<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kapucino &#187; sosial</title>
	<atom:link href="http://www.kapucino.org/tag/sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kapucino.org</link>
	<description>Cuma Segelas Kopi Dengan Rasa Berbeda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Aug 2010 13:23:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Dilarang Mengaji</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 20:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[mengaji]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih jumlah kitab kuning yang tersimpan rapi di lemari-nya, atau soal doa-doa rajah, atau soal adat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-h.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v292/68/23/661293665/n661293665_628431_8270.jpg" alt="" width="290" height="193" />Almarhum kakek saya adalah seorang muslim yang dalam sudut pandang saya bukanlah orang hebat atau orang penting sama sekali. Cuma seorang tua yang menjadi kakek buat cucu-cucunya. Soal memahami islam, beliau memang punya ruang tersendiri dalam keluarga besar kami. Alih-alih jumlah kitab kuning yang tersimpan rapi di lemari-nya, atau soal doa-doa <em>rajah</em>, atau soal adat ini itu, bahkan memilih nama dan tanggal baik pun dilakoninya selama hidup. Dari sekian banyak waktu saya bersamanya karena memang beliau tinggal bersama saya, ada satu hal tentang beliau yang masih teringat baik di kepala saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-351"></span>Dulu, saat saya masih kecil, mungkin belum juga TK, televisi masih hanya berisi siaran TVRI. Secara rutin disiarkan acara bimbingan rohani keagamaan secara bergantian dari tiap agama yang diakui di negara ini. Dari sejak kecil itu, kakek saya sudah mengajarkan kami bagaimana menyikapi acara tersebut. Bukan dengan ceramah panjang. Bukan pula sebuah lakon ala preman memukulkan rotan. Hanya sebuah pesan sederhana yang sangat mudah di tangkap anak kecil seusia saya dan kakak saya. Paling tidak efek nya luar biasa mengenang, karena begitu juga yang saya lihat ke semua saudara sepupu yang seumuran dengan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek ini sangat terngiang-ngiang di dalam diri saya sampai sekarang. Terutama setelah suatu kejadian sederhana ketika saya SD, kira-kira masih kelas 1 atau kelas 2 <em>-kalau tidak salah. </em>Saat itu saya pulang sekolah bersama kakak, Ibu (yang menjadi guru di SMP sebelah SD saya) dan ayah saya. Dalam perjalanan pulang itu, ayah saya menanyakan bagaimana ujian saya di sekolah tadi. Saat itu memang saya sedang ujian caturwulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan ujian hari itu adalah PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Jujur saja, semua soal-soal sangat mudah saya jawab. Hanya ada satu soal yang menjadi masalah buat saya saat itu, dan saya ceritakan kepada ayah dan ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam soal ujian ditanyakan sebuah pernyataan sikap apabila di televisi sedang menayangkan siaran rohani agama lain, apa sikap yang musti diambil? Ya, pertanyaan yang mudah, dan saya juga yakin anda pasti tahu option-option jawabannya. Tetapi bagi saya saat itu, malah sebaliknya. Dari 4 option tersebut, ada 2 jawaban yang meragukan saya. Pertama adalah <em>&#8220;dengan membiarkan acara rohani tersebut tayang&#8221; </em>atau<em>&#8220;mematikan televisi&#8221;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, ibu saya menanyakan, saya memilih jawaban apa. Saya katakan dengan benar-benar bingung, saya menunggu sampai waktu ujian berakhir dan akhirnya memilih <em>&#8220;mematikan televisi&#8221;.</em> Ayah saya bingung dengan jawaban saya itu. Beliau menanyakan kenapa.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan saya sangat sederhana saat itu. Hanya karena melihat apa yang selama ini diajarkan kakek saya. Biasanya beliau selalu menyuruh saya mengecilkan volume suara televisi ketika siaran rohani agama lain berlangsung. Dan karena di option jawaban tidak ada <em>&#8220;mengecilkan volume suara TV&#8221;</em>, maka yang paling dekat dengan itu ya <em>&#8220;mematikan televisi&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em></em>Seketika itu satu mobil menertawai saya. Tentunya bukan karena sebuah tawa membodohi. Saya bisa merasakan itu adalah sebuah tawa yang satir. Dan tidak ada penjelasan sama sekali sampai di rumah, sementara saya masih terus ditertawai oleh kakak saya. Saya cuma terdiam dalam bete dan penuh tanda tanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini mungkin hanya angin lewat buat anak kecil seperti sayya waktu itu. <em>Toh</em>, saya juga masih bisa mendapat ranking 1 di kelas. Tetapi bekasnya masih terasa sampai sekarang karena pada suatu malam setelah kejadian konyol itu, entah bagaimana, kakek saya menjadi lebih banyak omong dari biasanya soal acara rohani di televisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, saya refleks mengecilkan volume suara televisi. Dan kakek saya sebagai penikmat televisi menunggu acara &#8220;Dunia Dalam Berita&#8221; pasti duduk nyaman di depan televisi dengan buku bacaannya. Dan beliau pun bersuara (kira-kira begini)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dek, tv-nya ngga dimatikan saja?&#8221;, ujar beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya cuma diam, lalu kembali ke televisi tanpa remote itu, dan menekan tombol mati. Tetapi beliau berujar lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Abah cuma nanya, &#8216;ga nyuruh kamu matikan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dasar orang tua aneh, saya pun menghidupkannya lagi tanpa bicara apa-apa. Dan beliau pun berbicara lagi,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dek, mereka itu sedang ngajarin ngaji ke pemeluk agamanya. Seperti Abu Ya <em>(guru mengaji saya di Langgar dekat rumah)</em> juga ngajar ngaji ke adek. Adek &#8216;ga perlu dengar apa yang mereka ajarkan, tapi cukup tahu saja kalau mereka itu juga ada di sekitar kita. Mereka berhak ngaji kayak adek juga&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu, pesan tersebut terlalu susah buat saya mengerti. Tetapi dengan makin bertambahnya umur, saya semakin mengerti maksud dari sikap dan pesan beliau tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah <strong>&#8220;penghormatan perbedaan&#8221;</strong> keyakinan itu memang mahal harganya. Kalau boleh saya katakan seperti membunuh ego terbesar dalam diri manusia. Terkadang kita terlalu sulit menempatkan diri dalam memahami perbedaan, yang hanya berujung pada kebingungan identitas diri. Tak salah pada akhirnya malah menciptakan argumen-argumen lunak yang mudah diplintir kesana kemari. Sebuah hal yang sangat rumit untuk saya pahami sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ternyata pesan sederhana seperti dari kakek saya itu memiliki kesan sampai saat ini buat saya maknai, walaupun akhirnya kitab-kitab kuningnya itu hanya diwarisi ke adik saya yang lain. Mungkin beliau tahu benar bagaimana saya akan menemukan <em>&#8220;kitab kuning&#8221;</em> nya tersebut dengan cara saya sendiri. Mungkin juga dari awal beliau sudah mengenal orok cucunya satu ini sehingga hanya dinamakan pendek sembilan huruf saja.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Malam ini saya membaca sebuah dagelan indah dari negeri krisis APBN <em>-bukan BBM</em>- soal pelarangan &#8220;mengaji&#8221;. Dan mendadak malam ini pun saya merasa bersyukur terlahir sebagai muslim dari darah kakek saya. Dan tentunya darah Negeri Serambi Mekah yang notabene dikatakan bersyariat islam oleh  orang-orang yang melarang-larang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p><em>Illustrasi diambil dari <a title="Illustrasi Gambar" href="http://saifulislam.com/?p=243" target="_blank">sini</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/06/10/dilarang-mengaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anggaran Menye-Menye</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/04/17/anggaran-menye-menye/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/04/17/anggaran-menye-menye/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 22:22:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa banyak dari masyarakat negeri ini sadar jika anggaran pendidikan mereka sudah ditetapkan oleh konsttitusi sebesar 20%? Sejak ditetapkan tahun 2003 sampai sekarang, apakah pernah angka tersebut tercapai dalam APBN kita? Dan beberapa hari lalu, kembali jatah anggaran Sisdiknas dipotong. Dengan alasan ancaman defisit akibat kondisi ekonomi dunia, sebesar 10% anggaran pendidikan tahun ini kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="http://photos-f.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v241/68/23/661293665/n661293665_508157_6751.jpg" alt="Pendidikan Bangkrut - Edutrend Edisi 3" width="290" height="353" />Seberapa banyak dari masyarakat negeri ini sadar jika anggaran pendidikan mereka sudah ditetapkan oleh konsttitusi sebesar 20%? Sejak ditetapkan tahun 2003 sampai sekarang, apakah pernah angka tersebut tercapai dalam APBN kita?</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-297"></span>Dan beberapa hari lalu, kembali <a title="Anggaran Pendidikan Dipangkas" href="http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/10/21382141/anggaran.pendidikan.turun.drastis" target="_blank">jatah anggaran Sisdiknas dipotong</a>. Dengan alasan ancaman defisit akibat kondisi ekonomi dunia, sebesar 10% anggaran pendidikan tahun ini kembali dipotong dalam Perubahan APBN.</p>
<p style="text-align: justify;">
<blockquote style="text-align: justify;">Anggaran Departemen Pendidikan Nasional sebagai departemen pengemban tugas utama di bidang pendidikan dalam pemerintahan, hanya sebesar Rp 45,9 triliun tahun lalu dan itupun belum mencapai 20 persen sesuai amanat konstitusi. Sedangkan, setelah APBN-P tahun 2008 yang disahkan hari ini, anggaran Departemen Pendidikan Nasional dari Rp 49,7 triliun terpotong hingga tersisa Rp 44,7 triliun.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">APBN tahun lalu saja hanya menganggarkan 11,8% dari total APBN. Dan dengan perhitungan yang sama, APBN-P tahun ini turun menjadi 9,6% .</p>
<p style="text-align: justify;">Memang efisiensi menjadi penting mengingat kondisi ekonomi dunia yang memburuk. Belum lagi jika berbicara korupsi yang terjadi, terutama ditubuh Diknas. Rahasia umum kalo kata saya <em>mah</em>. Seperti mengulang memori cerita lama jika berbicara korupsi di berbagai institusi pendidikan negara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita boleh menangis <em>menye-menye </em>menyadari bahwa belum pernah persentase itu tercapai dalam sejarah APBN kita. Lalu buat apa juga dulu dibuat angka itu? Bukankah Undang-Undang di negara hukum ini punya kekuatan luar biasa untuk mengatur segala kehidupan warganya? Bahkan sampai urusan moral saja diatur oleh Undang-undang?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya jadi teringat salah satu petikan lagu Bang Iwan,</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Masalah moral masalah akhlak<br />
Biar kami cari sendiri<br />
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu<br />
Peraturan yang sehat yang kami mau</p>
<p>Tegakkan hukum setegak-tegaknya<br />
Adil dan tegas tak pandang bulu<br />
Pasti kuangkat engkau<br />
Menjadi manusia setengah dewa</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dan kalau anda melihat berita-berita media akhir ini, lebih banyak bercerita tentang kaum-kaum oportunis yang bersiap-siap untuk 2009. Berita tentang defisit anggaran, kemiskinan, bahkan berita perihal pemotongan anggaran ini saja hanya masuk dalam kolom kecil -hampir tidak terbaca. Kalah oleh headline-headline besar soal rebutan kursi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/04/17/anggaran-menye-menye/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percakapan Beda Dunia</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/03/21/percakapan-beda-dunia/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/03/21/percakapan-beda-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 20:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/03/21/percakapan-beda-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[Kawan, aku kembali kepada cerita tentang kondisi yang memiriskan hati. Lebih tepatnya bukan kembali. Tetapi memang setiap saat, setiap hari, setiap aku membuka koran, internet, blog dan bahkan membuka mata dan telinga ini (dari dulu), seolah-olah angin sekitar aku mengabarkan bahwa negeri ini benar-benar berada dalam kerusakan. Dari kerusakan alam, kerusakan moral, kehancuran nilai kemanusiaan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://photos-665.ll.facebook.com/photos-ll-sctm/v213/68/23/661293665/n661293665_453154_3005.jpg" alt="Indonesia Enlightment" height="201" width="290" />Kawan, aku kembali kepada cerita tentang kondisi yang memiriskan hati. Lebih tepatnya bukan kembali. Tetapi memang setiap saat, setiap hari, setiap aku membuka koran, internet, blog dan bahkan membuka mata dan telinga ini (dari dulu), seolah-olah angin sekitar aku mengabarkan bahwa negeri ini benar-benar berada dalam kerusakan. Dari kerusakan alam, kerusakan moral, kehancuran nilai kemanusiaan, rusaknya hukum yang adil sampai kerusakan bangunan sosial.</p>
<p align="justify"><span id="more-271"></span>Beberapa saat lalu aku tercenung dengan berita kelaparan yang dikabarkan FAO itu. Walau aku paling susah mempercayai informasi dari lembaga-lembaga dunia macam ini. Tetapi saat ini ada benarnya mengakui ini dengan cara berbeda. Coba lihat sekeliling kita, kawan. Kondisi ekonomi negara sesuai kata Statistik yang dibangga-banggakan pemimpin negeri ini, justru kontradiksi dengan mata &#8211; telinga ku. Sangat jauh malah.</p>
<p align="justify">Kelaparan bukanlah karena sekedar kemiskinan. Kemiskinan juga bukanlah selalu akibat kebodohan dan kemalasan. Sangat naif jika kita menyalahkan bodoh dan malas adalah kesalahan saudara-saudara kita yang tidak beruntung itu. Memahami hal ini dengan percaya bahwa kekurangan saudara-saudara kita adalah akibat jeleknya nasib? Dan aku bisa menjawab ini dengan <em>&#8220;Wow,.. Adil sekali si Tuhan kepada diri mu kawan, yang serba berkelengkapan?&#8221;</em></p>
<p align="justify">Kewajiban negara untuk menjamin kehidupan yang layak bagi mereka yang serba kekurangan. Pendidikan melawan kemiskinan juga menjadi point penting sebuah tanggung jawab negara. Mengatur ekonomi yang bersih dan berpihak pada rakyat adalah moral pemerintah. Mungkin pernyataan ku ini membuat kau melabeli aku sebagai penganut sosialis. <em>Ah, </em>tidak perlu kau labeli sebagai sosialis, atau sebuah paham-paham ekstrim sekalipun, pernyataan itu sesungguhnya datang dari keresahan hati nurani ku sebagai manusia. Cukup labeli aku dengan manusia saja.</p>
<p align="justify">Jika kau melihat problematika tersebut hanya sebatas perbedaan ideologi, maka tidak akan pernah habisnya para pemikir dan akademisi berdebat, sementara rakyat terus kelaparan. Antar ekonom dan pengusaha <em>grasak grusuk</em> berdiskusi keuntungan devisa yang tertinggi dengan aset-aset negara trilyunan rupiah dan dolar, tetapi <em>toh</em> diluar mobil mereka, di tengah kemacetan, anak-anak jalanan menggedor-gedor kaca jendela mercy mereka. Kumpulan <em>cecunguk</em> di gedung dewan sok sibuk teriak-teriak layaknya pahlawan bagi partai mereka yang mulia, sementara sekedar rapat anggaran saja harus disuapi uang absensi. Komandan-komandan petro dolar duduk bersama para komandan bersenjata di dalam hotel mewah untuk blok-blok minyak baru mereka, sementara di lantai bertanah, darah segar masih mengalir demi sebuah setingan terbaik bagi keserakahan mereka. Dan kau kawan ku, sekarang menjadi oportunis yang mulai bermanuver politik dengan indahnya seperti pasangan kaum elit yang saling berselingkuh diam-diam &#8211; dengan hawa membara pastinya. Ya, aku juga tahu,  sekarang kau punya banyak pacar selain istrimu.</p>
<p align="justify">Pelik? Padahal mereka-mereka di atas kumpulan orang yang mempunyai kesempatan. Yang tadi kau katakan sebagai orang-orang beruntung berkat Tuhan.</p>
<p align="justify">Aku cuma bercerita layaknya pendongeng yang gagal pentas. Tanpa data semua keluh kesah ini adalah <em>basbang</em> . Kau cuma bisa menjawab pendek, <em>semua juga tahu hal ini</em>. Lantas jika kita semua tahu, lalu apa? Pemakluman?</p>
<p align="justify">Mungkin kita akan bercerita banyak dalam data nantinya, kawan.  Apalah aku yang hanya bisa berkeluh kesah dalam ruang piksel ini. Aku sendiri termasuk kaum lapar yang berhati resah dengan waktu hidup yang sangat singkat. Semoga masih ada waktu untuk aku bercerita dengan data yang kau agung-agungkan itu.</p>
<p align="justify">Tetapi kau tetap kawanku. Tidak pernah menjadi musuhku. Karena sejauh-jauhnya kau berseberangan dengan ku, aku masih percaya bahwa Tuhan justru memberi takdir berbeda kepada ku. <em>Aku harus mengawasi mu</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/03/21/percakapan-beda-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Soeharto</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2008/01/30/ketika-soeharto/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2008/01/30/ketika-soeharto/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 15:19:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2008/01/30/ketika-soeharto/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Soeharto langser, saya saat itu aman sentosa sedang mengkuti proses penerimaan Siswa Baru di calon SMU saya. Berhubung panjang dan ruwetnya pendaftaran, ditambah dengan ala militer-nya itu, jadi saya sama sekali tidak paham apa yang terjadi diluar sana. Saya baru paham setelah diterima di sekolah itu dan menyelesaikan semua kegiatan awal-awal seorang siswa baru. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://echopic.com/d9l.jpg" alt="Soeharto-Soedirman" align="left" hspace="7" width="290" />Ketika Soeharto langser, saya saat itu aman sentosa sedang mengkuti proses penerimaan Siswa Baru di calon SMU saya. Berhubung panjang dan ruwetnya pendaftaran, ditambah dengan ala militer-nya itu, jadi saya sama sekali tidak paham apa yang terjadi diluar sana. Saya baru paham setelah diterima di sekolah itu dan menyelesaikan semua kegiatan awal-awal seorang siswa baru. Dan &#8220;JRENG&#8221;, saya kaget atas apa yang terjadi dari cerita-cerita surat kabar.</p>
<p align="justify"><em>Kok bisa saya tidak tahu?</em> Padahal itu adalah kejadian paling bersejarah yang seharusnya tidak luput dari siapapun di negeri ini.  Yap, demikianlah hebatnya sebuah kehidupan militer. Setiap instansi militer memiliki tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Walaupun mungkin secara tidak langsung kondisi nasional mempengaruhi, tetapi manajemen secara hirarkis komando memungkinkan kondisi sedemikian rupa sehingga dalam konteks interen instansi tersebut tidak terpengaruh. Ditambah saya sendiri yang kala itu masih <strike>imut</strike> muda dengan otak yang belum tercemar suka <strike>sok</strike> cari tahu seperti sekarang. Sangat wajar kalau saya kaget saat itu.</p>
<p align="justify">Dan hari Minggu lalu, ketika saya masih senang-senangnya <a href="http://antobilang.wordpress.com/2008/01/29/bekisar-what-next/" title="Bekisar dan Kelanjutannya" target="_blank">bertarung dengan sampah</a> dan berbahagia dengan teman-teman baru, saya mendapat kabar si Eyang telah meninggalkan kita semua. Saya teringat waktu itu saya dapat informasi &#8220;juga dengan KAGET&#8221;. Mungkin <a href="http://rumahkayubekas.wordpress.com/" title="Rumahkayubekas - Blognya Kang Heri" target="_blank">Kang Heri</a>, <a href="http://dobelden.wordpress.com/" title="Dobelden Blognya Om Denden" target="_blank">Om Denden</a> dan<a href="http://unclegoop.wordpress.com/" title="Uncle Goop's Blog" target="_blank"> Uncle Goop</a> tidak sadar kalau saya kaget karena berita dari mereka itu. Tetapi asli saya kaget. Soalnya baru saja paginya, kira-kira pukul 4 pagi, saya melihat Detik masih mengabarkan beliau membaik kondisinya. Malahan saya yakin beliau bisa sehat kembali, walau cuma untuk memperpanjang umur sebentar saja. Kenyataannya berbeda, Tuhan paling tahu apa yang pantas dan tidak pantas.</p>
<p align="justify">Saya langsung meng-SMS <a href="http://antobilang.wordpress.com" title="Yang Suka Tebar Pesona ke S***h ituh.." target="_blank">Anto</a> yang saat itu sedang tebar pesona di bawah pohon rindang. Sekaligus &#8220;sms to group&#8221; lainnya ke beberapa teman. Ternyata saya lebih dulu tahu daripada beberapa teman yang notabene berada di Kota. Ada yang sedang menghabiskan siang bersama pacar, ada yang sedang sibuk <em>ngurusi</em> calon bini yang rewel minta kawin, ada juga yang masih <em>nguli</em> lembur jaga BTS telephone nya Malaysia, ada juga yang baru check out hotel sama TTM-nya. <em>Lha</em> saya sendiri sedang istirahat dari berburu sampah di pandai Pandansari, belah selatan Pulau Jawa.</p>
<p align="justify">Dari awal januari, kita menunggu beliau lewat berita-berita TV dan koran yang menghebohkan. Sepanjang rentang waktu itu pula kita ribut-ribut. Ada yang berkoar-koar tentang  urusan hukum beliau yang tertunda-tunda. Memaafkan menjadi sebuah permintaan massal, padahal urusan ini adalah sesuatu yang sangat personal. Di lain sisi, keadilan yang merupakan tanggung jawab bersama sebagai bangsa taat hukum, malah di boyong kearah ranah personal.</p>
<p align="justify">Saya cuma bisa <em>mendehem</em> saja melihat <em>riweuh-riweuh</em> itu, bersama tumpukan deadline yang malas saya kerjakan. Hanya bisa berharap, cukup sekali saja kita kehilangan seorang Pemimpin Besar dengan status dipertanyakan, meninggal dalam tahanan sendirian tanpa suatu kepastian hukum, membingungkan generasi muda seperti saya untuk mengenal sang Pemimpin Bangsa lebih dekat dengan bangga &#8211; entah baik atau buruknya.</p>
<p align="justify">Seperti kata para simpatisan Nixon &#8220;si Presiden Watergate&#8221;, mereka berani bicara lantang dengan bangga &#8220;<span style="font-style: italic">Wrong is wrong , but i like whats the best he can did.&#8221;</span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>*Gambar di-scan dari &#8220;Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya&#8221;. Sebuah buku yang saya peroleh gratis dari Alm. Soeharto ketika temu wicara dengan beliau di Jakarta, Agustus 1996.  </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2008/01/30/ketika-soeharto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How&#039;s Green Are You?</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/12/06/hows-green-are-you/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/12/06/hows-green-are-you/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 21:36:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/12/06/hows-green-are-you/</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang kecanduan Pacebuk™. Iya, memalukan memang. Gara-gara ada orang yang meminta untuk membangun aplikasi thirdparty ke si Pacebuk™ ini, membuat saya membuka lagi akun saya yang telah lama ditinggal kosong begitu saja, saya keliling untuk mempelajarinya, otomatis mencoba bermain-main dengan applikasi yang ada. Ternyata invited dari teman-teman juga sudah banyak. Ya sudah, sekalian confirm. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://www1.istockphoto.com/file_thumbview_approve/3030341/2/istockphoto_3030341_the_environment.jpg" alt="Enviro" align="left" hspace="7" width="270" />Saya sedang kecanduan <a href="http://www.facebook.com" title="Facebook" target="_blank">Pacebuk™</a>. Iya, memalukan memang. Gara-gara ada orang yang meminta untuk membangun aplikasi <em>thirdparty</em> ke si Pacebuk™ ini, membuat saya membuka lagi akun saya yang telah lama ditinggal kosong begitu saja, saya keliling untuk mempelajarinya, otomatis mencoba bermain-main dengan applikasi yang ada. Ternyata <em>invited</em> dari teman-teman juga sudah banyak. Ya sudah, sekalian <em>confirm</em>. Jujur saja lebih menarik dari <a href="http://www.friendster.com" title="Friendster" target="_blank">Prenster™</a> dan <a href="http://www.myspace.com" title="MySpace" target="_blank">MySpace</a> memang. Karena  membuat tiap individu beda dengan ketertarikan tersendiri terhadap fitur-fitur pilihan mereka. Mengenal seseorang dari apa yang menjadi <em>interest</em> buat mereka adalah hal yang menarik buat saya. Dan resikonya ketahuan apa? Saya menjelajah seluruh network teman-teman, mencari link-link diskusi buat kerjaan, melihat dan mencoba beragam aplikasi yang menarik, bermain-main dengan game lucu dan malah menginfeksi teman-teman yang belum bergabung!</p>
<p align="justify">Tetapi CUKUP! Gejala puber kedua setelah Prenster™ ini harus dicegah. Bukan hanya karena tujuan awal untuk belajar tadi itu, tetapi lebih karena sebuah aplikasi <em>thirdparty</em> yang menyentuh sedikit hati saya. Dengan nama aplikasi &#8220;Seberapa hijau saya&#8221; yang dalam bahasa Inggris dibaca &#8220;<em>How&#8217;s Green Are You?</em>&#8220;</p>
<p align="justify">Disana ada sebuah ungkapan menarik dari diskusi di forumnya. Sebuah pertanyaan seberapa hemat saya dalam menggunakan Internet. Bahkan lebih serem lagi bertanya, seberapa hemat saya menggunakan <em>resource Hosting, Space </em>dan<em> Bandwith</em>. Oh ada juga lebih ekstrim lagi, pertanyaan seberapa besar<a href="http://polygeek.com/419_weatherglobal-warming_optimized-code-could-help-reduce-global-warming" title="Optimized Code Could Help Reduce Global Warming" target="_blank"> efisiensi seorang programmer dalam membangun aplikasi dengan kode-kodenya</a> yang hemat dan <em>ga</em> berputar-putar bikin komputer dan user <em>lelet puyeng-puyeng</em>! Terlihat gila? Awalnya saya juga berpikir begitu.</p>
<p align="justify">Tetapi coba dipikir, walaupun pengaruhnya sangat kecil mungkin, tetapi ini berefek juga pada emisi gas buang. Generator listrik Hosting-hosting server di US itu menggunakan bahan bakar. Belum lagi kita juga menggunakan listrik walau sekedar men-<em>charge</em> laptop saja. Ditambah pula dengan berinternet hanya untuk ngider-ngider di Prenster™, chating nakal, atau malah ada yang mungkin download sesuatu yang &#8220;tidak jelas kebutuhannya&#8221;.</p>
<p align="justify">Tersindir? Sama. Menyindir saya juga kok. <em>Saya nyadar</em> kalau saya masih memilih mendownload film dari pada berjalan kaki ke rental atau toko DVD. Saya <em>ngerti</em> musik Rock di komputer saya masih berasal dari MP3 bajakan hasil unduh. Dan saya memahami lain-lain yang membuktikan bahwa saya belum berhemat energi.</p>
<p align="justify">Sebenarnya hal yang kecil-kecil begini terlalu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sementara <a href="http://globalwarming.detik.com/" title="UN Climate Change Conference 2007" target="_blank">bos-bos NGO di Bali </a><em><a href="http://globalwarming.detik.com/" title="UN Climate Change Conference 2007" target="_blank">sono</a> </em>pada<em> ngobrolin</em> pokok-pokok bahasan <em>Global Warming </em>yang<em> </em>masih &#8220;melangit&#8221;. Mereka berbicara pada tataran bagaimana berjual-beli emisi dengan kebun dan hutan. Sedangkan kita masih belibet dengan urusan mengatur sampah rumah tangga, Busway anti macet, atau kredit motor. Walaupun memang tidak bisa menjauhkan diri kita sebagai sebab panas yang makin tinggi di muka bumi, tetapi meminta kita menyadari Danau Chad yang mengering, beruang kutub yang terbunuh atau Kilimanjoro yang tidak ber-es lagi, masih terlalu mengawang-awang dari pemahaman kebanyakan dari kita.</p>
<p align="justify">Tetapi di lain sisi, ada orang-orang yang ribut bahwa muka air laut naik akibat Global Warming, tetapi kurang menyadari peran pembangunan kawasan pantai hingga membabat bakau malah menjadi sebab yang mempercepat air laut naik. Kita teriak-teriak banjir disebabkan pola iklim yang sudah berubah, tetapi tidak sadar tata kota yang buruk dan sampah menggunung menjadi sebab utama. Pemerintah menyalahkan petani tradisional sebagai sebab hilangnya hutan, padahal izin HPH untuk si konglomerat dan buldozer-nya bisa diatur dengan kongkalikong tak terjangkau hukum. Program ini itu dari pemerintah untuk mengurangi kemacetan dan emisi gas buang, tetapi ikon komersialisasi dan kemewahan terus di<em>support</em> demi lakunya pasar kendaraan bermotor.</p>
<p align="justify">Saya tidak tahu apa yang dibicarakan di Bali, apa keputusan yang mereka buat di sana atau lebih tepatnya apa manfaatnya bagi dunia, dan Indonesia Raya ini khususnya. Selain terbayang di kepala saya entah berapa banyak deal-deal bisnis yang tersebar, proyekan ini-itu yang menjadi target broker-broker nakal pemerintah. Jujur, itulah <em>sudzon-nya</em> saya ketika melihat hebatnya perlehatan expo lingkungan disana lewat televisi.</p>
<p align="justify">Ah sudahlah. Kembali saja ke awal tadi, ke si Pacebuk™. Mungkin bisa jadi nanti saya memakai Internet ini untuk mencari kebutuhan buat kerjaan saja. Kemudian menutup si Pacebuk™ dan segala akun saya di website yang tidak berguna. Atau mungkin sekalian saja saya tutup ruang komentar blog ini dan anda-anda tinggal mengirit emisi dengan membaca lewat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Feed_reader" title="Feed Reader Definition" target="_blank">Feed Reader</a> atau kopi saja satu Kapucino.Org lewat <a href="http://gears.google.com/" title="Google Gear" target="_blank">Google Gears</a> ??</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/12/06/hows-green-are-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bulan Desember Plus Kondom-lahh&#8230;</title>
		<link>http://www.kapucino.org/2007/12/01/bulan-desember-plus-kondom-lahh/</link>
		<comments>http://www.kapucino.org/2007/12/01/bulan-desember-plus-kondom-lahh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2007 12:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leksa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kapucino]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Sex]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kapucino.org/2007/12/01/bulan-desember-plus-kondom-lahh/</guid>
		<description><![CDATA[Desember telah tiba&#8230; Dan lagu berganti, setelah &#8220;November Rain&#8221; tak geber sebulan penuh di PC ini. Desember, kalau melihat jadwal Ultah, blog ini juga bakal Ultah pertengahan Desember ini. Gerakan Aceh Merdeka &#8211; GAM juga ultah di 4 Desember &#8211; bersamaan dengan Mbak Ani si calon pakar perhiasan masa depan. Terus ada ultah sepupu gue [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img src="http://www1.istockphoto.com/file_thumbview_approve/3483169/2/istockphoto_3483169_grunge_crowd_background.jpg" alt="Event Contextual" align="left" height="380" hspace="5" width="269" /><em>Desember telah tiba&#8230; Dan lagu berganti, setelah &#8220;November Rain&#8221; tak geber sebulan penuh di PC ini.</em></p>
<p align="justify">Desember, kalau melihat jadwal Ultah, blog ini juga bakal Ultah pertengahan Desember ini. Gerakan Aceh Merdeka &#8211; GAM juga ultah di 4 Desember &#8211; bersamaan dengan <a href="http://profiles.friendster.com/10031129" title="Ani" target="_blank">Mbak Ani</a> si calon pakar perhiasan masa depan. Terus ada ultah sepupu gue nan cabi di Aceh sono. Dan nuansa malam-malam suci mengiring Idul Adha dan Natal nantinya.</p>
<p align="justify">Belum lagi dimasukkan ada Hari AIDS sedunia, sampai-sampai pemerintah menggelar kampanye kondom seminggu penuh. Eh,.. juga ada acara Global Warming Campaign di Bali <em>(ini gue diajak Beni ke sana, tapi pake modal dengkul ndiri,.. Mohh&#8230;!!)</em> Wuihh&#8230; bener-bener bulan penuh perlehatan.</p>
<p align="justify">Tapi apa makna Desember bagi gue. ENTAH&#8230;!! Desember ya begitu-begitu saja, Desember satu berganti Desember lain setiap tahun, tentunya dengan warna-warnanya sendiri. Hidup juga masih begini-begini saja, paling bulu-bulu tubuh yang terus bertambah dan dicukur, sel-sel tubuh mati dan terus berganti, serta memori otak dan hati dirangkai wacana yang terus berkembangbiak, persis Hardisk PC gue yang selalu full dalam 2 bulanan.</p>
<p align="justify"><em>Ntar</em> postingan rada serius membahas AIDS versi gue dalam paradigma penganut &#8220;suka-sama-suka&#8221;. Atau <em>kalo</em> lagi muncul cerdasnya gue, kita ngebahas <em>Global Warming Conference</em> di Bali dari sudut pandang <em>Global Capitalism</em>. <em>Tsahhhh&#8230;. berat amaaaaattt otak mu, Jaalll&#8230;.</em></p>
<p align="justify"><em>*Sekedar mengisi Ruang Waktu di 1 Desember, dan memasukkan Keyword &#8220;AIDS, Global Warming Bali&#8221;. Hahahaha&#8230;.</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&#8212;&#8212;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Ahh.. baru aja terpikir setelah melihat gambar di <a href="http://antobilang.wordpress.com/2007/12/01/kondom-aids/" title="Antobilang" target="_blank">Blog Anto</a>. Tadi sempat ketawa <em>ngakak</em> gila gara-gara <em>ni</em> gambar. Tapi kemudian diam, hening sejenak. Dan bibir mingkem. Kamprettt&#8230;!! ini gambar punya makna bagus juga rupanya. :-w &#8230; Jadi sekalian nulis <em>ajah.</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center" align="justify"><img src="http://photos.friendster.com/photos/11/34/8464311/1_270140292l.jpg" alt="Condom Bachelor Party" height="314" width="254" /></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Gimana? gimana? Kalo Anto ga cerita apa-apa tentang gambar ini di blognya, justru gue pengen cerita.</p>
<p align="justify">Gue tuh punya sedikit pemahaman, bahwa produsen kondom adalah pahlawan Indonesia. Dan penjual kondom adalah para pahlawan a.k.a. pemberani di Indonesia.</p>
<p align="justify">Dalam masyarakat kita yang serba tabu jika bersinggungan dengan urusan selangkangan, justru produsen kondom mengambil peran sebagai pahlawan. Fungsi kondom sebagai <em>Birth Control</em> jelas adalah terobosan dalam permasalahn sosial kependudukan. Belum lagi jika ditambah dengan fungsinya sebagai garda pertahanan AIDS bagi pria yang mau <em>ngesex</em> tapi beresiko HIV.</p>
<p align="justify"><em>Ehh.. jadi elu mendukung freesex yah, Jal?</em> Gue <em>ngga</em> bilang gitu. Sudut pandang gue buat urusan ini <em>ngga</em> terbatas hanya sex dalam nikah saja atau luar nikah <em>doang</em>, apalagi swinger-swingeran, trisam, gigolo, bispak, TG, homok, lesbong, dan urusan eksekusi-eksekusi  ringan ala ABG pacaran <em>pake</em> acara peting-petingan.</p>
<p align="justify">Intinya <em>udah</em> kodrat manusia untuk urusan bawah puser itu <em>emang</em> kompleks. Dari zamannya Adam masih di Surga juga <em>udah gitu</em>, sampai-sampai die minta ke Tuhan buat diberikan pasangan ber-Yoni, karena si Adam ber-Lingga. Nah, filosofi ampe ke &#8220;atas&#8221; saja, <em>udah ngasih</em> gambaran ke gue kalo urusan satu ini kodrati.</p>
<p align="justify">Gue disini <em>ngga</em> ngeributin perilaku-perilaku para pelaku hubungan intim ini. Hanya coba melihat dari sisi si kondom tadi, si produsen dan penjualnya. Alat satu itu emang simpel <em>kalo</em> dipikir. Tetapi gue pernah masuk pabrik kondom <em>duluuuu</em> <em>banget</em> pas SMP, <em>ngeliat</em> mbak-mbak buruh yang bekerja di situ, dari sekedar cek satu-satu kondom, dimelar-melarin, digelembung-gelembungin, dan tes standar QC lainnya untuk mengetes si kondom. Mereka tanpa malu-malu, tanpa rasa tabu, untuk sekedar biaya makan keluarga sehari-hari, <em>ngepak-ngepakin</em> ribuan kondom perhari. RIBUAN..!!. Terbayang? Berapa aktifitas seksual rata2 di Indonesia perhari, dengan asumsi kondom satu pabrik itu semua buat konsumsi lokal &#8211; tanpa persen galat.</p>
<p align="justify">Dan ada pula para penjual kondom, dari yang kaki lima seperti di warung remang-remang atau warung  jamu atau warung obat kuat. Belum lagi mbak-mbak kasir yang di Indomaret, Superindo, minimarket, apotik-apotik, walau dengan tampang mesem-mesem pas meriksa kotak, ketak-ketik di tuts mesin billing, bungkusin si kondom dengan hati-hati walaupun nantinya berakhir indah penuh peluh ketika dipakai si pembeli.</p>
<p align="justify">Gue pernah iseng <em>nanya</em> ama si Mas Kasir di sebuah depot minimarket 24 jam di Bandung, berapa kali seminggu stok kondom di buffet itu habis dan harus restocking <em>(kira-kira ada 100-200 berbagai merk di buffet nya)</em>. Dan jawabnya :<em>&#8220;Seminggu sekali paling tidak, Mas&#8221;.</em></p>
<p align="justify">Heuheuhe&#8230; ya itulah paradoksnya. Sebagian dari kita ribut-ribut, malu-malu harimau dengan urusan selangkangan &#8211; sampai dibawa ke gedung Dewan Rakyat. Tetapi sebagian lainnya justru menyuplai kebutuhan itu buat keamanan dan kenyamanan kita dalam urusan selangkangan, tanpa malu-malu, tanpa lelah. Karena sudah kodratnya pula bukan hanya bawah puser yang butuh disuplai. Bagian dalam puser kita ini pun suka menuntut lebih. Jadi teringat kata seorang temen saya yang Master Reiki, &#8220;<em>Dari seluruh cakra di tubuh manusia, ada 2 cakra yang paling susah dilatih dan di kontrol. Cakra Seks dan Cakra Perut.&#8221; </em></p>
<p align="justify">Dan tentang gambar di blog Anto tersebut, kenapa kok jadinya sampai kepikiran gue nulis panjang gini ? <em>Hahaha&#8230;</em></p>
<p align="justify">Cuma karena gue kepikiran saja. Seorang Sarjana, entah itu cerdas-cendekia layaknya filosofi jubah dan toga, ternyata tidak cukup menutupi kebutuhannya yang masih berurusan seputar kondom dan selangkangan.</p>
<p align="justify">SELAMAT MEMPERINGATI &#8220;HARI AIDS&#8221;. <em>Be Honest and Romantic to your Fiance, and play safe, please..</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kapucino.org/2007/12/01/bulan-desember-plus-kondom-lahh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
