Saya merasa perlu memposting ulang komentar dari indo.Com di kolom komentar saya tentang ini. Biar adil, ga enak kalau isi-nya misuh-misuh terus.
——
Nenek bilang jangan ditelan mentah-mentah tulisan di media yang salah melulu. (Dan seperti biasanya di Indonesia, nothing is the way it seems – orang Medan bilang, ada udang dibalik kuetiaw.)
First, anggaran yang bener itu Rp 5.5 milyar untuk 2007, bukan 17 milyar. 17M itu kalo dijumlahkan dari tahun 2006 dan 2007 yang sudah direalisasi, dan 2008 yang paling banyak, 10 milyar, yang masih rencana. (Kenapa gak sekalian dijumlahin dari tahun 1945, inflation adjusted, sampai tahun 2050?)
Second, anggaran yang tahun 2007, dari 5.5 milyar, potong pajak jadi efektif 4.65 milyar, itu porsi terbesarnya dipakai untuk promosi online, di Google, Yahoo, portal wisata internasional seperti Travelocity, dan juga portal domestic seperti Kompas, Bisnis, Media dsb (hint: apa yang tidak disebut?) Porsi kedua dialokasikan untuk memberdayakan hotel-hotel kecil, biar bisa ikut belajar promosi dan bertransaksi online. Kita bikin workshop di 3 kota – Jogja, Lombok, Manado – dihadiri 400-an orang/hotel, iklankan, talk show, masukkan 100-an lebih hotel ke my-indonesia.info dan system reservasi indo.com, dan ketika terjadi transaksi, membimbing mereka.
Intinya, kegiatan e-marketing ini tentang promosi online, bukan tentang bikin web site. Hasil apa yang didapat? Iklan pariwisata Indonesia ditayangkan sekitar 90 juta kali, kepada pengguna Internet yang senang berwisata atau bahkan sudah mencari informasi tentang berwisata ke Indonesia melalui situs pencari. Berarti efektif biaya menjangkau satu orang ini hanya Rp 50an. Pengunjung yang sudah dilayani tahun ini 230 ribu orang. Berarti biaya melayani satu orang calon wisatawan ke Indonesia, kalau dilakukan secara virtual via Internet, biayanya hanya Rp 20 ribuan. Sangat cost efektif.
Belum lagi waktu sebelum promosi, kalau coba cari “indonesia info” di Google, situs paling atas adalah punyanya CIA. Jadi perspektif yang didapat orang adalah perspektif CIA. (Coba search “president indonesia” sekarang di Google, situs siapa yang paling atas?) Punya Pemerintah dulu tidak kelihatan. Sekarang, untuk kata-kata kunci seperti itu, “tourism indonesia” dan hampir 2000 kata lainnya, situs Pemerintah sudah muncul, bahkan pada posisi-posisi terdepan.
Jadi lihatlah kegiatan e-marketing ini dalam konteks strategi pemasaran pariwisata Indonesia secara keseluruhan. Kalau tahun 2008 dianggarkan Rp 10 milyar, dari total anggaran promosi pariwisata, yang kalau saya tidak salah sekitar Rp 280 milyar, optimalkah kalau hanya 3-4% yang dialokasikan untuk pemasaran via Internet? Survey BudPar sendiri menunjukkan sudah 56% wisatawan ke Indonesia yang mencari informasi tentang wisata ke Indonesia via Internet. Kalau kita mau book Yahoo Singapore untuk 1 HARI saja – supaya setiap orang yang buka pasti lihat iklan kita, seperti blocking time di TV – biayanya bisa sekitar SGD 1 juta - atau Rp 6 Milyar sendiri!
Negara tetangga kita juga mengetahui ini dan berpromosi via Internet dengan agresif. Kita dapat info bahwa mereka di Google dan Yahoo saja bisa belanja iklannya sekitar USD 1-2 juta (Rp 9-18 Milyar)per tahun di masing-masing portal. Belum portal-portal lainnya dan kegiatan online promotion lainnya (Singapore Tourism Board pernah beriklan via newsletter broadcast menggunakan indo.com.) Untuk mengajak industri pariwisata berteknologi saja (seperti yang kita lakukan dengan hotel-hotel kecil ini), Singapore alokasikan dana SGD 10 juta (bisa lihat di situs Singapore Tourism Board).
Yang jelas, promosi pariwisata sekarang ini, oleh pemerintah maupun swasta, mau tak mau sudah harus melibatkan Internet – karena wisatawan adanya di situ.
Komentar lebih lanjut, silahkan email ke saran@indo.com
Salam
Adeline Djelita
www.indo.com
—–
Tapi standar, saya tetap ingin berkomentar, karena memang saya banyak bacot-nya. Tentang e-marketing, apakah yang dimaksud e-marketing ini adalah sebuah iklan tanpa website? Cuman numpang mejeng banner di Yahoo, Google, dll. Terus ya model iklan seperti apa yang dipajang sampai ngabisin dana segitu besar?
Seorang yang browsing internet, melihat banner dimanapun berada, akan menuju ke website yang dilink olah si Banner tentunya. Dan kemana larinya si link? Apakah dalam hal ini situs my-indonesia.info? Kalau benar, walah, jadi tetep lho mbak Adeline, ujung tombak informasi Indonesia ada di situs my-indonesia.info . Dan sayangnya, sampai November akhir tahun ini, situs my-indonesia itu acak kadut. Konten berantakan, dan kritik-kritik lainnya yang sudah beredar di Internet (termasuk blog saya ini). Situs itu SERASA ga worth it untuk didukung oleh jorjoran dana promo ke mana-mana selama 2 tahun (kondisi tersebut sebelum ramai-ramai terjadi).
Bagaimana seorang turis merasa nyaman melihat situs yang konten-nya ngaco, tidak lengkap?, memakai wordpress yang isi nya kosong, malah di tambah dengan ber-adsense di dalamnya?
Satu lagi yang penting diketahui, situs tersebut sekarang, saat ini, tampilan jadi lumayan bagus, kontent sudah rapi dan semantic code-nya terus mengalami peningkatkan. Mungkin para developer web tersebut merasa presure yang diberikan ke mereka dengan banyak nya mata membuat mereka kerja lembur siang malam untuk hasil terbaik, setelah dikritik sana sini. Justru saya salut dengan semangat Bung Ardi dan rekan-nya, karena saat pertama kali kasus ini saya tulis di blog saya, justru saat itu masih dalam kondisi memprihatinkan. Dan perlu diingat bahwa masih banyak pertanyaan belum terjawab seputar keamanan situs, server dan hal teknis lainnya, tapi saya yakin akan diperbaiki.
Sedang masalah e-marketing sendiri si situs saat ini menempati jawara google karena mengalami google dancing signifikan setelah ramai-ramai dibahas, dibantu teman-teman blogger dan berbagai media online yang membahasnya. Coba lihat sebulan 2 bulan yang lalu?
Lalu catatan ke-3, masalah etika-nya. Saya tidak tahu bagaiman Indo.com membuat perjanjian dengan Budpar. Tetapi apakah salah jika muncul pertanyaan menggelitik, kok kenapa semua booking hotel harus via Indo.com? Sambil menyelam minum air-kah? Duuuh, kok saya merasa tidak nyaman seperti ada monopoli agen travel wisata disini.
Jadi perlu diingat, jika dana tersebut dipermainkan dengan ukuran waktu, informasi yang blunder, maka selamanya menjadi pertanyaan buat semua orang. Ah sudahlah, situ dan Indo.com atur-atur saja bagaimana mempertanggungjawabkan dana itu bersama DPR terhormat. Kami cuma rakyat biasa yang njago ngritik dan banyak bacot, tidak level untuk mengerti cara kerja orang-orang atas.
PS :
Mbak Adeline Djelita, namanya beneran bagus
, suka saya. Makanya dipilih jadi Judul postingan.. Met lebaran kurban yah, Mbak, met Idul Adha, maaf lahir bathin.
