Seberapa banyak dari masyarakat negeri ini sadar jika anggaran pendidikan mereka sudah ditetapkan oleh konsttitusi sebesar 20%? Sejak ditetapkan tahun 2003 sampai sekarang, apakah pernah angka tersebut tercapai dalam APBN kita?
Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda
Seberapa banyak dari masyarakat negeri ini sadar jika anggaran pendidikan mereka sudah ditetapkan oleh konsttitusi sebesar 20%? Sejak ditetapkan tahun 2003 sampai sekarang, apakah pernah angka tersebut tercapai dalam APBN kita?
Kawan, aku kembali kepada cerita tentang kondisi yang memiriskan hati. Lebih tepatnya bukan kembali. Tetapi memang setiap saat, setiap hari, setiap aku membuka koran, internet, blog dan bahkan membuka mata dan telinga ini (dari dulu), seolah-olah angin sekitar aku mengabarkan bahwa negeri ini benar-benar berada dalam kerusakan. Dari kerusakan alam, kerusakan moral, kehancuran nilai kemanusiaan, rusaknya hukum yang adil sampai kerusakan bangunan sosial.
Ketika Soeharto langser, saya saat itu aman sentosa sedang mengkuti proses penerimaan Siswa Baru di calon SMU saya. Berhubung panjang dan ruwetnya pendaftaran, ditambah dengan ala militer-nya itu, jadi saya sama sekali tidak paham apa yang terjadi diluar sana. Saya baru paham setelah diterima di sekolah itu dan menyelesaikan semua kegiatan awal-awal seorang siswa baru. Dan “JRENG”, saya kaget atas apa yang terjadi dari cerita-cerita surat kabar.
Kok bisa saya tidak tahu? Padahal itu adalah kejadian paling bersejarah yang seharusnya tidak luput dari siapapun di negeri ini. Yap, demikianlah hebatnya sebuah kehidupan militer. Setiap instansi militer memiliki tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Walaupun mungkin secara tidak langsung kondisi nasional mempengaruhi, tetapi manajemen secara hirarkis komando memungkinkan kondisi sedemikian rupa sehingga dalam konteks interen instansi tersebut tidak terpengaruh. Ditambah saya sendiri yang kala itu masih imut muda dengan otak yang belum tercemar suka sok cari tahu seperti sekarang. Sangat wajar kalau saya kaget saat itu.
Dan hari Minggu lalu, ketika saya masih senang-senangnya bertarung dengan sampah dan berbahagia dengan teman-teman baru, saya mendapat kabar si Eyang telah meninggalkan kita semua. Saya teringat waktu itu saya dapat informasi “juga dengan KAGET”. Mungkin Kang Heri, Om Denden dan Uncle Goop tidak sadar kalau saya kaget karena berita dari mereka itu. Tetapi asli saya kaget. Soalnya baru saja paginya, kira-kira pukul 4 pagi, saya melihat Detik masih mengabarkan beliau membaik kondisinya. Malahan saya yakin beliau bisa sehat kembali, walau cuma untuk memperpanjang umur sebentar saja. Kenyataannya berbeda, Tuhan paling tahu apa yang pantas dan tidak pantas.
Saya langsung meng-SMS Anto yang saat itu sedang tebar pesona di bawah pohon rindang. Sekaligus “sms to group” lainnya ke beberapa teman. Ternyata saya lebih dulu tahu daripada beberapa teman yang notabene berada di Kota. Ada yang sedang menghabiskan siang bersama pacar, ada yang sedang sibuk ngurusi calon bini yang rewel minta kawin, ada juga yang masih nguli lembur jaga BTS telephone nya Malaysia, ada juga yang baru check out hotel sama TTM-nya. Lha saya sendiri sedang istirahat dari berburu sampah di pandai Pandansari, belah selatan Pulau Jawa.
Dari awal januari, kita menunggu beliau lewat berita-berita TV dan koran yang menghebohkan. Sepanjang rentang waktu itu pula kita ribut-ribut. Ada yang berkoar-koar tentang urusan hukum beliau yang tertunda-tunda. Memaafkan menjadi sebuah permintaan massal, padahal urusan ini adalah sesuatu yang sangat personal. Di lain sisi, keadilan yang merupakan tanggung jawab bersama sebagai bangsa taat hukum, malah di boyong kearah ranah personal.
Saya cuma bisa mendehem saja melihat riweuh-riweuh itu, bersama tumpukan deadline yang malas saya kerjakan. Hanya bisa berharap, cukup sekali saja kita kehilangan seorang Pemimpin Besar dengan status dipertanyakan, meninggal dalam tahanan sendirian tanpa suatu kepastian hukum, membingungkan generasi muda seperti saya untuk mengenal sang Pemimpin Bangsa lebih dekat dengan bangga - entah baik atau buruknya.
Seperti kata para simpatisan Nixon “si Presiden Watergate”, mereka berani bicara lantang dengan bangga “Wrong is wrong , but i like whats the best he can did.”
*Gambar di-scan dari “Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”. Sebuah buku yang saya peroleh gratis dari Alm. Soeharto ketika temu wicara dengan beliau di Jakarta, Agustus 1996.
Saya sedang kecanduan Pacebuk™. Iya, memalukan memang. Gara-gara ada orang yang meminta untuk membangun aplikasi thirdparty ke si Pacebuk™ ini, membuat saya membuka lagi akun saya yang telah lama ditinggal kosong begitu saja, saya keliling untuk mempelajarinya, otomatis mencoba bermain-main dengan applikasi yang ada. Ternyata invited dari teman-teman juga sudah banyak. Ya sudah, sekalian confirm. Jujur saja lebih menarik dari Prenster™ dan MySpace memang. Karena membuat tiap individu beda dengan ketertarikan tersendiri terhadap fitur-fitur pilihan mereka. Mengenal seseorang dari apa yang menjadi interest buat mereka adalah hal yang menarik buat saya. Dan resikonya ketahuan apa? Saya menjelajah seluruh network teman-teman, mencari link-link diskusi buat kerjaan, melihat dan mencoba beragam aplikasi yang menarik, bermain-main dengan game lucu dan malah menginfeksi teman-teman yang belum bergabung!
Tetapi CUKUP! Gejala puber kedua setelah Prenster™ ini harus dicegah. Bukan hanya karena tujuan awal untuk belajar tadi itu, tetapi lebih karena sebuah aplikasi thirdparty yang menyentuh sedikit hati saya. Dengan nama aplikasi “Seberapa hijau saya” yang dalam bahasa Inggris dibaca “How’s Green Are You?“
Disana ada sebuah ungkapan menarik dari diskusi di forumnya. Sebuah pertanyaan seberapa hemat saya dalam menggunakan Internet. Bahkan lebih serem lagi bertanya, seberapa hemat saya menggunakan resource Hosting, Space dan Bandwith. Oh ada juga lebih ekstrim lagi, pertanyaan seberapa besar efisiensi seorang programmer dalam membangun aplikasi dengan kode-kodenya yang hemat dan ga berputar-putar bikin komputer dan user lelet puyeng-puyeng! Terlihat gila? Awalnya saya juga berpikir begitu.
Tetapi coba dipikir, walaupun pengaruhnya sangat kecil mungkin, tetapi ini berefek juga pada emisi gas buang. Generator listrik Hosting-hosting server di US itu menggunakan bahan bakar. Belum lagi kita juga menggunakan listrik walau sekedar men-charge laptop saja. Ditambah pula dengan berinternet hanya untuk ngider-ngider di Prenster™, chating nakal, atau malah ada yang mungkin download sesuatu yang “tidak jelas kebutuhannya”.
Tersindir? Sama. Menyindir saya juga kok. Saya nyadar kalau saya masih memilih mendownload film dari pada berjalan kaki ke rental atau toko DVD. Saya ngerti musik Rock di komputer saya masih berasal dari MP3 bajakan hasil unduh. Dan saya memahami lain-lain yang membuktikan bahwa saya belum berhemat energi.
Sebenarnya hal yang kecil-kecil begini terlalu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sementara bos-bos NGO di Bali sono pada ngobrolin pokok-pokok bahasan Global Warming yang masih “melangit”. Mereka berbicara pada tataran bagaimana berjual-beli emisi dengan kebun dan hutan. Sedangkan kita masih belibet dengan urusan mengatur sampah rumah tangga, Busway anti macet, atau kredit motor. Walaupun memang tidak bisa menjauhkan diri kita sebagai sebab panas yang makin tinggi di muka bumi, tetapi meminta kita menyadari Danau Chad yang mengering, beruang kutub yang terbunuh atau Kilimanjoro yang tidak ber-es lagi, masih terlalu mengawang-awang dari pemahaman kebanyakan dari kita.
Tetapi di lain sisi, ada orang-orang yang ribut bahwa muka air laut naik akibat Global Warming, tetapi kurang menyadari peran pembangunan kawasan pantai hingga membabat bakau malah menjadi sebab yang mempercepat air laut naik. Kita teriak-teriak banjir disebabkan pola iklim yang sudah berubah, tetapi tidak sadar tata kota yang buruk dan sampah menggunung menjadi sebab utama. Pemerintah menyalahkan petani tradisional sebagai sebab hilangnya hutan, padahal izin HPH untuk si konglomerat dan buldozer-nya bisa diatur dengan kongkalikong tak terjangkau hukum. Program ini itu dari pemerintah untuk mengurangi kemacetan dan emisi gas buang, tetapi ikon komersialisasi dan kemewahan terus disupport demi lakunya pasar kendaraan bermotor.
Saya tidak tahu apa yang dibicarakan di Bali, apa keputusan yang mereka buat di sana atau lebih tepatnya apa manfaatnya bagi dunia, dan Indonesia Raya ini khususnya. Selain terbayang di kepala saya entah berapa banyak deal-deal bisnis yang tersebar, proyekan ini-itu yang menjadi target broker-broker nakal pemerintah. Jujur, itulah sudzon-nya saya ketika melihat hebatnya perlehatan expo lingkungan disana lewat televisi.
Ah sudahlah. Kembali saja ke awal tadi, ke si Pacebuk™. Mungkin bisa jadi nanti saya memakai Internet ini untuk mencari kebutuhan buat kerjaan saja. Kemudian menutup si Pacebuk™ dan segala akun saya di website yang tidak berguna. Atau mungkin sekalian saja saya tutup ruang komentar blog ini dan anda-anda tinggal mengirit emisi dengan membaca lewat Feed Reader atau kopi saja satu Kapucino.Org lewat Google Gears ??
Desember telah tiba… Dan lagu berganti, setelah “November Rain” tak geber sebulan penuh di PC ini.
Desember, kalau melihat jadwal Ultah, blog ini juga bakal Ultah pertengahan Desember ini. Gerakan Aceh Merdeka - GAM juga ultah di 4 Desember - bersamaan dengan Mbak Ani si calon pakar perhiasan masa depan. Terus ada ultah sepupu gue nan cabi di Aceh sono. Dan nuansa malam-malam suci mengiring Idul Adha dan Natal nantinya.
Belum lagi dimasukkan ada Hari AIDS sedunia, sampai-sampai pemerintah menggelar kampanye kondom seminggu penuh. Eh,.. juga ada acara Global Warming Campaign di Bali (ini gue diajak Beni ke sana, tapi pake modal dengkul ndiri,.. Mohh…!!) Wuihh… bener-bener bulan penuh perlehatan.
Tapi apa makna Desember bagi gue. ENTAH…!! Desember ya begitu-begitu saja, Desember satu berganti Desember lain setiap tahun, tentunya dengan warna-warnanya sendiri. Hidup juga masih begini-begini saja, paling bulu-bulu tubuh yang terus bertambah dan dicukur, sel-sel tubuh mati dan terus berganti, serta memori otak dan hati dirangkai wacana yang terus berkembangbiak, persis Hardisk PC gue yang selalu full dalam 2 bulanan.
Ntar postingan rada serius membahas AIDS versi gue dalam paradigma penganut “suka-sama-suka”. Atau kalo lagi muncul cerdasnya gue, kita ngebahas Global Warming Conference di Bali dari sudut pandang Global Capitalism. Tsahhhh…. berat amaaaaattt otak mu, Jaalll….
*Sekedar mengisi Ruang Waktu di 1 Desember, dan memasukkan Keyword “AIDS, Global Warming Bali”. Hahahaha….
——
Ahh.. baru aja terpikir setelah melihat gambar di Blog Anto. Tadi sempat ketawa ngakak gila gara-gara ni gambar. Tapi kemudian diam, hening sejenak. Dan bibir mingkem. Kamprettt…!! ini gambar punya makna bagus juga rupanya.
… Jadi sekalian nulis ajah.

Gimana? gimana? Kalo Anto ga cerita apa-apa tentang gambar ini di blognya, justru gue pengen cerita.
Gue tuh punya sedikit pemahaman, bahwa produsen kondom adalah pahlawan Indonesia. Dan penjual kondom adalah para pahlawan a.k.a. pemberani di Indonesia.
Dalam masyarakat kita yang serba tabu jika bersinggungan dengan urusan selangkangan, justru produsen kondom mengambil peran sebagai pahlawan. Fungsi kondom sebagai Birth Control jelas adalah terobosan dalam permasalahn sosial kependudukan. Belum lagi jika ditambah dengan fungsinya sebagai garda pertahanan AIDS bagi pria yang mau ngesex tapi beresiko HIV.
Ehh.. jadi elu mendukung freesex yah, Jal? Gue ngga bilang gitu. Sudut pandang gue buat urusan ini ngga terbatas hanya sex dalam nikah saja atau luar nikah doang, apalagi swinger-swingeran, trisam, gigolo, bispak, TG, homok, lesbong, dan urusan eksekusi-eksekusi ringan ala ABG pacaran pake acara peting-petingan.
Intinya udah kodrat manusia untuk urusan bawah puser itu emang kompleks. Dari zamannya Adam masih di Surga juga udah gitu, sampai-sampai die minta ke Tuhan buat diberikan pasangan ber-Yoni, karena si Adam ber-Lingga. Nah, filosofi ampe ke “atas” saja, udah ngasih gambaran ke gue kalo urusan satu ini kodrati.
Gue disini ngga ngeributin perilaku-perilaku para pelaku hubungan intim ini. Hanya coba melihat dari sisi si kondom tadi, si produsen dan penjualnya. Alat satu itu emang simpel kalo dipikir. Tetapi gue pernah masuk pabrik kondom duluuuu banget pas SMP, ngeliat mbak-mbak buruh yang bekerja di situ, dari sekedar cek satu-satu kondom, dimelar-melarin, digelembung-gelembungin, dan tes standar QC lainnya untuk mengetes si kondom. Mereka tanpa malu-malu, tanpa rasa tabu, untuk sekedar biaya makan keluarga sehari-hari, ngepak-ngepakin ribuan kondom perhari. RIBUAN..!!. Terbayang? Berapa aktifitas seksual rata2 di Indonesia perhari, dengan asumsi kondom satu pabrik itu semua buat konsumsi lokal - tanpa persen galat.
Dan ada pula para penjual kondom, dari yang kaki lima seperti di warung remang-remang atau warung jamu atau warung obat kuat. Belum lagi mbak-mbak kasir yang di Indomaret, Superindo, minimarket, apotik-apotik, walau dengan tampang mesem-mesem pas meriksa kotak, ketak-ketik di tuts mesin billing, bungkusin si kondom dengan hati-hati walaupun nantinya berakhir indah penuh peluh ketika dipakai si pembeli.
Gue pernah iseng nanya ama si Mas Kasir di sebuah depot minimarket 24 jam di Bandung, berapa kali seminggu stok kondom di buffet itu habis dan harus restocking (kira-kira ada 100-200 berbagai merk di buffet nya). Dan jawabnya :“Seminggu sekali paling tidak, Mas”.
Heuheuhe… ya itulah paradoksnya. Sebagian dari kita ribut-ribut, malu-malu harimau dengan urusan selangkangan - sampai dibawa ke gedung Dewan Rakyat. Tetapi sebagian lainnya justru menyuplai kebutuhan itu buat keamanan dan kenyamanan kita dalam urusan selangkangan, tanpa malu-malu, tanpa lelah. Karena sudah kodratnya pula bukan hanya bawah puser yang butuh disuplai. Bagian dalam puser kita ini pun suka menuntut lebih. Jadi teringat kata seorang temen saya yang Master Reiki, “Dari seluruh cakra di tubuh manusia, ada 2 cakra yang paling susah dilatih dan di kontrol. Cakra Seks dan Cakra Perut.”
Dan tentang gambar di blog Anto tersebut, kenapa kok jadinya sampai kepikiran gue nulis panjang gini ? Hahaha…
Cuma karena gue kepikiran saja. Seorang Sarjana, entah itu cerdas-cendekia layaknya filosofi jubah dan toga, ternyata tidak cukup menutupi kebutuhannya yang masih berurusan seputar kondom dan selangkangan.
SELAMAT MEMPERINGATI “HARI AIDS”. Be Honest and Romantic to your Fiance, and play safe, please..
Back to Mini Black Theme by Leksa (just for a while, babe)
Powered by WordPress and a cup of Cappucino Float