas salah. Tolong buktikan bahwa saya salah.</p>
<p align="justify">Saya tidak bicara Malaysia sebagai &#8220;Malingsia. Apalagi mengatai orang-orang Indonesia sebagai Mat-Minah Indon. Karena jika berpikir dalam posisi saya dengan KTP Indonesia, malah saya lebih cenderung berpihak pada Indonesia. Tetapi coba kita meletakkan permasalahan secara tepat dalam ruang hubungan 2 negara yang seharusnya. Kalau perlu dalam kerangka sebagai sesama manusia. Serupa dengan seharusnya Indonesia bisa meletakkan masalah-masalah disintegrasi bangsa dan konflik horizontal dalam kerangka kemanusiaan secara utuh.</p>
<p align="justify">Sekedar mengingatkan kembali kepada kita sebagai warga Indonesia Raya. Bahwa jangan pernah berpikir bahwa negara lain adalah salah adanya sebelum kita berpikir apa yang salah pada diri kita. Mengutip sebuah pemikiran dari <a href="http://intelindonesia.blogspot.com" title="katanya sih Intel" target="_blank">Senopati Wirang</a>, &#8220;<em><strong>Self Awarness</strong></em> negara kita ini yang kurang&#8221;. <em><strong>Bullshit</strong></em> kalau kepala kita men-dogma-kan hidup dalam berhubungan antar negara adalah aman-aman saja. Harus disadari bahwa sudah kodratnya manusia untuk saling memiliki kepentingan satu sama lain. Begitu pun dalam ukuran negara-negara. Sudah kodratnya dalam hubungan antar negara, suatu negara memiliki kepentingan terhadap negara lainnya. Jika negara lain mengatur segala cara untuk bisa memaksakan kepentingannya itu kepada negara kita, itu adalah memang tugas mereka, kepentingan mereka, politik mereka. <em><strong>Pertanyaannya</strong></em>, seberapa besar kita waspada? <em><strong>Dan seberapa besar kita bisa mengedepankan kepentingan kita dalam berhubungan antar negara-negara dunia?</strong></em> Dan itulah tugas kita, saya dan siapapun yang mengaku merah putih di dadanya.</p>
<p align="justify">Kembali kepada ribut-ribut kusir maling budaya yang terjadi. Saya jadi berpikir yang ribut-ribut diberbagai media forum, social network dan portal online tersebut bukan lagi cendikia-cendikia kedua negara, bukan lagi orang-orang pintar, apalagi pejabat-pejabat negaranya. Mungkin kelompok-kelompok sosial menengah keatas ini sudah tidak peduli lagi dengan masalah <em>ecek-ecek</em> seperti ini, dan lebih baik memikirkan <em>prestige</em> dan gaya sosial hidup masing-masing di keseharian. Mungkin saja seperti anda? Dan mungkin juga saya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/12/08/rethinking-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

